Sanggar Mama Bilqis

Sanggar Mama Bilqis

Sanggar-Mama-Bilqis

Saya sadar, sadar betul kalau mimpi saya terkadang kelewatan. Idealisme saya juga kadang kelewatan. Dan tidak sedikit yang menganggap apa yang saya lakukan buang-buang waktu.

Sudah enak saya jadi penulis yang Alhamdulillah mendapatkan order lancar. Diundang ke sana ke mari. Harusnya saya duduk manis menikmati semua pencapaian saya. Mungkin jalan ke sana atau ke mari.

Namun sayangnya idealisme menarik saya kuat sekali. Saya ingin anak-anak di luar anak saya merasakan bahagia dalam proses belajarnya. Ingat dulu saya membacakan buku cerita pada anak dari o tahun hingga yang sulung usia 11 tahun. Pada saat itu adiknya menolak untuk dibacakan dengan alasan dia bisa membaca lebih seru dari saya. Bahkan dia mengambil alih tugas bercerita yang biasa saya lakukan.

Saya ingat masa kecil yang bahagia. Sebuah rumah kontrakan mungil terpencil di belakang dekat kamar mandi pemilik. Tanpa kamar. Namun di situ mimpi kami besar sekali.

Ada sandiwara radio yang sering didengar bapak dan ibu setiap malam. Ada empang, kebun bunga, kebun rahasia. Kebun rahasia ini ketika teman sekolah saya mengajak saya lewat jalan pintar di belakang rumahnya. Kami melewati jalan setapak, jembatan di atas sungai, lalu melewati kincir air dan akhirnya sampai di sekolah. Sungguh buat saya hal itu menakjubkan sekali.

Ada buku-buku dan majalah yang selalu Bapak bawa. Dan tidak ada ceritanya saya dibentak ketika belajar membaca. Huruf dan angka langsung mudah dicerna. Dengan alasan itulah saya ingin menularkan hal yang sama untuk anak orang lain, khususnya di lingkungan tetangga. Bahwa anak yang melewati proses belajar dengan bahagia, tidak akan jadi generasi yang stress, mudah mencari kesalahan orang lain dan sebagainya.

Anak-anak tetangga memang saya undang untuk belajar apa saja. Sekaligus juga memberi tahu mereka, bahwa ada profesi bernama penulis. Dan bekerjanya di rumah. Iya bekerja di rumah pernah pada masanya tidak dihargai sama sekali karena dianggap menganggur.

Sanggar ini terbuka untuk siapa saja. Boleh belajar apa saja, sepanjang saya mampu mengajari. Namun yang lebih sering datang anak-anak yang belajar kreativitas. Maklum di rumah main cat dan sebagainya sulit sekali dilakukan.

Sanggar ini menjadi sekolah-sekolahan saya. Sumber bahagia saya, juga sumber ide saya. Itulah kenapa saya sulit sekali sekarang menulis cerita dengan banyak konflik, karena sudah masuk ke jurang dunia anak-anak. Hidup ini jadi semakin sederhana, sungguh.

Published by nurhaya3

Nurhayati Pujiastuti, owner Sanggar Mama Bilqis, Founder Penulis Tangguh, Kelas Merah Jambu dan Kelas Biru. Trainer Menulis.