Bullying di Dunia Menulis

bully

Saya penulis bahagia.
Iya, sungguh bahagia. Karena sepanjang pengalaman menulis, saya selalu merasa bahwa semua baik-baik saja pada saya. Semua baik-baik saja bisa jadi dalam artian, saya ini terlalu tambeng (tidak mau tahu) kalau ada orang yang membully.

Jadi ceritanya banyak penulis yang merasa di bully di sosial media, oleh penulis lainnya tentu saja. Di bully dalam versi saya artinya diremehkan. Tapi saya harus menjawab apa jika saya tidak merasakan hal itu?
Tidak mau memikirkan dan merasakan ketika ada orang yang menyakiti saya, memang sudah jadi pilihan saya. Maka saya hanya mau mengenang peristiwa yang manis-manis saja.

Banyak peristiwa yang manis sekali yang saya rasakan ketika mulai jatuh cinta dengan dunia menulis.
Contohnya :
1. Saya selalu kebagian ditunjuk untuk baca puisi di depan kelas oleh guru ketika SD. Dan saya juga selalu ditunjuk untuk membacakan cerita, karena intonasi suara saya jelas.
2. Saya dapat kue tart dan hadiah ulang tahun dari teman sebangku. Gara-garanya apa? Gara-garanya dia melihat buku tulis saya, yang saya corat-coret tentang kisah ulang tahun saya.
3. Saya selalu bangga karena nilai bahasa Indonesia saya selalu lebih tinggi bahkan dari peringkat pertama di kelas.
4. Dosen-dosen dan teman-teman di kampus baik. Dosen saya memberikan beasiswa Supersemar yang saya sendiri tidak mengajukannya karena mereka tahu saya penulis. Dan teman-teman sering sekali membuatkan seminar dengan pembicara saya bersanding dengan dosen. Padahal dulu saya malu bicara di muka umum.
5. Tiga pekerjaan kantoran yang saya lakoni, saya jalani karena saya penulis. Bahkan pekerjaan yang terakhir bukan di media, saya dapatkan karena boss yang gemar membaca. Dan ia menerima saya, karena melihat CV saya diisi dengan menang lomba menulis. Alhasil selama masa bekerja, setiap minggu saya dipinjami setumpuk buku tebal berbahasa Inggris, yang akhirnya membuat saya merasa bersyukur karena dipaksa untuk belajar.

Terus berarti tidak pernah merasa di bully?
Pernah sih. Tapi sungguh saya tidak memikirkannya. Saya justru berpikir kalau saya harus berkarya lebih baik lagi, biar mulut orang yang nyinyir karena memang saya yakin sudah jadi kebiasannya untuk nyinyir, berhenti karena malu saya menjawabnya dengan karya.

Jadi soal bully? Baiklah saya punya pemahaman sendiri soal hal itu :
Buat saya bully membully itu terbagi dalam tiga katagori, yaitu :

1. Bully dari Orang yang Tidak Paham
Orang yang tidak paham wajar dong meremehkan. Karena mereka bingung, kok bisa ya ada orang yang sibuk nulis terus? Apa tidak pusing dan apakah kata-kata itu tidak pernah hilang dari benak mereka yang bekerja sebagai penulis?
Wajar, kan? Sama wajarnya kalau saya bingung sama orang yang fokus belajar matematika. Soalnya saya sendiri lemah di angka.
Sama juga saya masih mikir-mikir ketika anak saya ingin menjadi pemain bola.

2. Bully dari Sesama Penulis
Sesama penulis saling meremehkan? Lalu merendahkan dan mengumumkan hal itu di sosial media?
Walah saya cuma mikir, kalau sinar saya terlalu terang jadi mereka silau. Kalau sudah begitu saya akan terus berkarya dan bersinar lagi, jadi mereka yang suka membully tutup mata, karena tidak sanggup menahan sinar saya. PD banget, kan? He he tapi itu kalau mereka tahu sudah berapa lama saya menulis?
Kalau mereka yang belum tahu dan karena itu membully?
Tetap tidak masalah. Memangnya saya siapa? Wong tidak semua butik terkenal dikenal oleh semua orang. Jadi wajar tidak semua penulis dikenal.
Lagipula, saya menulis bukan untuk terkenal kaleee 🙂

3. Woi, intropeksi
Di bully itu sebenarnya jadi ajang intropeksi kok. Sudah menulis sebagus apa sih kita? Banyak kan para penulis yang baru satu dua kali menulis, lalu merasa paling jago dan tulisannya paling bagus. Kalau diberitahu tulisannya belum bagus, ia lalu merasa sedang dibully.
Padahal proses dalam menulis harus dimulai dengan rasa tidak puas dan terus berproses jangan sampai pada titik puas.

Sesungguhnya saya lebih banyak dicintai di dunia menulis ketimbang di remehkan.
Saya berutang dengan orang-orang yang pernah saya ganggu dengan kegiatan menulis saya. Donatus A Nugroho dan istrinya tahu, saya sering ke rumah mereka cuma untuk main dan lihat-lihat proses kreatifnya.
Tahu kegigihan saya, Donatus mengajak dan mengenalkan saya pada orang-orang yang kompeten di dunia menulis.

Saya merasa berutang dengan mas Farick Ziat, yang datang menemui di ruang tunggu majalah Gadis dan mengucapkan selamat ketika saya menang lomba cerber majalah Gadis. Buat saya itu luar biasa.

Atau ketika saya mau belajar skenario, Aditya Gumay mengajak saya menawarkan naskah ke kepala bagian urusan Drama Remaja TVRI, dengan map bertuliskan kop surat sanggar yang dibinanya. Padahal saya bukan anak sanggar asuhannya, tapi hanya mengantar adik saja. Itu buat saya juga merupakan peristiwa langka.

Saya juga merasa berutang pada Mas Albert Marbun, ketika baru seminggu saya bekerja sebagai reporter di Aneka. Saya diajak bicara selama dua jam, hanya untuk menekankan bahwa saya berada di tempat yang salah dan sistem yang salah. Lebih baik saya fokus menulis saja. Bersyukur saya mengikuti sarannya dan resign dari sana secepatnya.

Saya bertemu dengan banyak teman penulis yang baik pada saya termasuk Erry Sofid juga Nunik Kurnia. Mereka teman baik yang wajib saya pelihara hingga sekarang.

Atau saya selalu saja disisihkan majalah yang ada karya saya, dari beberapa agen persewaan majalah di Solo. Buat saya itu penghargaan yang membuat saya wajib terus menulis. Mereka menghargai saya, kenapa saya mesti tidak menghargai diri sendiri dan kemampuan menulis saya?

Memikirkan orang yang mencintai dan mendorong semua kegiatan menulis saya, membuat saya menjadi penulis yang bahagia.
Jadi kalau masih merasa di bully?
Come on. Hidup saya sudah terlalu berwarna dan saya tidak butuh warna lain, dari orang yang tidak suka.

Published by nurhaya3

Nurhayati Pujiastuti, owner Sanggar Mama Bilqis, Founder Penulis Tangguh, Kelas Merah Jambu dan Kelas Biru. Trainer Menulis.