Bapak yang Galak

Ca tahu mereka bilang Bapak galak. Mereka suka lari setiap kali di depan rumah ada Bapak. Mereka kadang berbisik-bisik dan bisikan itu terdengar di telinga Ca,” Kasihan, punya Bapak yang galak.”
Bapaknya galak. Tapi Bapak mengantarnya ke sekolah naik sepeda dengan bahagia. Bapak juga mengajak Ca ke toko baju. Lalu meminta Ca memilih baju lebaran untuknya.
“Pilih yang bagus, ya,” kata Bapak.
Ibu masih di rumah sakit karena melahirkan adik Ca.

Bapaknya tidak pernah bilang hebat, pintar dan yang lainnya. Bahkan ketika Ca membawa pulang nilai bagus.
Tapi Bapak selalu membawakan buku-buku bacaan untuk Ca. Bapak selalu punya uang untuk membeli buku.
Bapak selalu punya kejutan untuk Ca.
“Kamu mau Bapak ajarin nulis huruf Jawa?”
“Kamu mau lihat layar di belakang sama tidak seperti yang di depan?”
Waktu itu Ca sedang melihat layar tancap di lapangan depan rumah. Ca penasaran kenapa ada orang yang menonton di belakang layar. Lalu Ca mendekati Bapak, Bapak menggandengnya untuk melihat seperti apa tampilan di belakang layar.
“Sama, kan? Cuma kebalik gambarnya.”
Ca mengerti.



Bapaknya galak, begitu kata teman-temannya. Bapaknya kalau jadi imam shalat lamaaa.
Ca tahu itu. Pernah satu kali Bapak jadi imam shalat taraweh. Ca hafal apa yang dibaca. Maka Ca mengobrol dulu. Sampai ada tanda-tanda Bapak akan ruku.
Esoknya guru mengaji Ca menegur,” Bapak kamu jadi imam, tapi anaknya paling berisik.”

Bapaknya galak. Tapi Bapak ada selalu di sampingnya setiap kaliCa sakit. Bapak hanya pergi ketika kerja. Pulang kerja Bapak akan kembali duduk di samping tempat tidur Ca.
Bapaknya galak. Tapi selalu menunggu Ca pulang mengaji di tempat di mana anjing herder peliharaan tetangga mengagetkan Ca.
Tempat mengaji itu harus melalui jalan sepi di samping bukit, di mana hanya satu rumah ada dan tertutup.
Lewat jalan lain harus memutar. Tapi tetap harus melewati rumah besar seperti pendopo. Rumah berupa bangunan Belanda yang besar, bertingkat dan sepi.

Bapaknya galak. Bapak tidak suka melihat anak perempuannya cengeng. Maka Ca anti menangis di depan orang. Bapak mengajarkan untuk menangis di hadapan Allah, bukan di hadapan orang.
Bapaknya tidak pernah memuji.
Tapi suatu hari Bapak mengajaknya pergi. Setelah sehari Ca memberitahu, bahwa ia mendapat nilai tinggi untuk ujian di sekolah. Bapak seperti tidak mendengarkan kalimat beruntun yang keluar dari mulut Ca. Bapak sedang membetulkan sepedanya.
“Kita mau ke mana, Bapak?”

Mereka naik bus metro mini yang berwarna oranye. Berhenti di terminal Senen. Tangan Ca digandeng Bapak. Lalu Ca diajak masuk ke sebuah toko jam.
“Kamu pilih yang paling bagus.”
Ca bingung. Semua jam di matanya sama bagusnya. Lalu Bapak memilihkan satu jam tanpa tanda detik juga menit. Tanpa angka. Jarum jam itu bisa berputar cepat dan harus cepat pula diberhentikan. Ca suka. Jam itu berbeda dengan jam milik teman-temannya.
Bapaknya galak. Tapi itu yang membuat Ca jadi terjaga.

Published by nurhaya3

Nurhayati Pujiastuti, owner Sanggar Mama Bilqis, Founder Penulis Tangguh, Kelas Merah Jambu dan Kelas Biru. Trainer Menulis.