Mimpi Besar Eyang Kakung

DSCF2741

Mimpi besar Eyang Kakung membuat Attar tertawa. Tapi Attar berusaha menyembunyikan tawa itu. Eyang ingin tinggal di desa lalu jadi petani. Bertanam bayam dan kangkung dan menjualnya ke pasar.
“Mimpiku jadi pemain bola, Eyang. Hebat, bisa keliling dunia.”
Eyang menganggukkan kepalanya. Eyang Kakung dulu juga suka bermain bola.
“Mimpiku jadi reporter. Bisa keliling dunia juga,” jawab Bilqis yang sedang minum es teler buatan Ibu.
Eyang Kakung menganggukkan kepalanya. Di tangan Eyang Kakung ada bibit bayam dan kangkung yang baru dibeli dari penjual pohon di pinggir jalan.
Attar sudah mengerti, sebentar lagi Eyang pasti akan sibuk menyebarkan bibit bayam dan kangkung itu. Lalu setelah itu Eyang akan rajin memandanginya, dan bersorak kesenangan ketika bibit itu terbelah dan menghasilkan tunas.
Eyang juga menanam pepaya. Buah pepaya itu ketika masih muda, Eyang ambil dan minta Ibu untuk membuatkan sayur tumis pepaya muda. Attar juga suka rasanya.
Tapi halaman rumah Ibu terlalu kecil sedangkan pohon-pohon yang ingin Eyang tanam banyak sekali.
“Eyang ingin jadi petani dan tinggal di desa…”
Attar memandangi Eyang. Seluruh rambut di kepala Eyang sudah berwarna putih. Sejak Eyang Putri meninggal, Eyang Kakung tinggal bersama di rumah Attar.
“Kamu tahu…,” mata Eyang memandang Attar. “Itu mimpi besar Eyang. Eyang ingin jadi petani di desa. Eyang bisa makan sayuran yang Eyang tanam.”
Attar diam saja.
Attar kasihan dengan Eyang Kakung. Apa mungkin Attar harus menyampaikannya pada Ibu dan Ayah?
**
“Berapa umur Eyang kamu?” tanya Beni pada Attar ketika mereka pulang sekolah.
Attar memang bercerita tentang mimpi besar eyangnya.
“Tujuh puluh lima tahun,” ujar Attar.
Beni menganggukkan kepalanya.
“Dulu embahku juga begitu. Mimpi besarnya katanya jadi guru.”
“Berapa umurnya?”
“Umurnya sekarang delapan puluh tahun. Dan embahku masih punya mimpi besar jadi guru. Kemarin Ibu bawa ke rumah untuk anak pemulung. Dan embah mulai mengajar.”
Bola mata Attar membulat.
“Ibu bilang, mimpi itu bisa terwujud kapan saja. Ibu suka sekali kalau embah senang. Kata Ibu, senang itu membuat kita tetap sehat.”
Attar mendengarkan.
Senang itu membuat sehat. Apa mungkin Eyang Kakung sering sakit belakangan ini karena tidak senang?
Attar cepat berlari pulang ke rumah.
**
“Eyang masih punya cita-cita, Bu..,” ujar Attar pada Ibu ketika mereka sedang makan pisang goreng di teras.
Pisang goreng itu masih hangat.
“Ibu tahu?”
Ibu menganggukkan kepalanya.
“Beni bilang, embahnya dulu suka sakit karena tidak bahagia. Eyang Kakung juga begitu, Bu?”
Ibu mengangguk.
“Jadi, Eyang Kakung boleh jadi petani, Bu? Tinggal di desa?”
Ibu memandangi Attar kali ini. Menarik napas panjang.
“Kemarin Ibu sudah bicara dengan Ayah.”
“Terus…?”
Ibu tersenyum mencubit hidung Attar. “Nanti kita lihat saja, ya.”
**
Mimpi besar Eyang Kakung jadi petani dan tinggal di desa. Tapi rumah Eyang di desa sudah tidak ada lagi.
Sekarang Attar dan Ibu berada di pinggir tanah yang luas. Tanah itu tidak jauh dari tempat mereka tinggal.
“Ibu pinjam tanah ini pada pemiliknya untuk Eyang tanami. Eyang senang, pemiliknya juga senang. Eyang akan tetap tinggal bersama kita.”
Eyang senang. Attar tahu itu. Attar bisa melihatnya dari cara Eyang tersenyum dan jempol Eyang yang diangkat tinggi-tinggi.
Mimpi besar seperti itu, tidak boleh berhenti, begitu kata Ibu. Attar setuju.

**

Published by nurhaya3

Nurhayati Pujiastuti, owner Sanggar Mama Bilqis, Founder Penulis Tangguh, Kelas Merah Jambu dan Kelas Biru. Trainer Menulis.