Catatan Luka

DSCF2740

Wajah Ibu tidak merah. Mata Ibu tidak melotot seperti ketika Pak Mul yang di depan rumah melotot pada Binta ketika Binta tidak sengaja melempar buah mangganya dengan batu dan kena kaca jendelanya.
“Ibu marah?” tanya Binta dengan perasaan bersalah. Ia melihat Ibu memang hanya mengangguk-anggukkan kepala tadi waktu Pak Mul minta ganti rugi.
Ibu juga hanya menggelengkan kepala pada Binta hingga Binta merasa bersalah dan meminta maaf pada Ibu.
“Ibu marah?”
Ibu menyodorkan buku pada Binta. Buku itu berwarna bersampul biru. Ketika dipegang sampul itu terasa lembut sekali. Binta menyentuhnya berkali-kali, lalu menempelkannya di pipi.
“Ini buku apa?”
“Itu buku catatan luka,” ujar Ibu. “Ibu tulis ketika hati Ibu sedang terluka. Ibu baca lagi untuk mengetahui mungkin saja Ibu yang salah.”
“Ibu tadi menulis di buku ini?” tanya Binta karena memang ia tadi melihat Ibu menulis di buku itu.
Ibu mengangguk. “Kamu mau coba menuliskan perasaan kamu kalau sedang marah?”
Binta menggaruk kepalanya. Binta masih berpikir dulu.

**
“Ayah tahu kenapa Ibu tidak marah,” ujar Ayah. “Soalnya marah Ibu sudah ditulis semua di dalam buku yang dikunci itu. Sekali-sekali coba kamu minta Ibu buka kuncinya dan lihat apa saja yang Ibu tulis di sana.”
“Ayah tahu apa yang Ibu tulis?”
Ayah mengangguk. “Ibu menulis begini, hari ini anakku bikin aku sedih. Aku jadi mengeluarkan air mata,” Ayah tertawa.
“Betul begitu, Bu…?” Binta penasaran.
Ibu di dapur menganggukkan kepalanya. “Marah itu bikin Ibu capek.”
“Kalau Ayah punya?” tanya Binta pada Ayah.
Ayah menggeleng. “Nanti Ayah mau belajar punya,” ujar Ayah menganggukkan kepalanya.
**
Buku catatan luka. Binta memikirkan hal itu. Ia bahkan terus memikirkan ketika sedang bermain boneka dengan Anisha di pinggir lapangan.
“Awas….”
Tiba-tiba sebuah bola melambung tinggi dan jatuh tepat di atas boneka milik Binta. Bola itu bau air selokan dan baju boneka Binta jadi ikut bau.
“Kalian sih main di pinggir lapangan,” terdengar suara Bima.
Binta melotot. Boneka itu sekarang ia lempar ke arah Bima. Lalu ia berlari pulang.
Binta marah. Nanti kalau ia sudah berhenti sebalnya, ia akan ke rumah Bima dan lapor sama mamanya yang galak.
**
Binta marah. Binta mengomel. Ayah tertawa dan bilang kalau Binita anak hebat harusnya Binta mengejar Bima dan minta saat itu juga bajunya dicuci atau digantikan dengan baju yang baru.
Ibu menggeleng. Ibu menyerahkan selembar kertas pada Binta.
“Tulis saja perasaan kamu di sini.”
“Apa marahku bisa hilang kalau ditulis?” tanya Binta.
Ibu mengangguk. “Sesudah ditulis kamu tidak perlu mengingatnya lagi. Kamu hanya perlu memaafkan.” Ibu menyerahkan pulpen pada Binta. “Tulis saja,” ujar Ibu. “Ibu buatkan teh hangat ya?”
Binta akhirnya menulis. Besar-besar. Ia menulis benci dengan Bima sampai berkali-kali. Sampai tangannya pegal. Sampai akhirnya ia mengantuk sendiri.
**
Wajah Binta harusnya tidak merah. Matanya juga tidak perlu melotot lagi, ketika Bima datang bersama mamanya.
“Tadi Tante minta Bima mencuci baju boneka kamu. Nih…, sekarang sudah bersih. Bima juga minta maaf.”
Tangan Bima terulur. Binta melihat pada Ibu yang menganggukkan kepalanya sambil tersenyum sehingga Binta tidak perlu melotot lagi.
“Maaf ya.”
Binta mengangguk. Boneka barbienya sudah bersih sekarang. Tidak bau air selokan lagi.
“Minum teh dulu?” Ibu menawari.
Binta memandangi Ibu. Tapi Ibu memandang sebuah buku bersampul biru yang ada di dekat Ibu.
Binta tahu artinya. Binta tidak boleh marah lagi karena Bima sudah minta maaf dan semua kekesalan Binta sudah Binta tulis pada selembar kertas.
Sekarang, mereka minum teh berdua. Ibu dan mamanya Bima ada di dapur.
Besok Binta akan minta dibelikan buku berwarna pink. Di buku itu nanti Binta akan menulis semua marah juga kesalnya.
Sekarang Binta memandangi Bima. Mungkin Bima juga harus menulis di buku seperti itu, supaya nakalnya hilang.

Published by nurhaya3

Nurhayati Pujiastuti, owner Sanggar Mama Bilqis, Founder Penulis Tangguh, Kelas Merah Jambu dan Kelas Biru. Trainer Menulis.