Mengenalkan Kematian Pada Anak

Buku ini dalam proses cetak. Ada 40 pengalaman di buku ini. Semua pengalaman mendidik anak-anak.
Untuk pemesanan bisa hubungi WA saya di : 0812-9926-446
Harga buku Rp.60.000

Di mana pun kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu berada di dalam benteng yang tinggi dan kukuh… (QS An Nisa ayat 78)

Mengenalkan kematian. Itu memang sengaja saya ajarkan sejak dini pada anak-anak. Ada banyak orangtua yang belum siap mengajarkan anak tentang itu. Banyak alasan. Mungkin takut, mungkin merasa waktunya masih panjang.
Kematian untuk saya awalnya juga menakutkan. Tapi ajal itu pasti sifatnya. Suatu saat malaikat maut akan mendatangi kita. Satu dua kematian teman di masa kecil, teman bermain, membuat saya memikirkan hal itu. Lalu kematian orang yang saya kenal. Suami istri tukang soto yang sore sebelumnya soto jualan mereka saya beli, dan keduanya duduk merenung di depan pintu, sampai saya panggil baru menoleh, itu yang paling mengejutkan saya. Soto itu ingin sekali saya beli, meski hanya memakannya satu sendok saja. Esok paginya saya dapati rumahnya dipenuhi orang. Saya dekati dan saya dapati kabar. Suami istri itu meninggal di waktu subuh ketika pergi ke pasar. Motor mereka ditabrak mobil.

Kematian. Sesuatu yang pasti. Sedikit mengerikan, tapi itu pasti sifatnya. Saya sebagai orangtua suatu saat juga akan pergi.
“Jadi Allah yang menghidupkan dan mematikan. Terus kalau Ibu meninggal nanti, kamu harus doain, yaaa,” saya bicara pada anak-anak.
Mereka seperti tidak mengerti.
“Umur kita di dunia ini dibatasin sama Allah. Misalnya 50, 60. Rasulullah bilang umur umatnya sampai 60 dan 70 tahun. Teman Ibu main malah ada yang umurnya 10 tahun. Meninggal karena sakit.”
“Terus Ibu nanti mati?” tanya Bungsu dengan wajah sedih. “Aku enggak mau Ibu matiii.”




Mengenalkan kematian dan bukan sekedar teori. Saya ingin yang lain. Saya bermimpi kelak ketika saya meninggal, anak lelaki saya yang akan menjadi imam untuk shalat jenazah saya.
Karena itu senang sekali saya ketika pengajiannya mengajarkan shalat jenazah itu padanya.
“Nanti kalau Ayah atau Ibu meninggal…”
“Ibuu, jangan ngomong begituan teruuus.”
Saya tersenyum.

Paling tidak mereka sudah paham, bahwa manusia tidak selamanya hidup di dunia. Kematian akan datang juga pada kita. Saya ingin mereka siap menerima itu sebagai sebuah takdir. Saya juga ingin mereka bisa jadi ladang pahala mengalir, yang doa-doanya bisa membuat kedua orangtuanya bebas dari siksa kubur.

**

Published by nurhaya3

Nurhayati Pujiastuti, owner Sanggar Mama Bilqis, Founder Penulis Tangguh, Kelas Merah Jambu dan Kelas Biru. Trainer Menulis.