Sumber Maron, Tempat yang Asyik untuk River Tubing

Ke sumber Maron, begitu usulan kerabat pada kami, ketika kami bingung mau pergi ke mana. Suami mengusulkan untuk agro wisata ke daerah Batu. Bagus memang. Tapi jadi lucu kedengarannya. Karena apa? Karena kami menginap di desaa terletak di daerah Blitar, di mana setiap hari terhampar sawah, gunung dan banyak kebun jeruk juga apel yang sedang berbuah.

Sumber Maron. Fotonya ditunjukkan. Air terjun mini. Tidak menarik mata seperti ketika pertama melihat air terjun Coban Rondo. Tapi sebuah pengalaman baru, apa salahnya dicoba.
Maka pagi itu kami bergegas untuk menuju ke lokasi. Bawa air minum dan makanan kecil.
Tempatnya ada di Karangsuko, Pagelaran, Karangsuko, Pagelaran, Malang, Jawa Timur 65174. Tidak begitu jauh dari stadion Kanjuruhan di Kepanjen. Di pinggir jalan sudah ada tulisan Taman Wisata Sumber Maron Berbasis Edukasi.
Jujur melihat gang masuk ke tempat wisata, rasaya kurang tertarik. Jalan masuk cukup untuk satu mobil. Kami datang pas masih dalam situasi liburan lebaran. Jadi tempat parkir di sana-sini ditawarkan. Bersyukur kerabat paham tempat parkir yang jaraknya dekat dengan lokasi.

Tiket masuknya murah meriah. Tiga ribu. Begitu masuk, kita akan melewati jalan setapak, cukup licin. Tangga menurun yang cukup licin juga, apalagi musim penghujan, jadi harus hati-hati melangkah plus gunakan alas kaki yang enak untuk menapak.
Di kiri kanan jalan, penuh dengan penjual makanan dan juga souvenir.
Sampailah akhirnya saya melihat ke bagian kanan.
“Ini kolam renangnya.”
Ada rasa kecewa. Hallooo, kolam renang? Sungai besar itu biasa. Tidak semenarik waterbom. Ada banyak yang sedang berenang menggunakan ban.

“Di sini?” tanya saya.
“Jalan terus,” kata kerabat.
Okelah saya bersyukur. Kami jalan terus.
“Ini air terjunnya.”
Jalan terus dari sungai yang dipakai sebagai kolam renang, kami berada di air terjun yang tidak tinggi. Tapi pemandangan orang-orang membawa ban dan terapung di sungai dengan ban tersebut membuat mata saya mulai terbuka. Tubing alas meluncur ke sungai dengan menggunakan ban dalam. Begitu namanya.
Kami singgah di warung makan ada di sepanjang pinggir sungai.
Taruh barang, ada loker yang bisa disewa, harganya kurang tahu, karena kami tidak menyewa loker, sebab ada kerabat yang punya anak kecil dan tidak ikut berenang.

“Hayooo…”
Saya penasaran.
Kami menyewa ban. Lalu berjalan menuju lokasi peluncuran tertulis garis start untuk river tubing alias meluncur menggunakan ban.
Mulaiiii.
Saya, suami, dua anak remaja dan satu ponakan meluncur.
Resep sebelum meluncur. Harus ada orang yang memegangi ban agar kita mudah duduk di dalam ban yang sudah ada tempat duduknya dari tali temali.
Tips berikutnya. Orang yang di depan sebagai penunjuk arah. Yang lain di belakangnya, menjulurkan kaki dan kaki itu dikepitkan di ketiak orang di depannya.
Tujuannya agar tidak terlepas jika ingin tubing bersama. Tapi kalau mau sendiri tidak masalah. Catatan, arus air cukup deras.
Ketika bersama-sama pun kami terlepas rantai karena arus.
Hati-hati juga ketika arus membuat ban menghantam batu, jangan gunakan tangan untuk mencegahnya. Karena benturan akan keras dan bisa menyebabkan tangan keseleo atau terluka. Jadi gunakan badan untuk menggerakkan ban.
Akhirnya tibalah kami di tengah di bagian bawah air terjun.
Air sungai di bagian itu tidak dalam, tapi harus dibantu untuk turun dari ban. Cepat kepinggir, karena bisa terbawa arus lagi. Saya sendiri ditolong oleh seseorang memegangi ban saya. Anak perempuan saya, bahkan harus berkali-kali ditolong ayahnya karena hampir terbawa arus.
Gunakan alas kaki ketika di sini.Batu-batunya tajam. Jadi sebaiknya siap dengan sepatu yang enak dipakai dan tidak mudah lepas.

Here we are.

Menikmati mandi di pancuran alami. Lalu lanjut lagi naik ban lagi menuju garis finish.
Nah di bagian ini lebih dalam dari jalur sebelumnya, jadi hati-hati.
Arusnya deras, di garis finish akan ada yang menghentikan nanti dan menarik ban ke arah pinggir. Sebab kalau tidak ada, entah sampai mana ban akan membawa kita meluncur.

Saya pulang dengan perasaan puas.
Bahagia juga.
Untuk makanan, tukang makanan di wisata Sumber Maron ini tidak mengetok harga kok. Alhamdulillah. Air mineral di botol besar dipatok harga lima ribu. Harga makanan jagung manis diberi susu juga lima ribu. Serba lima ribu dan nimat.
Untuk souvenir juga harga masih terjangkau.

Catatan untuk saya adalah don’t judge a book by a cover.
Harusnya sebagai penulis yang seperti itu sudah saya hafal luar kepala.
Yuk, yang mau ke Sumber Maron. Mau juga saya ke sana lagi, ingin mencoba arung jeramnya.
Pemandangan sekeliling sebenarnya cukup bagus. Tapi karena kami datang ketika musim liburan, maka pemandangan yang terlihat hanya lautan manusia dan manusia saja.
Next In syaa Allah harus ke sana pada saat sepi dan bukan musim liburan.

Published by nurhaya3

Nurhayati Pujiastuti, owner Sanggar Mama Bilqis, Founder Penulis Tangguh, Kelas Merah Jambu dan Kelas Biru. Trainer Menulis.