Ketika Penulis Terpaksa Pindah Tidur ke Hotel Berbintang

“Ibu mau pergi lagi? Nginep di hotel lagi?”
Itu pertanyaan bungsu saya, yang katanya ngiri, ibunya tidur di hotel terus. Padahal si ibu biasa ada di rumah, justru tidak punya pikiran seperti itu.
Dulu, pada zaman dahulu kala, ketika profesi penulis di media remaja sedang booming, menginap di hotel juga pernah saya rasakan. Rasanya?
Untuk orang rumahan seperti saya, yang cinta kamar dan segala pernak-perniknya, maka tingkat kenikmatan hotel hanya berada pada lapisan luar saja.
Apalagi sekarang.
Ibu dua anak, yang mengurus pernak-pernik rumah tangga. Tinggal di hotel, lebih banyak untuk kerja. Itu pun ketika tidur suka terbangun membayangkan kondisi rumah seperti apa, ya?

Lalu kenapa penulis bisa tinggal di hotel?
Itu yang dulu ditanyakan bungsu saya.
Tapi setelah dia tahu ada banyak jalan untuk merasakan tidur di hotel, termasuk melalui prestasi menulis, maka ia sekarang sibuk membaca.

Hotel tentu saja bukan rumah.
Sebagus dan sebersih apa pun. Selengkap apa pun dan sebagus apapun jaringan wi fi di hotel tersebut.

hotel-harris-1

Ketika berada di kamar tidur yang lengkap, semua serba empuk, tapi isi kepala berputar dan berputar, itu rasanya tidak nikmat. Tidur terbangun lalu tidur lagi dengan perasaan tidak tenang.
Ada harga yang harus dibayar tentu saja untuk sebuah kenikmatan.
Apalagi ketika kenikmatan itu diberikan sebagai fasilitas pekerjaan kita sebagai penulis.

hotel-harris-2

Tunggu dulu,
apa yang membuat seorang penulis bisa merasakan tidur di hotel? Penulis buku dan media cetak lho dalam artian bukan blogger. Karena kalau seorang blogger mungkin banyak undangan dari penyelenggara yang menyediakan fasilitas itu.
Tapi penulis, jalur apa yang mungkin bisa membuatnya merasakan pindah tidur ke hotel.

Setahu saya, jalur yang harus dilalui penulis untuk mendapatkan undangan, dan kepercayaan hingga akhirnya bisa merasakan menginap di hotel hanya satu.
Jalur prestasi. Kalau ingin murni menginap di hotel gratis dengan segala fasilitasnya dan ongkos transport juga.
Iya jalur prestasi.
Artinya, banyak-banyaklah menulis dan berprestasi.
Ketika menulis dan berprestasi itulah, maka orang, penerbit atau instansi akan mudah mengenal kita dan memberi kepercayaan untuk melakukan suatu pekerjaan.
Pekerjaan itu akhirnya yang bisa membawa kita pindah tidur dari satu hotel ke hotel yang lain.

Jadi apa yang harus dilakukan penulis?
Kalau saya sih terus menulis saja.
Lakukan yang terbaik artinya menulis yang terbaik, dengan riset dan hasil yang baik.
Ketika ada pekerjaan pesanan, lakukan komunikasi dengan baik dengan yang memberi pekerjaan, sehingga mereka percaya bahwa kita memang orang yang bisa dipercaya.
Sering-seringlah ikut lomba menulis. Karena biasanya lomba menulis yang diadakan sebuah instansi pemerintah, pasti akan mengadakan malam penghargaan untuk para pemenang. Dan biasanya pemenang untuk itu disediakan kamar hotel di ibu kota Jakarta.

Terus apa lagi?
Teruslah menulis. Kalaupun kita bukan pemenang sebuah lomba, tapi dari menulis kita bisa punya penghasilan. Dan tentu saja dengan penghasilan itu kita bisa menyewa kamar hotel dengan pikiran lebih tenang, karena tidak disibukkan dengan pekerjaan. Kita juga bisa membawa anak dan pasangan lalu bersenang-senang.

Tapi uang dari menulis tidak cukup?
Banyak-banyaklah menulis bukan mengeluh. In syaa Allah kalau untuk sehari dua hari menginap di hotel pasti bisa dengan uang dari menulis.
Kalau saya sih lebih memilih untuk menginap di desa yang hawanya masih asri ketimbang menginap di hotel.

Soal tidur di hotel?
Beberapa hari lagi saya, masih harus pindah dari satu tempat ke tempat lain.
Tidur di hotel lagi.
Pikiran terpecah lagi, antara rumah dan pekerjaan. Apalagi si anak bungsu harus ikut kegiataan OSIS dari sekolah dan kemping di daerah puncak.

“Ih asyik, Ibu tidur di hotel lagi.”
Saya garuk-garuk kepala lagi.
Ada harga yang harus dibayar tentu saja. Ketika ibu tidur di hotel, itu artinya bekal makan siang anak-anak harus berganti dengan masakan katering bukan masakan ibu. Dan itu artinya kocek harus dirogoh lebih dalam lagi.

Published by nurhaya3

Nurhayati Pujiastuti, owner Sanggar Mama Bilqis, Founder Penulis Tangguh, Kelas Merah Jambu dan Kelas Biru. Trainer Menulis.