Setangguh Apa Kita Mengejar Cita-Cita?

r-to-r

Pernah melewati jembatan gantung?
Huh, seram.
Saya menaikinya dengan kaki gemetar. Berjalan dari ujung ke ujung tanpa melihat ke aliran air di bawahnya. Berharap tidak ada angin, atau sesuatu yang membuat saya terpeleset.

Berada di atas jembatan gantung membuat saya jadi paham.
Kita berada di atasnya seperti sedang meniti jalannya cita-cita kita. Bila niat tidak kuat, maka yang ada hanya ketakutan dan ketakutan.
Tapi bila niat kita kuat, maka kita hanya akan fokus pada ujung target yang ingin kita kejar.

Saya memiliki dua abege.
Dua abege yang cita-citanya berubah-ubah, tapi garis besarnya sama.
Yang Sulung tadinya ingin jadi palang kereta api, terus berubah jadi masinis, terus berubah jadi pemain bola, terus berubah lagi jadi imam masjid Medinah.
Berubah total?
Bukan.
Sampai sekarang dia jadi penikmat kereta api. Pergi kemana pun kami, dia hanya mau naik kereta api. Ibu dan Ayah tidak boleh punya mobil karena hanya bikin macet jalanan. Ibu dan Ayah harus pesan tiket kereta api jauh sebelum tanggalnya ketika masa mudik tiba.
Pemain bola? Dia masih jadi pencinta bola. Terbangun untuk menonton pertandingan bola. Weekend diisi dengan main futsal bersama teman-temannya.
Lalu jadi imam masjid? Itu mungkin karena dia ingin menunjukkan baktinya pada saya. Sebagai Ibu saya sering ngobrol dengannya tentang harapan kelak ketika saya sudah tidak ada. Dan dia ingin mewujudkannya.
Paling tidak harapan yang ia inginkan sejak kecil masih melekat dalam bentuk hobi. Itu artinya hobi bisa jadi mengerucut menjadi hal lain. Yang penting saya sebagai orangtua tidak menghancurkan mimpi-mimpi dan harapannya itu.

Cita-cita saya apa dulu?
Aaah, cita-cita saya hanya ingin jadi guru, penulis dan psikolog.
Lalu semua berujung dengan satu kata penulis yang ternyata dari profesi itu bisa membuat saya jadi psikolog, guru dan jadi apa saja karena dimudahkan untuk saya mengenal siapa saja.
Harapan saya Sulung pun mengerucut seperti itu.
Jadi imam di masjid mana saja, siapa tahu dia bisa membina para pemain bola agar meningkat keimanannya. Bisa membimbing untuk shalat tanpa terkendala waktu atau juga tempat.

Ciptakan untuk Tangguh Dulu

Saya yakin tidak ada kata mudah untuk meraih sesuatu.
Sesuatu yang mudah malah jadinya akan disepelekan. Mungkin kalau dulu saya tidak jatuh bangun, merangkak untuk menulis, saya tidak akan sampai di titik ini.
Lihat para pesohor seperti bintang sepak bola dan atlet lainnya atau para pakar di bidangnya. Mereka jatuh bangun, dan jatuh cinta dengan apa yang dikejarnya.

Anak-anak harus tahu jalan untuk itu tidak mudah.
“Ibu, aku mau jadi repoter,” itu kata yang Bungsu.
Eh dia, mau fokus nulis juga katanya. Mau punya banyak penghargaan biar ditempel di dinding dan mengalahkan penghargaan yang diterima Ibu.
Bisa menulis? Tentu saja bisa, karena saya ajarkan sejak kecil. Tapi kan dia harus berada pada posisi bukan sekedar bisa lagi. Ibunya sudah bisa menulis itu artinya dia harus punya kualitas lain seperti tulisan yang harus lebih berisi ketimbang anak seumurannya, misalnya.
Maka biasanya saya tunjukkan sebuah lomba dan saya tanya apakah dia mau ikut.
Sebuah kekalahan kemarin, membuat dia termangu. Ada sertifikat yang diterima. Saya mencoba berada pada posisinya. Dulu, senang sekali saya cuma mendapatkan nama saya sebagai peserta tercantum di media cetak, untuk lomba puisi. Maka sertifikat yang dia terima dialamatkan ke sekolah itu saya baca. “Ibu jangan lupa, sertifikatku dibingkai.”
Saya mengangguk.
Sertifikat itu belum dapat bingkai, tapi saya letakkan di tempat yang terlihat di rak buku berpintu kaca.

Cita-cita anak kita mau jadi apa?
Rentang dari anak SD sampai menuju cita-cita itu panjang. Tidak bisa dengan tongkat ajaib cita-cita itu tercapai.
Ada proses yang harus dilalui dan doa orangtua yang selalu melingkari mereka, sehingga mereka tidak melenceng dari jalur yang mereka inginkan.

“Imam masjid harus konsisten mau ke masjid,” itu yang selalu saya katakan pada anak sulung saya.
“Reporter harus terus mengasah wawasan,” itu juga saya katakan pada bungsu saya, jika dia sudah mulai terlalu lama pegang gadget.

“Ibu dulu mau jadi apa?”
“Ayah dulu cita-citanya apa?”

Sambil duduk bersama, biasanya pas makan malam di atas karpet, kami akan bicara banyak.
“Cita-cita Ibu sekarang kasih pahala mengalir buat orangtua Ibu.”
Anak-anak serentak mengangguk.
“Jadi apa saja terserah, sepanjang tetap berpegang teguh pada prinsip.”

Entah berapa tahun lagi mereka akan jadi apa.
Tapi saya yakin, proses yang saya tanamkan tentang cita-cita akan membuat mereka jadi orang yang tangguh dan berjuang untuk bermanfaat untuk orang lain.

Published by nurhaya3

Nurhayati Pujiastuti, owner Sanggar Mama Bilqis, Founder Penulis Tangguh, Kelas Merah Jambu dan Kelas Biru. Trainer Menulis.