Jangan Jadi Ibu yang Sempurna

photo

Ibu saya tidak sempurna.
Sungguh.
Ibu kandung saya hanya lulusan SD, tidak pintar seperti ibu teman saya yang lain. Zaman dulu Ibu teman saya ada yang kuliah, ada yang jadi guru. Dan ibu-ibu itu punya banyak buku di rumahnya, yang buku-buku itu sering saya pinjam.

Ibu saya tidak suka baca buku. Ibu saya sama seperti ibu-ibu zaman dahulu. Terperangkap pada mengurus anak dan melahirkan anak berturut-turut sampai delapan anak. Ruang untuk Ibu mengaktulisasikan dirinya hanya pada mesin jahit. Ibu menjahit semua baju seragam dan baju lebaran kami.

Ibu saya bukan Ibu yang sempurna apalagi hebat. Dulu saya iri pada teman lain yang punya Ibu pintar. Sedang saya cuma punya Bapak yang pintar dan cinta membaca.
Dulu saya ingin Ibu juga merasakan pergi ke kantor. Terlaksana sih impian saya, ketika kantor Bapak mengharuskan istri-istri pegawainya ikut penataran dan Ibu terpilih. Itu pertama kalinya Ibu merasakan ruangan ber AC sampai membeli jaket baru.

Ibu saya bukan Ibu yang sempurna dan kami semua anak-anaknya menyadari hal itu. Karena itu kami tidak mau mengulangi apa yang Ibu lakukan. Lima anak perempuan Ibu akhirnya berjuang untuk jadi perempuan dengan berjuang untuk menambah wawasan. Meski Ibu juga dulu sering mengeluh karena anak-anak gadisnya menikah tidak secepat anak gadis teman-temannya.
Ibu perempuan yang banyak kurangnya, tapi kami justru belajar dari kekurangan itu.

Sampai akhirnya saya merasakan juga jadi Ibu.
Ibu dari dua anak.
Berjuang belajar terus di mana saja. Berjuang untuk paling tidak anak-anak bangga punya Ibu seperti saya.
Dulu pada awalnya konsep sempurna ada di benak saya.
Bahwa saya harus bisa ini itu. Segala bentuk emosi saya pendam sendiri. Di hadapan pasangan juga saya harus ya ya yes, demi menyenangkan hati semuanya termasuk keluarga besarnya.
Bukan sesuatu yang susah, sih. Karena saya punya empat orang adik, dan Bapak selalu menganggap saya adalah anak yang penyabar dan pengalah. Maka saya terbentuk sebagai anak dengan mindset harus jadi penyabar dan harus jadi pengalah. Meskipun saya kadang-kadang ingin marah juga ingin emosi juga. Tapi seperti ada penjara yang menghambat saya melakukan hal itu. Saya terkurung dalam stygma baik, anak baik dan semua yang serba baik. Meskipun saya juga ingin melakukan banyak hal yang tidak baik misalnya dengan membanting pintu ketika marah atau membiarkan pakaian kotor bertumpuk saja tidak perlu saya cuci.

Tapi lambat laun saya merasa tidak bisa.
Saya merasa menjadi Ibu tanpa nyawa, hanya seperti boneka dari keinginan banyak orang.
Sampai akhirnya ada satu yang menghentak-hentak batin saya ketika orang lain dengan enaknya mengatur saya, mengatur rumah tangga saya sesuai konsep yang mereka inginkan. Dan karena keinginan untuk menyenangkan banyak orang itu membuat kami tertimbun dalam utang yang cukup banyak. Itu yang membuat saya sadar dan tersadarkan.
Saya harus berubah. Sebab saya menusia.
Wajar saya marah dan wajar bila marah itu bisa jadi menyakiti perasaan orang lain. Tapi paling tidak saya marah pada orang yang benar, bukan pada setiap orang dan sembarang orang.
Wajar jika ada yang sakit hati, tapi yang sakit hati adalah orang yang tepat, bukan setiap orang saya buat sakit hati.
Tentunya saya juga berjuang agar Allah membuat saya mengambil keputusan yang tepat.

Yes…, Tidak Sempurna

Dulu, duluuu sekali. Kalau saya pulang dengan nilai jelek, saya selalu merasa bersalah pada Bapak. Saya merasa gagal. Bahkan saya pernah demam ketika menyerahkan nilai ulangan matematika saya yang buruk.
Lalu beranjak besar, saya juga takut mengecewakan Bapak.
Bapak biarpun tidak langsung akan bertanya pada Ibu. “Kok tumben, ya, nilainya jelek?’ Atau “Kok bisa, ya, tidak lulus di tes itu?”

Saya stress dengan harapan orang pada saya.
Saya juga stress menjadi sempurna. Saya bukan malaikat. Mengalah wajib hukumnya bagi saya, tapi bukan berarti tidak bisa mengungkapkan pendapat. Bersabar juga wajib, tapi kalau orang salah tetap harus diberitahu.

Lega rasanya karena saya bisa seperti orang lain.
Saya bisa marah sama orang lain, meskipun kadar marahnya tidak juga teriak-teriak tapi dengan diam. Tapi paling tidak mereka tahu.
Saya bisa menolak orang lain. Dan itu melegakan saya, karena capek juga mengikuti apa maunya orang lain terus.
Saya tidak memukul anak-anak tentu saja. Saya tetap harus menarik napas panjang dulu ketika emosi pada anak-anak.
Tapi saya jauh lebih bahagia.
Bahagia karena saya jadi diri sendiri, dengan kesadaran penuh mengendalikan diri sendiri, bukan dikendalikan oleh rasa ingin menyenangkan orang lain.

Saya tetap berjuang belajar dan belajar.
Saya bukan Ibu yang sempurna, karena saya tidak terlalu mahir masak. Saya juga tidak pintar matematika. Tapi yang penting anak-anak paham saya berjuang untuk menyayangi mereka. Pasangan tahu, saya berjuang untuk jadi pasangan yang mau menerima kekurangannya.

Saya bersyukur, kelak anak lelaki saya akan melihat bahwa ibunya tidak sempurna. Itu artinya dia akan mudah menerima perempuan lain menjadi pasangannya dan membiarkan pasangannya itu berproses.

Published by nurhaya3

Nurhayati Pujiastuti, owner Sanggar Mama Bilqis, Founder Penulis Tangguh, Kelas Merah Jambu dan Kelas Biru. Trainer Menulis.