Yang Negatif, Ditulis Saja

IMG_0259

“Kenapa aku harus menulis, Bu?” itu yang ditanyakan anak-anak pada saya.
Kenapa?
Saya sering mengurai pengalaman masa lalu yang membentuk karakter saya hingga saat ini.
Menulis itu membuat saya bisa menahan emosi, bisa juga membuat saya meredam curiga. Bahkan ketika ingin menuduh seseorang, saya bisa merenung dulu untuk dipikir ulang benar atau tidak tuduhan itu?

“Aku kan mau jadi pemain bola bukan penulis?” sanggah anak lelaki saya, yang pernah menang lomba nulis dan sekarang fokus bermain futsal di tim inti sekolahnya.
Biasanya saya akan jelaskan bahwa menulis itu membuat otak berpikir ulang tentang apa yang dilihat lalu disaring untuk dijadikan manfaat.
Menulis juga akan membantu ia meredam emosi.
Memang tidak sesering adiknya menulis. Tapi paling tidak seminggu sekali, saya tetap minta ia mengisi blognya atau hanya sekedar tulisan di kertas. Yang terpenting ia bisa menulis apa yang ada di kepalanya. Sehingga suatu saat kelak, dia jadi terbiasa.
Dan ilmu yang dia dapat bisa bermanfaat untuk orang lain.

Curiga Kita, Tulis Saja

Menulis itu sesungguhnya membuat kita belajar untuk bersikap bijaksana kok. Jika menulis tentang sosok Ibu yang bijaksana, kita sebagai Ibu harus berjuang untuk mengarah ke sana.
Kalau saya sih berpikir, apa yang kita tulis harus apa yang kita kerjakan. Maka perjuangan ke arah itu tetap harus kita lakukan terus-menerus.

Ketika curiga dengan seseorang, saya lebih suka menuliskannya.
Menyaring sikapnya, untuk kemudian bisa saya rangkai jadi pemahaman baru yang bisa dibagi dalam bentuk tulisan pada orang lalin.

Anggap saja diri kita busa alias spon. Ketika ada curiga atau prasangka buruk yang membuat spon kita mengembang, cukup peras dan tulis. Hingga spon itu kembali kosong.
Setelah kosong tentunya kita akan mampu menerima pemahaman baru lagi dari orang lain. Dan yang kita terima harus kita peras lagi.
Berulang kali hal itu terjadi tentu akan membuat segala yang negatif tidak akan betah bertahan di diri kita.

Terus masalahnya adalah, yang kita tulis negatif itu apa, ya?
Mudah kok.
Jika kita bertemu dengan seorang yang menyebalkan, tulis saja orang itu jadi karakter tokoh tulisan kita. Biasanya banyak penulis yang melakukan hal ini. Bahkan murid menulis saya yang masih SD, juga menulis hal ini.
Dia menulis tentang temannya yang sifatnya buruk, mendapat balasan setimpal.

Itu baru tahap permulaan.
Tahapan lainnya adalah. Tuliskan saja hikmah yang kita dapat dari pengalaman dengan rasa curiga itu. Percaya deh, hasil tulisan jadi akan lebih berisi karena kita sendiri berbagi manfaat tentang hal itu.
Misalnya ada seorang yang berkata kasar pada kita, coba renungkan. Jangan-jangan kita yang memulainya dan tidak terasa. Jangan-jangan ia sedang bermasalah. Lalu kita pilih meneruskan sakit hati atau justru melupakannya.
Nah kalau jadi tulisan bisa tulisan tentang seorang yang berteman dengan teman yang biasa berkata kasar tapi dia tidak tertular dengan kekasarannya itu.

Menulis itu Sebenarnya Menghaluskan

“Jangan emosi. Tarik napas panjang terus tulis,” itu biasa saya katakan pada dua abege saya.
Iya menulis membantu kita meredam emosi juga menghaluskan jiwa.
Karena apa, karena semakin banyak kita menulis, tentunya kita akan semakin terasah menyaring apa yang ada di kepala untuk dijadikan tulisan.
Ketika pada awal menulis kita tulis semua yang ada di kepala, maka ketika seratus kali menulis maka apa yang kita tulis tentu akan berbeda. Kita akan mulai bisa menyaring apa yang ada di kepala sehingga tidak semuanya ditulis.

“Tapi kenapa ada penulis yang masih kasar?”
Mungkin tulisan yang dia tulis datangnya tidak dari hati.
Atau mungkin ia merasa menulis itu sekedar menulis saja, tidak perlu idealis menjadi baik seperti yang dia tulis. Jadi menulis itu seperti pakaian saja buat dia, bisa dilepas dan dipakai lagi.

Setiap orang boleh berpendapat berbeda, kan?
Kalau buat saya menulis tetap membuat jiwa saya terasah lebih halus lagi. empati saya terasah lebih dalam lagi.
Dan itu artinya menulis benar-benar jadi sesuatu yang bermanfaat untuk saya.

Published by nurhaya3

Nurhayati Pujiastuti, owner Sanggar Mama Bilqis, Founder Penulis Tangguh, Kelas Merah Jambu dan Kelas Biru. Trainer Menulis.