Pisau Runcing Dalam Pernikahan

AQUA, aku dan suami

Sakit hati yang paling sering terjadi adalah karena sesuatu yang keluar dari mulut kita atau pasangan. Dan yang ke luar dari mulut itu sering tidak disadari oleh yang bersangkutan dikarenakan mereka memang terbiasa melakukan hal seperti itu.
Yang ke luar dari mulut kita bisa jadi kita rasakan biasa saja dikarenakan kita terbiasa mengeluarkan kalimat seperti itu.
Kalimat bodoh tidak berpendidikan, bisa jadi hal yang biasa di beberapa keluarga yang mengutamakan pendidikan formal. Biasanya mereka mengambil pola asuh kalimat seperti sebagai acuan motivasi tapi tidak melihat bahwa terkadang kalimat seperti itu justru menjadi bahan pelajaran untuk anggota lainnya.
Melihat tidak bisa melakukan hal kecil, kata-kata itu bisa jadi terlontar. Dan dalam pernikahan, banyak interaksi, banyak kesalahan terjadi, maka dari situ kalimat yang seperti itu akan menjadi biang keladi masalah antar pasangan.
Kalimat buruk yang biasa dikeluarkan seorang Ibu, akan dipahami anak-anaknya sebagai kalimat yang biasa saja, berlaku di rumah itu artinya kalimat itu normal dan boleh juga ia ucapkan.
Karena itu biasanya anak-anak dengan orangtua yang biasa bicara kasar, akan juga tertular kekasarannya sampai pada batas usia tertentu ia paham dan mengambil keputusan untuk meneruskan atau menghentikan kalimat kasar itu. Menghentikan bisa jadi karena ia sudah tidak nyaman karena ia bergaul dengan orang-orang yang bersikap lembut. Meneruskan karena ia sudah terbiasa dengan kalimat seperti itu. Sudah mendarah daging.

Sesungguhnya Allah itu lemah lembut dan mencintai kelembutan dalam segala perkara (HR Bukhari Muslim.

Ada kalimat keras ada kalimat kasar. Dan tentu saja ada perbedaan antara kalimat yang diucapkan keras dan kalimat yang diucapkan kasar.
Kalimat keras bisa jadi volumenya diucapkan tinggi dengan nada tinggi, memekakkan telinga bagi yang tidak terbiasa mendengarnya.
Kalimat kasar sendiri adalah kalimat yang melukai hati. Sering bukan karena tingginya volume ketika mengucapkan tapi karena apa yang terucap itu yang menyakitkan hati.
Misal, kalimat bodoh yang diucapkan lembut untuk kesalahan yang kita perbuat dari orang lain yang selama ini ada di samping kita, pasti menyakitkan.
Kalimat bukan istri yang baik yang diucapkan oleh tetangga yang tidak pernah tahu diri kita sebenarnya seperti apa, pasti juga menyakitkan meski diucapkan sambil tersenyum.

Perhatikan apa yang ke luar dari mulut kita. Jika kita mudah terluka untuk kalimat yang ke luar dari mulut orang lain kepada kita, coba intropeksi apakah kalimat kita mudah melukai orang lain?
Biasanya bila kita minta Allah membukakan segalanya untuk bahan intropeksi akan mudah Allah membuat apa yang selama ini tidak terasa akan menjadi terasa.
Sebab banyak sekali para wanita yang kasar menangis dan merasa orang lain bersikap kasar padanya. Padahal ia sendiri kasar setiap kali bersikap pada orang lain.
Atau wanita yang suka menjelekkan orang lain, akan kaget sendiri ketika ada gossip dari orang lain tentang dirinya.
Yang paling efektif adalah meneliti kalimat yang ke luar dari mulut anak-anak kita. Jika mereka kasar, coba intropeksi diri. Tanya juga pada pasangan. Jika kalimat kasar itu datangnya bukan dari kita atau pasangan, itu artinya ada yang harus dibenahi yang ke luar dari mulut kita.
Untuk kalimat kasar seperti ini, kita dan pasangan harus sama-sama memiliki persepsi yang sama tentang kalimat kasar itu sendiri. Sebab satu kalimat yang kita anggap kasar adakalanya dianggap tidak kasar oleh pasangan. Misal, kalimat bodoh. Untuk kita kasar untuk pasangan tidak kasar.
Maka sebelum mematenkan bahwa kalimat itu kasar dan kalimat itu tidak di dalam rumah tangga kita sebaiknya kita juga harus memiliki persepsi yang sama tentang kalimat itu sendiri.
Acuan yang lebih baik adalah sebuah pertanyaan, apakah kalimat itu melukai perasaan orang lain atau tidak?
Selebihnya kita dan pasangan bisa saling mengkaji ulang lebih baik. Semakin dalam pemahaman agama semakin kita tahu kalimat apa yang pantas diucapkan dalam rumah tangga kita dan dengan intonasi yang seperti apa.

Kalimatmu Kasar. Kalimatku?
Kita dan pasangan berbeda. Jelas. Pernikahan memang Allah jadikan untuk menyatukan dua orang memiliki beberapa kesamaan dan juga beberapa perbedaan. Bukan menyatukan orang yang benar-benar sama atau benar-benar berbeda.
Ketika menyadari hal mendasar seperti ini, kita akan lebih menyadari bahwa jika kita dan pasangan memiliki perbedaan, itu artinya kita dan pasangan masih juga memiliki kesamaan.
Coba perhatikan orangtua kita. Apakah ayah dan ibu kita sama? Tentu tidak. Bisa jadi ayah kita punya cita-cita tinggi sedang ibu kita tidak atau sebaliknya. Tapi mereka memiliki persamaan pada hobi bercocok taman.

Bisa jadi ibu kita suka berpergian tapi ayah suka di rumah. Tapi persamaannya mereka akan optimal ketika mengurus kita sebagai anak-anaknya di rumah.
Atau bisa jadi ayah kita adalah orang yang sabar dan ibu kita tegas. Tapi mereka pasti memiliki benang merah sendiri kapan sabar dan tegas itu menjadi satu kesatuan yang membuat kita tumbuh kembang secara optimal.
Tentang kalimat kasar yang bisa jadi keluar dari mulut pasangan kita dan kita sakit hati? Cari yang paling tepat tentu saja mengucapkan langsung pada pasangan.

Pernikahan adalah proses itu yang wajib diingat. Proses itu diisi dengan saling mengingatkan satu dengan yang lain sehingga tercipta kenikmatan berproses untuk akhirnya sama-sama menuju ujung yang baik.
Sepanjang kita sadar, punya rambu yang jelas mana kalimat kasar dan mana tidak dan rambu-rambu itu adalah rambu yang diperintah oleh agama, maka akan lebih mudah untuk meluruskan pasangan kita.
Yang banyak terjadi, kalimat kasar pada pasangan (suami) membuat para istri menjadi merasa tidak bisa bergerak, runtuh harga dirinya. Lalu menyimpan bara lebih dalam lagi. KDRT karena kekerasan verbal ini juga banyak dilaporkan oleh para wanita yang merasa tidak kuat lagi dengan kata-kata kasar pasangannya.
Jika memang pasangan memiliki kalimat yang menurut kita senantiasa kasar, benahi pasangan pelan tapi pasti.
Ingat, ada indikator kalimat itu kasar :
1. Orang yang mendengarnya bukan hanya kita bisa sakit hati
2. Banyak dari kata kasar tidak ada manfaatnya sama sekali
3. Yang mengucapkan seringkali meluapkannya dalam keadaan emosi
4. Ketika tidak dalam keadaan emosi mengucapkannya itu artinya kata-kata kasar sudah menjadi kebiasaan.
5. Kata-kata kasar yang diucapkan berulangkali dan didengar oleh orang di dekatnya berkali-kali sering malah menjadi intimidasi dan membuat yang mendengarnya jadi merasa seperti itulah dirinya.

Tulis, Jangan Bicara
Jika kita adalah tipe yang memang mudah tersakiti mendengar kata-kata kasar ke luar dari mulut pasangan, kenapa kita tidak melakukan tindakan yang membuat pasangan sadar?
Atau jika kita sendiri yang memang suka bicara kasar sehingga anak-anak ikut terbawa dan bicara kasar, mungkin memang kita harus melakukan sesuatu.
Cara yang paling ampuh adalah lewat gambar atau tulisan.
Jika kita tidak terbiasa menggambar atau menulis, bukan berarti kita tidak bisa melakukannya.
Pernahkan kita melihat anak kecil yang sedang menggambar dan dalam keadaan emosi? Apa yang dihasilkannya? Gambar yang coret moret tidak menentu. Ia menggabungkan semua warna dalam satu tumpukan dan tidak ada maknanya. Ia kadang tidak memperhatikan lingkungan sekitar. Tapi setelah itu? Ia akan merasa lebih mudah terkontrol ketimbang sebelumnya.

Jika kalimat kasar yang ke luar dari mulut kita adalah kalimat yang selalu saja hadir tidak terkontrol dalam keadaan kita marah, coba carilah pengalihan sehingga kalimat itu tidak menyakiti seorang yang terkena.
Ambil kertas. Coret apa saja dalam keadaan kita marah. Atau kita tulis apa saja yang ingin kita ungkapkan dalam bentuk tulisan. Kita memerlukan sarana untuk mengeluarkan emosi kita.
Waldron dan Kelly 2008 mengatakan bahwa salah satu alasan dari tiga alasan kenapa pasangan bercerai adalah karena kalimat yang tidak membangun (destructive communicaton). Kalimat seperti ini kadang-kadang tidak bisa ditoleransi.
Ketidakmampuan mengendalikan konflik, kurangnya kedekatan dan tidak bisa menciptakan komunikasi yang sportif juga menjadi alasan lain dalam sebuah perceraian.

Ketika apa yang ada di hati sudah kita tumpahkan semua dalam bentuk coretan, endapkan dalam beberapa jam. Selang waktu beberapa jam itu, kita bisa melakukan banyak hal. Kita bisa membuka Al Quran, kita bisa membaca buku, kita bisa shalat, kita bisa juga tidur.
Setelah keadaan kita tenang, buka apa yang kita tulis dalam keadaan marah itu. Dan lihatlah. Betapa kadang-kadang apa yang seharusnya tidak tertulis jadi kita tulis ketika kita emosi. Bahkan hal-hal yang harusnya sudah selesai kembali kita buka kembali ketika kita dalam keadaan marah.
Ini artinya, ketika kita tidak menulis tapi memilih untuk bicara, maka akan ada kalimat yang menyakitkan orang lain terutama pasangan kita, akan ada juga kalimat yang mungkin disimpan sebagai luka baru oleh pasangan.
Cerdaslah mengelola kalimat yang keluar dari mulut kita.

Seberapa Dalam Sakit Hati Itu?
Jika memang pasangan kita, orang terdekat kita gemar sekali mengeluarkan kata-kata kasar, meski tidak diucapkan dengan nada tinggi, dan kita menjadi sakit hati karenanya, coba tanya dalam hati kita sendiri. Seberapa dalamkah sakit hati itu ada di dalam hati kita? Apakah sakit hati itu mengganggu hubungan kita dengan pasangan dan rumah tangga menjadi sesuatu yang menyebalkan untuk kita?
Kita harus jujur dengan diri sendiri, karena yang menjalani adalah kita. Sama sebenarnya dengan kita berada di dalam sebuah rumah. Rumah yang nyaman adalah rumah yang kokoh tiang penyangganya, atapnya, dindingnya. Kebocoran sedikit tidak masalah karena bisa ditambal.
Rumah yang nyaman itu tentu menyamankan kita. Tapi jika rumah itu bukan hanya keropos atap atau dindingnya tapi justru mau roboh menimpa kita yang ada di dalamnya, apa yang kita lakukan? Apakah kita tidak berbuat apa-apa dalam kondisi rumah yang seperti itu?
Tentunya ada dua alternative yang harus kita lakukan. Jika kita tidak mampu membenahi, maka minta tolonglah pada orang yang ahli melakukan pembenahan. Jika kita memang siap berada di dalam rumah itu, maka itu artinya kita harus memiliki kekuatan kalau suatu saat tubuh kita menjadi hancur karena tertimpa bangunan.

Pernikahan ditujukan untuk sakinah mawadah warohmah, yaitu rumah tangga yang tenang dan penuh kasih sayang.
Jika kalimat kasar dari pasangan membuat kita memendam bara sakit hati, itu artinya kasih sayang dalam rumah tangga kita sudah diracuni oleh perasaan seperti itu.
Tentu saja perlu ada komunikasi yang intensif dengan pasangan untuk membahas hal ini. Selain itu, tentu juga harus ada kemauan keras melanjutkan rumah tangga dengan meminimalisir sakit hati.
Kita benahi pasangan yang rajin mengucapkan kalimat kasar dan sikapi dengan selalu mengucapkan kalimat positif dan lemah lembut. Sekali dua kali mungkin tidak akan terpengaruh. Tapi setahun, dua tahun bahkan tiga tahun jika pesan itu diungkapkan berulang dengan contoh kelembutan dan santun pasti pasangan akan mengerti dan mengurangi hal itu.
Sedang sakit hati juga harus kita tekan dan bahkan hilangkan demi kelanggengan rumah tangga kita.

kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu mengingatnya. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tegak barang sedikitpun. (Ibrahim: 24-26)

Published by nurhaya3

Nurhayati Pujiastuti, owner Sanggar Mama Bilqis, Founder Penulis Tangguh, Kelas Merah Jambu dan Kelas Biru. Trainer Menulis.