Memelihara Semangat Pada Anak

Atong_Balqos

Semangat bukan jamur yang bisa tumbuh subur di musim hujan. Kadar semangat pada orang dewasa bisa naik turun. Kadar semangat pada anak-anak juga seperti itu. Bisa naik dan bisa turun.
Jika orang dewasa sudah memiliki sensor sendiri agar semangat terus tumbuh, anak-anak tentu tidak seperti itu.
Anak-anak belajar banyak dari segala hal di lingkungannya. Semangat mereka bisa tumbuh karena banyak hal, sama seperti semangat mereka turun.
Beberapa hal ini yang bisa membuat semangat pada anak bisa turun :

1. Orangtua
Anak-anak naik semangatnya karena orangtua. Tapi anak-anak bisa turun juga semangatnya karena orangtua. Karena itulah maka pakar pendidikan di mana pun, selalu meminta orangtua untuk menjadi teladan pertama pada anak-anak mereka.
Teladan dalam bentuk sikap yang bisa diteladani oleh anak-anak.
Orangtua harus memberi contoh itu dalam perbuatan nyata. Untuk hal yang paling mudah adalah ketika cuaca tidak bersahabat.
Ketika musim hujan, orangtua tetap melakukan aktivitas penuh semangat seperti biasanya dan tidak memilih tidur, maka anak-anak akan melihat hal itu sebagai contoh yang bisa mereka teladani.

2. Lingkaran teman-teman
Teman selalu membawa pengaruh besar pada anak-anak, terutama anak yang semakin besar. Ketika kontrol orangtua mulai mengendur maka di sinilah peran teman mulai berperan.
Teman yang suka mengeluh akan membuat anak tertular mengeluh. Teman yang tidak bersemangat akan membuat anak-anak juga ikut tidak bersemangat.
Dalam kondisi seperti ini orangtua tetap harus memegang kontrol utama. Orangtua yang paham kondisi anak akan menjaga agar semangat anak hanya kendur, bukan menghilang.

3. Manfaat
Anak akan tumbuh semangatnya jika mereka paham manfaatnya. Jika mereka tidak paham, maka mereka tidak bisa mengambil keputusan memilih untuk semangat atau justru kendur semangatnya.
Orangtua yang bisa menyadarkan hal ini dengan bukan hanya rajin memantau tapi juga rajin mencatat.
Misalnya membuat foto-foto ketika anak-anak belajar, berlatih karate atau sepak bola. Tunjukkan foto-foto itu ketika mereka akhirnya berhasil meraih kemenangan. Dengan begitu anak-anak sadar bahwa sikap terus bersemangat sangat bermanfaat untuk mereka.

4. Belum Bisa Fokus
Kita bisa terus bersemangat ketika sudah bisa fokus dengan tujuan. Anak-anak perlu diajarkan tentang hal itu. Mengajarkan fokus pada apa yang ingin mereka capai. Ajarkan mereka membuat catatan target yang ingin mereka raih. Misalnya menabung untuk pergi ke suatu tempat. Bantu mereka untuk mencapai targetnya. Ketika mereka sudah melihat hasil dari fokus itu, pasti mereka akan bisa belajar untuk semangat melakukan hal yang lain lagi.

5. Mereka Tetap Anak-anak
Jika semangat kita suka naik turun, kenapa anak-anak tidak boleh? Biarkan mereka berproses dan menjalani semuanya dengan riang gembira. Biarkan mereka bermain dan dalam bermain itu mereka bisa memutuskan, apakah akan bermain terus menerus atau mengisi bermain itu dengan kegiatan yang bermanfaat.
Kita harus tetap di samping mereka untuk mengingatkan dan menjadi teladan untuk mereka.

Published by nurhaya3

Nurhayati Pujiastuti, owner Sanggar Mama Bilqis, Founder Penulis Tangguh, Kelas Merah Jambu dan Kelas Biru. Trainer Menulis.