Biarkan Anak Belajar dari Nilai Ulangan yang Buruk

ulangan

Saya tidak menyimpan berkas ulangan saya yang nilainya jelek. Karena dulu tidak pernah terpikir manfaatnya.
Tapi setelah memiliki anak, saya baru merasakan manfaatnya menyimpan berkas ulangan bernilai buruk itu.
Untuk apa?
Untuk mengingatkan saya bahwa saya kalau agak tegang melihat nilai anak-anak.
Dengan begitu saya menjadi lebih kendor dan menyadari bahwa proses masihlah panjang jalannya.
Tapi untuk dua anak di rumah. Saya menyimpan nilai-nilai ulangan mereka. Dari yang jelek sampai yang bagus.Dari yang nilainya satu sampai yang nilainya sepuluh.

“Buat apa?” tanya anak-anak.
“Buat mengingatkan, kalau suatu hari kamu marah sama anak kamu karena nilainya jelek, kamu jadi cepat sadar.”
Semalam Bungsu resah. Nilai ulangan hariannya di bawah UKK.
Terlebih untuk Bahasa Indonesia.
Si Sulung langsung bicara,” Masa udah menghasilkan buku, ulangan Bahasa Indonesia-nya jelek.”
Nampaknya Bungsu tertekan.
Maka saya dan suami mengajaknya berkeliling cari susu segar kesukaannya. Biarkan dia memilih.

Setelah tenang di rumah saya bicara.
“Ulangan jelek akan ada remedial. Tidak masalah. Di kelas kamu 25 anak berjuang mencari nilai tertinggi. Kamu fokus cari celah yang lain dengan terus menulis.”
Dia diam.
“Nilai jelek bukan hasil akhir. Ini proses biar kamu merasa gagal.”
Sulung ikut mendengarkan.
Lalu bicara. “Lagian, yang bikin google aja gak lulus sekolah bisa punya google,” ujar Sulung.
Maklum Sulung agak santai. Memang saya sudah bilang sama gurunya kalau anak saya tidak bisa menguasai semuanya. Yang penting hapalan Al Qurannya harus jadi nomor satu.
Dan Sulung memang memenuhi itu.
Dan ternyata ketika saya tekankan untuk lebih menguasai hapalan, maka nilai-nilai beranjak naik dengan sendirinya.
“Ibu tahu, apakah kamu malas berusaha atau memang tidak bisa,” itu yang selalu saya bilang sama dia.

“Trus menurut Ibu kelebihan aku apa?” tanya Bungsu setelah menyeruput susu segar.
“Kamu baik. Itu kelebihan yang tidak dipunyai setiap anak.”
“Menurut Ibu begitu?”
Saya mengangguk.
Tanggal 17 kemarin, teman-teman SD datang ke rumah. Begitu dia buka pintu pagar, teman-temannya langsung berteriak dan memeluknya. “Aku kangen,” ujar teman-temannya bergantian memeluk.
“Tetap jadi baik dan terus berjuang.”
“Terus, Ibu pernah dapat nilai jelek?.”
Maka saya ceritakan panjang lebar perjalanan saya dengan nilai jelek juga nilai bagus. Dari yang takut pulang karena nilai jelek, bukan karena takut dimarahi tapi karena takut mengecewakan Bapak. Sampai yang biasa-biasa saja dapat nilai tertinggi.
“Ada Allah yang bisa merubah semuanya.”

Lalu sebelum tidur Bungsu bicara. “Ibu, bangunin aku tahajud nanti, ya.”
Saya mengangguk.
Dia terbangun untuk tahajud.
Lalu tidak seperti biasanya, sebelum berangkat sekolah, dia mengambil wudlu.
Kalau sudah begini, bukankah kegagalan akan jadi indah?
Mungkin perlu saya punya sudut untuk membingkai nilai-nilai ulangan yang jelek dan yang bagus, biar mereka paham. Hidup ini bisa naik bisa turun. Bisa di atas bisa di bawah.
Nikmati saja sambil bersyukur. Itu kata kuncinya.

Published by nurhaya3

Nurhayati Pujiastuti, owner Sanggar Mama Bilqis, Founder Penulis Tangguh, Kelas Merah Jambu dan Kelas Biru. Trainer Menulis.