Alhamdulillah. Anak Kita Bukan Anak yang Sempurna dan Hebat

kami

Sempurna adalah hasil akhir.
Tidak ada yang sempurna. Semuanya berjalan menuju proses.
Kalimat itu selalu saya tanamkan di kepala setiap kali pulang dari sekolah anak-anak. Dulu ketika SD di sekolah negeri kabupaten yang sering dibilang sekolah kampung, saya menguatkan tekad untuk mendidik anak sesuai kemampuan saya. Agar mereka jadi berbeda. Berprestasi dan tidak terpengaruh lingkungannya.
Maklum, banyak ibu-ibu di sekolah itu punya prinsip. Bahwa hidup itu mengalir saja seperti air. Kalau takdirnya jadi orang hebat, akan pasti jadi orang hebat. Jadi tidak usah macam-macam.

Sedang saya ada pada prinsip bahwa takdir Allah itu mencakup kapan kita lahir, kapan kita mati, dan jenis kelamin kita. Soal rezeki, jodoh, kesuksesan kita, itu adalah bentuk takdir ikhtiar yang harus diperjuangkan dan tidak datang begitu saja dari langit seperti curahan hujan.

Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (At-Taubah: 105)

Sekarang, anak-anak ada di sebuah SMP pilihan. Iya pilihan. Berisi anak-anak yang lulus tes. SMP yang jadi incaran para orangtua, karena hanya buka satu gelombang saja. Dan sekolah itu sudah dikenal menghasilkan anak-anak yang akhlaknya terjaga, pergaulan lelaki dan perempuan terjaga, karena guru ikut memantau dan terhubung terus dengan orangtua.
Di sana juga saya menyadari bahwa format saya dalam mendidik anak harus diluruskan. Iya diluruskan sesuai jalur yang saya pikirkan matang-matang sejak dulu untuk mereka.

Karena apa?
Karena di sekolah itu, semua orangtua berlomba-lomba menjadikan anaknya hebat. Pelajaran bertumpuk dengan target hapalan dan juga penguasaan Bahasa Arab dan Bahasa Inggris. Pulang sekolah anak sudah letih. Dan setiap kali pulang dari seminar di sekolah, atau rapat sekolah, saya harus berputar berkeliling untuk sekedar melihat sapi-sapi di peternakan sapi. Atau sekedar sekedar menikmati jalan berbelok dan tanah yang ditanami kangkung berhimpitan dengan ilalang yang cukup tinggi.

Apa yang terjadi?
Saya pusing dan takut menjadikan anak-anak robot. Sebab saya menyekolahkan anak di sana, karena ingin anak terjaga hapalan Al Qurannya dan mereka bertemu dengan anak lain yang melakukan hal yang sama. Itu artinya mereka akan berlomba untuk mengisi waktu dengan hal yang penting dan terjaga dari pergaulan yang tidak baik.
Saya tidak mau jadi ikut dalam lingkaran menjadikan anak harus sempurna.
Mereka tidak menguasai matematika tidak apa-apa. Asal mereka kreatif.
Mereka tidak menguasai IPA juga tidak masalah, asal mereka terjaga shalatnya.
Mereka tidak menjadi anak yang aktif dan dikenal guru juga tidak masalah, sepanjang Allah mengenal mereka dan menyayangi mereka. Sebab kalau Allah sudah sayang, semuanya akan jadi mudah untuk mereka.

Tidak Perlu Sempurna

Sempurna itu proses. Prosesnya panjang. Sepanjang perjalanan hidup kita, kita harus berproses. Sampai akhirnya Allah bilang, berakhir hidupmu. Di sanalah kita akan mempertanggungjawabkan hasil akhir itu.

Saya berproses dalam hidup juga.
Ketika SD dan SMP memang berprestasi selalu jadi juara. Tapi ketika SMA dan masuk lingkungan yang semua teman adalah orang-orang hebat, saya seperti tidak menemukan format diri saya. Saya merasa terbentur sana sini dan berujung pada kenyataan nilai tidak setinggi dulu.
Tempat yang tidak nyaman, lingkungan yang menekan membuat saya tidak bisa bebas dengan gaya belajar saya. Sehingga saya merasa tidak punya potensi seperti yang lain.
Syukurlah saya berproses ketika kuliah. Saya tahu tempat mana yang harus saya tuju.
Saya nyaman berada di tengah orang-orang yang justru tidak punya cita-cita, sehingga saya berjuang untuk meraih cita-cita lebih tinggi lagi dan punya motivasi untuk maju. Sedang berada di tempat yang semuanya hebat, membuat saya justru jadi ingin mengekor saja.

“Tidak ada yang sempurna. Tapi semua harus berjuang,” itu yang saya bisikkan pada anak-anak setiap hari mereka pulang sekolah.
Ada makanan untuk mereka. Memang saya biarkan mereka makan sepuasnya, karena mereka harus nyaman di rumah, setelah di sekolah dibebani dengan banyak pelajaran.
“Ibu juga berjuang. Lihat, Ibu belajar lagi,” ujar saya menunjuk tumpukan buku di meja kerja saya. Saya ingin mereka tahu, bahwa di luar sekolah formal pun, semuanya bernama sekolah. Tempat untuk belajar itu sekolah namanya. Mau di bawah pohon atau di mana saja.
“Santai saja. Kalau kamu tidak bisa, banyak teman lain yang tidak bisa. Justru kalau kamu tidak bisa, gurunya harus tahu. Jadi dia tahu ada muridnya yang belum bisa.”

Saya ingin mereka berproses.
Saya tidak mau seperti tukang sulap. Simsalabim jadi orang hebat. Tidak. Karena itu artinya saya tidak diberi kenikmatan berdoa sebagai orangtua, dan kenikmatan untuk menjalankan fungsi mengajari anak-anak melangkah setahap demi setahap.

“Juara berapa?” tanya seseorang.
“Bisa apa?”
“Kok pendiam, ya?”
“Kok matematikanya tidak sempurna ya nilainya?”
“Kooook.”

Ops tarik napas panjang.
Mereka selalu masuk sepuluh besar. Nilai hapalan Qurannya bahkan 99. Akhlak tercatat baik. Lalu saya mau apa lagi?
Lalu apa yang saya harapkan lagi? Mereka fokus pada nilai dan tidak punya waktu bermain dan bersenang-senang sebagai remaja? Jelas saya tidak inginkan seperti itu.

Saya pulang.
Setelah rapat orangtua.
Setelah beberapa orangtua berlomba untuk menonjolkan diri.
Setelah rapat belum benar-benar tuntas, karena saya takut malah berlomba untuk merasa paling hebat.
Saya pulang.
Melewati jalan berliku. Melewati peternakan sapi. Tarik napas panjang-panjang lagi.
Alhamdulillah anak-anak saya tidak sempurna. Mereka sering bikin kesal, sering bikin senang juga. Mereka kerap membantah, kerap juga menuruti nasehat saya. Mereka pernah bicara keras, tapi justru saya berjuang untuk memberi teladan bicara lembut.
Mereka tidak berani tampil di permukaan meski banyak prestasi di luar sekolah, justru itu yang membuat saya sadar untuk tidak pamer prestasi pada orang yang tidak paham dunia saya.
Alhamdulillah semua kebaikan dan keburukan mereka justru itu membuat saya punya ruang untuk bicara panjang pada mereka. Membuat saya harus tarik napas dan tarik bibir untuk tersenyum, mengajak mereka pelan tapi pasti untuk mengukir masa depannya.

Mereka tidak sempurna sekarang.
Tapi Insya Allah apa yang mereka lakukan, Allah mencatatnya.
Alhamdulillah justru karena mereka tidak sempurna, saya jadi khusyuk berdoa untuk kebaikan mereka ke depannya.

Published by nurhaya3

Nurhayati Pujiastuti, owner Sanggar Mama Bilqis, Founder Penulis Tangguh, Kelas Merah Jambu dan Kelas Biru. Trainer Menulis.