Memindahkan Gosip ke Jempol

Ada banyak ilmu yang saya dapat dari sosial media. Tapi sedihnya ternyata ada juga banyak gosip yang saya dapat dari sosial media. Gosip dari orang yang saya kenal, sampai orang yang bahkan tidak saya kenal. Gosip orang terkenal dari kalangan artis, sampai gosip orang yang tidak saya kenal sama sekali.

Gosip, menceritakan keburukan orang lain. Tersirat maupun tersurat sering sekali dilakukan para pembuat status di sosial media. Saya tipikal orang yang penasaran. Saya tipikal penulis yang sering membaca status untuk membuat penat setelah menulis berlembar-lembar.
Ada banyak status yang membuat saya merenung, berpikir dan juga akhirnya browsing untuk mencari tahu. Tahu tentang sosok yang ditulis di sana. Dan akhirnya berujung pada satu rasa bukan sekedar ingin tahu, tapi tumbuh rasa ingin menghujat juga.

Ada banyak status yang baik, status yang buruk atau status abu-abu.
Ada status yang memang jelas-jelas memberitakan sesuatu. Tapi ada juga stasus yang memang menggiring pembacanya untuk tahu sesuatu yang memang semestinya tidak perlu untuk diberitahu.
Seperti halnya kasus video porno. Maunya memberitahu ada seseorang yang membuat video porno. Tapi ujungnya link-link itu malah menggiring oleh untuk mencari tahu lebih dalam lagi. Dan kalau video porno seperti itu, apa yang bisa didapatkan seseorang selain hanya kesia-siaan waktu.

“Ssst…, si itu, tuuuuh.” Biasanya begitu kalau ada tetangga yang mau mengajak bicara tentang orang lain.
Saya kadang terhanyut juga. Meski tidak ikut bicara tapi akhirnya ikut mendengarkan. Menyesal setelah sadar, kalau saya sudah buang waktu saya untuk sebuah kesia-siaan.

Di sosial media seperti apa?
Dibuat status berputar-putar dulu. “Cantik, sih. Tapi kelakukannya seperti itu. Namanya…,” lalu disebutlah inisial yang mau ditulis itu. Ditambahi dengan,” Coba deh browsing.”
Ujungnya orang-orang berkomentar siapa nama lengkapnya paling tidak ciri-cirinya.
Lalu setelah itu kelihatan mereka mencarinya dan ujungnya bergunjinglah di sosial media. Membicarakan orang yang tidak mereka kenal sama sekali.

Sosial media kita memang milik kita. Tapi mengutip dari seseorang, yang saya amini karena saya setuju. Timeline kita bukan milik kita. Karena status yang kita tulis di timeline itu sama seperti kita sedang bicara menggunakan echo alias pengeras suara. Jadi kita berlomba-lomba dengan penulis status lainnya untuk siapa yang paling keras bersuara. Miriplah seperti di pasar yang riuh dan masing-masing berlomba menggunakan echo.
Status yang ingin kita tulis di timeline, kita tujukan untuk menyebarkan sesuatu. Kebahagiaan, kesedihan bahkan kesebalan. Tapi status beda dengan buku harian. Satu dua orang pasti akan ikut membacanya. Satu dua orang akan ada yang suka atau tidak suka. Satu dua akan ada yang ikut menyebarkannya.

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-car kesalahan orang lain” [Al-Hujurat : 12]

Jempol kita sudah mulai berfungsi sebagai pengganti mulut.
Sungguh alangkah sia-sia jika kita menjaga mulut, tapi ternyata tidak bisa menjaga jempol.
Kenapa kita tidak menulis yang baik-baik saja, agar orang lain juga ikut menjadi baik?

Published by nurhaya3

Nurhayati Pujiastuti, owner Sanggar Mama Bilqis, Founder Penulis Tangguh, Kelas Merah Jambu dan Kelas Biru. Trainer Menulis.