Mudik Bukan Sekedar Pulang Kampung

DSCF3625

“Sudah dapat tiketnya, Bu?” tanya anak-anak pada saya.
Antri tiket memang jadi kebiasaan saya dari tahun ke tahun. Untuk pulang mudik, itu prioritas yang paling utama setiap tahun. Maklum saya keluarga besar, dan momen lebaran adalah momen untuk menyatukan semuanya.
Tiket yang kami cari adalah tiket kereta api, bukan yang lain. Sebab saya, pasangan dan anak-anak adalah penikmat kereta api. Kami bisa menikmati perjalanan sambil menikmati pemandangan sawah atau sungai di sepanjang perjalanan.
“Sudah dapat, Bu? Nanti kalau kita kehabisan gimana?”
Memang ada budget yang harus dipersiapkan untuk pulang kampung. Setelah biaya daftar ulang Sulung, biaya masuk SMPIT Bungsu beres, maka itu artinya kami siap mengucurkan dana untuk membeli tiket kereta pulang pergi.
Tiket kereta pulang pergi sudah di tangan sebelum Ramadan dimulai. Itu artinya kami siap menjalani Ramadan tanpa ribet urusan tiket.

Tiket sudah di tangan.
Separuh Ramadan sudah kami lewati. Lalu saatnya pulang pun tiba.
Tas sudah dipersiapkan. Masing-masing harus membawa barang bawaannya sendiri. Masing-masing harus bertanggung jawab dengan barang bawannya. Anak-anak sudah abege, sudah harus bisa mengatur diri sendiri plus bertanggung jawab dengan barang bawaan mereka.

Di stasiun Gambir padat penumpang.
Musala penuh. Suami dan Sulung malah bisa ke masjid untuk ikut taraweh. Saya dan Bungsu salat di musala dan nongkrong di warung bakso yang harganya lumayan, satu porsi bakso di mangkuk kecil seharga RP33.000. Kami berempat, dengan dua anak abege yang minta tambah makanan dan minuman.
Belum lagi makanan yang harus dibawa untuk bekal di kereta, takut-takut makanan di restoran kereta habis dan kami jadi tidak punya makanan untuk sahur.
Begitulah memang irama mudik. Buat saya pribadi rezeki itu artinya sesuatu yang bisa kita nikmati. Jadi rezeki kami ada pada kebahagiaan anak-anak, masih ada tabungan hingga bisa membeli tiket mudik, masih bisa menikmati perjalanan dan prosesnya.

Iya prosesnya. Dari mulai proses PT KAI yang sekarang menerapkan sistem check in dan boarding pass. Peraturan baru yang membuat penumpang kereta tidak bisa datang terlambat seperti sebelumnya. Sepuluh menit sebelum kereta berangkat tidak boarding pass maka tiket dianggap hangus.
Kereta yang seharusnya berangkat jam 21.15 mundur jadi jam 23.00.

Ini Lebaran Kami

DSCF3639

Ada Ibu yang kami tuju setiap pulang kampung. Iya cuma Ibu semenjak Bapak meninggal tahun kemarin. Ada tarikan untuk terus mendatangi makam Bapak. Seolah ingin mengatakan kami sudah ada di Solo, untuk menemani Ibu, menjaga Ibu, sesuai janji kami pada Bapak.
Ada atmosfir yang berbeda. Iya, kami kembali menjadi anak. Anak dari seorang Ibu, yang butuh kena omelan juga butuh diberi hadiah berupa makanan yang dimasak Ibu. Meski kami juga harus sadar untuk membuat Ibu merasa bahagia dengan mengajaknya jalan-jalan ke berbagai tempat yang selama ini tidak bisa Ibu nikmati.
Ibu bahagia.
Paling tidak melihat perjuangannya sebagai istri seorang PNS membuat anak-anak tumbuh kembang, punya profesi berbeda dan mampu hidup tidak kekurangan alias tidak berada di dalam lingkaran kemiskinan.

Ada rendang yang Ibu buat yang membuat anak cucu menantu ketagihan.
Rendangnya biasa, daging sapi biasa. Dimasak dengan bumbu biasa plus cinta kasih Ibu tentu saja.
Tapi ada bumbu tambahan yang Ibu buat. Ibu akan menyangrai kelapa sampai kecoklatan. Lalu kelapa yang sudah disangrai itu harus diulek sampai ke luar minyaknya dan berubah warna menjadi hitam. Setelah itu dicampur dengan daging dan bumbu rendang yang sudah dimasak.

Inilah kami.
Tujuh anak dengan tujuh pasangan dan masing-masing membawa dua anak. Pulang untuk Ibu. Kami pulang membawa kesadaran bahwa kami punya tempat pulang lain lagi nanti, yang harus kami persiapkan sejak sekarang.
Kami harus sama-sama menguatkan keyakinan bahwa hal terindah untuk kami semua adalah, ketika kami bisa sama-sama bertemu kembali di tempat yang sudah Allah janjikan kelak setelah kematian.

Lebaran

Published by nurhaya3

Nurhayati Pujiastuti, owner Sanggar Mama Bilqis, Founder Penulis Tangguh, Kelas Merah Jambu dan Kelas Biru. Trainer Menulis.