Tips Mengatur Keuangan ala Freelancer

Freelancer? Tidak ada yang salah dengan pekerjaan itu. Seorang pekerja lepas yang mengerjakan pekerjaan dari kliennya dan tidak terikat pada kantor tentunya menyenangkan untuk seorang yang masih sendiri alias single. Tapi untuk suami istri? Yang sudah punya anak? Yang klien kadang sudah deal pun bisa membatalkan pekerjaan begitu saja.

Saya dan suami bekerja sebagai freelancer. Suami design graphis dan ilustrator, sedang saya penulis. Klop, kan? Sama-sama bekerja di bidang seni. Sama-sama menyenangkan. Di dalam rumah kami bisa bekerja dan melihat juga diskusi soal perkembangan anak-anak yang sudah mulai remaja. Soal tetangga? Sekarang tetangga mulai paham bahwa di rumah bekerja itu biasa alias bukan hal yang aneh lagi.

Enak dilihat tapi belum tentu semua bisa melakoni. Freelancer itu pekerja lepas. Tidak punya gaji seperti halnya karyawan. Tidak terikat jam kantor. Bisa bebas tentu saja. Dan kebebasan itu kalau mau menghasilkan tetap harus diikat dengan peraturan. Kalau saya dan suami meski sama-sama bekerja di rumah, punya ruang kerja masing-masing. Jam kerja kami juga sama, pakai jam kantor. Ada pekerjaan langsung kami kerjakan. Tidak ada kerjaan? Cari banyak peluang kerja dari mulai ikut lomba menulis ini itu, sampai ikutan lomba design logo. Apa saja yang penting kolaborasi kami adalah kolaborasi yang berjalan untuk mencari rezeki halal.

Gimana Mengatur Keuangan?
Freelancer tidak terikat kantor tidak punya gaji tetap seperti halnya pegawai. Itu yang sering membuat kening saudara saya yang rata-rata pegawai berkerut.
Iya memang tidak punya gaji tetap, tapi bukan berarti tidak memiliki pemasukan. Sama seperti orang berdagang. Kalau mereka mau berusaha, pasti ada rezekinya. Begitu juga dengan freelancer.

Cara mengatur keuangan secara detil seperti apa?
Anak saya dua. Ketika SD, saya masukkan ke SD negeri. Alasannya sederhana, selain biaya murah, saya juga bisa total mengurus mereka. Artinya semua mata pelajaran di sekolah negeri yang tidak mereka dapatkan, saya ajarkan. Saya pinjam buku-buku dari sekolah swasta.
Hasilnya? Ketika mereka berkumpul dengan kerabatnya, mereka tidak minder karena kemampuan mereka sama. Saya juga berusaha belajar menguasai pelajaran sekolah mereka dari mulai kelas satu sampai kelas enam. Itu artinya mereka tidak perlu pergi ke tempat kursus, karena saya bisa mengajarkan.
Nah, uang untuk kursus itu saya simpan dalam tabungan mereka.

Sebagai freelancer, saya punya aturan ketat soal keuangan terutama uang pendidikan. Dua anak saya buatkan tabungan pendidikan tanpa ATM, yang harus saya isi setiap bulan dengan nominal tertentu.
Ketika menabung itu, saya punya target ke depan. Saya memang ingin memasukkan anak-anak ke sekolah swasta yang saya tuju. Dan untuk itu harus ada biaya yang tidak murah. Nah, biaya itu yang mulai saya tabung di tabungan sejak anak kelas dua SD.
Serumit apapun masalah keuangan kami, tabungan anak tidak boleh diambil alias haram hukumnya buat saya.
Alhamdulillah, kemarin ketika bungsu lolos sekolah swasta yang saya incar, uang hasil menabung itu bisa dipakai untuk membayar uang pangkal sekolah tersebut.

Keuangan feelancer akan lebih mudah jika semuanya mau saling paham dan saling bantu-membantu. Anak-anak saya ajarkan kreatif sejak dini dengan menggambar dan menulis. Hasil dari gambar dan menulis itu, saya masukkan ke tabungan mereka. Boleh bersenang-senang sedikit, jika mereka ingin membeli sesuatu,. Tapi sedikit saja tidak boleh berfoya-foya.

Masalah pendidikan dan tabungan masih saya pertahankan sampai sekarang.
Hanya tabungan anak sudah memakai ATM. ATM sebenarnya membuat segalanya jadi mudah, termasuk mudah menggesek. Tapi aturan ketat tetap saya jaga. Kalau uang itu dipinjam, berarti harus cepat diganti tanpa ditunda. Dan itu suatu kewajiban.

Masalah sakit, biaya berobat?
Ini juga harus disiasati dan diperjuangkan. Artinya, saya sebagai ibu harus berjuang menjaga kesehatan semua anggota keluarga. Sakit itu biasa, asal jangan sakit yang berat. Karena itu mencegah lebih baik daripada mengobati. Anak-anak membawa makanan dari rumah. Dan diusahakan saya memasak makanan sendiri. Kalaupun beli, itu dibatasi beberapa hari sekali. Jangan setiap hari.
Untuk saya dan suami, kami punya asuransi kesehatan dengan unit link sendiri. Alasannya kami semakin bertambah usia. Berjaga-jaga saja agar tidak merepotkan orang lain. Maklum tidak ada kantor yang menanggung biaya kesehatan kami.

Sebagai freelancer tentu saja saya tidak boleh cengeng. Tidak boleh melihat ke atas soal rezeki. Nikmati apa yang ada. Ada saatnya pekerjaan saya lagi sepi, tapi justru suami yang ramai. Atau sebaliknya. Dan kekuatan kami justru di situ, saling bahu-membahu sebagai sepasang suami istri.
Saling mengingatkan untuk selalu menyediakan pos untuk anak-anak yatim, agar berkah dan lancar rezeki kami.

Senin sampai Minggu kami tetap bekerja.
Jalan-jalan mau kapan saja.
Yang jelas anak-anak paham. Kalau orangtuanya di depan komputer, artinya kami sedang bekerja dan mereka tidak akan mengganggu.
Jalan-jalan tidak dibatasi cuma weekend saja. Kami bisa pergi justru pada hari kerja. Dan itu tentu hal yang menyenangkan.

Nikmati saja apa yang memang harus dinikmati.
Sebab nikmat bertambah jika kita bersyukur.

Published by nurhaya3

Nurhayati Pujiastuti, owner Sanggar Mama Bilqis, Founder Penulis Tangguh, Kelas Merah Jambu dan Kelas Biru. Trainer Menulis.