Menelusuri Peta Potensi Diri

peta indonesia

Kita dilahirkan sama. Sebagai manusia. Semua sudah memiliki takaran sendiri. Setiap individu, saya yakin pasti diberi kelebihan, juga diberi kekurangan. Allah itu adil. Tidak mungkin individu lahir sempurna tanpa cacat. Tidak mungkin juga individu diberi ketidaksempurnaan fisik tanpa memiliki kelebihan di dalamnya.
Terlalu banyak contoh yang bisa disebutkan. Contoh terakhir adalah Masyita dalam program hafidz Quran di salah satu stasiun televisi. Dengan kondisi mata buta, ia bisa menghapal Al Quran hanya dengan mendengar murotal yang diputarkan ibunya setiap hari.

“Aku harus apa?”
“Aku harus bagaimana?”
Hal-hal seperti itu rutin sering saya dengar dari beberapa mulut orang yang curhat pada saya.
Aku harus apa, aku harus bagaimana, masa depanku gelap dan lain sebagainya, seolah-olah membuat tidak ada pintu yang terbuka untuk mereka.
Padahal, bukan karena mereka tidak bisa, tapi karena pintu pemahaman masih tertutup rapat untuk mereka.

Didalam Kemampuan Membaca Diri Sendiri saya sudah menulis banyak.
Kali ini mengerucut lebih jauh lagi.

Kita tidak paham, bukan salah kita. Mungkin orangtua kita tidak paham mengarahkan kita, dan menyerahkan pada lingkungan. Mungkin takdir kita juga harus berteman dengan teman-teman yang merasa hidup terus mengalir saja seperti air, tanpa berpikir harus melakukan perubahan.
Kita tidak paham, maka harus berjuang untuk paham. Paling tidak memahami diri kita sendiri dulu.

Memahami Hobi
Hobi jangan dianggap sepele. Dari hobi kita bisa mendapat rezeki. Hobi saya menulis dan membaca. Dan dari hobi itu saya punya ribuan tulisan dan puluhan buku, yang hasilnya bisa mengantarkan saya kuliah tanpa meminta dari orangtua.
Tetangga dekat rumah punya hobi membuat kue. Belum lama dia resign dari pekerjaaanya di sebuah kantor. Jabatannya lumayan. Kemarin saya dan ibu-ibu yang lain belajar membuat kue kering darinya. Kue-kuenya enak dan kualiasnya oke.
Hobi pada akhirnya jangan hanya dianggap sekedar hobi. Hobi itu membahagiakan ketika dikerjakan. Ketika diseriusi bisa menghasilkan.
Maka coba cari tahu hobi kita itu ada di mana? Sehingga dari situ kita bisa melebarkan peta potensi kita.

Menggali Kemampuan

Belajar dari kehidupan bersama para tetangga yang mayoritas ibu rumah tangga, ternyata banyak dari mereka yang mereka yakin mereka tidak mampu untuk melakukan satu hal. Dan yang lebih buruk lagi, mereka meyakini bahwa kapasitas otak mereka terbatas.
Merasa tidak mampu bukan berarti tidak mampu. Perasaan tidak mampu para ibu rumah tangga itu biasanya hadir karena mereka sudah merasa cukup di satu titik. Titik sebagai ibu rumah tangga saja. Mengurus anak dan mengurus suami. Setelah itu nikmati hidup. Menikmati hidup bukan dengan belajar.
Jika kita ingin tahu peta potensi diri kita, jika merasa tidak memiliki hobi yang bisa dijadikan sesuatu untuk melejitkan potensi kita, maka coba cari kemampuan kita.
Misal, kemampuan kita mengurus rumah dengan rapi bahkan lebih rapi bila dibandingkan dengan orang lain. Nah kemampuan seperti ini bisa ditingkatkan. Siapa tahu kita bisa membuat usaha bersih-bersih rumah secara online. Dan tentunya kita mendapatkan penghasilan dari sana.

Kejar Orang yang Bisa Melihat Potensi

Merasa tidak punya hobi dan tidak punya kemampuan? Mudah kok. Orang lain biasanya mudah melihat potensi diri kita, ketimbang kita sendiri. Karena itu carilah orang yang bisa melihat potensi kita. Biasanya orang itu ada di lingkungan kita. Mungkin ia teman ngobrol kita. Atau mungkin guru mengaji kita.
Dari orang tersebut kita bisa jadi paham bahwa kita memiliki kemampuan yang tidak kita sadari. Dan itulah pontesi kita yang harus kita asah lagi.

Kejar Orang yang Bisa Mengarahkan dan Mengingatkan
Jika sudah menemukan orang yang bisa melihat kemampuan kita, yang perlu kita tingkatkan lagi adalah mencari teman yang bisa mengarahkan bukan yang menjerumuskan.
Semakin dewasa, kita akan semakin paham seperti apa teman yang bisa mengarahkan.
Ketika setelah bertemu dan bicara dengannya, kita merasa semua pintu kesempatan terbuka lebar untuk kita, itu artinya kita sudah menemukan orang yang kita cari.
Kunjungi orang seperti itu, tapi jangan terlalu sering, sehingga membuat ia justru bosan dengan kita. Masukkan semua nasehatnya dan mulailah berjalan mengikuti pentunjuk dari orang tersebut.

Minimalisir yang Tidak Bisa

Ada yang kita bisa karena kita memang berjuang untuk melakukannya. Ada yang tidak bisa kita lakukan karena memang kita tidak berjuang untuk itu.
Maka coba buatlah coretan untuk kita sendiri. Tulis apa kelebihan juga kekurangan kita. Lalu pahami apakah kekurangan itu bisa benar-benar kita hilangkan?
Apakah kekurangan itu bisa kita jadikan kelebihan dan kita berjuang itu itu?
Misalnya, saya tidak bisa memasak. Tidak betah berlama-lama di dapur. Tapi saya berjuang untuk itu. Akhirnya suatu kesempatan saya menang lomba memasak kue yang diadakan media cetak ternama.

Lampaui Dirimu

Lampaui dirimu. Banyak hal yang bisa kita lakukan asal kita berani berjuang untuk itu.
Jika peta potensi kita sudah kita lampuai, maka yang bisa kita lakukan selanjutnya adalah berjuang untuk melakukan banyak hal, termasuk melampaui batas rasa tidak mampu yang ada di benak kita.
Banyak keajaiban yang akan terjadi setelah kita menemukan peta potensi kita.
Tapi yang paling penting jangan pernah berhenti berjuang untuk itu.

Published by nurhaya3

Nurhayati Pujiastuti, owner Sanggar Mama Bilqis, Founder Penulis Tangguh, Kelas Merah Jambu dan Kelas Biru. Trainer Menulis.