Bersahabat Karena Facebook? Bisa!

Aku dan PT copy

Teman baik biasanya kita dapatkan dari dunia nyata. Teman baik, teman yang biasa berinteraksi dengan kita, yang tahu jeleknya kita, yang tahu kapan tingkat emosi kita stabil atau labil, biasanya datangnya dari dunia nyata, bukan dunia maya.

Yang dekat bisa jauh dan yang jauh bisa dekat, itu slogan yang umum kita dengar. Imbas buruk dari sosial media. Iya, buruk. Jika kita hanya bisa mengambil sisi buruknya saja. Misalnya di kereta commuter. Baru saja terjadi. Seorang anak muda duduk santai di kursi untuk para manula tanpa rasa bersalah. Padahal di depannya berdiri seorang kakek dan saya (bolehlah kadang-kadang merasa tua). Ketika ada suara pemberitahuan dari loudspeaker tentang fungsi kursi itu, ia hanya terdiam lalu kembali main HP.

Yang jauh bisa dekat dan mendekatkan. Itu fungsinya untuk saya. Tentu saja harus saya tambahi dengan pernyataan bahwa yang jauh bisa dekat setelah yang dekat memang benar-benar menjadi dekat.

Jujur, saya tidak mau kalau punya ribuan teman di dunia maya, tapi tetangga kiri kanan tidak saya kenal. Atau cuma lempar senyum. Itu namanya hidup saya hampa. Padahal tetangga kiri kanan itu yang harus dihargai. Ia adalah sebenarnya saudara. Ketika kita kesusahan mereka yang menolong kita lebih dahulu.

Jujur, ketika orang mengenal saya sebagai penulis, saya tidak mau tetangga saya tidak kenal profesi saya. Justru saya harus berjuang untuk memperkenalkan pada mereka, lewat buku-buku bacaan yang saya pinjamkan pada mereka, sehingga mereka lebih paham profesi itu.

Terus gimana ceritanya bisa bersahabat karena sosial media?
Di FB saya membuat group penulisan. Anggotanya terbatas. Nah dari ajang itu dengan anggota terbatas, kita terus berkarya dan berdiskusi. Akhirnya jadi ajang curhat-curhatan. Akhirnya kita terikat sebagai keluarga. Dan ikatan itu membuat kita jadi ingin melakukan tatap muka alias kopi darat.
Satu terluka, yang lain juga ikutan terluka. Karena itu saya sering takjub sendiri dengan kuatnya ikatan yang terjalin.

Sama seperti di dunia nyata. Kalau saya sih fokus untuk mengedepankan memberi. Karena saya yakin setiap orang pasti senang diberi.
Maka untuk berilah apa yang kita punya. Pengalaman kita, ilmu kita dan lain sebagainya. Juga waktu kita tentu saja. Asaaal, untuk waktu, kita tetap harus bisa disiplin agar tidak ada yang terbuang sia-sia.

Lalu kalau bertemunya dengan orang jahat di sosial media?
Percayalah.
Jika niat kita baik, maka Allah akan membuat lingkaran baik untuk kita. Dan kita hanya terhubung dengan orang-orang baik saja.

Mau mencoba?

Published by nurhaya3

Nurhayati Pujiastuti, owner Sanggar Mama Bilqis, Founder Penulis Tangguh, Kelas Merah Jambu dan Kelas Biru. Trainer Menulis.

2 Comments

  • nurhaya3

    June 3, 2016 at 6:09 am

    Termasuk ketemu Lia 🙂

  • Maharani Aulia

    June 3, 2016 at 5:53 am

    setuju, mbak Nur. Di facebook, kita bisa ketemu orang2 baik 🙂