Menolong Bukan Dengan Menzalimi Orang Lain

Kita sering merasa bahwa kita sudah benar menolong orang lain. Tapi ternyata kita bukan menolong. Kita menjerumuskannya pada kebiasaan yang salah. Lalu kita menganggap kita sudah melakukan yang terbaik untuk orang itu.

Tadi pagi, saya kena semprot seorang Ibu, yang menyodorkan uang kepada orang di depan saya. Kami berdua sama-sama antre dari awal untuk membeli tiket communter. Begitu jarak antara loket dan kami semakin dekat, seorang Ibu mendekat. Di luar barisan tentu saja Ibu itu. Lalu menyodorkan uangnya. Katanya titip.
“Antre, Bu,” kata Ibu di depan saya.
“Iya, Bu, antre. Kita antre dari panjang tadi,” tambah saya.
Ibu itu marah. Lalu bilang. “Pelit. Enggak mau nolong orang.”
Mendengar kalimatnya, saya langsung bicara. “Ibu, itu bukan menolong orang namanya. Tapi menzalimi orang di belakang yang antre sudah lama.”
Ibu itu cemberut langsung ke belakang. Entah mengantri atau mencari orang lain lagi yang mau dititipi untuk membeli tiketnya.

Zalim dalam Bahasa Arab sendiri artinya meletakkan suatu perkara bukan pada tempatnya.

Ketika kita menolak peminta-minta yang badannya gagah, kita bukannya tidak ingin menolong. Tapi kita justru membuat dia terbiasa menadahkan tangan tanpa bekerja keras. Padahal peminta-minta di hari akhirat nanti akan disiksa dengan tidak ada sekerat dagingpun tersisa di wajahnya.
Kalau saya, sih, ketimbang saya memberi pada peminta-minta yang badannya segar dan pakai ancaman agar kita memberi, lebih baik saya alihkan pemberian itu untuk nenek atau kakek pemulung. Mereka ketahuan sudah tua tapi mau bekerja keras.
Tapi tentu saja, menolak peminta-minta juga harus tahu triknya. Jangan sampai memaki apalagi mencela.

Pada anak-anak juga saya ajarkan, agar jangan zalim pada teman. Mereka sering kasihan pada teman baiknya, lalu memberikan contekan. “Habiiis, temanku itu baik, Bu. Suka beliin jajan aku,” begitu kata anak saya.

Zalim sering tidak kita sadari. Kadang-kadang kita merasa bahwa itu adalah hak kita, tapi sebenarnya bukan. Justru itu adalah bentuk kezaliman kita pada orang lain.
Ketika di rumah kita punya banyak koleksi buku dan selalu membanggakan kepintaran keluarga kita karena buku-buku yang kita baca itu, zalim namanya jika masyarakt di sekeliling kita buta baca tulis. Allah menempatkan kita di tengah masyarakat seperti itu, agar kita terbuka mata hatinya dan mau menyumbangkan ilmu pada mereka.

Jika kita memiliki banyak uang, lalu merasa berhak meninggikan rumah kita tanpa melihat tetangga kiri kanan kita, zalim namanya. Karena Rasul melarang seseorang meninggikan rumah dan membuat tetangga tidak mendapatkan cahaya matahari karena terhalang tembok tinggi rumah kita.

Jika istri membantu suami menambah penghasilan, itu istri berbakti namanya. Karena rumah tangga itu artinya berat sama dipikul ringan sama dijinjing. Tapi kalau dengan kemampuan si istri, suami merasa tidak perlu lagi memberi nafkah pada istri, zalim namanya suami yang seperti itu.

Saya pun sedang belajar banyak.
Sedang menata hari lebih banyak lagi.
Takut saya, jika ternyata apa yang saya anggap baik dan benar, zalim di mata Allah dan RasulNYA.

Published by nurhaya3

Nurhayati Pujiastuti, owner Sanggar Mama Bilqis, Founder Penulis Tangguh, Kelas Merah Jambu dan Kelas Biru. Trainer Menulis.