Salah Satu Tugas Istri, Membesarkan Suami

karya ayah

Setelah menikah, kita akan memiliki pasangan dan anak. Anak itu adalah makhluk kecil ke luar dari rahim kita sebagai istri. Tapi ada anak dalam katagori lain. Ingat selentingan celotehan seseorang pada saya, dan dari buku yang saya baca.
“Suami adalah bayi dewasa.”

Anak butuh dilayani. Pasangan alias suami? Juga sama.
β€œDan segala sesuatu kami jadikan berpasang-pasangan, supaya kamu mengingat kebesaran Allah.”
(QS. Adz Dzariyaat (51) : 49)

Artinya apa? Artinya kita berpasangan. Bukan seperti botol dengan botol. Tapi botol dengan tutupnya. Bukan seperti anak kembar, tapi seperti sepasang sandal. Ada bagian kiri dan ada bagian kanan. Yang kiri memahami yang kanan, begitu juga sebaliknya.
Lebih dalam lagi artinya adalah setiap kekurangan kita harus saling ditutupi. Sebuah botol tanpa tutup, maka bisa keluarlah segala apa yang disimpan di dalamnya. Jika sandal kiri saja yang dipakai di kaki kita, maka kemungkinan besar kaki kanan kita akan mudah terluka.
Berpasangan itu artinya ada yang baik dan ada yang buruk. Sama-sama membawa sisi buruk dan sisi baik. Pernikahan harusnya membuat sisi buruk pasangan bisa kita benahi dengan menularkan sisi baik kita, begitu juga sebaliknya dengan kita.

Membesarkan Dengan Cara Apa?

Anak-anak bayi kita akan tumbuh besar. Semakin mereka besar, kita tetap merasa mereka tetaplah anak kita. Apalagi kondisi perasaan kita sebagai seorang Ibu yang hamil dan melahirkan.
Setiap anak tidak akan menjadi besar di mata orangtua. Mereka tetaplah anak-anak. Hanya kadang-kadang prosentasenya berbeda antara orangtua yang satu dengan yang lain. Orangtua yang sadar, akan membiarkan anak mereka menemukan jalah hidup sendiri, sedang yang belum sadar, akan terus mencampuri kehidupan anaknya bahkan hingga si anak menikah dan memiliki anak juga.

Nah…, hal ini yang akhirnya memicu ketidakmandirian pada anak ketika tumbuh besar dan menjadi kepala keluarga.
Ketidakmandirian ini bukan hal yang bisa dianggap sepele. Ketidakmandirian ketika sudah menikah dan di batas ketidakwajaran akan memberatkan orang yang berpasangan dengan kita.
Ketidakmandirian bisa jadi terjadi karena memang tidak pernah diajarkan untuk hidup mandiri atau karena memang keadaan memaksa untuk tidak mandiri.
Misal, masih berada di lingkungan keluarga besar sehingga setiap ada konflik kecil mudah terpantau meski sudah ditutupi.
Bisa jadi juga keluarga besar yang terlalu menyayangi dalam kadar yang tidak membangun sehingga setiap hari datang mengontrol dan membuat salah satu pasangan menjadi berada di bawah tekanan.

Tipe model seperti ini yang harus membuat seorang istri bergerak untuk tumbuh dalam rumah tangga bukan sekedar sebagai pasangan tapi juga sebagai “Ibu” untuk pasangan.

Jhon C Maxwell (Winning With People) mengatakan bahwa ada beberapa hal yang membuat kita dan orang lain berbeda :
1. Kita adalah Lensa Kita.
Kita sering melihat pasangan seolah-olah pasangan itu adalah diri kita. Jika kita tidak suka sesuatu, kita akan beranggapan bahwa pasangan juga tidak suka sesuatu. Atau sebaliknya.
2. Siapa Diri Kita Menentukan Apa yang Kita Lihat
Ketika kita selalu memandang segala sesuatu dengan kaca mata positif, lalu kita akan menganggap bahwa pasangan kita juga memiliki sudut pandang yang sama. Kita akan menjadi kecewa ketika akhirnya pasangan memiliki sudut pandang yang justru bertolak belakang dari kita.
3. Siapa Diri Kita Menentukan Bagaimana Kita Melihat Orang Lain
Ketika kita terbiasa tumbuh berkembang dengan caci maki bahkan untuk setiap kegiatan positif yang kita lakukan, maka kita pun akan tumbuh kembang dengan tidak disadari dalam melakukan hal itu pada pasangan bahkan anak keturunan kita kelak.
4. Siapa Diri Kita Menentukan Bagaimana Kita Memandang Kehidupan
Jika kita melihat segala sesuatu dengan kaca mata optimis, maka apapun yang terjadi dengan pasangan akan kita pandang dengan optimis.
5. Siapa Diri Kita Menentukan Apa Yang Kita Lakukan
Jika kita terbiasa dengan berbagi maka dimanapun kita berada kita akan sibuk untuk berbagi.

Jadi cara apa yang paling efektif agar suami bisa menjadi besar? Alias menjadi lebih mandiri dan jadi orangtua yang bukan anak-anak lagi?
1. Terus memberi. Dalam pernikahan yang selalu saya ingat adalah, jadi nomor satulah yang memberi. Tidak perlu minta langsung balasannya. Ketika kita sudah terbiasa memberi, maka lambat laun, pasangan akan melakukan hal yang sama, mengikuti apa yang kita lakukan.

2. Nikmati prosesnya. Bayi yang berubah menjadi anak, atau anak yang beranjak jadi abege, mungkin kita nikmati prosesnya. Tapi kalau membesarkan pasangan? Nah tancapkan saja niat dalam hati untuk belajar menikmati proses membina pasangan menjadi manusia dewasa yang sesungguhnya.

3. Tularkan Kedewasaan itu.
Jika kita berteriak maka anak-anak dalam pengasuhan kita akan mudah juga untuk berteriak, pasangan juga begitu. Maka tempatkanlah diri kita menjadi sosok teladan untuk semua orang rumah. Artinya kita harus fokus bahwa kita harus menjadi yang terbaik dulu. Dan orang rumah merasakan manfaat perubahan dari kedewasan kita. Kalau sudah begitu pasangan lambat laun pasti akan mengikutinya.

4. Kasih Kepercayaan
Memberi kepercayaan itu penting. Anak tidak akan pernah menjadi dewasa jika kita yang selalu memilihkan sesuatu untuk mereka. Mereka akan tumbuh dan percaya diri, jika kita biarkan belajar memilih dan mengambil keputusan.
“Bu, baju yang ini cocok untukku?”
“IYa cocok. Tapi itu menurut Ibu. Kalau menurut kamu sendiri gimana?”
Beri kepercayaan pada pasangan untuk memutuskan sesuatu yang penting untuk masa depan anak-anak. Tahan keinginan kita untuk mengambil keputusan itu. Biarkan pasangan mengambil keputusan, lalu ikuti keputusan itu.
Sekali dua kali mungkin keputusan itu tidak berujung sesuatu yang asyik untuk kita semua. Tapi kepercayaan dari kita akan membuat pasangan pasti belajar banyak.

5. Berdoa
Jangan anggap sepele sebuah doa. Doa bisa merubah segalanya. Hal-hal kecil sampai hal besar bisa kita lemparkan lewat doa. Termasuk doa untuk membuat pasangan menjadi lebih dewasa.

Well, pada akhirnya.
Jika pernikahan adalah simpul, maka interaksi dalam sebuah simpul sejatinya harus saling membuat nyaman satu dan yang lain. Tidak menekan, tidak menarik terlalu keras hingga pasangan tercekik atau bahkan tidak melonggarkan ikatan simpul sehingga tali bisa terlepas begitu saja.

Pasangan adalah amanah untuk kita. Itu yang harus selalu kita ingat.

Published by nurhaya3

Nurhayati Pujiastuti, owner Sanggar Mama Bilqis, Founder Penulis Tangguh, Kelas Merah Jambu dan Kelas Biru. Trainer Menulis.

2 Comments

  • nurhaya3

    May 30, 2016 at 2:00 am

    Kuncinya ada pada keyakinan bahwa memberi tidak akan rugi. Begitu Agustina. Jadi kalau kelak kamu punya pasangan, lima tahun pertama harus berjuang untuk memberi. Semoga cepat mendapatkan pasangan, yaaa.

  • Agustina Purwantini

    May 29, 2016 at 1:48 pm

    semoga bila kelak saya punya pasangan, saya bisa bersikap seperti itu πŸ™‚ Memberi dan selalu memberi tanpa pernah mempertanyakan kapan reward-nya…