Guru, Waktu dan Jarak yang Terlipat

DSC_5299

Pada suatu malam di Senin malam, saya menyaksikan acara Indonesia Emas dengan narasumber pendiri ESQ Ary Ginanjar. Sedang membahas pentingnya membaca buku. Pentingnya kebiasaan membaca agar para generasi muda bertambah pemikirannya. Sebab proses membaca adalah proses ringkas untuk melipat waktu dan jarak.
Kok bisa?
Iya. Bisa karena sebuah buku berisi penelitian, pengalaman dan wawasan penulisnya. Jadi pembaca tidak perlu susah-susah melakukan riset untuk bisa mengetahui sesuatu. Misal, pembaca yang belum pernah keliling dunia dan ingin tahu sudut pandang dunia yang berbeda, tinggal baca buku trilogi novelnya Agustinus Wibowo. Atau mau kisah G30S PKI di pulau Buru yang dibalut dengan kisah perwayangan? Baca saja Amba karya Laskmi Pamuntjak.

Guru.
Itu cita-cita saya sejak dulu. Sejak kecil. Tapi saya tidak lulus masuk FKIP malah lulus tes BMKG jurusan geofisika, pindah ke UT Bahasa inggris lalu FISIP Ilmu Komunikasi Universitas Slamet Riyadi Solo.
Tapi guru tetap jadi impian saya. Karena itu disetiap kegiatan kuliah, saya mengajukan diri jadi guru. Termasuk ketika KKN, saya mengajar anak-anak kampung plus mengajar TPA.

Setiap Orang adalah Guru

DSC06000

“Jangan jadi katak dalam tempurung.”
Pesan Bapak itu saya ingat betul. Iya, mungkin dulu Bapak benar. Pada saat itu, saya adalah seekor katak dalam tempurung. Selalu merasa benar sendiri.
Maklum ketika pertama kali mengirim tulisan di media anak, langsung tulisan dimuat. Ketika mengirim ke koran, langsung dimuat. Nilai Bahasa Indonesia di sekolah juga selalu the best nomor satu. Jadi? Jadi tidak salah ketika Bapak mengingatkan saya untuk jangan jadi katak dalam tempurung. Saya harus mau meluaskan wawasan saya.

Okelah, orang sombong, besar kepala pada saatnya akan jatuh juga. Jatuh untuk dapat pengalaman.
Dari puisi saya mau pindah jalur. Saya geregetan pingin bisa nulis cerpen. Kalau artikel saya sudah bisa. Hasilnya adalah naskah yang saya anggap keren ditolak sana-sini.
Bayangkan, setiap bulan saya kirim minimal 5 naskah. Naskah cerpen. Lima naskah ke majalah Anita Cemerlang, lima naskah ke majalah Aneka Yess, lima naskah ke majalah Kawanku, lima naskah ke majalah Hai, lima naskah ke majalah Gadis, lima naskah ke majalah Ceria Remaja. Semuanya saya ketik sendiri di kertas HVS yang kadang-kadang saya beli sendiri, kadang-kadang dibelikan Bapak karena kasihan dengan saya.
Semuanya saya kirim via pos kilat khusus agar sampai dengan cepat ke redaksi. Satu dua ada yang dimuat, tapi itu puisi. Dapat honor buat traktir adik-adik, tapi saya maunya yang dimuat cerpen buat puisi. Saya butuh tantangan baru.

Hingga akhirnya saya membaca di majalah Anita Cemerlang kesempatan untuk kursus menulis via pos, dan ada biayanya alias berbayar. Pemandunya sastrawan Adek Alwi. yang waktu itu jadi redaksi fiksi majalah Anita. Apa yang diajarkan? Hal-hal yang awalnya saya yakin betul saya sudah bisa, tapi nyatanya saya salah.
Diajarkan beberapa ketukan spasi ketika masuk ke paragraf baru dan lain sebagainya. Saya sudah koleksi buku panduan menulis juga. Jadi teori tidaklah berat untuk saya. Justru saya suka karena kelas menulis lewat pos itu, mengajarkan praktik.
Jadi saya kirim tulisan ke beliau kirim via pos kilat khusus. Dikembalikan lagi via pos dengan catatan.
Ada catatan yang saya dapat, yaitu poin tertentu. Bahwa karya saya lebih cocok untuk koran ketimbang majalah remaja.
Umur saya baru 18-19 tahun pada masa itu. Saya anak remaja, yang memang tidak kenal pacaran. Buku-buku yang saya baca buku koleksi Bapak dan koran langganan Bapak ternyata yang membuat saya punya gaya tulisan seperti itu.
Selesai kursus, ada satu naskah yang dimuat di koran. Tapi itu bukan naskah pertama. Karena sebelumnya sebelum kursus saya pernah menulis naskah cerpen dan dimuat di koran. Boleh deh ge er kalau saya bilang, naskah itu bukan hasil kursus tapi karena saya menulisnya sudah bagus. Yah begitulah namanya manusia yang sedang dihinggapi kesombongan.

Sesudah kursus menulis selesai saya semakin menggila menulis. Saya mau buktikan pada diri saya sendiri, bahwa saya seorang remaja normal dan bisa menulis kisah remaja juga. Tapi kisahnya bukan cinta-cintaan. Kalaupun ada yang jatuh cinta, saya mau dikemas dalam kemasan psikolog. Maklum saya penikmat kolom psikologi di koran sejak dulu.
Hasilnya. Yeeeah, dua cerpen saya dimuat pada saat yang sama di dua majalah yang berbeda. Di majalah Anita Cemerlang dan di majalah Aneka. Lebih girangnya lagi, waktu saya ambil honor ke redaksi, mereka tanya. Saya ingat bu Astuti Wulandari dan bu Yeni W, kakak beradik bertanya. “Ini yang suka kirim naskah ke majalah Aneka, ya?”
Ditanya begitu saja saya sudah girang.
Horeee, pintu dari keyakinan itu sudah terbuka. Setelah itu berturut-turun naskah saya dimuat dan menang lomba. Habis menang lomba cerpen Anita, saya menang lomba cerber majalah Gadis.
Iya, itu tulisan saya buat sendiri tidak ada yang memeriksa. Tapiiii, tanpa bekal rujukan ilmu dari buku, kelas yang saya ikuti, saya pikir langkah saya hanya akan terhenti di satu titik. Titik sombong dan terlalu percaya diri hingga mengecilkan orang lain.

Ada Banyak Pintu Ada Banyak Guru

Cimori ri

Setelah tidak mau jadi katak, saya jadi paham teori pintu. Satu pintu yang terbuka akan diikuti pintu lain lagi yang terbuka. Tentunya itu pasti dilandasi karena kita sudah paham bagaimana membuka pintu, hingga mudah untuk membuka pintu yang lainnya lagi.
Ada kesempatan lain yang terbuka. Belajar menulis skenario. Pas kebetulan saya memasukkan adik untuk ikut teater, pas disitulah Aditya Gumay membuka kelas menulis skenario. Kelas skenarionya banyak yang baru belajar menulis. Saya sudah punya tulisan di media, jadi saya tunjukkan padanya. Dan hasilnya saya diminta menjadikan cerpen saya di majalah Anita untuk dijadikan skenario. Skenario saya pelajari dari banyak buku juga pelajaran dari beliau. Beliau juga membantu merevisi. Beliau juga mendampingi mengajukan naskah ke kepala bidang naskah di TVRI. Beliau ajarkan tips dan trik termasuk menggunakan map yang berlabel nama kita. Skenario saya di acc. Saya belajar setiap minggu lho. Naik bus tiga kali dari Kemayoran menuju Senayan. Kadang seminggu dua kali juga jadwalnya.
Kalau sudah begini, bukankah guru membuat jarak tempuh kita menjadi lebih pendek?

Setelah itu banyak guru-guru lainnya lagi. Ada Erry Sofid juga Nunik Kurnia. Mereka dulu sama-sama menulis untuk media. Erry malah pernah satu kantor jadi jurnalis di sebuah majalah remaja. Kami biasa kumpul-kumpul untuk membahas naskah atau sekedar traktir makanan setelah tulisan di acc. Hanya keduanya mengerucut memilih skenario, sedang saya memilih tetap menulis untuk media cetak dan buku. Banyak alasan. Salah satunya adalah saya selalu meriang kalau begadang. Iya, dunia skenario banyak mengharuskan kita untuk begadang karena order bisa saja datang malam dan harus selesai pagi untuk sinetron striping.
Di skenario saya juga pernah belajar pada Dyah Kalsitorini yang sekarang baru meluncurkan film tentang anak penghapal Al Quran. Saya menyerah. Jam tidur saya tidak bisa diganggu. Setelah Isya saya tidur, itu artinya saya tidak cocok untuk dunia skenario.
Mereka itu guru untuk saya.
Sama seperti para redaksi majalah, yang membuat saya berproses panjang dalam menulis.

Networking itu Penting

karya ibu dan bilqis

Akhirnya.
Akhirnya demi mimpi saya pindah ke Solo. Beruntungnya saya pindah ke Solo setelah tulisan muncul di mana-mana. Maklum prinsip lima tulisan ke setiap majalah setiap bulannya saya terapkan. Bapak pensiun. Saya mau merasakan kuliah reguler agar bisa menulis lebih bernyawa lagi. Saya baru menang lomba cerber dan masuk nominasi cerber majalah Gadis. Uangnya bisa saya jadikan uang pangkal untuk biaya kuliah.

Beberapa media memuat profil saya karena produktivitas saya menghasilkan karya. Ketika saya pindah ke Solo kesempatan itu datang. Pihak majalah Anita Cemerlang mengadakan road show bekerja sama dengan salah satu radio terkenal di Solo. Saya dan Donatus A Nugroho yang dipilih mewakili Solo dan menjadi juri lomba menulis puisi.
Maklum acaranya majalah remaja. Ada artis dari ibukota yang ngetop pada masanya. Acaranya tiga hari. Kita dalam satu rombongan di wawancara dan dikerubuti fans layaknya artis. Ada jumpa fans di radio juga. Di situ saya sempat berkenalan dengan almarhum Adra P Daniel.

Di Solo, saya mudah berinteraksi dengan Om Donat, begitu saya selalu bilang. Saya kenal baik istri dan dua anaknya. Kakak iparnya dosen kuliah saya dan kerabatnya teman sekampus saya. Jadi hasrat berguru saya, tersalurkan. Iya berguru sebenar-benarnya berguru. Saya sepulang kuliah nongkrong di rumahnya. Ganggu jadwal nulisnya. Zaman saya SMP sampai SMA tulisan Om Donat yang tersebar di mana-mana bikin saya ngiler. Saya punya mimpi suatu saat tulisan saya bersanding dengan tulisan Om Donat dalam satu edisi. Alhamdulillah tulisan saya dan Om Donat berkali-kali (lebih sepuluh kali) bersanding di beberapa media. Dan dijadikan iklan pemancing untuk media yang terbit berikutnya.
Saya belajar soal menulis cepat, tips dan trik bahkan sampai harus belajar untuk menerima perubahan. Perubahan itu bernama komputer yang menggantikan mesin tik.

Pindah dari Solo ke Jakarta kembali dan kembali menulis, membuat saya belajar untuk tidak sembunyi di balik karya. Ali Muakhir orang yang berjasa memunculkan saya ke permukaan. Saya diundang acara launching buku, lalu dikenalkan pada editor dan penulis. Hasilnya saya dapat order nulis dua buku. Satu buku best seller dan dialihbahasakan ke Malaysia juga dijadikan sinetron di bulan Ramadhan.

Sebelum membuat buku, saya galau. Galau kepingin punya buku. Tapi galau itu saya bawa menulis terus, hingga saya terus berkarya dan memenangkan beberapa lomba menulis. Saking galaunya soal job menulis karena pingin datangnya terus-menerus, saya pernah menelepon Benny Rhamdani., hi hi mungkin orangnya juga sudah lupa dengan peristiwa ini. Dapat nomor dari Ali juga. Disarankan saya untuk ikut milis FLP untuk info lomba-lomba menulis.
Ali Muakhir ini juga yang memberikan nomor kontak Asma Nadia pada saya. Nah, si Asma ini, saya biasa panggil Rani, adalah teman dekat adik saya sejak SD. Kebetulan adik saya kehilangan jejaknya. Makanya saya tanya ke Ali. Lalu Ali memberikan nomor kontaknya dan adik saya yang menghubungi. Dari adik saya, saya jadi tahu, kalau penerbit Lingkar Pena membutuhkan banyak naskah. Alhamdulillah dari sana, lahir banyak karya Solo saya.

Sekarang, zaman sudah berubah.
Profesi menulis tidak selangka seperti dulu. Kehadiran komunitas membantu banyak orang untuk melipat jarak dan waktu dalam menulis.
Iya, proses yang berdarah-darah seperti saya dulu, bisa dilipat waktunya hingga tidak selama seperti yang saya jalani. Proses untuk mengenali penerbit juga tidak usah selama yang saya jalani.
Karena itulah saya membuat komunitas dan menjadikan menulis itu menjadi sesuatu yang mudah.

Tapi komunitas itu bukannya membuat karya jadi tidak asli lagi?
Mungkin suara sumbang yang bicara itu tidak pernah merasakan kecemplung dalam suatu komunitas penulis yang sesungguhnya. Yang benar-benar mengajarkan menulis hingga ke luar karakter asli penulis itu sendiri.

Oh iya belum lama saya jadikan anak bungsu saya guru untuk saya, ketika menerima lamaran editor Sinta Handini untuk menulis beberapa buku anak. Saya belajar dari buku-buku koleksi Bungsu. Saya juga belajar dari gaya menulis Bungsu, hingga saya bisa menulis lepas seperti anak abege menulis. Tentunya itu setelah saya tanggalkan egoisme dan merasa paling bisa.

Siapa guru menulismu?
Siapa saja boleh. Yang terpenting kalaupun proses menulis kamu lalui sendiri, jangan sampai besar kepala. Buku yang kamu pegang, itu juga guru untukmu.

Ah, pokoknya saya bersyukur punya banyak guru. Bersyukur saya berproses sepanjang ini.

Published by nurhaya3

Nurhayati Pujiastuti, owner Sanggar Mama Bilqis, Founder Penulis Tangguh, Kelas Merah Jambu dan Kelas Biru. Trainer Menulis.

8 Comments

  • nurhaya3

    May 30, 2016 at 8:47 am

    Saya cuma bisa mengajar via email sekarang, Yuli. Belajarnya privat selama 8 minggu dan belajar setiap hari.
    Silakan email saya di nurhayati.pujiastuti@gmail.com

  • Yuli

    May 30, 2016 at 5:53 am

    Mbak, terima kasih. Untuk sy yang baru belajar, untaian kata mbak menjadi penyemangat.
    Saya ingin berguru dengan mbak.

  • nurhaya3

    May 30, 2016 at 2:01 am

    Sama-sama Iis.

  • nurhaya3

    May 30, 2016 at 1:59 am

    Terus menulis, Nurul. Nanti pada prosesnya akan menemukan banyak pernak-pernik yang bisa kamu jadikan pelajaran hidup.

  • nurhaya3

    May 30, 2016 at 1:58 am

    Terima kasih, Dini. Terus menulis. Artikelmu sudah bagus. Menunggu kamu terus berkarya.

  • iis soekandar

    May 29, 2016 at 2:18 pm

    Terima kasih telah memberikan banyak pencerahan setelah membaca tulisan ini. Kita saling mendoakan supaya menjadi manusia yang berguna bagi banyak orang melalui tulisan

  • Nurul

    May 29, 2016 at 11:23 am

    Luar biasa mbak nur 🙂
    Semoga menginspirasi kami, para penulis yang masih sepenggalah berjalan di jalan ini… Bahkan mbak nur yang sudah segudang prestasi, tak ingin terpenjara jumawa. Setuju mbak nur, semua orang dan apapun yang kita jumpai adalah guru kita. Salam hormat.

  • Dini

    May 29, 2016 at 8:33 am

    Terima kasih mbak Nur sudah membuka mata saya dan pintu ke dunia menulis. Memberi tantangan demi tantangan, hingga menjadi tangguh yang sesungguhnya, ga mudah pundung, baper, sinis dan kepo dalam makna negatif. Tunjukkan saja karya nyata, ga usah ikut larut dalam polemik 😀