Ajarkan Anak Puasa, Yuuk

bil at

Bulan puasa datang lagi. Ramdhan-nya hadir lagi. Dan itu artinya…
Artinya, anak-anak sudah besar. Mereka sudah paham makna puasa yang sesungguhnya. Tunjuk ini itu untuk buka puasa? No! Sejak dulu Ibu sudah mengajarkan bahwa puasa itu artinya bukan sekedar menahan lapar dan haus. Tapi artinya lebih jauh lagi, ikut merasakan penderitaan orang lain yang kelaparan.
Menahan lapar dan haus. Bukan mengganti jam makan. Karena kalau berlebihan dalam berbuka artinya cuma memindahkan jam makan.
Anak-anak paham. Ibunya super duper ketat. Ibu yang memberi contoh juga harus belajar menahan diri. Bahwa ketika mencari lauk berbuka, lebih baik saya bawa uang secukupnya tidak berlebihan. Jadi apa yang saya beli itulah yang akan saya makan.

Lalu, ketika membeli makanan jatuhnya lebih murah ketimbang membuat yang akibatnya mubazir, maka saya akan memilih membeli.
Contohnya kolak. Karena yang suka kolak hanya suami, maka saya akan beli satu kolak saja. Anak-anak bisa beli tahu isi dan lainnya.
Kalau buat sendiri, bisa kalkulasi harga pisang berapa, harga santan berapa dan harga ubi berapa. Dibuat langsung semuanya, mubazir karena pasti tidak habis. Dimasak lagi buat besok, sudah tidak enak rasanya.
Jadi puasa sama dengan irit? Betul. Di rumah saya ajarkan hal itu. Dan itu artinya irit pengeluaran untuk melebihkan shodaqoh. Jadi bukan untuk menimbun-nimbun harta. Kita akan dapat pahala tidak boros dan pahala sedekah.

Sekarang ketika anak-anak sudah beranjak besar, saya sudah merasakan masa termanis dari perjuangan saya dulu mengajarkan mereka puasa dan mengaji rutin setiap hari.

Puasa?
Saya jadi lupa kapan mengajarkannya.

Seingat saya, dulu saya dapat pelajaran dari Bapak ketika bulan puasa. Kami bangun semuanya ketika sahur. Delapan anak, ibu dan bapak. Ribut kan suaranya. Yang tidur pasti bangun. Nah pada saat bangun itu ketika kita sudah di usia SD kelas satu, Bapak tidak memaksa. Tidak memaksa kamu harus puasa.

Lihat semua pada makan, ikutan lapar dong. Apalagi ramai. Nah ketika siang, untuk anak yang sudah SD tidak disediakan makanan. Makanan hanya untuk anak-anak balita alias adik-adik saya. Jadi jika saya tidak berpuasa, gigit jarilah saya sepanjang siang. Paling yang saya lihat hanya nasi tanpa lauk.
Ketika maghrib lebih naas lagi. Bapak akan membelikan roti yang enak. Dan yang tidak puasa dapat jatah belakangan. Artinya saya akan dapat jatah sisa. Kadang bahkan tidak dapat jatah sama sekali.
Jadi keputusannya, ya saya harus belajar puasa.

Saya juga menerapkan hal itu di rumah. Saya akan membangunkan anak ketika sahur. Tidak memaksa tapi hanya memberitahu bahwa ini lho yang namanya sahur.
Kalau mereka tidur?
Kalau mereka masih usia dua sampai tiga tahun tidak mengapa. Tapi biasanya pada usia itu, mendengar suara orang berisik pasti akan ikut terbangun. Ketika mereka terbangun itu diberi penjelasan bahwa kita sedang sahur. Boleh kita tawarkan, mau ikut makan apa tidak? Ibu masak enak lho.
Nanti mereka pasti tergerak mau ikut makan juga.

Ketika mereka tidak bangun.
Nah, ketika mereka tidak bangun itu, setiap kali mereka bangun entah itu jam berapa saja. Jam enam, jam tujuh, lalu mereka minta makan. Saya selalu bilang. “Nah…, sekarang kamu sahur, ya. Nanti bukanya jam sepuluh. Sekarang kan bulan puasa, semua orang Islam puasa. Adek latihan, ya. Sebentar saja.”

Maka biasanya ketika kita menciptakan suasanya nyaman seperti itu, mereka akan suka dan mau melakukannya.
Anak-anak saya kebetulan tidak dibiasakan jajan di luar rumah. Karena itu aman. Artinya mereka tidak akan mengganggu ibadah orang lain dengan permintaan jajan mereka di bulan puasa. Untuk anak yang terbiasa jajan terutama makanan, mungkin harus diajari untuk tidak makan jajanan itu di luar rumah. Alasannya biar orang lain tidak terganggu ibadahnya.

Ketika anak usia lima tahun, saya pun masih tidak memaksa untuk ikut sahur. Tapi mulai membangunkannya dan mulai memberi jam buka. Misalnya jam buka jam sepuluh, ya. Kurang lima menit lagi juga tidak boleh dilanggar. Dengan begitu anak belajar disiplin.
Fokus untuk membuat anak nyaman beribadah. Bukan fokus membuat anak bisa puasa tapi tidak mengerti esensi puasa itu sendiri.
Ketika mereka sudah nyaman dalam sehari dua hari. Tanyakan lagi, jam bukanya mau ditambah tidak? Kalau mau nanti Ibu beliin makanan kesukaan kamu. Tapi nanti sore.

Tambah usia semakin ketat lagi.
Usia tujuh tahun mulai saya bangunkan untuk sahur. Dan menghentikan makan sebelum azan subuh. Puasanya masih puasa bedug. Artinya jam 12 siang boleh buka dan makan. Tapi setelah selesai, silakan lanjut puasanya sampai maghrib.

Dengan teori nyaman seperti ini akhirnya anak-anak punya batas kekuatan sendiri. Dua tiga hari setelah itu biasanya mereka akan bilang. “Bu, aku mau belajar sampai maghrib. Hari ini aku gak puasa bedug lagi.”

Atau,
bisa juga dibuat selang-seling. Sehari ia puasa bedug, sehari puasa penuh.
Ciptakan terus diskusi. Sehingga ketika anak-anak merasa lapar, kita juga katakan bahwa sebenarnya kita juga lapar. Tapi karena mengikuti aturan Allah, maka lapar itu bisa ditahan.
Diskusi terus menerus akan membuat mereka paham.

Umur bertambah hingga akhirnya kesadaran juga bertambah.
Sebelum puasa, saya juga belum bisa untuk membiasakan anak-anak puasa Senin Kamis. Tapi seminggu sebelum bulan puasa, anak-anak sudah saya beritahu. Sebentar lagi puasa, ya. Kalau siang, Ibu adanya makanan seadanya. Kalian harus belajar dari sekarang.
Dengan begitu ketika masuk bulan puasa mereka tidak mengeluh kelaparan.

Intinya adalah.
Bantu anak-anak nyaman dalam ibadahnya. Bukan dipaksa.
Beri teladan yang baik.
Sehingga mereka menyikapinya dengan semangat.
Biarkan anak berproses. Berproses itu seperti naik anak tangga satu persatu menuju keberhasilan. Untuk turun lagi tidak akan jatuh. Paling hanya tergelincir satu anak tangga.
Sedang yang tanpa proses itu seperti terbang. Bisa jatuh dengan tiba-tiba.

Yang paling penting kita pahami, jangan bandingkan pencapaian anak kita dengan anak tetangga, dengan alasan keberhasilan kita mendidik keimanannya.
Ini puasa, akan mereka jalani seumur hidup mereka, bukan cuma angin-anginan.
Dan iman bisa naik turun.
In syaa Allah proses akan membuat mereka kuat dalam keimanannya.

Published by nurhaya3

Nurhayati Pujiastuti, owner Sanggar Mama Bilqis, Founder Penulis Tangguh, Kelas Merah Jambu dan Kelas Biru. Trainer Menulis.