Menabung di Langit

Ada berapa banyak tabungan kita?
Saya punya buku tabungan. Dua anak-anak punya tabungan juga.
Tabungan anak-anak saya proyeksikan untuk tabungan pendidikan. Uang dari honor hasil karya mereka saya masukkan ke tabungan. Alhamdulillah, kemarin ketika Bungsu harus membayar uang pangkal SMPIT, dana itu yang saya pakai.

Tabungan saya berapa jumlahnya?
Saya bukan tipikal orang yang berani bermimpi untuk punya tabungan bermilyar-milyar. Muslim memang harus kaya. Tapiii, kekayaan itu dipakai untuk memberdayakan umat.
Kenapa tidak bermimpi kaya? Karena orang kaya di akhirat kelak dihisab belakangan. Yang tidak memiliki harta dihisb 500 tahun lebih dahulu.

“Tabunganku sudah berapa, Bu?” tanya anak-anak yang merasa senang sudah punya ATM sendiri.
“Hore…, aku bisa pakai ATM,” kata Sulung.
Saya senang mereka senang dengan hasil kerja keras mereka.
Kotak celengan di lemari, kotak kencleng wajib dari sekolah untuk subsidi silang di sekolah mereka, saya tunjuk.
“Sudah berapa banyak menabung di langit?”
Anak-anak cemberut.

Menabung di langit, memang saya selalu bilang seperti itu.
“Ibu motornya jelek.”
“Biar jelek, yang penting tabungan di langit Ibu sudah banyak,” ujar saya. “Motor jelek itu sering kepakai untuk antar orang lain. Dari teman kamu, tetangga yang butuh dan banyak lagi. Tabungan pahala Ibu jadi banyak, kan?”

Menabung di langit harus datang dari kesadaran. Untuk menjadi sadar harus melewati proses memberi contoh alias teladan. Setelah itu proses pembiasaan. Setelah pembiasaan yang hadir adalah kebutuhan.
Menabung di langit tentu juga diarahkan untuk manfaat ke depannya.
“Kalau uang kamu dipakai untuk membantu orang yang kelaparan, maka makanan yang dibelinya dan mengalir di darahnya, kamu dapat pahalanya.”
“Kalau kamu bersedekah dan kasih buku atau majalah ke orang, kalau orang itu pintar karena baca buku yang kamu kasih, terus dibagi lagi ilmunya ke orang, maka kamu akan dapat pahalanya.”
Anak-anak mengangguk.

Beri penghargaan ketika mereka melakukan kebaikan. Jangan hanya bicara soal dosa, dosa dan dosa.
“Kenapa tadi tidak sedekah?”
“Uangnya aku pakai buat beli pensil, Bu..”
Penjelasan mereka sudah menandakan bahwa mereka jujur. Kalau mereka sudah dicontohkan, dipahami, maka kelak akan ada suatu masa mereka pulang dengan tersenyum.
“Bu…, uang jajanku tadi aku masukin kotak amal.”
“Bu…., habis gimana? Aku tadi gak mungkin jajanlah. Ada temanku yang sakit terus aku kasih sumbangan.”
Pemberitahuan itu hanya untuk memberitahu, bukan untuk meminta ganti rugi.

Menabung di langit juga bukan berarti kita berhak berharap rezeki kita bertambah berlipat ganda. Menyisihkan rezeki kita itu tujuannya agar Allah sayang. Kalau Allah sudah sayang, maka segalanya akan mudah untuk kita.

“Bu.., aku mau nyumbang untuk pembangunan pesantren..”
Jujur, kalimat seperti itu lebih membuat saya terharu, ketimbang mereka membanggakan prestasi mereka.

Published by nurhaya3

Nurhayati Pujiastuti, owner Sanggar Mama Bilqis, Founder Penulis Tangguh, Kelas Merah Jambu dan Kelas Biru. Trainer Menulis.