Bebas Seperti Oly

BOBO

Bebas seperti Oly. Bebas mau apa saja. Bebas mau berteriak. Bebas mau mandi hujan. Bebas mau jajan apa saja. Bebas seperti itu yang Winda mau. Kenapa Ibu tidak juga mau mengerti?
Winda mengkhayal sepanjang pelajaran sekolah.
Bebas seperti Oly itu bebas juga mau belajar apa tidak. Kenapa Ibu maunya Winda terus belajar?
“Jajan yang itu, Win…,” siang itu tangan Winda ditarik oleh Oly. Menuju Bang Jambrong. “Kamu mau apa?”
Winda menggeleng. Perutnya sudah lapar. Ibu maunya Winda pulang sekolah terus makan di rumah. Tidak pakai jajan.
“Permennya enak lho..”
Permen warna-warni. Diberi coklat yang lengket di permen kemudian dimasukkan ke dalam mesis warna-warni.
“Mau, ya?”
Sebenarnya Winda ingin mengangguk tapi sudah terdengar suara yang Winda kenal. Suara itu membuat Winda menggeleng cepat.
Ibu sudah datang menjemput. Suara klakson motornya sudah terdengar.
“Besok, ya…,” Oly berteriak.
Winda tidak berani mengangguk.
**
“Bebas seperti Oly? Wer….” Bagas tertawa. Lompat dari tempat tidurnya. Bruk. Suaranya keras karena kakinya menyentuh meja belajarnya. Ia tertawa dan menutupi mulutnya dengan tangannya.
“Kakak mau?”
Bagas mengangguk. “Mau…, bebas seperti Oly, kan? Tidak belajar, boleh main hujan sesuka hatinya, boleh jajan apa saja, boleh beli apa saja. Enak seperti Oly, ya?”
Winda mengangguk.
Semua teman di sekolah juga ingin seperti Oly. Rumah Oly besar. Oly punya semuanya. Papi dan Mami Oly juga baik. Buktinya Oly bebas mau apa saja. Itu artinya mereka baik, kan?
“Bebas seperti Oly itu…. Oi… Aku di sini…,” Bagas mulai berteriak. Tapi mulutnya cepat ditutup. Terdengar suara pintu kamar diketuk.
“Nak…, jangan berisik. Nanti Eyang bangun.”
Winda dan Bagas saling berpandangan. Lalu akhirnya tertawa.
“Bebas seperti Oly. Aku mau…,” bisik Bagas lagi sebelum Winda ke luar dari dalam kamarnya.
**
“Bebas seperti Oly?” kening Ayah berkerut-kerut. Koran yang ada di tangannya diturunkan. “Kalian mau seperti itu?”
Winda dan Bagas mengangguk bersamaan.
“Bebas tidak bikin PR, bebas mandi hujan, bebas jajan sembarangan, bebas mau mandi apa tidak, bebas main sampai sepuas hati?”
Winda dan Bagas mengangguk lagi bersamaan.
“Ayah punya lho teman seperti itu. Bebas. Sampai sekarang dia masih ada. Mau kenal?”
Lagi-lagi, Winda dan Bagas mengangguk bersamaan.
“Tukang minta-minta yang suka lewat di depan rumah kita yang sering Ayah ajak ngobrol…”
“Yang pakai topi hitam, Ayah?” tanya Winda penasaran.
Ayah mengangguk. “Dia dulu teman sekolah Ayah. Tapi inginnya bebas jadi hnya sampai kelas dua SD saja. Bebas terus sampai besar sampai-sampai…”
Winda dan Bagas kali ini menggeleng bersamaan.
“Bukan jadi seperti itu, Ayah..,” ujar Winda.
Tapi Ayah hanya tertawa.
**
Bebas seperti Oly. Sungguh meski Ayah bercerita tentang temannya di waktu SD tapi Winda masih ingin merasakan kesenangan seperti Oly.
“Di rumah tidak ada siapa-siapa. Cuma ada Bibik. Nanti pulang sekolah main ke rumahku, ya?”
Winda tertarik dengan kalimat Oly. Sepanjang jam pelajaran Winda memikirkan kata-kata Oly.
“Ayo…”
Ibu pergi siang ini. Kunci ada di tangan Kak Bagas. Tapi Kak Bagas ada latihan taekwondo siang ini.
“Ayo…, banyak mainan di rumah. Banyak makanan…”
Winda ikut berlari bersama Oly. Sudah mau hujan. Mendung tebal sekali.
“Bik…,” di depan rumah Oly berteriak. Pintu gerbangnya terkunci. “Kita naik ke atas pagar saja, ya?”
Winda belum menyahut ketika Oly sudah naik ke atas pagar rumahnya.
“Ayo…”
Winda mengikuti. Ujung pagar rumah Oly runcing. Terkena betis Winda. Tergores. Sakit.
“Aku punya obat merah kok..,” ujar Oly. Menarik tangan Winda menuju pintu.
Halaman rumah Oly kotor. Penuh daun-daun kering yang tidak disapu. Ada juga sampah yang dibuang begitu saja. Sampah plastik, sampah bekas bungkus roti, sampah kertas.
Kalau di rumah Ibu selalu menyapu bersih setiap sampah bergantian dengan Winda dan Kak Bagas.
“Sebentar. Kok…,” kening Oly berkerut.
Pintu rumah Oly sedikit terbuka. Sekelebat bayangan seseorang terlihat oleh Winda.
“Bik..,” Oly berteriak. Mendorong pintu rumahnya. Masuk ke dalam.
Winda sendiri tidak ikut masuk. Winda ragu-ragu.
Tiba-tiba.
“Tolong…”
Wajah Winda memucat. Suara Oly meminta tolong.
Winda cepat mencari tempat sembunyi dekat tempat sampah yang cukup besar.
**
Sepi.
Kenapa sepi? Jangan-jangan..
Sudah hujan. Winda tidak bisa berteduh. Air hujan itu turun dengan derasnya. Baju Winda basah semua. Tas Winda juga. Ah, prakarya yang baru setengah jadi pasti juga basah. Itu artinya Winda harus membuatnya lagi nanti.
Winda takut. Jangan-jangan Oly ditangkap penculik. Jangan-jangan…
Di dekat pintu pagar terlihat Bibik datang. Membuka gembok di pintu gerbang. Membawa payung di tangannya dan juga tas plastik. Mungkin Bibik habis berbelanja.
Winda tidak berani memanggil. Winda hanya melihat ketika Bibik berdiri di depan pintu lalu terlihat seseorang memakai topeng ke luar dan mendorong tubuh Bibik hingga jatuh. Bibik kaget. Orang itu cepat berlari ke luar.
“Non… Tolong…!”
Winda mendengar Bibik berteriak keras sekali.
**
“Ada pencuri yang masuk ke rumah Oly soalnya rumah Oly selalu sepi, Bu,” ujar Winda dengan tubuh mengigil pada Ibu.
Sesudah Bibik masuk ke dalam rumah dan berteriak minta tolong, barulah Winda berani ke luar dari tempat persembunyiannya. Ternyata di dalam rumah ada Oly yang diikat tangannya dan juga kakinya. Mulutnya diplester.
Bibik langsung menelepon orang tua Oly. Winda sendiri minta izin pulang karena sudah beberapa kali bersin-bersin. Tubuh Winda menggigil. Winda memang tidak bisa kena air hujan. Setiap kali kena air hujan, kepala Winda selalu menjadi pusing.
Segelas susu coklat hangat, air hangat yang Ibu masak untuk Winda mandi dan bolu kukus rasa coklat.
“Rumah Oly selalu sepi. Hi..,” Winda seperti orang yang ketakutan.
Kak Bagas memandangi. Memasang jurus taekwondonya. “Coba ada aku,” katanya. Lalu ciat…
Brak.
Sapu yang ada di dekat Kak Bagas jatuh. Winda tertawa melihat aksi Kak Bagas yang langsung diam karena melihat mata Ibu melirik pada Kak Bagas.
**
Bebas seperti Oly?
Sekarang Winda harus berpikir seribu kali untuk bebas seperti Oly. Apalagi waktu Oly datang ke rumahnya untuk berpamitan.
“Di rumah sepi. Papi dan Mami ke luar kota terus untuk kerja. Jadi aku akan pindah ke rumah Nenek saja di kampung,” kata Oly sambil menunduk.
Aih, Winda jadi sedih. Kehilangan satu teman itu tidak enak.
“Tidak enak seperti aku. Kesepian. Tidak ada yang melarang. Maunya punya Mami seperti Ibu kamu.”
Winda mendengarkan. Bahkan mengingat-ingat kata-kata Oly tadi sampai tubuh Oly menghilang dari pandangan Winda.
Bebas seperti Oly?
Tidak ah. Winda bersyukur masih punya Ibu yang perhatian dengannya.
**

Published by nurhaya3

Nurhayati Pujiastuti, owner Sanggar Mama Bilqis, Founder Penulis Tangguh, Kelas Merah Jambu dan Kelas Biru. Trainer Menulis.