Singkirkan Segala Keluh

DSCF1641

Salah satu karakter yang sering tidak kita sadari dan membuat kita terpuruk pada hal yang sama adalah sifat pengeluh.
Mengeluh untuk suatu hal karena memang hal itu tidak menyenangkan, sekali dua kali tidak menjadi masalah. Tapi bila itu kerap terjadi untuk hal-hal yang sangat kecil yang hal kecil itu untuk orang lain justru tidak terlihat jelas, pasti lah bukan kebiasaan lagi namanya. Tapi itu adalah karakter, menjadi bagian dari diri kita dan tanpa kita sadari melekat.

Phil McGraw seorang psikolog yang juga menulis mengatakan bahwa Anda mengajar orang lain bagaimana memperlakukan diri Anda. Apa yang Anda ajarkan datang dari bagaimana Anda memandang hidup. Bagaimana Anda memandang hidup datang dari siapa Anda.

Keluhan memang tidak datang dengan sendirinya. Sebagian besar karakter pengeluh bisa datang dari faktor genetika. Tumbuh kembang dalam lingkungan keluarga yang mengeluh akan membuat kita menjadi pengeluh.
Sedang tumbuh kembang dalam lingkungan postif dan optimis akan membuat kita terdorong untuk melakukan hal yang sama.
Cara pandang kita terhadap diri kita sendiri juga bisa menjadikan diri kita seorang pengeluh.
Teman, pengalaman hidup yang sudah kita lalui dan sikap dari pengalaman hidup itu yang bisa membuat kita mengambil satu pilihan.
Menjadi seorang yang positif dan penuh syukur atau menjadi seorang pengeluh.

Bila kita sekarang merasa berada di posisi sebagai manusia pengeluh, beberapa hal ini harus kita lakukan agar kita bisa berubah.

Luka Di Masa Lalu.

Keluhan yang membuat kita menjadi seorang yang kerap kali mengeluh tentu saja tidak hadir begitu saja. Keluhan hadir karena memang kita tumbuh dan besar di lingkungan pengeluh.
Keluhan juga berarti kita memiliki sebuah luka yang kita simpan hingga di masa depan sehingga kita ingin membagi luka itu pada yang lain dengan cara tak sadar. Seperti yang dilakukan oleh orang-orang terdahulu pada diri kita. Yaitu menyebarkan keluhan.
Ini adalah reaksi tidak sadar dari kita yang ingin melihat reaksi orang lain atas keluhan kita. Ketika orang lain itu menerimanya kita merasa menemukan keranjang sampah yang benar seperti dulu orang lain mengeluh pada kita. Ketika mereka menolaknya, maka kita kerap merasa terluka karena tidak menemukan tempat untuk meletakkan sampah keluhan kita.
Menyadari hal itu sebagai rangkaian masa lalu tidak masalah. Yang menjadi masalah adalah ketika masa lalu itu menempel terus dan tidak ingin kita lepaskan.
Kesadaran dari dalam diri sendiri menjadi satu hal yang paling penting untuk merubah perilaku sebagai pengeluh.

Mengeluh Tanda Tidak Bersyukur.

Stop ingatan kita tentang masa lalu. Anggap masa lalu adalah jejak yang tidak perlu ditengok lagi.
Ubah persepsi dan mulai tanamkan dalam pikiran bahwa mengeluh artinya tidak pernah puas dengan apa yang kita terima selama ini. Mengeluh juga berarti kita tidak pernah bahagia dengan apa yang kita dapatkan selama ini.
Orang-orang yang mengeluh ketika hujan turun dengan derasnya sering lupa doa dan harapan mereka ketika musim kemarau panjang datang dan mereka berharap banyak akan hadirnya hujan.
Ketika didera kesulitan ekonomi kita minta segalanya dimudahkan dan rezeki dilancarkan, tapi ketika rezeki itu datang kita merasa tidak pernah cukup karena standar hidup kita meningkat tak terkendali.
Karena itu ketika kita merasa tingkat keluhan kita sudah tinggi dan membuat orang-orang di sekeliling kita merasa jengah dengan apa yang kita lontarkan, mungkin ada baiknya kita mundur beberapa langkah untuk merenung.
Perenungan yang paling efektif tentu ke luar dari zona nyaman kita selama ini lalu datangi orang-orang dengan kondisi lebih payah ketimbang kita.
Apa yang kita keluhkan sebenarnya kerapkali menjadi bahan impian untuk orang lain.
Kita yang letih datang dan pulang dari kantor kerap kali kondisi seperti itu justru dirindukan oleh orang-orang yang baru saja terkena PHK atau orang-orang yang ke luar masuk kantor tapi tidak pernah mendapatkan pekerjaan.

Hukum Diri Kita Untuk Setiap Keluh

Memberikan hukuman pada diri kita sendiri untuk setiap keluhan yang kita keluarkan mungkin bisa menjadi sarana efektif untuk merubah kebiasaan buruk itu.
Atau kalau memang terlalu sulit untuk mengukur hal itu karena kita memang sudah terbiasa, kita bisa meminta bantuan orang terdekat. Orang terdekat yang paham diri kita seperti sahabat atau pasangan.
Minta mereka untuk memberikan hukuman pada kita setiap kali kita mengeluh. Bisa saja kita menyediakan diri untuk memberikan sejumlah uang setiap kali kita mengeluh pada orang terdekat kita itu.
Cara ini cukup efisien karena akan lebih terasa.

Tulis Dan Buang Ke Keranjang Sampah

Sarana yang paling efektif lagi untuk menghilangkan keluhan kita adalah dengan menuliskan keluhan kita dalam sebuah kertas.
Ketika kita tidak menemukan orang lain untuk mencurahkan keluhan kita, cobalah ambil selembar kertas. Lalu tulis apa yang ingin kita curahkan itu. Setelah itu baca kembali tulisan itu dan pikirkan benar-benar apakah memang hal itu melegakan atau tidak?
Setelah itu buang ke tempat sampah sebagai simbol bahwa apa yang baru kita keluarkan tadi adalah sebuah keluhan yang tidak berharga.
Masih belum bisa menghilangkan kebiasan itu juga, mungkin kita perlu mengambil sebuah buku. Mencatat apa yang ingin kita keluhkan dalam setiap lembarnya.
Beberapa hari kemudian, cobalah baca isi buku ini. Dan lihat, apakah yang kita keluhkan adalah sesuatu yang berulang atau sesuatu yang baru tapi esensinya sama?

Ubah Dengan Yang Positif

Ini cara efektif untuk melawan keluh. Bila orang lain sudah tidak sanggup membantu kita, tentu kita yang harus menolong diri kita sendiri.
Ubah setiap bentuk keluhan menjadi sesuatu yang positif.
Semisal, ketika kita mengeluh badan kita letih seusai bersepeda di pagi hari, kita bisa mengucapkan syukur karena bersepeda itu sudah memberi kontribusi positif pada kebersihan lingkungan. Plus kita menjadi sehat.
Bila kita merasa teman kita tidak baik, ubah dengan menjadikan diri kita baik sehingga kita akan merasakan sesuatu yang baru. Yaitu teman-teman yang baik pada kita.

Pilihan ada di tangan kita.

Published by nurhaya3

Nurhayati Pujiastuti, owner Sanggar Mama Bilqis, Founder Penulis Tangguh, Kelas Merah Jambu dan Kelas Biru. Trainer Menulis.