Bua dan Kerasnya Kehidupan

Bua

Kami memanggilnya Bua. Panggilan mudah sesuai warna-nya abu-abu.
Kucing terlama yang ada di teras rumah. Biasanya induk kucing, hanya akan numpang melahirkan. Sebulan setelah itu, anak akan dibawa induknya.
Tapi kali ini berbeda.
Mereka tumbuh besar di teras rumah.
Mengeong-ngeong dengan suara bayi.
Membuat semuanya jadi jatuh hati. Termasuk si Bapak, yang tadinya tidak suka.
Bahkan si Bapak selalu meracik makanan dan membersihkan luka atau sakit mata si anak-anak kucing.

Ada tiga anak kucing.
Tiga anak kucing kadang bikin jengkel. Saat jam makan, ketika belum diberi, mereka akan mengikuti ke mana saya pergi. Bahkan pernah ikut ke rumah tetangga. Tiga-tiganya menunggu saya ngobrol.
Sayang, yang satu mati terlindas mobil, yang tidak tahu sudah melindas anak kucing.
Tersisa dua dengan karakter yang berbeda. Satu pemberani, si Bua ini. Yang satu terlalu sensitive, Coco namanya. Kalau dibilang stop, maka ia cukup duduk tenang di depan pintu, tidak masuk ke dalam.
Si Bua tidak seperti itu. Dilarang artinya harus dilanggar. Masuk untuk bersembunyi di belakang pintu, atau sekedar berguling-guling di karpet.
Pernah saya cari-cari ternyata dia melompat dari belakang pintu, seperti mau mengejutkan. Dan Bua ini akhirnya selalu membuat kangen.

Bua ini juga yang ikut ketika saya liqo. Membuat ibu-ibu sebel, karena minta dihelus-helus.
“Mama Bilqis ngangong kucing, ya?” tanya seseorang.
Beberapa hari ini Bua diare. Aneh untuk kucing yang sudah pintar masuk ke bak sampah, dan kalau jam makan selalu mengetuk-etuk pintu rumah.
Badannya kuat.
Tadi pagi saya temukan jawabannya.
Di sebuah rumah kosong, ketika ada beberapa kucing berkumpul. Melihat Bua sedang diterkam oleh premannya kucing, yang pernah memakan anak kelinci tetangga.
Kucing-kucing lain seperti ketakutan.
Bua diterkam dengan wajah memelas oleh Garong yang sedang birahi.
Saya lempar dengan kayu, si Garong tidak terpengaruh.
Saya siram dengan air , si Garong menyeret Bua yang ada dalam cengkramannya.
Saya panggil suami yang mencarinya ke rumah kosong.
Ada Bua ketakutan.
Dengan dubur yang merah, ia akhirnya berlari. Bua kucing laki-laki. Nampaknya dia disodomi kucing garong yang sedang birahi.

Ah, pemandangan melihat si Bua diperlakukan oleh garong membuat saya memikirkan hal lain.
Dunia manusia dengan segala pernak-perniknya.
Ada yang seperti Bua, dan ada yang seperti kucing garong.
Mendadak ingat nasib Hassan di Kite Runner.
‪#‎Ah‬, semoga semuanya selalu terjada dalam lingkaran kebaikan.

Published by nurhaya3

Nurhayati Pujiastuti, owner Sanggar Mama Bilqis, Founder Penulis Tangguh, Kelas Merah Jambu dan Kelas Biru. Trainer Menulis.