Satu Gol Untuk Bunda

satu gol untuk bunda

“Satu gol saja untuk Bunda,” begitu yang Bunda katakan ketika Attar akan berangkat bermain bola. “Kamu bisa?”
Attar tidak menjawab.
Hari Minggu ini jadwalnya Attar berlatih bola. Seragamnya berwarna oranye dengan nomor punggung empat.
“Satu gol untuk Bunda. Setelah setahun kamu berlatih sepak bola, Bunda ingin kamu mencetak gol.”
Attar menunduk saja bahkan sampai Ayah mengantarnya ke tempat latihan sepak bola.
**
“Hi hi..,” Tinong tertawa waktu Attar bercerita soal keinginan Bunda. “Bunda kamu tidak pernah melihat kamu bertanding bola, kan?”
Attar mengangguk.
“Bilang saja kalau kamu sudah mencetak gol. Bukan cuma satu tapi dua.”
Attar memperhatikan Tinong. Betul juga apa yang disarankannya. Bunda kalau hari Minggu sibuk dengan pesanan kue, jadi jarang bisa melihat Attar bertanding. Kalau ia bilang sudah berhasil mencetak gol, pasti Bunda akan senang.
“Bilang saja begitu, ya..,” kata Tinong ketika mereka berpisah. Tadi tim mereka kalah tiga kosong oleh lawan yang datang ke lapangan mereka.
Attar tersenyum. Berterimakasih pada Tinong.
**
“Betul?”
Attar mengangguk.
Ketika ia pulang latihan, Ayah sedang pergi. Bunda masih ada di dapur. Harum kue buatan Bunda membuat perut Attar menjadi lapar.
“Betul kamu membuat satu gol?”
Attar mengangguk. Mengingat-ingat kata Tinong. Ia harus mengangguk dengan keras supaya bundanya bisa percaya. Tinong sering bohong pada mamanya dan mamanya tidak pernah tahu.
“Hebat,” kata Bunda. Menepuk pipi Attar. “Terimakasih ya.”
Attar mengangguk. Memandang wajah Bunda lalu berjalan masuk kamar.
**
Satu gol untuk Bunda itu terus teringat di benak Attar. Gol yang belum bisa ia buat meskipun sudah setahun berlatih sepak bola. Larinya tidak sekencang teman yang lain. Tendangannya juga tidak kuat seperti teman yang lain. Tapi ia suka bermain bola.
Satu gol itu yang membuat Attar terus memikirkan ketika malam. Bahkan kasihan pada Bunda yang masuk ke kamarnya dan memberikan kue bolu untuknya sebagai hadiah gol yang belum bisa ia ciptakan.
“Gol…..! Gol…!” suara itu ke luar dari mulut Attar. Ia mengigau dalam tidurnya.
Igauan itu begitu keras hingga Bunda masuk ke kamarnya dan membangunkannya.
“Kamu kenapa?”
Attar diam. Takut bicara pada bundanya. Tapi setelah bundanya ke luar dari dalam kamar, Attar merasa sangat bersalah.
**
“Gawang itu kecil, Nak. Jadi tidak semua pemain bisa mencetak gol.”
Pagi itu di dapur Bunda bicara. Mata Bunda memandang pada Attar.
“Maafkan Bunda, ya. Bunda tahu kamu berbohong karena takut mengecewakan Bunda.”
Attar belum mengerti.
“Kamu mengingau lagi setelah Bunda ke luar kamar. Dalam igauan itu kamu menangis dan mengatakan bahwa kamu bohong,” Bunda tersenyum menepuk pipi Attar. “Bunda yang salah. Kamu anak hebat karena tidak bisa berbohong.”
Attar menunduk. “Gol itu tidak ada, Bunda…”
“Tidak apa-apa. Gawang itu kan kecil. Kalau kamu berlatih terus menerus pasti bisa.” Bunda memeluk Attar.
Attar mengangguk. Gawang itu kecil tapi ia berjanji akan berlatih keras agar suatu saat Bunda bisa melihatnya mencetak gol.
**

Published by nurhaya3

Nurhayati Pujiastuti, owner Sanggar Mama Bilqis, Founder Penulis Tangguh, Kelas Merah Jambu dan Kelas Biru. Trainer Menulis.