Takdir Saya Adalah Penulis

jawa pos

Cerita ini bukan tentang sebuah novel yang sedang saya tulis atau cerpen yang sedang saya selesaikan. Tapi saya sadar bahwa rangkaian takdir yang membuat saya bertahan sebagai penulis sejak SD adalah jalan terindah yang telah digariskan olehNYA untuk saya.
Bisa membaca di saat TK membuat saya tergila-gila membaca. Habis majalah langganan dan buku perpustakaan yang dipinjam kakak-kakak dari sekolah saya baca. Bahkan cerita bersambung Jangan Ambil Nyawaku karya Titie Said saya baca ketika kelas satu SD.
Memulai menulis ketika SD bukan karena saya diarahkan untuk menulis. Ibu hanya ibu rumah tangga biasa yang sudah sibuk dengan urusan 8 anaknya. Bapak sibuk bekerja di dua tempat agar bisa membiayai sekolah anak-anaknya. Tapi Bapak dan Ibu saya memiliki kebiasaan yang sama setiap kali sebelum tidur. Beliau berdua senang mendengarkan sandiwara radio. Dan cerita-cerita itu yang menghantarkan saya dan saudara yang lain sebelum tidur.
Entahlah, sejak saat itu buku-buku tulis saya penuh dengan coretan. Entah itu puisi, entah itu cerita. Nilai Bahasa Indonesia saya selalu tertinggi di kelas. Sejak bangku SD hingga kuliah.

Berawal Dari Puisi
Berawal dari sebuah puisi yang saya lihat di kertas pembungkus cabai milik Ibu. Saya merasa tertantang untuk menulis dan mengirimkannya. Puisi itu ditulis tangan, perangko saya beli di warung tetangga dan masukkan ke dalam kotak pos di pinggir jalan. Belajar dari siapa? Saya belajar dari banyak membaca. Sebab, setiap kali membaca saya membaca setiap bagian majalah bahkan hingga ke iklan-iklannya.
Segalanya menjadi begitu mudah. Puisi-puisi yang saya kirim seminggu kemudian dimuat. Pindah ke koran lain, juga dimuat.
Tapi sungguh saya belum mengerti bila ada profesi bernama penulis.
Saya mengikuti arus yang membawa saya. Mengalir.
Yang saya tahu, saya lebih suka menulis ketimbang bicara dengan yang lain. Saya lebih suka menuntaskan masalah lewat tulisan. Dan itu sering membuat saya kena omel orang tua karena ketika diajak bicara saya seperti orang yang sedang melamun.
Honor dari menulis puisi, cerpen, artikel menghantar saya mampu membiayai kursus-kursus yang saya ikuti. Juga kuliah di dua tempat. Jumlah penulis yang masih sedikit dan sulitnya prosedur untuk mengirimkan tulisan ke media membuat hanya segelintir orang yang punya tekad saja yang bisa menjadi penulis.
Cita-cita saya ingin menjadi penulis. Karena saya cinta menulis. Tapi bukan karena saya ingin terkenal.

Saya Pernah Putus Asa
Ketika kuliah saya pernah mendapatkan beasiswa karena dosen saya tahu saya penulis kebetulan juga IP saya cukup tinggi. Setelah lulus kuliah pun saya mudah mendapatkan pekerjaan sebagai reporter di majalah remaja tempat saya sering mengirim tulisan. Berpindah tempat ke perusaan asing pun saya mendapatkan tempat yang baik sebagai supervisor karena pemilik usaha seorang Canada gila membaca. Bahkan beliau rutin memberi pinjaman buku untuk saya setiap minggunya.
Itu masa-masa bahagia.
Masa-masa sedih sering pula saya alami. Masa di mana saya merasa sendiri karena teman-teman terdekat tidak paham dengan cita-cita saya sebagai penulis. Orang tua bingung dengan pilihan saya sebagai penulis. Tapi setiap kali saya merasa tak berdaya setiap itu pula Allah menarik saya ke garis takdir sebagai penulis.
Lomba Cerpen di majalah Anita yang saya menangkan di tahun 1993 terjadi ketika saya sudah membuat keputusan akan berhenti menulis bila tidak ada cerita pendek saya yang tembus ke majalah.
Lomba Cerita Bersambung di majalah Gadis terjadi ketika saya bingung untuk membayar uang masuk kuliah sedang Bapak sudah pensiun.
Lomba-lomba lain yang saya menangkan juga adalah rangkaian jawaban ketika saya berada di titik putus asa dan ingin ke luar dari dunia menulis.
Usaha penerbitan yang saya miliki bangkrut tapi pada saat yang sama buku saya di penerbit lain mengalami best seller dicetak dalam bahasa Malaysia dan disinetronkan sebagai sinetron Ramadhan.
Hingga kemenangan di IKAPI IBF AWARD 2012 Maret kemarin adalah jawaban takdir dari keinginan saya untuk berhenti menulis.

Saya Tidak Boleh Berhenti
Sekarang siapa yang tidak ingin menjadi penulis? Siapa yang tidak ingin punya penerbitan sendiri?
Di tengah maraknya buku-buku yang semakin longgar etika moralnya saya tahu di situ saya harus menulis. Novel-novel yang indah tanpa harus mengumbar hubungan seksual. Cerpen-cerpen di media yang mengangkat nilai kesetiaan di tengah gempuran banyak peristiwa perselingkuhan. Novel-novel anak yang mengangkat makna komunikasi yang dalam antara anak dan orang tua tanpa harus berkesan menggurui.
Saya akan terus menulis.
Kelak, saya yakini secara utuh, karya saya akan menjadi amalan tambahan kelak untuk saya di dunia lain.

Published by nurhaya3

Nurhayati Pujiastuti, owner Sanggar Mama Bilqis, Founder Penulis Tangguh, Kelas Merah Jambu dan Kelas Biru. Trainer Menulis.