Menghitung Pahala

Republika

Pahala itu sifatnya abstrak. Sama seperti dosa. Tidak bisa dijabarkan seperti kue atau permen. Atau seperti api dan pukulan. Pikiran anak-anak tentang yang abstrak itu tidak bisa disamakan dengan pikiran orang dewasa.
Berangkat dari pemikiran itu saya mencoba menjabarkan pahala dengan hal lain yang bisa dicerna oleh anak-anak di rumah.
“Kalau aku shalat jamaah, pahalanya berapa, Bu?” tanya Attar.
“Kalau aku bantu nenek pemulung berapa pahalanya? Buat apa pahalanya?”
Awalnya saya bingung menjawab hal itu.
Tapi akhirnya saya memiliki jawaban versi saya yang membuat mereka paham. Anak-anak harus mengenal pahala sama seperti mengenal benda yang ada di sekeliling mereka. Hingga pahala itu kelihatan nyata dan mereka jadi terobsesi untuk mendapatkannya.
“Kamu suka istana?” tanya saya untuk pelan-pelan menjabarkan tentang pahala. “Istana di surga tempat kita nanti akan tinggal selamanya.”
Attar dan Bilqis mengangguk.
“Istana itu dibangun dari apa?” tanya saya lagi.
“Dari batu lah,” ujar Bilqis.
“Pakai semen,” tambah Attar.
“Nah…, pahala itu seperti semen dan batu bata. Kalau kamu tidak punya pahala, maka kamu tidak bisa membuat istana.”
Anak-anak sepertinya mulai paham.
“Pahala itu semua kebaikan yang kita lakukan. Kamu bantu Ibu kamu dapat pahala. Kamu baik sama teman, kamu juga akan dapat pahala.”
“Kalau shalat jamaah berarti pahala batu bataku banyak dong, Bu?” tanya Attar.
Saya mengangguk.
“Kalau ngaji terus?” tanya Bilqis.
“Ngaji terus juga banyak pahalanya. Semakin banyak pahalanya semakin cepat bikin istananya terus semakin besar istananya.”
Attar dan Bilqis mengangguk. Sepertinya mulai membayangkan.
“Hore…, pahalaku banyak. Istanaku lebih besar dari istana Ibu..,” tiba-tiba Attar berteriak.
Saya belum bertanya, Attar sudah melanjutkan.
“Iya dong. Aku shalat di masjid terus. Batu bataku kan jadi lebih banyak dari batu bata Ibu sama Bilqis.”
Saya terharu.
Paling tidak mereka sudah paham makna pahala yang saya maksud.
**

Published by nurhaya3

Nurhayati Pujiastuti, owner Sanggar Mama Bilqis, Founder Penulis Tangguh, Kelas Merah Jambu dan Kelas Biru. Trainer Menulis.