Penagih Utang

“Sudah sesuaikah pekerjaanmu dengan hatimu, Kang?”
Baron yang sedang mematut dirinya di cermin menarik napas panjang. Tubuhnya tinggi. Tegap. Dengan kulit hitam. Dan mata menukik ke dalam seperti mata elang.
“Kang…,” Aisyah menarik napas panjang juga. “Sudah dipikirkan?” Jilbab panjangnya seperti sedang menertawainya ketika Aisyah menunduk.
Baron mengangguk. Ini keputusan final. Setelah bertahun-tahun didera ujian hidup dengan hutang yang bertumpuk-tumpuk.
Pekerjaan itu datang padanya tanpa ia pernah melamarnya. Dari seorang temannya. Ia bisa langsung kerja dengan system gaji dan komisi.
“Kang…”
Baron berbalik arah. “Dengar, Ai. Keimananku tidak setangguh keimananmu. Tapi ini adalah salah satu bentuk tanggung jawabku sebagai seorang suami. Tanggung jawabku sebagai seorang Bapak yang sudah perih telinganya karena mendengar rengekan anak-anak minta ini dan itu tapi tidak pernah bisa aku sanggupi.”
“Kalau permintaan anak-anak itu dalam kacamata dunia..”
“Ai,” Baron menggeleng. “Kamu istri yang salehah. Doakan aku melakukan yang terbaik. Doakan ini hanya batu loncatan. Doakan ada hikmah yang bisa aku dapat dari pekerjaan ini.”
Aisyah menunduk.
Ini mungkin bagian dari kesalahannya. Ini mungkin karena rengekannya. Ini mungkin karena ketidaktahanannya menghadapi ujian dunia. Ini mungkin teguran Sang Khalik untuknya.
“Aku berangkat, Ai. Assalamualaikum.”
“Alaikumsalam,” Ai menghembuskan napasnya kuat sekali.
**
“Besok kita makan apa, Bu.”
Telor di dalam piring Bintang utuh. Telur mata sapi yang biasanya harus berbagi dengan adiknya, Tiwi. Kadang Bintang mengeluh dan sedikit marah waktu tahu di perut Ai masih ada calon adik untuknya.
“Bapak udah dapat kerjaan kan, Bu?”
Ai mengangguk.
Kang Baron sudah dapat kerja. Bukan karena sebelumnya menganggur. Kang Baron orang yang sangat bertanggung jawab sehingga tidak mungkin bila menelantarkan dirinya dan anak-anak dengan menganggur.
Kang Baron berbisnis. Apa saja. Ini sebagai wujud kesungguhanku untuk berhasil menikahimu yang sarjana, begitu setiap kali Kang Baron berkata.
Kang Baron memang bukan sarjana. Ia hanya lulusan SMU. Tapi kesungguhannya bekerja membuat Ai yakin bahwa Ai akan merasa aman berdampingan dengan suaminya.
Mulai dari satu warung makan di depan rumah dengan masakan racikan Kang Baron dan Ai diminta hanya mengawasi anak-anak saja, sampai mereka punya tiga warung makan dan berakhir di titik nol karena satu warung makan terkena musibah kebakaran, satunya dekat jalan raya mendapat saingan warung makan dengan harga jauh lebih murah, sedang yang di depan rumah entah kenapa tiba-tiba menjadi sepi pelanggan.
Mungkin karena di daerah tempat tinggalnya sudah bertumbuh banyak ruko dan mall sehingga warung makan sederhana miliknya tidak mengakomidir kebutuhan perut pelanggan yang sudah beraneka ragam.
Ada bisik-bisik yang ia dengar katanya warung makannya sudah tidak enak lagi dan mereka membeli karena kasihan.
Aisyah menghembuskan napasnya.
Semuanya terjadi cepat.
Cepat menurut hitungan akalnya.
Berujung pada Kang Baron yang putus asa karena modal habis. Dan Ai tak punya kemampuan lain karena memang sejak anak-anak terlahir ia tidak diperkenankan untuk bekerja.
“Aku terlalu mencintaimu, Ai. Aku yakin anak-anak kita akan jadi anak yang berkualitas bila hanya kamu yang menjaga. Tidak yang lain.”
Memasak makananpun Kang Baron meminta bantuan kerabatnya. Kerabat yang datang silih berganti. Tidak bisa dihitungnya hingga kerabat yang menghilang satu persatu ketika tidak ada lagi sesuatu yang bisa dicari dengan tinggal bersamanya.
“Bu…, besok kita makan apa?”
“Pasti kita akan bisa makan,” Ai tersenyum pada Bintang. Anak tertuanya yang setahun ini paling merasakan perubahan ekonomi mereka. Anak yang cukup menurut dan kerap memeriksa tempat berasnya dengan bertanya, masih ada beras atau tidak?
“Besok aku mau makan nugget, Ibu.”
Aisyah menghelus kepala Tiwi. “Insya Allah.”
Ia tahu batinnya tegang.
Seperti tegangnya janin yang menendang perutnya.
**
Ia hitam.
Tinggi.
Berwajah menakutkan mungkin sehingga teman lamanya begitu saja menawarinya. Teman lamanya yang memiliki usaha dealer motor dan kerap memiliki pelangganan yang mangkir membayar.
“Harus ada orang berwajah sepertimu yang ketika kau mengetuk saja mereka sudah ketakutan dan langsung mengeluarkan dompet untuk membayar cicilannya.”
Baron mengerti. Pelanggan rumah makannya dulu pernah bercerita mengenai hal itu. Dan ia menasehati agar mencari pekerjaan lain.
Tapi sekarang?
Kalau saja modal tidak habis. Kalau saja perut Ai tidak sedang berisi. Kalau saja…
“Ini pelanggan yang sudah tiga kali menunggak..”
“Perempuan?”
Temannya sekaligus atasannya mengangguk. “Perempuan tapi cukup nakal dan suka marah kalau ditagih. Kemarin itu karyawanku yang cukup terpercaya bisa menagihnya dengan tegas. Tapi dia minta naik gaji. Sedang aku tidak bisa memenuhinya dan dia hengkang ke tempat lain.”
Ia dibekali map transparan berisi daftar nama-nama orang yang sulit untuk ditagih.Penghutang yang nakal. Alamat dan namanya jelas. Serta intruksi apa yang harus ia lakukan berikut pantangan untuk tidak menerima tips dari pelanggan karena hanya akan membuat ia jadi tidak punya taring lagi di depan mereka.
Ia dipinjami motor yang berkesan jantan. Ia dibekali jaket kulit yang akan membuatnya berkesan gagah dan tidak bisa diajak negoisasi. Tak perlu banyak senyum. Tak perlu banyak negoisasi. Kalau perlu motor itu ditarik maka harus ditarik.
“Siap kau, Baron?”
Baron mengangguk.
Ia siap.
Demi anak-anak. Demi Aisyah. Demi harga dirinya sebagai lelaki.
**
Ya Allah, ini pasti kesalahannya.
Ai mengambil air wudlu.
Kang Baron belum menelpon. Sudah malam. Masak pekerjaan itu sampai malam? Bukankah lebih mudah menagih ketika siang? Atau mungkin karena Allah tidak meridhoi pekerjaan itu?
Sujudnya berlinang air mata sampai ia sulit untuk bernapas.
Untung anak-anak sedang bermain di rumah temannya hingga ia bisa melepaskan tangis dengan sempurna.
Pekerjaan itu debt collector.
Tidak sesuai dengan pemahaman keimanannya.
Seoarang penagih hutang yang bekerja pada perusahaan bukan dengan aturan Islam. Mungkin tidak masalah masalah untuk istri lainnya. Tapi menjadi sangat masalah untuknya.
Ia takut keterpurukan ini membuat ia salah langkah dalam memaknai ujian.
Ia takut sekali.
“Ya Allah cukupkan kami dengan yang halal..”
Tangisnya kembali pecah.
**
Baron diam.
Mungkin ia tidak pulang.
Pulang dengan tangan hampa tentu hanya akan membuat anak-anak dan Aisyah semakin tertekan.
Aisyah mungkin bisa menjual koran bekas mereka yang sudah bertumpuk ke penjual barang bekas.
Tiga rumah yang dikunjunginya tidak mendatangkan hasil.
Satu orang kelihatan ke luar dengan wajah sembab seperti habis menangis. Satunya ia melihat dengan matanya sendiri akan berangkat setelah istrinya kelihatannya memarahinya. Satunya lagi rumah kosong tanpa penghuni.
Mungkin Ai tidak mensupportnya dengan doa.
Sekarang ia berada di sebuah rumah yang penghuninya baru saja pulang.
Ia memang memutuskan untuk menunggu.
Mengumpulkan kekuatan untuk marah.
Demi anak-anak. Demi Asiyah.
Penghuni itu sepertinya baru pulang. Mungkin baru bepergian. Itu berarti akan ada uang untuk…
“Permisi..,” Baron mendekat. “Saya dari…”
Wajah penghuni itu kaget.
“Permisi…”
**
Uang itu di tangannya.
Uang itu cukup banyak. Bisa untuk makan beberapa hari.
“Mas, kalau ditanya bilang aja saya sudah pindah rumah. Cicilan tinggal tiga bulan lagi. Usaha lagi seret ini. Saya tahu Mas orang baik dan pengertian. Tolong perasaannya ya..”
Uang itu diberikan padanya.
Langsung ke genggamannya.
Terbayang ayam goreng seperti permintaan Bintang dan Tiwi.
Terbayang Aisyah dan bayi di rahimnya yang pasti menahan lapar karena beras di rumah hanya tersisa sedikit.
“Maafkan aku, Ai..,” kali ini Baron menghembuskan napasnya kuat-kuat.
Entah kenapa malam ini ia merasa begitu pekatnya ketimbang malam kemarin.
**

Published by nurhaya3

Nurhayati Pujiastuti, owner Sanggar Mama Bilqis, Founder Penulis Tangguh, Kelas Merah Jambu dan Kelas Biru. Trainer Menulis.