Oh Utang – Hikmah Republika

Dan jika (orang yang berhutang itu dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua hutang) itu, lebih baik bagimu jika kamu mengetahui (Al baqarah ayat 280)

Pernahkah berhutang? Entah sesekali atau dua kali atau bahkan kerap kali sehingga ingin menangis rasanya bila membayangkankannya.
Atau bagi yang belum, mungkin pernah terlintas atau punya keinginan memenuhi sebagian standar kehidupan memalui hutang. Memiliki ini dan itu dengan bantuan kartu kredit yang nota bene hutang juga.
Hutang alias meminjam.
Kebanyakan dari kita semoga tidak punya keinginan untuk melakukan hal itu. Terlebih maraknya orang atau instansi yang memberi keringanan pinjaman akan membebani dengan bunga yang akan memusingkan. Dan bunga itu akan berlipat seiring dengan ketidakmampuan kita untuk melunasinya. Belum lagi si penagih hutang yang galak dan kailmat-kalimatnya menyakitkan telinga.
Ada sebagian orang yang berhutang karena tuntutan gaya hidup. Dan ada sebagaian orang yang berhutang karena memang terdesak kebutuhan makan hingga hutang adalah solusi yang paling ujung yang akhirnya harus mereka tempuh.
Coba renungkan, di manakah posisi kita?
Memiliki hutang dan tidak memiliki hutang tentu lain rasa dan bedanya. Tentunya bila yang memiliki hutang itu melakukannya bukan karena tuntutan gaya hidup.
Untuk yang terdesak kehidupannya, dan tidak pernah melakukannya mungkin akan malu rasanya bila berbelanja di sebuah warung dan mengatakan akan membayarnya kalau ada uang.
Tapi bila hal itu kerapkali dilakukan, mungkin rasa malu itu akan beralih fungsi menjadi bebal hingga tidak sungkan untuk mengingkari janjinya.
Andai kita tidak berada dalam posisi seperti itu, dan tentunya selain kita harus mensyukuri ada satu hal lagi yaitu kita harus empati.
Empati bila ada seorang teman atau tetangga yang tiba-tiba mengetuk pintu rumah kita dan membutuhkan dana serta memberikan janji kapan akan membayar hutang itu.
Empati itu juga berarti bahwa kita harus tahu benar bahwa yang akan dipinjami uang itu adalah orang yang benar-benar terdesak kebutuhannya. Bahwa kita juga akan berani tegas untuk menagihnya pada saat yang tepat. Karena kadang ketidaktegasan dan ketidakenakkan hati membuat sebuah hubungan menjadi tidak berlangsung dengan baik setelah itu.
Bila ternyata empati kita masih kurang tepat karena yang kita pinjami uang ternyata adalah orang yang tidak amanah dan selalu mengingkari hutangnya. Mungkin yang harus kita lakukan hanyalah berbesar hati serta percaya bahwa ini adalah pelajaran untuk kita dan mungkin kita bisa membagi pelajaran itu untuk orang lain agar tidak terkena akibat seperti kita.
Tapi yang sebaik-baiknya yang harus kita lakukan adalah membuka telinga lebar-lebar. Mata hati kita kuak sehingga terbuka.
Adakah orang di sekeliling kita yang kelaparan yang malu untuk meminjam pada tetangganya sehingga harus berpuasa demi untuk menekan rasa laparnya? Untuk yang satu ini kita wajib bersedekah dan membagi kekenyangan kita pada mereka.
Untuk yang merasa beban kehidupan semakin beratnya tapi tidak ingin membebani kehidupan dengan hutang, percayalah. Semakin ikhlas dan semakin banyak memberi, meskipun dalam keadaan terjepit, meskipun itu hanya pertolongan untuk menyebrangkan jalan, maka pintu rezeki akan terbuka. Mungkin saja ketika kita menginginkan sesuatu, tetangga kita akan mengetuk pintu rumah kita dan memberikan sesuatu pada kita.
Percayalah.

Published by nurhaya3

Nurhayati Pujiastuti, owner Sanggar Mama Bilqis, Founder Penulis Tangguh, Kelas Merah Jambu dan Kelas Biru. Trainer Menulis.