Air Mata Bunda Sudah Mengering

“Sudahkah Bunda tahu ada wanita lain di hati Ayah?” tanya Arlen pada suatu malam ketika ia tidak bisa tidur dan Bunda kelihatan sibuk dengan bukunya di depan televisi yang menyala.
Bunda tersenyum. Ada dekik di kedua pipinya. “Kamu jangan suka menuduh sembarangan..,” Bunda menghelus kepala Arlen. “Buku ini bagus sekali. Nanti kalau Bunda sudah selesai kamu bisa membacanya.”
Arlen diam. Kesukaan Bunda selalu begitu. Menghabiskan waktu dengan membaca. Di mana-mana di dalam rumah selalu ada buku. Buku di ruang tamu dan di kamar berbeda. Dan buku-buku itu adalah milik Bunda.
“Seseorang yang pulang terlambat bukan berarti melakukan perselingkuhan, Sayang. Kamu kenal Ayahmu dengan baik, kan?”
Arlen diam. Membayangkan Ayah. Seorang Ayah yang jarang ditemuinya ketika siang. Baru pulang ketika malam. Itupun tidak dijumpai ketika ia berangkat sekolah pagi-pagi.
Seorang Ayah yang kata teman-temannya ketika melihat fotonya mengatakan cukup tampan. Seorang Ayah yang bahkan pada hari minggu sekalipun tidak pernah meluangkan waktu untuknya.
“Sudahkah Bunda mengerti…”
“Ssst..,” Bunda meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya.
“Tapi kalau Ayah…”
“Ayahmu mencari uang untuk kita berdua..”
Kinan diam. Sulit sekali bicara dengan Bunda mengenai Ayah. Yang ada di kepala Bunda hanya yang baik-baik saja tentang Ayah.
Kemarin, Arlen melihatnya. Siapa lagi kalau bukan Ayah? Di sebuah mall. Menggandeng mesra tangan perempuan berbaju seksi seumurannya.
“Bunda..”
“Nanti Bunda telpon Ayah dan minta Ayahmu untuk meluangkan waktu untukmu agar curigamu hilang, ya?’ kali ini Bunda menghelus kepala Arlen. “Sekarang tidur sana..”
Arlenpun tidak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti kata-kata Bundanya.
**
“Jadi Bundamu tidak percaya?’ tanya Sisi pada Arlen di sekolah.
Arlen menggelengkan kepalanya.
“Jadi Bundamu tidak mau mengerti juga kalau yang kamu lihat itu benar Ayahmu?”
“Bunda justru melarang aku berpikiran buruk pada Ayah.”
“Tapi itu kan Ayahmu. Berjalan dengan anak sepantaran kita.”
Arlen mengangguk sedih.
“Atau mungkin kamu harus bicara langsung pada Ayahmu?”
Arlen diam.
Bicara langsung pada Ayah? Rasanya tidak mungkin. Bukan karena selain jarang sekali bertemu tapi karena ia merasa kurang akrab dengan Ayahnya itu. Yang ia ingat dengan jelas bahkan ketika kecilpun ingatan tentang Ayah kabur.
Foto-foto kenangan masa kecil hanya banyak berisi ia dan Bunda. Ada sekali bersama Ayah. Satu-satunya. Ketika mereka berenang di pantai. Dan foto itu yang ia pajang di kamar dan terkadang ia pandangi ketika mengkhayalkan situasi seperti itu terjadi lagi.
“Mungkin kamu harus bicara langsung dengan Ayahmu.. Mungkin saja benar kita salah lihat atau kalau benar kita melihatnya itu adalah Ayahmu dengan saudaramu yang lain.”
Tapi Arlen tidak pernah mengenal saudaranya yang lain.
“Aku jadi takut kalau kita salah lihat…”
Arlen mengingat terus nasehat dari Sisi itu.
**
“Katakan apa yang ingin kamu bicarakan pada Ayahmu mungkin nanti Bunda yang akan menyampaikannya langsung..”
Arlen menghembuskan napasnya. “Saya ingin bicara langsung dengan Ayah, Bunda. Pembicaraan seorang anak dengan Ayahnya. Apa tidak boleh?”
“Tapi Arlen..”
“Saya bukan anak kecil lagi, kan?”
Bunda diam. Menarik napas panjang.
“Mungkin saya salah lihat dan ingin tahu apakah benar salah lihat.”
“Anggap saja benar kamu salah lihat.”
Arlen tidak suka kalimat itu.
“Anggap saja kamu salah lihat, Nak,” ulang Bunda menundukkan wajahnya.
Arlen menggeleng. “Mungkin saya akan ke mall lagi dan nanti kalau bertemu dengan Ayah kembali, saya akan langsung bertanya..”
“Arlen…”
“Saya sudah besar, Bunda,” ujar Arlen dengan emosi meninggalkan Bunda untuk masuk ke dalam kamarnya.
**
Malamnya Arlen menunggu. Tapi seorang Ayah yang diharapkan tidak datang. Bunda seperti biasa memang selalu menunggu. Sambil membaca buku. Entah jam berapa akhirnya Bunda masuk ke dalam kamar. Mungkin letih dengan penantiannya.
“Kalau siang ini saya bertemu dengan Ayah di mall..”
Bunda menarik napas panjang.
“Bunda relakah?”
Bunda mengangguk. “Kamu sudah besar. Dan kamu berhak melakukannya karena kamu adalah anaknya.”
Arlen puas.
**
“Tidak boleh ikut kata Ibuku,” ujar Sisi menolak ketika pulang sekolah Arlen mengajaknya ke mall.
“Kenapa?”
“Ibuku bilang itu masalah kamu dan akhirnya kamu bisa menemukan jawabannya. Tapi aku tidak boleh ikut campur.”
“Tapi…”
“Ibu bilang, jawabannya ada di Bundamu…”
“Tapi Ayah itu…”
“Bundamu, Len. Coba tanyakan padanya…”
Arlen diam. Merenungkan.
**
“Bunda sebenarnya tahu apa jawabannya, kan?” pulang sekolah Arlen langsung menanyakan hal itu pada Bunda. Bunda yang sedang dudukdi teras dengan pandangan mata menerawang.
Bunda memandang wajah Arlen.
“Ini soal Ayah…”
“Apa yang harus Bunda jelaskan, Sayang..?”
Arlen diam.
“Ayahmu laki-laki sibuk…”
“Tapi Ayah berjalan bersama perempuan lain dan saya melihatnya dalam sebuah mall.”
Bunda tesenyum.
“Apakah Bunda tidak punya air mata lagi bila mengetahui hati Ayah sudah mendua?”
Bunda mendekat pada Arlen. Memeluknya. “Air mata Bunda sudah mengering dan Bunda tidak memilikinya lagi.”
Arlen tidak mengerti.
“Seseorang yang bersama Ayahmu itu mungkin anaknya..”
“Bunda..”
Bunda tersenyum. “Bunda hanya istri simpanan Ayahmu, Sayang. Dan Bunda menyadari keadaan itu, makanya Bunda tidak pernah ingin menangisi keadaan ini.”
“Tapi..”
“Maafkan Bunda, ya?”
Arlen diam.
Kaget.
Tapi tidak ada air mata yang luruh di pipinya.
Mungkin ia juga sudah tidak memiliki air mata lagi seperti halnya Bunda.
**

Published by nurhaya3

Nurhayati Pujiastuti, owner Sanggar Mama Bilqis, Founder Penulis Tangguh, Kelas Merah Jambu dan Kelas Biru. Trainer Menulis.