Alternatif Liburan Ibu Rumah Tangga

“Horee libur…,” begitu biasanya teriakan anak-anak ketika libur telah tiba. Maka anak bersenag-senang dengan bermain. Kadang saking senangnya, mereka main suka lupa waktu. Harus dicari berputar-putar baru akhirnya kembali. Itu pun masih disambut dengan cemberut. Padahal pulang hanya untuk diminta makan, mandi atau shalat.

Masa-masa heboh seperti itu sudah mulai berlalu.
Dulu setiap Desember, saya sudah siap dengan peralatan tempur untuk pulang kampung. Lalu cek cek daerah tujuan wisata. Pokoknya fokus menambah wawasan untuk anak.

Mereka puas bermain, mereka sudah puas jalan-jalan.
Sekarang mereka sudah remaja. Arah hidup sudah harus ditentukan. Jalan-jalan yang saya tawarkan untuk mereka adalah menuntut ilmu. Jika letih dari berpergian seringnya mendatangkan keluhan, maka letihnya menuntut ilmu pasti akan membawa keletihan yang membuat bahagia.

Anak-anak pun pergi untuk liburan sambil menuntut ilmu.
Ibu?
Ibu rumah tangga yang di rumah saja, ketika anak sudah besar dan punya acara sendiri, bisa punya banyak alternatif liburan. Liburan alternatif ini juga bisa dipakai ibu-ibu dengan anak yang ada di rumah. Bisa dilakukan bersama anak-anak.
Mengisinya dengan apa?

1. Mewarnai gambar.
Iya gambar-gambar seperti ini saya print. Lalu saya mulai mewarnai. Dan ini efektif juga untuk membuat tangan lebih lentur.
Anak saya juga suka kok melakukannya. Bahkan kami berlomba untuk itu.
warna4

2. Bercocok tanam.
Ketika anak-anak masih kecil, Ibu tidak punya waktu untuk diri sendiri. Bahkan untuk menyiram tanaman pun suka lupa. Ketika anak-anak sekolah, sebagai ibu kita sudah kehabisan banyak energi untuk menyiapkan sarapan, pakaian dan lain sebagainya.
Ketika anak sudah libur, kita lebih bisa menata waktu. Dan tentunya waktu yang berharga itu harus dimanfaatkan.
Cobalah mulai mencari-cari tanaman untuk ditanam di pot kecil saja. Cari tanaman yang mudah perawatannya.
Atau sebarkan bibit cabai juga tomat. Mereka bisa tumbuh tanpa perlu repot mengurusnya.
Jika anak ada di rumah kita bisa ajak mereka melakukannya. Jika anak masih kecil, bebaskan mereka untuk mengenali tanah, cacing juga sekop.

3. Masak.
Masak yang macam-macam kalau bukan ahlinya menyulitkan. Karena waktunya sempit, Di saat anak-anak libur, maka kita jadi punya waktu lebih untuk mempelajari sebuah resep dan mengeksekusinya.

4. Buat kerajinan tangan.
Pakai apa saja. Pakai tutup botol bekas bisa. Pakai pakaian bekas lalu kita modifikasi jadi macam-macam, entah itu keset atau boneka.

5. Cek alat yang ada di rumah.
Kalau punya mikser dan selama ini hanya menganggur di gudang, coba deh mulai belajar digunakan. Sayang kalau alatnya hanya jadi pajangan.
Kalau punya kamera? Biasa tuh untuk mulai belajar memotret. Tidak harus jadi fotographer profesional. Yang penting ilmu kita bertambah, dan alat kita jadi berguna.

kerjaan-ibu

6. Tambah ilmu agama
Iya liburan efektif tambah ilmu agama. Kita bisa full mengikuti kajian di majlis ilmu dari awal sampai akhir, tanpa perlu dibingungkan dengan mengantar jemput anak.
Dan majlis ilmu ini kelebihannya adalah, ada malaikat yang ikut bersama kita dan mengaminkan doa-doa kita.
Majlis ilmunya di masjid, ya. Bukan dari sosial media.

7. Saatnya beres-beres
Debu-debu di lemari mungkin sudah terlalu tebal, karena kita lupa untuk membersihakannya. Dan libur adalah saat yang menyenangkan untuk bersih-bersih rumah. Beres-beres ini itu.

8. Baca buku.
Punya koleksi buku yang tidak tersentuh? Belum punya waktu untuk membacanya dengan alasan diganggu urusan PR anak-anak?
Saatnya liburan ini kita bisa membaca buku sampai selesai.
Tidak ada alasan anak lagi. Bahkan kita bisa juga membacakan buku itu untuk anak-anak.

Masih banyak kegiatan lain.
Yang penting kita senang melakukannya.
Jangan buang waktu dengan hanya tidur makan dan tidur makan, ketika anak-anak sedang libur.
Kalau bukan sekarang kapan lagi?

Alhamdulillah, Saya Bukan Ibu yang Pintar

lukisan-kami

Suatu pagi saya tercenung. Setelah membaca postingan politik yang ditulis oleh seorang perempuan. Seorang Ibu juga. Kebetulan setelah itu saya berada di dapur. Menikmati membanting adonan roti untuk suami dan Sulung yang harus berangkat pagi.
Penulisnya pasti perempuan pintar. Isi otaknya seperti apa yang ditulisnya. Saya terkagum-kagum dengan kepintarannya. Tapi sayangnya saya tidak boleh berlama-lama kagum. Tidak boleh berlama-lama kepingin menjadi seperti dirinya. Tidak boleh berlama-lama membayangkan andai saya sepintar seperti dirinya.
Ada kompor, panci, wajan dan sejenisnya di dalam dapur saya. Kompor sedang menyala, adonan roti mulai tercium wanginya. Dua orang tercinta sedang bersiap. Bayangan saya harus dihentikan sampai satu titik, perempuan itu pintar dan hebat. Saya apalah artinya dibandingkan para perempuan hebat itu.

Banyak perempuan hebat dan pintar. Banyak yang ingin dianggap hebat dan pintar juga. Dianggap menguasai sesuatu lebih dibanding yang lain.
Masalah politik membuat banyak yang merasa jadi ahli politik.
Masalah agama, langsung membuat mereka menjadi ahli agama.
Mereka hebat. Mereka pintar, itu saja yang ada di pikiran saya. Untuk selanjutnya kembali saya menyadari, bahwa ruang pintar seperti itu tidak saya miliki.
Mungkin dulu rasa itu pernah saya kejar. Ingin dianggap pintar.

Saya ingat dulu kuliah di fakultas ilmu sosial ilmu politik. Pada zaman politik sedang membara, maka teman-teman menjadi pendemo dan jadi pakar politik. Saya terseret membuat media politik bersama teman-teman satu fakultas, jadi reporter politik, mewawancarai nara sumber seputaran Jawa Tengah, terutama Solo, Jogja dan Semarang adalah makanan rutin ketika majalah akan terbit.
Ada banyak bahasa politik yang harus saya pelajari, harus saya sering-sering ucapkan jika ingin bergaul di kalangan teman-teman yang ahli politik. Biar sejajar.
Terpengaruh keadaan juga setiap hari bergaul dengan teman-teman yang ada di pergerakan. Sampai-sampai pernah dibohongin diminta memakai t-shirt dan dipanggil dekan, karena ternyata tulisan di t- shirt itu dianggap menyerang sesuatu terutama pemerintah. Dan saya tidak tahu akan hal itu. Dipanggil untuk diinterogasi. Sambil memarahi teman-teman yang tidak memberitahu, kenapa pada hari itu saya diminta memakai t-shirt tersebut sedang mereka menyembunyikannya?

Ada banyak ahli politik yang saya wawancarai. Bahkan pelaku politik pernah juga saya wawancarai. Ingat satu tokoh tinggi di Solo saya wawancarai bersama seorang teman. Saya perempuan satu-satunya, sedang tokoh itu dikelilingi oleh ajudan beberapa laki-laki di sekelilingnya.
Pada saat itu saya merasa keren, saya merasa pintar juga.
Sedikit ikut demo sana-sini. Tidak ikut teriak yel yel, karena saya lebih suka mendengar dan menyimak untuk kemudian mengambil kesimpulan.
Ohooo, banyak orang pintar. Suara saya tidak akan ada apa-apanya dibanding orang-orang itu. Tapi saya masih merasa hebat juga.

Banyak orang pintar dengan bahasa tinggi. Banyak yang kagum dan ingin belajar seperti itu. Tapi sayangnya bahasa tinggi itu justru membuat saya mundur dari hal-hal seperti itu. Ketika di suatu tempat di desa kecil pada saat Kuliah Kerja Nyata selama tiga bulan, yang berbahasa tinggi justru tidak bisa membaur dengan penduduk desa. Yang punya bahasa tinggi fokus memikirkan hal tinggi, tapi lupa di desa itu sedang kekeringan dan mahasiswa harus turun naik gunung mengajar ini itu dari satu sekolah ke sekolah lain plus menimba sumur untuk mandi.
Yang menemani bidan keliling desa turun naik gunung hanya yang itu itu saja.

Kapasitas dan Potensi Kita

Mungkin memang saya ditakdirkan tidak pintar. Justru karena tidak pintar itu saya jadi berjuang untuk terus belajar.
Mungkin memang saya ditakdirkan pusing mendengar kalimat yang terlalu tinggi. Justru karena itu saya jadi mencintai pola pikir saya yang tidak macam-macam.
Saya memiliki kapasitas dan kemampuan saya sendiri yang berbeda dengan orang lain. Kapasitas dan potensi yang ternyata membuat saya nyaman. Dan dalam proses nyaman itu justru potensi semakin berkembang.
Kapasitas saya tidak untuk berkerut kening memikirkan bahasa tinggi dan pemikiran yang tinggi. Kapasitas saya ada pada hal yang disepelekan oleh banyak orang pintar. Memahami orang lain, belajar banyak empati lalu menyebarkannya.

“Itu orang pintar, Bu…,” anak saya menunjuk seseorang perempuan di televisi. “Yah, Ibu kalah,” ujarnya.
Saya mengangguk.
“Alhamdulillah, Ibu tidak seperti itu. Kalau seperti itu, pasti sampai sekarang kalian tidak pernah merasakan roti buatan Ibu,” jawab saya membela diri.

Banyak orang pintar.
Dan saya menikmati proses menjadi seorang ibu dan perempuan yang biasa-biasa saja. Untuk tidak berhenti belajar tentu saja.

Sedekah yang Tak Biasa

kue-aku-4

Sedekah dalam bentuk apa?
Ada pintu surga yang Allah janjikan untuk orang yang rajin bersedekah.
Sedekah itu artinya mau mengeluarkan apa yang dimilikinya untuk orang lain.
Banyak yang mengartikan sedekah harus dengan harta. Banyak yang berhitung bahwa sedekah yang dikeluarkannya, nanti akan hadir kembali dalam tempo cepat dalam harta yang berlipat ganda.

Sedekah banyak macamnya. Allah akan lipatgandakan pahalanya untuk pemberi sedekah. Jika tidak diberi langsung di dunia, maka akan ditunda untuk diberi pada hari akhir kelak sebagai pemberat timbangan amal kebajikan.
Memberi dengan mengharap langsung imbalan, itu artinya pamrih dengan Allah. Ruang ikhlas kita jadi terganti dengan yang lain.

Ada senyum yang bisa kita berikan yang berarti sedekah. Bibir yang ditarik untuk tersenyum dan menyapa orang lain, selain membuat jiwa kita merasa lebih bahagia, orang lain pun akan terkena imbasnya juga.
Pohon-pohon yang bermanfaat bisa kita taruh di luar pagar halaman kita. Di pot atau di tanah yang kecil. Misalnya pohon pandan. Pada bulan Ramadhan kita akan panen pahala, karena banyak ibu-ibu yang membutuhkannya.
Ilmu yang kita punya seperti ilmu memasak, bisa kita bagi juga.
Semua yang kita beri akan kembali kepada kita. Berkah kebaikan akan melimpah untuk kita.

Sedekah Roti juga Bisa

kue-aku-5

Iya, sedekah bisa apa saja.
Kalau banyak yang menyedekahkan nasi bungkus pada setiap Jumat, saya merasa tidak mampu melakukannya. Maka saya memilih melakukan hal lain.
Hal lain itu dilakukan sambil mengukur kemampuan. Kemampuan tenaga sendiri tentunya.

Saya mulai bisa membuat roti.
Anak-anak dan suami suka. Tetangga yang diberi suka. Tukang warung yang saya beri bilang enak. Jauh lebih enak dari roti yang dijual dua ribuan di warungnya.
Itu yang mulai saya bisa.
Menjualnya? Menitipkan ke warung? Mungkin saya juga bisa.
Tapi saya mau yang lain. Saya ingin bersedekah juga. Saya ingin seperti yang lain juga.

Iya, sedekah roti.
Teman-teman di pengajian setuju dengan usul itu. Dan mulai menambah iuran bulanan, agar bisa menambah sedekah roti seperti rencana.
Saya yang akan berkeliling, dan mereka fokus bantu tenaga membuatnya.

Lalu apa yang ingin saya dapatkan dari sedekah roti ini?
Saya ingin pahala mengalir untuk yang mengajari saya. Saya juga ingin jari jemari saya ketika dimintai pertanggungjawaban kelak, bisa memberi jawaban yang akan memperberat amal kebajikan saya.

Sedekah roti, sedekah pecel, sedekah pohon, sedekah mukena bersih.
Ah sesungguhnya ada banyak ruang untuk itu.
Kalau kita mau berjuang, maka semua pintu kebajikan akan terbuka luas untuk kita. Sungguh.

Menjadi Keren di Usia 40

kpci-42

Life begin at forty.
Agak takut bahkan anti saya dengan orang yang bilang bahwa usia 40 adalah usia keren. Bagaimana bisa keren, kalau dalam kacamata saya dulu, usia itu adalah usia orang yang sudah lanjut usia.

“Berapa umur Ibu?” anak-anak suka bertanya.
Ketika saya bilang usia saya 25 mereka akan tertawa. Tapi ketika mereka mendengar usia ibunya yang sebenarnya, mereka langsung terbelalak dan bilang. “Ya ampun, Ibu sudah tua ternyata.”

Well,
usia 40 beberapa tahun yang lalu saya tapaki.
Terkena stigma tua juga. Merasa mudah masuk angin dan sebentar-sebentar terkena kerokan juga. Terkena ketakutan juga, bahwa akan banyak penyakit datang.
Tapi untung semua itu bisa saya alihkan dengan banyak hal, termasuk terus belajar dan menambah ilmu.

Kalau dalam sirah Nabawiah, Rasul Muhammad s.a.w menerima wahyu Allah di gua Hira pada usia 40.
Ada doa yang dianjurkan untuk muslim di usia 40. Saya menyebutkan doa syukur nikmat QS Al Ahqof ayat 15.
Saya tempel doa itu di tempat shalat.

Usia 40 adalah kenyataan. Setiap tahun masih diberi tambahan umur, itu artinya adalah kesempatan emas untuk tidak menyia-nyiakannya. Apalagi menyia-nyiakan dengan hanya fokus pada penampilan lahir saja, tidak menambah kualitas keimanan yang kita.
Pada usia 40, saya merubah apa yang harus saya ubah.
Saya selalu berpikir bahwa di mata orang yang usia 70, saya masihlah muda. Karena itu saya harus manfaatkan waktu sebanyak-banyaknya. Hingga kelak ketika Allah takdirkan usia saya mencapai 70 tahun, saya tidak menyesal melewati rangkaian usia itu. Waktu saya bermanfaat.

“Ibu kenapa masih terus belajar?” begitu anak-anak saya tanya.
“Mau sekolah lagi?” itu pertanyaan ibu-ibu lain yang selalu keheranan ketika saya sebutkan salah satu mimpi saya.
Masih ingin sekolah, masih ingin mengajar di berbagai tempat terpencil, masih ingin bermanfaat, masih ingin menghafal Al Quran sampai 30 juz.

Pikirkan bahwa usia 40 adalah usia keren. Anak-anak sudah bertambah besar. Jiwa kita semakin matang. Kita punya banyak waktu untuk diri sendiri dan melakukan banyak hal yang bermanfaat untuk orang lain.
Tentu saja rangkaian hidup bahagia itu, tidak bisa kita dapatkan langsung ketika kita masuk usia 40. Kita harus mulainya jauh-jauh hari. Mengurangi sifat negatif kita sedikit demi sedikit. Menambah sesuatu yang positif sedikit demi sedikit dan terus-menerus.

Pikirkan bahwa ketika anak-anak sudah besar, banyak hobi-hobi yang tadinya kita pendam, bisa kita mulai munculkan lagi.
Saya dan tetangga yang lain justru lagi belajar menambah ilmu memasak.
Lagi cari tempat kursus jahit juga.
Menambah kegiatan dengan rencana-rencana positif lainnya.
Di usia sebelumnya tidak terpikir hal itu, karena sudah habis waktu untuk mengurus anak-anak.

Di usia ini, saya juga tidak terpikat dengan namanya iklan kecantikan. Dari dulu juga saya tidak terpikat, sih. Karena saya juga tidak suka masuk salon.
Tapi iklan yang berseliweran di televisi tentang produk kecantikan, yang menyebutkan bahwa putih itu cantik, tidak mempan untuk saya. Bahkan selalu saya bilang pada anak bungsu saya yang perempuan. “Ibu baru percaya saya produk seperti itu, kalau berhasil membuat orang dari Papua menjadi putih wajahnya seperti orang dari Korea.”
Saya tidak tergiur lihat wajah kemerahan karena kulitnya diamplas produk terus. Saya lebih suka melihat wajah-wajah yang tenang karena basuhan wudlu yang tiada putus.

Kulit di usia 40 bisa jadi berkurang kekeringannya. Dan itu bisa disiasati dengan rajin mengonsumsi buah dan sayuran di usia muda, juga banyak minum air putih.
Ingin bisa tetap gesit di usia 40? Lakukan olah raga rutin jauh sebelum masuk usia 40. Saya masih jalan kaki ke mana-mana atau bersepeda, di saat yang lain yang jauh lebih muda memilih motor.
Saya masih olahraga di rumah setengah sampai satu jam setiap hari. Masih berenang juga.
Dan itu tabungan yang memang harus dilakukan jauh sebelum masuk usia 40.

Yang paling penting adalah ikhlas.
Menjadi tua adalah takdir yang harus dijalani. Karena kita tidak mungkin muda terus.
Artinya akan berkurang dan diambil nikmat usia sedikit demi sedikit. Bersyukur. Nikmat kulit lembab dikurangi, itu artinya kita pikirkan isi kepala, isi hati.
Menjadi baiklah pada semua orang, paling tidak isi pikiran dengan pikiran positif. Dan itu akan terpancar jadi aura wajah kita.
Karena itu seringkan kita melihat seseorang, rasanya pancaran wajahnya membuat kita tenang. Sedang di saat yang lain, kita bisa melihat orang yang meskipun cantik, memandang wajahnya pun terasa tidak meneduhkan.

“Ibu, ayo jujur. Umur Ibu berapa, sih?” tanya si Bungsu.
“Kasih tahu, gak, ya?”
“Iiih, Ibu…”

Ajarilah Anak Tetanggamu Membaca dan Menulis

tonggo-6

Mengajarkan anak membaca dan menulis?
Itu kebiasaan yang sudah saya rencanakan, bahkan sejak saya belum menikah. Kelak jika saya punya anak, saya akan ajarkan kebiasaan membaca dan menulis.
Karena apa? Karena kegiatan membaca akan membuat mereka memiliki wawasan yang luas. Sedang kegiatan menulis akan membuat mereka menjadi manusia yang bisa mengolah beban yang ada di hati mereka. Mereka bisa menuntaskan semuanya jadi sebuah tulisan.

Anak-anak saya, kalau senang ke toko buku, itu wajar namanya. Kalau mereka bisa menulis itu biasa namanya. Karena dua kemampuan itu yang selalu ajarkan setiap harinya. Bahkan di saat mereka sibuk pun, saya minta mereka luangkan waktu seminggu sekali untuk membaca dan menulis.

Tapi kalau anak tetangga?
Jujur, saya kok merasa tidak respek ketika ada membanggakan anak-anaknya berhasil, tetapi keberhasilan itu tidak memberi dampak yang signifikan untuk tetangga.
Saya kok juga tidak terlalu respek pada orang yang merasa sukses, tapi tetangganya justru berada jauh dari kata sukses.

Tetangga itu saudara paling dekat.
Susah kita, senang kita, akan terlihat oleh tetangga kiri kanan kita. Musibah kita misalnya diuji sakit atau bencana, mungkin akan membuat kerabat kita membantu. Tapi orang yang pertama kali tahu dan mengulurkan tangan adalah tetangga. Jika kita biasa berbuat baik dengan tetangga, maka timbal balik pun akan datang pada kita. Jika kita biasa menutup aib mereka, maka ketika kita memiliki aib pun, mereka akan melakukan hal yang sama.

Ajarkan Apa yang Mampu Diajarkan

“Kejarlah cita-citamu setinggi langit, tapi jangan lupa pasir di tanah.”

Itu kata mutiara yang dulu ditulis oleh teman saya dalam sebuah buku. Kalimat entah dari mana, tapi membuat saya berpikir panjang.
Pasir di tanah, tempat berpijak, sesuatu yang ada di dekat kita. Tidak boleh dilupakan.
Semua mengejar banyak cita-cita. Keliling dunia. Menjadi sukses. Lalu berbuat untuk orang banyak. Ukuran mereka tinggi sekali, sampai-sampai lingkungan sekitar tidak dianggap alias tidak ada.
Saya kenal beberapa orang yang pindah dari satu tempat ke tempat lain. mencari lingkungan yang dianggapnya pas sesuai selera.
Sempat berpikir, kenapa ia tidak berjuang merubah lingkungan tempat tinggalnya.

Iya. Anggap saja lingkungan kita adalah amanah untuk kita. Sama seperti amanah anak.
Jika buruk bantu memperbaiki. Jangan lepaskan begitu saja.
Saya pernah merasakan tinggal di rumah susun yang tidak kenal penghuni di depan rumahnya, padahal hanya beda dua langkah saja. Yang segan untuk menegur karena masing-masing seolah memasang tanda di kening mereka, jangan tanya macam-macam. Saya pernah tinggal mengontrak di Jakarta yang sebelahnya orang Nigeria beristri perempuan Bandung. Ketika si istri mengobrol lama dengan saya, malamnya terjadi pertengkaran sengit. Suami seolah tidak suka si istri bicara banyak pada tetangga. Entah apa alasannya.

Saya pernah tinggal di kontrakkan yang lain dalam satu rumah dengan dua lantai. Saya menempati lantai pertama, sedang lantai kedua dihuni oleh beberapa penghuni yang tinggal di kamar-kamar kecil. Profesi mereka dari pedagang nasi goreng, sampai supir. Bahkan akhirnya saya tahu kalau ada yang berdagang tubuh alias PSK dan copet, lelaki tampan yang selalu siap bekerja di saat ada tabligh akbar atau keramaian lainnya.
Dulu sebagai pengontrak tidak kuat rasanya tangan mengubah.

Setelah memiliki anak, yang saya tahu anak saya tidak boleh pintar sendiri.
Yang saya tahu, buku saya tidak boleh saya lahap sendiri.
Yang saya tahu, jika anak-anak saya tahu ada teman lain yang suka membaca dan bisa menulis, maka mereka tidak merasa asing.
Sejak itu saya mulai bergerilya dari satu sekolah negeri ke sekolah negeri lainnya, untuk mengajarkan menulis.

Lingkungan yang baik tidak tercipta dengan sendirinya.
Kita yang sadar harusnya bergerak untuk menjalankan amanah itu.
Saya suka membaca, banyak buku di rumah, maka saya bertanggung jawab untuk itu pada lingkungan saya.
Yang bisa memasak, bertanggung jawab untuk hal itu.
Yang bisa membuat kerajinan juga sama.
Langkah kecil itu kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Dan tentu saja, akan membuat kita tersenyum karenanya.

Proses itu Mahal Harganya

kue-aku

Tidak ada yang murah, begitu yang selalu saya katakan pada anak-anak.
Tidak ada yang bisa langsung jadi, tapi semua harus patuh menjalani proses. Itu saya katakan pada Sulung saya, yang agak kaget ketika liburan ini saya alokasikan dana untuk ia ikut pesantren kilat.

Ada banyak proses.
Saya berproses panjang sebagai Ibu. Dari mulai Ibu yang tidak bisa masak, jadi bisa sedikit masak belakangan ini. Alhamdulillah.
Dari mulai orientasi pada karir, sekarang fokus pada karir dalam rumah tangga.
Dari mulai jadi istri yang merasa harus sejajar, artinya kalau istri bisa menghasilkan uang sama seperti suami, artinya lakukan apa yang dibisa tidak perlu dilayani, sampai akhirnya jadi istri yang punya kesadaran penuh untuk melayani suami dan tetap memiliki penghasilan.
Dari mulai tidak ada minuman untuk suami di pagi hari, sampai ada dan siap membuatkan apa yang suami inginkan.

Ada banyak proses.
Orangtua berproses anak harus mengerti, pasangan harus rajin mengingatkan.
Anak berproses, orangtua harus sabar mengikutinya. Jangan langsung memberi cap negatif.

Sulung saya sudah mulai agak susah diperintah orangtua.
Ada tugas-tugas rutin yang jadi tanggung jawabnya memang. Seperti gembok pintu pagar, itu jadi tugasnya dia. Otomatis dia akan mengerjakannya. Tapi tugas yang lain, saya harus buka suara untuk selalu mengingatkan.
Harus selalu mengingatkan?
Iya, saya anggap proses mengingatkan terus-menerus itu adalah rangkaian doa yang diulang. Kelak pada satu titik, ia akan otomatis bisa melakukannya.

“Kalau temanku manggil terus kamu langsung cepat menemui dia, lakukan pada orangtua juga. Sama seperti orangtua juga langsung berjuang untuk memenuhi kebutuhan anak termasuk bayaran sekolah.”
“Kalau orangtua melakukan hal yang baik, turuti. Karena orientasi orangtua kamu dan orangtua lain bisa jadi berbeda. Bersyukur.”

Diskusi, diskusi dan diskusi.
Lakukan komunikasi pada saat di mana perut mereka kenyang dan pikiran mereka santai.
Jangan ketika mereka sedang kelaparan karena Ibu malas masak dan ketika sedang sibuk mengerjakan PR.

Sulung memang berencana masuk ke pesantren. Dia yang minta, dia yang memilih pesantrennya. Tugas saya hanya mendaftar sambil terus bicara dengannya. “Tolong Ibu sebagai orangtua. Jadilah anak yang paham agama, jadi Ibu tidak malu kalau ditanya Allah kelak.”
Tapi seringnya lingkungan menarik begitu keras.
Libur artinya libur.
Tahun baru artinya rencana begadang bersama teman yang lain.

Maka bicara dan bicara lagi saya lakukan.
Akan zaman yang semakin bergejolak dan waktu yang terbuang sia-sia.
“Ibu akan berdoa dalam tahajud,” ujar saya padanya. “Agar Allah lembutkan hatimu.”

Proses itu mahal harganya.
Sadar diri bahwa ketika ingin menjadi manusia yang lebih baik lagi, kita harus mau berproses lebih banyak lagi.
Saya juga terus berproses.
Jadi Ibu yang baik dan semakin baik lagi.
Termasuk rajin masuk dapur untuk mememnuhi perut anak-anak dan pasangan.

Dalam Semangkuk Seblak

kue-aku-3

“Duh, Ibu beli seblak, dong,” Sulung mulai meminta.
Semangkul seblak artinya sepuluh ribu rupiah.
Ada empat orang di keluarga kecil ini. Artinya akan ada empat mangkuk seblak.

“Bu. Jangan pelit-pelit kenapa,” Sulung mulai merayu.
Hiks, ini bukan masalah pelit. Ini masalah efisiensi biaya.
Ibu mencoba mengingat. Dalam semangkuk seblak ada sosis, kerupuk, mie dan yang lainnya.
“Mending buat sendiri, Mbak. Murah,” begitu kata adik ipar mengompori.
“Kencur ini untuk seblak,” begitu kata seorang Ibu di tukang sayur, ketika saya bertanya kenapa ia membeli banyak kencur.
“Seblak dari Bandung pakai kerupuk yang disiram air panas,” ujar seorang tetangga dari Bandung.

Seblak namanya.
Kata ipar bumbunya hanya cabe, bawang merah, bawang putih dakn kencur.
Kata resep di internet bumbunya cabe, bawang merah, bawang putih, tomat dan air asam. Ibu coba yang ini. Hasilnya seblak terasa asam.
“Jangan pakai asam,” ujar suami.

Kerupuk beli seperapat saja. Gunakan separuh. Siram dengan air mendidih sampai empuk.
Bakso potong kecil-kecil. Sosis juga.
Ulek cabai, bawang merah dan bawang putih dan tomat juga beberapa ruas kencur.
Semuanya sesuai selera.
Saya gunakan dua buah cabai, tiga bawang merah dan dua bawang putih, satu tomat kecil dan 4 ruas kencur. Lalu tumis.
Masukkan bakso, sosis yang sudah dipotong kecil.
Beri air segelas. Masukkan kerupuk yang sudah diseduh air panas, mie, dan garam.
Boleh masukkan sayuran lain. Seperti sawi putih dan yang lain.

Setelah itu hidangkan dengan taburan daun bawang.

Mekarnya Bolu Kukus Semekar Hatiku

kue-aku-2

“Saya lupa cara buatnya,” ujar saya pada seorang tetangga.
“Gampang, kok.”
Iya lupa. Saya lupa. Setelah satu kali berhasil lalu setelah itu gagal berkali-kali. Lupakan kegagalan, mulai sesuatu yang baru.

Seperti biasa, ketika mendung mulai rajin menggelayuti langit senja, anak-anak mulai sering mengeluh soal perut yang minta diisi camilan.
Ibu bukan Ibu yang sempurna. Tapi menjalankan amanah untuk mereka, agar kelak mereka melakukan hal yang sama untuk keluarganya bukanlah hal yang berat.
Ada telur dan terigu juga soda kue dan ovalet bahan utamanya.

Telur.
Iya. Sekarang tahu banyak soal telur.
Jangan biarkan telur untuk membuat kue masuk kulkas. Biarkan di luar saja.
Kalaupun sudah terlanjur masuk ke dalam kulkas, maka rendamlah dulu dengan air hangat.
Dengan begitu adonan kue bisa mengembang.

“Ibu…, aku mau bikin kue. Kalau Ibu enggak mau biar aku.”
Bungsu merengek dan saya minta ia siapkan bahannya.
Telur dua, gula seperapat dan ovalet satu sendok teh campur jadi satu. Aduk dengan mikser kecepatan tinggi, sampai ia mengembang sempurna, putih dan kaku.
Beri vanili.
Masukkan air soda segelas dan terigu seperapat bergantian. Aduk sampai tercampur rata.

Lalu bagi adonan beberapa bagian.
Beri warna yang ingin diwarnai.
Lalu masukkan ke dalam cetakan bolu kukus.

Siapkan panci untuk mengukus. Tutupi tutupnya dengan kain, agar tetesan airnya nanti tidak masuk ke dalam kue.
Beri air separuhnya saja tidak boleh penuh.
Tutup pancinya, nyalakan kompor biarkan mendidih. Setelah itu masukkan kue di dalam cetakan. Tunggu sepuluh menit dan ia akan mengembang sempurna.

“Ibu ada undangan sunatan,” ujar saya melihat adonan yang masih penuh.
“Aku bisa, Bu,” Si Bungsu meyakinkan saya.
“Oke. Ibu percaya sama kamu. Tanggung jawab kamu, ya.”
“Beres. Percaya aja deh sama aku…”

Mereka bolu kukus beraneka warna menyambut saya ketika pulang.
“Aku keren, kan?” tanya si Bungsu.
“Hebat,” angguk saya.

Ada banyak warna-warni hidup.
Bolu kukus mengajarkan banyak hal. Termasuk menaruh kepercayaan penuh pada buah hati.
Ada coklat dan pewarna.

Berubah Mulai dari Hal Terkecil

ajeng

Mulai dari yang kecil dulu. Intropeksi diri sendiri dulu. Itu sih yang selalu saya katakan pada orang rumah.
Makanya ada banyak tempelan, termasuk tempelan di kamar mandi. Salah satunya cara mandi wajib dengan urutannya.
Maklum sudah punya dua abege, jadi biar mereka paham tata caranya.

Suatu hari kami diskusi soal mimpi basah. Sulung bertanya. “Jadi mandi yang Ibu tempel di kamar mandi benar gak, sih? Kok aku beda?”
“Kan ada dua cara. Satu dari Maimunah satu dari Aisyah. Bisa pakai salah satu cara dari keduanya. Yang afdol dengan menggabungkannya. Yang Ibu tempel yang dari Maimunah.”
Sulung mengangguk.
“Yang penting setiap Jumat niatkan untuk mandi wajib, ya.”
“Iya, aku udah tahu.”
Bola mata adiknya membesar. “Mimpi basah itu apa?”
Lalu Sulung bercerita dan si adik tertawa.
Hal-hal sederhana dan kecil itu sering luput dari justru kita sepelekan.
Seperti hal sederhana lain, yang akhirnya membuat anak jadi cerewet juga.
“Ibu, minum harus duduk. Ibu tahu kalau minum duduk, air jadi akan tersaring.”
“Ibu, jangan pakai baju warna itu lagi. Masa ibu-ibu udah tua masih mau terus muda?”
“Ibu, itu kerudung Ibu kurang panjang. Tarik ke bawah kuncirannya biar enggak seperti punuk unta.”
Mulai dari hal paling kecil.
Masuk kamar mandi pakai kaki kiri ke luar dengan kaki kanan.
Masuk rumah ucapkan salam.
Ke luar WC ucapkan Ghufroonaka (Ya Allah ampuni saya). Kenapa minta ampun? Karena untuk hal yang kita anggap sepele, buang kotoran, tanpa campur tangan Allah kita tidak bisa apa-apa.

Jadi teringat yang dikatakan seorang ustadzah beberapa waktu yang lalu.
Mulai dari diri sendiri dan hal-hal kecil dahulu. Bisa jadi seorang hamba sudah hampir masuk ke neraka, tapi tiba-tiba dikejutkan oleh pahala dari amalannya. Ternyata pahala dari amalan yang dianggap kecil itu yang bertumpuk menjadi besar, dan bisa membawanya ke surga.
Pada saat mendengar itu saya malah berpikir sebaliknya.
Jangan-jangan, bisa jadi kita sudah siap masuk ke surga kelak, lalu tiba-tiba ada dosa yang menyeret kita akhirnya batal masuk surga.

Sesuatu yang mungkin kita anggap kecil seperti menyepelekan orang lain atau mungkin mencela. Kecil, tidak terasa, tapi imbasnya luar biasa. Apalagi jika dilakukan terus-menerus.
“Mulai dari diri sendiri dari hal kecil,” itu yang selalu saya ingatkan pada anak-anak.
Tularkan pada orang lain.
Biarkan orang menjadi senang dalam beragama. Merasa tentram. Setelah itu jadi haus untuk menambah ilmu.

Alhamdulillah sudah diterapkan di Liqo setiap Selasa.
Setelah qiraah Quran, kami setor hafalan Quran yang kami dapat selama satu minggu, lalu disambung tausiah.
Sebulan sekali jadwal seorang untuk maju, membacakan hafalannya di depan anggota lain. Hari ini giliran saya.
Setelah itu bisa sharing apa saja.
Kali ini kami belajar bikin adonan roti.
Saya diajar oleh tetangga saya ini. Mantan pegawai yang sekarang fokus membuat kue dan menerima pesanan. Saya lagi menghasut si ibu ini, agar mau bikin blog dan juga mengoptimalkan IG-nya.
Sudah siap-siap belajar nulis juga katanya.
“Pokoknya nanti saya ajarin nulis, ya, Mama Bilqis,” begitu katanya.
Kalau sudah begini, indah rasanya menjadi muslim.

Sebab Al Quran Bukan Tongkat Sulap, Nak

Magician wand

Al Quran. Ada getaran tersendiri setiap kali membukanya. Berbaris di kamar saya. Masing-masing kami punya dua. Untuk saya, satu untuk saya gunakan mengaji rutin mengejar target satu juz (Qiraah) setiap hari. Biasanya untuk ini, saya berjuang melakukannya setelah salat tahajud atau setelah salat Subuh. Satu untuk saya baca dengan memahami artinya (tilawah). Saya juga berjuang untuk melakukannya setiap hari. Satunya, saya gunakan telepon genggam dengan Al Quran versi android yang qorinya bisa bersuara hingga saya bisa memilih yang paling sreg di telinga. Yang itu khusus untuk menghafal dan mengulang hafalan Al Quran saya.
Anak-anak di rumah punya tiga. Satu untuk dibawa ke sekolah, satu untuk dibaca di rumah, dan satu dibawa ketika mereka berpergian.
Suami juga punya, hanya satu. Satunya menggunakan aplikasi HP untuk hafalan.

Ada getaran sendiri dan ikatan yang membuat Al Quran jadi begitu penting. Penting untuk saya karena semuanya saya pelajari secara perlahan tapi pasti. Dengan proses panjang.
Panjaaang. Dari mulai merasa bisa, karena sudah mengaji sejak kecil di madrasah. Lalu merasa bisa hanya dengan panduan membaca dan melihat yang tersaji di youtube dan radio.
Sampai akhirnya tersadar, bahwa ternyata saya belum bisa apa-apa.

“Ibu baca Al Quran pagi-pagi buat apa?” tanya Bungsu.
Saya mengangguk. “Ini benteng. Cara membuat waktu bisa Ibu kendalikan.”

Ada kewajiban di rumah untuk setiap hari membaca Al Quran. Ah, terkadang saya juga suka mengancam dengan dunia gelap di alam kubur, yang akan bisa diterangi dengan amal dan Al Quran yang kita baca.
Anak-anak bersekolah di sekolah semi pesantren, yang di rumah hanya numpang tidur. Karena guru juga terus mengontrol bahkan hingga akun ke sosial media.
Saya terjaga.
Tapi saya juga menyadari bahwa terkadang anak-anak butuh sesuatu bukan sekedar doktrin. Doktrin bahwa harus begini karena…, harus begitu karena….
Duh, anak saya adalah produk saya. Saya dulu tidak bisa langsung terima ketika orangtua berkata. Saya minta penjelasan agar saya lebih paham.

Al Quran Ajaib

“Ibu tahu. Teman-temanku yang sepuluh besar itu, hobinya pada main game.”
Deg, saya mencoba mencerna perkataannya.
“Yang penting hafalin Al Quran saja.”
Oooh, saya setuju itu. Dulu ketika saya bolos ngaji satu hari saja, lalu besoknya ulangan. Maka nilai ulangan saya sudah pasti jelek. Bukan karena pola pikir atau saya membentuk opini seperti itu. Tapi karena memang selalu itu terjadi.
Anak-anak juga tahu ketika mereka sakit, maka yang pertama saya lakukan adalah berzikir di dekat mereka, memberikan air putih yang saya bacakan doa untuk mereka. Lalu saya pijat-pijat tubuh mereka sambil saya bacakan asmaul husna. Alhamdulillah cara seperti itu membuat kami tidak menjadi langganan dokter. Cara itu saya dapatkan dari Bapak.

“Hafalan saja, Bu…”
Iya. Hafalan. Saya sering ajarkan pada anak-anak. Tentang sebuah pesantren yang hanya mengajarkan kecintaan pada Al Quran bukan kurikulum pelajaran sekolah. Tapi murid-muridnya bisa mendapat nilai tinggi ketika tes ikut ujian persamaan. Padahal hanya belajar tiga bulan.
Saya coba amati Sulung. IQ nya di atas rata-rata. Ia mudah menguasai sesuatu, dan cenderung mudah bosan. Sama seperti saya, suka kotak-katik. Mudah menguasai dengan cepat. Tapi mudah bosan. Hanya dunia menulis yang membuat saya tidak pernah bosan. Sulung juga seperti itu, hanya dunia bola yang membuatnya tidak pernah bosan.
Nilai pelajarannya?
Sulung selalu berada pada posisi anak-anak berprestasi dari SD sampai sekarang. Ketika pada rapor bayangan nilainya menurun, guru-gurunya saling bertanya, apa yang terjadi dengannya?

“Bu…, ada bola nanti malam,” katanya.
Iya cuma bola yang membuatnya bergairah. Ia akan merayu meski tidak pernah saya kabulkan untuk membeli tiket pertandingan bola. Duh, saya takut kalau-kalau salat-nya jadi terbengkalai, karena itu saya selalu menolak permintaannya untuk menonton bola. Ayahnya takut karena pernah berada pada satu pertandingan sepak bola dan terjadi kericuhan.
Maka televisi yang sengaja saya taruh di kamar atas, yang tidak dihuni hanya tempat saya menaruh setrikaan, seringnya menjadi tempatnya untuk menyendiri menonton bola. Kadang turun sambil berteriak. “Ibu…., goool. Ayo, Ayah, nonton bareng aku. Lihat, tuh. Arema kalah.”
Kadang-kadang dia merayu. “Buu, itu bepe kesukaan Ibu. Ada bepe main.”
Saya memang suka dengan Bambang Pamungkas. Alasannya dia tidak mudah emosi alias tenang. Setenang Ruud Gullit pemain bola kesukaan saya dulu, yang juga pernah membuat saya rela begadang.”
Kadang-kadang dia mengusir. “Ibuuu, jangan ke sini. Aku heran sama Ibu, kalau aku lagi nonton bola ada Ibu, pasti tim kesayanganku kalah. Kalau gak ada Ibu bisa menang.”

Biasanya dia juga merayu ke saya. “Bu, aku mau tahajud nanti malam.”
“Tahajud biar bisa nonton bola?” saya biasanya sudah bisa menebak.
“Ibu dulu begitu?”
Saya toh harus belajar jujur, bahwa saya juga pernah muda dan pernah melakukan hal yang sama. Sehingga anak akan tahu kalau ibunya tidak sempurna. Dan mereka merasa punya orang yang bisa dipercaya karena sama-sama pernah melakukan hal yang sama (Teori komunikasi bilang ini adalah field of experienced).
Saya mengangguk. “Tapi sekarang sayang. Sayang kalau tahajud Ibu diganti cuma sama nonton bola.”
“Terang aja, Ibu kan udah tua.”

Bukan Tongkat Sulap

Sulung sekarang kelas 9. Sebentar lagi dia tes masuk pesantren. Setiap pulang sekolah dia akan mencari video qori kesukaannya. Sungguh, saya juga tahu nama-nama qori dari Sulung. Saya juga jadi tahu lagu yang dinyanyikan qori. Dulu saya pernah belajar selama tiga tahun menjadi qiraah dari seorang qori yang menang di Medinah. Tapi ternyata saya menyadari kelemahan saya. Suara saya tidak merdu. Untunglah tidak merdu, mungkin kalau suara saya merdu, saya disibukkan dengan memamerkan suara saya di sana-sini.

Saya lebih banyak di rumah. Jarang bersentuhan dengan televisi. Seringnya bersentuhan dengan komputer. Tapi ketika anak-anak pulang, komputer juga sudah saya tutup. Karena saya ingin fokus dengan mereka. Kalaupun ada murid-murid yang datang ke rumah, itu juga pada saat Jumat dan Sabtu sore, di saat anak-anak juga luang. Dan mereka paham itu juga menerima, termasuk tidak akan meminta kue yang saya sediakan untuk anak-anak yang datang. Termasuk jika ada satu kue tersisa, mereka akan relakan untuk yang datang.
Artinya apa? Artinya saya tahu apa yang mereka lakukan.

Semalam saya lihat aktivitas Sulung. Besok UAS. Dia menyetel Al Kahfi qori kesukaannya Hasballah.
Sudah, dia sudah membaca Al Quran. Hari Minggu kemarin dia tidur lagi setelah salat Subuh. Tapi sesudah maghrib dia kembali tiduran di atas tempat tidur saya.
Saya tahu ada yang salah. Mukjizat Al Quran rasanya sudah dianggap seperti tongkat sulap olehnya. Bahwa dia tidak perlu belajar tapi dengarkan saja Al Quran.

“Kamu tahu…,” ujar saya di sebelahnya. “Kenapa santri-santri yang hafal Quran nilainya tinggi?”
Dia masih diam.
“Karena Al Quran menguasai otaknya. Bukan sedikit dari otaknya.”
Dia masih diam.
“Kamu tahu, kenapa Ibu terus belajar, ngaji di sana ngaji di sini? Karena Ibu merasa bodoh. Kalau Ibu merasa pintar, maka setan akan masuk dari banyak pintu. Setan akan merasa berhasil kalau membuat orang yang suka belajar, jadi berhenti belajar.”
Badannya mulai bergerak. Mungkin tidak nyaman.
“Kamu tahu, kenapa ayat pertama itu Iqra?”
Tahu, Bu. Bacalah, bacalah. Makanya Ibu suka bacakan? Iya, aku tahu Ibu memang pintar.”

Dia mulai tidak nyaman. Ada jawaban itu artinya mulai terbuka pintu komunikasi.
“Al Quran menguasai seluruh kepala. Itu artinya tidak ada yang lain yang menguasai. Kalaupun ada maka porsinya itu kecil. Kalau kamu? Bola menguasai.”
“Ibu tahu. Karena bola temanku jadi banyak. Teman, Bu. Yang bikin aku bisa tukar pikiran, yang bikin aku bisa ke mana-mana.”
“Ibu ngerti,” saya mengangguk. “Ibu enggak melarang kamu berteman. Tapi tolong lakukan bakti pada orangtua. Dengan cara apa? Sebagai pelajar, jadilah pelajar yang baik. Saatnya belajar, belajarlah. Tidak mungkin berhasil kalau tanpa belajar, hanya setel Al Quran terus menganggap Al Quran seperti tongkat ajaib. Enggak akan bisa.”
Hening.
Pas kebetulan suami sedang menyetel radio dengan ceramah tentang bakti anak. Sulung mendengarkan. Ini bukan kesengajaan. Radio itu menyala sepanjang suami di depan komputernya. Dan pas selesai saya menasehati, seorang ustadz memberikan materi tentang hal itu.
Si anak berdiri.
Ke kamar atas.
“Jangan dikecilin tivinya, ya. Belajar, ya, belajar.”
“Kok Ibu tahu, sih? Iiih, kenapa Ibu selalu tahu?” ujarnya naik ke kamar atas.

Ah, paling tidak saya si anak sudah paham apa yang saya inginkan dan saya bisa meluruskan pemahamannya tentang Al Quran.
Paginya, setelah saya libur bikin roti untuk pagi ini. Karena saya mulai bosan seminggu penuh membuat roti sendiri. Maka saya belikan roti isi untuknya. Ada dua susu coklat saya buatkan untuk keduanya.
Ibu rasanya harus mulai lagi.
Kami duduk melingkar. Saya, suami dan anak-anak.
“Jadi…, Al Quran bukan jimat. Sebab ada yang tidak mau menghafal, minta orang yang dianggap pintar nulis ayat Quran. Ditaruh di dompet, di kalung, dijadikan jimat.”
“Iya, aku tahu itu.” Kata Bungsu. “Kok bisa gitu, ya, Bu?”
“Karena banyak yang punya Quran tapi tidak mau mempelajari. Ada juga yang sudah bisa tapi tidak mau ngajak orang lain untuk bisa.”
Bungsu manggut-manggut.
Saya memandang Sulung. Sudah santai pikirannya. Semalam minta dibangunkan tahajud, ternyata saya dibuat khilaf dan baru terbangun juga pas Subuh.
“Boleh berteman dengan siapa saja,” ujar saya. Saya lihat dia mengambil dua potongan roti isi coklat. “Ibu tidak larang. Tapi ingat, teman kamu dan kamu punya kemampuan beda dan mimpi berbeda. Ada teman yang dibiarkan sama ibunya fokus di bola saja. Karena ibunya sendiri cerita, bingung enggak tahu mau gimana? Mau ngarahin seperti apa? Si anak tidak mau belajar, tidak mau apa-apa. Anaknya mau ke bola karena enak enggak usah mikir.”
Hening. Mungkin bosan.
“Kamu punya potensi. Kamu punya orangtua yang bisa mengarahkan. Muslim itu harus pintar biar tidak dipintari orang lain.”
Dia berdiri. “Aku tahu.” Masuk kamar saya dan mengulang pelajarannya lagi.

Ooh pembicaraan panjang lebar. Tapi saya puas.
Ada ruang diskusi terbuka. Ada ruang pengaruh yang masih bisa saya kuasai, hingga otaknya terbuka dan wawasannya bisa bertambah.
“Ingat menjadi terbaik dan jujur,” ujar saya ketika dia mencium tangan saya dan pergi dengan adiknya diantar oleh ayahnya.

Al Quran. Alangkah indahnya jika kita mencintainya dengan cara tidak hanya memandanginya. Tidak hanya puas dengan belajar sendiri tapi mencari guru. Karena ada ayat-ayat yang turun dalam kondisi tertentu yang harus dibantu penerjemahannya oleh ahlinya yang memang belajar untuk itu.