Coban Rondo dan Seorang Bidadari

Perempuan itu selalu bermimpi menjadi bidadari. Terbang tanpa sayap. Sejak dulu hingga saat ini. Sebab memandangi pepohonan, awan dan air adalah suatu bentuk ketenangan untuknya. Ketika ketegangan melanda, pada malam harinya ia selalu bermimpi. Terbang dan bahagia di antara gumpalan awan-awan.
Perempuan itu bermimpi menjadi seorang bidadari yang mandi di bawah air terjun, melepas selendangnya. Lalu seorang lelaki jatuh cinta dan menyembunyikannya. Menahannya untuk menjadi istri.

Sudah lama sekali mimpi yang terkubur dalam itu ingin diwujudkannya. Ia tidak butuh tempat yang mewah. Ia hanya ingin berada di pelukan alam. Berada di bawah air yang memercik. Air yang membasahi tubuh yang turun dari tempat tinggi. Setelah itu bisa luruh semua beban.

“Museum Angkut?” tanya Jaka Tarub yang sudah menjadi suaminya, pada malam hari ketika mereka tiba di Malang dari Blitar.
Bayangan air terjun itu menggoda. Sudah delapan hari lamanya dan setiap hari diisi dengan pergi dan pergi. Untuk anak-anak. Untuk ikatan keluarga. Untuk kenangan yang bisa mereka kais di masa depan nanti.
Hari hari mereka sudah terlalu padat. Emosi sudah tidak stabil. Mereka berdua sudah butuh liburan. Anak-anak juga punya beban berat. Sekolah mereka full day school.
Sebuah ketenangan. Air yang memercik, hawa dingin yang memeluk dan kabut yang terhampar yang akan membawanya ke negeri damai tanpa beban.
Sungguh ia ingin menjadi bidadari tanpa beban, melayang bebas, lalu setelah itu tidak ada masalah lagi ketika kenyataan memeluknya erat. Sebab besok dan besoknya, ia masih bisa mengenang pengulangan menjadi bidadari.

“Coban Rondo,” ujar Perempuan itu. Tersenyum sendiri. Membayangkan suatu masa ketika ia hadir sendiri tanpa teman. Lalu gamang. Dan air terjun yang memercik membuatnya seperti menemukan sesuatu kekuatan baru. Ketenanganan bercampur ketegaran.
Jaka Tarub-nya pada waktu itu adalah seorang ilustrator. Ia tidak pernah tahu akan ada sebuah pertemuan. Jaka Tarubnya biasa mengilustrasi naskah-naskahnya di buletin khusus yang terbit setiap bulan, dan di kartu-kartu ucapan. Selendangnya tidak diambil. Tapi perhatiannya diraih sedikit demi sedikit.

“Coban Rondo?” anak-anak bertanya.
“Air terjun. Biar kalian tahu lebih banyak tentang alam,” ujar Perempuan itu dengan mata dipenuhi kenangan. Ia membayangkan air terjun yang akan menenggelamkannya dalam kenangan, lalu membuatnya kembali memiliki selendang yang akan membawanya terbang kembali ke langit.

Coban Rondo itu masih di tempat semula. Di daerah wisata Batu Jl. Coban Rondo, Pandesari, Pujon, Malang, Jawa Timur 65391.
Perempuan itu harus bersabar. Membiarkan Jaka Tarub berkumpul bersama teman-teman masa lalunya pada satu malam. Untuk mengenang suatu masa. Malamnya matanya tidak bisa terpejam. Membayangkan air yang menghempas-hempas, tawa yang hadir dan kenangan yang memeluk.
“Kita mau ke mana?” tanya dua anak-anak padanya untuk memastikan.
Mereka sudah berangkat. Menuju jalan berbelok, mendaki dan menurun.
“Ikuti saja Ayah kalian maunya ke mana,” ujarnya sambil memejamkan mata. Terbuka sedikit matanya untuk melihat pohon-pohon, kabut juga jurang. Matanya kembali terpejam. Membayangkan juga mengenang.

Mereka tiba akhirnya.
Hawa dingin semakin menyergap. Jalan menanjak, berbelok dan menurun. Hutan-hutan jati. Bayangan tentang sekumpulan bidadari memenuhi benak.
Perempuan itu berusaha mengahalau bayangannya. Dua puluh satu tahun yang lalu, membayangkan diri sebagai bidadari. Dan bidadari itu sekang sudah menjelma menjadi ibu dari dua remaja. Waktu yang sangat panjang.
Pohon-pohon yang dulu liar sekarang berubah menjadi lebih bersahabat. Setiap sudut ditata dengan baik.

Ada harga yang harus dibayar untuk keindahan tersebut. Tiket masuk seharga 21 ribu rupiah.
Yang pertama Perempuan itu cari adalah mushala dan toilet. Lalu mencobanya. Di dekat air terjun, bukan mushala namanya. Tapi lebih pantas disebut masjid. Perempuan itu tidak masuk ke dalam karena belum waktunya shalat.
Tapi toilet, bahkan berkali-kali. Air dan air. Perempuan itu mencintainya dan sering ingin berlama-lama bersama air yang mengalir deras.

.

Ia memang bukan bidadari. Tapi selalu membayangkan seperti seorang bidadari. Bidadari yang tanpa beban. Turun untuk melihat dunia. Bersenang-senang bersama teman yang lain. Sampai akhirnya seorang Jaka Tarub mencuri selendangnya.
Air terjunnya masih sama seperti yang dulu. Percikannya turun jatuh ke batu, membuat siapa yang di dekatnya bisa basah bajunya. Tapi sensasi basah itulah yang dicari.
Perempuan itu melihat seorang gadis kecil dan ayahnya berbasah-basahan di bawah air terjun. Ada sungai juga dengan batu-batu besar yang dijadikan tempat berfoto untuk pengunjung.
“Ayo ke sini,” ajaknya pada anak gadisnya.
“Batunya licin, Bu,” Si Anak menolak.
“Ayo sama Ibu…,” Perempuan itu menggandeng tangan anak gadis. Naik ke atas batu.
“Di situ airnya muncrat, Bu. Nanti bajuku basah.”
“Justru itulah kenangannya,” ujar Perempuan itu meyakinkan.
Mereka bergandengan. Berada dekat sekali dengan air terjun yang tumpah. Daaan.
“Bajuku basah, Bu.”
Bajunya juga basah. Tapi ia bahagia. Sepertinya kenangan masa lalu telah melingkarinya seperti bulatan balon tranparan. Ia ada di dalamnya, tenggelam dalam bahagia.
Kerudung panjangnya berkibar dihempas angin dan air yang tercurah. Ia merasa sedang terbang dengan sayapnya. Dan ia bahagia, lepaslah semua beban.

Tidak jauh darinya ada seekor monyet sedang kedinginan di dekat sungai.
Ada papan peringatan yang dipasang dekat sungai. Pengunjung yang lain masuk dan berfoto di sana.
Tulisan itu terbaca. Si Perempuan memutuskan, tidak mau ikutan masuk ke sungai.

Labirin dan Spot Foto

Ia bukan bidadari. Hanya senang membayangkan. Juga bukan dicuri selendangnya. Ia berikan untuk sebuah ikatan suci bernama pernikahan. Dan ia menyadari segala yang harus dijalaninya. Menjadi istri, ibu, bergulat dengan semua pekerjaan. Hanya kadang-kadang ia butuh selendang untuk terbang. Hingga ia bisa lepas dari beban, tidak sekedar hanya dalam mimpi saja.
Coban Rondo tidak seperti dulu lagi. Ada banyak yang berubah. Jalan yang bagus, sudut-sudut tertata rapi. Perempuan itu kagum dengan pembangunan yang ada. Toilet dan mushala ada di mana-mana. Bersih dan besar.

“Masih ada tempat yang lain,” ujar Jaka Tarub padanya.
Masih ada tempat yang lain dan ia hanya kenal satu tempat saja. Air terjun itu. Dulu tidak ada tempat yang lain.
Ia butuh waktu untuk menyendiri. Maka berjalanlah ia sendiri duduk di atas bebatuan.
Bukankah bersenang-senang tidak perlu sepanjang masa?
Bukankah seorang bidadari di bumi akan selalu membuat cemburu bidadari di langit?
“Ayo, Buuu.”
Ia mengangguk. Siap berjalan lagi.

Mereka mencoba tempat lain. Seorang bidadari yang sudah kembali menemukan jati diri. Kebahagiaan penuh melingkari.
Ada Labirin. Perempuan itu dan Bungsu yang mencoba, mau merasakan sensasi tersesat dengan harga sepuluh ribu.
Ada pohon yang diberi banyak pita warna-warni yang berjuntai. Ada sewa motor seharga tiga puluh ribu. Ada tempat lain untuk spot foto yang menarik. Semacam ayunan warna-warni yang digantung di antara dua pohon, dan pemandangannya jurang dan pohon-pohon pinus. Tapi mereka tidak mencobanya, karena badan sudah lelah, lagipula perempuan itu sudah janji dengan salah satu murid menulis yang sudah lama berteman, untuk singgah ke rumahnya.
Ada area pananah, yang bisa disewa dengan harga lima ribu rupiah, naik kuda juga bisa.

Perempuan itu dalam keadaan penat sering bermimpi. Melayang-layang terbang di udara.
Sekarang mimpi itu sudah terpenuhi.
Perempuan itu tersenyum, ia memutuskan untuk melipat kenangan 21 tahun silam di tempat yang sama. Ia sudah sangat bahagia.

Kampung Coklat, Wisata Edukasi Murah Meriah

“Ayo ke kampung coklat.”
Ajakan itu diucapkan oleh satu orang keponakan yang tinggal di Blitar. “Kampung coklat bagus.”
Wisata, wisata, wisata. Memang itu yang ada di kepala kami , ketika memutuskan untuk liburan panjang sekeluarga. Karena itu setiap lemparan ide tempat wisata, langsung kami tanggapi dengan pertanyaan. Di sana ada apa? Jauh tidaknya?
Karena bayangan saya tentang kampung coklat adalah sama seperti toko-toko coklat di Bekasi dan Jakarta. Menyediakan semua produk makanan dan minuman coklat dan berkreasi dengan coklat. Itu saja.

Here We Are

Rencananya kami berangkat pagi. Rencananya lho. Tapi rencana tinggal rencana. Bagaimana mungkin berangkat pagi, sedang tubuh orang kota seperti kami seperti sedang dipeluk dingin erat sekali. Beranjak dari tempat tidur malas rasanya.
Agak siangan ketika matahari sudah muncul kami baru mulai berangkat. Siap-siap. Piknik pertama kami untuk musim lebaran kali ini.

Kami harus melewati jalan melalui bendungan Karangkates, dan juga jajaran hutan jati. Pemandangan yang asyik untuk saya yang mata dan pikiran harus dibuat fresh.
Sampailah kami di Kampung Coklat. Musim liburan, maka ramai kendaraan di luar. Kami cari parkiran terdekat dengan pintu masuk, bersebelahan dengan masjid. Bersebalahn persis dengan pintu masuk Kampung Coklat.
Aalamatnya ada di Jl. Banteng – Blorok No. 18, Desa Plosorejo, RT. 01 / 06, Kademangan, Plosorejo, Kademangan, Blitar, Jawa Timur 66161
Sebuah gedung yang besar dan bagus. Paling tidak mindset tentang coklat di kepala saya tersingkirkan sudah.
Masuk di aula besar, menuju tempat penjualan tiket. Tiket masuknya hanya lima ribu rupiah. LIma ribu? Untuk penghuni kota seperti saya, itu cukup murah meriah.

Ada pohon-pohon coklat yang tinggi dan ada buahnya. Buah-buah coklat yang sudah matang menempel di batangnya.
Ada tempat seperti kolam. Di situ ada banyak ikan-ikan kecil. Kita bisa menyewa tempat di situ, duduk dapat bantalan untuk duduk, dan bisa merendam kaki untuk digigiti ikan sepuas hati kita. Harganya lima ribu rupiah juga.
Ada juga kebun coklat kecil, ditanami pohon-pohon coklat di dalam pot.

Kursus Menghias Coklat dan Spot untuk Foto

Tidak jauh dari kolam, ada restoran. Bukan hanya menjual produk coklat, sih. Tapi makanan lain seperti rujak juga dijual. Saya sendiri lebih suka membeli minuman coklat hangat untuk meningkatkan rasa bahagia. Salah satu manfaat coklat kan untuk meningkatkan rasa bahagia.

Tidak jauh dari sana ada ruangan tempat para pekerja membungkus produk coklat olahan mereka. Satu ruangan berdinding kaca menarik perhatian saya. Kursus menghias coklat.
Maka saya ajak Bungsu saya ke sana untuk belajar menghias coklat. Belajar mandiri, sih, karena tidak ada pembimbingnya. Bayar lima ribu untuk coklat kecil dan dua puluh ribu untuk coklat ukuran besar. Setelah membayar kita diberi nota untuk diberikan ke mbak yang akan memberikan kita coklat sesuai harga yang kita pilih. Lalu diberi beberapa pewarna untuk menghiasnya.
Ambil tempat di salah satu kursi maka hiaslah sesuka hati. Hasil hiasan itu buat kita sendiri untuk kita nikmati.

Tidak ada lagi yang dilihat, lagipula pengunjung cukup ramai, maka kami memutuskan untuk ke luar. Seperti jalan ke luar tempat wisata lain. Akan dihadang dengan rak-rak menjual produk yang mereka hasilkan. Ada coklat mulai dari permen sampai pop corn. Ada coklat bubuk bahkan ada t-shirt juga. Bungsu saya sarankan membeli coklat bubuk untuk teman-temannya.

Di jalan menuju pintu ke luar itulah ada beberapa spot foto. Harus sabar-sabar menunggu kosonglah, karena banyak yang ingin berfoto di situ.
Dan sepertinya ini spot yang paling menarik dibandingkan yang lain.

Kami harus pulang.
Anak-anak juga sudah puas.
Ini pengalaman yang pastinya akan mereka ingat dengan senang hati.

Ketika Penulis Diorder Penerbit

Diorder menulis?
Puluhan tahun menulis untuk media cetak, saya jaraaang sekali diorder nulis oleh media cetak, untuk menulis dengan tema tertentu. Biasanya dulu saya mengirim tulisan berupa artikel, puisi atau cerita pendek, dengan cara berlangganan majalah tersebut. Jadi dari satu tahun bisa mempelajari tema apa yang belum diangkat oleh majalah, sehingga ketika saya menulis, tulisan saya mudah diterima dan dimuat.
Cara seperti itu membuat saya tidak menggampangkan, dan terus mengasah feeling, juga berjuang untuk menulis yang berbeda.

Saya fokus untuk menulis di segala kondisi. Jungkir balik sebagai ibu baru, jungkir balik sebagai karyawan, jungkir balik sebagai istri, tetap menulis, tetap ikut lomba. Tidak pernah terpikir juga untuk diorder menulis oleh media cetak juga penerbit.

Ketika Masa itu Datang

Saya selalu percaya sebuah masa. Ada masa bersusah payah, pasti ada masa bersenang-senang. Ingat dengan mimpi di zaman Nabi Yusuf. Tentang tujuh tahun kekeringan dan tujuh tahun masa panen. Kita tidak akan pernah terpuruk selamanya, atau bersinar selamanya.
Dengan berpikir seperti itu, tidak akan sempat merasa hebat ketika diorder naskah oleh penerbit, tidak juga merasa putus asa ketika tidak diorder naskah.
Buat saya diorder naskah atau tidak, saya tetap mencari peluang untuk menulis. Dan justru itu yang membuat saya semakin bergairah dengan menulis. Menghadapi sesuatu yang tidak pasti, dan bergantung pada Allah, Sang Maha Pembuat Kepastian.

Masa diorder oleh penerbit dan buku best seller akhirnya pernah saya rasakan juga.
Masa diorder dan sudah dibayar cash, buku tidak terbit, pernah juga.
Masa pernah dibayar sebagai reviewer atau first reader untuk naskah yang mereka terima, pernah juga.
Masa pernah dibayar sebagai editor pernah juga.
Bahkan masa dikontrak sebagai pengisi kolom di sebuah media cetak, juga pernah.

Pengalaman seperti itu tidak datang begitu saja. Ada tulisan yang terus saya hasilkan. Ada lomba-lomba yang saya ikuti, dan saya menangkan. Sehingga ketika saya membuat proposal menawarkan naskah atau menawarkan kerja sama, pengalaman menulis di sana sini, membuat poin saya jadi lebih di mata mereka.

Penerbit itu diisi oleh para manusia. Artinya mereka punya hati punya misi juga. Mereka akan memilih penulis yang bisa cepat mengerjakan naskah. Bahkan lebih senang jika kreatif dan memberikan masukan terhadap naskah tersebut. Plus mau membantu menjualkan ketika naskah itu sudah berbentuk buku.
Penerbit juga mau dengan penulis yang total mengerjakan naskah itu. Biarpun naskah hanya lima puluh halaman, tapi mau membaca rujukan setebal seribu lima ratus halaman.
Dan para penjaga gawang di penerbitan ini, banyak berkeliaran di sosial media. Mereka akan menghubungi penulis yang mereka anggap layak dengan kriteria mereka.

Teruslah menulis.
Alhamdulillah tahun ini saya menulis 14 naskah pesanan penerbit. Duabelas sudah selesai, dua sedang disusun. Tapi bukan berarti saya santai-santai setelah itu.
Di sela-sela menulis, saya masih bisa mengajar kelas menulis, masih bisa menulis naskah sendiri, masih bisa ikut lomba, masih bisa ngajarin anak, masih nulis di blog juga.
Buku ini adalah buku yang diorder penerbit kepada saya. Beberapa foto di dalamnya, saya jepret sendiri dan susun sendiri.

Pingin diorder penerbit?
Tulis yang banyak, sebanyak-banyaknya.
Berdoa sebanyak-banyaknya.

Penulis, Perlukah Bisa Bicara di Depan Umum?

“Aku penulis.” Saya ingat dulu itu yang saya katakan dengan kaki gemetar.
Iya, saya penulis. Saya jadi penulis karena merasa nyaman tidak perlu tampil di atas panggung, untuk menyuarakan suara hati saya. Dulu zaman SD, saya memang terbiasa untuk tampil. Dari baca puisi sampai menyanyi, dan menari. Itu juga tanpa dorongan orangtua. Tapi kepercayaan itu datang dari guru, ustadz, juga teman.

Lama kelamaan setelah saya kenal menulis, saya lebih nyaman untuk tidak di panggung. Saya lebih suka menuangkan semuanya dalam bentuk tulisan. Semuanya. Karena semuanya itu sudah saya luapkan dalam bentuk tulisan, maka dampak baiknya adalah saya tidak butuh bersuara. Saya merasa nyaman dengan dunia sendiri. Merasa orang menuduh ini dan itu tidak apa=apa. Sudah saya tuangkan semuanya dalam bentuk tulisan.

Semakin lama lagi ternyata saya seperti punya dunia sendiri. Membangun angan-angan sendiri, komunitas dalam angan-angan. Orang lain tidak mengerti tidak masalah. Saya sudah bahagia.

Akhirnya….

Akhirnya si katak dalam tempurung, Bapak selalu mengingatkan agar saya jangan jadi katak dalam tempurung. Saya jangan merasa sudah oke. Uh, jadi ingat si anak SMA yang sedang booming di sosial media. Seusianya berteman dengan berbagai macam buku, pastilah akan menemui kondisi seperti saya. Susah menemukan lingkungan yang pas untuk diajak ngobrol. Untung zaman dulu tidak ada sosial media. Jadi semua pikiran dan keanehan hanya berkecamuk untuk diri sendiri saja.

Begitu saya memutuskan untuk berubah, maka perubahan itu terbentang di depan mata. Ketika itu saya putuskan, saya harus kuliah di tempat yang umum, bukan lagi di Universitas Terbuka. Tujuannya biar saya punya lingkungan dan teman sepergaulan. Dari sana mungkin saya bisa belajar untuk berjalan mundur.

Terlambat lima tahun saya ketika masuk kuliah. Teman-teman saya lima tahun lebih mudah. Ada memang yang lebih tua dari saya, tapi kebanyakan pegawai yang butuh gelar untuk kenaikan jabatannya.
Bersyukur karena biasa menulis, dan semua beban masalah tersalurkan, sehingga wajah saya tidak menua. Artinya ketika kumpul dengan yang lebih tua, saya malah sering dianggap lebih muda.

Itu titik awal perubahan. Persis seperti satu ayat dalam Al Quran. “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” Q. S. [13] : 11.
Saya yang bisa merubah nasib. Bukan orang lain. Ketika saya berjuang untuk itu, membuka semua pintu kemungkinan, maka akan terbukalah semuanya.

Saya kuliah dan terus menulis. Uang pangkal kuliah saya bayar dari menang lomba cerita bersambung majalah Gadis dan nominasi majalah Gadis. 4 juta dulu uangnya. Uang kuliah saya bayar dengan honor-honor menulis saya.
Tentu saya memperkenalkan diri sebagai seorang penulis kepada dosen dan teman-teman. Pada masa itu, kebetulan saya produktif. Produktif yang menjadi keharusan, karena saya harus bayar kuliah.
Karena produktivitas itu, saya diminta beberapa media untuk tampil dalam acara media tersebut. Acara di beberapa kota.

Tampil? Iya, tampil yang sebenarnya tampil. Jadi pembicara pula. Dan lawannya orang-orang yang sudah punya nama besar. Alhamdulillah, saya tambah grogi. Tapi bahagia.
Lalu pihak universitas juga minta saya jadi pembicara di kampus beberapa kali. Audience dosen dan teman kampus. Grogi juga. Karena si audience anak-anak FISIP yang waktu itu lagi senang demo menentang orde baru. Tapi saya tidak dibantai kok. Tahulah mereka, saya bukan teman yang suka ribut dan suka menjatuhkan orang. Jadinya mereka pun hati-hati bersikap kepada saya ketika saya di panggung.

Lanjut Terus

Saya pikir pengalaman bicara di depan umum itu, akan berhenti sampai di situ. Jadi ibu rumah tangga, tetap nulis. Kembali ke zona nyaman. Bukan jadi pembicara setelah itu. Karena saya ngantor dan malah sering dipercaya jadi pengajar karyawan baru.
Keahlian mengajar melebar, akhirnya jadi mengajar anak-anak tetangga.
Saya nyaman menulis dalam keheningan. Baru sadar kalau saya harus tampil ketika saya menerbitkan buku dan diminta launching.
Saya tidak suka berpenampilan yang aneh-aneh. Maka saya selalu tampil seadanya. Adik-adik saya yang suka protes, kadang mereka memilihkan baju yang pas untuk saya. Biar enak dilihat, begitu kata mereka.

Saya harus mau berkembang. Saya harus berani tampil.
Satu jam atau setengah jam sebelum tampil, biasanya saya sudah ada di tempat. Saya harus membayangkan diri saya ada di sana. Saya bisa memahami lokasinya, audiencenya.
Biasanya saya juga hanya akan bicara tentang menulis sesuai keahlian saya.
Tapi pernah ketika jadi pembicara di UNS yang dihadiri dosen dan seratus orang mahasiswa, saya berdoa sambil memasukkan kekuatan ke otak saya. “Hei, Nur, mereka itu gak tahu apa-apa tentang menulis. Meski mereka ada di fakultas sastra, tapi pengetahuan mereka masih minim. Kamu punya banyak ilmu yang bisa dibagi untuk mereka.” Itu kalimat yang terus saya dengungkan di kepala saya.
Biasanya setelah itu lancar.
Di tempat lain juga seperti itu. Mereka yang datang, ingin mencari ilmu. Kenapa saya harus takut berbagi ilmu?

Saya terus berproses. Menyadari bahwa penulis zaman sekarang tidak bisa lagi bersembunyi di balik tulisannya. Orang ingin tahu lebih banyak, siapa penulisnya. Apakah kebaikan yang ditulis penulis, benar tercermin dari sikapnya? Apakah ilmunya benar diresapi atau sekedar copy paste.

Saya masih terus belajar untuk itu. Memperbaiki diri, memperbaiki kualitas tulisan, dan memperbaiki kualitas ketika harus tampil. Tujuannya biar yang menerima ilmu saya merasa nyaman dan ilmunya bisa merasuk lebih dalam lagi.

Mengajarkan Perbedaan Pada Remaja

Buku harian bergambar Doraemon itu terbuka. Ada kalimat pendek yang membuat saya tersentak ketika membacanya. “Aku seneeeng banget. Hari ini bisa pergi belanja di Naga bareng temen. Tapi Ya Allah…, aku gak shalat.”

Saya menarik napas panjang ketika membaca buku harian itu. Napas sangat panjang. Mungkin hal seperti itu tidak akan dimengerti oleh orangtua lain, yang beranggapan bahwa anak bebas melakukan apa saja. Tapi tidak untuk saya.
Sama perihnya seperti ketika menyekolahkan Sulung di sekolah umum. Kebetulan jadwalnya masuk siang mulai dari jam dua belas lebih lima belas menit.
Teman-temannya pergi ke sekolah pada jam setengah dua belas. Mungkin dia juga ingin merasakan hal yang sama.
Maka saya biarkan ia pergi bersama teman-temannya. Pulang sekolah, ada sesuatu yang aneh di wajahnya. Seperti ingin bicara tapi takut.
“Tadi kamu enggak shalat di sekolah?”
Dia mengangguk. Azan dzuhur pada waktu itu jam setengah satu. Dia tidak berani untuk minta izin ke luar kelas. Teman lainnya tidak ada yang izin untuk shalat.
Perih yang saya rasakan pada saat itu, mungkin ada dirasakan lebay oleh orangtua lain, yang beranggapan bahwa hal itu biasa saja.

Saya Bukan Kamu

Ada perbedaan. Banyak perbedaan di sekeliling kita. Menjadi sadar bahwa kita adalah unik, dan keunikan itu harus terus digali, membuat saya tidak pernah takut berbeda.
Dulu ketika SD, cuma saya dan dua teman saya yang suka ke perpustakaan dan meminjam buku-buku perpustakaan. Hasilnya juara satu, dua dan tiga nilai tertinggi pada masanya kami yang meraih.
Perbedaan dalam agama, solusinya hanya satu. Harus terus menuntut ilmu dan berjuang menggali ilmu yang benar, dari para ahli agama. Bukan belajar dari orang yang hanya menafsirkan ayat sesuai versi mereka.
Tidak perlu berdebat di sosial media soal agama. Kalau rasa ingin berdebat meninggi, lebih baik berjuang membaca buku-buku dan menambah ilmu.

Perbedaan itu normal. Jika saya suka merah, tetangga suka kuning, itu perbedaan juga namanya. Jadi kalau tetangga mengecat rumahnya dengan warna kuning, saya tidak boleh ngamuk dan bilang tetangga tidak toleran. Semua ada batasannya. Semua tergantung cara kita menyikapinya.

Lanjut ke dua anak remaja yang memang saya perhatikan betul perkembangannya. Mereka yang membuat saya keukeuh menolak tawaran untuk ngantor lagi secara full. Baru setelah mereka remaja, dan saya sudah yakin kemandiriannya, saya siap lagi menerima tawaran untuk ke sana dan ke sini, belajar sehari dua hari meninggalkan mereka, seizin ayahnya anak-anak.

Semua perbedaan sah. Kalau dalam rumahtangga adanya konflik karena perbedaan. Mau langgeng, mari bergandengan tangan. Mau berantakan, silakan dengan ego masing-masing. Cari titik temu, dan mau berubah ke arah yang lebih baik. Berubah karena memang yakin perubahan itu mendatangkan kebaikan, bukan karena tekanan dari pasangan.

“Ibu, aku takut berbeda,” ujar Sulung suatu hari.
Anak yang diajarkan dengan perbedaan sejak dulu, ternyata masih takut juga bila berhadapan dengan perbedaan.
“Kalau aku berbeda dari teman-teman soal agama…”
Saya hanya menjentikkan jari telunjuk dan jempol saya. “Perbedaan itu kecil. Terus belajar saja. Ibu yang akan ngajarin kamu,” ujar saya.
Semakin diulang-ulang ketakutan itu, semakin belajar saya, untuk terus berdiskusi.

“Ibu…., temanku tuh gak ada yang nulis,” ujar Bungsu suatu hari. Ia tidak mau menulis, juga membaca. Teman-temannya tidak suka melakukan hal itu.
Maka saya hanya bilang, bahwa berbeda itu tidak enak. Tapi hasilnya baru akan terasa kelak, puluhan tahun ke depan. Ketika teman kamu masih berpijak di tempat yang sama, kamu sudah ada di mana-mana. Ketika teman kamu masih ada di atas lautan, kamu sudah masuk dan melihat banyak macam keindahanya.

Perbedaan itu fitrah.
Itu yang saya ulang-ulang pada anak-anak. Harus terus cari ilmunya agar hidup terus berjalan maju tidak mundur.
Sebagai ibu yang bekerja di rumah, dan suka sekali membaca buku, saya jelas merasa berbeda dengan para tetangga. Tapi mengucilkan diri dan membuat perbedaan itu semakin besar juga aneh rasanya. Maka cara yang saya tempuh adalah dengan meminjamkan buku-buku saya pada mereka, dan mengenalkan pekerjaan yang bisa dikerjakan di rumah. Jadi ketika saya tidak kumpul di sore hari, mereka paham saya sedang bekerja dari rumah.

Dan hasil perbedaan yang dua remaja dapatkan adalah, menjadi diri sendiri. Prestasi yang mereka dapatkan adalah buah dari pelajaran fokus meniti jalan yang berbeda.

Ning dan Kue Kering Tanpa Telur

Kelopak matanya terbuka lebar. Sebuah gambar yang Ning tunjukkan membuat senyumnya mengembang.
“Mau mencoba?”
Ning memandangi kue itu. Kue kering berwarna putih. Dengan tulisan resep di bawahnya. Dari sebuah akun instagram.
Sebuah kue tanpa telur tanpa terigu.
“Hanya 125 gram butter/margarine, 80 ml susu kental manis dan 200 gram maizena.”

“Hanya itu?”
Ning mengangguk.
Hanya itu saja bahannya. Mungkin hanya akan menghasilkan sedikit kue. Mungkin Ning harus membuat takaran dua kali lipat agar bisa menghasilkan lebih banyak lagi.

Maka pada pagi menjelang siang, setelah dua kali putaran sepeda, Ning memutuskan.
Kue kering sederhana harus mengisi toples-toples kosongnya hari ini.
Dua kali dari bahan yang disebutkan.
Dicetak dengan alat pencetak kue.

Ning mencampur mentega bukan butter, dengan susu kental manis. Setelah tercampur rata dan diaduk dengan garpu, Ning memasukkan tepung maizena.
Adonan masih terasa lembek, tapi Ning tidak paham ukurannya.

Oven sederhana itu sudah di atas kompor. Adonan sudah berada di loyang dan dibentuk. Loyang tidak perlu disemir mentega lagi.
Kue dimasukkan dan meleleh sempurna.
“Meleleh,” ujar Ning seperti putus asa.
Kelopak mata lelaki itu mengecil. Menunjuk tepung terigu yang ada. “Mungkin perlu ditambah terigu.”

Dan lelaki yang ada di samping Ning membantu sepenuh hati. Mencetak setiap adonan dengan alat pencetak yang tinggal ditekan.
Ning ditinggal sendirian ketika semua cetakan sudah berada di dalam loyang.

Kue-kue itu dimasukkan ke dalam oven.
Menunggu beberapa saat.
Mengering dan matang.

“Seperti rasa kue kering sagu keju,” ujar lelaki itu dengan kelopak terbuka dan senyum mengembang lebar.
Ning tersenyum.
Toples-toplesnya berisi kue kering lagi.
Dan ia pun tersenyum lega.

Ketika Proses Mengeja Juz Amma, Membuat Generasi yang Tidak Instant

Pernah mengaji?
Mengenal juz amma versi tahun 1970 an?

Saya produk mengaji tahun 1970 an, dan menghasilkan anak-anak dengan produk tahun 2000 an. Saya dulu mengaji di madrasah dan mengaji ke seorang guru ngaji. Dua kali mengaji sepulang skeolah.
Pulang sekolah, istirahat sebentar, makan ganti baju dengan seragam madrasah, lalu pergi ke masjid yang berfungsi sebagai madrasah.
Apa yang diajarkan di sana?
Banyak termasuk ilmu fiqih, hadist, tajwid, Bahasa Arab, sampai hafalan Al Qur’an.
Pulang lagi, malam sehabis maghrib saya kembali lagi mengaji ke guru ngaji untuk khusus belajar tajwid dan membaca Al Quran. Otomatis tidak ada waktu untuk belajar di sekolah, ya.
Tapi entah kenapa pada masa-masa itu, masa SD dan SMP, nilai saya selalu tinggi. Hingga saya bisa mengambil kesimpulan bahwa yang melancarkan otak saya adalah karena mengaji.
Soalnya ketika besok ada ulangan, kok bisa tiba-tiba terbersit di otak pelajaran yang harus saya pelajari dan menurut feeling saya akan ke luar. Dan besoknya itu terjadi.
Pernah, ada soal yang saya tidak pernah belajar sama sekali.
Guru di sekolah hanya mengajari tentang kaum Muhajirin. Lalu di tes ada soal tentang kaum Anshor. Maka logika saya hanya mengajak untuk menjawab dengan logika berdasarkan ilmu tentang kaum Muhajirin.

Mengaji Zaman Dulu

Apa, sih, yang dipelajari dalam pengajian zaman dahulu?
Kami mengaji untuk lancar membaca Al Qur’an dengan juz amma model seperti di atas. Waktu itu belum hadir buku Iqra yang langsung membaca a i u.
Untuk menghasilkan kata a i u, kami harus mengenali huruf satu persatu lebih dahulu. Dari alif sampai ya.
Setelah semua huruf kami kuasai, maka mulai mengeja.
Alif fathah a, a.
Alif kasrah i, i.
Alif dhomah u, u.
A i u.

Kami tentunya tidak bisa langsung membaca dalam satu pertemuan. Setiap pertemuan lanjut tidaknya ditentukan dengan kemampuan kami.
Setelah itu ada proses menyambung huruf. Huruf di depan, huruf di tengah dan huruf di akhir.
Setelah lancar semua, horeee kami naik tingkat.
Bisa membaca juz amma alias surah pendek di juz 30. Dimulai dari Al Fatihah. Tapi selancar apapun kita sudah bisa mengeja, tetap surah itu harus diejak juga.
Misalnya
Bismillahirrahmanirrohiim
Dieja dulu dengan ba sin mati kasrah bi. mim lam lam tasjid kassrah mil, lam fathah la, ha ra tasjid kasrah hir, ra fathah ra, mim fathah ma, nun ro tasjid kasrah nir, ra fathah ra, ha kasrah hi, mim kasrah mim.
Baru bisa baca langsung kalimat bismillah.
Dan sepanjang membaca surah Al Fatihan harus dieja seperti itu. Jadi sekali setor ke ustadzah tidak ada yang bisa langsung selesai dari ayat pertama sampai ayat terakhir.Paling mentok hanya dapat tiga ayat.

Tapi apa yang saya dapat dari hasil mengeja seperti itu?
Saya ternyata menjadi generasi yang setia pada proses, tidak patah semangat.
Dan mudah membuat target yang dipatuhi untuk mencapai target tersebut.

Anak-Anak Hebat di Sekolah Alam Bogor

Seminggu yang lalu ada pesan masuk di inbox FB saya. Pesan dari Ruri Irawati yang bertanya. Maukah saya mengisi sharing kepenulisan di Sekolah Alam Bogor, tempat anaknya menimba ilmu?
Ruri Irawati ini enam belas tahun yang lalu pernah jadi teman sekantor saya, lalu kami bertemu di FB dan dia jadi murid menulis saya.

Sharing kepenulisan saja sudah membuat saya melonjak girang. Audiencenya anak-anak, membuat saya bahagia. Dan sekolah alam, membuat rasa ingin tahu saya yang besar semakin membesar saja.
Ketika saya bilang oke, Ruri lalu menghubungkan saya dengan Pak Erfano. Pak Erfano ini yang membina klub menulis di Sekolah Alam Bogor.
Saya terhubung dengan Pak Erfano. Lalu beliau bicara tentang tekhisnya. Fee saya sebagai pembicara dan hal detil lainnya. Termasuk di mana acara itu berlangsung.
Oke. Setuju. Saya ditanya mau pakai apa? Jika ingin slide nanti akan dipersiapkan. Tapi sungguh berkali-kali mengajar, saya tidak suka menggunakan slide. Alasannya sederhana. Saya tidak ingin orang terkantuk-kantuk mendengarkan penjelasan saya. Dan saya tidak mau gambar-gambar di dalam slide jadi lebih menarik dari paparan saya.

Wayang-Wayangan Gambar

Persiapan yang saya lakukan sebenarnya sama dengan persiapan mengajar di Kelas Inspirasi. Hanya setelah saya browsing tentang sekolah alam tersebut, saya mulai bisa lebih mengukur audiencenya. Penyelenggara bilang audience mereka anak kelas empat, lima, enam juga anak SMP.
Pelajari fanpage dan web sekolah alam, saya mulai bisa mengukur audiencenya. Mereka yang sudah mulai terbiasa dengan klub menulis, pastilah punya sesuatu tentang ilmu menulis, yang sudah disampaikan oleh guru-gurunya.
Mereka yang setiap tahu ada program literacy, pastilah punya ilmu lebih ketimbang yang lainnya.
Dan mereka dididik dekat dengan alam dan bebas berekspresi, pastilah akan menjadi responden yang aktif.

Saya persiapkan semuanya.
Termasuk buku-buku yang sesuai. Saya punya buku dari Room to Read, dan tentunya bisa dipakai untuk kalangan mana saja.
Saya buatkan gambar saya print dan ambil dari internet, lalu tempelkan di tusuk sate yang saya punya di rumah.
Setiap gambar itu nanti bisa jadi panduan ide untuk mereka.

Pada Hari H

Persiapan untuk semuanya sudah beres. Sudah saya masukkan semua ke dalam tas. Jadi pagi tinggal beres.
Beres-beres cucian, setrikaan juga sudah. Maklum saya tidak bisa meninggalkan rumah dalam keadaan berantakan. Takut nanti pulang capai, saya jadi kesal dengan kondisi yang ada.

Pak Suami mengantar ke stasiun. Anak-anak sekolah. Bersyukur Pak Suami ada deadline majalah dan komik, jadi pastilah deadline itu diselesaikan di rumah. Artinya tidak ada klien yang meminta datang ke kantornya.
Aman. Saya bisa berbagi ilmu sekaligus bekerja dengan leluasa, tanpa memikirkan lauk untuk makan siang. Karena kalau Pak suami ada di rumah, urusan lauk masalah gampang.

Berangkat jam setengah enam dari rumah menuju stasiun Bekasi. Bersyukur dapat kursi di commuter. Meskipun penuhnya minta ampun.
Turun di Manggarai, lanjut commuter menuju Bogor. Alhamdulillah sepanjang perjalanan saya bisa leluasa duduk, karena commuter menuju Bogor kosong.
Sampai di Bogor jam setengah sembilan kurang. Masih bisa ke musholla untuk minta yang terbaik.

Setelah itu tanya via WA ke Ruri, setelah itu saya harus naik apa? Ruri bilang sebaiknya naik ojek saja, takutnya jam segitu Bogor macet.
Okelah, di pintu ke luar stasiun banyak abang ojek menawarkan jasa. Kenapa bukan ojek online? Itulah yang dinamakan rezeki. Entah kenapa saya malas naik yang online kalau tidak terpaksa. Mungkin juga karena saya paling malas terima telepon atau menelepon. Saya lebih suka via chating saja.

Ojek sudah dapat. Sekolah Alam Bogor konon katanya dari stasiun hanya butuh waktu 19 menit. Saya beri alamatnya jalan Pangeran Asogiri. Kata tukang ojeknya tahu sekolah itu.
Naik ojek seperti itu membuat saya bisa melihat bermacam pemandangan. Merasakan berkeliling kota Bogor. Sekolah Alam itu ternyata jauh juga dari stasiun. Dan saya suka jalan ke arah sana, seperti masuk ke area Puncak. Berkelok mendaki dan menurun.
Asyiklah untuk berpetualang.

“Bu, di sini, kan?” tanya si Tukang Ojek.
“Pangeran Asogiri, Pak. Ini Sogiri,” ujar saya.
Si tukang ojek berhenti di depan pesantren. Sambil bilang kalau yang dikenal di jalan itu adalah pesantren. Sambil bilang, ibu sih gak bilang kalau pangeran Sogiri. Kalau bilang kan dicari jalan yang lebih cepat.
Helloooo…
Ah biasalah begitu. Itu juga karena omongan negatif saya di awal, sih. Saya bilang, “Bang, saya jangan diajar muter-muter, lho. Nanti diajak muter jauh, tahunya dekat.”
Akhirnya kenalah omongan negatif itu ke saya.
Si Abang tukang ojek berbaik hati mencarikan, turun dan bertanya. Ongkosnya ditambah.
Akhirnya setelah lima kali bertanya, sampailah saya di Sekolah Alam Bogor.

Semangaaaat

Ketika diundang jadi pembicara atau pengisi acara, saya memang membiasakan datang lebih dahulu dari jamnya. Alasannya karena agar saya bisa merasakan atmosfirnya. Bisa melihat audicenya. Dan ini tentu saja sarana ampuh untuk menghilangkan grogi.
Tapi terbiasa bergaul dengan anak-anak, sedikit banyak yang menguasai hanyalah semangat. Apalagi guru-gurunya welcome dan baik hati.

Saya didampingi oleh Bu Monik, ibu guru favorit para murid, karena memang luwes pada anak-anak.
Sesuai kesepakatan di belakang panggung, Ibu Monik menjelaskan tentang siapa saya.
Lalu saya naik panggung.
Mau apa?
Berdiri di atas panggung, di hadapan anak-anak, yang pertama dilakukan adalah berbagi semangat. Semangat menulis. Maka saya ajarkan mereka tepuk menulis.
Anak-anak mulai sedikit tersengat.

Saya mau bicara apa, ya?
Saya mau meluaskan imajinasi anak-anak dengan menyingkirkan segala ketakutan. Menulis itu jangan takut. Apa yang ada diimajinasi tulislah.
Dan jangan sekedar menulis saja, tapi pikirkan ide yang unik. Ide dengan sudut pandang berbeda. Tujuannya agar cerita yang mereka buat menjadi menarik di mata pembacanya dan mereka juga suka membaca ulang kisah mereka karena seru.

Kalau teori saja akan membuat anak mengantuk. Percayalah.
Maka Ibu Guru harus berani turun panggung.
Turun panggung berulang kali. Memberikan gambar dan contoh ide yang unik, sampai anak-anak paham. Tandanya paham apa? Tandanya paham tentu saja mereka bisa menjawab lemparan gambar saya, jadi ide yang berbeda. Huah… saya terkejut-kejut. Mereka bukan cuma menuliskan ide, tapi berani maju ke depan untuk bertanya dan memaparkan ide mereka.

Saya berkeliling. Naik turun panggung itu adalah salah satu cara agar audience mereka diperhatikan. Dari depan sampai belakang beberapa kali. Mereka berlomba menunjukkan kertas tulisan mereka.

Oh ya, selama acara Ruri jadi juru foto saya. HP saya serahkan padanya, biar bisa mengambil semua angle. Meski pakai kamera HP saja, tapi apa yang tertangkap bisa buat dokumentasi berharga untuk saya. Thanks, Ruri.

Satu jam sesi tentang ide unik selesai. Sedikit latihan juga mereka kuasai. Saatnya berlomba membuat tulisan dengan ide yang unik. Saya menggambar di papan tulis, dan saya minta mereka menerjemahkan gambar itu.
Dan hu hu saya terharu. Ketika mereka berlari menuju kelas mereka untuk mengambil kertas, dan setelah itu mengumpulkan kertas berisi tulisannya.

Duh melihat mereka berjuang menulis, saya senang sekali.

Ada seratus kertas yang harus saya cek idenya. Kalau sudah biasa menilai, maka mudah untuk melihat sudut pandang penilaiannya.
Ada tujuh yang terpilih dan idenya unik.
Dan hebatnya dari tujuh orang itu, lima orang adalah anak laki-laki, sisanya perempuan.
Ada satu yang membuat saya terharu. Seorang anak berkebutuhan khusus, yang dari awal selalu berani mengungkapkan idenya, juga ikut menyerahkan hasil tulisannya. Meski idenya belum bagus, dan tulisannya kurang jelas, tapi saya berbisik ke Bu Monik. Saya ingin memberikan reward pada anak itu. Setelah tujuh anak turun panggung, anak itu naik ke atas panggung.

Saya juga mendapat kenang-kenangan, berupa merchandise hasil kerajinan tangan dari anyaman kertas murid sekolah alam, plus buku karya mereka juga piagam penghargaan.

Ruri mengajak saya kuliner di Bogor merasakan tauge goreng. Enak rasanya tauge goreng, Apalagi cuaca di Bogor mendukung, mendung gelap.
Setelah kenyang tauge goreng, kami pulang ke rumah Ruri. Saya main ke rumahnya numpang shalat juga.
Satu jam di sana akhirnya pamit pulang menuju stasiun kembali.

Pengalaman apa yang bisa didapatkan hari itu?
Dari sekolah alam saya belajar, bebaskan anak-anak, puaskan masa bermain mereka, tapi tetaplah ikat dengan akidah agama. Maka mereka akan jadi generasi hebat yang sesungguhnya.

Mendidik Anak Menjadi Pribadi Androgynous

Ada banyak cara mendidik anak. Yang sering saya lakukan adalah mengikuti apa yang orangtua saya lakukan, dengan membuang apa yang tidak sesuai untuk saya.
Ada banyak pelajaran masa lalu yang saya dapatkan.
Dan pengalaman itu yang saya bawa untuk mendidik anak-anak.
Meskipun ada juga yang tidak bisa totally 100 persen saya bawa. Yaitu didikan agar kakak mengalah pada adik. Adik saya empat orang, dengan karakter yang jauh berbeda dari saya. Proses mengalah dengan empat adik itu, membuat saya sulit untuk berkata tidak. Untuk berani menolak pun, itu saya pelajari bertahun-tahun. Dan merasa seperti terbebas dari belenggu, ketika saya bisa berkata tidak, pada orang yang sebelumnya tidak pernah saya tolak.

Anak laki-laki dan perempuan sama didikannya. Itu yang terjadi di rumah saya. Bapak bersikap tegas untuk 8 anaknya. Kalau di rumah yang ada anak perempuan, dan saat itu Bapak butuh semen, maka disuruhlah si anak perempuan untuk pergi ke toko bangunan.
Eh kok pasnya saya terus yang ada di rumah, karena saya paling betah di rumah. Maka jadilah saya sering beli semen, paku dan lain sebagainya. Pernah ada teman yang bertanya, kenapa saya mau aja disuruh ke toko bangunan?
Pernah juga waktu Bapak butuh bambu untuk bikin pagar, saya dan adik saya yang masih SD beli bambu di tukang bambu. Lalu mengantar si tukang yang membawa gerobak sampai rumah.

Anak harus patuh pada orangtua. Itu juga pelajaran dari Bapak.
Karena itu ketika pada malam hari Bapak butuh soto kambing atau yang lainnya, anak-anak akan diminta ke warung. Padahal untuk ke warung kami harus melewati rumah kosong yang luas dan lebar. Jadi bukan jalan tapi lari untuk sampai ke tukang soto.
Kalau apa yang dibeli salah, Bapak juga tidak membolehkan pasrah. Pernah saya kebagian membeli sesuatu dan si tukang salah. Saya bilang kasihan tukangnya, sembari gak enak hati untuk membalikkan barang itu. Tapi Bapak menyuruh mengembalikan barang itu, dan saya terpaksa ke toko.

Pelajaran-pelajaran itu ternyata mengena betul di hati saya. Padahal orangtua dulu tidak paham teori psikologi.

Pribadi Androgynous

Pribadi ini justru saya kenal setelah saya membaca buku parenting. Oh ternyata apa yang diajarkan Bapak dulu betul, ya.
Di rumah saya biasa melihat Bapak masuk ke dapur, sampai menyetrika pakaian. Dan di rumah juga biasa, kalau perempuan pegang gergaji atau palu. Yang anak laki-laki berada di depan ulekan juga biasa.

Pribadi androgynous sendiri pribadi yang memilik sifat seimbang.
Laki-laki akan tumbuh sebagaimana laki-laki, tapi ia memahami sisi feminim dengan kadar secukupnya.
Individu androgyny memiliki panduan karakteristik laki-laki dan perempuan. Dan panduan ini membuat mereka menjadi fleksible dengan situasi di mana mereka berada.
Lelaki bisa bersikap semestinya laki-laki, tapi ia bisa memiliki kelembutan yang tentunya akan bermanfaat ketika berumah tangga.
Perempuan memiliki sisi kelembutan, tapi ia juga bisa tegas dan cekatan ketika berada pada satu situasi tertentu.
Menurut para ahli sebenarnya perempuan memiliki sikap animus (maskulin) dalam dirinya. Dan laki-laki memiliki sikap anima (feminim) dalam dirinya.

Apa yang Bapak saya lakukan dulu ternyata sangat efektif untuk saya. Saya terbiasa memanjat pohon tinggi. Masuk ke dalam rumah tangga, biasa bersentuhan dengan paku, palu juga semen. Sedikit dengan listrik karena kadang-kadang salah sambung juga dan konslet.
Dan untuk hal-hal yang sifatnya kecil, didikan itu ternyata membuat saya sigap bersikap.
Kalau ada kucing mati, jangan nunggu suami untuk menguburnya. Ambil pacul, pacul tanah, kuburkan. Sesederhana itu.

Dan kebetulan juga saya berjodoh dengan suami yang mendapat didikan yang sama. Jadi ketika saya sedang capek, yang masuk dapur adalah suami. Yang mengepel lantai adalah suami. Tidak ada yang merasa, kenapa ini jadi tugas aku? Sebab semua ada porsinya juga.

Mendidik Anak

Mendidik anak menjadi pribadi seperti ini, bagaimana caranya?
Kalau saya, hanya meneruskan apa yang orangtua saya lakukan.
Tugas mencuci piring setelah digunakan, adalah tugas setiap anak. Laki-laki perempuan sama saja. Selesai makan, cuci piring mereka.
Tugas membeli sesuatu di warung sembako atau warung makan, adalah tugas bersama. Semua bisa melakukannya.
Tugas membantu orangtua adalah tugas bersama. Siapa yang sedang ada di rumah, dan pada saat itu orangtua butuh bantuan, maka ia yang harus mau ringan tangan membantu.
“Kenapa, sih, harus bantu? Kan Ayah bisa sendiri?” itu biasa anak-anak katakan.
Saya cuma bilang.
“Kalau orangtua tidak minta bantuan, itu artinya kalian yang rugi. Karena pahala kalian tidak tambah. Sayang, kan? Lagipula nanti kalian akan jadi orangtua, dan akan merasakan hal yang sama.”

Jadi kalau ada yang melihat suatu hari anak perempuan saya naik genteng, dan anak laki-laki saya menenteng telur dari warung, sungguh itu bukan karena saya mengajarkan agar mereka menjadi kelaki-lakian atau keperempuan-perempuanan.
Tapi ini dalam rangka agar mereka menjadi manusia yang paham sisi lain karakter manusia.

Lomba Menulis Novel Universitas Negeri Semarang

Universitas Negeri Semarang menyelenggarakan sayembara penulisan novel tingkat internasioal (Unnes International Novel Writing Contest 2017). Melalui sayembara ini para penulis diharapkan dapat mengeksplorasi nilai-nila budaya lokal untuk menumbuhkembangkan solidaritas kemanusiaan.

KETENTUAN UMUM:

Mengisi formulir pada tautan daring http: unnesnovelcontest.com
Peserta hanya diperbolehkan mengirimkan satu naskah novel.
Naskah belum pernah dipublikasikan dalam bentuk apa pun, baik sebagian maupun seluruhnya.
Naskah tidak sedang diikutkan dalam sayembara serupa.
Naskah dapat ditulis dalam bahasa Indonesia, Melayu atau Inggris.
Tema: eksplorasi nilai-nila lokal untuk kontruksi solidaritas kemanusiaan.
Naskah adalah karya asli, bukan saduran, bukan jiplakan (sebagian atau seluruhnya).
KETENTUAN KHUSUS:

Panjang karya 40.000—100.000 kata, halaman A4, spasi 1,5, huruf Times New Roman ukuran 12.
Peserta mengirimkan salinan tanda pengenal beserta naskah novel.
Peserta tidak perlu membubuhkan nama penulis di dalam novel.
Naskah dikirim melalui tautan unnesnovelcontest.com
Batas akhir pengiriman naskah: 11 September 2017
HADIAH :

1. Pemenang I Rp. 20.000.000

2. Pemenang II Rp. 15.000.000

3. Pemenang III Rp. 10.000.000

4. Untuk 10 karya pilihan juri @ Rp. 2.000.000

LAIN-LAIN:

Pemenang akan diumumkan dalam Anugerah Unnes International Novel Writing Contest 2017
Hak Cipta dan hak penerbitan naskah peserta sepenuhnya berada pada penulis.
Keputusan Dewan Juri tidak dapat diganggu-gugat dan tidak diadakan surat-menyurat.
Pajak ditanggung pemenang.
Sayembara ini tertutup bagi panitia dan keluarga inti Dewan Juri.
Maklumat/informasi dapat diakses di tautan unnesnovelcontest.com
Dewan Juri terdiri atas Dr. Seno Gumira Ajidarma, Prof. Agus Nuryatin, dan Prof. Suminto A Sayuti.

SUBMIT NASKAH

IN HERE

KONTAK :

Muhamad Burhanudin
unnesnovelcontest@gmail.com
+62 85743563778

Izzati
unnesnovelcontest@gmail.com
+62 85 727 462 643

Klik Di sini