Resolusi Tahun Baru untuk Penulis. Perlu, kah?

2016

Akhirnya, tahun baru datang juga.
Akhirnya. Meskipun saya juga tidak terbiasa merayakan pergantian tahun. Karena sejak dulu dalam didikan Bapak, tidak suka acara ramai-ramai.

Hitungan tahun sudah berganti.
Artinya apa? Artinya usia kita bertambah tua. Artinya untuk saya anak-anak bertambah besar. Biaya pendidikan mereka juga semakin besar. Tenaga untuk menjaga mereka dengan doa dan nasihat juga akan semakin banyak.

Ada resolusi. Biasa dibuat oleh orang yang punya target tahunan. Perusahaan biasanya yang membuat hal ini. Tujuannya untuk mengukur kinerja perusahaan, keuntungan plus kerugian. Karena itu setiap menjelang akhir tahun, bagian keuangan pasti sibuk.

Sebagai penulis, ada banyak yang harus ditulis. Ada ide yang akan menguap jika tidak ditulis. Ada banyak hal, yang akan hilang momentum jika tidak ditulis. Jadi resolusi untuk saya sebagai penulis, tidak perlu.

Resolusi Harian

oke-8

Ada banyak penerbit, yang terus-menerus membutuhkan naskah.
Ada blog yang terus-menerus harus diisi, karena penulis tidak boleh menutup mata dengan perkembangan zaman.
Memang di saat yang sama, ada media-media cetak yang satu-persatu gugur. Tapi itu bukan alasan untuk berhenti menulis.

Gugur satu tumbuh seribu, itu berlaku untuk dunia menulis.
Media cetak gugur, digantikan dengan media online yang jumlahnya tidak terhitung. Tapi perjuangan hidup yang ssungguhnya itu, bukan pada saat kesempatan terbuka luas. Kreativitas justru banyak yang tumbuh dari situasi terjepit.

Ketika ruang menulis tertutup, blog bisa dioptimalkan. Ada banyak perusahaan yang sekarang fokus mencari blogger untuk dioptimalkan. Ketika penerbit-penerbit konvensional bertambah ketat seleksinya, ada penerbit-penerbit online yang gencar mencari penulis.
Ada ruang terbuka untuk penulis mencari kesempatan, bukan hanya terpaku pada interaksi di sosial media, dan berebut rezeki dari sana.
Internet memudahkan penulis. Optimalkan hal itu. Memang tidak seramai sosial media, tapi itu justru lebih optimal.

Jadi soal resolusi untuk tahun baru?
Kalau saya setiap hari terus-menulis. Tidak fokus pada pergantian tahun, tapi pada pergantian hari.
Saya yakin sudah hukum alam, siapa yang terus bekerja, itu yang akan sering menuai hasilnya.

Terri Anjing dan Shepy Domba

terrianjingshepydombapic

Shepy Domba melihat ke arah Terri si anjing gembala. Huh, Shepy Domba mendengus. Enak sekali si Terri itu, kata Shepy Domba dengan kesal. Terri si anjing gembala duduk di bawah pohon yang rindang. Ia duduk di sebelah pak Tom. Sesekali, tangan pak Tom mengelus kepala Terri. Uh, pak Tom lebih menyayangi Terri, kata Shepy Domba dalam hati.
Shepy Domba dan rombongannya sedang makan rumput di tengah ladang. Panas matahari menyengat. Shepy Domba yang kepanasan jadi semakin sebal. Ia ingin berteduh seperti Terri. Tapi setiap Shepy Domba keluar dari kelompoknya untuk mencari tempat yang teduh, Terri selalu berlari dan menyuruhnya kembali. Terri selalu menyalak dengan ribut, bila ia tidak bergabung lagi dengan saudara-saudaranya. Suara salakan Terri itu selalu membangunkan pak Tom. Nah, Pak Tom lalu menggiringnya kembali ke tempat berkumpul domba-domba yang panas itu. Huh, Shepy Domba benar-benar jengkel dibuatnya.
***
Pagi itu pak Tom kembali membawa rombongan dombanya ke padang rumput. Seperti biasa, Terri dengan gembira membantu pak Tom menggiring domba-dombanya. Ia berlari di depan domba-domba itu. Pak Tom menjaga barisan domba di belakang. Kadang-kadang Terri berlari ke belakang. Ia mengelilingi pak Tom, lalu balik berlari di samping domba-domba itu.
“Selamat pagi semuanya. Nanti jangan terpencar ya.” Terri Anjing sibuk mengingatkan semua domba.
Debi Domba yang ada di depan rombongan mengangguk dengan senang. “Tentu saja,” sahutnya. Terri senang. Ia berlari lagi di depan.
Shepy Domba mendengus. Debi Domba mengernyitkan dahinya. Ia mendekati Shepy Domba. “Sebaiknya engkau tidak jauh-jauh.” Debi Domba memandang dengan serius.
“Sebaiknya tetap berkumpul. Di pojok padang yang rumputnya tinggi itu ada ular. Bahaya.” Dibo Domba mengingatkan. Terri kemarin memeriksa ke tempat yang rumputnya tinggi. Lalu ia memberi tahu Dibo kalau ada bahaya di tempat yang rumputnya tinggi.
“Tapi di tempat kita makan rumput itu panas. Kenapa tidak makan rumput di tempat teduh saja?” Shepy Domba merengut. Tapi, ia tetap mengikuti kawan-kawannya walaupun dengan bersungut-sungut.
***
Setelah memastikan semua domba-domba berkumpul di satu tempat, Terri kembali duduk di sebelah pak Tom. Ia duduk dengan tenang. Pak Tom yang menunggu ternak dombanya itu terkantuk-kantuk. Tak lama kemudian Pak Tom pun tertidur.
Terri mendatangi domba-domba yang sedang merumput. Ia memastikan semua masih berkumpul bersama. Lalu, ia kembali menjaga pak Tom. Ia melakukannya beberapa kali.
Tengah hari, matahari tepat di atas mereka. Shepy Domba mulai kepanasan. Ia melihat daerah yang rumputnya tinggi. Uh, disana pasti aku lebih cepat kenyang, pikirnya. Rumputnya lebih lebat. Lagipula rumput disana lebih gemuk. Shepy Domba ingin cepat kenyang jadi ia bisa cepat istirahat. Ia iri dengan Terri yang istirahatnya banyak. Istirahat di tempat teduh, tentu saja amat nyaman. Ia melihat Terri yang ada di bawah pohon. Ia cemberut.
Shepy Domba melanjutkan makan rumput. Tapi, ia selalu mengamati Terri. Ia bertekad akan makan rumput yang panjang itu. Rumputnya lebih besar-besar. Pasti enak, pikir Shepy Domba. Ia mengamati Terri dengan seksama. Ia menunggu kesempatan untuk pergi ke tempat yang rumput-rumputnya tinggi.
Saat Terri sedang menengok ke arah lain. Shepy Domba menyelinap pergi dari rombongan. Ia cepat-cepat menuju bagian padang rumput yang rumputnya tumbuh lebih tinggi. Ia berlari dengan semangat. Ia sudah ingin segera mencicipi rumput yangnampak hijau dan lebat itu.
Shepy Domba yakin tempat itu aman baginya. Terri Anjing hanya tidak mau membiarkan mereka makan enak saja. Apalagi sambil berteduh. Huh, pasti Terri tidak suka kalau domba-domba makan enak.
Shepy Domba segera melahap rumput-rumput yang gemuk itu. Ia tidak memperhatikan sekelilingnya. Rumput-rumput itu memang enak dan mengenyangkan. Shepy Domba mendengar suatu gemerisik. Sepertinya ada sesuatu yang bergerak halus. Ia mengamati sebentar. Tapi ia tidak melihat apa-apa. Shepy Domba melanjutkan makannya.
Tiba-tiba Shepy Domba melihat mata yang berkilat-kilat tak jauh darinya. Ia berhenti mengunyah. Oh, seekor ular dengan kepala yang lebar. Ular itu badannya tegak dan menjulur-julurkan lidahnya. Ia ingat kata Dobi, ular yang kepalanya lebar itu berbisa. Aduh, seram.
Shepy Domba berteriak kaget. Ia takut. Ia tak dapat bergerak. Shepy Domba gemetar.
Tiba-tiba terdengar Terri berteriak, “Pergi. Jangan ganggu domba ini.” Terri mendekati ular itu dari samping. Terri berusaha menggigit ular itu di lehernya. Terri menyalak sambil berusaha melindungi Shepy Domba. Ular itu memutar kepalanya ke arah Terri. Sekarang ular itu berusaha menyambar Terri. Terri melompat menghindar.
“Larilah, Shepy. Cepat,” teriak Terri sambil tetap menatap ular itu. Sekali lagi Terri maju untuk menggigit ular itu. Sekarang, Terri dan ular itu saling berhadap-hadapan.
Shepy Domba yang masih kaget itu akhirnya tersadar. Ia berlari secepat-cepatnya ke gerombolan teman-temannya. Ia berlari tanpa menoleh lagi.
***
Sore itu, domba-domba berkumpul di dalam kandang. Mereka mengelilingi Shepy Domba. Shepy Domba masih agak gemetar. Debi Domba berusaha menenangkannya.
Shepy Domba gelisah. Ia belum melihat Terri Anjing. Ia khawatir Terri terluka. Shepy Domba berkali-kali menoleh ke pintu pagar. Tak lama kemudian, Terri datang ke samping kandang. Ia ingin melihat Shepy Domba.
“Shepy, kamu baik-baik?” Terri kelihatan cemas.
Shepy berlari ke pinggir kandang. Ia minta maaf dan lain kali akan makan rumput di dekat yang lain. Ia tahu kini, Terri bermaksud baik. Terri ingin memastikan semua domba selamat.

Terri mengangguk. Ia tersenyum. Shepy Domba lega. Senyumnya mulai mengembang. Ia tak mau lagi jauh-jauh dari Terri bila ke padang rumput.

Monster Pino di Candi Gedong Sono

k-tyas

Sore itu, Sekar masih sibuk chatting dengan Arum. Sekar sedang semangat menanyakan tentang Candi Gedong Songo. Ya, mereka sekeluarga akan berwisata ke sana besok pagi. Arum, sepupunya itu, sudah pernah kesana. Arum menceritakan tentang bagaimana serunya naik kuda menuju candi-candi tersebut. Wah, Sekar tak sabar rasanya ingin segera sampai di sana. Sebenarnya, ia agak takut naik kuda. Uh…., bagaimana kalau jatuh dari kuda, katanya dalam hati. Pasti sakit, tak sadar Sekar meringis. Ia membayangkan sakitnya jatuh dari kuda. Hiii….., seram juga kalau jatuh dari kuda, pikir Sekar.

“Candi Gedong Songo itu di gunung ya ibu?” Sekar bertanya kepada ibu. Ia teringat cerita Arum. Ada hutan pinus, ada sumber air panas. Hutan pinusnya lebat, kata Arum. Arum naik ke lereng gunung. Ia naik kuda.

“Iya…., candinya ada sembilan. Letaknya tersebar di lereng gunung Kendalisada, anak gunung Ungaran, makin lama makin naik ke atas letak candinya,” ibu menjawab dengan tenang.

Sekar membayangkan candi-candi yang tersebar di lereng gunung. Pemandangannya pasti indah, katanya dalam hati. Sekar ingin segera berangkat. Ia tak sabar menanti hari esok. Lagipula, Arum juga bilang udaranya sejuk sekali. Uuuhh…., rasanya ingin cepat-cepat pagi hari.

***

Pagi itu Sekar bangun dengan semangat. Ia ingin segera berangkat. Ia senang jalan-jalan dengan ayah dan ibu. Dengan cepat, Sekar bersiap-siap. Mereka akan berangkat pagi-pagi. Perjalanan dari Semarang akan memakan waktu kurang lebih dua jam.

Sekar menuju dapur dan bersiap-siap untuk sarapan. Ibu memberikan sebungkus pecel pincuk. Nasi pecel yang dibungkus daun pisang itu makanan kesukaan Sekar. Biasanya ibu membuat nasi goreng untuk sarapan. Horeee…., pecel pincuk, kata Sekar dalam hati. Ia senang.

“Ini pecel pincuk Mbok Darmi, bu?” Sekar mulai menyendok nasi pecel itu. Ibu mengangguk. Mbok Darmi membuka warung pecel. Rumahnya hanya berjarak dua rumah dari tempat mereka.

“Nanti kalau sudah selesai, tolong Sekar bereskan meja makan. Lalu semua sampahnya dibuang ke tempat sampah di depan ya.” Ibu membereskan tas bekal yang akan dibawa. “Jangan sampai berserakan membuang sampahnya. Supaya rumah kita bersih waktu kita tinggal pergi.”

Sekar ingat, hari ini pak sampah akan mengambil sampah di daerah mereka. Pak sampah lewat tiga kali dalam seminggu. Lingkungan di sepanjang jalan mereka memang bersih dan nyaman.

Tak lama kemudian, ibu dan ayah telah siap berangkat. Mereka menunggu Sekar. Sekar buru-buru menyelesaikan sarapannya. Lalu, ia segera mengumpulkan semua bekas sarapan. Sekar melemparkan bungkusan sampah itu ke samping kotak sampah.

“Nanti khan pak sampah akan memungutnya. Hari ini jadwal angkat sampah.” Sekar lalu segera berlari ke mobil ayah yang sudah siap berangkat.

***

Sepanjang perjalanan Sekar sibuk melihat ke jalan. Kadang-kadang ia bertanya ke ibu. Ia tak sabar. Uh…., lama sekali perjalanannya, katanya dalam hati. Sekar sudah mulai bosan melihat pemandangan di jalan. Ia mulai mengantuk. Ia teringat sampah yang ia buang di samping kotak sampah. Dibongkar kucing apa tidak ya, tanyanya dalam hati. Semoga pak sampah tepat waktu. Kalau tidak, bungkusan itu bisa berserakan diaduk-aduk kucing. Akhirnya, ia tertidur.

Sekar terbangun. “Oh…., gunungnya tinggi sekali. Hutan pinusnya lebat.” Sekar lalu sibuk memilih kuda yang akan ditungganginya. Ia pilih kuda coklat. Kudanya tinggi dan besar. Ekornya yang panjang berwarna hitam. Ada seleret warna putih di atas hidungnya. Ah….., kudanya gagah sekali.

Sekar menaiki kudanya yang berjalan pelan-pelan. Tadinya, ia agak takut naik kuda. Ternyata naik kuda menyenangkan. Ikuti saja irama langkah kuda. Jadi terasa nyaman nail kudanya. Ia tidak takut lagi. Kudanya masih berjalan pelan-pelan. Ia jadi mengantuk. Waduh…, kapan sampainya kalau begini, katanya dalam hati. Ia tak sabar. Ia menepuk perut kuda dengan kakinya. Kuda itupun melesat ke arah kiri. Masuk ke hutan pinus yang lebat. Sekar senang. Ia tertawa.

Kuda itu berlari masuk semakin dalam ke hutan. Sekar mulai cemas. Ia mulai takut. Kuda itu menerobos pepohonan yang berdahan rendah.” Aduuuhhh….., bagaimana cara menghentikan kuda ini.” Sekar mengangkat sebelah tangannya untuk melindungi wajahnya. Plaaakk…. Ia menabrak ranting. Sekar terpelanting. Ia jatuh telungkup. Uhh….., sakitnya.

Ia berusaha bangun. Lalu, ia merasakan bumi berguncang. Bum…. Bum…. Bum…. Diikuti suara geraman yang berat. Ia melihat bayangan tangan berkuku panjang hendak meraihnya. Sekar takut sekali. Ia membalikkan badannya. Matanya membelalak, mulutnya ternganga. Ia tak bisa berkata-kata. Lidahnya membeku.

Ia berhadap-hadapan dengan mata yang merah menyala. Makhluk itu tampak sangat marah. “Jangan kau kotori hutan pinusku ini. Buang sampah di tempatnya.” Mulutnya menyeringai. Dan tampaklah giginya yang besar dan panjang.

“Ka…..ka… kau… si..apa..?” tanya Sekar gemetaran. Ia benar-benar takut sekarang.

“Aku Monster Pino. Aku penjaga hutan yang indah ini.” Mulutnya masih menyeringai. Ia tinggi seperti pohon pinus. Tapi sangat menyeramkan.

“Jangan buang sampah sembarangan.” Kali ini alisnya mengkerut seperti halilintar di siang bolong. Ia mengangkat kedua tangannya. Jari-jarinya yang panjang, sungguh sangat menyeramkan.

“Mmmm….. Aa…aa…aku akan membuang sampah di…di… di tempatnya.” Sekar terbata-bata menjawab. Ia ingin menangis. Aduuuhhh……, dimana ayah dan ibu, katanya dalam hati.

“Sungguh….., aku berjanji tidak akan buang sampah sembarangan lagi.”

Makhluk itu mencengkeram Sekar dan menggoyang-goyangkannya. Sekar menutup matanya. Ia ketakutan.

Lama-kelamaan goyangan itu terasa semakin lembut. Sekar membuka matanya. Ia melihat ibu

sedang tersenyum. Ibu menggoyang bahunya. “Bangun Sekar.”

“Ibuuu….” Sekar berteriak sambil memeluk ibunya. Ibu memeluknya kembali dengan heran.

“Kita sudah sampai. Lihatlah…., pemandangannya indah. Nanti kita akan naik ke atas.” Ibu menunjukkan lereng gunung Kendalisada.

Sekar mengusap-usap matanya. Ia celingukan mencari Monster Pino.

“Sekar mencari apa?” tanya ibu dengan lembut. “Tadi Sekar tertidur sepanjang perjalanan. Mungkin Sekar kecapaian, tadi malam kurang tidur.”

“Eh…., iya bu.” Sekar mengernyitkan dahinya. Oh, rupanya aku bermimpi, katanya dalam hati. Ia lega. Ia memikirkan mimpinya. Lalu ia menghembuskan napas.

“Ibu….., Sekar minta maaf.” Sekar meremas-remas tangannya. “Tadi buang sampahnya tidak di kotak sampah.” Lalu ia menunduk.

“Tadi Sekar bermimpi didatangi monster Pino yang marah. Buang sampah tidak boleh sembarangan, katanya.” Ibu memeluk Sekar dan mengelus rambutnya.

“Sekar janji tidak akan buang sampah sembarangan.” Ya, Sekar tidak mau mengotori lingkungannya lagi. Ia mengerti itu tidak baik.

***

“Ayo….. Lihatlah, pemandangan disini indah. Udaranyapun sejuk karena kita berada di lereng gunung.” Ibu membujuk Sekar untuk menikmati pemandangan yang ada.

Sekar melihat lereng gunung yang hijau. Ada kabut tipis yang menggayut di langit. Wah…., indahnya. Warnanya yang hijau menyejukkan mata, batin Sekar. Kabut itu membuat suasananya menjadi tenang dan misterius. Hm…., udaranya benar-benar sejuk. Matanya berbinar-binar. Ia mencari-cari candinya. Wah, candi yang terendah letaknya masih naik lagi dari situ. Letak candi satu dengan lainnya saling berjauhan. Dan makin lama letaknya makin tinggi, naik ke atas gunung.

Sekar bahagia sekali. Ia tersenyum. Ada banyak pengalaman berharga yang ia dapat hari ini.

Aroma Tebu

aroma-tebu

Mereka akan pulang. Seperti setahun atau dua tahun yang lalu. Setelah itu suara mereka akan memenuhi ruang tamu luas dengan banyak kursi, yang sering kosong tanpa penghuni.
Lies mengusap wajahnya.
“Sudah pulang, Nduk?”
Mereka akan datang pada setiap tanggal yang dilingkari spidol merah. Lalu pada tangal dimana mereka tinggal, hanya warna merah yang menghiasi. Hingga akhirnya mereka kembali ke kota, menyisakan sepi untuk Lies.

Lies menekuri jajaran pohon tebu di hadapannya. Lampu di depan sudah menyala. Seluruh lantai sudah bersih. Beberapa pigura yang tergantung di dinding juga sudah bersih dari debu.
Sebuah pigura berisi foto pernikahan, ia pandangi lama. Mungkin jika bukan karena angin yang bertiup kencang membanting pintu, foto itu masih akan terus Lies pandangi.
Baju pengantin warna merah bata itu membuat kelopak mata Lies berkedip berkali-kali. Sepasang pengantin bahagia, itu yang selalu saja tertangkap di mata Lies ketika memandang foto itu.
Kalau bukan karena terdegar bunyi tongkat yang menyatu dengan lantai, mungkin Lies masih berdiri di depan pigura itu.
“Gantara besok datang…”
Lies mengangguk.
“Kamu masih bisa membuat getuk, kan?”
Lies mengangguk lagi. Berusaha keras melebarkan senyumnya. Ia masih bisa membuat getuk dari singkong yang sudah direbus.
Ia dan Gantara dulu pernah mencabut singkong bersama, lalu harus menunduk dalam-dalam karena empunya kebun singkong mengomeli. Singkong yang mereka cabut masih terlalu muda umurnya.
Gantara selalu suka getuk buatan tangan Lies. Ditumbuk dengan cinta, begitu cara Gantara merayunya.
“Lies…, kamu ndak apa-apa, toh?”
Lies menggeleng.
Tidak apa-apa. Setiap musim pasti berganti, dan seperti layaknya sebuah debu, ia tahu di mana dirinya harus ditempatkan.
**

Panggung berwarna ungu itu berdiri kokoh. Panggung yang cukup mewah. Pak Abdi juragan kerupuk akan mengadakan pesta pernikahan putri semata wayangnya. Akan ada panggung musik dangdut di sana.
Lies menghentikan sepedanya. Memandangi panggung itu.
Aroma melati bercampur dengan suara gending tiba-tiba membuat keningnya berkerut. Lalu tanpa sadar ia menggigit bibirnya.

Seorang artis penyanyi yang cantik dari ibu kota pernah diundang.
Kali ini kelopak mata Lies berkedip. Kedipannya hampir melelehkan air matanya ketika seseorang berhenti tepat di depannya.
“Buku-buku yang kamu pesan sudah datang.”
Lies memandang pada keranjang di depan sepeda motor Purwo.
“Nanti aku bawa langsung ke taman bacaaan apa ke rumahmu?”
“Ke taman bacaan..,” ujar Lies.
“Yo wis…, aku langsung ke sana, ya…”

Panggung itu akan hadir dua hari lagi. Nanti akan ada musik bergema, pedagang yang berlomba dan para orangtua juga anak-anak berkumpul untuk mencari hiburan bersama.
Sudah sore.
Mbok pasti sudah menunggunya di rumah.
**
“Mereka sudah datang?”
Tidak bisa ada rahasia dengan Mbok. Mbok selalu tahu apa yang Lies rasakan. Mbok tahu dan tidak banyak bertanya ketika Lies menangis. Lalu Mbok menyodorkan teh hangat sambil memijit-mijit punggungnya.
“Apa masih penting memikirkan yang sudah lalu, Nduk?”
Lies tersenyum kecut.
Memang tidak penting memikirkan sesuatu yang sudah berlalu. Tapi sesuatu itu hadir setiap saat untuknya, dan ia tidak bisa terlepas darinya.
“Mereka besok datang, nanti juga secepatnya pergi. Kamu akan tetap sendiri.”
Lies mengangguk. Ia ingat suatu masa di mana mimpinya melambung tinggi sampai ke awan. Mbok tidak pernah melarangnya bermimpi tinggi. Mbok cuma bilang kalau hati-hati dengan mimpinya dan tetap harus ingat tanah yang dipijaknya.

Namanya Gantara. Teman bermain sejak kecil. Bapak dan ibunya pemilik tambak ikan bandeng terbesar di desa tempat mereka tinggal.
Mereka punya kebiasaan yang sama. Duduk di depan tambak sambil membaca buku. Gantara punya banyak buku dan selalu mengajak Lies membaca bersama sebuah buku baru.
“Cita-citamu harus tinggi,Lies.”
“Kalau sudah tinggi?”
“Jadi istriku.”
Lies tersipu. Dan ia terkejut ketika Mbok memanggil namanya.
“Lies…., mereka sudah datang?”
Lies menggeleng.
“Pur… sebentar lagi pergi…”
Lies diam, memandangi tumpukan buku yang ada di hadapannya.

Pur baik. Baik sekali. Lelaki dari desa lain yang pendiam. Ia menjadi penyuluh pertanian di desa. Lalu pada suatu hari, ketika mendatangi kebun Mbok, Pur melihat tumpukan buku di teras rumah Lies. Sejak saat itu, Pur rajin menawarkan buku-buku bacaaan untuk Lies.
Langit di luar mulai gelap. Lies menyalakan lampu. Nanti malam ia akan mulai mengisi harinya dengan membaca buku.
**
Mereka akhirnya datang.
Duduk di kursi tamu. Lalu bicara tentang sebuah perjalanan panjang, yang akan membuat Lies menahan isak lebih dalam lagi.
Tiga anak kecil berlarian menggelendot manja pada Lies.
“Carikan kami tebu yang paling manis, Bu De.”
Lies menundukkan wajahnya. Carikan tebu yang manis itu seperti pengulangan tahun-tahun lalu. Ia selalu bisa membedakan mana tebu yang manis yang akan ia potong batangnya, lalu mereka saling menggigit hingga batang-batang itu menjadi pahit rasanya.

Dari sudut matanya Lies melihat seseorang memandangi sambil tersenyum.
“Bu De lagi repot…” ujarnya.
Lies lalu akan membuatkan teh dan ditempatkan dalam sebuah poci. Teh yang pas adalah dengan merek seorang ibu berkebaya sedang menyapu lantai. Tidak ada teh yang lain.
Lalu ketika serpihan daun-daun teh yang hitam bercampur beberapa kuncup melati itu, Lies tuangkan dalam wadah, Lies seperti melihat gelapnya perjalanan yang sudah ia lalui.
Ada masa dimana ia ingin berhenti saja di sebuah titik ketika sebuah undangan terulur padanya. Dan sepasang mata elang menatapnya jernih tanpa rasa bersalah.
“Maafkan…”
Maaf adalah sebuah kata yang seringkali hadir di telinga Lies, hingga ia tidak bisa lagi membedakan mana maaf yang benar-benar hadir di hati.
“Maafkan…”

Hanya itu. Tidak ada penjelasan panjang. Tidak ada juga kata menyesal untuk harapan yang sudah mereka bangun bersama sebelumnya. Untuk harapan dan mimpi tinggi itu, Lies berjuang keras membiayai kuliahnya dari hasil berjualan juga membantu di rumah Gantara, mewarisi pekerjaan Mbok.
Lalu setelah itu, ia berkutat di dapur bersama para perempuan lain.
Perayaan besar itu membuatnya harus memasang senyum, lalu menghadirkan tegar yang dipaksakan.
Candaan di dapur adalah candaan yang membuatnya yakin kuah sayuran di hadapannya sudah bercampur air mata. Mereka bercanda saling mencubit dengan mata yang melirik tajam padanya.
Ia adalah gadis pemimpi seperti punuk merindukan bulan.
“Bu De…., aku minta tebu…”
Tarikan di lengan bajunya membuat Lies harus bangun dari mimpinya. Ia tersenyum lalu mengangguk.

Setumpuk baju-baju masih layak pakai tersimpan di sudut. Ia boleh memilih bagian mana yang cocok untuknya. Setelah itu berikan pada yang lain.
Tapi ia yakin tidak akan ada yang cocok untuknya. Baju-baju itu dipenuhi dengan pernak-pernik yang menyala. Atau terlalu seksi untuknya.
Itu baju seorang gadis cantik yang akhirnya dipilih Gantara. Gantara berbisik dan mengatakan bahwa Arumi harus dibantu agar tidak lagi menjadi penyanyi dangdut.
Mereka saling jatuh cinta.
Itu bukan bantuan, tapi memang sesuatu bernama cinta.
Sejak saat itu, Lies tahu. Ia punya mimpi yang terlalu tinggi.

**
Sepotong roti itu ada di atas buku. Roti aroma keju bercampur taburan coklat.
“Aku akan pergi, Dik…”
Suara anak-anak ramai bermain di ruang kecil. Mereka sedang berlomba membaca cepat.
“Ada tugas ke luar daerah. Mungkin bisa menetap di sana.”
Suaranya tidak merdu. Ia juga tidak pintar bicara seperti Gantara. Tapi matanya memandang Lies penuh harap.
“Lies….”
Kemarin Mbok bertanya tentang mimpinya. Sungguh mimpi Lies hanya satu. Menikah dengan Gantara itu saja. Tidak ada yang lain.

“Kamu belum bisa melupakannya, Dik?”
Lies menunduk. Ia tidak bisa melupakan Gantara bukan karena jeratan cinta monyet. Bukan.
Tapi karena mereka sudah hampir menikah. Benar-benar hampir menikah dengan undangan yang sudah mereka pikirkan bersama. Mbok memeluknya kuat-kuat dan berdoa sama kuatnya.
Lalu perempuan itu datang begitu saja. Menginap di rumah Gantara atas undangan ibunya. Dan Gantara jatuh cinta.
Setelah itu semuanya seperti kilatan petir yang menyambar ranting kering. Terbakar tidak ada yang tersisa.
Mbok mengatakan itu kekuatan sihir. Tapi Lies paham apa yang orang lain katakan berbeda. Gadis itu memang cocok untuk Gantara. Lies mungkin yang harus tahu diri. Meski kuliahnya sudah selesai, tapi ia tetap anak si Mbok dan Gantara tetap anak pemilik tambak terbesar di desa.
Gadis yang dinikahinya, Lies tidak mengerti asal usulnya. Yang jelas, ia cantik dan terawat. Dan cantik terawat itu akan membutakan banyak mata lelaki, termasuk mata Gantara.

“Dik…, kalau kita menikah…”
Lies menunduk. Membayangkan sebuah masa di mana ia akan sendiri. Taman bacaan kerjasama dengan Pur mungkin tidak ramai lagi dengan dongeng dari Pur.
Lies menggleng. “Maaf..,” ujarnya pelan. Ia tahu Pur pasti mendengarnya.
**
Mereka akan pulang. Pulang secepatnya dan menyisakan Gantara di rumah. Lies tidak tahu kenapa mereka pulang secepat itu. Biasanya mereka akan tinggal sampai dua minggu lebih.
“Bawa getuk kesukaan Gantara ini. Jangan banyak bermimpi, Lies. Yang Mbok tahu mereka sudah bercerai. Usaha Gantara bangkrut, istrinya tidak kuat.”
Lies mengangguk saja. Ia sampai di depan rumah, masuk ke dalam dapur dengan serantang penuh getuk.
“Bu De……”
Tiga anak yang kesemuanya mewarisi kegagahan Gantara menghambur ke pelukan Lies. Lalu menarik tangan Lies ke kebun tebu di belakang rumah Gantara.
Dua pasang mata memandanginya. Seorang perempuan cantik dengan lesung di kedua pipinya. Rambut ikal kecoklatan. Perempuan itu menggeleng. Menyeret tas besarnya. Memandang Lies sambil tersenyum.
“Titip..,” ujar perempuan itu di sisi Lies. Kepalanya mengisyaratkan pada Gantara yang duduk di teras.
Lalu Lies melihat Arumi berjalan menjauh menggandeng kedua anaknya. Satu yang lain berteriak dan menangis tidak ingin ikut pergi. Gantara tidak bereaksi.Ia diam dan menekuri lantai rumahnya.
Lies menarik napas panjang.
“Kami tidak cocok…”
Itu kalimat yang akhirnya Lies dengar keluar dari mulut Gantara, ketika mengantar Lies sampai pintu gerbang.

**
Batang-batang tebu itu mulai ditebas menyisakan satu dua batang yang diminta dan ditunggui anak-anak untuk dijadikan rebutan.
Lies berdiri.
Rumah baca yang ia miliki dan Pur selalu bersedia menjadi penyumbang, sore ini sudah ramai dengan anak-anak.
Sebuah motor dan keranjang dipenuhi buku berada di luar pintu taman bacaan..
Pur sudah siap dengan kemejanya yang rapi. Matanya memandang pada Lies.

“Lies…”
Lies mengangguk. Mencoba tersenyum ketika anak-anak di taman bacaan memanggilnya.
“Aku sudah meminta pada si Mbok….”
“Kembali ke sini, Mas. Aku ada untuk menunggu.” Kalimat itu cepat Lies ucapkan. Sesuatu yang mengganjal di hati sebelumnya, terasa sudah terbebas.
Ia sudah berpikir, berbagi juga dengan Mbok dan hasilnya sekarang adalah kalimat yang telah keluar dari tenggorokannya.
Pur mengangguk sambil tersenyum.
Lies merasakan aroma tebu merasuk ke lubang hidungnya, menawarkan kehidupan baru untuknya.

Selembar Surat

selembar-surat

Batang-batang jati sudah membesar, sepertinya lebih besar dari selimut yang Win bawa, yang sekarang berada di bagian depan sepeda, yang dikayuh oleh Ken. Hawa gunung Kawi menyergap sempurna. Aroma dingin membuat Win ingin bergegas pergi.
“Dulu itu…”
Win tersenyum pada Ken.

Dulu itu sepenggal kisah pernah terukir. Ketika ia senang sekali menghentikan sepedanya. Berhenti pada satu belokan sebelum jembatan, lalu ia geletakkan sepedanya begitu saja. Biasanya setelah itu, tangannya akan meraih sesuatu dari tas yang dicangklongnya. Tas dari kain berwarna abu-abu, yang ia hias dengan pita hasil rajutan dari benang wol berbeda warna.
Kala itu kakinya masih bersepatu abu-abu tanpa hak. Dihiasi dengan kaos kaki berwarna abu-abu juga yang melindungi betis kecilnya dan kemudian ditutup dengan rok abu-abu sebatas betis.
Lalu Win akan berjongkok, karena harus melompati selokan kecil berair jernih, yang airnya mengalir cukup deras. Nanti ia akan berhenti pada satu pohon jati, dengan batang yang ditempeli nomor. Batang jati paling kecil. Seperti tubuhnya. Bernomor delapan nomor kesukaannya.
Win akan mengambil sekop kecil yang memang ia bawa di dalam tasnya. Terselip diantara buku-bukunya terbungkus kain cukup tebal, agar bagian sisinya yang tajam tidak melukainya, ketika ia tanpa sadar mengambil sesuatu dari dalam tasnya.

Selembar surat berwarna merah jambu. Selembar surat yang ditulis pada kertas surat warna merah jambu, dengan amplop manis berwarna biru bergambar sepasang pengantin kartun yang saling bergandengan tangan, dan mata saling menatap.
Win ingat, ia sangat semangat mengorek tanah di ujung kakinya dengan sekop itu, lalu menyimpan surat yang dipegang di tangan kirinya ke dalam lubang yang ia buat. Lubang itu ia alasi dengan daun jati yang cukup lebar, yang ia lipat sesuai ukuran lubang. Lalu menimbunnya dengan cepat, dan menutupi kembali dengan daun jati kering sebelum akhirnya menimbunnya dengan tanah.
Wajah Win berseri-seri. Selembar surat yang ke sepuluh untuk Pak Guru Warno.
Win ingat bahkan setelah itu ia akan terus menoleh ke arah pohon jati, hingga pernah sebuah motor membunyikan klakson berkali-kali ke arahnya.

“Bernama kenangan…,” ujar Ken merengkuh bahu istrinya. Mengajaknya kembali mengayuh sepeda.
Bernama kenangan yang cukup dalam, yang membuat Win berat meninggalkan desa. Bernama kenangan pula yang membuatnya patah hati lalu pergi ke kota untuk menunjukkan bukti bahwa Pak Warno telah salah karena tidak memilihnya.
“Kenangan itu membawa kamu kembali…”
Win mengangguk.
Bernama kenangan pula, yang membuatnya ingin kembali lalu menularkan kesukaanya pada puisi dan seni lainnya. Ken mendukungnya utuh. Tanpa protes. Dengan keyakinan Win dulu dibutakan cinta oleh lelaki tua yang tidak lebih gagah darinya, begitu yang Ken pikirkan.
Rumah untuk itu sudah ada. Bertahun-tahun Win menabung dari hasil kerja kerasnya di sebuah perusahaan swasta, juga dari uang puisi-puisinya di banyak media, dan kemenangan di beberapa lomba. Ken menambahi dari uang hasil penjualan lukisannya.

Tahun kemarin sepetak tanah di samping rumah ibunya dulu berhasil ia beli. Ia “sulap” menjadi sebuah tempat yang nyaman untuk anak-anak desa meski belum utuh sempurna.
Seorang guru Win datangkan. Rencana ke depan, Ken juga akan ikut pindah ke desa bersama Win. Ken bisa melukis di desa dan Win bisa menulis puisi juga di sana.
“Bernama kenangan…,” Ken bersiul. Kepalanya menoleh pada seorang gadis SMA bersepeda berkepang dua. “Mungkin seperti itu, Win?”
Win cemberut. “Dia lebih cantik,” ujarnya seperti menggerutu.
Ada selimut tebal oleh-oleh untuk Bu Linda darinya. Selimut itu memenuhi sepeda yang dinaiki Ken.
Untuk mencapai rumah Pak Warno mereka harus melewati sekolah tempat Win dulu bertemu Pak Warno. Sebuah berita disampaikan temannya, yang masih tinggal di desa. Pak Warno sakit keras.
“Namanya siapa?” Ken menggoda. “Warno. Lebih keren aku, kan?”

Lelaki itu bernama Pak Warno dengan uban yang sudah menghiasi kepalanya. Lelaki itu yang suka mengajari Win dan teman-teman sekelas lainnya berpuisi. Puisi-puisinya pada awalnya tidak Win mengerti.
“Apa itu namanya cinta?”
Win ingat, ketika kalimat itu terucap olehnya, wajah Pak Warno menjadi tegang. Pak Warno pasti mendengar suaranya. Tapi Pak Warno pasti juga tidak ingin menjawab pertanyaannya.
Win suka sekali melihat rambut Pak Warno yang berbeda warna. Apalagi ketika sinar matahari menerobos masuk lewat jendela kaca yang besar.

Pak Warno, lelaki yang gagah di mata Win. Pasti di mata yang lain juga seperti itu.
Win tahu di meja kerja Pak Warno selalu ada getuk berwarna-warni kiriman dari Trinil biduan dangdut. Getuk itu sewarna dengan kostum penyanyi dangdut yang norak di mata Win. Getuk itu juga ada yang berwarna hitam mirip dengan bulu mata palsu Trinil yang diberi mascara tebal, hingga membuat matanya menjadi menakutkan, dan sering Win leletkan lidah di belakangnya. Suaranya nyaring bahkan ketika sudah jauh dari sekolah.

Di meja kerja Pak Warno juga akan ada kue bolu kukus dari tepung singkong, yang akan Lia beri padanya. Lia, janda pemilik toko kue di pasar yang laris manis. Yang bolunya selalu saja diminati banyak orang. Hanya saja, Pak Warno kelihatan tidak suka dengan Mbak Lia.
Juga ada singkong rebus dari Bu Janti sambil berdoa agar Pak Warno diberikan jodoh. Win tahu jodoh yang dimaksud itu adalah anak Bu Warno yang belum menikah juga meski sudah berumur.
“Siapa nama istrinya?” Ken memecah lamunan Win.
Kabut mulai turun. Ia merapatkan jaketnya. Kakinya mengayuh sepeda lebih kuat lagi. Mungkin ia harus balapan dengan Ken.
“Bu Linda…,” teriak Win menggeleng seperti malu mengenang masa lalunya.
“Jadi kita langsung ke rumahnya?”
Win mengangguk. Mereka harus cepat sampai ke rumah Bu Linda.
**
Mata tua perempuan itu memandangi jalan kecil yang membelah desa. Kabut sudah mulai turun. Seluruh jendela di ruangan tempat suaminya dirawat sudah ditutup rapat. Hanya angin sore menelusup lewat celah lubang angin yang cukup lebar.
“Mas sudah dengar?”
Warno menganggukkan kepalanya. Terbatuk. Selimut sudah menutupi tubuhnya. Jaket tebal sudah dipakai.
“Win datang dengan suaminya. Mas ingat dengannya?”
Warno mendengarkan. Ingatannya semakin menua. Tapi gadis kecil itu tidak pernah hilang dari ingatannya.
**
Mereka gagal bertemu. Rumah itu kosong sedang senja sudah ingin beranjak pergi.
Ken mengajaknya kuat-kuat mengayuh sepeda. Mereka harus pulang setelah berhenti di warung bakso, dan Ken menghabiskan dua mangkuk bakso plus separuh yang diminta dari Win.
Win merapatkan jaketnya. Hawa gunung Kawi di desa Jugo tempat ia dulu dibesarkan, mulai tidak bisa lagi diakrabinya. Delapan tahun yang lalu ia tinggalkan. Semenjak Ibu pergi untuk selamanya nyaris ia hanya datang hanya melongok, tidak ingin singgah lebih lama.

Malam sudah dipenuhi cahaya. Tiba-tiba Win rindu menulis pada kertas surat yang berada dalam sebuah buku. Seperti dulu.
Ken sudah tidur dengan selimut menyelimuti tubuhnya. Sudah Win katakan berkali-kali bahwa Ken harus membawa selimut lebih tebal lagi Tapi Ken selalu menolak lalu berpikiran bahwa ia yakin akan kuat dengan hawa dingin.
Win tersenyum sendiri.
Delapan tahun sudah berlalu tapi bayangan Pak Warno masih lekat di ingatannya. Pak Warno lelaki yang membuat Win ingin menulis. Menulis segala rasa cinta, menulis segala rasa sakit hati.
Di depan jendela kamarnya, di bawah temaran lampu Win mulai menulis.
Win ingat pada setiap bulan purnama yang cahayanya terlihat dari jendela kayu yang ia buka lebar-lebar ia berharap cahaya. Cahaya cinta yang bisa ia ambil lalu energinya ia sebarkan pada selembar kertas yang terhampar di hadapannya.

Sebuah puisi Win tulis di buku pelajaran Bahasa Indonesia yang dikumpulkan. Tugas dari Pak Warno. Lalu Pak Warno membacanya dan anak-anak di kelas yang mendengar bersuit-suit sehingga pipi Win memerah karenanya.
Sebatang pohon jati menanti.
Sepucuk hati aku titipkan pada akar-akar jati.
Purnama di langit Win pandangi.
Pada surat kedua puluh yang ia tulis pada Pak Guru Warno, Ibu datang padanya dan memintanya berhenti.
Terdengar suara Ken mengorok.
Win tahu, sudah saatnya Win tutup buku dan menemani Ken.
**
Jika itu Win, maka kenangan lama akan terseret kembali.
Bu Linda memandangi suaminya.
Gadis kecil bernama Win itu luar biasa hebatnya. Mampu mengungkapkan apa yang tidak pernah bisa ia ungkapkan. Gadis kecil itu suka sekali menulis puisi lalu puisi yang belum jadi itu diberikan pada dirinya untuk dikoreksi.

“Kamu jatuh cinta?” begitu dulu ia biasa bertanya.
Lalu Win menunduk. Tulisannya belum sempurna. Puisinya belum indah.
Gadis kecil itu dulu selalu memberikan terlebih dulu surat-surat itu pada dirinya lalu ia akan menyempurnakannya. Setelah sempurna, baru Win akan meletakkannya pada lubang dekat pohon jati di dekat jembatan setiap kali ia akan berangkat sekolah.
Win pasti terinspirasi dari cerita cinta yang Mas Warno sering ceritakan di kelas tentang surat-surat cinta di bawah pohon jati.
“Matamu bundar seperti bola….,” Ia tersenyum kala itu ketika membacanya. “Matamu indah dan teduh…,” ia bicara pada Win untuk membetulkan kalimat yang Win tulis.
“Mungkin samudra hatimu penuh kotoran…”
Kala itu ia terkikik. “Mungkin ada jentik di hatimu yang membuat sinyal di hatiku tak sampai kepadamu…”
Bu Linda menarik napas panjang.
Ia juga sudah mendengar banyak cerita tentang Win. Win yang menghilang seusai pernikahan dirinya dengan Mas Warno.

Dua tahun yang lalu, ia mendapat kabar tentang Win. Puisi-puisi indahnya hadir di banyak surat kabar. Nama Win juga ia lihat dalam sebuah majalah. Seorang penyair yang membuka sekolah untuk anak-anak tidak mampu. Dan kemarin, ia sempat melihat papan nama besar di tempat dulu Win tinggal bertuliskan “Sekolah Win”.
**
Ken memaksa. Tapi Win suka dipaksa karena itu selalu cara Ken untuk membuatnya merasa jatuh cinta dan meninggalkan masa lalu. Pagi tadi seusai nasi pecel di warung pojok tempat langganan Win dulu, Ken mengajaknya bersepeda lagi. Menuju hutan jati. Hutan jati yang batang-batangnya sudah membesar.
Win menantang Ken untuk memboncengnya dan Ken setuju.
Win tidak lupa dimana ia pernah berhenti. Lalu mengambil sekop dari dalam tasnya dan melubangi satu tanah di dekat satu batang jati untuk meletakkan surat yang ia tulis sepenuh hati bagi Pak Warno. Pohon jati nomor delapan.

“Kapan aku menerima surat cinta darimu yang harus aku ambil dari dalam tanah?” Ken menggoda ketika mereka sudah sampai di depan hutan jati.
Banyak hutan jati tumbuh di desa. Ada hutan jati seluas satu hektar lalu dipisahkan oleh beberapa rumah, akan bertemu dengan hutan jati lagi yang lebih luas lagi.
“Kenapa tersenyum sendiri?” tanya Ken yang berjongkok di antara batang-batang jati. Tangannya mencongkel-congkel tanah di dekat kakinya. “Siapa tahu ada surat yang tertinggal,” ujarnya seperti menggoda.
Win memandangi Ken. Tidak akan mungkin ada surat yang tertinggal sebab semuanya sudah diambil oleh Pak Warno, lalu dijadikan seserahan pernikahan pada Bu Linda.
Win ingat, setelah tahu surat itu diambil, ia jadi sering mematut dirinya di depan cermin. Rambutnya ia buat digulung seperti gulungan kepunyaan Bu Linda. Wajahnya ia baluri dengan bedak dari bengkoang yang ia parut, lalu ia jemur agar hanya tersisa patinya saja. Agar kulit wajahnya seputih kulit wajah Bu Linda.
“Kenapa mesti Pak Warno?”
Win menggeleng lalu menahan tawanya ketika Ken mendapati sesuatu dari dalam tas. Bukan, bukan selembar surat tapi sebuah plastik berwarna hitam.
Bayangan Ken seolah berganti dengan bayangan lelaki yang sudah berumur. Duduk berjongkok mengambil surat-surat yang Win pendam. Surat berisi puisi yang sebagian besar dibetulkan oleh Bu Linda. Surat dipenuhi rindu dan rindu itu tidak tertangkap sempurna oleh Pak Warno, yang sudah menduda tiga kali karena ditinggal mati istrinya.
“Aku tahu itu namanya pelampiasan cinta…,” Ken membersihkan tangannya lalu menepuk pipi Win.
Win mengangguk. Bisa jadi itu pelampiasan cinta karena tidak pernah ia kenal sosok ayahnya semenjak bayi dan Ibu menutup mulut setiap kali ditanya.
“Ke gunung aku ikut….” Ken mulai bernyanyi.
Dan tangan Win langsung melayang mencubit pinggang Ken.
**
“Apa Win masih ingat?”
Bu Linda memandangi suaminya. Belakangan ini asma suaminya kambuh terlalu cepat. Berbagai macam terapi sudah dilakukan.
“Surat-surat itu…”
Bu Linda tersenyum sendiri. Mungkin Win tidak akan pernah lupa. Setumpuk surat yang dibungkus kain berwarna biru, yang ikut dijadikan seserahan mas kawin untuknya. Puisi-puisi milik Win yang dipoles olehnya. Puisi untuk Mas Warno yang tidak begitu dipahami bahasanya oleh Mas Warno karena terlalu kekanakan begitu katanya.
Belum lama Bu Linda akhirnya bicara jujur.
Tentang surat tanpa nama yang dipendam di salah satu pohon jati. Itu surat Win. Tanda cinta tapi tak berani diungkapkan.
“Kita berikan Win saja. Itu miliknya. Mungkin berguna untuk Win berikan pada suaminya.”
Warno memandangi Linda istrinya. Ia menganggukkan kepalanya.
**
Win tahu Ken memandangnya.
Mungkin memandang tumpukan surat itu. Mungkin juga memandangi pada saat Win tadi bicara dengan Pak Warno tanpa Bu Linda.
Setumpuk surat puisi dari Win yang tadi diserahkan Pak Warno padanya, sambil meminta maaf karena tidak pernah paham surat itu Win buat khusus untuknya.
Win menarik napas panjang.
“Seringlah main ke sini…,” ujar Bu Linda tadi ketika melepasnya pergi.
“Bapak juga mau mengajar menulis puisi di sekolahmu. Boleh?” tanya Pak Warno.
Sekarang, ia biarkan Ken mengayuh sepedanya mengikuti alur jalan desa yang berkelok dan sedikit curam. Di hutan jati Ken berhenti.
“Mau apa?” tanya Win.
Ken memandangi Win. “Sudah selesai cintanya dan tidak perlu ada kenangan, kan? Apalagi kenangan pahit?”
Win mengangguk. Membiarkan Ken turun dari sepeda menuju satu batang pohon jati. Ken mencongkel-congkel tanah di bawah pohon itu dengan sekop kecil yang Win juga tidak menyangka dibawa oleh Ken. Lalu mengubur surat-surat itu.
Selesai sudah. Tidak ada yang tersisa. Tidak rasa rindu juga sakit hati.
“Aku semakin cinta…,” ujar Ken merangkul bahu Win. “Kamu…
Win tidak perlu menjawab. Ken sudah paham isi hatinya. Sepanjang perjalanan pulang tangan Win memeluk pinggang Ken erat-erat.

Resep Cantik Ibu dan Marcks

review-1

Ada banyak resep cantik, tapi saya selalu percaya resep cantik yang selalu Ibu ajarkan. Ikhlas itu yang paling utama tentunya. Rutin olah raga. Jaga makanan termasuk konsumsi sayur dan buah.
Ada banyak resep cantik, bukan dari salon atau iklan-iklan yang berseliweran di sosial media. Tapi resep cantik dari Ibu, itu yang selalu saya percaya.
Sebab saya melihat prosesnya. Sebab saya diajarkan bagaimana caranya. Dan melihat seperti apa hasilnya.

“Pakai bedak ini…”
Itu dulu Ibu tawarkan pada saya. Ketika saat remaja, saya bingung dengan satu-persatu jerawat yang muncul.
Ingat, Ibu biarkan saya berproses untuk memilih. Sebagai abege dulu saya ikut-ikutan teman yang lain, untuk berganti-ganti merk bedak. Apa yang baru muncul di iklan, itu yang diberi.
“Buat jerawat, buat keringat.”

Saya mulai rutin akhirnya memakai marcks.
Berganti-ganti warna. Kadang saya membeli yang berwarna rose. Kadang memilih yang putih. Kadang juga mengganti dengan yang cream.
Ketika sedang berjerawat, saya memakainya sebelum tidur. Untuk deodoran sebelum berangkat beraktivitas.
Saya orang yang tidak mudah percaya. Tapi Marcks
memberikan bukti bukan sekedar janji. Itu yang membuat saya percaya, dan akhirnya menurunkan rasa percaya itu pada anak saya, seperti Ibu menurunkan pada saya.

img_3113

“Ibu ada bedak?”
Ketika pulang kampung dan lupa membawa bedak, Ibu biasanya akan menunjuk ke satu tempat di wadah rotan miliknya.
Ada banyak tumpukan bedak marcks. Hanya satu, dua yang masih ada isinya. Lainnya sisa wadah bedak. Ibu jadikan sebagai tempat peniti, jarum atau pernak-pernik lainnya.
Bersyukur warung dan di apotik dekat rumah Ibu, bedak ini mudah didapatkan dengan harga terjangkau.

“Bu…, lihat. Masa aku ada jerawat.”
Suatu hari anak gadis saya menunjuk jerawatnya.
“Gampang. Pakai bedak marcks Ibu aja.”
“Bu…., Mas bau badan…,” anak gadis mengeluh soal keringat kakaknya.
“Pakai bedak marcks…,” ujar saya pada yang sulung.

Apa yang Ibu lakukan, saya lakukan.
Untuk menjadi terawat tidak perlu biaya mahal.

Mendidik Anak Bermental Tangguh

“Bu, Ibu tahu baju yang warna biru di mana?”
“Buuu, itu kenapa rotinya habis?”
“Bu…, kok sabunnya habis?”

Ketika anak memanggil saya seperti itu, tentu saja saya senang. Tapi sesungguhnya saya juga sedih. Komunikasi baik dan selalu ada diskusi. Bahkan untuk perbuatan atau kemarahan saya yang tidak mereka suka, selalu ada ruang terbuka untuk berdiskusi.

Anak-anak tumbuh dari balita hingga besar di bawah pengawasan saya.
Mereka dekat dengan saya, itu bagus. Tapi ada yang salah, dan imbasnya adalah kemandirian mereka.
Saya merasa mereka tidak semandiri saya dalam banyak hal. Karena itu pelan tapi pasti, saya berjuang untuk mundur. Demi membiarkan mereka melangkah maju.

Ada banyak hal yang membuat mereka tidak mandiri. Dominasi saya sebagai Ibu, mungkin yang membuat mereka seperti itu. Kadang-kadang saya kasihan meminta mereka ke warung. Akhirnya saya yang pergi ke warung. Kadang-kadang saya kasihan bila harus bersikap keras terhadap mereka. Padahal justru mereka ambil celah dari sana.

Ada banyak hal yang harus diubah. Dan saya mulai mengubahnya pelan tapi pasti.
Dulu ibu punya delapan anak dan setiap anak punya tugas masing-masing.
Sekarang saya punya dua anak, pekerjaan tentu tidak sebanyak saya dulu, maka itu artinya saya juga harus berjuang untuk membuat mereka mandiri dari hal paling kecil.
Anak-anak yang mandiri tahu bagaimana caranya hidup. Hidup tanpa bantuan orangtuanya. Hidup bertanggung jawab dengan kehidupan mereka masing-masing kelak ketika mereka dewasa.
Mandiri dan ketangguhan adalah satu rangkaian.
Anak yang dilatih mandiri akan tangguh menghadapi zaman.

“Gas Ibu habis,” ujar saya.
Anak-anak diam. Ibu antara kasihan dan tidak. Untung si Bapak bergerak memanggil sulung dan meminta sulung mengeluarkan motor untuk membantu saya mencarikan gas.
Galon air mineral belum diangkut? Saya kadang-kadang geregetan untuk menanti sulung saya melakukan hal itu. Tapi memikirkan bahwa kelak ia akan jadi lelaki lembek, membuat saya menahan diri. Maka sejak itu tugas mengangkat galon mineral adalah tugasnya.
Ada cucian piring bertumpuk. Saya kok suka geregetan tangan gatal, jika rumah tidak cepat bersih. Tapi keinginan melihat bungsu mandiri kelak, membuat saya memilih untuk memanggil bungsu, dan meminta ia mencuci piring.

Akhirnya pelan tapi pasti saya terbiasa.
Ada sampah bertumpuk, tidak boleh dibuang, kalau bukan sulung yang membuang. Karena itu tugasnya.
Ada jemuran yang sudah kering, saya harus memaksakan diri untuk tetap diam di tempat. Karena itu sudah menjadi kesepakatan jadi tugasnya bungsu.
Gembok pintu pagar dan mengurusi lampu di lantai atas adalah tugasnya sulung.
Bangun tidur harus bereskan tempat tidur mereka masing-masing. Kalau mereka tidur di tempat tidur saya, itu artinya mereka harus kembali membereskannya setelah mereka bangun.

Tas, pakaian harus diletakkan di tempatnya. Kalau tidak, akan saya taruh di dalam kamar mereka. Dan itu membuat mereka tidak suka, karena kamar mereka kecil dan tidak mau dipenuhi dengan tas mereka yang cukup besar.
Bungsu butuh cari sesuatu untuk kegiatan sekolahnya, saya persilakan dia jalan sendiri menuju toko yang menjual peralatan itu, yang tidak jauh dari rumah.
Keduanya butuh surat dari sekolah untuk ikut lomba-lomba yang saya tawarkan, saya persilakan mereka minta sendiri ke guru. Saya hanya menghubungi guru untuk memberitahu surat yang mereka butuhkan. Selebihnya biarkan anak yang mengurus sampai surat itu di tangan.

Semuanya harus dimulai dari hal kecil.
Dan hal kecil itu dimulai dari ketegaan saya sebagai ibu, dan dukungan dari suami agar seiring sejalan dalam hal mendidik anak-anak.

“Ibu aku mau buat kue. Bahannya apa aja. Aku bisa.”
“Bu… ini bajuku kancingnya copot, akhirnya aku pakai peniti.”

PR saya masih banyak.
Tapi paling tidak saya bersyukur, saya tidak terlambat menyadari pola asuh yang salah. Tentu saja perkembangan mereka selanjutnya akan saya selalu lingkari dengan doa, agar langkah mereka tidak melenceng dari jalur yang benar.

Liburan Produktif untuk Anak

anak-2

“Liburan kita ke mana?” anak-anak bertanya.
Liburan kita ke mana? Ke beberapa tempat seperti biasanya? Ke luar uang untuk mengistirahatkan mata dan pikiran? Lalu pulang menguap begitu saja?

Saya berpikir ulang.
Liburan kali ini harus jadi liburan berbeda. Liburan bukan yang sekedar menghasilkan sesuatu dan menguap tanpa terasa. Saya ingin mereka merasakan liburan yang berbeda.

“Ikut program ke Kampung Inggris. Mau?” tanya saya.
Anak-anak yang sekolah dari pagi sampai sore, dikasih liburan dengan bentuk lain, pastinya akan menolak. Apalgi mereka tahu target ibunya. Yang terbayang adalah mereka harus belajar di sana. Bukan bersenang-senang. Iya bersenang-senang dalam artian otak dibuat bebas tanpa berpikir.
“Bu…, liburan, ya, liburan. Bersenang-senang,” itu yang diucapkan Sulung. Program itu memang semula saya tawarkan padanya.
Setelah negoisasi maka ia berkata lagi. “Aku sendiri, loh,” protes dia ketika saya menawarkan program itu untuk adiknya juga.

Okelah program ke Kampung Inggris di Pare, Kediri, untuk Sulung dan Bungsu pada kesempatan berikutnya.
Pembayaran sudah dilakukan. Tapi di tengah bulan, setelah pembayaran pertama disetor, Sulung bilang.
“Bu, tes pesantren aku tanggal yang 18, loh. Kampung Inggris berangkat tanggal 17.”
Sulung memang sudah mendaftar di pesantren. Pesantren dia yang pilih. Sebulan ia juga ikut pendalaman materi masuk pesantren dari sekolahnya.
Saya biarkan ia berproses. Belajar konsisten dengan pilihannya. Tapi yang pasti harus ditangani. Yang pasti pasti itu, program ke Kampung Inggris harus ada penggantinya. Maka saya tawarkan pada Bungsu.
“Apa aku bisa, Ibu?”
Saya mengangguk. Memberi rayuan dengan terus-menerus berkomunikasi. Bahwa dunianya akan berkembang, jika dia tidak menghabiskan liburkan di rumah saja. Bahwa ia nanti akan belajar bagaimana mengolah rasa, ketika jauh dari orangtua. Bahwa dia juga nanti akan merasakan, betapa nikmatnya tempe goreng bikinan ibunya ketika jauh dari Ibu.
Bungsu berangkat. Was-was campur senang.
Ke mana? Kampung Inggris di Pare, Kediri. Perjalanan 12 jam dari Bekasi dengan kereta api. Rombongan dari sekolahnya.
Hari pertama ketika ditelepon masih menjawab tidak enak. Tapi selalu saya bilang, bersyukur. Karena tidak semua anak bisa mendapatkan kesempatan ini. Tidak semua orang tua bisa membiarkan anak pergi jauh dari mereka. Bersyukur dan nikmati.
Maka hari selanjutnya, dia sudah terdengar ceria. Dan foto-foto dari guru pembimbingnya juga memperlihatkan hal itu.
Menjauh dari orangtua membuat ia menemukan satu titik hikmah. Bagaimana menjadi tegar dan bahagia.
Saya juga belajar menyadari, bahwa kelak mereka punya hidup sendiri. Tentu ini juga pelajaran agar kelak saya tidak merecoki hidup mereka, ketika mereka sudah dewasa dan berumahtangga.

anak-3

14 hari Bungsu akan menikmati liburan sambil belajar. Satu kamar kosong. Si Sulung bingung tidak ada sparing partner di rumah. Biasanya mereka berdua sering bantah-bantahan lalu akur lagi.
“Asyik, aku bebaaaas,” begitu kata Sulung.
Bebas dalam artinya tidak terikat pelajaran. Ia ingin bebas sepenuhnya. Nonton tipi sepuasnya, main bola sepuasnya, nongkrong sepuasnya. Seperti teman-teman bermainnya yang tidak direcoki oleh aturan ibunya untuk ini dan itu.
Bersyukur, begitu Bungsu berangkat saya dapat brosur pesantren kilat dari adik saya. Kebetulan anaknya yang di pesantren ingin ditingkatkan kecintaannya pada Al Quran.

Menolak, iya menolak pada awalnya. Tapi saya intens berkomunikasi dengannya. Tentang waktu muda yang bisa habis tersia-sia. Tentang proyeksi hidup setelah kematian, Tentang wawasannya sebagai anak muda yang harus diluaskan, agar tidak seperti katak dalam tempurung.
Ia harus kenal banyak orang, menghadapi banyak orang, beradaptasi dengan orang banyak, melihat bahwa dunia luar itu luas, dan ia harus berada di keluasan dunia itu tanpa kehilangan jati diri.

“Ibu tahu, ini liburan?”
Saya mengangguk.
Hari biasa telepon genggam ada di tangan saya. Cuma Sabtu Minggu mereka boleh pegang. Peraturan dari sekolah juga seperti itu. Tapi aduhai, menyerahkan telepon genggam di tangan dua remaja, itu sama artinya dengan membiarkan mereka melakukan kegiatan yang tidak manfaat. Tapi membuat mereka jadi kurang update juga saya tidak mau. Mau saya mereka kenal internet juga dunia maya dan sela seluk beluknya, untuk mereka jadikan celah belajar. Mereka bisa membuat sesuatu yang kreatif, bukan hanya tenggelam membaca status menikmati video-video saja.

“Kalian harus tahu indahnya dunia tanpa internet,” ujar saya.
Mereka tahu Ibu sulit dibantah.
Mereka tahu meski tanpa emosi, Ibu akan mengajak diskusi yang hasil akhirnya mereka akan tunduk.
Lalu giliran Sulung berangkat. Cemberut, malas-malasan, memperlambat waktu, itu biasa. Toh dia paham ibunya pantang tergerak hatinya untuk hal-hal seperti itu.
“Ibu, teman lain senang-senang,” keluhnya tentang teman-teman bermainnya.
Kami naik kereta yang penuh sesak. Dari angkutan umum menuju kereta, transit untuk pindah kereta yang penuh sesak lagi, lalu berlanjut naik ojek.
Sepanjang jalan, saya ada kesempatan untuk memasukkan pesan padanya.
“Ini yang Ibu lakukan untuk menuntut ilmu. Sebab ilmu tidak datang dengan mudah. Ilmu itu harus dikejar.”
Maka saya antarkan dia ke suatu tempat, di mana berkumpul teman-teman sebanyanya yang menghafal Al Quran.

anak-1

Melihat dia bergegas ke masjid. Melihat dia memegang Al Quran memang biasa. Tapi melihat dia yang baru datang, lalu saya tinggalkan di masjid dengan Al Quran di tangannya yang sedang dihafal, rasanya ada yang terasa nyes di hati.
Apalagi ketika mulai hafalan jam lima dan jam sembilan malam ia setoran ayat baru. Satu halaman ia dapat menghafal di hari pertama. Ustadz pembimbing selalu meng up date informasi perkembangan peserta dan foto-foto untuk penawar rindu orangtua.
Akan ada sepuluh hari waktu untuknya. Akan ada banyak yang bisa ia raih, termasuk bagaimana menambah wawasan dan mengelola emosi juga mentalnya.

Tapi paling tidak saya bahagia.
Liburan yang saya berikan kali ini pada anak-anak, adalah liburan yang berbeda.
Mereka akan datang setelah liburan, dengan cerita yang berbeda dengan teman yang lainnya.
Dan sebagai Ibu, saya akan jadi tempayan untuk menerima ilmu baru dari mereka.

Alternatif Liburan Ibu Rumah Tangga

“Horee libur…,” begitu biasanya teriakan anak-anak ketika libur telah tiba. Maka anak bersenag-senang dengan bermain. Kadang saking senangnya, mereka main suka lupa waktu. Harus dicari berputar-putar baru akhirnya kembali. Itu pun masih disambut dengan cemberut. Padahal pulang hanya untuk diminta makan, mandi atau shalat.

Masa-masa heboh seperti itu sudah mulai berlalu.
Dulu setiap Desember, saya sudah siap dengan peralatan tempur untuk pulang kampung. Lalu cek cek daerah tujuan wisata. Pokoknya fokus menambah wawasan untuk anak.

Mereka puas bermain, mereka sudah puas jalan-jalan.
Sekarang mereka sudah remaja. Arah hidup sudah harus ditentukan. Jalan-jalan yang saya tawarkan untuk mereka adalah menuntut ilmu. Jika letih dari berpergian seringnya mendatangkan keluhan, maka letihnya menuntut ilmu pasti akan membawa keletihan yang membuat bahagia.

Anak-anak pun pergi untuk liburan sambil menuntut ilmu.
Ibu?
Ibu rumah tangga yang di rumah saja, ketika anak sudah besar dan punya acara sendiri, bisa punya banyak alternatif liburan. Liburan alternatif ini juga bisa dipakai ibu-ibu dengan anak yang ada di rumah. Bisa dilakukan bersama anak-anak.
Mengisinya dengan apa?

1. Mewarnai gambar.
Iya gambar-gambar seperti ini saya print. Lalu saya mulai mewarnai. Dan ini efektif juga untuk membuat tangan lebih lentur.
Anak saya juga suka kok melakukannya. Bahkan kami berlomba untuk itu.
warna4

2. Bercocok tanam.
Ketika anak-anak masih kecil, Ibu tidak punya waktu untuk diri sendiri. Bahkan untuk menyiram tanaman pun suka lupa. Ketika anak-anak sekolah, sebagai ibu kita sudah kehabisan banyak energi untuk menyiapkan sarapan, pakaian dan lain sebagainya.
Ketika anak sudah libur, kita lebih bisa menata waktu. Dan tentunya waktu yang berharga itu harus dimanfaatkan.
Cobalah mulai mencari-cari tanaman untuk ditanam di pot kecil saja. Cari tanaman yang mudah perawatannya.
Atau sebarkan bibit cabai juga tomat. Mereka bisa tumbuh tanpa perlu repot mengurusnya.
Jika anak ada di rumah kita bisa ajak mereka melakukannya. Jika anak masih kecil, bebaskan mereka untuk mengenali tanah, cacing juga sekop.

3. Masak.
Masak yang macam-macam kalau bukan ahlinya menyulitkan. Karena waktunya sempit, Di saat anak-anak libur, maka kita jadi punya waktu lebih untuk mempelajari sebuah resep dan mengeksekusinya.

4. Buat kerajinan tangan.
Pakai apa saja. Pakai tutup botol bekas bisa. Pakai pakaian bekas lalu kita modifikasi jadi macam-macam, entah itu keset atau boneka.

5. Cek alat yang ada di rumah.
Kalau punya mikser dan selama ini hanya menganggur di gudang, coba deh mulai belajar digunakan. Sayang kalau alatnya hanya jadi pajangan.
Kalau punya kamera? Biasa tuh untuk mulai belajar memotret. Tidak harus jadi fotographer profesional. Yang penting ilmu kita bertambah, dan alat kita jadi berguna.

kerjaan-ibu

6. Tambah ilmu agama
Iya liburan efektif tambah ilmu agama. Kita bisa full mengikuti kajian di majlis ilmu dari awal sampai akhir, tanpa perlu dibingungkan dengan mengantar jemput anak.
Dan majlis ilmu ini kelebihannya adalah, ada malaikat yang ikut bersama kita dan mengaminkan doa-doa kita.
Majlis ilmunya di masjid, ya. Bukan dari sosial media.

7. Saatnya beres-beres
Debu-debu di lemari mungkin sudah terlalu tebal, karena kita lupa untuk membersihakannya. Dan libur adalah saat yang menyenangkan untuk bersih-bersih rumah. Beres-beres ini itu.

8. Baca buku.
Punya koleksi buku yang tidak tersentuh? Belum punya waktu untuk membacanya dengan alasan diganggu urusan PR anak-anak?
Saatnya liburan ini kita bisa membaca buku sampai selesai.
Tidak ada alasan anak lagi. Bahkan kita bisa juga membacakan buku itu untuk anak-anak.

Masih banyak kegiatan lain.
Yang penting kita senang melakukannya.
Jangan buang waktu dengan hanya tidur makan dan tidur makan, ketika anak-anak sedang libur.
Kalau bukan sekarang kapan lagi?

Alhamdulillah, Saya Bukan Ibu yang Pintar

lukisan-kami

Suatu pagi saya tercenung. Setelah membaca postingan politik yang ditulis oleh seorang perempuan. Seorang Ibu juga. Kebetulan setelah itu saya berada di dapur. Menikmati membanting adonan roti untuk suami dan Sulung yang harus berangkat pagi.
Penulisnya pasti perempuan pintar. Isi otaknya seperti apa yang ditulisnya. Saya terkagum-kagum dengan kepintarannya. Tapi sayangnya saya tidak boleh berlama-lama kagum. Tidak boleh berlama-lama kepingin menjadi seperti dirinya. Tidak boleh berlama-lama membayangkan andai saya sepintar seperti dirinya.
Ada kompor, panci, wajan dan sejenisnya di dalam dapur saya. Kompor sedang menyala, adonan roti mulai tercium wanginya. Dua orang tercinta sedang bersiap. Bayangan saya harus dihentikan sampai satu titik, perempuan itu pintar dan hebat. Saya apalah artinya dibandingkan para perempuan hebat itu.

Banyak perempuan hebat dan pintar. Banyak yang ingin dianggap hebat dan pintar juga. Dianggap menguasai sesuatu lebih dibanding yang lain.
Masalah politik membuat banyak yang merasa jadi ahli politik.
Masalah agama, langsung membuat mereka menjadi ahli agama.
Mereka hebat. Mereka pintar, itu saja yang ada di pikiran saya. Untuk selanjutnya kembali saya menyadari, bahwa ruang pintar seperti itu tidak saya miliki.
Mungkin dulu rasa itu pernah saya kejar. Ingin dianggap pintar.

Saya ingat dulu kuliah di fakultas ilmu sosial ilmu politik. Pada zaman politik sedang membara, maka teman-teman menjadi pendemo dan jadi pakar politik. Saya terseret membuat media politik bersama teman-teman satu fakultas, jadi reporter politik, mewawancarai nara sumber seputaran Jawa Tengah, terutama Solo, Jogja dan Semarang adalah makanan rutin ketika majalah akan terbit.
Ada banyak bahasa politik yang harus saya pelajari, harus saya sering-sering ucapkan jika ingin bergaul di kalangan teman-teman yang ahli politik. Biar sejajar.
Terpengaruh keadaan juga setiap hari bergaul dengan teman-teman yang ada di pergerakan. Sampai-sampai pernah dibohongin diminta memakai t-shirt dan dipanggil dekan, karena ternyata tulisan di t- shirt itu dianggap menyerang sesuatu terutama pemerintah. Dan saya tidak tahu akan hal itu. Dipanggil untuk diinterogasi. Sambil memarahi teman-teman yang tidak memberitahu, kenapa pada hari itu saya diminta memakai t-shirt tersebut sedang mereka menyembunyikannya?

Ada banyak ahli politik yang saya wawancarai. Bahkan pelaku politik pernah juga saya wawancarai. Ingat satu tokoh tinggi di Solo saya wawancarai bersama seorang teman. Saya perempuan satu-satunya, sedang tokoh itu dikelilingi oleh ajudan beberapa laki-laki di sekelilingnya.
Pada saat itu saya merasa keren, saya merasa pintar juga.
Sedikit ikut demo sana-sini. Tidak ikut teriak yel yel, karena saya lebih suka mendengar dan menyimak untuk kemudian mengambil kesimpulan.
Ohooo, banyak orang pintar. Suara saya tidak akan ada apa-apanya dibanding orang-orang itu. Tapi saya masih merasa hebat juga.

Banyak orang pintar dengan bahasa tinggi. Banyak yang kagum dan ingin belajar seperti itu. Tapi sayangnya bahasa tinggi itu justru membuat saya mundur dari hal-hal seperti itu. Ketika di suatu tempat di desa kecil pada saat Kuliah Kerja Nyata selama tiga bulan, yang berbahasa tinggi justru tidak bisa membaur dengan penduduk desa. Yang punya bahasa tinggi fokus memikirkan hal tinggi, tapi lupa di desa itu sedang kekeringan dan mahasiswa harus turun naik gunung mengajar ini itu dari satu sekolah ke sekolah lain plus menimba sumur untuk mandi.
Yang menemani bidan keliling desa turun naik gunung hanya yang itu itu saja.

Kapasitas dan Potensi Kita

Mungkin memang saya ditakdirkan tidak pintar. Justru karena tidak pintar itu saya jadi berjuang untuk terus belajar.
Mungkin memang saya ditakdirkan pusing mendengar kalimat yang terlalu tinggi. Justru karena itu saya jadi mencintai pola pikir saya yang tidak macam-macam.
Saya memiliki kapasitas dan kemampuan saya sendiri yang berbeda dengan orang lain. Kapasitas dan potensi yang ternyata membuat saya nyaman. Dan dalam proses nyaman itu justru potensi semakin berkembang.
Kapasitas saya tidak untuk berkerut kening memikirkan bahasa tinggi dan pemikiran yang tinggi. Kapasitas saya ada pada hal yang disepelekan oleh banyak orang pintar. Memahami orang lain, belajar banyak empati lalu menyebarkannya.

“Itu orang pintar, Bu…,” anak saya menunjuk seseorang perempuan di televisi. “Yah, Ibu kalah,” ujarnya.
Saya mengangguk.
“Alhamdulillah, Ibu tidak seperti itu. Kalau seperti itu, pasti sampai sekarang kalian tidak pernah merasakan roti buatan Ibu,” jawab saya membela diri.

Banyak orang pintar.
Dan saya menikmati proses menjadi seorang ibu dan perempuan yang biasa-biasa saja. Untuk tidak berhenti belajar tentu saja.