Anak-anak Menang Lomba Menulis

Attar menang

Bilqis Menang

Salah satu hal yang selalu tekankan pada anak-anak adalah untuk berlatih menulis dan berjuang dengan cara tidak instant.
Tidak instant dalam versi saya adalah anak-anak tidak langsung menghasilkan sebuah buku. Tapi berproses membuat karya dan menembus media.
Berjuang untuk menembus media tentu saja tidak mudah. 32 tahun saya mengalaminya. Perlu kegigihan dan semangat ekstra untuk itu. Apalagi honor dari tulisan yang dimuat di media bisa digunakan untuk membeli berbagai kebutuhan.

Anak-anak di rumah berjuang menulis dan menggambar lalu semua hasil karya mereka saya kirimkan lewat pos.
Attar sudah 15 kali karyanya tembus di media.
Bilqis adiknya 4 kali.
Masalah hitungan angka dimuat itu juga masalah keberuntungan. Atau bisa jadi masalah Attar sudah paham betul karya seperti apa yang dimuat di media. Ia sudah tahu tema yang diinginkan media. Jadi ketika ada moment seperti Ramadhan ia akan menggambar atau membuat tulisan dengan ide moment tersebut.
Bilqis berjuang terus menerus. Kalah bersaing dengan kakaknya. Hampir putus asa. Tapi saya ingatkan untuk terus berjuang.
Alhamdulillah Ramadhan hari kedua, Bilqis menjadi salah satu pemenang lomba “Aku dan Musikku” di penerbit Mizan.
Sebelumnya Attar menang lomba “Aku dan Lingkungan” di penerbit yang sama.

Untuk saya prestasi bukan artinya berhenti. Anak-anak saya buatkan blog. Dan belakangan ini Bilqis senang sekalli mengisi blognya. Dia merasa blog itu seperti buku harian untuknya.
Untuk Attar yang sudah beranjak remaja dan rasa sok tahunya mulai meningkat, saya tetap juga meminta ia menulis di blog. Kesukaannya bermain bola dan melihat pertandingan bola bahkan hapal bagaimana sebuah permainan itu berlangsung, saya mulai memintanya untuk menulis artikel tentang bola.
Semuanya itu bukan berarti membuat mereka harus menjadi penulis.
Paling tidak mereka suka menulis lalu membagikan semua ilmu mereka dalam bentuk tulisan sehingga ilmu mereka akan bertambah.

Prestasi bukan berarti berhenti. Ini hanya anak tangga yang harus mereka lalui dalam hidup supaya mereka sadar, mereka punya potensi yang bisa dibanggakan dan berguna untuk diri mereka sendiri juga orang lain.

Satu Kotak Teh Celup

majalah Girls

Mereka tidak pergi liburan seperti yang lain. Mereka hanya akan duduk menunggu. Tina dan Ibu yang akan menunggu. Menunggu semua saudaranya yang akan datang dari kota besar untuk merayakan hari ulang tahun pernikahan Eyang Putri dan Eyang Kakung.
52 tahun, begitu yang Ibu bilang pada Tina soal usia pernikahan kedua eyangnya tersebut.
Mereka tidak pernah pergi pada saat liburan.
Mereka memang sejak dulu tinggal bersama Eyang di rumah kecil yang dibangun di samping rumah Eyang. Rumah kecil yang satu halaman dengan rumah milik Eyang. Rumah kecil yang tidak pernah bocor ketika Ayah masih ada. Tapi sekarang seringkali bocor tapi Ibu selalu bilang kalau rumah mereka tidak bocor pada Eyang.
Mereka akan datang.
Saudara-saudara Ibu dari kota. Dengan mobil bagus milik mereka. Mobil yang wangi parfumnya membuat Tina suka muntah dan Ibu jadi suka melotot diam-diam pada Tina karena sudah mengotori mobil itu.
“Semua akan bawa hadiah, Ibu?”
Ibu mengangguk.
Semua akan membawa hadiah. Saudara-saudara Ibu. Ada tiga orang semuanya. Tinggal di kota semuanya. Membawa mobil semuanya.
Tina suka bila mereka datang. Soalnya rumah Eyang jadi penuh makanan dan hadiah. Tina bisa makan apa saja tapi Ibu akan memarahi Tina kalau Tina sampai muntah karena kekenyangan.
Tidak ada lilin ulang tahun. Tapi selalu ada kue tart yang dipesan dari toko kue paling enak. Padahal Ibu bisa membuat kue itu tapi Ibu selalu bilang kue buatan Ibu tidak cocok untuk mulut orang kota.
“Ibu kasih hadiah apa?”
Ibu memandangi Tina.
Tina menunduk.
Sejak Ayah meninggal Ibu tidak punya apa-apa.
Ibu bekerja di toko kecil. Uang sekolah Tina dibantu oleh kakak dan adik Ibu.
“Ibu tidak bisa beli apa-apa?”
Ibu mengelus kepala Tina. Tina tidak tahu apa artinya.
**
Mereka sudah akan datang. Satu jam lagi. Sekarang sedang ada di toko kue. Begitu yang Eyang Putri bilang pada Tina dan meminta Ibu menyiapkan minuman sebanyak saudara yang akan datang.
Ruang tamu sudah bersih di sapu dan di pel oleh Ibu. Tirai jendela juga sudah Ibu ganti. Sarung bantal di rumah tamu juga begitu.
Semuanya Ibu yang mengerjakan.
Kalau mereka bawa hadiah, lalu Ibu memberi hadiah apa?
“Ibu….”
Ibu berdiri di hadapan Tina. Menyodorkan sesuatu.
“Ini apa?”
Ibu tersenyum. “Ibu seminggu yang lalu pesan pada teman Ibu yang kerja di kota. Ini teh kesukaan Eyang. Teh ini yang selalu Eyang minum ketika kita tinggal di kota. Teh seperti ini tidak ada di kota kita.”
Tina memerhatikan.
Iya, betul. Teh yang Tina pegang tidak ada di dapur Eyang. Eyang selalu bilang kalau Eyang ingin minum teh seperti yang dulu Eyang rasakan.
“Mahal, Ibu?”
Ibu tersenyum. “Mahal karena Ibu membelinya dengan kasih sayang…”
Tina memeluk Ibu.
**
Mereka sudah datang.
Dengan hadiah bertumpuk di sofa. Lalu ada bunga mawar di dalam vas yang biasanya Ibu isi dengan bunga melati.
Eyang Kakung dan Eyang Putri wajahnya berseri-seri.
Ada kue tart di atas meja. Tina suka coklat pada kue tart itu tapi tidak suka rasa bolunya karena lebih enak bolu buatan Ibu.
“Bunda aku kasih hadiah baju baru buat Eyang berdua…,” Audri yang bicara.
Tina diam. Baju Audri bagus. Pasti kalau Audri tidak suka baju itu akan diberikan pada Tina.
“Kalau Mami aku kasih selop…,” kali ini Tiara yang bicara.
Tina suka jepit rambut ungu di kepala Tiara.
“Aku kasih teh….,” ujar Tina.
Tina tahu, kedua saudaranya bingung mendengarnya.
Tina melihat Ibu tersenyum padanya. Pasti Ibu senang karena Tina tidak malu memberikan hadiah itu pada Eyang.
**
Mereka sudah pulang.
Mereka hanya menginap sehari. Lalu pergi lagi karena sibuk dengan pekerjaan masing-masing di kota. Kalau hari libur, mereka akan memilih pergi ke luar negeri dan Tina bersama Ibu tetap tinggal bersama Eyang.
Hadiah yang banyak itu masih ada di ruang tamu.
Belum Eyang buka.
Yang ada di meja di hadapan Eyang Kakung dan Eyang Putri ketika mereka mengobrol di pagi hari adalah secangkir teh yang Eyang Putri buat sendiri.
Teh yang diambil dari kotak kecil teh yang Ibu hadiahkan untuk Eyang.
Tina tahu Ibu bahagia ketika melihat Eyang meminumnya sambil tersenyum.
Tina juga bahagia.

Separuh Mimpi

percikan Gadis

Aku punya separuh mimpi untuk Jey. Separuh mimpi yang aku terbangkan di dalam balon. Bukan, bukan balon betulan. Hanya balon khayalan yang aku gambar lalu pada setiap gambarnya aku beri tulisan harapanku pada Jey.
Semua harapan ada pada balon. Balon yang aku warnai dengan beraneka macam warna. Setiap malam sebelum tidur, satu balon bertambah satu.
Balon itu bisa pecah lalu hilang dimakan penghapus bisa juga aku robek ketika aku kesal dengan Jey. Jey yang tidak pernah tahu kalau aku begitu berharap dengannya. Jey yang selalu marah bila aku memandangi papanya.
“Jadi, Jey?”
Aku mengangguk pada Alina. Jadi Jey. Bukan Key atau Ley yang play boy itu. Cuma Jey.
“Kenapa bukan yang lain?”
Aku menggeleng.
Ibu juga punya separuh mimpi pada Ayah. Ibu bilang separuh mimpi itu Ibu terbangkan bersama burung-burung dara peliharaan tetangga yang setiap pagi dan sore ribut di atas genteng rumah kami. Setiap burung membawa pesan hati Ibu untuk Ayah.
“Ibu masih cinta?”
Ibu tertawa setiap kali aku bertanya. “Cinta itu memangnya apa?” tanya Ibu menepuk pipiku.
Aku sendiri tidak tahu betul apa itu cinta. Aku pernah suka, naksir terus dadaku berbunyi kencang. Tapi cuma sampai di situ.
“Takut kehilangan, takut dia pergi, takut dia tidak pernah datang lagi.” Mata Ibu memandang ke layar televisi.
Aku menganggukkan kepala. Rasa sedih, rasa kehilangan, rasa ingin dekat.
“Anak Ibu sudah beranjak besar,” ujar Ibu memelukku.
**
Separuh mimpiku memang ada pada Jey. Jey yang kurus, tinggi dan suka meledek itu. Jey yang diam-diam suka bicara pada pohon dan angin karena katanya mereka lebih mengerti perasaannya ketimbang yang lain.
Jey pasti tidak mengerti kalau aku punya balon mimpi untuknya.
“Jey…, salam dari Mia!” itu teriakan Alina pada Jey ketika kami lewat di depan rumahnya.
Ada pohon mangga tinggi tempat Jey menempatkan satu rumah pohon di atasnya, lalu ia akan bermain layangan di sana.
Setiap kali melewati depan rumah Jey, aku pasti akan menunduk.
“Jey….!”
Alina tidak paham. Bukan seperti itu caranya separuh mimpiku diberikan pada Jey.
**
Kami memang harus duduk berdua. Di depan rumah. Memandangi bulan dan bintang di malam hari.
Ibu belum menua. Ibu belum memiliki keriput. Ibu masih cantik di usia 40. Malam ini, Ibu ulang tahun.
“Apa separuh mimpi Ibu?” tanyaku memasang lilin di atas kue bertabur keju yang baru aku beli. Kue kecil untuk Ibu.
Ibu tersenyum.
“Bertemu Ayah?”
Ibu menggeleng.
Ah, Ibu mungkin sudah tidak ingin bertemu Ayah. Ayah sudah hilang sejak aku umur 2 tahun. Ibu bilang, Ibu tidak tahu kemana.
“Sudah lama Ibu tidak menitipkan pesan lewat burung dara..,” Ibu memandang lilin yang baru aku pasang. “Separuh mimpi Ibu sudah Ibu ganti.”
“Aku juga,” ujarku pelan.
“Kenapa?”
Aku mendekat pada Ibu. Memandangi wajah cantik Ibu. “Separuh mimpi Mia ditambah separuh mimpi Ibu, jadi satu mimpi.”
“Mimpi tentang apa?”
Aku sudah memikirkannya. Maka ketika Ibu bersiap meniup empat lilin ulang tahun di atas kue, aku bicara padanya.
“Ibu menikah dengan Papa Jey.”
Aku tahu pipi Ibu memerah. Aku tahu, Ibu suka mendengarnya.
**

Mengompol

PIC_14-04-25_10-55-25

Jadi ceritanya ada kesepakatan antara saya dan anak bungsu saya yang biasa saya panggil Adek, untuk kebiasaan mengompolnya yang membuat pusing kepala. Kalau dia tidak mengompol lagi, maka uang jajan tidak akan dipotong lagi. Dia juga akan saya ajak jalan-jalan ke Solo.
Si Adek ini usianya sudah delapan tahun. Sudah kelas empat SD. Seingat saya di usia saya yang seperti itu, saya berhenti mengompol. Suami bilang, di usia itu ia juga sudah tidak mengompol lagi.
Kalau bukan dari faktor gen, pastinya ada faktor lain yang membuat Adek ini selalu mengompol setiap malam dan membuat saya bertambah pekerjaan dengan mencuci sprei setiap hari.
Si bungsu ini memang agak aneh kebiasaannya bila dibandingkan dengan Kakak. Kakak berhenti mengompol pada usia lebih dini. Saya terbiasa tidak menggunakan popok sekali pakai untuk mereka sejak bayi. Saya biasa membangunkan setiap beberapa jam sekali untuk mereka saya antar ke kamar mandi.
Tapi yang menjadi masalah mungkin karena semakin lama umur semakin bertambah, maka seringnya ketika saya terbangun tengah malam untuk membangunkan, si Adek sudah basah dengan ompol. Kebetulan memang jadwal mengompolnya hanya pada tidur di malam hari bukan di siang hari.
Pakai perlak? Ho ho Adek ini punya karakter seperti saya. Tidak suka diberi perlak. Ibu saya sering bercerita betapa plastik tatakan ompol meski sudah ditutup berlembar-lembar kain pun akan tetap saya singkirkan. Maka Ibu relakan satu kasur untuk hancur lebur termakan ompol.
“Pakai pampers saja, Bu…,” begitu kata si Kakak memberi usul.
Popok sekali pakai itu tentu menjadi bahan pertimbangan saya juga. Terlebih ketika ke warung tetangga, saya dapati ternyata tetangga memiliki masalah yang sama. Anaknya masih memakai popok itu padahal sudah di kelas enam SD, bertubuh gemuk pula.
Saya tidak mau seperti itu. Inginnya si Adek merasakan sensasi basah dan lari ke kamar mandi.
Biasanya kan ketika kita akan mengompol, tubuh sebenarnya memberi alarm. Misal, kita akan diberi mimpi ingin buang air kecil hingga mencari-cari toilet. Kalau alarm berjalan oke, biasanya ketika toilet belum juga ditemukan, kita akan terbangun dari tidur. Tapi ketika alarm tidak berjalan oke, maka kita akan pipis di sembarang tempat. Dan itu artinya kita akan mengompol.
Sensasi basah itu yang harus si Adek dapatkan. Tentunya dengan menyadari kondisi Adek yang perempuan yang kantung kemihnya lebih cepat penuh ketimbang Kakak yang laki-laki.
Maka saya ciptakan situasi setelah ia masuk ke kamar tidur dengan sebelumnya buang air kecil terlebih dahulu, saya pinta untuk memasang alarm di otaknya. Klik, begitu bunyinya. Alarm itu akan membuat ia tidak akan mengompol. Semacam sugesti atau hypnoterapi.
Bermain imajinasi seperti itu awalnya membuat bingung. Tapi saya lihat beberapa kali ke kamar tidurnya, sebelum tidur Adek mulai menggerakan tangan di depan kepalanya dan bunyi klik.
Akhirnya seminggu sampai dua minggu saya menyaksikan kamarnya tidak lagi berbau ompol dan si Adek berteriak kesenangan karena ia tidak mengompol. Itu artinya ia akan dapat uang jajan utuh.
Dan kesepakatan kami harus dijalankan. Saya ajak ke Solo ketika liburan menggunakan kereta api bisnis malam. Adik duduk bersama Kakak sedang saya di tempat terpisah.
Kebetulan kursi kami di bagian belakang dan masih ada sisa ruang di bagian belakang kursi itu. Seorang lelaki menggelar koran dan menjadikannya tempat tidur, kursinya sendiri ada di tempat lain.
Mungkin karena terlalu letih begitu saya menggelar alas di bagian bawah, si Adek sudah langsung terlelap.
Tengah malam, saya dibangunkan oleh lelaki di belakang tempat duduk anak-anak. Ia bertanya sopan. “Bu, air Ibu ada yang tumpah?”
Feeling saya mengatakan itu bukan air. Betul ketika saya cek, air di botol masih tertutup sempurna tapi celana si Adek basah. Alas tidurnya juga basah. Dan air itu mengalir menuju koran tempat si Mas di belakang anak-anak berada.
Di antara rasa kesal pada Adek dan rasa ingin tertawa akhirnya jujur saya bilang, “Maaf, Mas. Anak saya mengompol.”
Adeeeeek.

Melesat Setelah Direndahkan

DSCF1996

Direndahkan, disepelekan, dianggap tidak memiliki kemampuan kerap membuat kita merasa bahwa kita memang rendah. Bahwa kita memang tidak ada artinya.
Kita tidak melihat peluang lain ketika kita direndahkan. Kita merasa bahwa situasi seperti itu tidak bisa dirubah lagi.
Padahal yang terjadi sesungguhnya, situasi seperti itu hadir karena konsep diri kita sendiri yang memang rendah, tidak yakin akan diri sendiri yang akhirnya muncul ke permukaan dan terlihat oleh orang lain.
Konsep diri kita sendiri adalah pandangan dan persepsi kita tentang diri kita sendiri (Those physical, social and psychological perceptions of ourselves that we have derived from experiences and our interaction with other – William D Brooks-1974)

Beberapa hal ini bisa menjadi alternatif yang bisa kita pahami kita direndahkan orang lain :

Direndahkan Karena Kita Memang Rendah

Coba pandangi diri kita di cermin. Lihat seperti apa diri kita sebenarnya. Secara jujur kita membuat penilaian akan diri kita sendiri.
Benarkan bahwa ketika kita direndahkan kita memang rendah?
Benarkan ketika kita dikecilkan kita memang kecil dan tidak bisa melakukan hal-hal yang sifatnya besar?
Ketika kita melihat diri kita secara jujur dan mengakui bahwa ada hal yang salah pada diri kita tentunya kita juga akan tahu kenapa orang lain melakukan hal itu.
Misal, kita selalu melakukan pekerjaan yang salah dan kita tahu itu salah karena sejak awal kita memang tidak percaya diri untuk melakukan pekerjaan itu.
Ketika kita jujur dan mengakui paling tidak pada diri sendiri bahwa kita salah, bahwa kita memang tidak melakukan hal yang optimal, maka kita akan jujur mengakui bahwa orang lain yang memberi kepercayaan atas pekerjaan itu memaki pada kita, memang tidak salah.
Itu artinya orang lain merendahkan diri kita karena kualitas diri kita memang rendah.

Direndahkan Karena Kita Akan Menjadi Tinggi

Interopeksi terhadap kekurangan diri sendiri akan membuat kita sadar, bahwa ada yang salah dengan persepsi orang lain atau ada yang salah dengan diri kita.
Bisa jadi orang lain menganggap diri kita rendah, karena memang konsep diri kita negatif, dan memang kita tidak pernah berperilaku yang positif.
Tapi bisa jadi orang lain merendahkan kita karena kita adalah ancaman untuk mereka, karena takut kita menjadi setinggi bahkan lebih tinggi dari mereka.
Banyak peristiwa di beberapa tempat terjadi ketika seorang yang memiliki potensi besar justru terus dikecilkan, dengan tujuan mereka tidak berani menatap ke depan dan pada akhirnya mereka yakin dengan persepsi itu, lalu tenggelam tidak berani bermimpi lagi.

Pahami Orang Lain Kita Akan Paham Diri Kita

Seringnya orang memandangi diri orang lain dari penampilan luar dan dari apa yang dikatakan orang lain tentang diri kita kepada mereka.
Mengambil celah dari prinsip seperti ini sesungguhnya kita mulai melaju.
Pahami orang lain di sekeliling kita dan lingkungan kita. Ubah persepsi mereka yang tidak baik tentang kita, dengan mulai merubah perilaku kita kepada mereka.
Kalau selama ini kita dikenal sebagai orang angkuh, coba pikirkan dalam-dalam, apakah kita memang ingin dikenal sebagai orang angkuh, atau sebaliknya kita justru ingin dianggap sebagai orang yang ramah?
Kalau ingin dianggap sebagai orang yang ramah, maka coba sentuhlah hati satu dua orang dengan mulai menyapanya. Sehingga kita yang tadinya tidak biasa untuk bersikap ramah, juga belajar untuk menjalani hal itu.

Direndahkan Bukan Harga Mati

Untuk orang-orang dengan konsep diri positif dan memandang segala apapun dengan kaca mata positif, maka dicaci, direndahkan orang lain akan dianggap sebagai salah satu celah untuk melangkah ke arah yang positif.
Direndahkan bukan harga mati.
Direndahkan itu artinya sebuah langkah awal untuk kita mulai intropeksi apa yang salah dengan sikap kita selama ini.
Jika selama ini kita direndahkan karena wawasan kita yang hanya seputaran batok kelapa, maka coba lah untuk menambah wawasan itu sehingga segala kalimat yang ke luar dari mulut kita, adalah kalimat yang diakui kualitasnya.
Bukan orang lain yang bisa merubah nasib kita, tapi kita yang harus merubah nasib kita sendiri.

Jangan Merendahkan Orang Lain

Jika kita sudah mampu ke luar dari zona bernama caci maki dari orang lain terhadap kita, maka buatlah orang lain merasa yakin bahwa selama ini persepsi mereka terhadap kita salah. Dan usahakan agara kita tidak mengulang pengalaman itu pada orang lain.
Jadilah pribadi yang bermartabat. Jadilah individu yang berani mengangkat harga diri orang lain. Berikan pujian yang tidak berlebihan dan dorongan kuat, agar mereka bangkit dari keterpurukan. Dan jika sudah seperti ini, itu artinya kita sudah menjadi individu yang berproses.
Dan individu yang berani mengambil hikmah dari setiap proses hidupnya adalah individu yang bijaksana.

Bebas Seperti Oly

BOBO

Bebas seperti Oly. Bebas mau apa saja. Bebas mau berteriak. Bebas mau mandi hujan. Bebas mau jajan apa saja. Bebas seperti itu yang Winda mau. Kenapa Ibu tidak juga mau mengerti?
Winda mengkhayal sepanjang pelajaran sekolah.
Bebas seperti Oly itu bebas juga mau belajar apa tidak. Kenapa Ibu maunya Winda terus belajar?
“Jajan yang itu, Win…,” siang itu tangan Winda ditarik oleh Oly. Menuju Bang Jambrong. “Kamu mau apa?”
Winda menggeleng. Perutnya sudah lapar. Ibu maunya Winda pulang sekolah terus makan di rumah. Tidak pakai jajan.
“Permennya enak lho..”
Permen warna-warni. Diberi coklat yang lengket di permen kemudian dimasukkan ke dalam mesis warna-warni.
“Mau, ya?”
Sebenarnya Winda ingin mengangguk tapi sudah terdengar suara yang Winda kenal. Suara itu membuat Winda menggeleng cepat.
Ibu sudah datang menjemput. Suara klakson motornya sudah terdengar.
“Besok, ya…,” Oly berteriak.
Winda tidak berani mengangguk.
**
“Bebas seperti Oly? Wer….” Bagas tertawa. Lompat dari tempat tidurnya. Bruk. Suaranya keras karena kakinya menyentuh meja belajarnya. Ia tertawa dan menutupi mulutnya dengan tangannya.
“Kakak mau?”
Bagas mengangguk. “Mau…, bebas seperti Oly, kan? Tidak belajar, boleh main hujan sesuka hatinya, boleh jajan apa saja, boleh beli apa saja. Enak seperti Oly, ya?”
Winda mengangguk.
Semua teman di sekolah juga ingin seperti Oly. Rumah Oly besar. Oly punya semuanya. Papi dan Mami Oly juga baik. Buktinya Oly bebas mau apa saja. Itu artinya mereka baik, kan?
“Bebas seperti Oly itu…. Oi… Aku di sini…,” Bagas mulai berteriak. Tapi mulutnya cepat ditutup. Terdengar suara pintu kamar diketuk.
“Nak…, jangan berisik. Nanti Eyang bangun.”
Winda dan Bagas saling berpandangan. Lalu akhirnya tertawa.
“Bebas seperti Oly. Aku mau…,” bisik Bagas lagi sebelum Winda ke luar dari dalam kamarnya.
**
“Bebas seperti Oly?” kening Ayah berkerut-kerut. Koran yang ada di tangannya diturunkan. “Kalian mau seperti itu?”
Winda dan Bagas mengangguk bersamaan.
“Bebas tidak bikin PR, bebas mandi hujan, bebas jajan sembarangan, bebas mau mandi apa tidak, bebas main sampai sepuas hati?”
Winda dan Bagas mengangguk lagi bersamaan.
“Ayah punya lho teman seperti itu. Bebas. Sampai sekarang dia masih ada. Mau kenal?”
Lagi-lagi, Winda dan Bagas mengangguk bersamaan.
“Tukang minta-minta yang suka lewat di depan rumah kita yang sering Ayah ajak ngobrol…”
“Yang pakai topi hitam, Ayah?” tanya Winda penasaran.
Ayah mengangguk. “Dia dulu teman sekolah Ayah. Tapi inginnya bebas jadi hnya sampai kelas dua SD saja. Bebas terus sampai besar sampai-sampai…”
Winda dan Bagas kali ini menggeleng bersamaan.
“Bukan jadi seperti itu, Ayah..,” ujar Winda.
Tapi Ayah hanya tertawa.
**
Bebas seperti Oly. Sungguh meski Ayah bercerita tentang temannya di waktu SD tapi Winda masih ingin merasakan kesenangan seperti Oly.
“Di rumah tidak ada siapa-siapa. Cuma ada Bibik. Nanti pulang sekolah main ke rumahku, ya?”
Winda tertarik dengan kalimat Oly. Sepanjang jam pelajaran Winda memikirkan kata-kata Oly.
“Ayo…”
Ibu pergi siang ini. Kunci ada di tangan Kak Bagas. Tapi Kak Bagas ada latihan taekwondo siang ini.
“Ayo…, banyak mainan di rumah. Banyak makanan…”
Winda ikut berlari bersama Oly. Sudah mau hujan. Mendung tebal sekali.
“Bik…,” di depan rumah Oly berteriak. Pintu gerbangnya terkunci. “Kita naik ke atas pagar saja, ya?”
Winda belum menyahut ketika Oly sudah naik ke atas pagar rumahnya.
“Ayo…”
Winda mengikuti. Ujung pagar rumah Oly runcing. Terkena betis Winda. Tergores. Sakit.
“Aku punya obat merah kok..,” ujar Oly. Menarik tangan Winda menuju pintu.
Halaman rumah Oly kotor. Penuh daun-daun kering yang tidak disapu. Ada juga sampah yang dibuang begitu saja. Sampah plastik, sampah bekas bungkus roti, sampah kertas.
Kalau di rumah Ibu selalu menyapu bersih setiap sampah bergantian dengan Winda dan Kak Bagas.
“Sebentar. Kok…,” kening Oly berkerut.
Pintu rumah Oly sedikit terbuka. Sekelebat bayangan seseorang terlihat oleh Winda.
“Bik..,” Oly berteriak. Mendorong pintu rumahnya. Masuk ke dalam.
Winda sendiri tidak ikut masuk. Winda ragu-ragu.
Tiba-tiba.
“Tolong…”
Wajah Winda memucat. Suara Oly meminta tolong.
Winda cepat mencari tempat sembunyi dekat tempat sampah yang cukup besar.
**
Sepi.
Kenapa sepi? Jangan-jangan..
Sudah hujan. Winda tidak bisa berteduh. Air hujan itu turun dengan derasnya. Baju Winda basah semua. Tas Winda juga. Ah, prakarya yang baru setengah jadi pasti juga basah. Itu artinya Winda harus membuatnya lagi nanti.
Winda takut. Jangan-jangan Oly ditangkap penculik. Jangan-jangan…
Di dekat pintu pagar terlihat Bibik datang. Membuka gembok di pintu gerbang. Membawa payung di tangannya dan juga tas plastik. Mungkin Bibik habis berbelanja.
Winda tidak berani memanggil. Winda hanya melihat ketika Bibik berdiri di depan pintu lalu terlihat seseorang memakai topeng ke luar dan mendorong tubuh Bibik hingga jatuh. Bibik kaget. Orang itu cepat berlari ke luar.
“Non… Tolong…!”
Winda mendengar Bibik berteriak keras sekali.
**
“Ada pencuri yang masuk ke rumah Oly soalnya rumah Oly selalu sepi, Bu,” ujar Winda dengan tubuh mengigil pada Ibu.
Sesudah Bibik masuk ke dalam rumah dan berteriak minta tolong, barulah Winda berani ke luar dari tempat persembunyiannya. Ternyata di dalam rumah ada Oly yang diikat tangannya dan juga kakinya. Mulutnya diplester.
Bibik langsung menelepon orang tua Oly. Winda sendiri minta izin pulang karena sudah beberapa kali bersin-bersin. Tubuh Winda menggigil. Winda memang tidak bisa kena air hujan. Setiap kali kena air hujan, kepala Winda selalu menjadi pusing.
Segelas susu coklat hangat, air hangat yang Ibu masak untuk Winda mandi dan bolu kukus rasa coklat.
“Rumah Oly selalu sepi. Hi..,” Winda seperti orang yang ketakutan.
Kak Bagas memandangi. Memasang jurus taekwondonya. “Coba ada aku,” katanya. Lalu ciat…
Brak.
Sapu yang ada di dekat Kak Bagas jatuh. Winda tertawa melihat aksi Kak Bagas yang langsung diam karena melihat mata Ibu melirik pada Kak Bagas.
**
Bebas seperti Oly?
Sekarang Winda harus berpikir seribu kali untuk bebas seperti Oly. Apalagi waktu Oly datang ke rumahnya untuk berpamitan.
“Di rumah sepi. Papi dan Mami ke luar kota terus untuk kerja. Jadi aku akan pindah ke rumah Nenek saja di kampung,” kata Oly sambil menunduk.
Aih, Winda jadi sedih. Kehilangan satu teman itu tidak enak.
“Tidak enak seperti aku. Kesepian. Tidak ada yang melarang. Maunya punya Mami seperti Ibu kamu.”
Winda mendengarkan. Bahkan mengingat-ingat kata-kata Oly tadi sampai tubuh Oly menghilang dari pandangan Winda.
Bebas seperti Oly?
Tidak ah. Winda bersyukur masih punya Ibu yang perhatian dengannya.
**

Memecah Kepribadian

lagi lagi

Memiliki dua kepribadian seperti halnya Mr Jekyl dan Mr Hyde tentunya menjadi sesuatu yang tidak kita inginkan. Apalagi bila kepribadian itu terpecah hingga lebih dari dua hingga 16 seperti halnya kisah Sybil yang cukup fenomenal.
Cerita tentang pecah kepribadian itu tentunya menjadi sesuatu yang unik. Dan sesuatu yang unik itu tentu saja menarik untuk dicoba.
Lalu untuk apa percobaan memecah kepribadian seperti itu?
Suatu hari, ketika saya merasa anak-anak mulai monoton dengan pelajaran Bahasa Inggris yang saya ajarkan, tiba-tiba ingin melakukan hal yang aneh dengan mencoba menjadi pribadi lain itu muncul begitu saja.
“I am Norah…,” kata saya. Tanpa buku pelajaran. Tanpa mereka sadar saya sedang menyiapkan mereka belajar.
“Norah likes ice cream. My Ma and Pa from England.”
Awal mulanya anak-anak tertawa. Lalu berkata “Ibu aneh.”
Saya terus bicara dengan intonasi suara yang berbeda. Juga gerak tubuh yang berbeda akhirnya mereka saling pandang dan mulai bertanya. Dalam bahasa sehari-hari.
“Sorry. Norah from England. Norah only speak English.”
Anak-anak melotot. Mereka rupanya mulai sadar sedang dijebak dalam sebuah metode belajar yang baru.
“Speak English with Norah,” saya memperjelas.
Tentu saja ini adalah permainan kreatif. Menjadi pribadi yang lain itu artinya saya bertingkah laku berbeda. Saya melakukan sesuatu yang mungkin saja terlihat konyol. Saya menari, saya berjoged. Dan di tengah-tengah yang saya lakukan saya tetap berbicara dalam Bahasa Inggris.
Lalu pelototan anak-anak berubah menjadi senyum.
“Ibu not Norah,” kata Bilqis yang bungsu.
“You are a liar,” kata Attar. “You Ibu.”
“No. I am Norah. Norah from England. My Pa and my Ma from England too.”

Menjadi Norah yang berbahasa Inggris bukan berarti anak-anak lantas harus bicara dengan Bahasa Inggris yang benar. Justru niat saya adalah mereka berani mengungkapkan apa yang mereka tahu yang selama ini mereka simpan saja dalam otak menjadi sebuah percakapan aktif.
“What is itch?” tanya Bilqis. Ketika saya mengingatkan tentang kata itu,
“Itch means when the mosquito bite you, you want to scratch,” saya memeragakan ketika menggaruk tangan dengan semangat. Juga membuka mulut saya lebar-lebar untuk mengenalkan kata menggigit (bite) Ketika menyebut mosquito tangan saya bergerak seperti sayap.
“Garuk-garuk?”
“No. Itch means…”
Attar dan Bilqis saling berpandangan.
“Gatal…,” akhirnya mereka berdua menjawab berbarengan.
Saya bertepuk tangan.
Lalu kami mulai bermain tebakan dalam Bahasa Inggris. Dari mulai tebak kata hingga tebak arti kalimat yang saya ucapkan hingga waktu pun tidak terasa sudah dua jam.
“Norah, I am tired,” ujar Bilqis.
“Norah, I want to watch television.” Attar mulai bicara.
Saya tersenyum.
Ada banyak jalan yang harus ditempuh untuk membuat anak merasa nyaman belajar. Meskipun semenjak permainan memecah kepribadian itu, anak-anak suka bertanya. “Ini lagi jadi Ibu apa jadi Norah?”

**

Mungkin Aku Patah Hati

1175652_10151683896853591_726067151_n

Mungkin aku patah hati. Sebab Bayu bilang orang yang patah hati akan merenung terus lalu air mata akan turun terus.
Bisa jadi aku patah hati seperti yang Bayu katakan, bahwa orang yang patah hati akan melihat segalanya serba muram.
Aku mulai tidak suka lagu-lagu riang. Aku mulai tidak suka warna-warna pink. Aku lebih suka warna hitam juga coklat.
Mungkin aku patah hati, sebab menurut Bayu aku tidak lagi enak diajak bicara. Aku membuatnya bete. Aku juga membuatnya tidak bisa lagi menyanyikan lagu dengan gitarnya.
“Kamu konyol kalau sedang patah hati…”
Aku bisa jadi konyol. Aku malas bercermin sebab jerawatku tumbuh semakin banyak. Aku malas melakukan apa pun juga. Itu yang membuat Mama menjadi sering marah padaku. Aku bahkan malas sekolah.
“Kamu benar patah hati, kan?” kejar Bayu sok ingin tahu.
Aku meringis.
“Kasih tahu dong. Cerita…”
Cuma pada Bayu aku sering cerita. Tepatnya cerita bukan berbagi rahasia. Rahasia apa yang aku punya bila setiap hari Bayu dan aku selalu bersama. Kami sejak kecil tumbuh bersama. Rumahnya ada di samping rumahku. Bahkan aku tahu meski Bayu tidak cerita, cewek seperti apa yang Bayu taksir.
“Kamu konyol…”
Aku diam saja.
Apa Bayu akan mengerti kalau aku cerita?
**
“Apa benar kamu patah hati?” tanya Mama menghidangkan pizza yang baru keluar dari oven. Pizza buatan Mama dengan isi sosis, jamur plus jagung manis dan keju. Kata Mama, aku butuh kekuatan penuh jika patah hati. Dan pizza buatan Mama akan membuat patah hatiku sedikit hilang.
“Mama cuma menebak sih…”
Aku nyengir.
Aku patah hati?
Bisa jadi kalau patah hati artinya kecewa, aku sedang kecewa. Tapi patah hati yang Mama maksud pasti bukan seperti yang aku maksud?
“Bayu naksir Tere dan kamu merasa patah hati karena selama ini sebenarnya kamu suka dengan Bayu, kan?”
Pizza itu merah di bagian tengah. Bukan karena saus botolan. Mama membuatnya dari saus untuk spaghetti yang Mama campur dengan bawang bombai dan tomat cincang.
“Mama dulu pernah lho patah hati. Waktu naksir Papa kamu terus Papa kamu malah naksir yang lain?”
“Terus?” sepotong pizza sudah masuk ke mulutku. Enak.
“Terus ternyata patah hati Mama salah. Papa kamu yang Mama kira tadinya jatuh cinta sama cewek lain ternyata cuma pura-pura bikin Mama patah hati. Bayu juga begitu…”
Aku mengambil pizza lagi.
Ini bukan masalah Bayu.
Ini masalah yang lebih penting dari Bayu. Lebih hebat dari Bayu. Kenapa tidak ada orang lain yang mengerti.
**
Mungkin aku patah hati.
Menurut buku yang Bayu pinjamkan padaku, patah hati itu terjadi ketika kita mulai merasakan jatuh cinta. Perasaan suka berlebih pada orang lain. Rasa suka itu bisa membuat kita senyum sendiri.
Menurut buku itu juga, rasa patah hati bisa terjadi bila orang yang kita cintai tidak memberiku balasan cinta yang kita harapkan.
Aku tersenyum sendiri.
Bisa jadi aku patah hati seperti yang Bayu bilang. Atau Mama katakan. Patah hati itu yang membuat Bayu jadi salting dan merasa bersalah lalu pura-pura menjauh dari Lulu yang ia cintai.
Patah hati itu juga yang mungkin membuat Mama rajin membuatkan makanan kesukaanku.
Jadi aku patah hati?
Mungkin.
Tapi sungguh bukan dengan Bayu seperti yang Mama pikirkan.
Tapi dengan sesuatu.
Sesuatu itu bernama baju biru yang kemarin aku lihat di toko baju dan sekarang sudah tidak ada lagi karena sudah dibeli oleh orang lain. Padahal berhari-hari aku menabung uang jajanku untuk membeli baju itu.
Jadi, menurut kalian, aku sebenarnya patah hati atau sekedar kecewa?
**

Gemuruh Hati Keisha

1175152_10151683896223591_1881694092_n

Rasanya seperti suara sebelum hujan. Terdengar dari langit. Rasanya juga seperti ketika naik ayunan lalu ayunan itu didorong tinggi sekali lalu ayunan itu turun dan mata Kei melihat ke bawah.
Rasanya seperti suara seng yang diangkat lalu diturunkan.
Kei memandanng langit di luar.
“Mami mau kemana?” tanya Kei pada Mami yang sudah bersiap pergi.
Mami, perempuan manis yang sudah mengenakan pakaian serasi dengan tas dan sepatu hak tingginya itu memandang Kei. “Memangnya kamu pikir Mami mau kemana?”
Kei memandang ke luar lagi.
Langit mendung.
Sebulan belakangan ini, Kei suka sekali melihat ke langit. Apalagi ketika langit mulai gelap.
Kei suka dengan suara yang hadir ketika mendung. Meski pun terkadang suara itu tidak muncul padahal yang di hati Kei sudah berbunyi setiap kali mata Kei memandang seng berwarna biru di depan rumahnya.
“Sudah mendung, Mami…,” ujar Kei. “Sebentar lagi hujan…”
“Sudah mendung karena memang musimnya sedang mendung setiap hari. Lalu apa Mami harus berada di dekat kamu terus?” Mami mendekat, memeluk Kei. “Mami mau bertemu teman. Rumah kue kita akan bertambah besar dan kue buatan Mami bisa masuk ke mall.”
Kei memandangi Mami. Cantik. Mami pintar membuat kue.
“Kamu belajar melukis nanti di rumah Om Lilok, kan?”
Kei memandang ke luar.
Kanvasnya sudah habis. Mami lupa. Sudah berapa kali diminta untuk membelikannya tapi Mami bilang belum sempat ke toko buku.
Kei menggeleng.
Mami menepuk pipi Kei. “Mami harus pergi….”
Di luar sudah ada taksi yang Mami pesan lewat telepon tadi.
**
Gemuruh itu hadir ketika Kei suapkan nasi ke dalam mulutnya. Sampai nasi itu menempel di dagunya dan Arul tertawa hingga membuat Kei jadi tidak semangat meneruskan makannya.
Meski Mami bilang Kei boleh bawa piring ke catering Tante Mia yang sengnya berwarna biru, Kei lebih suka makan di warteg pinggir jalan. Lalu matanya akan memandang pada pohon mangga yang tinggi yang batangnya di cat warna ungu.
“Kamu gimana, sih?”
Arul selalu cerewet setiap kali diajak makan di warteg. Tapi cuma Arul yang mau mengikuti apa yang Kei inginkan.
“Kalau kamu makan catering maka aku bisa dapat…”
“Mbak…,” tangan Kei terangkat memanggil Mbak penjaga warteg. “Bisa kasih satu piring nasi lauknya terserah buat cowok cerewet ini?”
Arul tertawa.
Kei selalu tahu apa yang ia inginkan.
**
Justru gemuruh di hati Kei itu jadi pembicaraan antara Arul dan Alisha. Arul yang kepalanya lebih senang dicukur plontos dan Alisha cewek manis dengan alis mata nyaris menyatu tapi dengan jerawat bergerombol di pipi membuat ia merasa jadi cewek jelek se dunia.
“Kamu naksir, Rul?”
Arul cengengesan. Arul sudah lama naksir Keisha. Dulu sekali. Bukan cuma hitungan bulan tapi hitungan tahun.
“Kamu cinta, Rul?”
Arul mengangguk. Cintanya dengan Keisha sudah tidak bisa ditunda lagi, mirip jerawat yang sudah siap pecah.
“Memangnya Kei naksir kamu?”
Itu masalahnya.
Kei tidak pernah cerita soal cowok yang ditaksirnya. Kei cuma bilang kalau Kei naksir cowok itu. Kei juga bilang kalau ia baru merasakan hal itu. Bayangkan di usianya yang ke limabelas, Kei baru merasakan jatuh cinta.
“Kalau kamu mau kasih aku souvenir dari Australi….” Alisha tertawa.
Arul mengangguk cepat. Arul tahu apa yang Alisha inginkan.
**
Alisha mengikuti langkah kaki Kei. Hari ini, Alisha terpaksa mengikuti Kei masuk ke sebuah toko buku besar. Terpaksa soalnya Alisha punya alergi buku. Setiap kali mencium bau kertas buku setiap itu pula ia bisa bersin sampai berkali-kali.
Mungkin karena itu pula, ia selalu memakai masker setiap kali masuk sekolah. Dan mungkin itu yang membuat pipinya ditumbuhi banyak jerawat sebab maskernya jarang dicuci.
“Mami sudah kasih uang untuk beli kanvas. Lima kanvas Mami bilang boleh aku beli.”
Alisha memandangi kanvas yang Kei beli. Lalu keningnya berkerut. “Kamu suka melukis, Kei?”
Kei mengangguk.
“Suka melukis atau karena kamu naksir sama seseorang yang suka melukis?”
“Menurut kamu?” Kei tersipu. Dadanya bergemuruh lagi.
Bayangan Dani tiba-tiba melintasi kepala Alisha.
Pasti cowok itu yang membuat Kei jadi suka melukis. Arul harus tahu itu.
**
Gemuruh di hati Kei langsung kencang ketika Arul yang sudah dibisikkan oleh Alisha mengajak Kei ke aula sekolah. Ada pameran lukisan di sana.
Arul sengaja ingin melihat reaksi Kei. Dan langkah mereka tepat berhenti pada lukisan yang di bawahnya tertulis judul dan nama pelukisnya.
Lukisan gadis cantik berambut ikal.
“Yang aku dengar, cewek yang dilukisnya ini, pacarnya…”
Kei memandangi lukisan itu.
“Dari tiga lukisan karya Dani yang ada di aula ini, yang aku dengar katanya dia melukis ketika rindu sama ceweknya yang sekarang ada di Canada ikut pertukaran pelajar.”
Kei diam saja.
“Yang aku dengar…..”
Kei tidak mendengarkan. Kei langsung berlari ke luar pintu gerbang sekolah.
Kei tidak ingin mendengarkan.
**
Kei bahkan tidak ingin mendengarkan ketika Mami bercerita soal teman usaha Mami yang baru. Kei juga tidak mau mendengarkan ketika Mami bercerita soal supermarket besar dan toko kue keren di mall yang tertarik kue buatan Mami. Kei juga tidak mau mendengarkan ketika Mami bercerita bahwa karena begitu percayanya mereka memberi DP pesanan kue pada Mami dan Mami harus menyelesaikan kue pesanan itu secepatnya dengan rasa yang tetap enak tentu saja.
“Kei…,” Mami memandangi wajah Kei. “Mami ingin sebuah kue berwarna pelangi. Kue kering berwarna-warni pasti cantik kan, Nak?”
Kei mengangkat wajahnya.
Apa Mami tahu perasaannya?
“Kamu tahu cara yang paling menarik untuk membuat kue berwarna-warni? Mami sudah browsing, Mami sudah coba. Tapi Mami pikir, warna yang natural hadir dari seorang pencinta warna seperti kamu.” Kali ini Mami mencubit pipi Kei.
Kei tersipu.
“Kamu mau bantu kan, Nak?”
Kei mengangguk.
**
Kei mau membantu jelas saja. Kei mau membantu Mami sekuat tenaga. Karena itu Kei sekarang berdiri di sebuah rumah.
“Permisi…,” ujar Kei.
Pintu rumah itu terbuka.
Gemuruh di hati Kei terdengar lagi meski langit tidak mendung.
**
Arul bukan cuma marah pada Alisha. Arul kheki karena informasi yang Alisha katakan salah besar.
“Jadi kalau bukan Dani siapa lagi?” Alisha menjejeri langkah Arul.
Arul menggelengkan kepalanya.
Arul tidak tahu.
Yang Arul tahu dengan jelas, Kei tidak mau lagi mengajaknya makan di warteg atau makanan lain di pinggir jalan. Kei juga jadi tutup mulut dengan Arul tidak mau berbagi cerita lagi.
**
“Mami tahu…,” ujar Kei pada Mami. “Aku selalu berpikir kenapa aku bisa melukis padahal dulu Mami bilang tidak ada yang mengajari?”
Mami tertawa. Menjawil hidung Kei. “Memangnya kamu pikir Mami bisa membuat kue karena bakat? Mami belajar sekuat tenaga.”
“Tapi soal melukis itu, Mi…”
“Itu soal anugerah.”
“Bukan soal bakat?”
Mami menggeleng.
“Atau bisa jadi waktu aku di perut Mami, terus Mami naksir cowok yang suka melukis?”
“Hush, kalau itu yang terjadi itu namanya Mami tidak setia dong sama Papi kamu.”
“Tapi kan, Mi…”
Mami menggeleng. Adonan kue kering sudah siap. Coklat yang di tim sudah meleleh sempurna siap dicampurkan.
Dan Kei sudah siap dengan cetakan cinta di tangannya.
**
Gemuruh di hati Kei hadir ketika Kei memandang langit mulai mendung dan kue kering Mami baru ke luar dari oven. Sudah delapan loyang.
“Kamu katanya mau mewarnai kue ini?”
Kei mengangguk.
Pewarna kue. Setiap warna harus dibuat dengan hati. Hati yang berharap akan menghadirkan warna yang cerah. Hati yang sedih ketika meracik warna akan membuat warna yang cerah menjadi kelabu.
“Permisi…,” terdengar pintu pagar berbunyi.
Kei berlari.
“Hei, Kei…, warna yang mana?” Mami berteriak sambil mengeluarkan satu loyang lagi dari dalam oven.
**
Gemuruh di hati Kei selalu terasa ketika langit mendung. Lalu ketika ia menatapnya, Kei merasa bahwa sebentar lagi gemuruh itu akan membuat hujan turun. Membasahi tanah dan hatinya.
Gemuruh di hati Kei bukan dentuman seperti gendang yang ditabuh. Gemuruh di hati Kei bukan untuk cinta tapi untuk harapan yang sudah lama ia inginkan. Setiap kali Kei tersadar setiap itu pula Kei ingin menumpahkannya lewat tangisan.
Kei kangen memiliki seorang Ayah yang tidak pernah bisa disentuhnya hanya bisa dilihat fotonya saja.
“Kei….”
Kei bersembunyi.
Tamu itu Om Lilok.
Kei tahu sudah lama Mami mengenal Om Lilok. Teman lama Mami ketika Mami sekolah dulu. Pelukis terkenal yang memilih hidup sederhana dan mengajarkan melukis tanpa bayaran untuk anak-anak yatim.
Alamat rumahnya Kei dapatkan dari browsing setelah Kei temukan nama itu tertulis di buku harian Mami yang lupa Mami bawa dan terbuka tepat di bagian saat Mami menulis kenangan tentang Om Lilok.
Dan ternyata rumahnya hanya berada beberapa blok dari rumah Kei. Pantas saja Mami bersikeras meminta Kei berlatih melukis di sana.
“Kei…,” suara Mami terdengar di dapur.
Ah, Mami pasti kaget juga salah tingkah.
Kei berhasil mempertemukan Om Lilok yang masih sendiri dengan Mami yang masih mencintai Om Lilok. Kei berhasil meminta Om Lilok datang ke rumah dengan alasan Mami sakit keras.
Gemuruh di hati Kei terasa lagi.
Kali ini Kei memandang ke langit. Papi yang sudah pergi sejak Kei di dalam kandungan pasti tahu bahwa Mami sudah pantas mendapat pengganti.
Air mata Kei menitik perlahan. Air mata bahagia.
Air mata itu hadir bersama dengan teriakan Mami yang salah tingkah dan terus menerus memanggil nama Kei.
**

Singkirkan Segala Keluh

DSCF1641

Salah satu karakter yang sering tidak kita sadari dan membuat kita terpuruk pada hal yang sama adalah sifat pengeluh.
Mengeluh untuk suatu hal karena memang hal itu tidak menyenangkan, sekali dua kali tidak menjadi masalah. Tapi bila itu kerap terjadi untuk hal-hal yang sangat kecil yang hal kecil itu untuk orang lain justru tidak terlihat jelas, pasti lah bukan kebiasaan lagi namanya. Tapi itu adalah karakter, menjadi bagian dari diri kita dan tanpa kita sadari melekat.

Phil McGraw seorang psikolog yang juga menulis mengatakan bahwa Anda mengajar orang lain bagaimana memperlakukan diri Anda. Apa yang Anda ajarkan datang dari bagaimana Anda memandang hidup. Bagaimana Anda memandang hidup datang dari siapa Anda.

Keluhan memang tidak datang dengan sendirinya. Sebagian besar karakter pengeluh bisa datang dari faktor genetika. Tumbuh kembang dalam lingkungan keluarga yang mengeluh akan membuat kita menjadi pengeluh.
Sedang tumbuh kembang dalam lingkungan postif dan optimis akan membuat kita terdorong untuk melakukan hal yang sama.
Cara pandang kita terhadap diri kita sendiri juga bisa menjadikan diri kita seorang pengeluh.
Teman, pengalaman hidup yang sudah kita lalui dan sikap dari pengalaman hidup itu yang bisa membuat kita mengambil satu pilihan.
Menjadi seorang yang positif dan penuh syukur atau menjadi seorang pengeluh.

Bila kita sekarang merasa berada di posisi sebagai manusia pengeluh, beberapa hal ini harus kita lakukan agar kita bisa berubah.

Luka Di Masa Lalu.

Keluhan yang membuat kita menjadi seorang yang kerap kali mengeluh tentu saja tidak hadir begitu saja. Keluhan hadir karena memang kita tumbuh dan besar di lingkungan pengeluh.
Keluhan juga berarti kita memiliki sebuah luka yang kita simpan hingga di masa depan sehingga kita ingin membagi luka itu pada yang lain dengan cara tak sadar. Seperti yang dilakukan oleh orang-orang terdahulu pada diri kita. Yaitu menyebarkan keluhan.
Ini adalah reaksi tidak sadar dari kita yang ingin melihat reaksi orang lain atas keluhan kita. Ketika orang lain itu menerimanya kita merasa menemukan keranjang sampah yang benar seperti dulu orang lain mengeluh pada kita. Ketika mereka menolaknya, maka kita kerap merasa terluka karena tidak menemukan tempat untuk meletakkan sampah keluhan kita.
Menyadari hal itu sebagai rangkaian masa lalu tidak masalah. Yang menjadi masalah adalah ketika masa lalu itu menempel terus dan tidak ingin kita lepaskan.
Kesadaran dari dalam diri sendiri menjadi satu hal yang paling penting untuk merubah perilaku sebagai pengeluh.

Mengeluh Tanda Tidak Bersyukur.

Stop ingatan kita tentang masa lalu. Anggap masa lalu adalah jejak yang tidak perlu ditengok lagi.
Ubah persepsi dan mulai tanamkan dalam pikiran bahwa mengeluh artinya tidak pernah puas dengan apa yang kita terima selama ini. Mengeluh juga berarti kita tidak pernah bahagia dengan apa yang kita dapatkan selama ini.
Orang-orang yang mengeluh ketika hujan turun dengan derasnya sering lupa doa dan harapan mereka ketika musim kemarau panjang datang dan mereka berharap banyak akan hadirnya hujan.
Ketika didera kesulitan ekonomi kita minta segalanya dimudahkan dan rezeki dilancarkan, tapi ketika rezeki itu datang kita merasa tidak pernah cukup karena standar hidup kita meningkat tak terkendali.
Karena itu ketika kita merasa tingkat keluhan kita sudah tinggi dan membuat orang-orang di sekeliling kita merasa jengah dengan apa yang kita lontarkan, mungkin ada baiknya kita mundur beberapa langkah untuk merenung.
Perenungan yang paling efektif tentu ke luar dari zona nyaman kita selama ini lalu datangi orang-orang dengan kondisi lebih payah ketimbang kita.
Apa yang kita keluhkan sebenarnya kerapkali menjadi bahan impian untuk orang lain.
Kita yang letih datang dan pulang dari kantor kerap kali kondisi seperti itu justru dirindukan oleh orang-orang yang baru saja terkena PHK atau orang-orang yang ke luar masuk kantor tapi tidak pernah mendapatkan pekerjaan.

Hukum Diri Kita Untuk Setiap Keluh

Memberikan hukuman pada diri kita sendiri untuk setiap keluhan yang kita keluarkan mungkin bisa menjadi sarana efektif untuk merubah kebiasaan buruk itu.
Atau kalau memang terlalu sulit untuk mengukur hal itu karena kita memang sudah terbiasa, kita bisa meminta bantuan orang terdekat. Orang terdekat yang paham diri kita seperti sahabat atau pasangan.
Minta mereka untuk memberikan hukuman pada kita setiap kali kita mengeluh. Bisa saja kita menyediakan diri untuk memberikan sejumlah uang setiap kali kita mengeluh pada orang terdekat kita itu.
Cara ini cukup efisien karena akan lebih terasa.

Tulis Dan Buang Ke Keranjang Sampah

Sarana yang paling efektif lagi untuk menghilangkan keluhan kita adalah dengan menuliskan keluhan kita dalam sebuah kertas.
Ketika kita tidak menemukan orang lain untuk mencurahkan keluhan kita, cobalah ambil selembar kertas. Lalu tulis apa yang ingin kita curahkan itu. Setelah itu baca kembali tulisan itu dan pikirkan benar-benar apakah memang hal itu melegakan atau tidak?
Setelah itu buang ke tempat sampah sebagai simbol bahwa apa yang baru kita keluarkan tadi adalah sebuah keluhan yang tidak berharga.
Masih belum bisa menghilangkan kebiasan itu juga, mungkin kita perlu mengambil sebuah buku. Mencatat apa yang ingin kita keluhkan dalam setiap lembarnya.
Beberapa hari kemudian, cobalah baca isi buku ini. Dan lihat, apakah yang kita keluhkan adalah sesuatu yang berulang atau sesuatu yang baru tapi esensinya sama?

Ubah Dengan Yang Positif

Ini cara efektif untuk melawan keluh. Bila orang lain sudah tidak sanggup membantu kita, tentu kita yang harus menolong diri kita sendiri.
Ubah setiap bentuk keluhan menjadi sesuatu yang positif.
Semisal, ketika kita mengeluh badan kita letih seusai bersepeda di pagi hari, kita bisa mengucapkan syukur karena bersepeda itu sudah memberi kontribusi positif pada kebersihan lingkungan. Plus kita menjadi sehat.
Bila kita merasa teman kita tidak baik, ubah dengan menjadikan diri kita baik sehingga kita akan merasakan sesuatu yang baru. Yaitu teman-teman yang baik pada kita.

Pilihan ada di tangan kita.