Non Fiksi – Mertua

buku non fiksi 2

Tun dan Hujan

1625761_826957303986479_996557859_n

Tun tidak pernah membenci hujan. Tun bahkan sangat cinta dengan hujan. Hujan yang turun di halaman depan rumahnya yang sempit. Hujan yang turun dan tidak bisa mengalir di selokan tempat tinggalnya. Hujan yang dirutuki oleh tetangganya yang sudah capek terkena banjir dan hujan yang membuat anak-anak memilih merapat pada Tun sambil melihat berita kebanjiran di televisi tentang banjir di lingkungan mereka.
Tun juga tidak pernah membenci hujan seperti suaminya membenci hujan. Bim, suaminya sejak dua tahun yang lalu selalu saja histeris setiap kali melihat hujan turun salah tempat. Salah tempat karena hujan yang harusnya didorong ke lautan, turun di tengah jalan. Salah tempat karena harusnya hujan turun bukan di tempat Bim disewa sebagai pawang hujan.
Tun bahkan pernah membuang segala barang sesaji yang sudah dipersiapkan Bim pesanan dari tetangga depan rumah yang akan hajatan.
Tun sangat merindukan hujan di musim kemarau yang begitu panjang.
Tenggorokan Tun sering sakit karena ia tidak terbiasa dengan debu-debu yang selalu berterbangan. Tawuran antar kampung selalu terjadi di musim panas. Tawuran pada malam hari setelah mereka letih bekerja seharian mencari nafkah . Tawuran karena sedikit bunyi musik atau senggolan di jalan yang sempit.
Panas selalu memanaskan. Memanaskan hati, memanaskan kepala. Membuat tetangga teman berkumpul selama bertahun-tahun, bisa menjadi musuh dalam sedetik.
Tapi Bim akan bertambah panas jika hujan sampai turun. Bim tidak akan peduli betapa banyak jumlah kebakaran yang sudah terjadi dimulai dari kampung sebelah merembet ke kampung yang lain. Selalu terjadi setiap minggu di musim kemarau.
Tun bahkan tidak berani membenci hujan meski hujan pernah membuatnya terjerembab ke dalam selokan yang tidak terlihat karena dipenuhi genangan air. Tun bahkan juga tidak berani membenci hujan yang membuat satu anaknya hilang terbawa banjir dan tidak pernah ditemukan hingga saat ini.
Tun tidak seperti Bim. Bim luar biasa membenci hujan. Bim hanya ingin panas. Bim yakin hujan memang penting tapi tidak sepenting panas. Terlebih sejak di PHK dua tahun yang lalu dan berguru dengan seorang eyang yang meminta Bim menemaninya menjadi pawang hujan. Maka lengkaplah cara Bim membenci hujan.
Bim membenci hujan dengan berbagai cara. Bim tidak menyediakan jas hujan untuk anak-anak di rumah seperti para tetangga. Bim bahkan mengajari anak-anak cara menantang
hujan dengan tidak menggunakan pelindung apapun. Tun dan Bim akhirnya sering bersitegang karena anak-anak mereka sering sekali demam terkena hujan. Bim bilang Tun memanjakannya. Memanjakan hujan dan membiarkan hujan bersarang di tubuh anak-anak. Harusnya Tun membantu agar hujan tidak turun.
Tun tidak ingin membenci hujan.
Meski bertahun-tahun mereka tinggal di gang sempit di pinggir kali yang setiap tahun selalu menjadi langganan banjir. Meski hampir setiap minggu di musim penghujan rumah mereka terkena genangannya hingga Tun berjuang keras membersihkan lumpur kotor itu dari lantai rumah mereka.
Hujan untuk Tun adalah pengganti air mata. Air matanya yang tidak lagi bisa turun karena Bim mengeringkannya. Bim bilang salah satu cara agar ia sukses menjadi pawang hujan adalah tidak boleh membiarkan ada air mata di dalam rumahnya. Sebab air mata adalah sumber dari segala sumber air. Air mata ada pada kolam yang tidak bisa berhenti mengalir bahkan akan terus menerus menghasilkan air.
Pagi tadi, Bim berpesan agar Tun berdiri di depan rumah sambil membaca jampi-jampi yang sudah diajarkan oleh Bim. Musim hujan sudah akan datang. Beberapa kali mendung terlihat meski hujan baru turun dalam bentuk gerimis kecil lalu menghilang berganti panas kembali.
Bim memohon di malam hari. Berlanjut di pagi hari. Pekerjaannya harus Tun dukung karena memang itu yang harus Tun lakukan. Tidak ada yang lain. Atau Tun dan anak-anak harus berutang lagi pada tetangga dan rela dicemooh lagi.
“Pergi pergi….”
Kalimat itu yang Bim ajarkan untuk Tun ucapkan berkali-kali dan hanya boleh berhenti ketika Tun melihat awan sudah pergi.
Ramalan cuaca semalam mengatakan hari ini seluruh kota akan terkena hujan deras merata. Hujan pertama di musim penghujan.
“Sepuluh kali bayaran di tempat yang lain,” begitu yang Bim bilang pada Tun.
Sepuluh kali bayaran untuk pawang hujan di musim hujan memang bayaran yang layak. Sebab hujan sering membandel dan membuat pawang hujan yang satu kali mengalami kegagalan saja dijauhi pelanggan.
Sepuluh kali bayaran itu artinya utang Tun di tukang sayur bisa lunas. Utang anak-anak pada tukang nasi uduk yang menjadi kesenangan mereka untuk sarapan juga bisa lunas. Utang daster Tun juga bisa lunas.
“Terus bilang pergi, pergi…,” ujar Bim sebelum berangkat.
Tun mengerti.
Mata Tun memandangi punggung Bim yang jauh darinya.
Tun tidak perlu masak hari ini. Dua anaknya ketika berangkat sekolah sudah Tun bawakan roti yang mereka beli dari pedagang roti keliling. Roti isi coklat yang lumeran coklatnya bisa mengotori bibir anak-anak.
Tun juga cukup menganggukkan kepalanya ketika anak-anak minta ijin berangkat sekolah sambil mulutnya terus mengucap rapal pergi.
Pergi untuk awan yang sebenarnya Tun suka. Pergi untuk hujan yang sebenarnya membuat Tun mrasa nyaman. Pergi untuk setiap mendung yang membuat Tun jadi ingat masa lalunya ketika sering Tun dan ibu berlari-lari di bawah hujan untuk menyusul Bapak di sawah.
“Pergi pergi…”
Tun naik ke lantai dua rumahnya. Lantai sederhana. Itu juga bukan buatan tukang yang ahli. Tapi buatan Bim dengan kemampuan seadanya. Bim hanya belajar dari tukang. Dari melihatnya. Bim cuma memasang kayu-kayu, kayu bekas dari rumah besar yang baru dibangun dan Bim beli murah, Bim gunakan untuk membangun lantai dua.
Beberapa kayu melintang dipasang di tembok. Beberapa berdiri di tengah rumah sebagai penguat. Lalu Bim memasang triplek, itu pun bukan triplek baru tapi triplek bekas hasil orang yang membangun.
Di lantai dua Tun bisa tidur dengan bebas tanpa perlu takut hujan datang. Lemari pakaian juga diletakkan di lantai dua. Tun bahkan memindahkan kompor ketika musim hujan ke lantai dua rumahnya.
Dari atas rumahnya Tun bisa lebih dekat melihat awan. Awan yang bergumpal. Tetangga yang sibuk membetulkan atap. Mengetok, memaku. Tetangga lain yang mengomel dan berkata bahwa ketokan dan pukulan martil itu membuat atap rumah mereka jadi bergeser dan rumah mereka menjadi bocor.
Dari atas rumahnya Tun bisa melihat kehidupan di gang sempit di bawahnya. Gang sempit yang hanya bisa dilewati satu kendaran bermotor saja. Yang setiap rumah berlomba-lomba menaruh kursi di pinggir jalan untuk teras rumah mereka dan duduk-duduk di waktu sore.
Dari atas rumahnya Tun bisa melihat seorang lelaki berdiri. Beberapa tetangga juga ikutan berdiri.
Tun sudah biasa, di tempat tinggalnya yang saling berdempetan, setiap orang ingin tahu urusan orang lain.
“Tun…,” seorang tetangga yang melihat Tun di atap rumahnya berteriak memanggil.
Awan itu semakin gelap saja. Tun memandang ke langit. Jika hujan itu turun maka kesenangannya akan terpenuhi tapi bila tidak turun maka kesenangan anak dan suaminya yang akan terpenuhi. Tun merasakan tubuhnya bergoyang. Mungkin awan yang didorong oleh Bim membuat angin bertiup cukup kencang.
“Tun…”
“Pergi, pergi…,” Tun berucap berulang-ulang. Semakin khusuk, semakin keras, semakin tidak peduli pada orang yang berteriak memanggil-manggil namanya. Ia merasakan goyangan semakin keras.
“Tun…!” tetangga di bawah masih berteriak, mereka berhamburan ke luar rumah.
“Pergi, pergi…”
“Tun…, gempa.!”.
**

Bukan Sekedar Menulis

DSCF2218

Menjadi penulis, untuk yang terbiasa menulis pada akhirnya adalah suatu hal yang menyenangkan. Kesukaan alias hobi yang bisa dijadikan profesi. Semakin menyenangkan ketika setelah menjadi ibu, karena itu artinya kita punya jadwal kerja di rumah dan bisa memantau perkembangan anak-anak total dalam jangkauan pandangan mata.
Tapi sayangnya menjadi penulis, banyak yang menganggap hanya perlu kemampuan menulis saja. Padahal menurut saya, penulis adalah seseorang yang menuliskan segala hikmah dalam bentuk tulisan (ini teori saya).
Penulis menulis apa yang ia lihat, ia jalani, ia baca, ia sikapi, ia teladani. Bukan sekedar menulis dan mengarang-ngarang cerita tidak jelas tanpa makna bahkan tanpa keinginan orang lain mengambil manfaat dari cerita itu.
Menulisnya sederhana (banyak yang berpikiran begitu). Aku punya pengalaman, aku bisa menulis, ya tulis saja. Ada yang menerbitkan, ada media yang memuat, Alhamdulillah.
Proses menulis yang sederhana seperti itu, pada akhirnya juga akan berakhir dengan sederhana. Tulisan kita berputar dari itu ke itu saja. Idenya itu ke itu saja. Cara kita bertutur juga itu ke itu saja. Banyak yang suka. Tapi lama kelamaan bisa dilanda kejenuhan.
Menurut saya, jika menulis dengan cara seperti itu, maka karir menulis kita juga hanya berjalan di jalan yang sama. Jalan di tempat, sebelum akhirnya mengambil keputusan, berhenti atau tenggelam karena tidak mampu bersaing dengan para penulis-penulis baru yang bermunculan.
Konsep menulis itu memang sederhana. Anak-anak di rumah suka menyederhanakan seperti itu. Ah gampang. Dikarang-karang saja. Itu menurut mereka yang setiap hari melihat ibunya di depan komputer dan selalu menghadiahi mereka buku-buku.
Menulis memang dimulai dari ide, setelah niat kuat tentu saja. Tapi kita tidak menulis hanya berbekal ide saja.
Kalau hanya berbekal ide, maka seorang Buya Hamka tidak akan bisa membuat novel Di Bawah Lindungan Kabah dan Angkatan Baru. Lalu berproses membuat Tafsir Al Azhar 30 juz. Kebetulan Bapak saya mengidolakan Buya Hamka jadi buku-buku beliau banyak di rumah.
Buya Hamka berproses dalam menulis.
Atau idola saya Emha Ainun Najib. Beliau mampu menulis puisi, kumpulan kolomnya juga cantik. Fiksinya juga sarat makna. Kenapa? Sebab Emha mau berproses dan sadar bahwa menulis itu butuh proses.
Menjadi penulis itu, menurut saya, seperti seperti menjadi sebuah teko berisi air. Yang ke luar dari dalam teko itu, apakah air gula, air sirup atau air comberan sekalipun, adalah tergantung apa isi yang ada di dalam diri teko itu.
Demikian juga dengan tulisan.
Jika kita terbiasa membaca yang tidak bermanfaat, maka tulisan yang kita hasilkan juga sesuatu yang tidak bermanfaat. Yang tidak membuat orang lain tergerak untuk melakukan perubahan setelah membaca tulisan kita.
Menjadi penulis itu juga jangan seperti teko kosong? Apa yang dihasilkan oleh sebuah teko yang kosong? Cuma angin. Angin yang bisa jadi membuat sakit perut. Angin yang juga tidak menyegarkan karena kecil kapasitasnya untuk membuat orang lain merasa tersejukkan.
Baca.
Seribu kali baca. Bukankan itu makna kenapa ayat pertama yang diturunkan dalam Al Quran adalah kalimat Iqra (baca). Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menjadikan.
Artinya untuk saya adalah baca. Sebab dengan membaca sumber pengetahuan kita bertambah. Dunia yang tidak pernah kita datangi akan ada di dalam genggaman ketika sebuah buku ada di tangan kita. Kebijaksanaan yang dilakukan orang lain, bisa kita jadikan teladan, jika kita mau membaca.
Termasuk menulis fiksi?
Ya, menulis fiksi (mengarang) memang sederhana. Setiap orang punya dongeng tentang hidupnya. Dan semuanya yakin bisa menulis apa yang dilihat dengan menuliskannya menjadi sebuah cerita.
Sederhana harusnya.
Tapi menjadi tidak sederhana ketika yang merasa mampu menulis itu tidak mau membaca. Kisah-kisah hidup yang ditulisnya dalam cerita, karena ia tidak mau belajar dari contoh tulisan orang lain, akhirnya mati gaya. Hanya itu ke itu saja.
Menjadi penulis harus mau berkembang.
Saya ingat betul proses saya menulis cerita anak. Ketika mahasiswa, cerpen saya beberapa kali menghiasi majalah BOBO. Tapi setelah itu, apakah saya mulus menulis novel untuk anak?
Untuk memulai menulis cerita anak lagi, setelah vakum bertahun-tahun fokus di naskah remaja dan dewasa, saya belajar lagi. Saya membeli banyak novel anak dalam dan luar negeri. Membandingkan.
Pada akhirnya mendapatkan trik ide yang tidak biasa.
Sebuah novel anak yang tidak memuaskan untuk saya, karena seringnya tokohnya tidak sebebas anak-anak khususnya sebebas saya ketika anak-anak. Kalimatnya sering terlalu panjang sehingga ketika saya ceritakan pada anak-anak, saya harus memotong kalimat itu agar mereka tidak bosan, pada akhirnya membuat saya tahu bagaimana menulis cerita yang saya suka, anak-anak suka dan mereka bisa membaca cerita itu tanpa saya pandu.
Novel Aku Sayang Bunda, itu novel anak pertama yang saya buat.
Ketika saya ingin sekali memiliki sebuah kolom di sebuah surat kabar atau majalah, setahun saya belajar bagaimana tulisan dalam sebuah kolom itu. Mengandai-andai bila kelak saya memiliki sebuah kolom di majalah.
Belajar tak kenal henti. Membaca dan menulis juga tak kenal henti dalam satu kesatuan utuh.
Jadwal menulis saya pasti. Jadwal membaca saya juga pasti. Setelah urusan rumah tangga selesai, anak-anak dan suami kenyang. Dan semuanya biasa saya kerjakan pagi-pagi. Dari mulai menyetrika, mencuci baju dan mengepel.
Selingan dalam menulis adalah ketika tukang sayur lewat, ketika anak minta ditemani membuat PR, atau ketika mereka hanya ingin adu panco juga belajar catur.
Selingan lainnya kalau lagi ingin sedikit lama ngobrol dengan tetangga. Itu artinya setelah membeli sayur, saya bisa mengobrol dulu dengan tetangga dengan tambahan waktu beberapa menit. Dan komputer tetap menyala.
Menjadi penulis itu mudah. Membaca juga tidak kalah mudah. Membekali diri dengan membaca akan membuat tulisan kita berkembang.
Jika ingin tulisan kita ‘kaya’, maka jangan hanya membaca buku fiksi saja. Coba jelajahi buku-buku non fiksi. Bertekun dalam membaca non fiksi akan membuat kita tambah ilmu.
Tulislah apa yang memang enak untuk karakter kita sesuai dengan gaya kita. Karena sebenarnya menulis itu seperti kita memakai baju. Baju yang kita sukai gayanya berbeda dengan gaya orang lain.
Beberapa tahun ini, proses membaca saya menjadi lebih berkembang bukan sekedar membaca.
Ketika sedang membaca sebuah buku, saya membayangkan ketika penulis itu menulis sebuah cerita yang sedang saya baca, apa yang sedang ia lakukan.
Pada akhirnya pengetahuan saya menjadi berkembang. Dan saya jadi memahami karakter penulisnya dari dua atau tiga buku karangannya yang saya baca.
Karakter penulis yang satu dan yang lain berbeda meski idenya sama. Seperti baju biru yang dipakai A dan dipakai B itu berbeda meski motifnya sama. Karena style ketika dia memakainya itu yang akan membuat berbeda.
Jane Eyre dan Anne Of The Island berkisah tentang gadis yatim piatu dan kisah cinta mereka. Sama-sama kisah cinta klasik. Tapi toh bisa berbeda karena penulisnya berbeda.
Dan belajar tentang karakter penulis, saya lalu mencoba menggali-gali mana tulisan yang sekedar tempelan sebuah cerita dan mana yang benar-benar keluar dari hati, membuat saya semakin kaya pemahaman juga imajinasi.
Jadi jangan mau mati langkah dalam menulis.
Saya ingin terus menulis bahkan ketika usia sudah menua dan tentu saja, saya tidak ingin diam di tempat.
Bapak saya di usia 80 tahun masih kuat ingatannya karena gemar membaca. Orangtua sahabat, penulis fiksi bahasa Jawa juga masih kuat ingatannya. Ibu saya bahkan baru belajar menghapal juz 30 di usia 65 tahun dan masih bisa menghapal, kuat juga ingatannya.
Membaca dan menulis itu rangkaian yang harus kita jalankan jika tidak ingin diam di tempat dalam menulis.

Doa yang Tidak Sederhana

DSCF2362

Tak lelo lelo lelo ledung
Cep meneng ojo pijer nangis
Anakku sing ayu rupane
Yen nangis ndak ilang ayune
Tak gadang biso urip mulyo
Dadio wanita utomo

(Song by Waljinah)

 

            Pernah membaca buku cerita Sewidak Loro? Buku cerita anak itu inspiratif sekali untuk saya. Bercerita tentang doa ibu untuk anak gadisnya yang buruk rupa dan hanya memiliki enam puluh dua rambut di kepalanya.

Anak gadis yang buruk rupa dan diejek tetangganya itu setiap malam selalu didoakan lewat lagu. Lagu yang mengatakan bahwa kelak ia akan menjadi istri seorang raja. Lagu yang diulang-ulang setiap malam itu membuat salah seorang tetangga yang merasa terganggu menghadap raja. Dan mengatakan bahwa tetangganya ada yang menginginkan anaknya untuk menjadi istrinya.

Maksud hati ingin membuat ibu yang baik hati itu berhenti mendoakan anaknya dan menina bobokan dengan lagu, ternyata membuat raja memiliki pikiran lain.

Raja justru yakin bila putri itu tentu saja cantik rupanya. Dan yakin ibu yang bernyanyi dan berharap seperti itu pasti tidak sedang berdusta.

Alkisah raja mengirimkan pengawalnya untuk menjemput Sewidak Loro dengan tandu. Dan si Ibu meminta agar sepanjang perjalanan tandu itu tidak boleh dibuka.

Sepanjang perjalanan, bidadari-bidadari dari kayangan turun. Merias Sewidak Loro dan menjadikan wajah buruknya menjadi wajah seorang wanita secantik bidadari. Tentu saja sang Raja jatuh hati dan meminangnya menjadi istri.

Moral cerita itu saya pegang terus sejak saya membaca buku itu ketika Sekolah Dasar. Tentang sebuah kekuatan doa dan sikap optimis dari seorang ibu kepada anaknya. Bahkan ketika orang lain tidak memiliki harapan sama sekali.

Doa itu menembus ke langit yang paling tinggi. Merubah nasib buruk menjadi nasib yang baik.

Hal yang sepele seperti itu yang sering dilupakan manusia zaman sekarang. Action berkali-kali dilakukan tapi mengabaikan sesuatu yang dianggap kecil yang dianggap doa.

Sewidak Loro cerita yang sederhana yang ketika dibacakan pada anak-anak, mereka akan paham maknanya.

 

Doa dan Klik

 

Lalu apa hubungannya doa dengan klik?

Saya menyebutnya klik sebagaimana anak-anak muda sering menyebutkan. Bila mereka cocok dengan seseorang mereka akan mengatakan klik.

Klik itu bunyi yang biasa. Bunyi yang bisa dihasilkan oleh dua benda yang beradu dan terbentur. Tidak semua benda memang menghasilkan bunyi klik.

Songket telepon dimasukkan ke ujungnya berbunyi klik. Tombol lampu ketika dinyalakan atau dimatikan akan berbunyi klik. Hingga akhirnya klik itu menjadi diperlebar maknanya menjadi sesuatu yang sering diartikan sebagai bentuk kecocokan.

Aku dan kamu klik. Itu artinya aku dan kamu cocok. Aku dan kamu menjadi satu kesatuan utuh.

Klik dan doa itu rangkaian yang menyatu untuk saya.

Karena saya selalu berdoa agar berada di dalam lingkungan yang tepat, teman-teman yang tepat, dan doa itu saya percayai bisa menjadi pembuka jalan untuk bertemu dengan orang-orang yang tepat juga berada di lingkungan yang tepat, maka ada signal tersendiri ketika saya berada pada suatu siatuasi yang tidak tepat.

Klik itu artinya, ketika saya melihat seseorang mendekat tapi signal di hati saya mengatakan bahwa ia bukan teman yang cocok untuk saya, maka saya serasa ada tembok menghalangi.

Maka doa itu membuat saya selalu bertemu dengan teman-teman yang memang klik untuk saya. Bukan karena teman-teman itu memahami saya, tapi karena kami saling memahami.

Bukan karena pertemanan arahnya juga di jalan yang lurus tanpa masalah. Tapi pertemanan itu hadir untuk saling membantu menguatkan ketika datang masalah.

Doa itu membuat segala yang rumit menjadi sederhana. Terkadang kemampuan doa bekerja melebihi kemampuan kita merencanakan. Segalanya menjadi mudah selesai ketika dibantu dengan doa.

Doa dan Action

Cerita Sewidak Loro memang tidak mengajarkan action. Si mbok, ibu Sewidak Loro terlalu lugu untuk melakukan action menjadikan putri buruk rupanya menjadi istri seorang raja. Si Mbok tahu diri. Dan saking tahu dirinya itu, ia berdoa terus menerus dengan suara lantang. Hingga suaranya itu terdengar oleh orang lain dan orang lain bertindak melakukan action yang akhirnya berwujud menjadi sebuah kenyataan.

Kita hanya berdoa dan merasa bahwa doa saja akan mengantar kita pada sesuatu perubahan bisa saja terjadi. Apalagi doa itu kita panjatkan bukan karena kita bukan karena kita orang yang selurus seperti Mbok-nya Sewidak Loro. Tapi karena kita orang yang malas untuk melakukan sebuah action.

Kita tidak mau berubah bukan karena keterbatasan diri kita tapi karena kita memang malas untuk melakukannya.

Di Negeria, seorang pengemis yang bertahun-tahun menjadi pengemis pada satu titik akhirnya melakukan action. Itu terjadi ketika seorang peramal melihat garis tangannya dan melihat tanggal lahirnya yang katanya sama dengan garis tangan dan tanggal lahir pelukis terkenal Leonardo Da Vinci.

Sebuah ramalan bagus tanpa action tetap menjadikannya pengemis selama bertahun-tahun. Hingga ia akhirnya bertemu peramal kedua dan meramalkan hal yang sama.
Lalu ia mulai melakukan perubahan.
Pengemis itu mulai belajar melukis. Ia mulai melakukan action dengan melukis. Berhari-berbulan hingga akhirnya lukisannya menjadi bagus dan memiliki daya jual tinggi. Akhirnya ia dikenal sebagai seorang pelukis terkenal yang lukisannya banyak digemari di negaranya.

Action bukan sekedar berharap dan berdoa.

Jika doa adalah landasan maka action adalah pesawat terbangnya yang akan membawa kita sampai pada tujuan.

Tinggal kita memilih yang mana. Apakah kita akan action menggunakan pesawat mainan, helicopter, pesawat penumpang atau sebuah pesawat jet. Masing-masing tentunya ditentukan dengan kapasitas kemampuan kita untuk menalar sampai sejauh mana kita bisa melakukan action itu.

Jika nyali kita kecil jangan bermimpi menggunakan pesawat jet. Bisa hancur berkeping kita karena tidak bisa mengendalikannya.

Lakukan action dari hal paling kecil yang kita bisa. Lalu bertahap setelah yang kecil itu menjadi kebiasaan, tingkatkan action pada sesuatu yang lebih besar dan lebih besar lagi. Hingga pada suatu saat kelak, kita akan berdiri di suatu tempat dimana kita merasa bahagia karena itulah hasil yang selama ini ingin kita dapatkan.

Mari kuatkan doa kita.