Sayap untuk Fey

Pemenang lomba cerpen anak jalanan

“Aku bisa terbang, tahu,” mata Fey yang bulat itu bercahaya. Kedua tangannya mengepak seperti burung yang akan terbang.
Jay memandangi.
Bayangan bulan jatuh menyentuh pipi Fey yang kurus.
“Kamu tahu aku bisa terbang?”
Pada bayangan bulan tahun kemarin, Jay menemukan Fey. Tersungkur di bak sampah di pinggir perumahan. Bajunya kotor, pipinya kotor, semuanya tidak jelas dan berantakan.
“Aku bisa terbang…”
Jay membuka kertas di tangannya. Bungkusan koran. “Tadi ada yang buang sampah baju-baju ini. Kamu mau? Masih bagus dan cocok untuk kamu.”
Fey memerhatikan ketika baju di dalam koran itu Jay bentangkan. Tiga baju cantik dengan warna yang hampir pudar.
“Cantik..,” bola mata Fey bersinar. “Buat aku?”
Jay mengangguk. Buat kamu semua.”
**
Bayangan bulan itu jatuh, menyentuh pipi Dewani. Di teras dengan halaman rumah dipenuhi rumpun bunga mawar.
Ini tentang hidup yang seperti mawar. Kelihatan indah tapi menyimpan duri.
Dewani menarik napas panjang. Cukup panjang hingga seperti sebuah keluhan yang ingin dikeluarkan agar ditangkap oleh angin dan diterbangkan ke awan.
Rumah mereka cukup besar. Cukup untuk menampung beberapa anak jalanan. Beberapa kamar tidur yang selalu kosong. Beberapa kamar tamu yang juga kosong karena para tamu tidak ingin menginap di rumah yang mati seperti kuburan.
“Kenapa harus mereka?” Ibu menggeleng. Keras-keras. “Kamu pasang papan pengumuman dan tulis kalau rumah ini disewakan atau menerima kost. Ibu terlalu sibuk untuk mengurusi rumah ini. Kamu pun terlalu seram untuk tinggal di sini sendirian. Banyak orang jahat. Bela diri yang kamu miliki tidak akan mempan melawan orang jahat.”
Ibu selalu berpikir tentang orang-orang jahat. Orang-orang jahat di sekeliling mereka. Orang-orang jahat yang tidak punya hati. Mungkin dengan alasan itu Ibu selalu berpindah tempat bila lingkungan mulai ramai. Ibu suka rumah sunyi di lingkungan sunyi.
Cahaya bulan itu menyebar di rumpun mawar.
Bicara dengan Ibu adalah bicara dengan angin. Tidak bisa tertangkap.
Ia sudah besar. Hidupnya ada di tangannya dan segala keputusan bisa dipertanggungjawabkan.
Dewani mengambil telepon genggamnya.
Di malam yang selarut ini, ia ingin teman untuk bicara.
**
Rio menggelengkan kepalanya.
Semangkuk bakso didampingi teh botol.
Dewani tidak akan membuat malamnya semakin nyaman. Tugas kuliah yang bertumpuk, omelan Mami yang memberi ultimatum agar kuliah tepat waktu agar tepat pula untuk pindah mengikuti tugas Papi di lain benua. Segalanya sudah diatur jelas dan tegas oleh Mami.
Rio menyedot the botolnya.
Tidak saat ini untuk Dewani. Ia sedang tidak ingin tenggelam dalam masalah.
**
Fey selalu kedinginan.
Fey selalu begitu setiap malam. Dengan pipi kurus begitu meski makannya banyak tetap saja makanan itu tidak berubah menjadi daging.
Jay sudah menganggap Fey sebagai adik. Mereka berdua di pinggir tempat sampah. Mereka berdua di emperan toko. Mereka berdua mengais sampah yang berisi makanan. Makanan yang dibuang pemiliknya. Makanan sisa orang yang makan di warung pinggir jalan. Masih enak.
“Bajunya cantik…”
Baju yang ditemukan Jay cocok untuk Fey.
Fey bukan nama sebenarnya. Tapi waktu Jay temukan ada tulisan itu di tangan Fey. Mirip seperti tato.
Fey tersenyum.
“Kita ngamen lagi di stasiun?”
Fey mengangguk. Badannya panas. Tapi kalau tidur di emperan toko akan semakin panas kena lempar air dari pemiliknya.
Di stasiun lebih enak.
“Ayo..,” tangan Jay menarik Fey.
Fey mengangguk.
**
Mereka bicara tentang kemiskinan. Mereka bicara tentang peningkatan taraf hidup dalam sebuah teori. Mereka cuma bisa teori tapi tidak bisa menerapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Ransel berwarna pink itu Dewani bereskan.
Berkas-berkas yang sudah ia susun menjadi draft proposal. Permohonan pada ketua RT setempat tanpa sepengetahuan Ibu.
Ibu punya rumah di banyak tempat. Tempat yang Dewani tinggali mungkin sudah terlupa oleh Ibu kalau Dewani tidak mengingatkan.
“Mau kemana?”
Dewani bergegas.
Kuliah bukan menjadi passion-nya kalau Ibu tidak memaksa dengan bicara tentang masa depan.
Ah, ia tidak merasa masa depan terletak pada bangku sekolah. Ia ingin sekolah yang lebih nyata. Dan kenyataan itu ada pada Fey. Gadis dengan pipi tirus dan mata cekung yang matanya memandang penuh kasih padanya. Yang memeluknya hangat bahkan lebih hangat dari pelukan Ibu yang ala kadarnya.
“Dewani…”
Dewani tak menyahut.
Lupakan semua.
Ia menghentikan sebuah ojek lalu berlalu begitu cepatnya ketika helm sudah terpasang di kepala.
**
“Cewekmu?”
Rio melihat itu.
“Cewekmu, kan?”
Rio menggeleng.
Sejak Dewani susah untuk dikendalikan sejak itu pula ia malas meneruskan hubungan dengan gadis itu.
Dunia mereka sudah berbeda. Dewani terlalu serius untuk hidup yang terlalu singkat.
**
Mereka ada di stasiun.
Mereka di emperen stasiun yang dipenuhi pengendara ojek.
Bibir Fey kebiruan. Badannya semakin panas.
“Sebentar ya…, aku mau menelepon Kak Dewani…”
Fey mengangguk.
**
Teleponnya tertinggal di kamarnya.
Telepon itu tidak penting. Hanya berisi SMS konyol dari Rio yang sengaja ia sisakan. Juga ada SMS dari Ibu yang menekankan tentang hal-hal yang menurut Dewani tidak penting.
Kakinya melangkah ke sebuah emperan toko.
“Pak, lihat anak…”
Seorang lelaki tua memandangnya lalu menggeleng dengan pandangan seperti mengusir.
**
Jay pernah melakukan semuanya. Jay pernah mencuri mangga dan dipukuli orang sekampung. Jay pernah mencuri burung kenari dan dikejar orang sekampung juga lalu ia berhasil bersembunyi di dalam parit. Jay juga pernah mencuri kaca spion motor orang hasilnya adalah bogem mentah di kedua matanya hingga sekarang matanya melihat agak kurang jelas.
Jay pernah menjual ganja. Sedikit saja. Uangnya untuk membeli sebungkus nasi yang dimakan berdua dengan Fey.
Jay sekarang berdiri di depan sebuah wartel. Uang di kantornya tinggal dua ribu. Menelepon Kak Dewani pasti tidak cukup.
Jay melihat orang-orang sekeliling. Mereka makan di warung bakso, mereka membeli majalah, membeli es krim. Dompet terbuka. Selembar dua puluh ribu, lima puluh ribu, seratus ribu.
Jay pernah mencuri.
Jay biasa dipukuli.
Jay tidak ingin macam-macam. Ia ingin masuk ke boks telepon umum untuk menelepon Kak Dewani dan bercerita tentang Fey.
Fey, mengingatkan pada Hanum, adik Jay dulu. Fey punya mata seperti Hanum yang sering kena pukul ibu tiri mereka. Fey sabar seperti Hanum tapi sayang Jay tidak bisa melindungi ketika Emak menjualnya pada lelaki lain setelah Bapak pergi dengan perempuan lain lagi.
Hanum masih kecil tapi tidak bisa menolak. Hanum memeluknya dan mengucapkan selamat tinggal.
Sebulan setelah itu Hanum benar-benar mengucapkan selamat tinggal. Ia dibuang di sekolakan oleh orang yang sampai saat ini tidak bisa ditemukan. Bisik-bisik yang Jay dengar ada perempuan lain yang cemburu.
Jay sakit hati. Jay terluka. Jay tidak ingin ada perempuan lain seperti Hanum. Gadis-gadis kecil seperti Fey.
**
Ya Tuhan…
Dewani menepuk jidatnya sendiri.
Kemana dua anak itu?
Beberapa emperan toko sudah ia cari dan tidak ia temukan dua anak itu.
Keputusannya sudah bulat. Ia akan menampung dua anak itu terlebih dahulu lalu nanti akan menambah dengan fasilitas pengajaran agar ada anak-anak lain yang bisa ia tampung.
Biar saja Ibu mengoceh tak menentu. Ibu selalu mengoceh tentang banyak hal. Tentang perjuangan hidup yang dulu Ibu lalui sebagai seorang anak jalanan tanpa penolong. Ibu selalu berpikir bahwa tidak perlu ada dewa penolong.
Mungkin stasiun.
Dewani memeprcepat langkahnya.
Mungkin di stasiun.
**
Selembar dua puluh ribuan saja.
Jay mendekat. Menghimpit. Menarik dompet seseorang dari kantungnya.
Ia tidak menginginkan yang lain. Ia hanya ingin selembar duapuluh ribuan agar bisa masuk ke boks telepon dan menelepon Kak Dewani agar bisa cepat datang ke stasiun.
Fey panas sekali. Fey sakit. Obat warung tidak bisa membuat panasnya turun.
Selembar duapuluh ribuan.
“Copet…!” seseorang berteriak.
Jay terlambat untuk berlari.
**
Ibu dulu pernah bercerita tentang sepasang sayap. Sayap untuk Fay terbang.
Ibu dulu pernah memeluk Fay hangat.
Tapi Ibu hilang di sebuah stasiun ketika kereta melaju kencang. Fay tertinggal di kerumunan penumpang.
Fay sempat melihat tubuh Ibu di pinggiran rel. Ibu tidur di sana dikerumuni orang-orang.
Fay tidak tahu. Kereta itu tidak bisa berhenti. Tadi Ibu dan Fay sedang bermain tulisan rahasia. Ibu menulis nama Fay di tangan. Lalu kereta api yang penuh sesak itu membuat tubuh Ibu terdorong ke pinggir pintu yang terbuka.
Fay tidak tahu.
Ibu pernah cerita tentang sepasang sayap. Sayap untuk Fay terbang.
Kalau Fay tidur, Fay bisa mengambil sayap itu dalam mimpi.
Fay bisa terbang.
Tubuh Fay semakin memanas.
Ia menggigil.
Gigil bersamaan dengan mata yang tertutup rapat dan pihak polisi yang berjalan menuju kerumunan orang-orang di dalam stasiun yang baru saja menggebuki seorang pencopet.
Sepasang sayap itu membuat Fey tertidur sambil tersenyum.
**
Dewani mengembuskan napasnya kuat-kuat.
Ia sempat melihat sosok Jay.
Ia melihat sosok Fay dikerumuni banyak orang.
Yang ia tahu hanya satu, bahwa ia sudah terlambat.
**

Seratus Surat untuk Bapak

270522_10151137068723591_642879689_n

Ini surat keseratus yang Yayi tulis untuk Bapak. Di atas lembaran kertas hvs. Diberi pewangi dari pengharum pakaian yang biasa dipakai Bunda untuk menyetrika.
Bertumpuk-tumpuk surat itu. Masing-masing dilipat dengan begitu rapi. Ditulis dengan bahasa yang sangat baik. Lalu dimasukkan ke dalam amplop yang ditaruh di dalam rak buku dihimpit buku-buku tebal.
“Bapakmu laki-laki hebat yang ingin anak perempuannya jadi hebat. Dia itu pemain sepakbola yang sangat hebat,” ujar Bunda setiap kali tahu Yayi membawa pulang satu amplop yang dibelinya dari warung. “Titip salam dari Bunda untuknya,” ujar Bunda. “Bilang, Bunda masih cinta sama Bapakmu..,” wajah Bunda kemerahan. Bunda seperti gadis yang baru saja jatuh cinta.
Pada surat pertama, Yayi tidak tahu apa yang harus dikatakannya. Surat pertama itu ditulis pada saat ia menginjak bangku SMP. Masih suka mengucir satu rambutnya di belakang dan sering ditarik oleh teman-teman cowoknya yang nakal. Dulu ia belum suka memakai bedak.
Surat pertama itu Yayi tulis karena Bunda memberikan sebuah foto padanya. Sambil duduk di samping tempat tidur Yayi. “Bunda ceritakan tentang seorang laki-laki hebat. Sayangnya Bunda tidak bisa menandingi kehebatannya. Jadi kami berpisah begitu kamu lahir. Orang hebat seperti itu harusnya dapat perempuan yang hebat.”
Foto yang Bunda berikan pada Yayi adalah foto seorang pemain bola. Cukup terkenal. Teman-teman Yayi menganguminya sebagai bintang paling top. Bukan karena ketampanannya. Tapi karena ketangkasannya.
“Bapakmu itu orang hebat. Pasti banyak yang suka dengannya. Pasti istrinya yang sekarang juga sering cemburu dengannya. Seperti Bunda dulu cemburu,” Bunda tersipu. “Pilih kata-kata yang bagus untuk Bapakmu, ya? Suratnya juga harus berbeda sehingga Bapakmu jadi senang membacanya.”
Yayi tidak pernah suka bola sebelumnya. Tapi cerita Bunda tentang Bapak yang sudah lama ingin dikenalnya membuat ia jadi terlecut dan pada akhirnya sering duduk di depan televisi untuk menonton pertandingan bola.
Pada surat kedua, Yayi tulis tentang semua team sepakbola yang ia sukai. Di dalamnya ada semangat agar Bapak terus maju.
Pada surat ketiga, Bunda mengatakan pada Yayi bahwa Bapak suka sekali dengan wangi mawar. Maka pada surat ketiga Yayi mulai mencari bunga mawar dan menyelipkannya di amplopnya. Tapi hal itu tidak dilakukannya lagi di surat ke empat karena kelopak mawar yang sudah mengering itu membuat amplopnya berubah warna menjadi kecoklatan.
Pada surat kelima, Yayi mulai bingung sendiri. Ia ingin foto Bapak yang lain tapi Bunda bilang tidak menyimpannya. Bahkan untuk melihat kartu keluargapun Bunda melarang. Yang Bunda tunjukkan hanya kartu keluarga milik Kakek di mana Bunda ada di dalamnya sebagai anak. Statusnya tentu saja belum menikah.
“Bapakmu yang bawa kartu keluarga itu. Mungkin ingin mengenang Bunda sebagai istrinya dulu…”
Pada saat di mana Yayi harusnya menulis surat yang ke enam, Yayi memutuskan untuk berhenti menulis. Surat-surat itu membuat ia jadi bahan ledekan teman-temannya.
Sampai Bunda datang dan memeluknya. “Bunda kangen sekali dengan Bapakmu..”
Yayipun pada akhirnya memutuskan untuk menulis surat-surat berikutnya.
**
“Kamu tahu alamatnya?” tanya Yayi pada Rieka ketika mereka sedang berada di warung. Yayi untuk kesekian kalinya membeli amplop dan kertas hvs.
Rieka menggeleng. “Kapan-kapan kita ke lapangan, yuk? Siapa tahu surat itu bisa kamu kasih semua ke dia. Kalau musim pertandingan kan team garuda kita berlatih setiap sore di sana.”
“Nanti surat itu aku apakan?”
“Kamu teriakkan saja namanya terus kamu kasih ke tukang bersih-bersih lapangan. Bilang, titip surat buat Bapakmu.”
Ide Rieka bagus betul.
Maka dalam waktu lima hari sebelum hari di mana Rieka mengajaknya melihat latihan team garuda, Yayi membuat banyak sekali surat. Semuanya ditulis rapi. Lalu dimasukkan ke dalam amplop yang kali ini setiap amplopnya diberi cipratan pewangi pakaian yang berbeda.
Sudah ada dua puluh lima surat yang Yayi tulis.
“Titip salam Bunda untuk Bapakmu, ya?”
“Bunda tidak ingin ikut?”
Bunda menggeleng. “Nanti saatnya kamu tahu kalau kenangan itu lebih manis untuk tetap jadi kenangan.”
“Tapi Bapak wajahnya tidak mirip denganku, Bunda?”
“Sebab kamu sangat mirip denganku. Nanti kalau Bapakmu melihat pasti akan tahu…”
Sore itu sepulang sekolah, Yayi benar-benar berada di pinggir lapangan. Ada dua puluh lima surat di dalam tasnya.
“Yang itu Bapakmu, Yi..,” Rieka melonjak.
Yayi merasa bungah. Bapak, bibirnya mendesis. Seorang laki-laki gagah yang kelihatan tidak perduli dengan penggemar yang berteriak di pinggir lapangan. Striker andalan team.
“Bapakmu, Yi..”
Yayi terharu. Cepat memanggil seorang petugas yang berada dekat pagar lapangan.
“Titip surat buat Bapak,” ujar Yayi padanya.
Petugas itu memperhatikan. Keningnya berkerut.
“Bapak saya…” Dua puluh lima surat itu berpindah tangan. “Bilang kalau Bunda kangen sama Bapak…”
Kepala itu mengangguk.
**
Surat-surat itu mungkin terbaca oleh Bapak. Sebab Bunda bilang, Bunda bermimpi Bapak datang dan mengatakan bahwa Bapak juga kangen.
“Terimakasih suratnya ya, Nak,” Bunda menghelus kepalanya.
Yayi senang bila ia telah menyenangkan Bunda. Selama ini Bunda banting tulang untuknya. Bunda bekerja apa saja demi sekolah Yayi. Bunda tak pernah mengeluh. Yayi hanya membalas sedikit untuk Bunda.
“Bunda bahagia sekali…”
Yayi juga bahagia.
Meski tak terbalas surat itu, kebahagiaan Yayi membuat ia pada malamnya menulis surat lagi. Surat yang banyak untuk Bapak.
“Semoga Bapak selalu menjadi pencetak gol setiap kali Bapak bertanding.”
“Semoga suatu saat Bapak pulang ke rumah dan aku bisa beri tahu semua tetangga kalau Bapakku pemain bola yang hebat.”
“Semoga Bapak bersatu lagi dengan Bunda. Soalnya semenjak Bapak dan Bunda berpisah, Bunda tak pernah lagi terpikat dengan laki-laki lain. Padahal aku ingin sekali punya Bapak.”
Surat-surat itu berganti warna amplop. Dari putih menjadi biru. Dengan gambar yang Yayi buat di pinggir amplop itu. Seorang anak kecil yang sedang tersenyum memandang awan. Di awan itu ada laki-laki yang sedang menendang bola.
**
“Jadi karena Bapakmu pemain bola makanya, aku disuruh untuk ikutan main bola juga?”
“Siapa bilang?” Yayi menggeleng tegas.
“Trus, buat apa kamu sodorin sekolah sepakbola buat aku kalau bukan diam-diam kamu mau maksa aku?”
“Itu hanya perasaanmu..,” ujar Yayi.
Topan menendang kaleng kosong bekas minuman yang ada di ujung kakinya. Klontang. Bunyinya cukup keras untuk membuat gaduh di sore yang sepi.
“Jadi Bapakmu benar striker handalan itu?”
“Bunda bilang begitu,” ujar Yayi dengan bangga. “Hanya wajahnya tidak mirip denganku. Soalnya aku lebih mirip Bundaku yang manis,” Yayi meringis.
Topan mencibir.
Yayi itu memang manis. Makanya ia naksir betul sebetul-betulnya dengan Yayi. Meskipun Yayi masih nolak dan bilang akan menjawab kalau sudah dapat kerjaan. Beuh. Lama sekali Topan harus menunggu. Padahal selain Yayi, Topan juga punya inceran yang lain.
“Tapi mana buktinya?”
Yayi tersenyum. “Bundaku tidak pernah bohong, tahu? Bunda selalu bilang yang betul tentang Bapak.”
“Kalau Bunda kamu bohong?”
Yayi menggeleng. “Kata Bunda surat yang aku kirim buat Bapak juga sudah dibaca dan Bapak bilang terimakasih.”
“Jadi Bapakmu main ke rumah atau nelepon Bunda kamu?”
“Bunda mimpi Bapak bilang begitu.”
Ih.., itu yang menyebalkan dari Yayi. Masak mimpi masih dipercaya di zaman sekarang ini?
“Jangan-jangan Bunda kamu bohong…,” kali ini hati-hati sekali Topan bicara.
Yayi melotot. “Jangan ngomong yang macam-macam soal Bundaku!” katanya sambil berlari meninggalkan Topan.
Selalu saja begitu. Keras kepala!
**
Surat keseratus Yayi tulis pada saat ia akan meninggalkan bangku SMP. Setelah agak lama tak menulis surat karena kesibukannya membuat ia tak punya lagi waktu untuk membayangkan sosok Bapak.
Om di samping rumah sedang dekat dengan Bunda. Om itu teman lama Bunda yang belum juga menikah.
“Kalau Om itu sehebat Bapakmu, Bunda mau menjadi istrinya. Kamu?”
Om itu baik. Baik sekali. Tapi kelihatannya lebih suka bermain bulu tangkis ketimbang bola. “Apa yang membuat Bunda bahagia, aku bahagia,” ujar Yayi dengan mantapnya.
Hingga akhirnya Yayi lupa untuk menulis surat lagi pada Bapak. Semakin lupa ketika akhirnya Bunda menikah lagi dengan Om itu. Dan kehidupan Bunda yang baru kelihatannya menyenangkan Bunda.
Tapi sebulan sekali Yayi tetap menyempatkan diri menulis surat pada Bapak. Tentang kehidupan baru Bunda. Tentang keinginannya untuk bicara terbuka pada Bapak.
Seorang adik baru sudah hadir. Menghadirkan kerinduan yang terpendam akan seorang Bapak untuk Yayi. Terlebih ketika Yayi sedang membersihkan lemari pakaian, ia mendapati sebuah foto terjatuh. Seorang bayi yang sedang digendong seseorang berpakaian seragam bola.
“Itu foto kamu dan Bapakmu..,” ujar Bunda.
“Bukan striker itu…” ujar Yayi ragu.
“Itu waktu dia muda. Jadi tentu saja beda wajahnya.”
Kecewa Yayi membuatnya menulis surat pada Bapak. Hingga mencapai seratus surat.
Ia akan langsung memberikan surat itu untuk Bapak. Juga foto yang sekarang ia simpan karena Bunda tak ingin lagi menyimpannya. Sebuah masa lalu tidak boleh lagi disimpan kalau sudah memiliki masa depan.
**
Surat keseratus dan sebuah foto kenangan. Yayi berangkat sendiri. Tanpa Rieka yang katanya tak bisa karena ada les bahasa inggris yang wajib diikuti kalau tidak mau Bundanya mengomel seharian. Juga tanpa Topan yang konyolnya bilang capek mengejar cinta Yayi dan mau membalas cinta Tine dulu sampai dia yakin kalau Yayi tetap yang terbaik.
Di pinggir lapangan.
Masih sepi.
Mungkin team garuda belum datang untuk berlatih.
Yayi menunggu.
“Ada yang latihan?” tanyanya pada petugas yang menghampirinya. Bajunya sewarna dengan warna rumput lapangan.
Petugas itu menggeleng. “Bapakku yang striker itu juga tidak ada?”
Petugas itu mengernytikan keningnya. Lalu menggeleng.
“Eh, Pak..,” Yayi seperti diingatkan. “Suratku semua sudah dikasih ke Bapak? Yang dulu itu?”
Petugas itu mengangguk. “Adik mau apa?”
“Mau kasih surat ke Bapak. Kalau Bapak terima semuanya berarti ada seratus surat dariku yang aku tulis buat Bapak.”
“Tapi Bapak kamu lagi bertanding ke luar negeri dan baru kembali latihan di sini dua minggu lagi. Suratnya mau dititipkan?”
Yayi kelihatan ragu.
Tapi pada akhirnya mengangguk. Surat-surat dengan aroma wangi yang berbeda dan selembar foto itu berpindah tangan.
“Foto aku digendong Bapak waktu masih kecil dulu..”
Petugas itu mengangguk.
“Makasih, Pak. Besok, besok kalau ketemu Bapak bilang ya untuk balas suratku. Ada nomor telponku juga kok. Bapak boleh sms.”
Kembali petugas itu mengangguk.
Seratus surat. Selembar foto.
Ia menggelengkan kepalanya.
Selembar foto itu ia pandangi. Lama. Hingga akhirnya hembusan napas terdengar.
Itu fotonya. Dengan gadis kecil yang tak diketahui siapa Bapaknya. Perempuan yang dicintainya yang terus menolaknya tak kuasa ditolaknya untuk permintaan konyolnya. Berfoto dengan bayi itu sebagai sebuah kenangan. Biar bisa aku bohongi kalau suatu saat dia tanya soal Bapak, begitu katanya.
Petugas kebersihan lapangan sepakbola itu berjalan menuju tong sampah. Ia membuang apa yang tadi Yayi berikan padanya. Berikut fotonya.
Tak mungkin ia menyimpannya. Istri di rumahnya akan menyangka ia punya perempuan lain.
**

Tips Menang Lomba Menulis

DSCF3072

Berapa kali saya menang lomba?
Lomba balap karung? Lomba jahit kancing? Lomba MTQ? Lomba gerak jalan? Atau lomba masak?
Kebetulan saya sejak kecil selalu diikutkan lomba. Bukan oleh Bapak Ibu saya. Tapi oleh lingkungan.
Lomba MTQ tingkat kecamatan, itu waktu saya kelas dua SD. Jadi ceritanya Bapak saya suka jadi imam masjid. Dan Pak RT merasa sayalah orang yang paling pantas untuk diikutkan lomba MTQ mewakili RT.
Anak kecil umur delapan tahun, naik panggung, tidak paham aturannya. Aturan lomba yang disesuaikan dengan jenis lampu yang menyala di panggung. Lampu merah, hijau, sampai kuning.
Tapi,
lomba itu akhirnya menjadi pemicu saya diikutkan ke lomba-lomba lainnya, dan saya tidak mau menolak. Bahkan menikmati.

Saya memang mau menulis tentang lomba menulis. Tapi latar belakang itulah yang membuat saya suka ikut lomba. Senang menghadirkan kemenangan dan melihat wajah Bapak Ibu berseri dengan mata bercahaya, ketika saya menang lomba.
Sebuah lomba membuat saya bersemangat berjalan menuju target dan bukan hanya memberi atau menjadi yang terbaik. Tapi berproses untuk menjalani segala hal untuk menjadi yang terbaik alias pemenang.

Banyak mengikuti lomba membuat saya belajar kecewa ketika kalah. Dan yang terpenting saya belajar untuk tidak berhenti di satu titik bernama kecewa. Saya belajar untuk mengalahkan kecewa dan berjuang lagi. Saya juga menjadi sadar, selalu ada orang hebat di depan saya.
Saya pikir itu esensi paling penting dari seorang pemenang lomba.

Berapa kali saya menang lomba menulis?
Entahlah.
Di awal-awal menulis saya berkali-kali menang lomba menulis puisi. Lalu lama kelamaan kemenangan itu meningkat lagi, sesuai dengan target.
Saya memang tidak mau berhenti di satu titik bernama rasa puas diri.
Karena itu saya menciptkan target sendiri dalam menulis.
Saya harus bisa menguasai semua jenis tulisan. Dan indikator saya menguasai itu adalah, saya menang lomba di setiap genre tulisan. Alhamdulillah, target saya tercapai.

Sok tahu, kan? Sok pinter, kan? Atau sok hebat, kan? Atau malah kemaruk alias rakus?

Menjadi yang terbaik dan membuktikan hal itu. Itu yang diharapkan Bapak saya.
Dan saya pikir, membuktikan hal itu adalah dengan terus memacu diri memberi karya terbaik dan menjadi pemenang.

Soal lomba menulis, saya bukan sekedar pernah jadi pemenang. Tapi saya juga berkali-kali kalah. Tapi saya tidak mau terpuruk dalam kekalahan.
Setiap kekalahan membuat saya menganalisa, apa yang salah dengan naskah saya.
Setiap kekalahan membuat saya belajar banyak.

Ini yang saya pelajari dari sebuah kompetisi menulis :

Siapa yang Mengadakan Lomba

Ikut lomba boleh. Semua lomba juga tidak apa-apa. Tapi ada yang harus diperhatikan. Yaitu, siapakah penyelenggara lomba tersebut?
Jika penyelenggara lomba itu media cetak, juga harus dibedakan media cetak yang mana, dan seperti apa gaya tulisannya? Lalu ulasan seperti apa yang diinginkan?
Nah, untuk itu kamu harus mempelajari media cetak tersebut.

Jika penyelanggara lomba itu terhubung dengan sebuah instansi. Pelajari secara detail gambaran instansi tersebut. Sehingga kita bisa mengambil celah yang tidak bisa dilirik penulis lain.

Lihat Jurinya

Juri itu, orang yang dipilih untuk memeriksa naskah lomba yang masuk. Juri itu juga, biasanya orang yang punya gaya yang seirama dengan penyelenggara lomba. Karena itu, jika ingin ikut sebuah lomba menulis, pelajari siapa jurinya.
Cari tahu tulisan jurinya. Jelajahi blognya. Hingga kita akhirnya tahu seperti apa tulisan yang diinginkan oleh juri tersebut.

Patuhi Aturan Lomba

Saya suka ngeyel dengan aturan ketika menulis untuk media. Alasan saya sederhana. Ketika tulisan saya atau idenya mereka suka, maka pasti mereka akan menghubungi saya kembali untuk meminta revisi. Dan itu terbukti.
Tapi jangan pernah lakukan ini untuk sebuah lomba menulis.
Kalian yang ingin ikut lomba menulis, harus mengikuti aturan syarat yang berlaku. Syarat itu berupa, jumlah halaman, font yang diinginkan atau spasinya.

Pelajari Pemenang Tahun Sebelumnya

Banyak penulis yang mengikuti lomba dan ingin jadi pemenang, mempelajari naskah pemenang sebelumnya. Itu memang langkah yang paling benar. Tapi sayangnya, banyak yang akhirnya bertumpu pada naskah yang menang itu, lalu mencoba membuat dengan gaya yang sama. Atau bahkan ending yang sama. Ceritanya memang berbeda. Tapi gaya tulisan, bahkan ending, bahkan masalah juga hampir sama.
Alhasil tidak akan menang lomba.
Saya mempelajari pemenang sebelumnya bukan untuk melakukan hal itu.
Saya belajar untuk melihat celahnya. Artinya, saya harus menulis yang berbeda. Mencari celah yang berbeda. Mengulik sisi unik yang tidak dibahas sebelumnya.

Riset

Setiap lomba membutuhkan riset. Jadi lakukan hal itu, untuk membuat tulisanmu jadi berbeda.

Bonus DariNYA

Menjadi pemenang lomba memang hasil kerja keras kita. Tapi saya selalu yakin bahwa itu adalah rezeki dariNYA, yang memang dijatahkan untuk kita.
Ketika menjadi pemenang lomba cerpen remaja majalah Anita Cemerlang, kemenangan itu setelah saya putus asa dan berniat berhenti menulis. Karena bertahun-tahun kirim naskah, tulisan saya berupa cerpen remaja tidak ada yang dimuat.
Ketika menang lomba cerita bersambung majalah Gadis, itu ketika saya ingin kuliah di kuliah umum. Sebelumnya saya kuliah di UT. Saya ingin merasakan atmosfir kuliah di tempat yang umum, agar bisa mendapat pengalaman lebih banyak lagi. Uang hasil lomba itu, untuk uang pangkal kuliah saya.
Ketika menang lomba cerita bersambung Femina, itu ketika saya berniat resign dari pekerjaan dan memutuskan jadi penulis.
Bahkan ketika buku “Aku Sayang Bunda” terpilih sebagai buku anak terbaik, itu ketika saya membutuhkan laptop dan uang untuk melunasi utang. Kami baru saja bangkrut ditipu sana-sini. Laptop warna biru itu jadi kenangan manis sampai sekarang. Bisa dibaca pengalamannya di Tips Menulis IKAPI IBF AWARD 2012

Tulis yang Terbaik

Setiap karya pemenang adalah karya yang dianggap terbaik oleh jurinya. Jadi yang harus kamu lakukan ketika akan ikut lomba menulis adalah, beri tulisan yang terbaik. Jangan menulis asal saja dan berharap keberuntungan ada di tangan kamu.

Kamu Bisa Kalah
Jika ada pemenang dalam lomba menulis, pasti ada juga yang kalah. Ketika menulis, melakukan riset, saya selalu berjuang untuk menjadi pemenang. Hingga energi dari semangat itu membantu saya menulis sesuatu yang berbeda.
Tapi ketika naskah itu sudah saya kirim, saya selalu bersiap menjadi seorang yang kalah. Sehingga ketika saya benar-benar kalah, saya tidak terpuruk.
Dan hidup terus berlanjut. Saya terus menulis.

Pensil Terakhir

DSCF2579

Pensil itu tinggal satu. Warna pink itu dengan gambar Princess itu juga tinggal satu. Tidak ada yang lain lagi. Dijual di toko dekat sekolah Mareta dan Dinda.
Mareta dan Dinda saling berpandangan.
“Kamu mau?” tanya Mareta pada Dinda.
Mereka sudah menabung selama seminggu dari Senin yang lalu. Harga pensil itu mahal sepuluh ribu. Tapi bagus. Hampir semua anak perempuan di kelas Mareta memakai pensil itu. Hanya Dinda dan Mareta yang belum punya.
“Tinggal satu, Mbak?” tanya Dinda.
Mbak yang menjaga toko itu menganggukkan kepalanya.
Pensil itu masih ada di dalam etalase kaca toko. Di dalam kotak. Tidak ada yang lain. Semua mungkin sudah diborong oleh teman-teman dari kelas lain. Teman-teman perempuan suka sekali dengan pensil itu. Pensil itu kalau ditekan bisa berubah menjadi pulpen. Di atasnya juga ada penghapus.
Mareta menginginkan pensil itu. Ibu tidak memberikan uang lebih karena Ibu bilang semua pensil sama. Ibu tidak tahu kalau pensil itu beda. Karena itu Mareta memilih megumpulkan uang jajan dari Ibu.
“Gimana? Jadi beli?” tanya Mbak penjaga memandang Mareta dan Dinda sebelum akhirnya menuju pembeli lain.
Mareta dan Dinda saling berpandangan.
“Kalau kamu mau beli aku tidak apa-apa,” kata Dinda. “Nanti aku titip kakak aku siapa tahu di toko lain ada.”
Mareta memandangi pensil itu.
Bagus. Lucu. Gambarnya Princess Jasmine kesukaannya.
“Kamu mau, kan?” tanya Dinda lagi.
Mareta menggeleng. “Buat kamu saja. Nanti aku bisa titip Ayah di toko dekat tempat kerja Ayah.”
“Bagaimana?” tanya Mbak itu lagi datang pada mereka.
Mareta dan Dinda menggeleng. Mereka ke luar dari toko itu sambil bergandengan tangan.
**
“Yaah…, cuma pensil aja harganya mahal,” begitu kata Kak Irfan sambil menjilat es krimnya. “Enakan beli makanan.”
Mareta berdiri di depan pintu kamar Kak Irfan. “Tapi semua teman aku punya, Kak…”
“Tapi kan tidak enak tidak bisa dimakan…,” Kak Irfan kembali menjilat es krimnya. “Ibu bilang kan enakan beli makanan. Makanan yang sehat seperti es krim ini…”
Mareta cemberut. Itu karena Kak Irfan tidak tahu rasanya punya pensil seperti itu. Semua teman kalau istirahat saling lihat gambar di pensil itu. Terus mereka bermain dengan pensil itu.
“Pensil kamu kan udah banyak. Buat apa ikut-ikutan teman. Aku dong, teman yang lain pilih mainan aku pilih es krim.”
“Kakak sedih?”
Kak Irfan menggelengkan kepalanya. “Buat apa sedih, robotku kan sudah banyak, nanti sebentar aku juga sudah bosan. Enakan es krim, tahu.”
Mareta masih cemberut.
Enakan pensil pastinya. Pensil di toko itu yang tinggal satu.
**
“Ibu pilih mana?” tanya Mareta penasaran pada Ibu yang sedang membuat bolu.
“Pensil lagi?”
Mareta tersenyum malu.
“Kamu kepingin sekali beli pensil itu?”
Mareta mengangguk. “Tapi di toko itu hanya tinggal satu. Padahal Dinda dan aku juga mau.”
“Terus?”
“Dinda bilang nanti dia bisa titip kakaknya di toko lain.”
“Kenapa kamu tidak beli?”
Mareta menggeleng. “Di dekat kantor Ayah pasti ada toko pensil kan, Bu? Nanti aku bisa titip Ayah.”
Ibu tersenyum.
**
Pensil itu sudah tidak ada. Kemarin Mareta dan Dinda datang lagi ke toko itu.
Mereka berjalan menjauhi toko itu.
“Aku tidak jadi beli. Di tempat kakakku tidak ada…,” kata Dinda pada Mareta.
“Aku juga, kata Ayah di tempat kerjanya tidak ada yang jual pensil.”
Mereka berdua sekarang berjalan memasuki kelas sambil bergandengan tangan.
“Tapi tadi Mami aku bawa buku tulis dua. Bagus. Buat kamu satu kata Mami.”
“Ibu juga bawa kue bolu yang baru dibuat. Kata Ibu kamu juga boleh ikut makan.”
Mereka berdua tertawa sambil masuk kelas.
Pensil itu sudah mereka lupakan. Persahabatan lebih utama.

**

Agar Anak Cinta Menulis

kunyil belajar

Menulis, dan mengajarkannya bukan sesuatu yang mudah. Semakin tidak mudah, jika yang kita ajari tidak paham dunia itu. Seperti anak-anak tetangga yang orangtuanya pegawai di sebuah instansi, jarang sekali yang paham pekerjaan penulis. Bahkan banyak juga yang tidak paham manfaat menulis itu untuk apa?

Untuk mengajarkan menulis pada anak, yang harus diingat adalah bahwa anak-anak tidak bisa langsung cinta menulis. Sama seperti mereka cinta membaca.
Untuk proses membaca, saya biasakan membacakan buku sejak mereka di dalam kandungan. Ketika mereka lahir, saya membiasakan membacakan buku juga. Mendongeng bahkan membacakan buku hingga mereka mulai protes tidak ingin lagi dibacakan kecuali sesekali saja.
Prosesnya panjang. Ada aturan yang harus ditaati.
Ingin melihat televisi, harus membaca Al Quran terlebih dahulu. Ingin bermain game di komputer, mereka harus membaca beberapa halaman buku bacaan mereka dan setelah itu mereka menulis di blog mereka.
Untuk proses menulis agak lebih sulit ketimbang kebiasaan membaca.
Awalnya mereka menulis di buku harian yang masing-masing saya belikan satu buku harian. Si Sulung banyak mengisinya dengan gambar, si Bungsu banyak mengisinya dengan pengalaman sehari-hari. Meningkat menulis untuk blog, karena saya ingin mereka memiliki sensasi lain. Melihat tulisan mereka dengan warna dan gambar pasti seru dan serasa tulisan itu sudah hadir di media.

kunyil udah gede

Menulis di blog ini juga menjadi ajang bagaimana mereka terbiasa menulis. Anak-anak tidak langsung bisa. Saya memandu bagaimana memasukkan gambar dan bagaimana mempublish tulisan yang baru mereka buat. Tapi, anak-anak menulis di blog ini seperti menulis di buku harian. Jadi mereka masih malu bila blog itu dibaca orang lain.
Menulis di blog, mengirim tulisan mereka ke media atau lomba, semata-mata bukan untuk membuat mereka menjadi penulis. Selain ingin tahu bisa tidak saya mengajar untuk mereka, seberapa efektif metode pengajaran saya untuk mereka dan berapa persen sih bakat saya menurun pada mereka?
Bapak saya bilang, kalau saya menulis karena bakat leluhur. Tapi kalau anak-anak karena pengajaran dari saya.

Namanya anak-anak, mereka juga harus nyaman dalam melakukan sesuatu, termasuk menulis.
Saya berusaha membuat anak-anak nyaman dalam menulis. Jadi jika saya sedang bekerja di depan komputer, lalu mereka bilang ingin menulis, maka itu artinya saya harus berhenti dan gantian dengan mereka. Ketika mereka ingin belajar mengetik 10 jari, saya harus siap memandunya.

Untuk si sulung yang lebih mahir menggambar, saya sering lemparkan ide. Alasannya karena dia suka bingung tentang ide yang akan ditulisnya, jadi harus diberi pancingan dulu. Misalnya musim bola ini dan melihat antusiasnya dia terhadap bola, akhirnya tadi saya bilang padanya. “Kamu coba menulis tentang kemenangan Jerman.”
Untuk si Bungsu yang mungkin karena perempuan, lebih mandiri juga lebih cepat matang ketimbang laki-laki malah lebih mudah. Kalau sudah di depan komputer dia akan bilang begini, “Ibu jangan ajarin aku dong. Aku udah bisa nulis sendiri.” Jadi tidak perlu ada lemparan ide dari saya, dia bisa cari ide sendiri.

Saya percaya satu titik bisa membuat garis dan satu garis bisa membuat gambar, demikian juga dalam pelajaran menulis.
Memulai mengajari hari ini, di tahun-tahun ke depan akan lebih mudah mereka melakukannya.
Dan jika diajarkan terus-menerus, maka semua akan masuk ke otak dan menjadi sesuatu yang otomatis untuk mereka. Mungkin sama seperti saya duduk di depan komputer, bisa langsung menjadi satu atau dua tulisan yang siap kirim ke media.
Alangkah indahnya jika apapun profesi mereka nanti, mereka bisa mencurahkan pengalamannya lewat bentuk tulisan. Dan orang lain saat membacanya mendapatkan pelajaran berharga juga ilmu.

Elang untuk Bunda

DSCF2571

Bagian Pertama

Matanya tajam. Seperti elang. Begitu biasanya Bunda selalu mengatakan pada setiap bintang sinetron yang matanya menukik tajam seperti itu. Lalu biasanya Bunda akan berlama-lama memandang bintang sinetron itu dan mengikuti setiap jalan ceritanya meskipun Bunda selalu saja menggeleng setiap kali ditanya apa isi dari sinetron itu.
Matanya seperti elang. Meskipun sedang selalu menunduk tapi Naira mengingat tatapan itu.
“Om Sentot, Na,” begitu yang Bunda katakan pada Naira. Mengisyaratkan agar Naira masuk ke ruang dalam dan tidak banyak bertanya lagi.
Om Sentot namanya.
Bertamu agak lama dan bicara panjang pada Bunda. Dua gelas kopi yang dibawa Bibik tuntas dihabiskan. Ditambah satu gelas es jeruk.
“Mungkin Om Sentot akan datang lagi. Dia sedang ada masalah,” ujar Bunda pada Naira. “Jangan bilang Ayah kamu soal Om Sentot, ya?”
Naira mengerinyit.
“Please…”
Naira mengangguk. Apa susahnya tutup mulut sama Ayah? Toh Ayah tidak banyak tanya selama ini.
**
“Bunda….”
Malam ini Naira tidak memergoki Bunda menonton sinetron. Entah kenapa Bunda berlama-lama memandang album foto milik Bunda yang biasanya tersimpan di dalam lemari pakaian di bagian paling bawah.
Bunda seperti terkejut.
“Bunda lihat apa?”
Wajah Bunda kemerahan.
Foto yang Bunda lihat adalah foto Bunda ketika kuliah dulu. Satu foto Bunda sedang berdua di depan air terjun. Laki-laki berambut panjang dengan mata…
“Itu bukan foto Ayah?”
Bunda cepat menutup album foto itu. “Na…,” tangan Bunda menyentuh pundak Naira. Bunda menghembuskan napasnya dengan menggelengkan kepalanya seperti sedang ingin membuang sesuatu. “Kalau Ayahmu pulang nanti…”
Ayah tugas ke luar kota. Sudah tiga bulan. Maklum Ayah seorang militer. Naira malah dengar kalau Ayah berencana untuk menetap di kota yang kata Ayah masih berkabut ketika maghrib menjelang. Naira akan bisa melihat pelangi di puncak gunung yang dekat dengan rumah dinas Ayah.
“Memangnya…”
Bunda menepuk pipi Naira. “Om Sentot itu sedang susah, Na. Istrinya kena kanker. Om lagi dapat musibah. Dikeluarkan dari pekerjaannya. Makanya Bunda ingin menolongnya.”
“Maksud Bunda…”
“Rumah kosong dekat tempat tinggal kita kan banyak. Bunda mau cari informasi mana yang akan dikontrakkan.”
“Terus…”
“Nanti mungkin akan Bunda bayar satu atau dua bulan biar Om Sentot sedikit tenang.”
“Istrinya juga akan tinggal di situ?”
“Istrinya nanti menyusul. Istrinya masih di rumah orang tuanya. Na mau kan menyimpan rahasia ini?”
Naira mengangguk.
Wajah Bunda kelihatan cemas sekali. Tapi Naira tidak tahu apa artinya.

**
Rumah kosong yang memang sengaja tidak ditinggali pemiliknya tapi dibeli hanya untuk investasi itu ternyata tidak ada. Naira sudah mencarinya. Bunda bahkan beberapa kali mengetuk pintu rumah tetangga yang rumahnya kosong itu untuk cari informasi siapa pemiliknya.
“Kalau tidak ketemu juga mungkin…”
“Mungkin kenapa?”
Mata Bunda tertuju pada satu ruko. Tidak besar. Tertulis di papan yang ditempel di depannya kalimat dikontrakkan disertai dengan nomor telpon yang dapat dihubungi.
“Siapa tahu ini akan jadi rezeki Om Sentot,” Bunda mengambil handphonenya.
Ruko itu tingkat tiga. Kalau Om Sentot tinggal dengan istrinya berarti…
“Ruko itu terlalu besar..,” ujar Naira. “Apa Om Sentot mau buka usaha juga?”
Bunda sepertinya tidak mendengar. Bunda sedang bicara. Bicara soal angka rupiah. Kedengarannya Bunda sedang menawar.
“Bisa dibayar setengah tahun dulu. Lumayan lah. Bunda pikir tabungan Bunda cukup untuk itu. Kalau kurang kamu bisa menambahinya, kan?”
Naira tidak mengerti. Jadi Bunda itu…
“Na..,” Bunda menghelus kepala Naira. “Kalau kita menolong orang yang kesusahan pasti akan ada gantinya.”
Naira ngerti. Umur Naira sudah enam belas jelang tujuh belas. Tapi pengertian Naira tidak sampai seperti itu.
“Na…, Bunda minta tolong…”
Ayah pasti kaget kalau mendengar itu. Atau Na cerita saja sama Ayah di telpon?
“Kasihan Om Sentot itu..,” pandangan mata Bunda menerawang.
Tapi Naira melihat sesuatu yang berbeda di mata Bunda. Jangan-jangan Bunda sedang jatuh cinta!
**
Bagian Dua

Uang tabungan itu Bunda bilang dulu untuk Naira masuk kuliah. Kata Bunda, selain ikut asuransi Bunda juga menabung untuk biaya mendadak kalau-kalau ada yang sakit atau mendapat musibah.
Na bilang ingin jadi dokter. Bunda bilang Bunda akan mengusahakannya dengan mengambil sebagian dari asuransi yang jatuh tempo nanti dan tabungan yang Bunda simpan sejak Naira di sekolah dasar.
Lalu kalau tabungan itu untuk menyewa sebuah ruko…
“Ayah…,” Naira menghubungi Ayah. Sudah malam. Mungkin Ayah sudah tidur.
“Kenapa, Na?”
Ayah tidak seramah seperti Ayah-ayah teman Na yang bukan militer. Kurang tahu kenapa. Bicara dengan Ayah seperti bicara dengan orang lain. Tidak bisa akrab. Bahkan kalau butuh uang pun Na harus menimbang-nimbang kalimat yang tepat untuk disampaikan pada Ayah.
Ayah keras. Ayahnya militer dan Ayah juga militer. Tapi Ayah tidak pernah main tangan. Ayah kalau marah hanya dengan pelototan mata dan suara yang keras sudah bikin Naira tidak berani macam-macam.
“Na…”
Naira harus bicara apa, ya?
“Di dekat tempat Ayah ada kampus yang pemandangan bagus. Dan ada fakultas kedokterannya juga, Na. Kalau kamu tidak bisa masuk negri kamu bisa masuk ke dokteran di sini. Ayah sudah perhitungkan biayanya. Uang tabungan kita pasti cukup. Coba kamu tanya Bunda kamu…”
Na diam.
Justru di situ masalahnya.
“Naira.., kenapa kamu diam?”
Naira bingung. Tidak bisa bicara di telpon.
“Minggu depan Ayah akan pulang. Ada surat-surat yang Ayah harus bereskan. Sepertinya Ayah pasti ditugaskan di sini sampai beberapa tahun. Dan mau tidak mau kamu serta Bunda kamu harus ikut ke sini.”
Duh…, Na harus bilang apa ini?
“Sudah, ya? Ada tamu di luar.”
Na menghembuskan napasnya. Kalau Ayah pulang…
**
“Bagaimana ini ya, Na? Bunda sudah janji sama Om Sentot. Bunda juga sudah bilang sama pemilik ruko itu untuk membayarnya lusa.”
Ruko itu seharga dua puluh juta setahun. Untuk setengah tahun akan menghabiskan dana 10 juga.
“Kenapa Bunda tidak cari kamar kost-kostan saja?”
“Kamu ini gimana sih, Na? Om Sentot itu dulu seorang manager. Masak mau tinggal di kost-kostan kayak anak kuliah yang tidak mampu.”
“Tapi Om Sentot memang tidak mampu kan, Bunda?”
“Na!”
Lho, kok Bunda bisa melotot seperti itu? Bunda marah?
Bunda langsung masuk kamar.
Bunda kok mendadak jadi aneh seperti itu?
**
“Seperti apa sih yang namanya Om Sentot itu?”
Matanya seperti elang. Arini juga suka dengan lelaki yang matanya seperti elang.
“Na…”
“Kamu mau bantu?”
“Bantu apa?”
“Bantu menyelidiki Om Sentot?”
Arini menganggukkan kepalanya. Cita-citanya memang sejak dulu jadi detektif.
**
Ketika Naira pulang ke rumah di sore hari, Naira melihat ada 3 gelas cangkir kopi di atas meja.
Bunda jarang menerima tamu sebelumnya.
“Tamu yang waktu itu juga minum kopi banyak,” kata Bibik memandangi Naira.
“Trus Bunda?”
“Bundanya Non ada di taman belakang. Lagi melamun.”
**
Begitu Naira ke halaman belakang, Naira melihat Bunda sedang memegang ATM.
“Bunda…”
“Satu atau dua juga mungkin Bunda harus ambil, Na. Om Sentot butuh uang sekali. Kalau ruko itu menurut kamu terlalu besar tapi kalau kita kasih dp satu atau dua juta mungkin tidak akan begitu mempengaruhi uang tabungan kita.”
“Bunda…”
“Kasihan Om Sentot, Na…”
“Bunda kenapa begitu menyayangi Om Sentot?”
Bunda kelihatan kaget dengan kalimat Naira. Lalu menggelengkan kepalanya.
“Na bukan anak kecil kan, Bunda?”
Bunda mengibaskan tangannya di udara. “Kamu belum cukup umur untuk tahu apa-apa, Na.”
**
Tapi Na sudah cukup umur. Na sudah besar. Na pernah merasakan jatuh cinta. Patah hati juga.
Bunda pasti sudah jatuh cinta. Bunda pasti sudah diperdaya.
Malam itu Na menelpon Ayah.
“Kenapa, Na?” tanya Ayah. Terbatuk.
“Ayah tidak pernah menelpon Bunda?”
Ayah tertawa. Entah kenapa kedengaran di telinga Na tawa itu aneh sekali.
“Ayah tidak kangen Bunda?”
“Kamu ini, Na,” ujar Ayah pada Na. “Kalau Bundamu ditelpon terus nanti bikin Ayah tidak bisa konsentrasi di sini.”
“Ayah tidak takut?”
“Takut apa? Ayah percaya sama Bunda kamu. Sangat percaya, Na.”
Na menarik napas panjang.
Kalau saja Na punya keberanian untuk bicara panjang lebar soal Om Sentot itu.
**

Bagian Tiga

Dua juta. DP untuk membayar uang muka ruko lantai tiga itu. Sisanya dua bulan lagi harus dibayar. Bunda mengambil dua juta di tabungan plus satu juta setengah yang kata Bunda untuk jaga-jaga kalau-kalau Om Sentot butuh sesuatu.
Bukan itu saja. Bunda juga memindahkan beberapa barang di rumah ke ruko itu. Termasuk kasur busa di depan televisi yang biasa Na pakai untuk tiduran kalau sedang menonton televisi.
“Nanti Bunda ganti asal kamu jangan lapor Ayah kamu.”
“Tapi kalau Ayah nanti tanya soal uang itu…”
“Bilang saja uang itu untuk investasi. Ayah kamu sudah setuju kok Bunda belajar usaha. Biar tidak kebanyakan bengong di rumah. Lagipula kamu sudah besar.”
Ini bukan Bunda yang Naira kenal. Ini bukan Bunda yang selama ini bisa menggeleng tegas dan tidak menerima kalau Na bohong sedikit saja.
“Bunda…”
“Kamu sudah besar, Na. Bunda masih cukup muda untuk berkarir lagi, kan? Bosan, Na…”
Naira memegang tangan Bunda erat sekali. Entah kenapa Na merasa akan kehilangan Bunda.
**
Arini menggelengkan kepalanya waktu Naira datangi ke rumah.
“Aku kena semprot Mama, Na. Kata Mama, aku masih terlalu kecil untuk ikut campur urusan rumah tangga orang lain.”
Sore itu gerimis. Tapi Na memaksakan diri untuk mendatangi rumah Arini di perumahan yang tak jauh dari perumahan tempat Na tinggal.
Mamanya Arini itu teman kuliah Mama dulu. Kadang-kadang Mama masih suka menelpon Mamanya Arini.
“Ya sudah…”
“Ya sudah kenapa?”
“Ya sudah aku gak bisa nolong kamu. Maaf ya, Na. Maaf sekali.”
Naira mengangguk. “Mama kamu kenal sama Om Sentot?”
Arini mengangguk. Kemudian menggeleng. “Kurang tahu, Na. Pokoknya waktu aku kasih tahu soal Om mata elang, Mama langsung geleng kepala. Kalau aku sampai nekad, liburan sekolah nanti batal acara jalan-jalan yang Mama janjikan.”
Na diam.
Om Sentot.
Apa Na harus bicara langsung dengannya.
**
Waktu Na sampai di rumah, ketika masuk ke ruang tamu, Na melihat Mama menyodorkan uang pada Om Sentot.
Bibik yang bilang di halaman kalau di ruang tamu ada tamu Om yang suka menghabiskan bergelas-gelas kopi.
“Bunda…”
Bunda seperti salah tingkah.
“Jadi ini yang namanya Naira?” Om itu bicara.
Matanya tajam. Seperti mata elang.
“Cantiknya sama seperti Bunda kamu.”
Na melihat wajah Bunda memerah.
“Kalau besar nanti…”
Na tidak mau mendengar. Na harus bicara.
**
“Om…,” ketika Bunda sudah berada di dalam kamar dan Om itu pamit pulang, Na mengikuti.
“Ada apa Naira?”
Na bukan anak kecil lagi. Mata Om itu seperti mata Om om yang suka menggoda teman-teman Naira.
“Bunda bukan untuk dipermainkan, kan?”
“Maksud kamu?” tangannya terulur mengucek rambut Naira.
Naira menepiskannya. “Bunda masih punya Ayah. Kalau Om sampai macam-macam sama Bunda, Na bisa lapor sama Ayah.”
Om itu tertawa.
“Om…”
“Bundamu bukan anak kecil seperti kamu, Na. Bunda kamu tahu siapa cinta sejatinya….Ayo, sudah mau hujan…”
Apa kata Om tadi?
**
Bagian Empat

“Anaknya empat, Na. Istrinya kasihan sekali.”
Pagi itu Arini mengejar Na ketika langkah Na baru saja memasuki pintu gerbang sekolah.
“Anaknya empat, Na,” nafas Arini kelihatan terengah-engah.
“Maksud kamu…”
“Om Sentot. Kemarin itu tanpa sengaja Mama cerita. Mama bilang dulunya sih waktu kuliah Om Sentot itu pernah dekat sama Bunda kamu. Dia itu kan play boy. Mama juga dulu sempat naksir kok. Tapi terus unda kamu nikah lebih dulu terus…”
“Kamu tahu rumahnya?”
“Kata Mama sih…”
“Atau Mama kamu kenal sama istrinya?”
“Mama bilang…”
“Please…”
“Rumahnya….”
**
Rumahnya tak begitu jauh dari rumah Na. Tidak begitu juga dekat. Ada di luar lingkungan perumahan. Di sebuah perkampungan.
“Istrinya itu pintar bikin kue. Mama suka pesan kue di sana,” bisik Arini sepanjang perjalanan mereka menuju rumah itu. “Istrinya cantik kok. Kata Mama dulu juga banyak yang naksir. Pintar. Om Sentotnya memang suka begitu.”
Naira membayangkan. Apakah secantik Bunda. Apakah…
“Anaknya empat, Na. Masih kecil. Jadi waktu itu Bunda kamu lagi main ke tempatku. Terus ada Om Sentot yang mengantarkan kue ke rumah. Sejak itu…”
Naira tidak ingin membayangkan.
“Ayah kamu kalau tahu bagaimana?”
Naira juga tidak berani membayangkan.
**
Istrinya cantik. Rapi pakaiannya. Naira tadinya berpikir kalau istrinya yang pintar bikin kue itu akan menyambutnya dengan daster kumal seperti yang suka dipakai banyak Ibu-ibu tetangga Na.
“Arini mau pesan apa lagi ke sini?” tanya tante itu pada Arini.
Arini kelihatan bingung. “Na mau kenal sama Tante,” kata Arini akhirnya.
Na bingung. Harus bilang apa? Masak sih Na harus bilang kalau ia datang ke sini hanya karena ingin menyelidiki.
“Tante bisa bikin brownies?” tanya Na akhirnya. Bunda suka sekali kue itu.
Tante itu mengangguk. “Ayo masuk. Duduk di teras dulu. Tante catat kue pesanannya dan alamat rumah kamu. Biar nanti diantar kalau sudah jadi. Untuk kapan…”
Tante itu masuk ke dalam rumah. Mungkin mengambil catatan.
Betul. Tidak lama kemudian Tante itu datang dengan membawa kertas catatan. “Brownies untuk siapa?”
“Bunda,” ujar Na.
“Bunda kamu mau ulang tahun juga?”
“Bundanya Na itu teman kuliah Mama, Tante,” Arini yang bicara.
Mata Tante itu bulat. Bulu matanya lentik. Ih, Tante itu cantik sekali. Kenapa Om Sentot masih saja menggoda Bunda?
“Siapa Bunda kamu?”
“Pelangi,” desis Na.
Tante itu mengangguk. “Tante pernah dengar nama itu. Oh ya, kamu tulis alamat dan nomor telpon kamu serta apa yang kamu pesan, ya? Anak Tante yang kecil lagi di kamar mandi. Tante sebentar lihat dia sedang apa, ya?”
Na mengangguk.
Mata Tante itu tiba-tiba memerah.
Jangan-jangan karena Na tadi menyebutkan nama Mamanya?
**
“Jangan bilang-bilang sama Mama kamu kalau tadi kamu antar aku ke sini , ya?” ujar Naira pada Arini ketika mereka sudah ke luar rumah.
Arini mengangguk. “Mama juga pasti marah kalau tahu aku antar kamu ke rumah Tante Sinta.”
“Makasih,” ujar Naira sebelum ia berpisah.
**
“Tadi ada tamu lagi, Non,” lapor Bibik waktu Naira datang. “Ibu lagi melamun di ruang tamu.”
Bunda memang sedang melamun. Begitu masuknya ke dalam dunia lamunan sampai Bunda tidak mendengar langkah kaki Na. Na sampai harus menepuk bahu Bunda.
“Na…”
“Bunda tahu..,” Naira duduk di hadapan Bunda. “Ada orang yang bisa bikin kue enak sekali. Brownies.”
“Oh ya?”
Na mengangguk. “Na tadi pesan. Coba pesan ke sana. Mau Na sih kalau nanti ulang tahun, brownies itu mau Na bawa ke sekolah. Kalau menurut Bunda brownies itu enak lho.”
“Om Sentot juga bisa bikin brownies enak sekali, Na.”
“Tapi ini, Bunda…”
“Dulu Bunda pernah…,” Bunda tiba-tiba diam. Lalu menggeleng. Memandang pada Naira. “Mungkin lain kali Bunda harus belajar membuat brownies biar kamu tidak perlu pesan.”
“Tadinya aku kira yang bikin brownies itu Ibu-ibu pakai daster. Habis, anaknya empat, Bunda. Biasanya begitu, kan? Cuma Bunda saja yang di rumah selalu rapih.” Na mencoba memuji.
“Trus…”
“Kapan-kapan Na ajak ke sana ya, Bunda,” Naira berdiri dari duduknya.
Kapan-kapan, Na akan bikin mata Bunda terbuka lebar sehingga tidak terbius oleh Om Sentot lagi.
Bagian Lima

Brownies itu sudah jadi. Naira memesan satu brownies saja. Spesial dengan tambahan cream.
Tante itu sendiri yang mengantarnya. Bibik yang mengetuk pintu kamar dan bilang ada yang menunggu di luar.
“Tante…”
Brownies itu dibungkus dengan kardus warna merah hati.
“Tante sengaja bikin yang sangat spesial untuk kamu.”
“Aku kan…”
“Sambil membuat adonan kue ini, Tante mendengarkan lagu sedih. Entah, seperti terbawa perasaan. Brownies ini brownies pertama yang Tante buat dengan perasaan sedih.”
“Aku ambil dompet dulu..”
Tante Sinta menggeleng. Menepuk pipi Naira. “Ini hadiah untuk anak manis seperti kamu. Tante yakin kamu datang dan memesan untuk suatu hal. Dan hal itu cuma kamu yang tahu. Tante hanya bisa menebaknya. Tante permisi dulu.”
Naira tidak tahu harus bicara apa?
Apa Tante mengerti apa yang dilakukan suaminya dan Bunda? Apa Tante itu merasa?
**
“Bunda…,” Naira langsung menuju kamar Bunda.
Pintu kamar Bunda terbuka. Bunda sedang berdiri di depan jendela dengan tirai yang terbuka menghadap halaman depan.
Pasti Bunda tahu kedatangan Tante Sinta. Pasti Bunda tahu.
“Bunda…”
“Na ingin tahu apa sebenarnya?” tanya Bunda tapi tidak memandang pada Naira.
“Memang ada apa sebenarnya?”
Bunda menghampiri Naira. Menepuk pipinya. “Banyak sekali yang kamu tidak tahu sebenarnya.”
“Seperti apa?”
Bunda diam.
“Bunda…”
“Perasaan Bunda….”
“Bunda jatuh cinta dengan Om Sentot. Om Sentot sudah punya anak istri. Istrinya bahkan harus menghidupi empat anaknya dengan menerima pesanan kue. Apa Bunda tega?”
“Na, bukan itu masalahnya…”
“Bunda jatuh cinta, kan?”
Bunda diam. “Kamu tidak akan bisa mengerti, Na,” ujar Bunda melangkah meninggalkan Naira. Mungkin Naira memang tidak akan bisa mengerti.
**
Tapi Na akan menuntaskan rasa penasarannya.
“Om Sentot yang mana?” Tante Jasmine yang bertanya ketika Naira mendatangi rumahnya. Adik Bunda itu sedang asyik di depan laptopnya.
“Yang punya mata seperti elang…”
Kening Tante Jasmine berkerut. “Yang mana sih, Na?”
“Katanya teman kuliah Bunda. Istrinya itu teman kuliah Bunda juga.”
“Masak sih?”
“Tante tidak tahu?”
Tante Jasmine kembali sibuk mengetik pada laptopnya. “Tante tahu lho semua teman lelaki Bunda kamu. Yang terakhir dipilih ya Ayah kamu itu. Atas persetujuan Kakek sama Nenek kamu.”
“Yang Om Sentot?”
“Om Senton yang mana sih, Na?”
“Orangnya tinggi, putih, ganteng. Matanya tajam seperti elang. Seperti mata bintang sinetron kesukaan Bunda.”
Tante Jasmine mengibaskan tangannya di udara. “Tante tidak tahu tuh, Na.”
“Masak, sih?”
“Masak juga sih kamu tidak percaya sama Tante kamu?”
Naira diam.
Masak sih Tante tidak tahu?
Atau mungkin Naira harus kembali bertanya pada Mamanya Arini?
**
“Maaf ya, Naira. Tante dulu memang berteman dekat dengan Bunda kamu. Tapi masalah pribadi yang terjadi setelah menikah, Tante tidak mau ikut campur,” ujar Mamanya Arini ketika Naira datangi di sore harinya.
“Masalahnya Tante…”
Mamanya Arini menggeleng. “Bundamu bukan anak kecil lagi, Na.”
“Kalau orang dewasa tidak boleh salah, Tante?”
“Maksud kamu?”
“Kalau Bunda salah sebagai orang dewasa apa tidak boleh diberi tahu?”
Mamanya Arini diam.
Cukup lama.
“Kalau Om Sentot sudah membuat Bunda jadi lupa sama Ayah, apa tidak boleh diberi tahu?”
Hening.
Mamanya Arini beberapa kali kedengaran menarik napas panjang.
“Tante…”
“Mereka dulu dekat. Itu saja yang Tante tahu. Lalu setelah Bunda kamu menikah dengan Ayah kamu, Om Sentot juga menikah. Dengan Tante Sinta. Setelah itu Tante tidak tahu lagi.”
“Tante tidak bohong?”
Mamanya Arini menggeleng. “Sampai Tante dengar dari Arini kalau kamu ingin tahu banyak soal Om Sentot.”
Mamanya Arini kedengaran serius.
Naira menganggukkan kepalanya.
“Kamu anak baik. Bunda kamu pasti suatu saat akan menjelaskan. Sayangnya Tante tidak mengerti. Karena Bunda kamu jarang menceritakan perasaannya pada Tante.”
Bunda memang begitu.
**

Bagian Enam

Sudah berapa lamakah?
Naira memandangi kalender di dalam kamarnya. Mencoba menghitung sudah berapa lama Bunda dekat dengan Om Sentot. Sudah berapa lama Ayah tidak menelpon ke rumah.
Ruko itu tidak jadi disewa. Kata Bunda uang muka yang Bunda berikan sudah dikembalikan dan dipotong sepuluh persen. Tapi Naira tidak mau menyelidiki semakin dalam karena takut Bunda tersinggung.
Tapi sore ini Bunda mengajak Naira bicara.
Di halaman belakang.
“Masih cantikkah Bunda, Na?”
Usia Bunda belum lagi empat puluh tahun. Bunda menikah waktu skripsi. Na sendiri belum genap tujuh belas tahun.
“Na…”
Bunda masih cantik. Masih segar. Tidak ada kantung mata di wajah Bunda. Apalagi keriput. Bunda rajin sekali merawat tubuhnya. Meski sering ditinggal tugas Ayah ke luar kota.
“Memangnya kenapa, Bunda?”
Bunda menarik napas panjang.
“Ayah pasti akan selalu bilang kalau Bunda cantik.”
Bunda tersenyum.
“Om Sentot itu tidak pernah datang lagi, kan?” tanya Naira. Bibik sudah seminggu ini tidak pernah cerita soal Om Sentot dan soal kopi yang harus Bibik buatkan.
“Kamu ini…”
Naira juga tidak pernah melihat Bunda memelototi bintang sinetron yang matanya seperti elang.
“Tapi suatu saat kamu harus tahu, Na.”
“Tahu apa?” tanya Naira penasaran.
“Mungkin bukan Bunda yang harus cerita. Mungkin Ayahmu…”
Kenapa harus Ayah?
Na melihat pada kalender lagi.
Kenapa Ayah lama tidak menelponnya?
**
“Sibukkah Ayah?” tanya Naira pada Ayah ketika Na menelpon dan Ayah yang mengangkat telponnya.
“Biasa, Na…”
“Kenapa Ayah tidak pernah datang?”
Hening.
“Kemarin Ayah coba-coba ambil formulir kuliah kamu di sini, Na. Jurusan kedokteran yang kamu mau, kan?”
“Ayah…”
“Minggu depan Ayah akan datang, Na. Ayah harus banyak bicara sama kamu.”
“Sama Bunda?”
Hening.
“Ingatkan Ayah ya, Na?”
Naira mengangguk. Ingatkan Ayah? Untuk apa? Apa Ayah sudah lupa kemana Ayah harus pulang?
**
Bunda menanggapinya diam saja.
“Ayah mau pulang. Bunda tidak suka?”
Bunda entah sedang menulis apa. Seperti buku harian. Na tidak mau menggangunya.
“Na..,” ujar Bunda begitu tahu Na akan melangkah ke luar kamar. “Kalau Ayahmu datang, Bunda akan beri tahu sesuatu.”
“Rahasia?”
Bunda mengangguk.
**
Malamnya kamar Naira diketuk. Suara Bunda di luar pintu. Mata Bunda bengkak. Mungkin habis menangis.
“Om Sentot masuk rumah sakit, Na…,” ujar Bunda pada Naira. Memeluk Naira. “Motornya tertabrak mobil di jalan raya.”
Naira tidak tahu harus bilang apa.
“Temani Bunda malam ini ke rumah sakit.”
Naira tidak mungkin menolak. Bunda kelihatannya sangat sedih sekali.
**
Di rumah sakit Naira bertemu dengan Tante Sinta. Tante Sinta sedang duduk di kursi kosong di depan ruang UGD.
Naira menghampiri. Bunda memilih duduk di bangku lain.
“Na datang bersama Bunda,” ujar Naira menyalami Tante Sinta.
Tante Sinta mengangguk. “Tante tadi menghubungi Mamanya Arini. Mungkin Mamanya Arini yang menelpon Bunda kamu. Cantik sekali Bunda kamu. Di masa kuliah dulu Tante pernah melihatnya beberapa kali.”
Naira menunduk.
Tante Sinta juga tetap kelihatan cantik meskipun rambutnya dikucir seadanya.
“Om sedang Tante suruh mengirimkan brownies pesanan. Mungkin sedang melamun. Mungkin kurang hati-hati…”
Bunda di bangku lain menunduk.
“Ayahmu tahu kalau Bunda kamu ke sini?”
Tante Sinta pasti ingin tahu.
“Ayah sedang tugas ke luar kota. Minggu depan datang. Bunda minta antar ke sini karena ingin mendengar khabarnya langsung.”
Tante Sinta mengangguk. “Biar Tante yang jaga di sini. Ajak Bunda kamu pulang. Bilang sama Bunda kamu kalau Om Sentot masih punya istri yang bisa menjaganya dengan baik.”
Meski diucapkan dengan nada yang manis sekali, tapi Na tahu artinya. Naira berdiri dari duduknya dan menghampiri Bunda.
“Kita pulang saja, Bunda,” ujar Naira pada Bunda.
**
Bagian Tujuh

Bunda sakit. Panas. Naira sendiri tidak mengerti. Sejak pulang dari rumah sakit badan Bunda menjadi panas.
Naira menghubungi Ayah dan Ayah bilang akan datang.
Bunda tidak mau dibawa ke dokter. Minum obatpun Bunda tidak mau.
Sampai akhirnya Naira memanggil Tante Jasmine ke rumah.
“Na..,” Tante Jasmine bicara setelah ke luar dari kamar Bunda. “Kamu tahu kan kalau Bunda sama Tante tidak begitu dekat. Segala rahasia Bunda yang tahu hanya almarhumah Nenek kamu.”
“Trus?”
Tante Jasmine geleng-geleng kepala. “Jadi sakitnya gara-gara apa?”
“Om Sentot di rumah sakit…”
Tante Jasmine menggelengkan kepalanya lagi. “Tante tidak ngerti, Na. Om itu siapa…”
“Matanya seperti elang.”
“Elang apa?”
“Fotonya ada…”
“Kalau Bunda kamu masih panas juga, telpon Tante. Malam ini Tante akan menginap di sini. Tante pergi sebentar, ya?”
Naira mengangguk.
**
“Yang Tante tahu, cinta Bundamu begitu besar pada Om Sentot, Naira. Tapi sudah Bunda katakan kalau Om Sentot baik-baik saja dan sudah ada istrinya yang merawatnya.”
Naira menganggukkan kepalanya pada Mamanya Arini.
“Selebihnya Tante tidak tahu apa-apa. Bundamu kalau punya rahasia disimpan sendiri.”
Bunda memang begitu.
“Istrinya Om Sentot sempat tanya soal Bunda sama Tante. Tapi Tante harus bilang apa? Tante tidak tahu apa-apa selain bahwa mereka pernah dekat. Itu saja. Lagipula kalau sudah sama-sama menikah dan punya anak, untuk apa mengurusi masa lalu, kan?”
Mamanya Arini benar.
Mungkin Naira harus menelpon Ayah dan minta kedatangannya dipercepat.
**
“Bunda sakit hanya demi Om Sentot?” tanya Naira di dalam kamar Bunda.
Bunda memandangi Naira.
“Bunda mengorbankan badan Bunda…”
Wajah Bunda pucat. Matanya memandangi Naira.
“Om yang bohong soal istrinya yang dibilangnya sakit kanker. Om yang…”
Bunda menggeleng.
“Na sudah menelpon Ayah untuk datang. Biar Na nanti cerita semuanya sama Ayah.”
Bunda diam.
Menunduk.
“Na tidak bisa berbohong terus sama Ayah…”
**
“Tidak bisa, Naira..,” malam sekali Ayah menelpon. Na pikir telpon penting ketika pada jam satu malam telpon genggamnya berbunyi. “Atasan Ayah meminta Ayah untuk tugas ke desa selama beberapa hari. Mungkin setelah itu Ayah akan bicarakan lagi soal pulangnya Ayah.”
“Ayah..,” Naira hampir menangis sebenarnya. “Apa sudah ada pengganti Bunda di sana?”
“Na! Ayah ini militer. Na tahu sejak dulu seperti apa tugas Ayah!”
Na diam.
“Kalau Ayah sudah selesai…”
Naira mematikan telpon genggamnya.
Na kecewa sekali dengan Ayah kali ini.
**
Bagian Delapan

“Bertanya seekor anak angsa pada pada induk bebek, apa aku anakmu?” Bunda menutup buku ceritanya. Memandang pada Naira.
Sore itu Bunda ke luar kamar. Tubuhnya sudah cukup sehat katanya. Bunda bahkan sudah makan bubur yang dibelikan Bibik di warung bubur kesukaan Bunda.
Na ingat, kecil dulu Bunda sering sekali membacakan buku cerita itu. Buku cerita itu sampai sekarang masih Naira simpan dan pelihara dengan baik.
“Bunda sudah melupakan Om Sentot?” tanya Naira hati-hati.
Bunda memandangi Naira.
“Tante Sinta bilang masih di rumah sakit. Na sempat sms tadi dan minta maaf kalau-kalau Bunda selama ini sudah bikin hati Tante Sinta jadi sakit.”
Bundanya Naira menunduk.
“Bunda sudah punya Ayah. Kenapa masih menginginkan Om Sentot?”
Hening.
Bundanya Naira menarik napas panjang.
“Anaknya Om Sentot ada empat, Bunda. Istrinya Om Sentot susah payah mengurus anak dan ikut mencari uang. Bunda sudah punya Ayah yang sayang sekali sama Bunda.”
Hening lagi.
Angin bertiup cukup kencang.
Naira merapatkan sweater yang Bunda kenakan.
“Na tidak ingin Bunda mengambil kebahagiaan orang lain.”
Bunda menggelengkan kepalanya. Memeluk Naira.
Bunda menangis.
Naira biarkan Bunda menangis di bahunya cukup lama.
**
“Kamu tahu, Na?” tanya Arini waktu mereka bertemu di sekolah. “Kemarin aku menjenguk Tante Sinta di rumah sakit lho.”
Sebenarnya Naira sudah tidak ingin mendengar cerita soal Tante Sinta dan Om Sentot lagi.
“Om Sentot sudah sembuh. Sudah bisa diajak bicara. Kemarin itu katanya melamun waktu naik motor. Oh ya, katanya dia mau ngomong sesuatu sama kamu. Rahasia. Tante Sinta dan Mamaku mungkin gak tahu waktu Om Sentot bicara begitu sama aku.”
Mungkin Om Sentot mau minta maaf. Na sudah memaafkan sepanjang Om Sentot tidak mengganggu Bunda lagi.
“Kamu mau datang ke rumahnya atau…”
Naira menggeleng. Tegas.
**
Ayah belum juga datang. Mungkin Ayah benar-benar sibuk. Setelah waktu itu telpon dari Ayah Naira tutup beberapa hari kemudian Ayah mengirim sms pada Naira. Kata Ayah, Ayah sudah mempersiapkan kepindahan Naira dan Bunda di tempat yang sama dengan Ayah.
Ayah bahkan sudah menelpon Bunda untuk menjual rumah yang mereka tempati untuk dibelikan rumah baru di tempat Ayah tugas. Ayah janji dalam sepuluh tahun ke depan mungkin mereka tidak akan pindah-pindah rumah lagi.
Tapi Bunda mengajak Naira bicara di suatu sore.
“Ini cerita panjang, Naira. Panjang sekali…”
Wajah Bunda kelihatan serius. Bunda memberikan sesuatu pada Naira.
Naira membukanya.
Beberapa lembar foto Naira ketika bayi. Masih bagus. Dan satu foto bayi yang lain yang sudah menguning.
“Foto Bunda?”
Bunda menggeleng.
Foto bayi yang sudah lama itu mirip sekali dengan foto Naira ketika bayi. Hanya di bagian mata saja berbeda dan jenis kelaminnya.
“Foto Ayah?”
Bunda menarik napas panjang.
“Bunda…”
“Sebelum pindah dari sini Bunda ingin menuntaskan segalanya sehingga ketika di tempat yang baru tidak ada lagi beban yang Bunda tanggung.”
“Maksud Bunda…”
Bunda menarik napas panjang lagi. “Ayahmu laki-laki yang hebat, Na.”
Ayah memang hebat. Ayah tidak pernah punya wanita lain. Tidak juga dekat dengan wanita lain seperti Bunda dekat dengan Om Sentot.
“Tapi elang itu datang lebih dulu, Na..”
Naira tidak mengerti.
Bunda kali ini menghapus air matanya yang mulai turun. “Elang itu, Na…”
Mungkin Om Sentot maksud Bunda.
“Kami sudah saling cinta. Begitu cintanya Bunda sama dia. Sampai Bunda khilap dan melakukan apa yang seharusnya belum boleh Bunda lakukan.”
Na mengerutkan keningnya.
“Nenek yang tahu semuanya. Lalu Nenek meminta anak kenalannya untuk menikah dengan Bunda karena tahu anak kenalannya itu mencintai Bunda teramat sangat.”
Na masih belum mengerti.
“Bunda tahu Bunda hamil, Na. Bunda dan Nenek kamu yang tahu. Ayahmu mungkin juga mengerti tapi sampai detik ini Ayahmu tidak banyak bicara. Mungkin menyimpannya dalam hati saja.”
“Maksud Bunda…”
“Kalaupun Bunda dekat dengan Om Sentot…”
“Om Sentot itu…”
Bunda menunduk. “Om itu Ayahmu, Nak. Ini rahasia yang Bunda simpan berdua Nenekmu. Tante Jasmine pun tak pernah tahu.”
Dunia Naira seakan runtuh saat itu.
**
Epilog

“Kalau suatu saat kamu menemukan laki-laki bermata elang jika kamu akan menikah kelak, Na…”
Naira dan Bunda berdiri di depan rumah dinas Ayah. Baru seminggu yang lalu mereka pindah.
Langit cerah.
Naira merangkul Bunda. “Apa Om Sentot tahu?”
Bunda mengangguk. “Dia tahu. Bunda yang memberitahu kemarin itu. Mungkin karena pemberitahuan Bunda itu dia kecelakaan karena memikirkannya.”
“Trus?”
Bunda merangkul bahu Naira. “Maafkan Bunda ya, Na? Tapi kemarin itu memang Bunda tidak bisa memungkiri bahwa Bunda masih punya cinta yang besar pada Om Sentot. Sampai Bunda lupa kalau Om sudah punya anak dan istri. Untung kamu mengingatkan dan membuat Bunda akhirnya mengatakan yang sebenarnya tentang kamu pada Om Sentot.”
Naira mengangguk.
Suatu saat. Entah kapan. Na ingin sekali bicara berdua dengan Om Sentot. Na ingin bicara sebagai seorang anak kepada Ayah kandungnya.
Sekarang ini Na hanya mau bersyukur karena sudah memiliki Ayah yang baik meskipun bukan Ayah kandungnya.

Mengenang Nola

DSCF2573

George selalu mengenang Nola dengan kenangan yang sangat menjengkelkan. George selalu mengenang Nola bahkan dalam setiap embusan napasnya, setiap cerita yang ke luar dari bibirnya. Bahkan setiap ukiran masa depannya masih saja berisi kenangan tentang Nola.
“Kamu cemburu?”
Aku mengangguk. Pasti. Mengukir pasir di bawah kakiku dengan gambar kuburan.
“Kamu benar-benar cemburu?”
Aku mengangguk lagi.
George menghembuskan napasnya.
Untuk kesekian kalinya masalah ini tidak selesai. George memilih berdiri dari duduknya. Tidak sadar menginjak gambar yang baru aku buat. Lalu melenggang pergi.
Satu daun luruh ke tanah.
Kemarau ini sama seperti dengan kemarau di hatiku. Begitu panjang.
**
“Kok bisa?”
Aku menganggukkan kepalanya. Ini pertanyaan yang sama yang keluar dari mulut Janet.
“Kok bisa, ya?”
Aku menunduk.
Kemarin George memberi cincin. Mengganti cincin pertunangan kami dengan cincin yang baru ditemukannya. Begitu katanya.
“Cincin berinisial N…”
Aku menunduk. Cincin pertunangan kami akan George simpan sampai kelak George dan aku akhirnya resmi menikah. Untuk mengikat hatiku, ia memberikan cincin dengan inisial N tersebut.
“Kamu tidak sedang depresi, kan?” tanya Janet.
Aku menggeleng tegas.
Meski hatiku ragu dengan arti gelenganku sendiri.
**
“Pagi itu Nola merajut jaket untukku…”
Nasi goreng di hadapanku tidak membuat aku berselera.
“Jaket berwarna abu-abu.”
Itu warna kesukaannya yang selalu aku katakan bahwa warna muram itu hanya akan membuat masa depannya menjadi muram.
“Kenapa kamu tidak pergi ke makamnya?” tanyaku pelan.
“Aku?” kening George berkerut.
Aku mengangguk. Sebuah makam tentu saja. Karena isi kenangan George adalah tentang kenangannya bersama Nola. Dan aku yakin betul bila seorang Nola itu tak lagi memiliki sosok nyata.
George menggeleng.
“Pagi itu Nola…”
Aku berdiri menepuk lengan George. Seorang teman mengatakan bahwa di lengan bagian kanan George mematri nama Nola dan namanya. Dan sayangnya aku belum pernah melihatnya. Entah itu banyolan temanku atau memang karena George ingin menyembunyikannya rapat dariku.
“Kamu cemburu?”
Aku meringis. Mungkin cukup itu untuk menjadi jawaban pada George seperti apa bentuk perasaanku saat ini.
**
Tapi semakin lama George memang semakin tak terkendali dalam mengenang Nola.
Ia datang padaku di malam gerimis. Lalu menarik tanganku.
“Nola kesepian. Ia ingin aku datang memberikan bunga untuknya. Semalam dua kali ia datang ke mimpiku.”
Ini bukan siang hari. Bukan pula malam yang cerah.
Aku menggeleng tegas.
“Seorang calon istri seharusnya…”
Seorang calon istri harusnya tidak boleh dibandingkan dengan perempuan lain. Harusnya seorang istri menempati singgasana mulia di hati. Harusnya…
“Untuk yang terakhir kali sebelum kita akhirnya menikah.”
Malam itu gerimis.
Kami berboncengan motor. Dan aku menunggu di tempat sunyi, di bawah pohon beringin. Menunggu George kembali dari makam. Sebab aku tidak ingin mendampinginya.
**
“Dan kamu tidak mengenang siapa-siapa?” Sari memandangiku. “Dan kamu cuma diam saja diperlakukan seperti itu?”
Sari selalu bicara apa adanya. Ia pemberontak. Tapi ia selalu berkata benar.
“Satu dari sekian banyak perempuan tolol…”
Bicara Sari selalu ceplas-ceplos. Ia bicara seperti itu ketika tahu aku diam mengetahui Rudi berselingkuh. Bahkan ia menarik tanganku dan mengajakku menemui Rudi dan selingkuhannya yang sedang berdua di rumah makan. Ia juga bahkan yang tidak terima ketika Rudi marah dan hampir menampar pipinya.
Ketika aku berpindah hati pada George, Sari tidak banyak bicara. Hanya ia sering mengirimkan bunga kamboja padaku. Ia tidak banyak bicara ketika aku tanya apa maksudnya.
“Mau seperti itu sampai kapan?”
Aku diam.
Aku tidak tahu.
“Sampai kapanpun kamu akan tetap seperti ini. Mengerti, Cici Sayang?”
Sari menepuk pipiku. Agak keras seperti ingin menyadarkanku.
Tapi Sari tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi.
**
“Apa kamu pantas untuk diperlakukan seperti itu, Nak?”
Bunda tahu aku resah. Bunda tahu suaraku menyimpan banyak masalah. Di seberang sana aku tahu Bunda menyimpan duka yang sama.
“Kamu anak gadis Bunda yang terhormat.”
Aku diam.
Cerita itu sampai ke telinga Bunda juga. Mungkin Sari atau mungkin anak lain yang bersimpati dengan Bunda.
“Kamu tidak pantas kan, Nak?”
Aku diam.
Bunda pasti sedih. Aku akan bernasib sama seperti Bunda. Diperlakukan tidak baik. Sebagaimana Ayah memperlakukan Bunda. Sebagaimana Ayah selalu menjadikan Bunda bayang-bayang dari istri pertamanya. Sebagaimana Ayah selalu saja meminta Bunda memasak seperti masakan almarhumah istri pertamanya, memakai baju dengan gaya seperti beliau bahkan menghibahkan baju-baju almarhumah untuk Bunda pakai setiap kali menyambut Ayah pulang kerja.
“Cinta bukan untuk dilukai, Nak…”
Cinta memang bukan untuk dilukai. Tapi sayangnya Bunda tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi.
**
“Dua tahun…”
Aku mengangguk. Dua tahun sudah Nola berpulang. Setahun setelah itu George memintaku jadi pengganti Nola.
“Ia masih ada di hatiku…”
Sore itu gerimis.
Kami makan di kafe tempat biasanya George dan Nola menghabiskan malam berdua. Sambil memandangi lalu lalang kendaraan. Dan sawah terbentang di sisi lainnya.
“Kamu terluka?”
Aku menggigit lele goreng yang renyah pelan sekali. Aku terluka? Jelas, aku terluka. Bahkan ketika George melamarku resmi di hadapan orang tuaku untuk menjadikannya tunangannya pun aku sedang terluka.
“Tapi Nola jauh lebih terluka…”
Aku menunduk.
Ini masalah aku dan George yang tidak pernah diketahui semuanya. Tidak Sari, tidak Janet, tidak semua teman yang merasa aneh dengan hubungan kami tidak juga Bunda.
Dua tahun yang lalu, ketika angin menerbangkan daun-daun kering, George ada di dekatku. Kami kenal sudah cukup lama. Hanya sebatas teman.
Ketika itu kami sedang bicara berdua. Ketika itu aku sudah merasakan debar aneh di hatiku setiap kali dekat dengan George. Ketika itu keadaan begitu romantisnya. Ketika itu George menarik tanganku. Ketika itu George mengungkapkan perasaanya padaku yang katanya akan meninggalkan Nola pelan tapi pasti karena sudah tidak dimilikinya lagi perasaan cinta untuk Nola.
Dan tanpa kami sadar, ketika itu Nola melihat semuanya. Nola ada di dekat kami. Nola yang terluka berlari. George yang tersadar mengejarnya.
Dan putaran film seperti di dalam sinetron itupun terjadi. Sebuah motor yang melaju kencang dari seorang anak kecil yang baru belajar naik motor membuat tubuh Nola terpental.
Nola menghembuskan napas terakhirnya seketika.
“Nola sama-sama terluka karena kita.”
Aku mengangguk pelan.
Pelan sekali.
Entah sampai kapan kisah ini akan berakhir.
**

Kamulah Mendung dan Matahariku

DSCF2564

“Jhon pulang….
“Pulang sama Parni?”
“Iya. Parni yang bilang begitu. Anaknya sekarang sudah mau empat.”
Srintil sejenak menghentikan apa yang dilakukannya. Daun telinganya sedikit ditegakkan.
“Jhon bisa balik ke kampung ini kapan-kapan…”
“Hush…..”
Masih siang.
Angin bertiup cukup kencang. Pakaian yang berada di tali jemuran sebenarnya belum kering semuanya. Tapi Sritil mengambilnya untuk kemudian melipatnya.
“Anak itu bisa stress nanti dengarnya…”
Lamat-lamat ia masih mendengar suara itu. Lalu menghilang ketika ia akhirnya menolehkan kepalanya.
Angin masih saja bertiup kencang.
Srintil masuk ke dalam rumahnya.
**

Dahulu, dahulu Sekali…..
“Yang ini namanya Bebek……”
“Bukan! Namanya soang!”
“Idih, Bebek…,” jemari kekar itu mencubit pipi gempil Srintil. “Pipi ini namanya pipi tembem.
“Idih…., nanti Srintil bilang sama Mbok.”
“Mbok kamu kan lagi ke pasar. Pulangnya baru sore,” lagi pipi gembil Srintil dicubit.
“Mbok….,” suara lantang Srintil tiba-tiba berbunyi.
Sebuah kepala menegok ke dalam rumah.
“Kamu lagi pacaran sama anak kecil ya, Jhon?” terdengar suara lain.
Jhon tertawa. Srintil sudah kabur entah kemana.
**
“Pipi kamu merah-merah, Nduk.”
Srintil berdiri dekat Mboknya. Mengamati apa yang dilakukan. Seekor ayam yang hampir saja memakan makanan di piringnya yang ditaruh di tanah, nyaris kena tendangannya.
“Dicubit siapa?”
“Mas Jhon…,” ia berlari. Berputar-putar.
“O alah si Jhon gemblung.”
“Dibeliin permen juga sama Mas Jhon.”
Mbok menggeleng. Mengamati Srintil. “Tidak boleh lagi makan permen.”
“Permen coklat enak, Mbok.”
“Nanti gigimu sakit.”
“Kata Mas Jhon, tidak akan sakit.”
Sebuah gelengan terlihat lagi. “Ayo tidur. Sudah siang.”
“Mas Jhon mau ngajak main…”
Tak ada jawaban. Mbok mengangkat tubuh Srintil dan membawanya masuk ke dalam rumah lalu menguncinya.
**

“Ssst…., Mbokmu ada?”
Srintil kecil tahu siapa yang berbisik. Dari jendela yang ada di ruang depan yang terbuka tirainya ia melihat sosok kepala tersembul.
Srintil meringis. “Mbok lagi pergi. Pintunya dikunci dari luar,” tubuh kecilnya menyeret kursi dari rotan yang sebagian lilitan rotannya sudah keluar dari jalurnya. Kemudian naik ke atasnya.
“Mau permen?”
Srintil cengengesan. Deretan gigi hitamnya kelihatan jelas sekali.
“Kalau mau permen…,” tak ada lagi kelanjutan. Dari dalam terdengar suara memanggil Srintil.
Jhon langsung berlari.
Sebelumnya ia sempat menjawil pipi anak yang telah membohonginya.
**
“Kamu ini gimana, toh?”
Jhon bangun dari rebahannya. Matanya memandang ke arah ibunya yang tengah memandang ke arahnya. Kerjaanmu cuma duduk dan tidur. Setelah itu menggoda Srintil. Anak itu masih kecil. Nanti apa kata orang? Dikiranya kamu mau melakukan hal-hal yang jelek sama anak itu.
Di luar gelap. Tirai jendela yang seharusnya berwarna putih tapi karena begitu kotornya sudah berubah warna menjadi gelap itu berterbangan ditiup angin. Korek api yang Jhon nyalakan untuk menyulut rokoknya beberapa kali mati tertiup angin.
“Adik-adikmu sudah menikah semua. Kamu sendiri luntang-lantung tak karuan. Malu aku ini, Jhon.”
Jhon menyeringai. Tawa Srintil membuatnya ingin tertawa bila mengenangnya. Anak kecil itu menggemaskan. Entah kenapa ia lebih tertarik pada Srintil daripada anak-anak tetangga yang lain.
“Ibunya Parni kemarin tanya-tanya soal kamu.”
Jhon menghembuskan asap rokoknya. Mulutnya dimonyongkan hingga asap rokok yang ke luar dari mulutnya berbentuk bulatan. Setelah itu ditiupnya hingga bulatan itu terpecah di udara.
“Kamu kenal Parni, kan?”
“Hmmm.”
Di luar mulai hujan. Bau tanah.
“Ibunya Parni tanya-tanya soal kamu. Anak itu cukup rajin lho, Jhon. Dia penurut sejak dulu. Sayang Wawan adikmu itu lebih memilih gadis di perantauan. Padahal dulu Ibu sudah janji sama ibunya Parni.”
“Berjodoh sama Parni?” Jhon menghembuskan asap rokoknya lagi. Memonyongkan bibirnya lagi. Wajah Srintil terbayang-bayang. Ia jadi tertawa sendiri. Anak kecil itu selalu saja ia ingin cubit pipi dan seluruh tubuhnya yang gempal.
“Gimana? Anak itu hampir setiap hari lewat di sini. Kerja ikut orang. Konveksi di kampung sebelah. Kapan lagi dapat yang seperti itu.”
Hujan semakin deras. Jhon menarik kain sarungnya dan menyelimuti tubuhnya. Beberapa hari belakangan ini ia kurang enak badan.
“Ibunya bilang ada kerjaan di kampung sebelah. Kalau kamu mau kamu bisa ikut besok trus….”
“Trus menikah dengan Parni.” Jhon tertawa.
Ia ingat Parni yang kurus dan rambutnya seperti rambut jagung. Kecilnya dulu mereka sering berkelahi. Parni kurus yang paling berani melawan dia. Setiap anak perempuan yang dia goda pasti menangis. Tapi beda dengan Parni. Parni akan melawan dengan menendang kakinya.
Pernah ia mengejek rambut Parni seperti rambut orang-orangan sawah. Parni langsung menimpuknya dengan batu. Kena kepalanya. Bocor. Dan sejak itu dia tidak berani lagi mengatai-ngatai Parni seenaknya.
“Gimana? Umurmu sudah berapa, toh?”
Jhon mengerinyit. Memandang ibunya. Menghitung bamboo di bale-bale.
“Parni itu biar gemuk…”
Jhon terkikik. Parni yang kurus memang sudah berubah jadi gemuk sekarang setelah setahun menjadi TKW di Malaysia. Rambutnya yang tipis dan merah sudah berganti menjadi hitam dan cukup tebal. Memang ada satu yang tidak berubah, sikapnya masih saja sama seperti dulu. Berani berbantah-bantahan dengan Jhon bila mereka bertemu di mulut kampung dan mulut Jhon iseng memanggilnya dengan panggilan gendut.
“Kamu kenal Parni, kan?”
“Parni gendut,” Jhon seperti meralat. “Kalau jadi istrinya tidak perlu lagi beli kasur. Bukan begitu, Bu?” ia cengengesan. Suaranya bersaing dengan desir angin yang masih bertiup lumayan kencang.
“Kalau kamu mau, Ibu tinggal memanggil saudara-saudaramu yang lain untuk melamar. Siapa lagi yang mau denganmu, Jhon?” Pandangan mata tua itu menerawang. “Setelah itu pergi dari kampung ini. Buang sial. Seperti adik-adikmu yang lain. Biar Ibu yang di sini jaga kuburan Bapakmu.”
Hening.
Kali ini benar-benar hanya suara hujan dan angin.
Jhon melirik sarung yang dikenakannya. Lalu menariknya. Ia tahu ibu melihatnya tapi tidak menegurnya. Sudah biasa beliau mungkin menghadapi sikap anak-anaknya setiap bercerita tentang laki-laki yang disetiainya sampai mati itu.
“Parni itu sudah cukup umur…”
“Perawan tua,” Jhon cengegesan lagi. Ia menarik kakinya yang dicubit oleh ibunya.
“Keluarganya baik-baik. Bersyukur kamu dipilihnya…”
“Parni…,” Jhon mendesah.
“Kata ibunya kalau sudah menikah nanti dia akan ke Malaysia untuk cari uang. Enak kamu, Nak. Jaga rumah, jaga anak.”
“Cari pacar lagi..”
“Sinting!”
Hening.
Hujan sudah berhenti.
Tiba-tiba terdengar suara anak-anak berteriak. Satu suara Jhon kenali hingga ia bangun dan berjalan ke arah jendela.
“Mau permen, nggak?”
Srintil yang telanjang dada sambil kepalanya ditutupi payung dari daun pisang oleh salah satu temannya yang lebih besar menggeleng sambil tertawa. Lalu berlari sambil meleletkan lidahnya.
“Siapa?”
“Srintil?”
“Kamu suka sama anak itu?”
Jhon diam.
“Sinting!” sebuah cubitan terarah ke tangannya.
Jhon hanya diam. Tersenyum memandang tubuh Srintil yang sudah menjauh.
**
“Jadi benar kamu mau kawin sama Jhon?”
Parni menoleh ke arah Ita. Tersenyum. “Kamu kenal Jhon, kan?”
Ita mencibir. “Siapa yang tidak kenal dia? Seisi kampung kenal keluarganya. Kamu ingat tetanggaku yang…,” ia sengaja menggantung kalimatnya. Matanya memandang ke arah Parni.
“Aku ngerti…..,” Parni menunduk. Resah. Kemudian tersenyum sendiri.
Ia ingat Jhon yang dulu. Semasa sekolah. Bekas luka karena di dorong Jhon di dengkulnya masih berbekas hingga sekarang.
“Kamu jatuh cinta sama Jhon?”
Parni memandangi perut Ita. Membuncit. Dua bulan lagi akan melahirkan. Anak ketiga. Dia ingin mengalami hal yang sama seperti itu.
“Sama pak Syamsul saja, Par. Duda yang baik. Kamu ngejar-ngejar Jhon bikin dia besar kepala,” jahitan yang sudah selesai di lemparkan Ita ke sudut tempat tumpukan pakaian lainnya yang sudah selesai.
Parni diam.
Dari jendela tempat ia duduk sekarang ia bisa melihat seorang laki-laki setengah tua dengan rambut beruban yang tengah mengayuh sepedanya. Sekilas tadi, kepalanya sempat menoleh ke arah Parni lalu mengangguk sebelum akhirnya menghilang.
“Jhon kerjanya tidak jelas. Orangnya tidak jelas. Senangnya di dalam rumah. Masih menyusu sama Mboknya. Sudah sebesar itu tidak mau cari kerja. Apa kamu mau kalau jadi istrinya kamu yang terus-terusan kerja? Untung Mas Lili tidak seperti itu,” tangan Ita menghelus perutnya. “Jangan asal-asalan milih pasangan, Par.”
Parni masih diam. Ia selalu tidak bisa membantah apa yang dikatakan Ita. Meski sama-sama lulusan sekolah kampung, tapi Ita pernah kerja jadi TKW di luar negri beberapa kali. Omongannya pintar. Suaminya juga bertemu di tempat dulu ia bekerja. Hidup mereka paling makmur. Parni kerja di konveksi kepunyaan Ita.
“Kamu jatuh cinta sama Jhon?”
Parni tersenyum kecil. Ia bukan Cuma jatuh cinta tapi mungkin terobsesi. Sejak dulu sampai sekarang tidak ada cowok lain di kepalanya selain Jhon. Ia selalu berniat untuk menikah dengan Jhon. Awalnya orang tuanya melarang tapi setelah usianya melewati umur 25, mereka pasrah sambil menghelus dada.
“Pak Syamsul baik…”
Parni menggeleng. “Hari ini aku buat kue untuk Jhon. Pulang nanti aku mampir ke rumahnya…”
Ita menggeleng. Menghelus perutnya. Ia menjadi sangat kasihan pada Parni.
**

“Oalah semua sinting. Anakmu yang manis itu mau diberikan sama Jhon? Laki-laki yang baik banyak. Kenapa mesti Jhon?”
Di dalam kamar Parni berdiri di muka cermin sambil mendengarkan. Bu de Sri kalau bicara memang begitu. Seenaknya.
“Apa kalian tidak malu kalau nanti Jhon seperti bapaknya. Wong aku sampai umur sekarang tidak menikah tidak apa-apa. Biar Parni cari sendiri. Seperti kambing saja ditawar-tawarkan.”
Parni tersenyum. Lalu menautkan kedua alisnya. Tubuhnya gemuk. Lemak di sana sini. Ia jadi minder kalau berdekatan dengan laki-laki. Tapi dengan Jhon mindernya hilang.
“Setelah nikah nanti Parni mau dikasih makan apa?”
“Parni mau ke Malaysia, Mbak. Nunggu hamil dan punya anak. Setelah itu cari kerja di luar.”
“Lalu si Jhon tidak kerja. Mau dikasih makan batu apa keponakanku itu?”
Hening.
“Ada sawah di dekat sungai. Kepunyaan saya,” bapak bersuara.
Hening lagi.
“Parni mana?”
Parni bergegas menyisir rambutnya. Ia tahu jawaban apa yang akan diberikan pada Bu de Sri nanti perihal keputusannya. Ia akan katakan kalau ia sangat mencintai Jhon.
**

Gending itu terdengar.
Srintil melemparkan potongan kecil kuenya ke arah ayam-ayam yang berkerumun di dekatnya seperti menunggu belas kasihannya.
Suara gending terdengar nyaring sekali. Teman-temannya yang melintasi rumahnya berlarian memanggil namanya. Mengajaknya bermain ke tempat arah suara gending itu.
“Mau ikut apa tidak?”
Srintil memandang ke arah Mbok. Pakaian Mbok rapi. Rambutnya disanggul. Kebayanya pasti baru diambil dari dalam lemari. Kemarin khusus untuk kondangan. Mbok paling sayang sama kebaya itu.
“Hayo….”
Teman-temannya yang melintasi rumah Srintil memanggil lagi. Mereka bergandengan dengan Mbok dan Bapaknya. Srintil pasti cuma akan menggandeng. Tidak ada Bapak. Srintil tidak punya Bapak. Mbok bilang Srintil lahir dari buah semangka. Tapi tetangga bilang Bapak ninggalin Mbok dan Mbok tidak mau cari Bapak lagi.
“Hayo…”
“Mas Jhon mau nikah…. Nikah itu apa toh, Mbok?”
Mbok menyatukan kedua alis tipisnya. “Kamu kenapa?” nalurinya sebagai ibu membuatnya mengulurkan tangan menghelus rambut Srintil.
Ia jadi ingat, sejak seminggu yang lalu Srintil berubah menjadi diam. Suka pura-pura main sandiwara terus menangis sendiri. Dan yang mengherankan tiba-tiba saja Srintil jadi benci sama sesuatu yang kelihatannya besar. Pak de Arif, tetangga sebelah rumah yang tubuhnya gendut jadi sering dikata-katai Srintil. Padahal sebelumnya Srintil paling dekat sama Pak de Arif.
“Nikah itu berarti dikasih baju bagus kan, Mbok?”
“Nikah itu berarti…,” mata Mbok berair. Ia jadi ingat Bapaknya Srintil yang tidak pernah mau menikah dengannya setelah memberinya seorang Srintil. Alasannya karena sudah punya istri.
“Punya anak. Mbok?”
Mbok mengangguk. “Kamu mau ikut ke tempat Mas Jhon?”
“Yang gendut itu nanti akan punya anak. Mbok?”
“Mbak Parni…”
Srintil melengos.
Mbok berdiri dari duduknya. “Kamu jadi tidak mau ikut?”
“Nanti tidak ada yang kasih Srintil permen lagi…”
Mbok diam.
“Nanti tidak ada yang ngajak main Srintil lagi.”
Mbok masih diam. Hatinya terasa tersayat. Setiap hari ia sibuk meninggalkan Srintil sendirian. Ia kerja di kampung sebelah jadi pembantu. Kadang-kadang mengajak Srintil. Tapi Srintil lebih suka main sendiri. Setiap pulang pasti Srintil sudah menunjukkan permen-permen yang katanya diberi oleh Jhon.
“Nanti tidak ada yang ngasih permen…”
Mbok menunduk. Sebenarnya ia kurang suka dengan Jhon. Bapaknya yang main serong sama istri lurah kemudian diamuk oleh penduduk kampung sampai tewas dulu sering menggodanya. Jhon sendiri kelihatannya matanya nakal. Tapi di depannya anak itu sering kelihatan ketakutan. Penduduk kampung juga tidak perduli pada Jhon.
“Mbok….”
“Nanti Ibu akan belikan kamu permen.”
Srintil berdiri dari duduknya. “Srintil mau ketemu Mas Jhon.” Jemarinya menyentuh jemari Mbok.
Mbok tersenyum. Menggandeng Srintil berjalan pelan-pelan.
**
Mata itu memandangnya. Memperhatikan dari ujung rambutnya sampai ujung kakinya. Membuat Jhon ingin menundukkan kepalanya untuk menghindari tatapan itu.
Parni yang duduk di sampingnya tak berhenti menggariskan senyum di bibirnya. Sesekali mencubit tangan Jhon. Seperti bahagia.
Undangan tak henti mengalir sejak tadi pagi. Orang tua Parni memang cukup dihormati di kampung. Tapi Jhon dapat membaca beberapa tatapan tamu yang sepertinya memandang rendah padanya.
Tapi tatapan yang tajam itu berbeda dari tatapan para tamu. Seperti marah padanya. Seperti menahan tangis.
“Siapa anak kecil itu…”
Jhon pernah cerita pada Parni soal Srintil. Soal kedekatannya karena ia suka dengan gaya lucu Srintil yang tidak punya Bapak. Parni bilang nanti setelah menikah ia akan memberi Jhon anak lebih lucu dan lebih manis dari Srintil.
Jemari Parni terulur. Melambai ke arah Srintil.
Srintil kelihatan ketakutan untuk mendekat. Tapi Jhon lihat tangan Mbok menarik tangan Srintil.
“Kalau aku tinggal kerja di Malaysia nanti, dia bisa menjaga anak kita. Srintil suka anak-anak, kan?”
Jhon mengangguk.
Sejak awal semuanya diatur oleh Parni. Termasuk rencana pernikahan. Termasuk di mana mereka akan tinggal setelah menikah. Termasuk kapan mereka akan mempunyai anak. Bahkan juga sayur-sayuran yang harus Jhon makan untuk cepat-cepat menghasilkan anak.
Parni sendiri setelah itu akan bekerja di luar negri. Alasannya ia sudah punya pengalaman dan tahu celahnya. Jhon diminta di rumah saja menjaga anaknya nanti bersama ibunya.
Srintil kelihatan mendekat. Perlahan. Seperti ketakutan.
“Mau permen?” Itu yang Jhon tanyakan waktu akhirnya berdiri di hadapannya dengan wajah menegang. Mbok Srintil sendiri asyik bicara dengan Parni. Parni memang cukup ramah.
“Mau permen?”
Srintil kecil mengangguk. Tangan Jhon menjulur mengambil permen yang berada pada wadah piring di meja kecil di sampingnya.
“Untuk kamu…”
Tangan mungil itu terjulur. Membuka kulitnya lalu mengulumnya. Matanya berbinar-binar.
“Nanti kamu akan dapat permen terus dari Mas Jhon,” tangan Parni terulur menghelus kepala Srintil.
Srintil mengangguk. Memandang Mboknya sambil tersenyum.
**

Mimpi Itu Indah, Srintil

Sudah sore.
Srintil berdiri di depan hamparan sawah yang sudah menguning. Langit senja cerah. Sepeda yang dipakai Srintil digeletakkan begitu saja dan ia duduk melamun sambil matanya memandangi anak-anak kecil yang berlarian berkejaran di pematang sawah.
“Ceritanya begini…”
Srintil menoleh sesaat lalu kembali lagi pada posisi semula.
“Kamu ini bagaimana, sih?” Pahanya dipukul. Cukup keras.
“Kenapa?” akhirnya mulut Srintil mulai bicara. Wanti memang cukup cerewet dengan dua tahi lalat di kedua ujung bibirnya.
“Rustam itu, kan…”
Srintil tersenyum. Rustam, pemuda dari kampung sebelah yang jadi teman sekelasnya itu memang kata anak-anak naksir padanya. Tapi Srintil tidak punya perasaan apa-apa meski Rustam manis dan hampir setiap hari membawakan belimbing untuknya.
“Kalau kamu pacaran sama dia….”
Kedua alis Srintil bertaut. Ia hampir terlonjak dari duduknya ketika mendapati seorang anak kecil terjatuh di pematang. Untunglah anak-anak yang lain sigap membantu si kecil yang sekarang menangis kesakitan sambil memegangi dengkulnya.
“Bagaimana?”
Mbok selalu melarangnya kalau dia dekat dengan laki-laki. Nanti, kata Mbok, kalau dia sudah cukup umur dan sudah tahu mana laki-laki yang baik dan mana laki-laki yang tidak baik. Sekarang dia masih kecil. Wong, makan saja kadang-kadang dia suka minta disuapi si Mbok kalau sedang ingin bermanja-manja.
“Aaah, kamu masih nunggu…,” mulut Wanti terbuka. Tertawa.
Wajah Srintil memerah. Cuma Wanti yang paling tahu apa yang ada di hatinya. Bukan karena ia cerita tapi Wanti memang mudah menebak perasaan orang lain.
“Kamu kan….”
Satu, dua, tiga…, Srintil menghitung dalam hati. Umurnya baru sebelas tahun bulan kemarin. Mbok membuatkan nasi kuning dan membagi-bagikan untuk teman-temannya. Sehari sebelum ulang tahunnya ia merasakan perutnya luar biasa sakit. Untuk kemudian ada darah di celana dalamnya. Kata Mbok itu tandanya ia makin harus hati-hati sama anak laki-laki.
“Mas Jhon…”
Pipi Srintil memerah lagi. Terlebih ketika Wanti bicara sambil berbisik terus mencubit pahanya sambil kepalanya memberi isyarat ke arah jalan di belakangnya.
“Sore-sore kok bengong di sini?”
Kakinya lemas. Hatinya dag dig dug tak menentu. Mas Jhon melintas dengan sepeda. Di belakangnya Septi yang dibonceng melambaikan tangan ke arahnya.
“Septi punya mainan, Mbak….,” suara kecil itu kedengaran ketika sepeda terus dikayuh.
Srintil menelan ludahnya. Wanti memperhatikan.
“Itu, kan?” tanya Wanti pelan seolah takut terdengar yang lain.
Wanti diam.
Ia sendiri tidak pernah tahu kenapa ia tidak bisa merasakan seperti yang Wanti rasakan. Dadanya dag dig dug kepada Rustam. Tapi Mbok bilang itu karena belum waktunya dia suka sama laki-laki. Mbok malah bilang kalau Wanti itu genit jadi cepat suka sama laki-laki. Mbok tidak pernah tahu kalau setiap kali melintasi rumah Mas Jhon setiap akan berangkat sekolah hatinya terasa dag dig dug. Terlebih bila Septi memanggilnya untuk mengajaknya bermain.
“Kamu suka Mas Jhon?”
Srintil diam. Hampir menangis.
Dia suka Mas Jhon. Dari dulu. Bahkan ketika Mas Jhon habis menikah ia selalu menangis. Mbok bilang nanti Pak de Ripto akan didatangkan ke rumah kalau Srintil butuh teman seperti Mas Jhon. Tapi setelah Pak de Ripto datang ia masih saja merasa kesepian.
“Rustam itu baik. Lagian Mas Jhon kan udah nikah sama Mbak Parni. Awas, lho, kemarin waktu Mbak Parni datang dari Malaysia dia bilang sama aku untuk jaga Septi. Idih…, Mas Jhon mana mau sama aku. Mas Jhon maunya kamu yang jaga Septi. Lagian Mas Jhon nanti ketularan penyakit bapaknya…,” Wanti diam memandang ke arah Srintil. “Kamu tahu kan tentang bapaknya Mas Jhon…”
Srintil diam. Berdiri dari duduknya.
Langit mulai gelap. Ia mengambil sepedanya.
“Bagaimana soal Rustam?”
“Titip salam buat Rustam,” ujarnya sambil menaiki sepedanya.
Wanti tertawa. Mengangkat jempolnya.
**
“Mbok…”
Mbok memandang ke arah Srintil. Anak gadisnya itu sedang duduk di bale-bale, memandangnya nyaris tanpa kedip. Mbok meneguk air dari kendi. Tenggorokannya yang kering langsung terasa segar.
“Mbok capek?”
Bohlam listrik dinyalakan. Ruangan yang tadinya cukup gelap menjadi terang. Wajah Srintil kelihatan kusut.
“Mbok baru pulang?”
Mbok mengangguk. “Anaknya Bu Tata datang. Dari Jakarta. Ada tiga. Yang satu mau menikah dua bulan lagi. Calonnya di bawa. Cantik. Bu Tata menyuruh untuk memasak cukup banyak. Besok makanan itu akan dibawa ke rumah calon besannya.”
Srintil diam. Memainkan ujung kemeja sekolahnya yang belum dilepas.
“Kamu belum mandi?”
Srintil menggeleng.
Mbok memandang ke arah meja makan. Membuka tutup panci di atas meja. Memandang ke arah Sritil. “Belum makan?”
“Kenyang, Mbok.”
Mbok memandang ke arah Srintil. Anak itu menundukkan kepalanya. Kakinya bergoyang-goyang.
Beberapa hari belakangan ini, ada laki-laki yang sering mengunjungi Srintil. Srintil bilang teman sekelasnya. Namanya Rustam. Srintil bahkan memberi tahu rumah anak itu ketika mereka sama-sama melewati kampung sebelah.
Tapi Srintil tidak pernah bicara soal anak itu. Meskipun setiap kali anak itu datang Srintil selalu menemaninya. Tapi Srintil tidak banyak bicara. Srintil lebih banyak diam. Bahkan Srintil sering lupa menyediakan minum untuk anak yang cukup sopan itu.
“Mbok…”
Mbok mendekat. Sejak Srintil mendapatkan mens pertama, ia menjadi takut setiap kali Srintil bicara dengan laki-laki. Ia takut kalau-kalau nasibnya menular pada Srintil.
“Kenapa Mbok benci Mas Jhon?”
Mbok kaget. Memandang Srintil.
“Kenapa orang-orang benci Mas Jhon?”
Mbok menarik nafasnya. Ia pernah cerita pada Srintil soal bapaknya Jhon.Dan Srintil bilang yang jahat kan bapaknya.
“Mbok…”
Mbok menggeleng. “Mbok tidak benci…”
Srintil memandangi wajah Mbok. “Mbok tidak bohong?”
Mbok menggeleng. Sulit untuk mengatakan bahwa ia tidak pernah suka pada Jhon karena melihat mata anak itu bila memandang seperti ingin menangkap mangsa. Tapi memang selama ini Jhon baik. Penduduk kampung juga sudah mau menerimanya sejak ia menikah dengan Parni. Hanya saja hati Mbok selalu was-was bila melihat Jhon.
“Kenapa?” Mbok balik bertanya.
Srintil berdiri dari duduknya. “Mau mandi…,” ujarnya sambil berjalan ke luar ke arah kamar mandi.
**

“Kamu suka sama Srintil, kan?”
Pemuda berkulit gelap yang mencangklong tas dari karung goni menoleh ke arah Wanti sambil terus mengayuh sepedanya.
“Kamu tetap suka sama Srintil meski saingan kamu berat?”
Rustam mengangguk. Ia menarik ujung topinya. Matahari siang bersinar cukup terik. Matanya tidak sanggup terkena sinar matahari itu.
“Gimana?”
Rustam tak menyahut.
Ia kenal Srintil sejak lama. Ada hati pada gadis itu sejak lama. Tapi Srintil tidak pernah menanggapi. Wanti pernah bilang soal Mas Jhon. Rustam pun kenal dengan laki-laki yang disebut Mas Jhon. Ia hanya merasa agak aneh saja harus bersaing dengan laki-laki yang sudah punya anak itu.
“Dia itu pastinya sudah kena guna-guna. Masak anak seumurku bisa jatuh cinta sama Mas Jhon. Mas Jhon tidak ganteng. Ganteng kamu. Tapi Srintil tidak pernah mau sama yang lain. Dia maunya sama Mas Jhon. Padahal istrinya Mas Jhon galak kalau melihat Srintil.”
Rustam tidak menanggapi. Ia sudah kenal Wanti sejak lama. Anak itu paling suka memanas-manasi perasaan orang.
“Nanti sore kamu mau main ke tempatnya Srintil?”
Rustam menggeleng. “Ada pe er…”
“Alah…, anak laki kok penakut….”
Rustam tak menanggapi. Ia terus mengayuh sepedanya. Di kepalanya terbayang-b ayang wajah manis Srintil.
**
Di luar mendung. Sebentar lagi mungkin akan hujan. Angin yang bertiup agak kurang mengenakkan ketika mengenai badan.
Jhon terpaku di depan jendela rumahnya. Memandangi jalan mulus di halaman rumahnya. Baru beberapa bulan yang lalu Parni memutuskan untuk merenovasi rumah mereka dan membuka tabungannya. Alasannya karena merasa rumah tinggal mereka paling jelek dibandingkan rumah tetangga lain yang istrinya sering bolak-balik kerja sebagai tkw di luar.
Sebenarnya Jhon tidak enak hati. Lama-lama ia merasa terlalu tergantung pada Parni. Tapi Parni tidak pernah mengeluh.
“Bapak….”
Di luar mulai hujan. Sudah sejak tadi pagi.
“Bapak….”
Tiba-tiba Jhon kangen pada Srintil kecilnya dulu yang sering berlarian ketika hujan dan meleletkan lidah ketika melewati rumahnya untuk meledeknya.
“Pak…, mandi hujan.”
Septi sudah berdiri di dekatnya. Menggoyang-goyang kakinya.
“Boleh mandi hujan?”
Jhon menunduk. Menggeleng. Septi akhirnya kembali sibuk dengan bonekanya.
Hujan semakin lebat.
Sungguh…, Jhon jadi kangen pada Srintil.
**
“Cinta itu apa toh, Mbok?”
Mbok meletakkan handuknya di atas dipan. Memandangi Srintil yang tengah memandanginya.
“Kalau saya kangen sama orang itu namanya cinta?”
Mbok berpaling.
Akhir-akhir ini ia semakin bingung dengan pertanyaan-pertannyaan dari Srintil.
“Mbok pernah jatuh cinta?”
Mbok diam. Memandangi Srintil lekat-lekat.
“Saya lagi jatuh cinta, Mbok…,” kalimat itu diucapkan Srintil sambil menundukkan kepalanya. “Saya jatuh cinta….”
Hening.
Laki-laki teman sekolah Srintil yang biasa datang ke rumah sudah beberapa hari tidak pernah datang lagi. Barangkali Srintil kangen dengan laki-laki itu.
“Saya jatuh cinta….”
“Dengan siapa?” tanya itu diucapkan dengan nada ketakutan.
Srintil memandangi Mbok.
Menundukkan kepalanya lagi. Lalu menangis.
**
Mereka bertemu.
Berhadap-hadapan.
Saling memandang.
Jhon menahan napasnya. Entah kenapa ia tidak bisa mengatur irama jantungnya ketika berhadapan dengan gadis kecil itu. Entah kenapa tiba-tiba saja ia merasa ingin sepenuhnya memiliki gadis kecil itu.
Jalanan sepi.
Masih terlalu pagi.
Di mulut jalan ke luar kampung.
Jhon tidak biasa bangun pagi dan ke luar pagi-pagi dengan sepedanya. Tapi entah kenapa tiba-tiba saja pagi ini serasa tubuhnya ada yang menggerakkan hingga ia begitu terbangun dari tidurnya langsung menuju kamar mandi untuk mencuci muka setelah itu mengambil sepedanya.
Jalanan kampung masih gelap. Masih terlalu pagi. Tapi sosok Srintil yang mungil terlihat nyata sekali di matanya.
“Mau ke mana?”
Sosok itu kelihatan sama terkejutnya dengan dirinya. Turun dari sepedanya. Memandang Jhon nyaris tanpa kedip.
Hening.
Jhon tidak mengerti dengan perasaannya.
“Kamu mau permen?”
Srintil memandangi. Nyaris tanpa kedip.
“Mau kemana?”
“Mas Jhon jahat!” cuma itu yang ke luar sambil kembali menaiki sepeda dan mengayuh sepeda sekencang-kencangnya.
**
Tentang Parni
Pagi-pagi sekali, Parni ke luar dari dalam kamar tidurnya. Matanya masih merah. Semalam ia baru tiba. Tapi entah kenapa tiba-tiba di pagi ini baru terasa bahwa ia begitu letihnya.
Masih terlalu pagi. Jendela ruang tamu masih belum dibuka. Jendela dari kayu jati yang baru beberapa bulan kemarin ia ganti. Setelah mertuanya meninggal, ia memang merenovasi rumah yang ditinggalinya. Jhon bilang adik-adiknya tidak berniat untuk meminta warisan atas rumah itu. Mertuanya almarhumpun menyetujui.
Parni menarik napas dalam-dalam. Tubuhnya mulai terasa berat. Ia bertambah beberapa kilo di negri orang. Entah kenapa. Mungkin karena pikirannya tenang dan tidak terbebani banyak masalah seperti di negri sendiri.
Jam di dinding baru menunjukkan pukul tiga. Septi sudah tidak terbiasa tidur berdekat-dekatan dengannya. Anak itu sepanjang malam justru menempel terus pada bapaknya.
“Kok pulang?”
Kalimat tanya yang mengejutkan itu sungguh di luar perkiraannya. Ia sudah menyusun banyak rencana. Termasuk datang malam dan membagi kehangatan malam dengan suaminya. Tapi alis yang saling bertaut dan raut muka keheranan itu membuat perasaannya jadi tak menentu.
“Kenapa tidak bilang-bilang?”
Pertanyaan kedua yang sudah terlambat. Ia menyeret kopor besarnya. Memandangi suaminya.
“Saya pernah bilang soal kontrak kerja saya yang sudah habis?”
Tak ada sahutan. Dari kamar tidur muncul Septi. Sama seperti bapaknya anak itu memandanginya nyaris tanpa kedip.
Lalu entah kenapa tiba-tiba mereka sama-sama melongok pada jam di dinding. Dan Septi merengek menggelendot pada bapaknya meminta tidur kembali. Jhon memandangnya seperti meminta persetujuan. Dan ia hanya bisa menganggukkan kepala lalu mengikuti langkah mereka masuk ke dalam kamar.
“Saya ingin bekerja di sini saja,” bisiknya di samping Jhon. Memeluk tubuh suaminya.
Tak ada tanggapan. Hanya memandangi.
“Mas setuju, kan?”
“Besok saja…,” bisik Jhon. Membalikkan tubuhnya, menghelus-helus punggung Septi.
Cicak di dinding berbunyi. Parni menengadah. Tersenyum sendiri. Pahit.
Ia merasa jadi orang asing di rumahnya sendiri.
**
Mereka saling berhadap-hadapan. Ia dan gadis yang sedang menggenggam tangan Septi dengan akrabnya.
“Septi mau main….” Septi melonjak kegirangan. Memandang ke arah gadis itu dan seperti tidak memperdulikannya.
“Main sama Ibu saja, ya?”
Septi menggeleng. Bersembunyi di balik tubuh kurus gadis itu.
Baru Parni sadari, gadis itu jauh lebih manis sekarang. Bola matanya jernih. Seolah tanpa beban.
“Ibu punya mainan baru untuk kamu…”
“Sama Mbak Srintil!” Septi menghentakkan kakinya keras-keras ke lantai.
Parni mundur ke belakang.
Gadis itu terus memandangnya seperti ketakutan.
Tiba-tiba saja ia merasa menjadi begitu ketakutan.
**
“Bagaimana?”
Jhon berdiri mematung. Pandangannya tertuju pada Septi yang tengah bermain di halaman.
“Saya ingin di sini saja. Buka warung atau…”
“Kamu sudah tidak terbiasa dengan keadaan di kampung ini.”
Parni diam.
Ia tidak pernah menyangka ada tanggapan seperti sekarang ini. Yang ia harapkan sebelumnya adalah teriakan kegembiraan lalu memeluk tubuhnya.
“Saya ingin berada dekat Septi. Ia sudah merasa asing berada di dekat saya.”
Hening.
Jhon tersenyum ke arah Septi yang memanggilnya untuk mendekat.
“Mas tidak suka?”
Hening lagi.
“Saya ingin berada dekat anak saya…”
“Terserah kamu,” sahut Jhon akhirnya. Berat sekali.
**
“Kamu bodoh, Parni….”
Parni mengangguk.
“Kamu dibodohi oleh Jhon dan rasa cinta kamu kepadanya.”
Sekali lagi Parni mengangguk. Ia memang tidak pernah dapat menggeleng bila mendengar nasehat dari Ita.
“Tempatmu di sampingnya. Jangan terlalu banyak berkorban untuknya. Sudah cukup. Anakmu butuh kasih sayangmu.”
“Aku percaya padanya,” Parni mendesis.
Ita menggelengkan kepalanya. Sejak dulu memang sulit untuk bicara pada Parni masalah yang satu itu. Parni begitu mencintai Jhon. Bahkan ketika Ita menyarankan Parni untuk membatalkan niatnya pergi ke luar sebagai tkw beberapa bulan setelah melahirkan, Parni tetap nekad. Parni cuma bilang mas Jhon tidak bisa bekerja. Tidak ada yang percaya pada Mas Jhon.
“Tidak ada perempuan lain. Aku hanya ingin berada di dekatnya…”
Ita mengangguk.
“Aku mencintainya….”
Hening.
“Kamu percaya, kan?”
Ita mengangguk. Menepuk bahu, Parni.
**
“Mbak Srintil….,” Septi terkikik. Bocah berusia empat tahun itu memandang ke arah Parni sambil memamerkan deretan giginya. “Mbak Srintil suka main ke mari main dengan Septi.”
Parni menyodorkan sendok ke arah Septi. Memasukkannya ke dalam mulut anak itu.
“Mbak Srintil suka bebek….” Septi tertawa lagi.
“Bebek ini?” Parni mengangkat mainan bebek. Memencetnya hingga berbunyi. Ia ikutan tertawa ketika Septi tertawa.
“Mbak Srintil suka cerita…”
Parni tersenyum. Memasukkan sendok berisi nasi dan sayuran lagi ke dalam mulut Septi.
Beberapa hari ia mencoba mendekati Septi. Akhirnya Septi mau berdekat-dekat dengannya. Bahkan semalam Septi tidur sambil memeluknya.
“Mbak Srintil baik….”
“Kalau Ibu?”
“Ibu tidak pernah pulang!” Mata Septi melotot. :Lalu tertawa.
“Kata Bapak Mbak Srintil baik.”
“Kalau Ibu?”
“Ibu tidak bisa cerita soal Bebek dan raksasa.”
“Nanti Ibu cerita soal ayam dan raksasa.”
“Seperti Mbak Srintil?”
Parni mengangguk.
“Naik sepeda seperti Mbak Srintil?”
Parni mengangguk lagi.
“Mandi hujan juga?”
Parni mengangguk lagi. Kali ini ia merasakan matanya memanas. Kelopak matanya mulai menyimpan telaga.
“Septi sayang Mbak Srintil.”
“Sayang Ibu juga?”
Septi memandangi ibunya. Membiarkan sendok berisi nasi dan sayur masuk lagi ke dalam mulutnya.
“Sayang…”
“Sayang Ibu juga…”
Septi memeluk tubuh Parni. Parni membalasnya erat sekali.
**

Karena Kami Ternyata Saling Cinta

Sudah sore. Suara itu masih terdengar. Suara tawa yang terkadang diselingin lengkingan nyaring suara anak-anak.
Mbok berdiri mematung di dalam rumah. Sesekali ketika angin menerbangkan tirai jendela, kepalanya dimiringkan untuk melihat situasi di luar.
“Bebek….”
Mbok menahan napasnya. Hatinya tidak tenang. Jhon baru datang beberapa menit yang lalu. Tapi Mbok merasa seperti sudah bertahun-tahun.
“Bebek itu…”
“Sudah hampir maghrib, Srintil…,” akhirnya kalimat itu terucap juga.
Di luar Srintil dan Jhon saling berpandangan. “Ya, Mbok…, sahut Srintil setengah berteriak.
**
“Kamu jatuh cinta….”
Jhon baru saja pulang. Mbok sudah berdiri di samping Srintil. Memandanginya.
“Kamu jatuh cinta, Nduk…”
Srintil menundukkan wajahnya. Ia tak berani menatap mata Mbok.
“Duh Gusti…”
Azan maghrib terdengar. Srintil masih menunduk.
“Suami orang….” Hembusan nafas terdengar. “Apa kata orang kampung nanti? Nak Parni cukup baik sama Mbok.”
Kali ini Srintil mengangkat kepalanya. Memandang ke arah Mboknya. “Saya jatuh cinta. Dengan Mas Jhon…,” ia berlari masuk ke dalam rumah.
Mbok menggigit bibirnya. Ikut masuk ke dalam rumah.
**
Mereka berdiri. Berdua. Berhadap-hadapan. Gemericik air sungai seperti menjadi saksi pertemuan mereka.
Gadis kecil itu masih mengenakan seragamnya. Laki-laki bertubuh tegap itu masih mengenakan topi caping di kepalanya.
“Mau kemana?” Jhon melepas capingnya. Entah kenapa dadanya bergemuruh melihat Srintil.
Srintil tertunduk malu. Ia tadi sengaja melewati sawah di dekat sungai tempat Mas Jhon biasanya bekerja. Wanti yang kasih informasi kalau Mas Jhon menggarap sawah orang di dekat sungai.
“Mau kemana?”
Srintil merasakan wajahnya memanas. Bukan karena sinar matahari tapi karena tatapan Mas Jhon yang tidak berkedip memandangnya.
“Kamu mau…”
Srintil mendekat. Matanya memandangi kaki Mas Jhon yang dipenuhi lumpur.
“Kenapa?” Jhon ikutan mendekat. Mata Srintil yang berbinar ketika memandangnya mengingatkannya pada Srintil kecil yang selalu meleletkan lidah bila berpapasan dengannya.
“Mas Jhon lucu…”
Jhon semakin mendekat. Entah kenapa tiba-tiba saja tangannya terulur dan meraih jemari Srintil.
Srintil terkejut. Tapi kemudian ia tersenyum. Memandang Mas Jhon nyaris tanpa kedip.
**
“Oalah Par, Par…, suamimu itu bagaimana, toh?”
Parni menghentikan kegiatannya menampi beras. Seseorang tergopoh-gopoh berjalan ke arahnya. Kepalanya bergeleng-geleng. Satu tangannya mengangkat kain yang dikenakannya agar memudahkannya melangkah.
“Sinting. Sinting….”
“Kenapa, Bu de?”
Wanita yang dipanggil Bu de menghentikan langkahnya. Memandangi Parni lalu satu telunjuknya digerakkan mengenai kepala Parni. “Goblok. Suamimu itu memang sinting. Goblok kenapa kamu mau kawin dengannya.”
“Ssst…., ada apa sebenarnya, Bu de?” Parni meletakkan telunjuk di bibirnya. Sudah sore. Suara Bu de terlalu keras. Septi bahkan sempat terlongo, berhenti dari permainannya. “Masuk ke dalam…”
“Goblok. Suamimu itu pacaran sama anak kecil.” Suara melengking itu meluncur begitu saja. Septi, mungkin karena terkejut langsung menangis keras-keras. Memeluk tubuh Parni.
Wajah Parni memerah. Tapi ia berusaha untuk tidak terbawa emosi. Matanya memandangi wanita bertubuh kecil yang kali ini berkacak pinggang di hadapannya.
“Bu de dapat cerita dari mana?”
“Sinting. Aku lihat dengan mataku sendiri. Dia gandeng anak kecil itu. Ngelus pipinya trus nyium pipi anak itu. Bocah edan, dipikirnya tidak ada orang. Dua-duanya sama-sama edan.”
Parni diam. Tak bisa berpikir.
“Tapi Mas Jhon…”
“O alah…, Jhon gemblungmu itu pacaran sama Srintil. Anak bawang edan. Kecil-kecil sudah mau merusak rumah tangga orang. Mirip sama ibunya.”
Parni kembali diam. Kali ini wajahnya memerah dan air matanya mulai mengembang. Terlebih ketika beberapa orang yang melewati rumahnya berhenti dan bertanya ada kejadian apa?
“Biar aku ke rumah anak bawang itu…”
Septi menangis semakin keras dalam gendongan Parni. Parni membawanya masuk ke dalam rumah. Kali ini sambil menangis.
Di luar halaman, orang kampung semakin banyak yang berkerumun.
**
“Mas Jhon….”
Sudah malam. Lewat tengah malam. Parni duduk di sisi tempat tidur. Memandangi Septi.
Jhon menggeliat. Masih memejamkan mata.
Di luar hujan. Suara tetesannya airnya terdengar sampai ke dalam rumah.
“Mas Jhon…,” kali ini tangan Parni menyentuh tubuh Jhon. Menggoyang-goyangkannya.
Jhon menggeliat lagi. Sekilas memandang. Bersiap memejamkan mata kembali tapi tangan Parni lebih sigap menyentuh kakinya. Menggoyang-goyangkannya.
“Saya mau bicara…,” suara Parni dibuat serendah mungkin. Septi mudah sekali terbangun dari tidurnya bila mendengar suara orang bicara atau benda jatuh. “Soal Bu de Wiro…”
Jhon lagi lagi menggeliat. Tapi kali ini mulai bangun dari rebahannya. Duduk di tempat tidur.
“Mas…,” kali ini ia bangkit. Berjalan ke luar kamar.
Jhon mengikuti.
Di ruang tamu, di mana suara rintik hujan semakin deras kedengarannya, Parni duduk memandangi Jhon.
“Kenapa?”
“Bu de Wiro bilang…”
Jhon menghembuskan napasnya. Ia sudah mendengar cerita itu. Terkejut luar biasa. Tapi tidak mungkin menunjukkan pada orang lain.
“Mas dan Srintil….”
“Edan. Srintil sudah aku anggap seperti adikku sendiri. Dia juga pantas jadi anakku. Pantas jadi kakaknya Septi. Tukang gossip begitu selalu saja kamu percayai,” suara Jhon meninggi.
Parni diam. Menahan napasnya. Baru pertama kali ini ia melihat amarah di wajah Jhon yang biasanya tenang.
Hening.
Hanya suara hujan.
“Tapi Mas masih mencintai saya, kan?” Parni menunduk. Ia jadi malu dengan pertanyaannya itu.
“Kamu aneh-aneh saja.” Jhon malah berdiri dari duduknya. Berjalan masuk kembali ke dalam kamar.
**
“Kamu sableng.”
Srintil memandangi Wanti. Menggelengkan kepalanya. “Kamu tidak mengerti,” sahutnya.
“Jadi kamu sudah dicium sama Mas Jhon?”
Srintil mengangguk.
“Trus?”
“Trus kenapa?”
Wanti terkikik. “Nanti kalau kamu diajak nikah jadi istrinya yang kedua bagaimana?”
Srintil diam. Di langit awan putih membentuk bayangan raksasa.
“Mau?”
Srintil mengangguk. “Seperti Mbok,” ujarnya pelan tapi pasti.
**
“Kamu bodoh!”
“Biar.”
“Katanya cinta. Tapi kamu bodoh begitu.”
“Biar. Srintil tidak suka tidak usah dipaksa. Kalau dipaksa tidak baik. Nanti kalau sudah besar dia pasti sadar.”
Wanti meleletkan lidahnya ke arah Rustam. “Tapi kamu tahu kan kalau Srintil sedang sedih?”
Rustam mengangguk. Terus mengayuh sepedanya.
“Srintil jadi omongan orang kampung. Kamu dong tolong dia.”
“Aku masih kecil.”
“Tapi kamu kan laki-laki.”
“Tapi badannya Mas Jhon besar. Srintil cuma bilang aku temannya. Dia tidak suka sama aku. Kemarin belimbingku tidak dimakannya tapi dibuangnya di selokan.”
Wanti terkikik. “Srintil edan…”
Rustam diam.
“Nanti kamu mau main ke rumahnya?”
Rustam menggeleng. “Nanti kalau Srintil sudah naksir aku?”
“Kapan?”
“Aku nunggu sampai aku dan Srintil besar?”
“Kalau dia jadi istrinya Mas Jhon?”
“Aku sama kamu.”
Wanti terkikik lagi. Mengayuh sepedanya dengan bersemangat.
**
Sepi di luar. Sama sepinya seperti di dalam rumah.
Mbok mengawasi Srintil. Menghembuskan napas berkali-kali.
“Pak de Warno ingin mengambil kamu menjadi anaknya. Mbok pikir tidak apa-apa. Toh Pak de mu itu guru. Siapa tahu kalau ikut dengannya kamu bisa jadi orang yang berhasil.”
Tak ada sahutan. Tas besar yang berisi pakaian Srintil yang sudah dirapikan Mbok hanya dipandangi oleh Srintil.
“Kamu tidak apa-apa, kan?”
Srintil menggeleng.
Rumah Pak de Warno jauh. Enam jam perjalanan dari tempatnya. Tempat Pak de Warno yang adiknya ibu itu tidak enak. Anak-anaknya nakal. Bu de Warno orangnya suka ngomel. Srintil pernah disuruh menginap di sana oleh Mbok sewaktu liburan selama sebulan. Dua minggu Srintil jadi sering memimpikan Mbok. Untungnya Mbok terasa dan menjemputnya. Di depan Mbok, Bu de tidak cerewet. Padahal Srintil sering disuruh kerja macam-macam. Anak-anaknya sendiri kerjanya cuma belajar saja.
“Kamu tidak marah sama Mbok, Nduk?” Mbok menghelus kepala Srintil.
Srintil diam.
“Nduk…,” hampir menangis Mbok waktu mengucapkan kalimat itu. Ia takut kehilangan Srintil. Tapi ia tidak mau Srintil bernasib malang seperti dirinya. Orang-orang kampung sudah ribut. Ada yang bilang melihat Srintil masuk kamar Jhon. Ada yang bilang Srintil dicium Jhon. Ada yang bilang Srintil tidur sama Jhon di pinggiran sawah. Semuanya bikin Mbok pusing dan malu sama orang kampung.
“Kalau saya tidak kerasan tinggal di sana….”
“Kamu pasti kerasan.”
“Nanti Mbok sendirian.”
“Mbok sudah terbiasa sendirian.”
“Nanti saya kangen sama Mbok…,” Srintil menyentuh tangan Mbok. Melingkarkan tangannya di tubuh kurus Mbok.
Tak ada sahutan. Mbok tidak bisa menjawab. Ia hanya menangis sesunggukan.
**

Kangen…..

Langit sore berwarna jingga. Jhon berdiri mematung di muka rumah. Septi tengah bermain dengan anak-anak tetangga yang lain di halaman. Setiap kali melihat ke arahnya setiap itu pula mulut Septi berteriak memanggilnya.
Di dalam rumah terdengar suara lambang jawa. Parni yang memutarnya. Sejak hamil beberapa bulan yang lalu, Parni senang menghabiskan waktu mendengarkan langgam jawa.
Jhon memandang ke langit. Tersenyum sendiri. Suara anak-anak kecil sebaya Septi semakin keras. Saling berteriak. Tertawa. Mengingatkannya pada Srintil.
Jhon mengusap wajahnya dengan telapak tangannya. Menghitung dalam hati. Sebulan, dua bulan…, dua tahun. Hampir dua tahun dia tidak bertemu dengan gadis kecil itu. Dua tahun penuh kehampaan.
“Melamun, Mas….”
Parni muncul tiba-tiba. Di belakangnya. Menghelus perutnya yang sudah kelihatan membuncit.
Jhon menggeleng cepat. “Lihat Septi lagi main.”
“Sudah besar dia. Adiknya yang ini semoga laki-laki ya, Mas?”
Jhon mengangguk.
Sungguh, tiba-tiba ia terbayang-bayang Srintil. Tiba-tiba ia ingin sekali bertemu dengan anak itu.
**
Mbok, saya ingin pulang.

Surat itu Srintil masukkan ke dalam amplop. Memandang amplop itu sekilas lalu memasukkannya ke dalam tasnya.
Sudah sore.
Di luar kedengaran suara ayam-ayam peliharaan Pak de yang digiring masuk ke kandang.Biasanya Srintil yang melakukan hal itu. Tapi sejak kemarin ia kangen Mbok terus. Ia ingin nangis terus. Pak de ngerti dan menggantikan tugasnya.
“Nanti saja kamu pulang kalau sudah sekolah yang benar. Kalau sudah dapat pacar. Dapat kerjaan.” Mbok bilang begitu sewaktu mengantarnya. Sambil menangis. Srintil juga ikutan menangis.
Tapi sejak Srintil ada di tempat Pak de, Mbok jarang sekali menengok. Hanya sekali dua kali. Setiap kali Srintil kangen sama Mbok, setiap itu pula Srintil hanya bisa menangis.
Srintil juga kangen Mas Jhon. Kangen sekali. Pasti Mas Jhon sudah lupa sama dia sekarang. Tapi semalam Srintil mimpi bertemu Mas Jhon. Mas Jhon cuma memandangnya. Kelihatan kangen.
“Makan, Nduk…”
Suara Pak de. Srintil bangun dari rebahannya. Kalau sedikit terlewat nanti makanan untuknya bisa dibereskan oleh Bu de yang menanggapnya tidak mau makan.
**
“Bapak….”
“Sssst….,” Jhon menolehkan kepalanya. Menggelengkan kepala. Mengisyaratkan pada Septi untuk tidak bersuara.
“Mbak Srintil belum pulang, Pak?” tangan Septi menyentuh punggung Jhon.
“Ssst….” Jhon terus mengayuh sepedanya. Matahari siang cukup panas tapi capingnya banyak membantu penglihatannya hingga tidak terlalu silau,
“Pak…”
Jhon tidak menyahut. Pagar rumah Srintil sudah terlihat. Pagar dari bambu yang sebagian besarnya sudah rusak berat. Hatinya dag dig dug tak menentu.
“Pak…., Ibu tadi bilang…”
“Jangan bilang-bilang Ibu,” Jhon bicara sambil kepalanya menoleh ke rumah Srintil yang pintunya tertutup rapat.
Tak ada siapa-siapa. Tapi Jhon melihat bayangan Srintil di depan pintu rumah. Tersenyum menyambutnya.
“Pak…”
Jhon menghembuskan napasnya. Ia sungguh-sungguh kangen pada Srintil.
**

“Saya ingin pulang….” Srintil masih mengenakan baju seragam ketika bicara itu pada Pak de. “Kangen sama Mbok.”
Pak de Warno menolah. Menggelengkan kepalanya.
“Tidak boleh?”
“Mbokmu biar yang kemari. Kamu sekolah yang benar. Biar Mbokmu perasaannya tenang..”
“Tapi…”
Pak de menggelengkan kepalanya. Berkali-kali.
Srintil diam. Masuk ke dalam.
**
Permen-permen itu Parni temukan secara tidak sengaja di dalam lemari ketika ia hendak mengambil salah satu baju Jhon. Bukan permen kepunyaan Septi pastinya. Lemari itu cukup tinggi, Septi tak mungkin menaruh permen di sana. Ia selalu menyimpannya di dalam tas yang Parni belikan untuknya.
Ia bukan orang yang tidak perdulian. Sejak dulu ia selalu saja ingin tahu. Terhadap Jhon juga begitu. Hanya saja Jhon terlalu tertutup untuk mengungkapkan apa yang dirasakan.
“Punya Bapak….,” Septi muncul di kamar. Memungut salah satu permen. Membukanya lalu memakannya.
“Punya kamu?” hampir saja Parni menjewer telinga Septi kalau kepala Septi tidak cepat menggeleng.
“Punya Bapak….,” Septi nyengir.
Kening Parni berkerut.
“Buat Mbak Srintil…,” Septi menutup mulutnya. Berlari ke luar kamar.
**

Dan Akhirnya….

“Bakar….!”
“Ganyang….!”
Tengah malam.
Jhon dan Sritil saling berpandangan. Tangan Jhon merengkuh bahu Sritil. Mencoba memberi ketenangan.
“Bakar….!”
Tubuh Srintil gementar. Tapi dalam pelukan Jhon ia merasa tenang.
Tiba-tiba pintu terbuka. Seseorang membukanya dengan paksa. Diikuti dengan yang lain. Dan yang lain.
“Bakar…!”
Mas Jhon masih merengkuhnya. Tapi tubuhnya menjadi semakin gemetar. Terlebih ketika obor yang menyala itu dilemparkan ke arah mereka.
Srintil ketakutan.
Sangat ketakutan.
**
“Mereka sinting!”
Ita memandangi Parni. Bayi yang berada dalam gendongan tangan berpindah tangan kepadanya. Lalu ia serahkan kepada yang lain untuk ditidurkan di dalam kamar.
“Mereka sinting!”
“Mereka khilap,” Ita berusaha menenangkan. Tapi kelihatannya Parni tidak perdui. Tangannya memukul-mukul tubuhnya sendiri.
“Mereka sinting!” Parni berteriak.
Ita diam. Hanya memandangi.
Mungkin ia akan melakukan hal yang sama kalau itu terjadi pada suaminya. Parni jauh lebih tegar. Di depan Jhon kemarin dan masyarakat yang membawa Jhon serta Srintil ia hanya diam. Tidak mengamuk. Tidak juga memaki. Hanya pandangan matanya yang menerawang bicara lebih banyak.
“Anak itu…”
“Ssst…, Septi dan adiknya sudah tertidur. Kamu sebaiknya tidur juga.”
Tidak ada sahutan. Parni hanya memandangi. Untuk kemudian menangis lagi.
**
Mbok menangis. Di atas bale-bale. Pandangannya menerawang memandangi hamparan sawah yang terlihat jelas dari jendela.
Srintil duduk diam di dekatnya. Nyaris tak bergerak.
“Saya salah, Mbok…”
Mbok tak menyahut.
Ia malu. Malu sekali. Kemarin malam orang-orang kampung mendatanginya. Membawa Srintil. Menceritakan semuanya. Lengkap.
“Anakmu dibawa setan gundul Jhon, Mbok…,” kata seseorang tanpa menyalahkan Srintil.
Tapi yang lain tidak bicara seramah itu.
“Setan sama setan ya klop. Kecil-kecil senangnya merebut suami orang.”
Mbok mengusap air matanya.
Surat Srintil untuknya sudah ia baca. Makanya ia cepat-cepat datang ke tempat Srintil dititipkan. Tapi sampai di sana Srintil sudah tidak ada. Mereka bilang Srintil pergi diam-diam.
Perasannya sudah tidak enak. Menunggu di rumah lebih tidak enak lagi. Ia merasa sesuatu terjadi pada Srintil. Terlebih ketika melewati rumah Parni, Parni bilang Jhon tidak ada. Lagi cari kerja ke tempat lain.
“Mbok…”
“Kamu sudah tidur dengannya?” tanya itu terlontar gamang.
Hening.
“Kamu sudah tidur dengannya?” Mbok mengulang.
“Saya cinta Mas Jhon…”
Mbok menoleh. Memandangi mata Srintil. Lalu menangis sesunggukan. Sinar mata yang memancar itu dan kepastian itu mirip ketika dulu ia melakukannya. Menjawab pasti di depan kedua orang tuanya. Tapi toh ia salah juga. Laki-laki yang ia bela mati-matian cuma menyisakan Srintil. Selain itu hanya kesengsaraan.
“Saya cinta Mas Jhon, Mbok…”
Mbok menghembuskan napasnya.
Entah dari mana orang-orang kampung tahu keberadaan Srintil dan Jhon. Tapi katanya ada yang melihat mereka berdua di terminal. Lalu mengadu pada Parni. Dan Parni yang meminta penduduk kampung mengikuti Srintil dan Jhon.
“Saya tidak sekolah lagi tidak apa-apa, Mbok. Jadi istrinya Mas Jhon saja.”
Mbok diam.
“Saya…”
Mbok masih diam. Tak berniat menanggapi.
**
“Ke Malaysia?”
Parni menganggukkan kepalanya. “Orang-orang kampung sini sudah benci pada Mas Jhon. Kebetulan majikanku kemarin aku telpon. Dia butuh supir. Mas Jhon toh bisa nyupir sedikit-sedikit.”
“Trus anakmu?”
Parni memandangi Ita. “Aku bodoh ya?”
“Kenapa?”
“Tidak bisa benci pada Mas Jhon.”
“Bagus kalau begitu…”
Parni menghembuskan napasnya. “Orang kampung bilang mereka sudah tidur bersama. Tapi anak sekecil Srintil pasti tidak tahu apa-apa. Mas Jhon yang salah.”
Ita memandangi Parni. Mata itu seperti menyembunyikan sesuatu. Kekecewaan yang berusaha disamarkan dengan senyuman.
“Aku cinta sekali pada Mas Jhon.”
“Lalu kapan balik ke sini?”
Parni menggeleng.
“Tidak akan kembali lagi?”
“Sampai Mas Jhon bisa melupakan Srintil,” desisnya sambil menundukkan kepalanya.
**
“Srintil itu sudah tidur sama Mas Jhon. Kamu masih mau?”
Rustam mengayuh sepedanya. Menganggukkan kepalanya.
“Srintil sudah merebut Mas Jhon…”
“Tapi Mas Jhon tidak berpisah dari Mbak Parni,” ujar Rustam kalem. Tersenyum ke arah Wanti.
“Tapi kalau Srintil hamil…”
“Srintil tidak mungkin hamil. Banyak yang bilang Srintil dipaksa Mas Jhon. Mas Jhon itu bukan laki-laki baik. Kasihan Srintil…”
Wanti menggelengkan kepalanya. “Kalau Srintil tidak mau sama kamu?”
“Tidak apa-apa. Nanti juga pasti mau.”
“Kalau Srintil masih menunggu Mas Jhon?”
“Mas Jhon akan ke Malaysia kata Mbak Parni kemarin. Rumahnya akan dijual. Pak Lurah yang membeli. Dikasih harga murah. Kata Mbak Parni untuk beli tiket pesawat ke Malaysia.”
“Jadi Srintil ditinggal?”
“Mas Jhon itu tidak baik. Harusnya masuk penjara. Tapi Mbak Parni sudah minta maaf sama Mbok. Jadinya Mas Jhon tidak dipenjara. Kasihan kan Srintil. Aku mau lihat Srintil senang.”
Wanti menggelengkan kepalanya.
“Kenapa?”
“Enaknya jadi Srintil,” ujarnya sambil mengayuh sepedanya mendahului Rustam.
**
Inilah Hidup, Srintil….
Srintil memandang Mbok. Menggelengkan kepalanya. “Saya tidak mau, Mbok.”
Mbok diam. Melipat pakaian. Menyusunnya dengan rapi.
“Mbok tidak akan memaksa saya, kan?”
Di luar gelap. Sudah mau hujan. Mbok memandangi langit yang menghitam.
“Mbok…”
“Tanggal lima belas bulan depan. Wetonmu sama wetonnya dapat tanggal baiknya itu.”
“Mbok…,” Srintil memandangi Mbok. “Saya tidak kenal saya Mas Andi.”
“Nanti juga kamu kenal. Kemarin dia datang kamu tidak ada. Anaknya dua-duanya ikut. Dia sayang sama anak-anak. Kamu nanti bahagia bersama dia.”
“Tapi…”
“O alah Nduk…., kamu sudah tidur sama laki-laki lain. Bujangan tidak ada lagi yang mau sama kamu. Mbok pilih yang paling baik untuk kamu.”
Srintil diam.
Sejak minggu-minggu kemarin Mbok susah diajak bicara. Sejak Mbok berniat menjodohkan dia pada duda yang Mbok kenal di pasar.
“Atau kamu masih menunggu Jhon gemblungmu itu?”
Srintil diam.
Bertahun-tahun ia sudah tidak bertemu Mas Jhon. Mas Jhon pasti kaget kalau bertemu dengannya. Dia sudah besar. Sudah lulus SMU.
Tapi Mas Jhon pasti sudah lupa padanya. Mas Jhon tidak pernah datang lewat mimpi-mimpinya. Mas Jhon pasti sudah bahagia. Seperti Wanti yang minggu kemarin juga bahagia menikah dengan Rustam.
“Saya belum ingin menikah, Mbok…”
“Mbok sudah mendaftarkan nama kamu ke penghulu kampung. Mas Andi sudah memberi bahan kebaya. Fotomu sudah dicuci, toh? Nanti kalau sudah jadi Mbok bawa langsung ke penghulunya.”
Srintil memandangi wajah Mbok. “Saya ingin kerja.”
Mbok menggeleng. “O alah. Nak…., kerja bikin kamu jadi perawan tua. Jhon gemblung itu sudah merusak hidupmu. Kamu tidak akan laku. Nanti Mbok tidak bisa melihat anakmu. Kamu tidak ingin melihat Mbokmu ini mati sengsara, toh?”
“Tapi Mbok tidak ngerti…”
Mbok menggeleng lagi.
“Mbok tidak sayang sama saya?”
Mbok terbatuk.
“Saya ingin kerja…”
“Kalau kamu kerja Mbok milih gantung diri, Nak. Malu aku kalau dengar orang kampung sini bicara soal kamu. Untung masih ada yang melamar kamu…”
“Saya tidak cinta…”
“Nanti kalau perutmu sudah kenyang, hidupmu sudah tentram, kamu tidak akan mikir soal cinta lagi.”
“Mbok…”
Mbok diam. Menutup jendela. Mata tuanya menerawang memandangi hujan yang sudah mulai turun.
**

Laki-laki itu duduk di hadapan Srintil. Beberapa kali memandang wajah Srintil lalu menundukkan kepalanya dan berpaling memandang kedua anaknya yang sedang bermain dengan Mbok di halaman.
Srintil sama sekali tidak berminat untuk menemui laki-laki itu sebenarnya. Tapi Mbok memaksa, setengah mengancam akan mati sengsara kalau Srintil tidak mau menemui laki-laki itu. Maka Srintilpun dengan setengah hati berdandan, mengenakan baju yang Mbok bilang diberikan sebagai hadiah dari laki-laki itu.
“Kapan main ke rumah, Dik?”
Bicaranya terlalu lembut. Jemarinya yang berada di atas pangkuannya kelihatan gemetar. Kakinyapun bergoyang-goyang.
“Mbok bilang kamu suka warna putih. Kamar tidur sudah saya cat warna putih.”
Srintil menelan ludahnya. Hampir menangis. Tiba-tiba ia ingat Mas Jhon. Mas Jhon yang gagah dan tidak kaku seperti laki-laki di depannya.
“Anak-anak sudah sering tanya kapan saya bawa Ibu buat mereka.”
Srintil memandang ke luar. Pandangannya bersitatap dengan lirikan Mbok ke arah mereka. Kelihatannya Mbok cukup akrab dengan kedua anak itu. Mungkin Mbok benar-benar sudah kangen menggendong cucu.
“Kamu setuju menikah dengan saya kan, Dik?”
Srintil diam.
Mengangguk pelan.
**
“Jadi kamu sudah lupa sama Mas Jhon?”
Hening. Rustam ada di luar. Hanya masuk ke dalam beberapa menit untuk kemudian kembali ke luar bicara dengan Mbok. Beberapa kali Srintil melihat laki-laki itu melirik ke arahnya.
Wanti sendiri seperti tidak perduli. Wajahnya kelihatan lebih berseri setelah menikah.
“Kamu mau menikah benar-benar. Mbokmu yang cerita. Katanya aku disuruh kasih cerita soal pernikahan ke kamu. Waduh, Srintil., Mas Andi itu laki-laki baik tidak seperti…,” tangan Wanti cepat menutup bibirnya. “Kamu pasti akan jadi istri yang baik kalau dapat suami baik seperti dia.”
Srintil diam.
Kemarin, setelah Mas Andi datang, ia langsung masuk kamar.Menangis di sana. Berlama-lama. Berharap Mbok datang dan kemudian membatalkan keputusannya. Tapi Mbok kelihatannya sudah tidak perduli. Srintil sendiri sudah tidak ingin kabur seperti dulu. Ia sudah besar. Semakin besar ia semakin kasihan pada Mbok.
“Kalau kamu sudah menikah, aku tidak akan cemburu lagi….”
Srintil melirik ke luar. Rustam lagi-lagi meliriknya.
“Kamu pasti akan jadi ibu yang baik untuk anak-anaknya,” Wanti pura-pura tak perduli. Menepuk paha Srintil. “Mas Jhon pasti sudah lupa sama kamu. Dia tega ninggalin kamu. Kamu pasti…”
Srintil berdiri dari duduknya.
“Kamu masih ingat dia?” Wanti ikutan berdiri.
Srintil menggeleng. “Aku ingin menikah…,” ujarnya pelan sekali.
**
“Kamu tidak pernah ingin pulang, Mas?”
Jhon memandang ke arah Parni. Septi dan kedua adiknya sedang bermain di halaman. Perut Parni sudah membuncit lagi.
“Tiba-tiba saya jadi kangen rumah. Kangen bapak dan ibu. Si kecil ini sepertinya ingin melihat kampung halaman orang tuanya.”
Jhon mengambil koran di hadapannya. Pura-pura membacanya dengan membentangkannya lebar-lebar hingga menutupi seluruh bagian wajahnya.
“Mas…”
Jhon menarik napasnya. Hatinya tiba-tiba dag dig dug tak menentu. Sudah sejak lama ia tak berani lagi mengingat kata pulang. Tak ada lagi tempat untuknya, sepertinya. Orang kampung pasti akan mengusirnya.
“Mas…”
“Rumah kita sudah kita jual,” jawabnya setengah hati.
Hening di dalam. Di luar Septi tengah bermain sekolah-sekolahan dengan kedua adiknya. Dia jadi ibu gurunya dan kedua adiknya menuruti apa yang diperintahkan Septi kepada mereka.
“Mas…”
“Orang-orang kampung masih membenci saya,” suara Jhon datar. Ia yakin Parni tidak mengetahui isi hatinya.
“Mereka pasti sudah lupa dengan peristiwa itu. Mas tidak punya keinginan untuk melihat kuburan Ibu?”
Koran Jhon lipat. Matanya memandang ke arah Parni.
“Anak ini sudah ingin pulang, Mas….,” Parni menghelus perutnya. “Mas tidak kasihan dengan saya?”
Jhon berdiri dari duduknya. “Nanti saya pikirkan lagi,” ujarnya pelan.
**
“Kita pulang, Bu?” Septi memandang ke arah ibunya. “Kita ketemu dengan eyang?”
Parni tersenyum. Mengangguk.
“Tapi Bapak…” Septi memandang ke arah ibunya. Menundukkan kepalanya. Ia ingat peristiwa beberapa tahun yang lalu. Ia ingat Ibu menangis meraung-raung dan orang kampung berkerumun di muka rumahnya sambil mengelilingi bapak.
“Adikmu ini suka nendang-nendang perut Ibu kalau ibu ingat kampung.”
“Nanti kalau Bapak…”
Parni menggeleng cepat. “Bapakmu sudah lupa sama anak itu.”
“Tapi…”
“Kalau masih ingat pasti sebentar kemudian akan lupa. Dia sudah jadi milik orang,” Parni tersenyum lagi.
Septi memandangi. “Ibu tahu dari mana?”
Parni menggelengkan kepalanya. Menghelus perutnya. Pandangannya menerawang membiarkan Septi menebak jawabannya.
**
“Mbok….”
Pagi sekali Srintil terbangun. Langsung memeluk tubuh Mboknya yang masih tertidur.
Mbok bergerak. Membalik tubuhnya. “Kenapa?” tanyanya.
“Kalau saya jadi istri nanti, Mbok tinggal dengan saya?”
Hening. Jemari Mbok menghelus kepala Srintil.
“Mbok benar. Saya sudah mikir panjang sekali. Tidak ada bujangan yang mau sama saya. Mbok memilihkan orang yang baik untuk saya.”
Mbok masih diam. Matanya memandangi mata Srintil.
“Saya pasti akan jadi istri yang baik, Mbok.”
Mbok menghembuskan napasnya. Berpaling dari Srintil.
Ia tahu anak semata wayangnya kecewa dengan pernikahan yang sudah direncanakan. Tapi Srintil akan lebih kecewa kalau terus-terusan mengharapkan Jhon gemblung datang untuk melamarnya. Sama seperti dirinya. Terlalu banyak berharap sampai akhirnya keletihan sendiri. Sampai akhirnya ubannya menyadarkannya bahwa ia selama ini hanya bermimpi.
“Mbok…”
“Cinta itu cuma bikin sengsara, Nak,” suara Mbok terdengar lirih.
“Tapi kalau saya masih ingat sama Mas Jhon boleh, kan?”
“Apa yang mau kamu ingat darinya?”
Pandangan mata Srintil menerawang. Ia cuma ingin tetap ingat Mas Jhon. Ia cuma ingin di hatinya tetap ada Mas Jhon meskipun nanti dia sudah menikah.
“Mbok masih membenci Mas Jhon?”
“Kamu masih memikirkannya?”
“Mbok juga dulu begitu?”
Hening.
“Kalau saya menikah Mbok nanti sendirian.”
Hening lagi.
“Saya siap menikah, Mbok. Tidak mau bernasib seperti Mbok. Tidak mau mengganggu suami orang lagi.”
Mbok tersenyum. Memeluk Srintil erat sekali.
**
Gending itu terdengar. Sayup-sayup. Di pagi hari yang udara dinginnya masih terasa menusuk kulit.
Jhon berdiri di depan jendela yang terbuka lebar. Gending itu berasal dari rumah yang cahaya lampunya terang. Sama terang dengan warna genteng yang kelihatannya baru terpasang.
Masih terlalu pagi untuk bangun. Ayampun belum berkokok untuk menyambut pagi.
“Bapak…”
Jhon menengok ke belakang. Ada Septi yang baru ke luar kamar. Berdiri memandangnya.
“Mbak Srintil akan menikah…,” Septi mendekat. Menyentuh jemari Jhon.
Hening.
Jhon terharu. Cuma Septi yang tahu perasaannya.
“Bapak kecewa?”
Jhon memandang Septi. Menggeleng. Tegas.
“Bapak tidak kecewa?”
Jhon menelan ludahnya. Menghelus kepala Septi. Anaknya yang paling besar ini sama sekali tidak pernah menyalahkannya. Tidak pernah juga mau berpihak padanya atau pada Parni.
“Bapak mau datang ke sana bersama Ibu?”
Jhon mengangguk.
“Kadonya apa?”
“Permen…,” jawab Jhon sambil tersenyum.
**
“Kamu tidak menyesal, Dik?”
Dalam balutan kebaya berwarna putih wajah Srintil kelihatan cerah dan berser-seri. Mbok kelihatan sumringah dan menebar senyum setiap saat.
“Kamu tidak menyesal, Dik?”
Srintil menoleh ke arah Mas Andi. Pukul delapan tepat nanti pak penghulu akan datang dan menikahkan mereka. Semua perlengkapan sudah dipersiapkan. Ia dan Mas Andi tinggal duduk dan mengucapkan ijab kabul.
“Dik?”
Srintil menggeleng. Menggandeng tangan Mas Andi erat sekali.
**
“Kita jadi datang, kan?” Parni berdiri di depan cermin. Memandang ke arah Jhon yang sedang mengamati baju batik yang berada di atas tempat tidur. “Mas mau pilih yang mana? Itu yang paling cocok dengan Mas. Saya beli sebelum kita pulang ke sini. Bapak sampai naksir sama batik itu lho, Mas?”
Jhon memandangi Parni. “Kita kembaran?”
Parni mengangguk. “Kebetulan saya juga dapat motif yang sama untuk baju ini. Heran ya, Mas, batik sebagus ini justru kita dapatkan di tempat orang.”
“Kita kembaran?” Jhon mengulang. Lebih keras.
Parni mengangguk. Mematut dirinya di depan cermin. “Sekali-kali tidak apa-apa toh, Mas? Kapan lagi? Dengar-dengar sehabis ini Srintil akan diboyong suaminya ke daerah lain. Buka usaha di sana. Di pasar usahanya dikasihkan ke saudaranya. Mungkin suaminya takut kalau….,” Parni seperti sengaja menggantung kalimatnya. Memandang ke arah Jhon. Lalu cepat berpaling ketika Jhon juga memandangnya.
Hening di kamar. Di luar kedengaran suara Septi yang merayu adik-adiknya untuk tidak merengek karena ingin ikut dengan kedua orang tuanya.
“Mas kecewa?” Parni bertanya. Pelan dan hati-hati.
“Celana yang cocok untuk batik ini yang mana?” Jhon mengambil beberapa celana panjang dari dalam lemari.
“Mas kecewa?” Parni bertanya. Menghelus perutnya.
Jhon memandang. “Sudah bertahun-tahun yang lalu,” menghembuskan napasnya.
“Barangkali Mas masih mengingatnya…..”
Jhon menggeleng.
“Sungguh?”
Jhon mengangguk. Memandangi Parni. “Kamu masih saja mencurigainya,” suaranya pelan.
Parni menggeleng. Menghelus perutnya. “Saya percaya.”
**

Mereka bertemu. Saling berpandangan. Hanya sekilas dan mencuri-curi. Srintil menarik napasnya. Mencoba tetap tersenyum ketika menyalami tamu undangan.
Mas Andi kelihatan tidak perduli. Hanya Mbok kelihatan resah. Mungkin takut kalau-kalau Srintil berbuat nekad.
Dia tidak berubah. Hanya uban di kepalanya mulai banyak terlihat. Tapi baju batik yang dikenakannya membuat Mas Jhon semakin gagah saja kelihatannya.
“Kamu tidak capek, Dik?”
Srintil menggeleng. Membalas genggaman tangan Mas Andi.
Dada Srintil bergemuruh. Sebentar lagi mereka akan bertemu. Bersalaman. Ia berharap ia tidak pingsan dan Mbak Parni tidak menampari wajahnya.
Satu, dua…, Srintil menghitung dalam hati sambil memejamkan matanya. Sebelum hitungan sepuluh selesai diucapkan dalam hati, Mas Adi menepuk bahunya. Rupanya ia tadi sempat memejamkan mata hingga tidak melihat keberadaan tamu yang lain yang sudah mendekat ke arahnya.
Satu, dua, tiga dan….
“Selamat ya, Dik Srintil…,” ciuman di pipi itu terasa tulus. Tapi pandangan mata itu sepertinya masih menatapnya curiga.
Srintil tersenyum pada Parni. “Sudah berapa bulan?” tangannya menghelus perut Parni.
“Empat bulan. Cepat-cepat menyusul, ya?” Parni ikut tersenyum. “Anak ini sudah kangen sama kampung orang tuanya. Setiap hari saya jadi ingin pulang ke sini.”
Srintil masih tersenyum. Meski sebenarnya hatinya semakin resah. Terlebih ketika akhirnya Mbak Parni melangkah dan Mas Jhon berdiri di hadapannya.
“Selamat ya, Dik…”
Suaranya mengambang. Tatapannya hanya sesaat mengarah kepada Srintil. Jemarinya terasa dingin dan menggenggam jemari Srintil erat sekali.
Lewat ekor matanya Srintil dapat melihat tatapan Mbok yang kurang suka pada ‘pemandangan’ yang sedang terjadi.
“Akhirnya pulang, Mas….,” Srintil sendiri tidak tahu kenapa kalimat itu terucap dari bibirnya. Ia menggigit bibirnya. Tiba-tiba saja ia ingin menangis. Perasaannya tidak bisa dibohongi. Sosok di hadapannya masih terlalu erat berada di hatinya.
“Bulan madu ke mana, Dik?”
“Mau saya boyong Srintil ke luar Jawa, Mas Jhon. Anak-anak saya juga ikut. Mereka sudah dekat sekali dengan Srintil. Bahkan mereka memanggil Srintil Ibu Srintil,” Mas Andi yang menjawab.
Srintil menunduk.
Bayangan peristiwa beberapa tahun yang lalu tiba-tiba berkelebat di kepalanya. Ia ingat kenekatannya. Ia ingat orang-orang kampung yang mengepungnya. Ia ingat emosi kanak-kanaknya yang Mbok bilang seperti orang kena guna-guna.
Hening. Srintil diam. Juga Jhon.
“Mas….” Mbak Parni memanggil.
Jhon mengulurkan jemarinya lagi ke arah Srintil. Kali ini lebih erat. Srintil melakukan hal yang sama.
“Selamat, ya?”
Srintil mengangguk. Menahan air matanya.
Untunglah setelah itu ada hiburan tari-tarian dari pemuda kampung yang mengisi acara dengan suka rela.
Mas Andi dan Mbok tersenyum-senyum menikmati. Srintil merasa hatinya sudah terbang bersama pamitnya Mas Jhon.
**

Setelah Itu….
Tentang Srintil

Kemarau. Angin menerbangkan debu-debu yang menempel di lantai keramik berwarna putih. Kipas angin berputar cukup keras. Menerbangkan helai-helai rambut Srintil yang panjang terurai.
Srintil berdiri di muka pintu. Memandangi kedua anak Mas Andi yang tengah bermain berkejaran. Saling melempar debu.
Ia menghelus perutnya. Sudah cukup membesar. Beberapa hari lagi Mbok akan datang untuk menyaksikan kelahiran anak pertamanya. Tidak ada berita apa-apa yang Mbok bawa dari kampung sana setiap kali Srintil bertanya. Mbok Cuma bilang semua baik-baik saja. Hanya saja Mbok sering merasa kesepian karena itu Mbok mengambil salah satu anak kampung untuk diperliharanya. Masih kecil. Tetangganya Wanti yang baru kehilangan Ibu.
Mbok juga cerita soal Ita yang sering datang ke rumah untuk menanyakan keadaannya. Juga Wanti yang baru saja melahirkan anak kembar. Selebihnya Cuma tentang tetangga lainnya. Sama sekali tidak ada cerita tentang Mas Jhon…
“Bu…,” seseorang anak mendekat. Memandang Srintil. “Aku mau adik laki-laki,” Yana yang berkucir meleletkan lidah ke arah adiknya yang ikutan berlari ke arah mereka.
“Kalau kamu?” Srintil bertanya pada Bowo.
“Perempuan. Tapi tidak cerewet seperti Mbak Yana,” tangannya menarik rambut Yana yang panjang dan berkucir.
Yana meleletkan lidahnya.
Bowo juga. Lalu Bowo menarik rambut Yana lagi. Mereka saling berkejaran. Kembali ke halaman.
Srintil memandangi sambil menghelus perutnya.
Entah kenapa tiba-tiba ia kangen Mas Jhon.
**
“Kalau anak kita laki-laki bagaimana, Mas?”
Andi memandangi Srintil. Menghelus perutnya. “Memangnya kenapa?”
Srintil menarik napas panjang. “Saya ingin kasih nama untuknya…”
“Terserah kamu…”
Mas tidak keberatan?”
Andi menggeleng. “Kalau anak perempuan nanti jatah saya, kan?”
Srintil mengangguk.
“Mau dikasih nama apa?”
Hening.
Srintil seperti berpikir.
“Sudah punya daftar nama yang bagus, Dik?”
“Jhon…,” bisiknya pelan sekali.
Andi memandangi. Tak berkomentar. Hanya menghelus perut Srintil saja.
**
“Mbok….”
Mbok datang pagi-pagi sekali. Mas Andi yang menjemput di pelabuhan. Barang bawaan Mbok banyak. Katanya oleh-oleh untuk cucunya yang pertama.
Srintil mulai merasakan perutnya mulas sejak semalam. Untunglah mereka bertetangga dengan dukun beranak. Ketika Mas Andi menjemput Mbok, Srintil sudah dititipkan pada dukun itu.
“Sakit…”
Mbok mengangguk. Menghelus rambut Srintil.
“Kalau sakit di bagian pantas itu berarti bayinya laki-laki. Anak laki-laki bisa menjaga kamu sampai tua nanti.”
“Tidak seperti saya ya., Mbok. Cuma bikin susah.”
Mbok menggeleng.
Srintil memandangi Mboknya. “Mbok tidak marah?”
“Kenapa?”
“Kalau anak ini lahir….,” Srintil meringis kesakitan sambil matanya memandangi mata Mbok. “Mau saya kasih nama Jhon…”
Mbok diam.
Tak memberi komentar.
“Boleh, kan?”
Mbok hanya tersenyum. Tipis sekali.
**

Tentang Jhon
Setiap kali Jhon melewati rumah Srintil, setiap itu pula ia merasa ada yang tidak bisa dibohongi. Perasaannya yang masih berdegub tak menentu meskipun ia tahu pengharapannya hanyalah pengharapan konyol saja.
Septi yang paling tahu tentang perasaannya. Setiap hari Septi pasti mengajak kedua adiknya untuk jalan-jalan naik sepeda. Menemani bapak, katanya ketika berpamitan pada eyang. Dan biasanya Septi akan mengajaknya untuk melewati rumah Srintil.
“Bapak masih suka kangen dengan Mbak Srintil?” Septi bertanya suatu sore padanya ketika memergoki ia sedang melamun di muka jendela.
Jhon menggeleng.
“Saya juga suka kangen sama Mas Aryo, Pak. Kata teman saya itu namanya cinta. Tapi kalau saya masih cinta monyet.”
“Kamu…”
“Kalau Mbak Srintil mau sama Bapak, bagaimana?”
Jhon memandangi Septi. Menghleus kepalanya. Anaknya yang satu itu selalu saja tidak membela siapapun. Septi paling tahu bagaimana harus bicara di depan orang.
“Hayo, Pak…”
Jhon menggeleng.
“Istri orang?”
Jhon menggeleng lagi.
“Kenapa?”
“Ibumu yang paling baik buat Bapak….”
Septi memandangi. Memeluk bapaknya.
**
“Bapak lucu….”
Jhon memandangi Ratno yang berada di dekat Septi. Deretan gigi Ratno yang hitam terlihat jelas ketika anak itu cengengesan ke arahnya.
“Memangnya kenapa?”
Ratno tertawa lagi. Kali ini mendekati Jhon yang sedang menggendong adiknya yang paling kecil. Tangan Ratno menghelus tangan adiknya yang sedang tertidur dalam pangkuan Jhon.
“Kata Eyang, nama Srintil itu seperti burung genit. Bapak kasih nama itu biar adik seperti burung, ya?”
Jhon memandangi Ratno dan Srintil yang berada di pangkuannya.
Nama itu bukan idenya. Parni yang memintanya memberi nama itu sebelum melahirkan. Ia begitu kepayahan hari-hari belakangan ketika akan melahirkan. Tubuhnya lemah. Tidak bisa apa-apa. Setelah melahirkan ia pendarahan hebat. Dokter bilang tidak tertolong lagi. Kata-kata terakhir yang Jhon ingat hanyalah titipan Parni untuk memberi nama Srintil bila anakya yang lahir perempuan.
Sejak saat itu Jhon justru semakin menghargai Parni. Menghargai perasaan Parni kepadanya. Di hadapan jenazah Parni ia berjanji tidak akan menikah lagi meskipun andai Srintil menjanda.
“Srintil artinya burung ya, Pak?”
Jhon menggeleng.
“Srintil artinya…., kata Bu de artinya orang jahat. Perempuan jahat, aduh…,” rupanya kaki Ratno diinjak oleh Septi.
Jhon menghembuskan napasnya. Memandangi Srintil yang tertidur pulas.
“Pak…”
“Ibumu yang kasih nama adikmu,” ujar Jhon akhirnya.
“Tapi ibu kan tidak suka burung.”
Jhon baru akan membuka mulut ketika akhirnya nama Ratno kedengaran dipanggil. Samar-samar ia mendengar ibunya Parni memarahi Ratno di belakang.
**

Ketika Akhirnya Bertemu….

“Pulang?”
Mbok menganggukkan kepalanya. Memandang ke arah Srintil.
“Tapi…”
Mbok kesepian di sana. Tidak bisa bolak-balik terus-terusan menengok kamu. Tinggal di sini Mbok seperti orang asing. Mbok ingin mati di tempat Mbok cari makan.”
Srintil memandangi wajah Mbok. Sudah cukup tua. Seluruh kepalanya sudah dipenuhi dengan uban.
“Bagaimana?”
Mas Andi sudah meninggalkan Srintil beberapa tahun yang lalu.Mas Andi menderita penyakit darah tinggi. Sebelum meninggal, Mas Andi sempat stroke selama beberapa bulan. Dokter bilang sudah terlambat mengobatinya.
“Kamu mau, kan?”
Srintil memandangi Mbok lagi. Mata Mbok yang mengarah kepadanya seperti berharap banyak padanya.
“Rumah di sini dikontrakkan saja. Biar kamu bisa ke mari menengok kuburan suamimu.”
Hening.
Hanya suara angin yang cukup kencang kedengaran. Debu-debu yang berterbangan kelihatan jelas sekali tertimpa sinar matahari yang cukup terik.
“Bagaimana?”
Srintil memandangi Mbok. Lama.
Mbok kelihatan cukup serius mengajaknya. Mungkin Mbok sudah tidak ingat peristiwa yang lalu. Tapi sungguh, Srintil masih ingat jelas. Terlebih pada Mas Jhon. Terkadang ia memang memimpikan bertemu Mas Jhon. Hanya bertemu saja. Tidak lebih. Sepeninggal Mas Andi ia sudah berjanji tidak akan mencari pengganti Mas Andi. Tak ada laki-laki sebaik Mas Andi yang mau menerima apa adanya. Mbok benar untuk yang satu itu. Dan Srintil bersyukur Mbok menjodohkan ia dengan Mas Andi.
“Bagaimana, Nduk?” ulang Mbok. Pandangannya mengarah ke luar. Yana sedang memarahi Jhon yang meraung-raung di tanah. Tapi segera berhenti ketika namanya Srintil panggil. Anak itu langsung berlari mendekati Srintil.
Srintil menghelus kepala Jhon.
“Kamar untuk kamu sudah Mbok persiapkan…”
“Mbok sungguh-sungguh?”
Mbok mengangguk. “Kalau Mbok mati, Mbok mau kamu ada di samping Mbok,” Mbok menarik napas panjang.
Srintil mengangguk. Entah kenapa hatinya terasa lega.
**
“Namanya Bu le Srintil…,” Ratno tertawa memandang ke arah Septi. “Sama kayak kamu,” telunjuknya diarahkan ke kepala Srintil. “Baru datang dari Kalimantan. Eyang bilang hati-hati nanti Srintil ketularan jadi burung genit.”
Kali ini ganti satu telunjuk Septi yang diarahkan ke kepala Ratno.
“Rumahnya di situ. Nanti saya main ke sana, ya, Mbak? Tadi ke sana dikasih permen dari sana. Enak sekali rasanya, Mbak. Kalau Srintil saya ajak pasti Bu le itu suka karena namanya sama,” Ratno meringis. Menarik tangan Srintil. “Kamu mau permen apa jeruk? Kalau kamu nanti mintanya jeruk sama apel, ya?”
Srintil menganggukkan kepalanya. Rambut kucirnya ikut berayun-ayun.
Septi melotot.
“Anak-anak banyak yang datang ke sana!” Ratno melotot. “Eyang lagi pergi kondangan. Pulangnya sore,” Ratno menarik tangan Srintil lagi. “Bapak lagi tidur. Lagian kata Bapak, saya boleh main ke mana saja asal masih di kampung sini. Kata Bapak saya sudah besar.” Mata Ratno melotot.
Srintil meringis. Memperhatikan kedua kakaknya.
“Hayo pergi…,” Ratno menarik tangan Srintil. Berlari ke luar rumah. Septi berteriak. Tidak mengejar. Hanya menggelengkan kepala saja.
Di dalam kamar Jhon mendengarkan semuanya. Hatinya mendadak menjadi berdebar-debar tak menentu.
**
Di suatu senja. Ketika angin menerbangkan daun-daun dan mendung terlihat jelas di langit sore, mereka bertemu. Tidak sengaja. Di suatu tempat, dekat sungai, di mana sebelum sebuah bangunan rumah yang belum jadi dibangun terdapat sebuah sawah terbentang.
Srintil menarik napas dalam-dalam. Memejamkan matanya beberapa saat. Ia masih harus menyadarkan diri bahwa ia sekarang berada di alam nyata.
“Bu…”
Jhon yang digandengnya menarik-narik tangannya. Tersenyum pada gadis di dalam gendongan Mas Jhon.
“Apa khabar?”
Seluruh kepala Mas Jhon sudah dipenuhi uban. Tapi ia kelihatan begitu dewasa.
“Bu…” Jhon berlari. Ke arah sungai.
“Jhon!” Srintil memanggil. Terlepas begitu saja dari mulutnya. Lalu mengejar Jhon.
Di dalam gendongan Mas Jhon, Srintilpun memberontak. Mas Jhon menurunkan. Srintil kecil berlari mendekati sungai juga. Memandangi Jhon. Lalu mereka saling meringis.
Srintil menarik napas panjang.
Jhon juga begitu.
Ketika mendung akhirnya menurunkan hujan, keduanya memanggil anak mereka masing-masing. Berpisah tanpa mengucapkan kata perpisahan.
“Yang itu namanya Pak de Jhon?” tanya Jhon pada Srintil.
Srintil mengangguk.
“Sama dengan saya?” Jhon cengengesan.
Srintil mengangguk. Tersenyum sendiri.
Di tempat yang lain sambil berlari-lari Jhon memeluk Srintil kecilnya erat sekali. Seerat ia memeluk masa lalunya.

Memahami Pikun

10274015_10152252934958591_596811819218095025_n

Lumpuhkanlah ingatanku
Hapuskan tentang dia
Hapuskan memoriku tentangnya

(Lumpuhkan Ingatanku –Geisha)

Ada banyak cerita pikun mengalir ketika saya dan teman-teman sekolah dulu bertemu, Pikun yang maksud tentu saja lupa, bukan pikun seperti yang dialami para manula di atas tujuhpuluh tahun.
Pikunnya teman-teman ini saya sadari ketika bertemu dengan mereka pada sebuah acara kumpul-kumpul, atau sekedar chating di sosial media. Beberapa teman mengalami pikun yang agak akut menurut saya. Karena ia lupa kejadian penting yang justru ingatan saya masih segar untuk itu. Beberapa teman yang lain bahkan tidak lagi mengenali saya sebagai bagian dari teman bermain mereka.

Cerita pikun bukan cerita yang aneh untuk setiap dari kita yang merangkak naik usianya. Untuk saya, cerita pikun itu justru bisa disederhanakan menjadi suatu hal yang penting.
Pikun adalah proses dari tahu menjadi tidak tahu. Dari ingat menjadi tidak ingat.
Ketika bayi, kita terlahir sebagai makhluk polos, tidak tahu apa-apa. Polos seperti selembar kertas putih belum ada coretan sama sekali.

Lalu dari bayi yang tidak tahu itu, kita mendapat pelajaran sehingga menjadi momen tahu ketika beranjak sebagai anak-anak atau anak kecil. Beranjak lagi kita menjadi individu yang semakin tahu dan sering dibilang sok tahu ketika remaja. Lalu proses itu berlanjut lagi sehingga pengalaman hidup yang kita lalui dan ilmu yang kita dapat, sering membuat kita merasa paling pintar hingga sering juga kita merasa orang lain bodoh.

Menjelang tua, semua pengetahuan yang bersarang di otak itu terkikis pelan tapi pasti. Menahan ingatan bisa dilakukan dengan kegiatan membaca. Hanya saja banyak yang mengabaikan hal ini dikarenakan memang mayoritas manusia menganggap bahwa membaca adalah kegiatan yang menyebalkan. Budaya mendengar dan menonton lebih dinikmati ketimbang membaca.

Mengenai pikun, lambat laun kita akan pikun juga. Biasanya bermula dari lupa hal-hal kecil terlebih dahulu dan kemudian melebar menjadi lupa dengan hal-hal besar. Bahkan hingga akhirnya benar-benar lupa apa yang sudah kita lewati dalam hidup kita. Beberapa manula bahkan lupa untuk mengenali siapa teman dekat dan anak-anak mereka.
Pikun itu hukum alam. Sama seperti hukum alam bahwa selamanya daun itu tidak selalu hijau warnanya. Daun akan berubah warna menjadi kuning dan setelah kuning akan gugur menjadi daun yang kering.
Kita akan menyesali kepikunan bila kita tidak memahami maknanya.

Bersyukur Kita Pikun

Kita pernah menjadi selembar kertas kosong tanpa coretan dan bila kembali dalam kondisi kosong tak mengenali coretan yang sudah kita tulis dalam kertas hidup kita, maka itu adalah hal yang wajar dalam hidup. Seperti roda ada saatnya berada di atas dan saatnya berada di bawah.
Kita pernah menjadi bayi. Tidak ingat apa-apa. Masih kosong. Ingatan anak-anak dimulai pada usia sekitar tiga atau empat tahun. Di usia sebelumnya bayi-bayi tidak ingat apa perlakuan orangtua mereka pada mereka. Mereka hanya bisa melihat kenangan itu dalam bentuk foto dan cerita.

Bertambah besar, ingatan semakin bertambah. Bahkan anak-anak mengingat lebih banyak tentang orangtua yang rewel dan suka mengomel.
Kita tidak diberi ingatan ketika orangtua tidak tidur di malam hari untuk mengurus kita dan resah hingga tak mampu tenang ketika kita tergolek sakit.
Tidak ada ingatan akan masa-masa tersulit sebagai orangtua di awal kehadiran kita itu, mungkin yang membuat kita menjadi tidak sabar ketika mengurus orangtua yang sudah beranjak tua dan diserang pikun. Mereka kembali ke masa awal menjadi bayi. Kita tidak punya pemahaman tentang hal itu.

Pikun atau lupa bisa menyerang siapa saja. Bahkan pada kondisi tertentu saya sendiri bersyukur ada hal-hal memang yang harus saya lupakan dan tidak perlu mengingatnya lagi.
Sebab hidup kita tidak selalu manis. Teman kita tidak selalu baik. Bahkan perjalanan hidup yang kita lalui tidak selalu semulus jalan tol.
Mengingat yang manis tentu saja tidak akan mendatangkan masalah. Yang menjadi masalah adalah ketika ingatan tentang hidup yang manis di masa lalu, membuat kita malas bergerak untuk berada di kehidupan sulit yang memang sedang kita jalani.

Saya bersyukur beberapa hal manis saya lupakan. Hal-hal manis ini yang membuat saya pasti akan terlena ketika menjalani hidup di masa sekarang ini. Ketika saya melupakannya saya berada pada satu titik untuk terus berjuang dan terus berjuang lebih baik lagi.
Saya sengaja pikun untuk prestasi yang saya dapat. Tujuannya agar saya merasa kembali menjadi orang yang nol prestasi dan berjuang untuk menorehkan prestasi.
Saya juga bersyukur diserang pikun pada orang yang menyakiti saya. Sebab sakit dari mereka itu jsutru yang membuat saya belajar lebih baik lagi di kehidupan ini.
Pikun untuk hal-hal yang memang harus kita lupakan untuk saya memang penting. Seperti gigitan seekor semut merah di kulit kita. Jika gigitan itu hanya mengajarkan kita terus mengeluh, bahkan menyumpahi semut merah itu, maka lupakanlah.

Jangan Jadi Pikun

Jika menjadi pikun adalah hukum alam yang memang biasa terjadi pada setiap menusia maka memaksa diri untuk tidak pikun pada hal-hal yang memang seharusnya kita kenang sebagai suatu yang indah, untuk saya menjadi suatu keharusan.
Saya tidak mau lupa atau pikun dengan kebaikan orang lain kepada saya. Saya juga tidak mau lupa dengan segala hal-hal termasuk ingatan kecil yang akan membuat kita bersyukur.
Seorang yang mengajarkan saya bagaimana trik menembus media, masih saya ingat, menempati porsi bukan di salah satu bagian otak tapi menyeluruh. Hingga membuat saya ingin memberi penghargaan padanya dengan mengajarkan pada orang lain bagaimana cara menembus media.

Saya juga tidak mau pikun dengan sekumpulan teman-teman baik sesama penulis yang dimasa merintis menulis dulu, mau bersama-sama mengantar saya ke sebuah media hanya untuk mengirimkan tulisan saya ke salah satu media yang ingin saya tuju.
Seorang yang menyediakan map-nya untuk naskah saya, lalu membawa saya pada seorang kepala di salah satu stasiun televisi untuk menyerahkan skenario milik saya, masih juga saya hapal betul. Bahkan detil peristiwa itu. Itu yang membuat saya juga mau bersabar ketika mengajarkan hal itu pada yang lain.

Atau seorang yang tidak saya kenal yang mengantar saya berjalan dengan jarak cukup jauh hanya untuk mencari satu alamat yang saya tuju, juga tidak mungkin saya lupakan. Apalagi ia mengantar saya dalam keadaan, ia juga sedang tersesat mencari alamat seseorang yang belum juga ditemukannya.
Banyak hal indah dan membuat saya menemukan bahwa selalu ada orang baik di sekeliling kita, ketika saya memutuskan saya mau pikun pada kebaikan mereka.

Pada akhirnya untuk saya, pikun itu adalah proses yang bisa jadi rumit tapi bisa juga jadi sederhana. Hidup boleh saja terus berjalan. Usia boleh bertambah. Sedikit lupa itu hal biasa. Tapi menjadi pikun atau tidak pikun pada akhirnya ada sebuah pilihan.

Anak-anak Menang Lomba Menulis

Attar menang

Bilqis Menang

Salah satu hal yang selalu tekankan pada anak-anak adalah untuk berlatih menulis dan berjuang dengan cara tidak instant.
Tidak instant dalam versi saya adalah anak-anak tidak langsung menghasilkan sebuah buku. Tapi berproses membuat karya dan menembus media.
Berjuang untuk menembus media tentu saja tidak mudah. 32 tahun saya mengalaminya. Perlu kegigihan dan semangat ekstra untuk itu. Apalagi honor dari tulisan yang dimuat di media bisa digunakan untuk membeli berbagai kebutuhan.

Anak-anak di rumah berjuang menulis dan menggambar lalu semua hasil karya mereka saya kirimkan lewat pos.
Attar sudah 15 kali karyanya tembus di media.
Bilqis adiknya 4 kali.
Masalah hitungan angka dimuat itu juga masalah keberuntungan. Atau bisa jadi masalah Attar sudah paham betul karya seperti apa yang dimuat di media. Ia sudah tahu tema yang diinginkan media. Jadi ketika ada moment seperti Ramadhan ia akan menggambar atau membuat tulisan dengan ide moment tersebut.
Bilqis berjuang terus menerus. Kalah bersaing dengan kakaknya. Hampir putus asa. Tapi saya ingatkan untuk terus berjuang.
Alhamdulillah Ramadhan hari kedua, Bilqis menjadi salah satu pemenang lomba “Aku dan Musikku” di penerbit Mizan.
Sebelumnya Attar menang lomba “Aku dan Lingkungan” di penerbit yang sama.

Untuk saya prestasi bukan artinya berhenti. Anak-anak saya buatkan blog. Dan belakangan ini Bilqis senang sekalli mengisi blognya. Dia merasa blog itu seperti buku harian untuknya.
Untuk Attar yang sudah beranjak remaja dan rasa sok tahunya mulai meningkat, saya tetap juga meminta ia menulis di blog. Kesukaannya bermain bola dan melihat pertandingan bola bahkan hapal bagaimana sebuah permainan itu berlangsung, saya mulai memintanya untuk menulis artikel tentang bola.
Semuanya itu bukan berarti membuat mereka harus menjadi penulis.
Paling tidak mereka suka menulis lalu membagikan semua ilmu mereka dalam bentuk tulisan sehingga ilmu mereka akan bertambah.

Prestasi bukan berarti berhenti. Ini hanya anak tangga yang harus mereka lalui dalam hidup supaya mereka sadar, mereka punya potensi yang bisa dibanggakan dan berguna untuk diri mereka sendiri juga orang lain.