Oh Utang – Hikmah Republika

Dan jika (orang yang berhutang itu dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua hutang) itu, lebih baik bagimu jika kamu mengetahui (Al baqarah ayat 280)

Pernahkah berhutang? Entah sesekali atau dua kali atau bahkan kerap kali sehingga ingin menangis rasanya bila membayangkankannya.
Atau bagi yang belum, mungkin pernah terlintas atau punya keinginan memenuhi sebagian standar kehidupan memalui hutang. Memiliki ini dan itu dengan bantuan kartu kredit yang nota bene hutang juga.
Hutang alias meminjam.
Kebanyakan dari kita semoga tidak punya keinginan untuk melakukan hal itu. Terlebih maraknya orang atau instansi yang memberi keringanan pinjaman akan membebani dengan bunga yang akan memusingkan. Dan bunga itu akan berlipat seiring dengan ketidakmampuan kita untuk melunasinya. Belum lagi si penagih hutang yang galak dan kailmat-kalimatnya menyakitkan telinga.
Ada sebagian orang yang berhutang karena tuntutan gaya hidup. Dan ada sebagaian orang yang berhutang karena memang terdesak kebutuhan makan hingga hutang adalah solusi yang paling ujung yang akhirnya harus mereka tempuh.
Coba renungkan, di manakah posisi kita?
Memiliki hutang dan tidak memiliki hutang tentu lain rasa dan bedanya. Tentunya bila yang memiliki hutang itu melakukannya bukan karena tuntutan gaya hidup.
Untuk yang terdesak kehidupannya, dan tidak pernah melakukannya mungkin akan malu rasanya bila berbelanja di sebuah warung dan mengatakan akan membayarnya kalau ada uang.
Tapi bila hal itu kerapkali dilakukan, mungkin rasa malu itu akan beralih fungsi menjadi bebal hingga tidak sungkan untuk mengingkari janjinya.
Andai kita tidak berada dalam posisi seperti itu, dan tentunya selain kita harus mensyukuri ada satu hal lagi yaitu kita harus empati.
Empati bila ada seorang teman atau tetangga yang tiba-tiba mengetuk pintu rumah kita dan membutuhkan dana serta memberikan janji kapan akan membayar hutang itu.
Empati itu juga berarti bahwa kita harus tahu benar bahwa yang akan dipinjami uang itu adalah orang yang benar-benar terdesak kebutuhannya. Bahwa kita juga akan berani tegas untuk menagihnya pada saat yang tepat. Karena kadang ketidaktegasan dan ketidakenakkan hati membuat sebuah hubungan menjadi tidak berlangsung dengan baik setelah itu.
Bila ternyata empati kita masih kurang tepat karena yang kita pinjami uang ternyata adalah orang yang tidak amanah dan selalu mengingkari hutangnya. Mungkin yang harus kita lakukan hanyalah berbesar hati serta percaya bahwa ini adalah pelajaran untuk kita dan mungkin kita bisa membagi pelajaran itu untuk orang lain agar tidak terkena akibat seperti kita.
Tapi yang sebaik-baiknya yang harus kita lakukan adalah membuka telinga lebar-lebar. Mata hati kita kuak sehingga terbuka.
Adakah orang di sekeliling kita yang kelaparan yang malu untuk meminjam pada tetangganya sehingga harus berpuasa demi untuk menekan rasa laparnya? Untuk yang satu ini kita wajib bersedekah dan membagi kekenyangan kita pada mereka.
Untuk yang merasa beban kehidupan semakin beratnya tapi tidak ingin membebani kehidupan dengan hutang, percayalah. Semakin ikhlas dan semakin banyak memberi, meskipun dalam keadaan terjepit, meskipun itu hanya pertolongan untuk menyebrangkan jalan, maka pintu rezeki akan terbuka. Mungkin saja ketika kita menginginkan sesuatu, tetangga kita akan mengetuk pintu rumah kita dan memberikan sesuatu pada kita.
Percayalah.

Air Mata Bunda Sudah Mengering

“Sudahkah Bunda tahu ada wanita lain di hati Ayah?” tanya Arlen pada suatu malam ketika ia tidak bisa tidur dan Bunda kelihatan sibuk dengan bukunya di depan televisi yang menyala.
Bunda tersenyum. Ada dekik di kedua pipinya. “Kamu jangan suka menuduh sembarangan..,” Bunda menghelus kepala Arlen. “Buku ini bagus sekali. Nanti kalau Bunda sudah selesai kamu bisa membacanya.”
Arlen diam. Kesukaan Bunda selalu begitu. Menghabiskan waktu dengan membaca. Di mana-mana di dalam rumah selalu ada buku. Buku di ruang tamu dan di kamar berbeda. Dan buku-buku itu adalah milik Bunda.
“Seseorang yang pulang terlambat bukan berarti melakukan perselingkuhan, Sayang. Kamu kenal Ayahmu dengan baik, kan?”
Arlen diam. Membayangkan Ayah. Seorang Ayah yang jarang ditemuinya ketika siang. Baru pulang ketika malam. Itupun tidak dijumpai ketika ia berangkat sekolah pagi-pagi.
Seorang Ayah yang kata teman-temannya ketika melihat fotonya mengatakan cukup tampan. Seorang Ayah yang bahkan pada hari minggu sekalipun tidak pernah meluangkan waktu untuknya.
“Sudahkah Bunda mengerti…”
“Ssst..,” Bunda meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya.
“Tapi kalau Ayah…”
“Ayahmu mencari uang untuk kita berdua..”
Kinan diam. Sulit sekali bicara dengan Bunda mengenai Ayah. Yang ada di kepala Bunda hanya yang baik-baik saja tentang Ayah.
Kemarin, Arlen melihatnya. Siapa lagi kalau bukan Ayah? Di sebuah mall. Menggandeng mesra tangan perempuan berbaju seksi seumurannya.
“Bunda..”
“Nanti Bunda telpon Ayah dan minta Ayahmu untuk meluangkan waktu untukmu agar curigamu hilang, ya?’ kali ini Bunda menghelus kepala Arlen. “Sekarang tidur sana..”
Arlenpun tidak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti kata-kata Bundanya.
**
“Jadi Bundamu tidak percaya?’ tanya Sisi pada Arlen di sekolah.
Arlen menggelengkan kepalanya.
“Jadi Bundamu tidak mau mengerti juga kalau yang kamu lihat itu benar Ayahmu?”
“Bunda justru melarang aku berpikiran buruk pada Ayah.”
“Tapi itu kan Ayahmu. Berjalan dengan anak sepantaran kita.”
Arlen mengangguk sedih.
“Atau mungkin kamu harus bicara langsung pada Ayahmu?”
Arlen diam.
Bicara langsung pada Ayah? Rasanya tidak mungkin. Bukan karena selain jarang sekali bertemu tapi karena ia merasa kurang akrab dengan Ayahnya itu. Yang ia ingat dengan jelas bahkan ketika kecilpun ingatan tentang Ayah kabur.
Foto-foto kenangan masa kecil hanya banyak berisi ia dan Bunda. Ada sekali bersama Ayah. Satu-satunya. Ketika mereka berenang di pantai. Dan foto itu yang ia pajang di kamar dan terkadang ia pandangi ketika mengkhayalkan situasi seperti itu terjadi lagi.
“Mungkin kamu harus bicara langsung dengan Ayahmu.. Mungkin saja benar kita salah lihat atau kalau benar kita melihatnya itu adalah Ayahmu dengan saudaramu yang lain.”
Tapi Arlen tidak pernah mengenal saudaranya yang lain.
“Aku jadi takut kalau kita salah lihat…”
Arlen mengingat terus nasehat dari Sisi itu.
**
“Katakan apa yang ingin kamu bicarakan pada Ayahmu mungkin nanti Bunda yang akan menyampaikannya langsung..”
Arlen menghembuskan napasnya. “Saya ingin bicara langsung dengan Ayah, Bunda. Pembicaraan seorang anak dengan Ayahnya. Apa tidak boleh?”
“Tapi Arlen..”
“Saya bukan anak kecil lagi, kan?”
Bunda diam. Menarik napas panjang.
“Mungkin saya salah lihat dan ingin tahu apakah benar salah lihat.”
“Anggap saja benar kamu salah lihat.”
Arlen tidak suka kalimat itu.
“Anggap saja kamu salah lihat, Nak,” ulang Bunda menundukkan wajahnya.
Arlen menggeleng. “Mungkin saya akan ke mall lagi dan nanti kalau bertemu dengan Ayah kembali, saya akan langsung bertanya..”
“Arlen…”
“Saya sudah besar, Bunda,” ujar Arlen dengan emosi meninggalkan Bunda untuk masuk ke dalam kamarnya.
**
Malamnya Arlen menunggu. Tapi seorang Ayah yang diharapkan tidak datang. Bunda seperti biasa memang selalu menunggu. Sambil membaca buku. Entah jam berapa akhirnya Bunda masuk ke dalam kamar. Mungkin letih dengan penantiannya.
“Kalau siang ini saya bertemu dengan Ayah di mall..”
Bunda menarik napas panjang.
“Bunda relakah?”
Bunda mengangguk. “Kamu sudah besar. Dan kamu berhak melakukannya karena kamu adalah anaknya.”
Arlen puas.
**
“Tidak boleh ikut kata Ibuku,” ujar Sisi menolak ketika pulang sekolah Arlen mengajaknya ke mall.
“Kenapa?”
“Ibuku bilang itu masalah kamu dan akhirnya kamu bisa menemukan jawabannya. Tapi aku tidak boleh ikut campur.”
“Tapi…”
“Ibu bilang, jawabannya ada di Bundamu…”
“Tapi Ayah itu…”
“Bundamu, Len. Coba tanyakan padanya…”
Arlen diam. Merenungkan.
**
“Bunda sebenarnya tahu apa jawabannya, kan?” pulang sekolah Arlen langsung menanyakan hal itu pada Bunda. Bunda yang sedang dudukdi teras dengan pandangan mata menerawang.
Bunda memandang wajah Arlen.
“Ini soal Ayah…”
“Apa yang harus Bunda jelaskan, Sayang..?”
Arlen diam.
“Ayahmu laki-laki sibuk…”
“Tapi Ayah berjalan bersama perempuan lain dan saya melihatnya dalam sebuah mall.”
Bunda tesenyum.
“Apakah Bunda tidak punya air mata lagi bila mengetahui hati Ayah sudah mendua?”
Bunda mendekat pada Arlen. Memeluknya. “Air mata Bunda sudah mengering dan Bunda tidak memilikinya lagi.”
Arlen tidak mengerti.
“Seseorang yang bersama Ayahmu itu mungkin anaknya..”
“Bunda..”
Bunda tersenyum. “Bunda hanya istri simpanan Ayahmu, Sayang. Dan Bunda menyadari keadaan itu, makanya Bunda tidak pernah ingin menangisi keadaan ini.”
“Tapi..”
“Maafkan Bunda, ya?”
Arlen diam.
Kaget.
Tapi tidak ada air mata yang luruh di pipinya.
Mungkin ia juga sudah tidak memiliki air mata lagi seperti halnya Bunda.
**

Berhenti Memikirkan Apa Kata Orang

LB

Apa kata orang lain sering menjadi panduan untuk individu tertentu melangkah. Apa kata orang lain bahkan sering juga membuat seorang kita ingin menghentikan langkah yang sudah kita bangun karena kita tidak enak hati dengan orang lain.
Orang lain menjadi acuan adalah hal yang wajar karena kita makhluk sosial. Kita tidak mungkin hidup sendiri tanpa orang lain. Dan kita banyak dididik untuk toleransi dan menyenangkan orang lain dengan cara yang salah yaitu menekan keinginan kita hanya karena tidak ingin orang lain menjadi tidak nyaman.
Kita dilarang bicara tegas pada orang yang kita tidak sukai, karena takut orang itu sakit hati. Kita dilarang menolak permintaan orang lain, karena itu tandanya kita bukan individu yang baik.
Mitos-mitos tentang bagaimana berhadapan dan bersikap pada orang lain dengan mengenyahkankan keinginan dan kenyaman pribadi, pada akhirnya membuat kita bukan menjadi pribadi yang toleransi. Tapi menjadikan kita pribadi yang takut bersikap.
Salah satu sikap yang banyak terjadi adalah dengan selalu memikirkan apa kata orang lain.
Mendengarkan apa kata orang lain tentu saja baik, jika yang kita dengarkan adalah kalimat yang ke luar dari orang yang baik.
Tapi mendengarkan apa kata orang lain, hanya karena ukuran mereka adalah standar lingkungan tempat mereka berada, sedang kita ingin merubah lingkungan itu, tentu menjadi tidak baik jadinya.
Novelis Jerman, Johann Wolfgan Van Goethe mengatakan bahwa hal-hal yang paling penting seharusnya tidak pernah dikalahkan oleh hal-hal yang sebenarnya adalah masalah kecil.
Jika apa yang dikatakan orang lain menurut kita adalah sesuatu yang kecil, sedang mimpi kita jauh lebih besar, harusnya kita tutup telinga dan terus melaju.
Beberapa hal di bawah ini bisa kita lakukan agar kita terhindar dari terlalu fokus pada mendengarkan apa kata orang lain :

It’s My Life
Sedikit egois kedengarannya dengan mengungkapkan kalimat ini. Ini hidup kita. Kita tahu betul mana yang baik dan mana yang benar. Langkah-langkah kita sudah kita prediksi sebelumnya dan jika kita salah kita yang akan menanggungnya.
It’s my life, meyakini bahwa kita sudah melakukan yang terbaik tentu saja membuat kita paham bahwa apa yang kita lakukan benar. Dan benar itu artinya hasil dari intropkesi panjang yang sudah kita lakukan tidak asal bersikap saja.
Ini hidup kita tentunya bukan hanya sebagai jargon tapi harus benar-benar memahami jika yang kita jalani adalah bagian dari mimpi kita. Jika kita berhak melakukan apapun dengan hidup kita, harusnya kita juga menyeimbangkan dengan pemahaman bahwa kalimat di atas akan efektif untuk diri kita dan orang banyak bila kita melakukan hal yang sifatnya positif.
Tentunya kita juga harus menyadari bahwa semakin dewasa kita itu artinya semakin dewasa juga dalam bersikap dan bertindak. Tindakan it’s my life yang orang dewasa lakukan tentunya berbeda dengan apa yang anak baru beranjak remaja lakukan.

Kita Diperhatikan
Seorang membicarakan kita entah itu di belakang kita atau justru di depan kita, itu artinya satu, mereka memperhatikan kita. Sedemikian perhatiannya mereka pada kita hingga titik terkecil dari diri kita juga mereka perhatikan.
Bukankah itu sesuatu yang menyenangkan untuk kita?
Mereka akan membicarakan keburukan kita dan kita yang tanggap bisa intropeksi dan merubah segala yang buruk menjadi baik.
Mereka membicarakan mimpi konyol kita bukankah itu juga sebuah teguran yang membuat kita bisa merenung. Merenungi apakah mimpi kita benar-benar konyol? Atau hanya karena mereka yang menganggap konyol itu yang tidak paham makna sebuah mimpi yang sedang kita jalankan.
Ingat baik-baik, kita sedang diperhatikan. Dan bersyukurlah ada seseorang yang mau mengurusi hal-hal kecil dari diri kita.

Mimpi Besar Biasa Dapat Hambatan
Setiap yang besar berawal dari yang kecil. Sesuatu yang ingin menjadi besar pasti melewati banyak hal yang menyakitkan yang justru menguatkannya untuk semakin kokoh ketika menjadi besar.
Hukum alam di dunia ini sama. Semua cita-cita luhur akan mendapat tantangan dari orang yang tidak percaya dan semua mimpi besar pasti akan dikecilkan. Tidak ada yang instant di dunia ini.
Bahkan seorang Bill Gates yang sukses tidak ingin mewariskan hartanya yang berlimpah pada anak-anaknya dengan alasan bahwa ia tidak ingin memberi sukses yang instant pada mereka.
Jika kita ingin seperti pohon besar, maka ciptakan sesuatu yang berbeda. Perkataan orang lain itu, perkataan negatif khususnya, diubah saja dalam benak kita menjadi sesuatu yang lain.
Bila kita dikatakan pemimpi, ubah kalimat itu di benak kita menjadi sebuah pujian bahwa mereka sedang memuji kita.
Dengan begitu kita terus bergairah untuk mewujudkan mimpi kita.

Mereka Menunjukkan Jalan yang Harus Kita Tuju
Seringnya kita tidak menyadari bahwa orang yang membicarakan kita sebenarnya sedang menunjukkan tempat yang bisa kita tuju. Hanya kita sering karena egois tidak memahami apa makna kalimat mereka.
Biasanya seorang yang bicara itu akan mengatakan, seharusnya begini bukan begitu.
Kita yang terburu emosi menganggap mereka tidak mendukung kita. Kita sudah antipati terlebih dahulu, padahal bisa jadi mereka mengatakan hal itu karena memang mereka sudah berpengalaman atau mereka mendengar pengalaman dari orang lain.
Saring saja baik-baik apa yang mereka katakan dan telaah dengan lebih jeli lagi.
Nanti kita akan bisa mendapatkan pemahaman baru tentang jalan mana yang harusnya kita tempuh.

Sampai Dimana Tingkat Egoisme Kita?
Apa kata orang lain tentang kita, apa yang kita rasakan tentang diri kita sendiri adalah kesatuan utuh yang tidak bisa dipisahkan.
Orang dekat melihat kita sebagaimana kita adanya melalui cara kita berinteraksi dengan mereka. Jadi bila mereka membicarakan kita, di depan kita, maka bukalah telinga kita. Bisa jadi mereka ingin membuat kita lebih baik atau terlalu melindungi kita sehingga mereka takut kalau-kalau kita melakukan kesalahan.
Panglima Terakhir Adalah Hati Nurani
Jika apa yang dikatakan orang lain begitu memusingkan kepala kita, sedang kita sendiri belum paham apa yang seharusnya kita lakukan, maka jalan terbaik yang harus kita lakukan adalah dengan mendengarkan apa kata hati nurani.
Hati nurani menjadi panglima kita yang terakhir, penunjuk kebenaran. Tentunya hati nurani ini bisa berfungsi sempurna bila kita sendiri sering menggunakannya.
Sering-seringlah melakukan perenungan dan intropeksi diri sehingga hati nurani kita menjadi jernih dan bisa menuntun kita ke arah yang paling baik.

Kejutan Allah Bernama Award

pemenang IBW award 20120

Sepanjang karir sebagai penulis, saya tidak pernah menyangka kalau suatu saat akan mendapatkan hadiah berupa IBF AWARD. Bahkan ketika membaca berita tentang IBF AWARD pun yang ada di kepala adalah bahwa itu sesuatu yang tidak pernah terbayangkan.
Pesimiskah saya sebagai penulis?
Tentunya tidak.
Justru saya adalah penulis yang optimis. Untuk karya yang saya tulis yang saya kirim ke media saya selalu yakin bahwa tulisan saya akan dimuat.
Untuk tulisan yang saya kirim ke penerbit, saya juga yakin kalau itu akan di acc menjadi sebuah buku.
Untuk sebuah karya yang saya kirimkan dalam ajang lomba penulisan, saya bahkan mantap dengan target menjadi salah satu pemenang.
Tapi tidak untuk menjadi pemenang IBF. Mendapat award? Saya bahkan tidak pernah membayangkan hal itu.Karena apa?
Karena saya bukan penulis yang aktif di organisasi kepenulisan. Saya penulis bebas tanpa ikatan organisasi. Saya merasa bisa bebas terbang tanpa ikatan.
Saya juga merasa belum bermanfaat total sebagai penulis. Saya cinta mati dengan dunia menulis yang sudah membuat saya menjadi sarjana. Mampu membiayai kuliah saya di dua tempat. Mampu membiayai kursus-kursus yang saya ikuti. Begitu cinta matinya dengan dunia menulis, maka saya berkeputusan untuk kerja di rumah dan menjadi ibu rumah tangga plus dengan menulis.

Lalu apa hebatnya saya ketimbang penulis lain?
Tidak. Saya tidak hebat.
Saya masih berkeinginan bermanfaat untuk orang banyak. Tapi saya baru bisa melakukannya dengan menulis. Dengan dua anak yang masih kecil, dan fokus saya untuk menjadikan rumah tangga saya rumah tangga yang berkualitas dengan meningkatkan kualitas saya, pasangan dan anak-anak, maka saya baru merasa manfaat saya hanya ada di situ. IBF AWARD hanya untuk penulis yang hebat dan banyak manfaat. Saya jauh dari kriteria itu.

Tapi rupanya Allah ingin memberi kejutan untuk saya.
Ini bukan lagi sebuah penghargaan. Ini adalah benar-benar sebuah kejutan. Kejutan yang buat saya luar biasa dan tidak terjadi begitu saja.

Ketika buku NAYLA MENCARI BUNDA sebelum berganti judul AKU SAYANG BUNDA saya kirim ke Indiva, buku itu pernah saya kirim ke sebuah penerbit lain. Mereka bilang akan menerbitkan tapi tidak tahu waktunya.
Untuk karya yang saya buat dengan hati jelas saya tidak bisa menunggu. Saya harus mengirimkan ke penerbit lain yang bisa menerbitkannya.
Buku ini saya buat dalam keadaan terpuruk setelah suami bangkrut dari usahanya. Saya mengetik dengan komputer yang layar monitornya menciut hingga separuhnya. Tidak berani menaruhnya ke tukang servis komputer karena prioritas utama kami adalah uang untuk kebutuhan sehari-hari.

Satu penerbit di Solo setelah hunting penerbit terasa klik di hati. Tidak pernah terpikirkan apakah itu penerbit besar atau kecil. Saya cuma ingin buku saya terbit. Buku anak karya saya yang pertama setelah saya memutuskan untuk hijrah menulis buku anak.
Ternyata buku itu laris manis dan cetak ulang. Design covernya cukup memikat dan eye catching. Dan berujung pada penghargaan IBF AWARD.

Dua minggu sebelumnya memang saya bermimpi mendapat hadiah. Begitu nyatanya mimpi itu sampai saya menuliskannya dalam buku harian. Tapi saya pikir itu hanya bunga tidur. Karena saya tidak sedang mengikuti sebuah lomba apapun.

Akhirnya…IBF AWARD 2012

Naik panggung dan mendapat hadiah dari lomba menulis? Sering. Tapi yang ini beda. Karena saya tidak merasa ikut berkompetisi di dalam sebuah lomba. Buku saya terpilih karena penerbit yang mengirimkannya untuk diseleksi.
Sebuah laptop warna biru penghargaan tambahan dari Pak Menteri membuat saya terharu. Bukan karena dari Pak Menterinya. Tapi karena laptopnya.
Sebagai penulis saya tidak memiliki laptop. Karena saya lebih suka memilih kertas untuk menulis ketika dalam perjalanan ketimbang laptop. Ada komputer di rumah dan saya pikir sudah cukup untuk saya pakai menulis.Tidak perlu lagi sebuah laptop.
Terbersit untuk membeli tapi saya singkirkan dengan alasan tidak ingin boros. Dan komputer itu yang layarnya hanya separuh. Yang ternyata pada tahun yang sama membuat saya bisa menghasilkan satu buku novel anak dan buku non fiksi panduan rumah tangga muslim. Dan keduanya cetak ulang.

Tapi Allah ternyata ingin memberikan kejutan pada saya. Sebuah laptop warna biru, warna kesukaan saya. Pak Mentri Pendidikan Mohammad Nuh merasa bahwa hadiah uang sebesar 7 juta untuk pemenang IBF masih kurang. Maka atas inisiatif beliau, semua pemenang mendapat hadiah tambahan uang sejumlah 2 juta lima ratus ribu rupiah. Plus laptop berwarna biru.
Laptop itu yang membuat saya di panggung dan suami di bawah panggung refleks saling berpandangan. Ini hadiah yang sama sekali tidak pernah kami duga.
Dan itu hadiah terindah dari Allah untuk ulang tahun saya (6 Maret), ulang tahun pernikahan (11 Maret) yang saya terima pada tanggal 9 Maret di hari ulang tahun si bungsu.

Allah punya rencana lain yang saya tidak tahu.
Tugas saya hanya terus menulis, terus mengurus rumah tangga, terus meningkatkan kualitas pasangan dan anak-anak dan terus menjadi manusia yang bersyukur.

Dania Gadis Bandara

Dania Gadis Bandara

Ayah mengangkat tubuh Dania dalam posisi tengkurap. Tangan Ayah tegak lurus ke atas. Kedua telapak tangan Ayah yang kuat mencengkeram pinggang Dania.
“Terbang, Ayah….” Dania bersorak.
Di pinggir rel kereta api di antara angin yang berembus cukup kencang. Jilbab Dania ujugnya berkibar terkena angin.
“Rentangkan tanganmu..,” Ayah berteriak.
Dania mengangguk, merentangkan kedua tangannya seperti sayap pesawat.
Wuss….
Ayah berputar kencang dengan tubuh Dania yang masih diangkatnya.
“Aku bisa terbang, Ayah…!”
Sore itu di pinggir rel kereta api. daun-daun bergerak diembus angin. Dania gadis kecil bermata bulat memejamkan kedua matanya.
Kejadian “terbang” bersama Ayah itu membuat Dania selalu ingin terbang. Majalah bekas kepunyaan Ayah yang Ayah beri bergambar pesawat selalu Dania baca.
Sampai suatu hari, Ayah Dania hilang di laut ketika diajak mencari ikan oleh tetangganya yang memang punya hobby mencari ikan di laut.
Tetangga itu pulang dalam keadaan sudah meninggal.
Ibu Dania akhirnya menitipkan Dania di rumah kerabatnya dekat bandara.

Based on true story.
Kisah ini lama sekali saya ingin tulis. Tapi saya endapkan.
Hingga dua tahun yang lalu saya kembali survey ke beberapa bandara untuk memastikan setting yang saya buat tidak melenceng dari alur bandara saat ini.

Novel Anak

cover mengaji bersama bapak-1 copy

Novel anak terbaru terbitan Buana Ilmu Poplular imprint Gramedia ini bercerita tentang perjuangan gadis kecil bernama Aisyah yang ingin mengajarkan bapaknya untuk bisa mengaji.
Perjuangan Ai cukup keras karena mendapat tentangan dari abangnya bernama Azis.
Ai juga ditolak oleh Bapak yang merasa bahwa Bapak sudah terlalu tua untuk belajar mengaji. Salat saja sudah cukup untuk Bapak.
Tapi Ai tidak putus asa. Segala cara Ai tempuh untuk mencari guru mengaji.
Ai merasakan ditolak oleh guru agamanya yang Ai minta untuk mengajari Bapak mengaji. Bahkan guru dari seberang yang Ai minta datang ke rumah diusir oleh Bapak.
Ai marah pada Bapak.
Ai kabur dari rumah.
Justru kabur itu mendatangkan hikmah untuk Ai. Karena Ai diajak Wak Tinah ke rumah orangtuanya yang berbeda agama. Wak Tinah mengajarkan bahwa bersikap baik pada orangtua itu penting meskipun berbeda agama. Sebab beragama yang baik itu tidak bisa cepat. Bapak Ai tidak tahu pentingnya mengaji dan itu tugas Ai untuk menyadarkannya dengan sabar.

Nominasi IKAPI IBF AWARD 2013

kakakku tersayang

Apa ya jadinya jika ada seorang anak yang biasa terkenal karena kenakalannya tiba-tiba menderita sakit
leukimia?
Kak Farhan yang nakal yang suka mencuri bunga hanya untuk dijadikan koleksi karena ia suka menanam bunga-bunga ternyata menderita kanker darah alias leukimia.
Penyakit itu awalnya tidak disadari karena Farhan tidak mengeluh dan selalu menyembunyikan ketika hidungnya ke luar darah alias mimisan.
Dara takut kehilangan kakaknya yang nakal tapi sayang padanya.
Kak Farhan memandang Dara. “Ummi bilang aku sakit apa?”
“Sakit…,” Dara mencoba mengingat-ingat.
Kak Farhan mengangguk. “Aku tahu, kok. Ummi yang kasih tahu. Kata Ummi, aku harus tahu penyakitku biar kalau berdoa bisa bilang sama Allah agar penyakit kankerku ini bisa disembuhkan.”
“Terus?”
“Terus kalau aku sembuh, ya.., aku main terus dong.”
“Tapi kalau…”
“Kalau mati?” Kak Farhan melotot. Memandang pada Dara. “Aku masih kecil, kan? Jadi bisa masuk surga.”
“Tapi Kakak nakal.”
“Tapi sekarang tidak nakal lagi.”
“Tapi Kakak suka lupa shalat, kan?”
“Tapi sekarang sudah shalat terus.”
“Tapi nanti aku sendiri!” Dara berteriak. “Memangnya Kak Farhan berani di kuburan sendiri?”
Kak Farhan diam. Memandang ke langit lalu menggelengkan kepalanya (hal 109-110).

Segala informasi Dara usahakan cari tentang penyakit itu lewat buku yang dipinjam dari temannya.
Hingga akhirnya dokter mengatakan penyakit Kak Farhan sudah parah. Tapi Farhan bertekad untuk sembuh agar ia bisa masuk pesantren seperti keinginan orangtuanya.

Buku ini menjadi nominasi sebagai buku fiksi anak terbaik dalam IKAPI IBF Award 2013
Novel ini akan membuat anak-anak paham makna kasih sayang antara kakak dan adik yang sebenarnya.

Novel ini penulis angkat dari pengalaman beberapa kali dekat dengan penderita leukimia.

Beberapa penulis juga menulis resensi tentang buku ini.
Bisa dilihat di
http://www.rimanews.com/read/20140714/161415/sayang-dan-kehilangan
http://diarybukuyanti.blogspot.com/2014/02/kakakku-tersayang-nurhayati-pujiastuti.html
http://cerpeneddelweissnaqiyyah.blogspot.com/2013_05_22_archive.html