Melesat Setelah Direndahkan

DSCF1996

Direndahkan, disepelekan, dianggap tidak memiliki kemampuan kerap membuat kita merasa bahwa kita memang rendah. Bahwa kita memang tidak ada artinya.
Kita tidak melihat peluang lain ketika kita direndahkan. Kita merasa bahwa situasi seperti itu tidak bisa dirubah lagi.
Padahal yang terjadi sesungguhnya, situasi seperti itu hadir karena konsep diri kita sendiri yang memang rendah, tidak yakin akan diri sendiri yang akhirnya muncul ke permukaan dan terlihat oleh orang lain.
Konsep diri kita sendiri adalah pandangan dan persepsi kita tentang diri kita sendiri (Those physical, social and psychological perceptions of ourselves that we have derived from experiences and our interaction with other – William D Brooks-1974)

Beberapa hal ini bisa menjadi alternatif yang bisa kita pahami kita direndahkan orang lain :

Direndahkan Karena Kita Memang Rendah

Coba pandangi diri kita di cermin. Lihat seperti apa diri kita sebenarnya. Secara jujur kita membuat penilaian akan diri kita sendiri.
Benarkan bahwa ketika kita direndahkan kita memang rendah?
Benarkan ketika kita dikecilkan kita memang kecil dan tidak bisa melakukan hal-hal yang sifatnya besar?
Ketika kita melihat diri kita secara jujur dan mengakui bahwa ada hal yang salah pada diri kita tentunya kita juga akan tahu kenapa orang lain melakukan hal itu.
Misal, kita selalu melakukan pekerjaan yang salah dan kita tahu itu salah karena sejak awal kita memang tidak percaya diri untuk melakukan pekerjaan itu.
Ketika kita jujur dan mengakui paling tidak pada diri sendiri bahwa kita salah, bahwa kita memang tidak melakukan hal yang optimal, maka kita akan jujur mengakui bahwa orang lain yang memberi kepercayaan atas pekerjaan itu memaki pada kita, memang tidak salah.
Itu artinya orang lain merendahkan diri kita karena kualitas diri kita memang rendah.

Direndahkan Karena Kita Akan Menjadi Tinggi

Interopeksi terhadap kekurangan diri sendiri akan membuat kita sadar, bahwa ada yang salah dengan persepsi orang lain atau ada yang salah dengan diri kita.
Bisa jadi orang lain menganggap diri kita rendah, karena memang konsep diri kita negatif, dan memang kita tidak pernah berperilaku yang positif.
Tapi bisa jadi orang lain merendahkan kita karena kita adalah ancaman untuk mereka, karena takut kita menjadi setinggi bahkan lebih tinggi dari mereka.
Banyak peristiwa di beberapa tempat terjadi ketika seorang yang memiliki potensi besar justru terus dikecilkan, dengan tujuan mereka tidak berani menatap ke depan dan pada akhirnya mereka yakin dengan persepsi itu, lalu tenggelam tidak berani bermimpi lagi.

Pahami Orang Lain Kita Akan Paham Diri Kita

Seringnya orang memandangi diri orang lain dari penampilan luar dan dari apa yang dikatakan orang lain tentang diri kita kepada mereka.
Mengambil celah dari prinsip seperti ini sesungguhnya kita mulai melaju.
Pahami orang lain di sekeliling kita dan lingkungan kita. Ubah persepsi mereka yang tidak baik tentang kita, dengan mulai merubah perilaku kita kepada mereka.
Kalau selama ini kita dikenal sebagai orang angkuh, coba pikirkan dalam-dalam, apakah kita memang ingin dikenal sebagai orang angkuh, atau sebaliknya kita justru ingin dianggap sebagai orang yang ramah?
Kalau ingin dianggap sebagai orang yang ramah, maka coba sentuhlah hati satu dua orang dengan mulai menyapanya. Sehingga kita yang tadinya tidak biasa untuk bersikap ramah, juga belajar untuk menjalani hal itu.

Direndahkan Bukan Harga Mati

Untuk orang-orang dengan konsep diri positif dan memandang segala apapun dengan kaca mata positif, maka dicaci, direndahkan orang lain akan dianggap sebagai salah satu celah untuk melangkah ke arah yang positif.
Direndahkan bukan harga mati.
Direndahkan itu artinya sebuah langkah awal untuk kita mulai intropeksi apa yang salah dengan sikap kita selama ini.
Jika selama ini kita direndahkan karena wawasan kita yang hanya seputaran batok kelapa, maka coba lah untuk menambah wawasan itu sehingga segala kalimat yang ke luar dari mulut kita, adalah kalimat yang diakui kualitasnya.
Bukan orang lain yang bisa merubah nasib kita, tapi kita yang harus merubah nasib kita sendiri.

Jangan Merendahkan Orang Lain

Jika kita sudah mampu ke luar dari zona bernama caci maki dari orang lain terhadap kita, maka buatlah orang lain merasa yakin bahwa selama ini persepsi mereka terhadap kita salah. Dan usahakan agara kita tidak mengulang pengalaman itu pada orang lain.
Jadilah pribadi yang bermartabat. Jadilah individu yang berani mengangkat harga diri orang lain. Berikan pujian yang tidak berlebihan dan dorongan kuat, agar mereka bangkit dari keterpurukan. Dan jika sudah seperti ini, itu artinya kita sudah menjadi individu yang berproses.
Dan individu yang berani mengambil hikmah dari setiap proses hidupnya adalah individu yang bijaksana.

Bebas Seperti Oly

BOBO

Bebas seperti Oly. Bebas mau apa saja. Bebas mau berteriak. Bebas mau mandi hujan. Bebas mau jajan apa saja. Bebas seperti itu yang Winda mau. Kenapa Ibu tidak juga mau mengerti?
Winda mengkhayal sepanjang pelajaran sekolah.
Bebas seperti Oly itu bebas juga mau belajar apa tidak. Kenapa Ibu maunya Winda terus belajar?
“Jajan yang itu, Win…,” siang itu tangan Winda ditarik oleh Oly. Menuju Bang Jambrong. “Kamu mau apa?”
Winda menggeleng. Perutnya sudah lapar. Ibu maunya Winda pulang sekolah terus makan di rumah. Tidak pakai jajan.
“Permennya enak lho..”
Permen warna-warni. Diberi coklat yang lengket di permen kemudian dimasukkan ke dalam mesis warna-warni.
“Mau, ya?”
Sebenarnya Winda ingin mengangguk tapi sudah terdengar suara yang Winda kenal. Suara itu membuat Winda menggeleng cepat.
Ibu sudah datang menjemput. Suara klakson motornya sudah terdengar.
“Besok, ya…,” Oly berteriak.
Winda tidak berani mengangguk.
**
“Bebas seperti Oly? Wer….” Bagas tertawa. Lompat dari tempat tidurnya. Bruk. Suaranya keras karena kakinya menyentuh meja belajarnya. Ia tertawa dan menutupi mulutnya dengan tangannya.
“Kakak mau?”
Bagas mengangguk. “Mau…, bebas seperti Oly, kan? Tidak belajar, boleh main hujan sesuka hatinya, boleh jajan apa saja, boleh beli apa saja. Enak seperti Oly, ya?”
Winda mengangguk.
Semua teman di sekolah juga ingin seperti Oly. Rumah Oly besar. Oly punya semuanya. Papi dan Mami Oly juga baik. Buktinya Oly bebas mau apa saja. Itu artinya mereka baik, kan?
“Bebas seperti Oly itu…. Oi… Aku di sini…,” Bagas mulai berteriak. Tapi mulutnya cepat ditutup. Terdengar suara pintu kamar diketuk.
“Nak…, jangan berisik. Nanti Eyang bangun.”
Winda dan Bagas saling berpandangan. Lalu akhirnya tertawa.
“Bebas seperti Oly. Aku mau…,” bisik Bagas lagi sebelum Winda ke luar dari dalam kamarnya.
**
“Bebas seperti Oly?” kening Ayah berkerut-kerut. Koran yang ada di tangannya diturunkan. “Kalian mau seperti itu?”
Winda dan Bagas mengangguk bersamaan.
“Bebas tidak bikin PR, bebas mandi hujan, bebas jajan sembarangan, bebas mau mandi apa tidak, bebas main sampai sepuas hati?”
Winda dan Bagas mengangguk lagi bersamaan.
“Ayah punya lho teman seperti itu. Bebas. Sampai sekarang dia masih ada. Mau kenal?”
Lagi-lagi, Winda dan Bagas mengangguk bersamaan.
“Tukang minta-minta yang suka lewat di depan rumah kita yang sering Ayah ajak ngobrol…”
“Yang pakai topi hitam, Ayah?” tanya Winda penasaran.
Ayah mengangguk. “Dia dulu teman sekolah Ayah. Tapi inginnya bebas jadi hnya sampai kelas dua SD saja. Bebas terus sampai besar sampai-sampai…”
Winda dan Bagas kali ini menggeleng bersamaan.
“Bukan jadi seperti itu, Ayah..,” ujar Winda.
Tapi Ayah hanya tertawa.
**
Bebas seperti Oly. Sungguh meski Ayah bercerita tentang temannya di waktu SD tapi Winda masih ingin merasakan kesenangan seperti Oly.
“Di rumah tidak ada siapa-siapa. Cuma ada Bibik. Nanti pulang sekolah main ke rumahku, ya?”
Winda tertarik dengan kalimat Oly. Sepanjang jam pelajaran Winda memikirkan kata-kata Oly.
“Ayo…”
Ibu pergi siang ini. Kunci ada di tangan Kak Bagas. Tapi Kak Bagas ada latihan taekwondo siang ini.
“Ayo…, banyak mainan di rumah. Banyak makanan…”
Winda ikut berlari bersama Oly. Sudah mau hujan. Mendung tebal sekali.
“Bik…,” di depan rumah Oly berteriak. Pintu gerbangnya terkunci. “Kita naik ke atas pagar saja, ya?”
Winda belum menyahut ketika Oly sudah naik ke atas pagar rumahnya.
“Ayo…”
Winda mengikuti. Ujung pagar rumah Oly runcing. Terkena betis Winda. Tergores. Sakit.
“Aku punya obat merah kok..,” ujar Oly. Menarik tangan Winda menuju pintu.
Halaman rumah Oly kotor. Penuh daun-daun kering yang tidak disapu. Ada juga sampah yang dibuang begitu saja. Sampah plastik, sampah bekas bungkus roti, sampah kertas.
Kalau di rumah Ibu selalu menyapu bersih setiap sampah bergantian dengan Winda dan Kak Bagas.
“Sebentar. Kok…,” kening Oly berkerut.
Pintu rumah Oly sedikit terbuka. Sekelebat bayangan seseorang terlihat oleh Winda.
“Bik..,” Oly berteriak. Mendorong pintu rumahnya. Masuk ke dalam.
Winda sendiri tidak ikut masuk. Winda ragu-ragu.
Tiba-tiba.
“Tolong…”
Wajah Winda memucat. Suara Oly meminta tolong.
Winda cepat mencari tempat sembunyi dekat tempat sampah yang cukup besar.
**
Sepi.
Kenapa sepi? Jangan-jangan..
Sudah hujan. Winda tidak bisa berteduh. Air hujan itu turun dengan derasnya. Baju Winda basah semua. Tas Winda juga. Ah, prakarya yang baru setengah jadi pasti juga basah. Itu artinya Winda harus membuatnya lagi nanti.
Winda takut. Jangan-jangan Oly ditangkap penculik. Jangan-jangan…
Di dekat pintu pagar terlihat Bibik datang. Membuka gembok di pintu gerbang. Membawa payung di tangannya dan juga tas plastik. Mungkin Bibik habis berbelanja.
Winda tidak berani memanggil. Winda hanya melihat ketika Bibik berdiri di depan pintu lalu terlihat seseorang memakai topeng ke luar dan mendorong tubuh Bibik hingga jatuh. Bibik kaget. Orang itu cepat berlari ke luar.
“Non… Tolong…!”
Winda mendengar Bibik berteriak keras sekali.
**
“Ada pencuri yang masuk ke rumah Oly soalnya rumah Oly selalu sepi, Bu,” ujar Winda dengan tubuh mengigil pada Ibu.
Sesudah Bibik masuk ke dalam rumah dan berteriak minta tolong, barulah Winda berani ke luar dari tempat persembunyiannya. Ternyata di dalam rumah ada Oly yang diikat tangannya dan juga kakinya. Mulutnya diplester.
Bibik langsung menelepon orang tua Oly. Winda sendiri minta izin pulang karena sudah beberapa kali bersin-bersin. Tubuh Winda menggigil. Winda memang tidak bisa kena air hujan. Setiap kali kena air hujan, kepala Winda selalu menjadi pusing.
Segelas susu coklat hangat, air hangat yang Ibu masak untuk Winda mandi dan bolu kukus rasa coklat.
“Rumah Oly selalu sepi. Hi..,” Winda seperti orang yang ketakutan.
Kak Bagas memandangi. Memasang jurus taekwondonya. “Coba ada aku,” katanya. Lalu ciat…
Brak.
Sapu yang ada di dekat Kak Bagas jatuh. Winda tertawa melihat aksi Kak Bagas yang langsung diam karena melihat mata Ibu melirik pada Kak Bagas.
**
Bebas seperti Oly?
Sekarang Winda harus berpikir seribu kali untuk bebas seperti Oly. Apalagi waktu Oly datang ke rumahnya untuk berpamitan.
“Di rumah sepi. Papi dan Mami ke luar kota terus untuk kerja. Jadi aku akan pindah ke rumah Nenek saja di kampung,” kata Oly sambil menunduk.
Aih, Winda jadi sedih. Kehilangan satu teman itu tidak enak.
“Tidak enak seperti aku. Kesepian. Tidak ada yang melarang. Maunya punya Mami seperti Ibu kamu.”
Winda mendengarkan. Bahkan mengingat-ingat kata-kata Oly tadi sampai tubuh Oly menghilang dari pandangan Winda.
Bebas seperti Oly?
Tidak ah. Winda bersyukur masih punya Ibu yang perhatian dengannya.
**

Memecah Kepribadian

lagi lagi

Memiliki dua kepribadian seperti halnya Mr Jekyl dan Mr Hyde tentunya menjadi sesuatu yang tidak kita inginkan. Apalagi bila kepribadian itu terpecah hingga lebih dari dua hingga 16 seperti halnya kisah Sybil yang cukup fenomenal.
Cerita tentang pecah kepribadian itu tentunya menjadi sesuatu yang unik. Dan sesuatu yang unik itu tentu saja menarik untuk dicoba.
Lalu untuk apa percobaan memecah kepribadian seperti itu?
Suatu hari, ketika saya merasa anak-anak mulai monoton dengan pelajaran Bahasa Inggris yang saya ajarkan, tiba-tiba ingin melakukan hal yang aneh dengan mencoba menjadi pribadi lain itu muncul begitu saja.
“I am Norah…,” kata saya. Tanpa buku pelajaran. Tanpa mereka sadar saya sedang menyiapkan mereka belajar.
“Norah likes ice cream. My Ma and Pa from England.”
Awal mulanya anak-anak tertawa. Lalu berkata “Ibu aneh.”
Saya terus bicara dengan intonasi suara yang berbeda. Juga gerak tubuh yang berbeda akhirnya mereka saling pandang dan mulai bertanya. Dalam bahasa sehari-hari.
“Sorry. Norah from England. Norah only speak English.”
Anak-anak melotot. Mereka rupanya mulai sadar sedang dijebak dalam sebuah metode belajar yang baru.
“Speak English with Norah,” saya memperjelas.
Tentu saja ini adalah permainan kreatif. Menjadi pribadi yang lain itu artinya saya bertingkah laku berbeda. Saya melakukan sesuatu yang mungkin saja terlihat konyol. Saya menari, saya berjoged. Dan di tengah-tengah yang saya lakukan saya tetap berbicara dalam Bahasa Inggris.
Lalu pelototan anak-anak berubah menjadi senyum.
“Ibu not Norah,” kata Bilqis yang bungsu.
“You are a liar,” kata Attar. “You Ibu.”
“No. I am Norah. Norah from England. My Pa and my Ma from England too.”

Menjadi Norah yang berbahasa Inggris bukan berarti anak-anak lantas harus bicara dengan Bahasa Inggris yang benar. Justru niat saya adalah mereka berani mengungkapkan apa yang mereka tahu yang selama ini mereka simpan saja dalam otak menjadi sebuah percakapan aktif.
“What is itch?” tanya Bilqis. Ketika saya mengingatkan tentang kata itu,
“Itch means when the mosquito bite you, you want to scratch,” saya memeragakan ketika menggaruk tangan dengan semangat. Juga membuka mulut saya lebar-lebar untuk mengenalkan kata menggigit (bite) Ketika menyebut mosquito tangan saya bergerak seperti sayap.
“Garuk-garuk?”
“No. Itch means…”
Attar dan Bilqis saling berpandangan.
“Gatal…,” akhirnya mereka berdua menjawab berbarengan.
Saya bertepuk tangan.
Lalu kami mulai bermain tebakan dalam Bahasa Inggris. Dari mulai tebak kata hingga tebak arti kalimat yang saya ucapkan hingga waktu pun tidak terasa sudah dua jam.
“Norah, I am tired,” ujar Bilqis.
“Norah, I want to watch television.” Attar mulai bicara.
Saya tersenyum.
Ada banyak jalan yang harus ditempuh untuk membuat anak merasa nyaman belajar. Meskipun semenjak permainan memecah kepribadian itu, anak-anak suka bertanya. “Ini lagi jadi Ibu apa jadi Norah?”

**

Mungkin Aku Patah Hati

1175652_10151683896853591_726067151_n

Mungkin aku patah hati. Sebab Bayu bilang orang yang patah hati akan merenung terus lalu air mata akan turun terus.
Bisa jadi aku patah hati seperti yang Bayu katakan, bahwa orang yang patah hati akan melihat segalanya serba muram.
Aku mulai tidak suka lagu-lagu riang. Aku mulai tidak suka warna-warna pink. Aku lebih suka warna hitam juga coklat.
Mungkin aku patah hati, sebab menurut Bayu aku tidak lagi enak diajak bicara. Aku membuatnya bete. Aku juga membuatnya tidak bisa lagi menyanyikan lagu dengan gitarnya.
“Kamu konyol kalau sedang patah hati…”
Aku bisa jadi konyol. Aku malas bercermin sebab jerawatku tumbuh semakin banyak. Aku malas melakukan apa pun juga. Itu yang membuat Mama menjadi sering marah padaku. Aku bahkan malas sekolah.
“Kamu benar patah hati, kan?” kejar Bayu sok ingin tahu.
Aku meringis.
“Kasih tahu dong. Cerita…”
Cuma pada Bayu aku sering cerita. Tepatnya cerita bukan berbagi rahasia. Rahasia apa yang aku punya bila setiap hari Bayu dan aku selalu bersama. Kami sejak kecil tumbuh bersama. Rumahnya ada di samping rumahku. Bahkan aku tahu meski Bayu tidak cerita, cewek seperti apa yang Bayu taksir.
“Kamu konyol…”
Aku diam saja.
Apa Bayu akan mengerti kalau aku cerita?
**
“Apa benar kamu patah hati?” tanya Mama menghidangkan pizza yang baru keluar dari oven. Pizza buatan Mama dengan isi sosis, jamur plus jagung manis dan keju. Kata Mama, aku butuh kekuatan penuh jika patah hati. Dan pizza buatan Mama akan membuat patah hatiku sedikit hilang.
“Mama cuma menebak sih…”
Aku nyengir.
Aku patah hati?
Bisa jadi kalau patah hati artinya kecewa, aku sedang kecewa. Tapi patah hati yang Mama maksud pasti bukan seperti yang aku maksud?
“Bayu naksir Tere dan kamu merasa patah hati karena selama ini sebenarnya kamu suka dengan Bayu, kan?”
Pizza itu merah di bagian tengah. Bukan karena saus botolan. Mama membuatnya dari saus untuk spaghetti yang Mama campur dengan bawang bombai dan tomat cincang.
“Mama dulu pernah lho patah hati. Waktu naksir Papa kamu terus Papa kamu malah naksir yang lain?”
“Terus?” sepotong pizza sudah masuk ke mulutku. Enak.
“Terus ternyata patah hati Mama salah. Papa kamu yang Mama kira tadinya jatuh cinta sama cewek lain ternyata cuma pura-pura bikin Mama patah hati. Bayu juga begitu…”
Aku mengambil pizza lagi.
Ini bukan masalah Bayu.
Ini masalah yang lebih penting dari Bayu. Lebih hebat dari Bayu. Kenapa tidak ada orang lain yang mengerti.
**
Mungkin aku patah hati.
Menurut buku yang Bayu pinjamkan padaku, patah hati itu terjadi ketika kita mulai merasakan jatuh cinta. Perasaan suka berlebih pada orang lain. Rasa suka itu bisa membuat kita senyum sendiri.
Menurut buku itu juga, rasa patah hati bisa terjadi bila orang yang kita cintai tidak memberiku balasan cinta yang kita harapkan.
Aku tersenyum sendiri.
Bisa jadi aku patah hati seperti yang Bayu bilang. Atau Mama katakan. Patah hati itu yang membuat Bayu jadi salting dan merasa bersalah lalu pura-pura menjauh dari Lulu yang ia cintai.
Patah hati itu juga yang mungkin membuat Mama rajin membuatkan makanan kesukaanku.
Jadi aku patah hati?
Mungkin.
Tapi sungguh bukan dengan Bayu seperti yang Mama pikirkan.
Tapi dengan sesuatu.
Sesuatu itu bernama baju biru yang kemarin aku lihat di toko baju dan sekarang sudah tidak ada lagi karena sudah dibeli oleh orang lain. Padahal berhari-hari aku menabung uang jajanku untuk membeli baju itu.
Jadi, menurut kalian, aku sebenarnya patah hati atau sekedar kecewa?
**

Gemuruh Hati Keisha

1175152_10151683896223591_1881694092_n

Rasanya seperti suara sebelum hujan. Terdengar dari langit. Rasanya juga seperti ketika naik ayunan lalu ayunan itu didorong tinggi sekali lalu ayunan itu turun dan mata Kei melihat ke bawah.
Rasanya seperti suara seng yang diangkat lalu diturunkan.
Kei memandanng langit di luar.
“Mami mau kemana?” tanya Kei pada Mami yang sudah bersiap pergi.
Mami, perempuan manis yang sudah mengenakan pakaian serasi dengan tas dan sepatu hak tingginya itu memandang Kei. “Memangnya kamu pikir Mami mau kemana?”
Kei memandang ke luar lagi.
Langit mendung.
Sebulan belakangan ini, Kei suka sekali melihat ke langit. Apalagi ketika langit mulai gelap.
Kei suka dengan suara yang hadir ketika mendung. Meski pun terkadang suara itu tidak muncul padahal yang di hati Kei sudah berbunyi setiap kali mata Kei memandang seng berwarna biru di depan rumahnya.
“Sudah mendung, Mami…,” ujar Kei. “Sebentar lagi hujan…”
“Sudah mendung karena memang musimnya sedang mendung setiap hari. Lalu apa Mami harus berada di dekat kamu terus?” Mami mendekat, memeluk Kei. “Mami mau bertemu teman. Rumah kue kita akan bertambah besar dan kue buatan Mami bisa masuk ke mall.”
Kei memandangi Mami. Cantik. Mami pintar membuat kue.
“Kamu belajar melukis nanti di rumah Om Lilok, kan?”
Kei memandang ke luar.
Kanvasnya sudah habis. Mami lupa. Sudah berapa kali diminta untuk membelikannya tapi Mami bilang belum sempat ke toko buku.
Kei menggeleng.
Mami menepuk pipi Kei. “Mami harus pergi….”
Di luar sudah ada taksi yang Mami pesan lewat telepon tadi.
**
Gemuruh itu hadir ketika Kei suapkan nasi ke dalam mulutnya. Sampai nasi itu menempel di dagunya dan Arul tertawa hingga membuat Kei jadi tidak semangat meneruskan makannya.
Meski Mami bilang Kei boleh bawa piring ke catering Tante Mia yang sengnya berwarna biru, Kei lebih suka makan di warteg pinggir jalan. Lalu matanya akan memandang pada pohon mangga yang tinggi yang batangnya di cat warna ungu.
“Kamu gimana, sih?”
Arul selalu cerewet setiap kali diajak makan di warteg. Tapi cuma Arul yang mau mengikuti apa yang Kei inginkan.
“Kalau kamu makan catering maka aku bisa dapat…”
“Mbak…,” tangan Kei terangkat memanggil Mbak penjaga warteg. “Bisa kasih satu piring nasi lauknya terserah buat cowok cerewet ini?”
Arul tertawa.
Kei selalu tahu apa yang ia inginkan.
**
Justru gemuruh di hati Kei itu jadi pembicaraan antara Arul dan Alisha. Arul yang kepalanya lebih senang dicukur plontos dan Alisha cewek manis dengan alis mata nyaris menyatu tapi dengan jerawat bergerombol di pipi membuat ia merasa jadi cewek jelek se dunia.
“Kamu naksir, Rul?”
Arul cengengesan. Arul sudah lama naksir Keisha. Dulu sekali. Bukan cuma hitungan bulan tapi hitungan tahun.
“Kamu cinta, Rul?”
Arul mengangguk. Cintanya dengan Keisha sudah tidak bisa ditunda lagi, mirip jerawat yang sudah siap pecah.
“Memangnya Kei naksir kamu?”
Itu masalahnya.
Kei tidak pernah cerita soal cowok yang ditaksirnya. Kei cuma bilang kalau Kei naksir cowok itu. Kei juga bilang kalau ia baru merasakan hal itu. Bayangkan di usianya yang ke limabelas, Kei baru merasakan jatuh cinta.
“Kalau kamu mau kasih aku souvenir dari Australi….” Alisha tertawa.
Arul mengangguk cepat. Arul tahu apa yang Alisha inginkan.
**
Alisha mengikuti langkah kaki Kei. Hari ini, Alisha terpaksa mengikuti Kei masuk ke sebuah toko buku besar. Terpaksa soalnya Alisha punya alergi buku. Setiap kali mencium bau kertas buku setiap itu pula ia bisa bersin sampai berkali-kali.
Mungkin karena itu pula, ia selalu memakai masker setiap kali masuk sekolah. Dan mungkin itu yang membuat pipinya ditumbuhi banyak jerawat sebab maskernya jarang dicuci.
“Mami sudah kasih uang untuk beli kanvas. Lima kanvas Mami bilang boleh aku beli.”
Alisha memandangi kanvas yang Kei beli. Lalu keningnya berkerut. “Kamu suka melukis, Kei?”
Kei mengangguk.
“Suka melukis atau karena kamu naksir sama seseorang yang suka melukis?”
“Menurut kamu?” Kei tersipu. Dadanya bergemuruh lagi.
Bayangan Dani tiba-tiba melintasi kepala Alisha.
Pasti cowok itu yang membuat Kei jadi suka melukis. Arul harus tahu itu.
**
Gemuruh di hati Kei langsung kencang ketika Arul yang sudah dibisikkan oleh Alisha mengajak Kei ke aula sekolah. Ada pameran lukisan di sana.
Arul sengaja ingin melihat reaksi Kei. Dan langkah mereka tepat berhenti pada lukisan yang di bawahnya tertulis judul dan nama pelukisnya.
Lukisan gadis cantik berambut ikal.
“Yang aku dengar, cewek yang dilukisnya ini, pacarnya…”
Kei memandangi lukisan itu.
“Dari tiga lukisan karya Dani yang ada di aula ini, yang aku dengar katanya dia melukis ketika rindu sama ceweknya yang sekarang ada di Canada ikut pertukaran pelajar.”
Kei diam saja.
“Yang aku dengar…..”
Kei tidak mendengarkan. Kei langsung berlari ke luar pintu gerbang sekolah.
Kei tidak ingin mendengarkan.
**
Kei bahkan tidak ingin mendengarkan ketika Mami bercerita soal teman usaha Mami yang baru. Kei juga tidak mau mendengarkan ketika Mami bercerita soal supermarket besar dan toko kue keren di mall yang tertarik kue buatan Mami. Kei juga tidak mau mendengarkan ketika Mami bercerita bahwa karena begitu percayanya mereka memberi DP pesanan kue pada Mami dan Mami harus menyelesaikan kue pesanan itu secepatnya dengan rasa yang tetap enak tentu saja.
“Kei…,” Mami memandangi wajah Kei. “Mami ingin sebuah kue berwarna pelangi. Kue kering berwarna-warni pasti cantik kan, Nak?”
Kei mengangkat wajahnya.
Apa Mami tahu perasaannya?
“Kamu tahu cara yang paling menarik untuk membuat kue berwarna-warni? Mami sudah browsing, Mami sudah coba. Tapi Mami pikir, warna yang natural hadir dari seorang pencinta warna seperti kamu.” Kali ini Mami mencubit pipi Kei.
Kei tersipu.
“Kamu mau bantu kan, Nak?”
Kei mengangguk.
**
Kei mau membantu jelas saja. Kei mau membantu Mami sekuat tenaga. Karena itu Kei sekarang berdiri di sebuah rumah.
“Permisi…,” ujar Kei.
Pintu rumah itu terbuka.
Gemuruh di hati Kei terdengar lagi meski langit tidak mendung.
**
Arul bukan cuma marah pada Alisha. Arul kheki karena informasi yang Alisha katakan salah besar.
“Jadi kalau bukan Dani siapa lagi?” Alisha menjejeri langkah Arul.
Arul menggelengkan kepalanya.
Arul tidak tahu.
Yang Arul tahu dengan jelas, Kei tidak mau lagi mengajaknya makan di warteg atau makanan lain di pinggir jalan. Kei juga jadi tutup mulut dengan Arul tidak mau berbagi cerita lagi.
**
“Mami tahu…,” ujar Kei pada Mami. “Aku selalu berpikir kenapa aku bisa melukis padahal dulu Mami bilang tidak ada yang mengajari?”
Mami tertawa. Menjawil hidung Kei. “Memangnya kamu pikir Mami bisa membuat kue karena bakat? Mami belajar sekuat tenaga.”
“Tapi soal melukis itu, Mi…”
“Itu soal anugerah.”
“Bukan soal bakat?”
Mami menggeleng.
“Atau bisa jadi waktu aku di perut Mami, terus Mami naksir cowok yang suka melukis?”
“Hush, kalau itu yang terjadi itu namanya Mami tidak setia dong sama Papi kamu.”
“Tapi kan, Mi…”
Mami menggeleng. Adonan kue kering sudah siap. Coklat yang di tim sudah meleleh sempurna siap dicampurkan.
Dan Kei sudah siap dengan cetakan cinta di tangannya.
**
Gemuruh di hati Kei hadir ketika Kei memandang langit mulai mendung dan kue kering Mami baru ke luar dari oven. Sudah delapan loyang.
“Kamu katanya mau mewarnai kue ini?”
Kei mengangguk.
Pewarna kue. Setiap warna harus dibuat dengan hati. Hati yang berharap akan menghadirkan warna yang cerah. Hati yang sedih ketika meracik warna akan membuat warna yang cerah menjadi kelabu.
“Permisi…,” terdengar pintu pagar berbunyi.
Kei berlari.
“Hei, Kei…, warna yang mana?” Mami berteriak sambil mengeluarkan satu loyang lagi dari dalam oven.
**
Gemuruh di hati Kei selalu terasa ketika langit mendung. Lalu ketika ia menatapnya, Kei merasa bahwa sebentar lagi gemuruh itu akan membuat hujan turun. Membasahi tanah dan hatinya.
Gemuruh di hati Kei bukan dentuman seperti gendang yang ditabuh. Gemuruh di hati Kei bukan untuk cinta tapi untuk harapan yang sudah lama ia inginkan. Setiap kali Kei tersadar setiap itu pula Kei ingin menumpahkannya lewat tangisan.
Kei kangen memiliki seorang Ayah yang tidak pernah bisa disentuhnya hanya bisa dilihat fotonya saja.
“Kei….”
Kei bersembunyi.
Tamu itu Om Lilok.
Kei tahu sudah lama Mami mengenal Om Lilok. Teman lama Mami ketika Mami sekolah dulu. Pelukis terkenal yang memilih hidup sederhana dan mengajarkan melukis tanpa bayaran untuk anak-anak yatim.
Alamat rumahnya Kei dapatkan dari browsing setelah Kei temukan nama itu tertulis di buku harian Mami yang lupa Mami bawa dan terbuka tepat di bagian saat Mami menulis kenangan tentang Om Lilok.
Dan ternyata rumahnya hanya berada beberapa blok dari rumah Kei. Pantas saja Mami bersikeras meminta Kei berlatih melukis di sana.
“Kei…,” suara Mami terdengar di dapur.
Ah, Mami pasti kaget juga salah tingkah.
Kei berhasil mempertemukan Om Lilok yang masih sendiri dengan Mami yang masih mencintai Om Lilok. Kei berhasil meminta Om Lilok datang ke rumah dengan alasan Mami sakit keras.
Gemuruh di hati Kei terasa lagi.
Kali ini Kei memandang ke langit. Papi yang sudah pergi sejak Kei di dalam kandungan pasti tahu bahwa Mami sudah pantas mendapat pengganti.
Air mata Kei menitik perlahan. Air mata bahagia.
Air mata itu hadir bersama dengan teriakan Mami yang salah tingkah dan terus menerus memanggil nama Kei.
**

Singkirkan Segala Keluh

DSCF1641

Salah satu karakter yang sering tidak kita sadari dan membuat kita terpuruk pada hal yang sama adalah sifat pengeluh.
Mengeluh untuk suatu hal karena memang hal itu tidak menyenangkan, sekali dua kali tidak menjadi masalah. Tapi bila itu kerap terjadi untuk hal-hal yang sangat kecil yang hal kecil itu untuk orang lain justru tidak terlihat jelas, pasti lah bukan kebiasaan lagi namanya. Tapi itu adalah karakter, menjadi bagian dari diri kita dan tanpa kita sadari melekat.

Phil McGraw seorang psikolog yang juga menulis mengatakan bahwa Anda mengajar orang lain bagaimana memperlakukan diri Anda. Apa yang Anda ajarkan datang dari bagaimana Anda memandang hidup. Bagaimana Anda memandang hidup datang dari siapa Anda.

Keluhan memang tidak datang dengan sendirinya. Sebagian besar karakter pengeluh bisa datang dari faktor genetika. Tumbuh kembang dalam lingkungan keluarga yang mengeluh akan membuat kita menjadi pengeluh.
Sedang tumbuh kembang dalam lingkungan postif dan optimis akan membuat kita terdorong untuk melakukan hal yang sama.
Cara pandang kita terhadap diri kita sendiri juga bisa menjadikan diri kita seorang pengeluh.
Teman, pengalaman hidup yang sudah kita lalui dan sikap dari pengalaman hidup itu yang bisa membuat kita mengambil satu pilihan.
Menjadi seorang yang positif dan penuh syukur atau menjadi seorang pengeluh.

Bila kita sekarang merasa berada di posisi sebagai manusia pengeluh, beberapa hal ini harus kita lakukan agar kita bisa berubah.

Luka Di Masa Lalu.

Keluhan yang membuat kita menjadi seorang yang kerap kali mengeluh tentu saja tidak hadir begitu saja. Keluhan hadir karena memang kita tumbuh dan besar di lingkungan pengeluh.
Keluhan juga berarti kita memiliki sebuah luka yang kita simpan hingga di masa depan sehingga kita ingin membagi luka itu pada yang lain dengan cara tak sadar. Seperti yang dilakukan oleh orang-orang terdahulu pada diri kita. Yaitu menyebarkan keluhan.
Ini adalah reaksi tidak sadar dari kita yang ingin melihat reaksi orang lain atas keluhan kita. Ketika orang lain itu menerimanya kita merasa menemukan keranjang sampah yang benar seperti dulu orang lain mengeluh pada kita. Ketika mereka menolaknya, maka kita kerap merasa terluka karena tidak menemukan tempat untuk meletakkan sampah keluhan kita.
Menyadari hal itu sebagai rangkaian masa lalu tidak masalah. Yang menjadi masalah adalah ketika masa lalu itu menempel terus dan tidak ingin kita lepaskan.
Kesadaran dari dalam diri sendiri menjadi satu hal yang paling penting untuk merubah perilaku sebagai pengeluh.

Mengeluh Tanda Tidak Bersyukur.

Stop ingatan kita tentang masa lalu. Anggap masa lalu adalah jejak yang tidak perlu ditengok lagi.
Ubah persepsi dan mulai tanamkan dalam pikiran bahwa mengeluh artinya tidak pernah puas dengan apa yang kita terima selama ini. Mengeluh juga berarti kita tidak pernah bahagia dengan apa yang kita dapatkan selama ini.
Orang-orang yang mengeluh ketika hujan turun dengan derasnya sering lupa doa dan harapan mereka ketika musim kemarau panjang datang dan mereka berharap banyak akan hadirnya hujan.
Ketika didera kesulitan ekonomi kita minta segalanya dimudahkan dan rezeki dilancarkan, tapi ketika rezeki itu datang kita merasa tidak pernah cukup karena standar hidup kita meningkat tak terkendali.
Karena itu ketika kita merasa tingkat keluhan kita sudah tinggi dan membuat orang-orang di sekeliling kita merasa jengah dengan apa yang kita lontarkan, mungkin ada baiknya kita mundur beberapa langkah untuk merenung.
Perenungan yang paling efektif tentu ke luar dari zona nyaman kita selama ini lalu datangi orang-orang dengan kondisi lebih payah ketimbang kita.
Apa yang kita keluhkan sebenarnya kerapkali menjadi bahan impian untuk orang lain.
Kita yang letih datang dan pulang dari kantor kerap kali kondisi seperti itu justru dirindukan oleh orang-orang yang baru saja terkena PHK atau orang-orang yang ke luar masuk kantor tapi tidak pernah mendapatkan pekerjaan.

Hukum Diri Kita Untuk Setiap Keluh

Memberikan hukuman pada diri kita sendiri untuk setiap keluhan yang kita keluarkan mungkin bisa menjadi sarana efektif untuk merubah kebiasaan buruk itu.
Atau kalau memang terlalu sulit untuk mengukur hal itu karena kita memang sudah terbiasa, kita bisa meminta bantuan orang terdekat. Orang terdekat yang paham diri kita seperti sahabat atau pasangan.
Minta mereka untuk memberikan hukuman pada kita setiap kali kita mengeluh. Bisa saja kita menyediakan diri untuk memberikan sejumlah uang setiap kali kita mengeluh pada orang terdekat kita itu.
Cara ini cukup efisien karena akan lebih terasa.

Tulis Dan Buang Ke Keranjang Sampah

Sarana yang paling efektif lagi untuk menghilangkan keluhan kita adalah dengan menuliskan keluhan kita dalam sebuah kertas.
Ketika kita tidak menemukan orang lain untuk mencurahkan keluhan kita, cobalah ambil selembar kertas. Lalu tulis apa yang ingin kita curahkan itu. Setelah itu baca kembali tulisan itu dan pikirkan benar-benar apakah memang hal itu melegakan atau tidak?
Setelah itu buang ke tempat sampah sebagai simbol bahwa apa yang baru kita keluarkan tadi adalah sebuah keluhan yang tidak berharga.
Masih belum bisa menghilangkan kebiasan itu juga, mungkin kita perlu mengambil sebuah buku. Mencatat apa yang ingin kita keluhkan dalam setiap lembarnya.
Beberapa hari kemudian, cobalah baca isi buku ini. Dan lihat, apakah yang kita keluhkan adalah sesuatu yang berulang atau sesuatu yang baru tapi esensinya sama?

Ubah Dengan Yang Positif

Ini cara efektif untuk melawan keluh. Bila orang lain sudah tidak sanggup membantu kita, tentu kita yang harus menolong diri kita sendiri.
Ubah setiap bentuk keluhan menjadi sesuatu yang positif.
Semisal, ketika kita mengeluh badan kita letih seusai bersepeda di pagi hari, kita bisa mengucapkan syukur karena bersepeda itu sudah memberi kontribusi positif pada kebersihan lingkungan. Plus kita menjadi sehat.
Bila kita merasa teman kita tidak baik, ubah dengan menjadikan diri kita baik sehingga kita akan merasakan sesuatu yang baru. Yaitu teman-teman yang baik pada kita.

Pilihan ada di tangan kita.

Hidup Dari Menulis

Salah satu hal yang selalu diinginkan seseorang yang masuk ke dunia penulis adalah mendapatkan honor dari tulisannya. Honor dalam bentuk uang tentu saja. Karena akan bisa terlihat jelas sebagai bentuk kerja kerasnya.
Pertanyaan selanjutnya, setelah beberapa kali mendapatkan honor di media adalah apakah kita bisa dapat hidup hanya dari menulis?
Untuk itu kita wajib memulainya dengan keyakinan KITA BISA.
Saya tidak akan pernah lupa rasanya ketika saya mencoba hidup dari dunia tulis menulis. Bukan lagi jatuh bangun tapi jungkir balik. Saya juga tidak akan lupa ketika saya bersikukuh tidak akan melamar pekerjaan dan akan melanjutkan kuliah dari honor menulis karena Bapak memasuki masa pensiun dan saya punya 4 adik lainnya.
Saat-saat pembayaran uang semester mendekat, hati saya kebat kebit tak menentu. Dan pertolongan Allah selalu datang tepat waktu. Selalu ada tiga atau empat naskah yang dimuat pada saat yang bersamaan dengan semakin mepetnya jadwal membayar uang semesteran. Sehingga langkah saya melaju dengan cepat.
Saya juga tidak akan pernah melupakan tekad saya dan ketidakyakinan orang lain pada keputusan saya. Pada saat itu saya saya merasa bahwa jalan saya sudah diarahkan untuk menjadi penulis.
Ketika lulus SMA, saya lulus menjadi mahasiswa di Badan Meteorologi dan Klematologi Geofisika (BMKG) dan mengalahkan ratusan pesaing lainnya, toh saya harus mundur. Karena Bapak tidak menyetujui saya menjalani ikatan dinas di Manado.
Bahkan ketika kakak saya bisa mendapatkan informasi bahwa kenalannya bisa menampung saya di Manado, telegram yang Kakak berikan pada saya baru sampai dua minggu kemudian padahal saya sudah mengirimkan surat mengundurkan diri dari BMKG.
Ketika lamaran saya sebagai pramugari Garuda diterima, surat untuk interview pun lagi-lagi datang terlambat. Karena surat panggilan itu baru sampai seminggu kemudian dari jadwal wawancara.
Akhirnya saya bukan lagi bertekad tapi memang tercebur dan tenggelam di dunia menulis.
Bisa bertahan hingga sekarang sejak naskah puisi saya pertama dimuat di media tahun 1982.
Bisa bertahan karena dulu jarang yang berniat menjadi menulis?
Saya berpikir begini. Ketika ada yang bertanya seperti itu maka saya akan menjawab seperti ini :
1. Pada saat itu memang tidak banyak saingannya tapi akses untuk mengirimkan tulisan ke media memerlukan tekad besar. Selain peralatan mesin tik yang mengharuskan kita menulis dengan minim kesalahan agar tidak sia-sia selembar kertas yang harus dibeli dengan uang, kita juga harus membeli perangko atau menggunakan kilat khusus bila ingin cepat sampai ke redaksi majalah. Sekarang kita tinggal duduk di depan komputer dan sent. Dengan tiga ribu satu jam di warnet kita bisa cari informasi sebanyak-banyaknya dan mengirim naskah sebanyak-banyaknya.
2. Dulu stasiun televisi hanya sedikit, maka kemungkinan untuk menembus ke media televisi untuk naskah berbentuk skenario perlu waktu lama. Sekarang, banyak teman-teman penulis skenario dan PH yang membutuhkan skenario yang bisa kita cari asal memiliki kepekaan dan kejelian untuk mencarinya. Dan semuanya itu bisa dilakukan di depan komputer.
Padahal dulu untuk sebuah naskah skenario yang di ACC di TVRI pun saya harus bolak-balik dengan bus dan merevisi naskah itu berkali-kali. Meski sudah memakai kop yang dipinjamkan Mas Aditya Gumay atas nama sanggar Kawula Muda, tetap naskah itu tidak meluncur sempurna.
3. Dulu, menerbitkan buku sulit sekali. Jadi honor datang dari majalah dan koran. Saya sendiri bisa menghasilkan buku setelah 20 tahun menulis dan 10 tahun bermimpi untuk itu. Artinya apa? Artinya dengan banyaknya penerbit, kemungkinan besar kita akan mudah dong mendapatkan honor dari buku kita yang diterbitkan. Banyaknya penerbit juga membuka peluang kita untuk menjadi editor atau reviewer di penerbit tersebut.
4. Lomba menulis dulu tidak seramai sekarang? Jadi bisa disimpulkan sendiri, kan?
Menjadi penulis ketika ingin total itu artinya hanya satu untuk saya. Terus bekerja lebih giat dengan menulis dan tidak patah semangat.
Usaha ingin maju dan bertahan bila kita kreatif dan tidak diam di tempat. Punya sesuatu yang unik yang tidak dimiliki oleh orang lain.
Bila sudah merasa mampu menulis fiksi, coba lah belajar untuk menulis artikel. Mulai dari artikel yang ringan hingga yang berat. Sehingga ketika porsi fiksi dikurangi dalam satu media, atau buku fiksi tidak lagi booming kita punya cadangan untuk menulis yang lain.
Menulis memang sudah menjadi sesuatu yang mudah saat ini . Tapi jangan disepelekan. Feeling sangat diperlukan dalam menulis. Keyakinan bahwa naskah kita akan selalu berada di tangan yang benar juga wajib diperlukan. Dan standar untuk setiap tulisan kita mau dikirim kemana juga dibutuhkan.
Lalu bagaimana cara bertahan di dunia tulis menulis?
Saya jadi ingat pengalaman kedua saya begitu yakin dengan dunia tulis menulis adalah ketika saya memutuskan resign dari kantor dan fokus menjadi penulis. Bukan karena suami saya hidup berlimpah harta. Tapi karena saya yakin saya bisa hidup dari menulis.
Lalu apakah pilihan itu membahagiakan?
Ketika suami memilih untuk memiliki usaha dan kami bangkrut pun saya terus menulis. Bahkan bersyukur pada saat itu royalti dan DP dari buku-buku saya cukup besar. Dari satu buku saja royaltinya sepuluh kali lipat lebih banyak dari honor cerpen di majalah ternama.
Ketika rumah tangga kami diuji dengan hutang bertumpuk pun, saya tetap melakoni menulis. Buku-buku tetap bermunculan. Dengan fasilitas seadanya. Monitor komputer yang tidak utuh penampilannya.
Sekarang ketika dalam keadaan segala badai sudah berlalu saya terus menulis. Dengan produktivitas yang masih sama dengan saya pertama kali menulis dulu.
Dan kebahagiaan saya dari dulu hingga sekarang sama. Dengan semangat yang juga tidak berubah.
Jadi masalah sebenarnya dalam dunia kepenulisan bukan dunia menulis itu sendiri. Tapi tekad kita yang kurang sebagai penulis.
Bisa diibaratkan dengan seorang yang baru menceburkan ujung kakinya di dalam air dan merasakan cubitan seekor kepiting pada kakinya, ia merasa jera untuk terus memasukkan kakinya lebih dalam ke air tersebut. Lalu bicara pada setiap orang bahwa masuk ke dalam air itu berbahaya.
Padahal semakin dalam tercebur, semakin kita tahu bahwa banyak rintangan yang bisa diatasi dengan trik-trik yang kita dapatkan karena pengalaman kita bergelut dengan air.
Sampai sekarang saya terus menulis. Setiap hari saya menulis dengan jadwal harian yang tetap. Setelah urusan rumah tangga selesai, suami dan anak-anak meninggalkan rumah dengan perut kenyang.
Saya selalu melupakan naskah yang saya kirim ke media. Tapi saya punya folder setiap bulannya naskah apa yang saya kirim ke media dan ke penerbit. Lalu saya punya hitungan waktu, kapan naskah itu harus saya poles kembali dan saya lempar ke penerbit atau media lain.
Saya juga masih aktif untuk ikut lomba menulis. Selain untuk merasakan sensasi persaingan, di dalam sebuah lomba juga disediakan hadiah uang.
Matre?
Menulis adalah pekerjaan saya. Jadi menulis bukan lagi untuk nama. Tidak masalah bila ada sebuah tulisan yang saya tulis tanpa nama saya tercantum di dalamnya. Sepanjang tulisan itu adalah tulisan yang saya buat dengan prinsip hidup yang selama ini saya jalani. Toh setahun belakangan ini saya juga menjadi penulis tetap sebuah majalah dan menghasilkan bermacam-macam tulisan tanpa nama saya tercantum untuk itu.
Lalu masalah menulis untuk amal?
Masalah amal atau sedekah, biar lah itu jadi rahasia saya dan Allah. Lebih indah bila hanya saya dan Yang Memiliki Rezeki yang mengerti.
Bagaimana?
Masih ingin terus menjadi penulis?
Nasehat saya lagi.
Jika yakin dengan menulis, pegang keyakinan dan jangan beri garam keluhan.
Tambah ilmu, tambah wawasan dan jangan diam di tempat. Kita yang diam ditempat dan merasa sudah pintar hanya akan membuat orang lain yang terus menambah ilmunya dan menambah wawasannya berlari jauh di depan kita.
Tetap menulis.
Kalau merasa tidak mampu bertahan sebagai penulis, lebih baik cari pekerjaan lain dan jadikan penulis pekerjaan sampingan bukan pekerjaan utama. Sehingga tidak mengotori hari kita dengan mengeluh dan mengeluh.
Life is simple. So, make it simple. Right?

Kemampuan Membaca Diri Sendiri

kemampuan membaca

Membaca selalu menjadi rujukan banyak pribadi bahwa mereka akan menjadi lebih cerdas dari individu yang lainnya. Membaca setumpuk buku tentu akan membuat jendela ilmu seseorang bertambah luas. Tapi ternyata kesuksesan seseorang tidak tergantung pada banyaknya buku yang telah mereka baca.
Kesuksesan seseorang terletak pada kemampuan mengaplikasikan ilmu membaca mereka pada kehidupan yang sesungguhnya sedang mereka jalani. Menjadi ilmu baru untuk mereka dan membentuk karakter yang lebih kuat.
Dan membaca diri sendiri dalam artian memahami diri sendiri adalah salah satu kunci sukses agar lebih mampu menjadi pribadi yang tangguh.

Pada beberapa waktu yang lalu sebuah tayangan Oprah Show dimunculkan sosok Mike Tyson sebagai sosok yang berbeda. Mike Tyson yang telah lama menghilang muncul dengan pribadi lebih bijak ketimbang sebelumnya, lebih menghargai wanita ketimbang sebelumnya ketika ia kerap berganti-ganti pasangan dan lebih menghargai hidup dengan anak-anak yang dimilikinya saat ini.
Kunci ketenangan batinnya ternyata terletak pada satu hal yaitu ia sudah memahami dirinya utuh dan segala keinginannya. Ia bisa berdamai dengan luka hatinya dan bisa berdamai dengan kenyataan masa depan yang sedang dilaluinya saat ini.

Pada tayangan yang lain, hadir Sarah Fergusson dengan pribadi yang lebih matang ketimbang sebelumnya ketika masih menjadi bagian dari keluarga Kerajaan Inggris. Seperti diketahui Sarah yang lebih dikenal dengan panggilan Fergie adalah mantan istri dari pewaris takhta Kerajaan Inggris Pangeran Andrew.
Nyaris sama dengan Mike Tyson, Fergie bisa hidup tenang saat ini meski tidak berlimpah harta dikarenakan satu hal. Ia sudah bisa berdamai dengan masa lalunya dan tahu betul arah masa depannya.
Banyak sosok besar lahir dan bermunculan dan mampu bertahan dengan kebesaran mereka karena mereka mampu melakukan satu hal. Mereka mengasah kemampuan untuk membaca diri mereka lebih dahulu sebelum terjun langsung untuk memahami lingkungan mereka.

Pahami Kebutuhan Dasar Diri Kita

Ada empat kebutuhan dasar pada diri manusia seperti dicetuskan Abraham Maslow dan masih relevan hingga saat ini.

kebutuhan akan rasa aman (safety needs)
kebutuhan akan keterikatan dan cinta (belongingness and love needs)
kebutuhan akan penghargaan (esteem needs)
kebutuhan akan pemenuhan diri (self actualization).

Masing-masing manusia berbeda tingkat kebutuhannya. Ada individu yang membutuhkan penghargaan ketimbang rasa aman atau individu lainnya justru membutuhkan keterikatan dan cinta dan merasa hidupnya tidak ada artinya ketika hal itu tidak ada padanya.
Kita sendiri yang paling paham apa yang menjadi kebutuhan dasar kita sebab, bahkan dengan pasangan hidup terdekat pun tingkat kebutuhan dasar kita akan berbeda.
Pengalaman (field of experience) dan kerangka berpikir (frame of reference) kita dengan manusia lainnya berbeda sesuai dengan jalan hidup yang sudah kita jalani. Itu yang membuat setiap individu sesungguhnya istimewa.

Pahami Kelebihan Dan Kekurangan Kita

Bila kebutuhan dasar kita sudah dapat kita kenali dengan baik tentunya akan lebih mudah untuk memahami kelebihan dan kekurangan kita.
Tuhan menciptakan segala sesuatunya secara seimbang. Sisi kelebihan kita berimbang dengan sisi kekurangan kita. Hanya manusia pengeluh lebih menonjolkan sisi kekurangan mereka sedang manusia potensial lebih menonjolkan sisi kelebihan mereka.
Bila memang terlalu sulit untuk memahami hal tersebut, coba sediakan waktu untuk merenung. Lalu tulis dalam secarik kertas secara berimbang apa yang menjadi kelebihan dan kekurangan kita.
Masih tidak paham juga, kita bisa minta masukan pendapat orang yang dekat dan paham diri kita utuh. Kita bisa meminta mereka untuk memberi tanggapan secara netral tentang sisi baik dan sisi buruk kita.
Setelah itu yang harus kita lakukan adalah tentu saja mengurangi kekurangan kita serendah mungkin dan meningkatkan potensi kelebihan kita setinggi mungkin.

Pahami Kekecewaan Dan Kesedihan Kita

Mike Tyson tumbuh kembang menjadi petinju yang brutal karena ia tidak dapat mengatasi kesedihan dan kekecewaan pada tempat dimana ia tumbuh kembang. Lingkungan yang buruk membuat perilakunya semakin buruk sehingga ia menjadi pribadi yang tak terkendali dan suka sekali menjadi biang keributan.
Pada satu titik ketika ia akhirnya menemukan diri pribadinya utuh, memahami akar dari kekecewaannya, ia berubah menjadi pribadi yang lebih menyenangkan untuk orang-orang di sekelilingnya dan setelah itu hidupnya menjadi lebih seimbang.
Memahami kesedihan dan kekecewaan bukanlah sesuatu yang cengeng. Sedih dan kecewa adalah bagian dari kehidupan yang harus kita lewati sebagai manusia.
Kita paham bagaimana keluar dari kekecewaan ketika kita pernah masuk ke dalamnya. Pengalaman orang lain yang kecewa bisa menjadi alat bantu potensial untuk kita. Namun akan lebih efektif bila kita mengalaminya sendiri.

Pahami Mimpi Yang Tidak Bisa Kita Raih

Kecewa sebenarnya adalah cermin dari impian dan harapan yang tidak bisa kita terapkan menjadi kenyataan.
Memahami lebih mendalam lagi dengan mengkaji ulang mimpi dan harapan yang tidak bisa kita raih akan membuat kita lebih memahami diri kita sendiri.
Mimpi yang tidak bisa kita raih terkadang bukan karena kita gagal. Tapi bisa jadi itu adalah mimpi salah tempat sehingga kita harus membelokkan pada impian yang lain yang lebih tepat.
Right man in the right place adalah pepatah yang cukup efektif untuk hal ini.
Bila kita sudah paham diri kita utuh dengan segala potensi yang ada pada diri kita, maka kita pula yang tahu dengan pasti apakah satu mimpi memang harus kita tinggalkan begitu saja demi meraih mimpi lain atau, mengejar mimpi itu hingga dapat dan menaklukkannya.

Dan Fokus Pada Mimpi Yang Ingin Kita Raih

Tuhan menciptakan langkah kita memiliki jejak sehingga mudah untuk melihatnya sedang jalan ke depan tidak memiliki jejak alias samar.
Itu artinya bahwa untuk mundur ke belakang jauh lebih mudah dibandingkan untuk maju ke depan.
Masa depan yang samar akan semakin samar untuk individu yang hanya fokus pada masa lalu, pada jejak yang jelas terlihat. Tapi untuk individu yang fokus ke depan, kesamaran gambaran masa depan justru menjadi motivasi tersendiri untuk membuatnya menjadi lebih jelas.

Berdamai Dengan Keadaan

Cara terakhir untuk mampu membaca diri sendiri adalah dengan merangkul keadaan atau kenyataan yang kita hadapi.
Individu sukses tidak tercipta dalam keadaan yang sama satu dengan yang lain. Mereka tumbuh berkembang di lingkungan yang berbeda dan pola pendidikan yang berbeda juga lingkungan yang mengajarkan prinsip yang berbeda.
Hanya mereka yang bisa berdamai dengan keadaan sekelilingnya yang akan mampu tumbuh menjadi pribadi yang mumpuni dan kuat menahan terjangan cobaan.

Satu Gol Untuk Bunda

satu gol untuk bunda

“Satu gol saja untuk Bunda,” begitu yang Bunda katakan ketika Attar akan berangkat bermain bola. “Kamu bisa?”
Attar tidak menjawab.
Hari Minggu ini jadwalnya Attar berlatih bola. Seragamnya berwarna oranye dengan nomor punggung empat.
“Satu gol untuk Bunda. Setelah setahun kamu berlatih sepak bola, Bunda ingin kamu mencetak gol.”
Attar menunduk saja bahkan sampai Ayah mengantarnya ke tempat latihan sepak bola.
**
“Hi hi..,” Tinong tertawa waktu Attar bercerita soal keinginan Bunda. “Bunda kamu tidak pernah melihat kamu bertanding bola, kan?”
Attar mengangguk.
“Bilang saja kalau kamu sudah mencetak gol. Bukan cuma satu tapi dua.”
Attar memperhatikan Tinong. Betul juga apa yang disarankannya. Bunda kalau hari Minggu sibuk dengan pesanan kue, jadi jarang bisa melihat Attar bertanding. Kalau ia bilang sudah berhasil mencetak gol, pasti Bunda akan senang.
“Bilang saja begitu, ya..,” kata Tinong ketika mereka berpisah. Tadi tim mereka kalah tiga kosong oleh lawan yang datang ke lapangan mereka.
Attar tersenyum. Berterimakasih pada Tinong.
**
“Betul?”
Attar mengangguk.
Ketika ia pulang latihan, Ayah sedang pergi. Bunda masih ada di dapur. Harum kue buatan Bunda membuat perut Attar menjadi lapar.
“Betul kamu membuat satu gol?”
Attar mengangguk. Mengingat-ingat kata Tinong. Ia harus mengangguk dengan keras supaya bundanya bisa percaya. Tinong sering bohong pada mamanya dan mamanya tidak pernah tahu.
“Hebat,” kata Bunda. Menepuk pipi Attar. “Terimakasih ya.”
Attar mengangguk. Memandang wajah Bunda lalu berjalan masuk kamar.
**
Satu gol untuk Bunda itu terus teringat di benak Attar. Gol yang belum bisa ia buat meskipun sudah setahun berlatih sepak bola. Larinya tidak sekencang teman yang lain. Tendangannya juga tidak kuat seperti teman yang lain. Tapi ia suka bermain bola.
Satu gol itu yang membuat Attar terus memikirkan ketika malam. Bahkan kasihan pada Bunda yang masuk ke kamarnya dan memberikan kue bolu untuknya sebagai hadiah gol yang belum bisa ia ciptakan.
“Gol…..! Gol…!” suara itu ke luar dari mulut Attar. Ia mengigau dalam tidurnya.
Igauan itu begitu keras hingga Bunda masuk ke kamarnya dan membangunkannya.
“Kamu kenapa?”
Attar diam. Takut bicara pada bundanya. Tapi setelah bundanya ke luar dari dalam kamar, Attar merasa sangat bersalah.
**
“Gawang itu kecil, Nak. Jadi tidak semua pemain bisa mencetak gol.”
Pagi itu di dapur Bunda bicara. Mata Bunda memandang pada Attar.
“Maafkan Bunda, ya. Bunda tahu kamu berbohong karena takut mengecewakan Bunda.”
Attar belum mengerti.
“Kamu mengingau lagi setelah Bunda ke luar kamar. Dalam igauan itu kamu menangis dan mengatakan bahwa kamu bohong,” Bunda tersenyum menepuk pipi Attar. “Bunda yang salah. Kamu anak hebat karena tidak bisa berbohong.”
Attar menunduk. “Gol itu tidak ada, Bunda…”
“Tidak apa-apa. Gawang itu kan kecil. Kalau kamu berlatih terus menerus pasti bisa.” Bunda memeluk Attar.
Attar mengangguk. Gawang itu kecil tapi ia berjanji akan berlatih keras agar suatu saat Bunda bisa melihatnya mencetak gol.
**

Bila Suami Kekanakkan

nuansa ummi

Apa yang terjadi dalam rumah tangga bila suami ternyata bersifat seperti layaknya anak-anak? Suami tidak bisa diandalkan. Bahkan tingkahnya jauh lebih menjengkelkan ketimbang anak-anak?
Suami adalah pemimpin dalam rumah tangga sudah menjadi patokan umum kita sebagai wanita ketika memikirkan rumah tangga. Imam dalam artian bahwa sang suami kelak harus lebih ketimbang kita. Kalau bisa lebih dewasa, lebih bijaksana, lebih beriman, lebih dalam materi dan lebih-lebih yang lainnya.

Akhirnya ketika kita sampai pada jodoh kita, banyak dari kita yang kecewa ketika mendapati bahwa suami masihlah seperti kanak-kanak dalam rumah tangga. Suami tidak bisa bersikap tegas apalagi bijaksana.
Ketika rumah tangga dikaruniai anak, suami semakin terlihat kekakanak-kanakkannya. Suka berebut remote televisi dengan anak-anak. Bahkan menjadi beban tambahan karena permintaannya melebihi permintaan anak-anak.
Allah sudah menetapkan jodoh kita masing-masing. Kita berkutat dengan impian kesempurnaan. Sedang Allah punya misi dan visi lain dengan kita.

Bisa jadi menurut kita, kita sudah menjadi manusia yang bijaksana dan dewasa. Tapi menurut Allah hal seperti itu belum teruji bila belum didatangkan ujian pada kita. Dan ujian itu bernama seorang suami yang bersifat kekanak-kanakkan.
Kalau seperti ini yang terjadi di dalam rumah tangga kita, bukan berarti pernikahan harus kandas di tengah jalan.
Pernikahan itu adalah kelas di mana kita harus belajar terus menerus tanpa henti. Guru kita adalah pengalaman orang lain dan pengalaman kita sendiri tentu saja.

Banyak hal tentu saja yang membuat suami kita, sifatnya seperti kanak-kanak di mata kita. Bisa jadi karena perbedaan usia kita dan pasangan. Bisa juga karena kedudukan pasangan di keluarganya. Kita yang anak sulung dengan pasangan yang anak bungsu akan berbeda sikap dan persepsi dalam menangkap sesuatu.

Kalau itu yang terjadi maka seharusnya yang kita lakukan adalah :

1. Bicara, bicara dan bicara. Bicara bukan dengan protes, kritik tanpa ujung. Tapi bicara yang efektif yang membuat pasangan sadar bahwa sifat kekanak-kanakkannya memang harus ditinggalkan.
2. Hargai pasangan dalam rumah tangga. Terkadang karena merasa pasangan kekakak-kanakkan kita tidak menghargai apa yang pasangan lakukan dalam rumah tangga
3. Tunjukkan bahwa kita berubah ke arah yang lebih baik sehingga pasangan lambat laun akan melakukannya.
4. Sering memuji untuk hal kecil yang pasangan lakukan.
5. Tunjukkan pada anak-anak bahwa kita sebagai Bunda tetap menghargai Ayah mereka meskipun sikapnya menjengkelkan sehingga akhirnya mereka pun melakukan hal yang sama.
6. Mau mendengar bila pasangan protes dengan sikap kita.
7. Menerapkan konsep rumah tangga bersama-sama hingga pasangan merasa dilibatkan dan akhirnya bertanggung jawab.
8. Berusaha menjadi yang terbaik hingga pasangan pada akhirnya mengikuti langkah kita untuk menjadi yang terbaik pula.

Jangan lupa sertakan Allah dalam setiap usaha kita.
**