Hanya Ingin Menulis, Bukan Menjadi Penulis

424948_10151189437018591_976325817_n

Siapa bilang persaingan di dunia menulis semakin ketat?
Saya tidak percaya jika persaingan di dunia menulis itu ketat. Saya juga tidak percaya saking ketatnya persaingan itu, untuk menembus dan meletakkan karya kita di media menjadi semakin susahnya.
Sepanjang pengalaman saya, di dunia tulis menulis hanya nama-nama itu saja yang hadir.
Sekali dua kali ada nama lain, tapi tetap akhirnya kembali ke nama yang itu dan itu lagi.

Sebuah keberuntungan, kah?
Bukan. Menulis untuk media bukan lagi soal keberuntungan atau kedekatan dengan redaksi media. Menulis untuk media adalah sebuah pertarungan. Pertarungan itu dihadapi dengan kerja keras dan semangat baja. Sebab hasil dari pertarungan itu adalah honor yang cukup menggiurkan.

Mendapat honor, mendapatkan nama ada di media sungguh sangat menggiurkan untuk yang kepingin mendapatkan itu. Kepingin bukan berarti cinta. Karena kadar ingin dan cinta sungguh jauh berbeda. Kepingin, ingin, mungkin hanya ingin menuntaskan rasa penasaran saja. Sekali dua kali puas. Setelah itu merasa cukup bisa dan yakin sudah berilmu. Atau memang tidak pernah bisa menghadirkan cinta, jadi kepingin itu tidak beranjak menjadi cinta dan kebutuhan.

Aturan sebuah cinta adalah hadirnya rasa yang berbeda. Ingin terikat terus dan mengikat. Dan terikat dan mengikat itu hanya bisa dituntaskan dengan terus menulis. Ini teori ngaco saya jelas saja. Tapi saya merasakan hadirnya cinta dalam menulis memang harus dipaksakan dengan mengikatkan diri dan merasa terikat. Ketika sudah merasa terikat, jadi tidak bisa berpaling. Kalau sudah tidak bisa berpaling hanya akan melihat ia satu-satunya yang terbaik. Kalau sudah melihat sebagai satu-satunya pilihan yang terbaik, akan terus diasah kemampuannya sehingga terus berkembang dan menjadi satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan lagi.
Cinta dalam kadar yang sudah melekat, menyatu tak mungkin berpisah.

Hanya ingin menulis sebenarnya sama dengan hanya ingin membuat kue. Hanya ingin bernyanyi atau hanya ingin melukis. Hanya ingin ini, tidak memerlukan kepiawaian karena hasilnya tentu akan lebih nikmat untuk diri sendiri.
Saya selalu hanya ingin memasak dengan membuat kue atau sajian yang lain untuk keluarga. Tapi tidak ingin menjadi ahli masak, disebabkan oleh kesadaran diri akan mood yang tidak pernah sinkron. Apalagi saya biasa memasak mengandalkan feeling. Juru masak yang mahir tentu saja juga mengandalkan feeling. Tapi feelling mereka sudah terasah dengan ratusan atau ribuan percobaan memasak.

Demikian juga dengan menulis.
Hanya ingin menulis, melampiaskan apa kata hati, bisa jadi bisa tembus ke media. Sama seperti saya memasak, bisa saja ada yang suka dan membeli masakan saya. Tapi pelampiasan yang hanya sampai di situ tidak beranjak menjadi sesuatu yang meningkat lagi ilmunya, hanya akan membuat saya sendiri jenuh, orang lain juga mungkin tidak tertarik lagi membeli.

Menulis juga seperti itu.
Hanya ingin menulis membuat bingung mencari ide. Ide itu akhirnya akan kabur. Semakin kabur jika malas mencari referensi bacaaan. Sama seperti saya bingung harus mengolah bahan masakan. Dengan kemampuan memasak minimal terus malas buka resep masakan, maka jadilah masakan amburadul versi saya. Tapi toh kenyataannya saya tidak begitu. Ketika saya bingung saya akan melotot mencari resep di internet atau membuka buku resep yang bertumpuk di rumah. Dan menurut saya itu masih lumayan.

Sebab ada juga penjual makanan yang pakai cara instant. Penjual makanan yang sering muncul karena banyak memakai boraks dan bahan berbahaya makanan itu, modelnya mungkin sama seperti penulis yang malas mencari referensi. Akhirnya mencari jalan pintas menjadi plagiat. Seperti pemakai boraks yang selalu yakin bahwa pembeli tidak akan tahu, nah penulis model seperti ini juga mungkin punya pemikiran seperti itu.

Sekedar menulis, bisa menulis, suka menulis, cinta menulis dan menjadi penulis tentu saja beda. Yang sekedar menulis itu persis anak saya yang sulung. Dia sekedar menulis. Kalau lagi butuh uang untuk membeli baju bola yang harganya di atas 100 ribu dan saya tidak mau membelikannya, maka dia akan berusaha menulis dan mengirimkan ke media. Meski sudah berkali-kali dimuat di media dan sudah pernah menang lomba menulis, tapi menurut saya dia hanya masih sekedar menulis. Sekedarnya itu cuma bergeser sedikit ke arah bisa. Bukan menjadi suka.

Anak saya yang bungsu lain lagi. Dia sudah bukan lagi sekedar menulis, ia sudah bisa menulis dan sudah menang lomba menulis juga, dan menurut saya ia sudah masuk pada tahap suka menulis. Karena setiap hari ia akan kotak-katik buku hariannya untuk menulis. Bahkan bisa tiba-tiba ia bicara pada saya, “Ibu, aku punya ide. Aku mau tulis, ya.” Tapi belum tahap pada cinta menulis. Sekedar suka belum cinta. Karena jika cinta itu sudah menjadi kebutuhan dasarnya.

Menjadi penulis merangkum semuanya. Melewati proses sekedar, bisa, suka, cinta dan berujung pada pilihan untuk menjadi penulis. Sama seperti atlet renang. Yang sekedar berenang buat senang-senang tentu beda dengan atlet renang. Saya bahkan suka berenang bukan saja sekedar berenang. Harus cinta berenang untuk kesehatan saya, karena hanya olah raga renang yang cocok untuk saya yang memiliki penyakit asma. Tapi untuk berkata saya atlet renang, keterlaluan namanya. Itu namanya mengaku-ngaku.

Atlet renang disiplin menjalani latihan. Saya paling banter sebulan dua kali. Itupun cuma untuk melebarkan paru-paru dengan sepuluh kali putaran. Gayanya hanya mahir gaya katak dan gaya punggung.
Tapi saya akan dengan bangga bilang kalau saya penulis. Karena saya memang konsisten menulis. Kalau renang ada gaya khusus yang diperlombakan, maka saya bisa dengan bangga mengatakan bahwa saya punya spesialisasi penulis untuk media. Dan untuk itu saya terus meningkatkan kemampuan menulis saya. Caranya dengan terus menulis, mempelajari tulisan orang lain yang hadir di media tentu saja, dan mengasah kepekaan saya akan ide yang diterima oleh media.

Well,
kalau di serial Mahabarata si ganteng Krisna selalu bilang “Pikirkanlah itu.” Maka di sini saya akan bilang hayo yang hanya ingin menulis, pikirkanlah itu. Apakah kalian hanya ingin menulis atau mau menjadi penulis? Atau mungkin hanya pada titik suka menulis saja?
Pikirkanlah masak-masak.
Jika ingin berada pada tahapan menjadi penulis, maka harus berjuang keras untuk terus menulis. Prioritas utama menulis. Sesak napas bila tidak menulis atau pusing bila tidak menulis (ini saya banget!).

Pikirkanlah itu.

Suatu Sore Bersama Bapak

bapak dan orang tuanya

Ini Bapakku

keluargaku lagi

q dan bapak

Suatu sore, ketika hanya saya sekeluarga yang masih tertinggal di Solo karena keluarga lain sudah kembali ke daerah masing-masing, Bapak bercerita. Bapak saya, seorang yang saya kagumi karena kegigihannya dan saya ikuti apa yang Bapak lakukan sebagai teladan untuk saya.
Bergantung total pada Allah. Itu prinsip Bapak. Karena itu 8 anak berhasil menuruti arah yang Bapak contohkan. Kami akhirnya tertular menjadikan tahajud dan dhuha menjadi pegangan.

Sore itu, sambil menunggu suster yang akan memeriksa luka di kaki Bapak datang, Bapak bercerita dalam resah. Bapak sama seperti saya. Akan resah menunggu jika memiliki janji. Itu yang membuat Bapak dan saya seringnya tidak tolelir dengan jam karet.

“Nung…” Bapak mulai bercerita.
Bapak memulai cerita pada suami yang ikut mendengarkan. Bagaimana ketika saya lahir, Bapak dan Ibu mulai bisa makan nasi. Sebelumnya di rumah hanya makan ketela. Bagaimana ketika Ibu mengandung saya, Ibu harus kehilangan ibu kandungnya. Lalu ketika saya akan dilahirkan, Bapak dan Ibu tidak memiliki biaya sehingga harus menggadaikan radio satu-satunya, untuk membayar dukun beranak.
Setelah saya lahir, segalanya menjadi lebih baik. Cahaya Kehidupan, itu nama yang Bapak berikan yang membuat kelopak mata saya selalu berkedip untuk menghalau haru juga bangga.

“Nung…. dulu Bapak takut kalau mengaku-ngaku…”
Yah, dulu Bapak takut kalau mengakui bahwa Bapak masih keturunan dari penyair Surakarta Ronggowarsito. Beliau anak dari Yosodipura penyair juga. Padahal Mbah Putri memiliki nama pemberian Mitrotiyoso. Dan Bapak sendiri menyandang nama Yosowarsena.
Bapak tidak pernah mengaku-ngaku keturunan dari biru. Meski di rumah kami, tersisa keris peninggalan leluhur dengan tulisan tahun 1800 an. Bahkan ketika ada kerabat yang datang dulu, untuk menyusun silsilah keluarga, Bapak menolak. Pesan Bapak yang saya ingat, kita miskin. Gelar tidak berguna di mata Allah. Allah cuma melihat taqwa kita.

Ada ketegasan untuk sebuah prinsip yang saya dapat dari Bapak. Jadi Mbah Putri, seperti kebanyakan orang Jawa terdahulu, selalu memandikan keris di malam Jumat dengan air kembang. Suatu kali, Bapak pulang bersama kakak. Mbah lupa memandikan keris itu. Jadilah keris itu menjelma menjadi jin yang masuk ke dalam mimpi kakak hingga kakak ketakutan. Keris itu juga suka berbunyi sendiri di dalam lemari.
Ketika saya datang bersama Bapak juga, Mbah diingatkan oleh Bapak. Bapak tidak ingin Mbah yang sudah belajar salat menjadi syirik dengan keris itu.

Akhirnya, keris itu diambil oleh Bapak ketika kami pindah ke Solo, tidak begitu jauh dari rumah Mbah. Keris itu tidak dimandikan air kembang oleh Bapak. Keris cukup dibersihkan dengan minyak dan ditaruh di dalam koper. Koper itu pernah diletakkan di dalam kamar.

Tapi suatu hari, keponakan yang masih bayi menangis tidak berhenti di tengah malam, menjerit-jerit. Kami baru sadar ketika semua sudah dikerjakan tapi tangisan keponakan tidak berhenti. Keris! Serentak kami saling berpandangan. Koper berisi keris itu akhirnya kami pindahkan ke gudang. Setelah itu tangis keponakan langsung berhenti. Sampai sekarang keris itu duduk manis di dalam koper di gudang. Tidak menganggu. Tidak diberi air kembang. Bahkan tidak tersentuh tangan Bapak lagi.

“Budayawan zaman dulu itu, Nung, istrinya banyak. Bapak sendiri tidak tahu, keturunan dari istri yang mana? Jangan-jangan istri yang tidak diaku.”
Saya paham.
Bapak mendidik kami dengan didikan agama yang kuat. Bapak menjadi imam di masjid. Sering kali saya kena tegur guru mengaji dengan memberi tahu akan melaporkan pada Bapak, kalau saya terlalu berisik di masjid. Sedikit nakal juga saya akan dibandingkan dengan kakak-kakak yang lain, yang berprestasi di sekolahnya. Maka pilihan menjadi anak Bapak adalah, berprestasi dan beriman. Keluar dari dua kategori itu, kami pasti kena bully lingkungan.

“Tapi melihat kamu sekarang dengan tulisan juga buku kamu, Bapak tahu kalau Bapak tidak mengaku-ngaku.”
Saya mengangguk.
Bapak tidak mengaku-ngaku. Saya belajar menulis sendiri, merangkak sendiri. Sering kena omel dulu karena suka melamun dimanapun berada. Hanya saya dari 8 anak Bapak yang bisa menulis. Hanya saya dari 5 anak perempuan Bapak yang memilih profesi sebagai ibu rumah tangga dan menulis, sebab yang lain memilih untuk berkarir.
Lagipula saya tidak butuh berasal dari keturunan siapa. Saya sudah terlalu cinta dengan menulis dan itu sudah menjadi urat nadi dan bagian dari napas saya.

Bapak tahu perjuangan saya menulis. Sendiri. Jatuh bangun dan tersungkur. Bapak memberikan pita mesin tik. Memodifikasi pita mesin tik itu dengan minyak, agar bisa terpakai lama. Bapak juga membawakan mesin tik listrik yang tidak bisa saya pakai karena harga pitanya mahal.
Bapak memberikan meja untuk saya yang dipesan khusus, agar saya mudah mengetik. Bapak juga membelikan lemari buku yang menurut saya super mewah, karena kami pesan di sebuah toko yang raknya didesign oleh seorang arsitek. Sampai sekarang lemari buku itu masih awet di Solo.

Bapak mengajarkan penderitaan untuk tangguh menghadapi hidup. Bukan karena Bapak miskin yang sebenarnya. Bapak anti meminta. Keluarga besar Bapak banyak tersebar di wilayah Laweyan, tempat juragan batik di Solo. Kami tinggal mengontrak di rumah kecil di Jakarta. Tapi Mbah Putri yang selalu datang ke Jakarta untuk mengunjungi, selalu diantar oleh kerabatnya dengan mobil. Seorang yang mengantar kerabat Mbah, anak pendiri sebuah partai islam.
Bapak mengayuh sepeda ke kantor sampai pensiun. Motor inventaris dari kantor tidak Bapak terima, dan memberikan kesempatan itu pada teman lain yang membutuhkan.

Bapak yang mengajarkan kami, 8 orang anak membaca dan menulis. Bapak yang mengambil rapor dan menghadap guru. Ibu bilang, 8 anak selama 40 hari setelah Ibu melahirkan, Bapak yang mengurusi pakaian kotor dan bekas pup juga pipis anak. Bahkan sampai sekarang dari awal menikah, Ibu tidak pernah menyetrika pakaian. Setrikaan Bapak rapih dan halus. Saya belum bisa menirunya.

Ketika sakit, Bapak yang akan duduk di samping kami yang sakit. Bahkan ketika mata kami terpejam lalu terbuka kembali, masih Bapak yang ada di samping kami yang sakit.
Bapak tidak mau mengeluh ketika sakit. Tapi mulutnya tak berhenti berzikir. Sepuluh tahun di kursi roda, Bapak masih masih mandiri. Bapak tidak merepotkan. Hanya Bapak tidak bisa lagi membantu di dapur seperti dulu. Itu yang paling terasa oleh Ibu.

“Nung…, hidup itu jangan minta yang aneh-aneh. Apapun yang terjadi cukup minta pada Allah. Bapak 8 anak bisa cukup. Tidak pernah punya uang milyaran, tapi cukup.”
Pernah suatu hari, ketika saya sedang dirundung sedih karena usaha suami bangkrut dan debt collector baru saja datang ke rumah, Bapak menelepon. Bicara hanya untuk mengatakan agar tetap tahajud.
Bapak mengajarkan pada saya arti berbagi yang sesungguhnya. Saya melihat sendiri bagaimana Bapak sering tergopoh-gopoh memberi barang miliknya yang terbaik, untuk diberi pada orang lain padahal orang itu baru dikenalnya. Saya juga paham ketegasan sikap Bapak.

Saya bahkan pernah merasa tidak disayang oleh Bapak, karena terlalu dilindungi. Tidak boleh kemping Pramuka di waktu SD, padahal adik saya boleh. Tidak boleh menginap di rumah teman, padahal adik saya boleh. Kemana-mana Bapak selalu minta saya dikawal adik-adik saya yang galak. Ketika kuliah saya diantar jemput oleh kakak saya. Saya baru lepas ketika ada sahabat baik yang rajin mengantar dan menjemput kuliah.

Pernah saya begitu merasa mandirinya merasakan akibatnya. Ketika KKN saya jatuh pingsan, ketika itu saya justru menjadi petugas upacara untuk mengibarkan bendera. Ketika menjadi reporter pun saya terkena penyakit tipus. Bahkan pernah dirawat di rumah sakit hanya karena maag saya kambuh.
Ternyata sekarang saya paham, Bapak melakukannya karena memang saya mudah sakit bila terlalu lelah. Dan Bapak takut saya mudah dimanfaatkan orang karena Bapak tahu karakter saya.
Saya juga paham kenapa Bapak menyarankan saya untuk membawa peniti tajam dan pensil yang sudah diserut tajam ketika naik kendaraan umum.

Satu-satunya yang masih selalu saya ingat adalah ketika pada hari pernikahan saya, pada malam sebelum akad nikah, Bapak nembang (menyanyikan lagu Jawa), sebagai upacara pelepasan anak gadisnya. Ini tidak pernah terjadi pada malam pernikahan kakak-kakak dan adik-adik saya.

“Nung…, pergi sana. Lihat-lihat. Biar apa yang kamu lihat bisa kamu tulis.” Belakangan ini kalimat itu yang sering Bapak ucapkan ketika saya sampai di Solo dan hanya menghabiskan waktu di rumah. “Lihat sekaten sana… Ke Prambanan sana…”

Ah suatu sore bersama Bapak, semoga masih berlanjut pada sore-sore yang lain, dimana saya masih bisa duduk dan mendengarkan semua cerita Bapak tentang masa lalu dan makna kehidupan yang sebaiknya saya jalankan.

Agar Media Tidak Bangkrut Part One

Me, pak guru dan mbak ruwi

Dosen tamu

IBF JOgja

Hal apa yang paling menyedihkan untuk saya sebagai penulis? Hal ini saya yakin juga dirasakan para penulis lain, yang cukup lama berkutat mengukuhkan nama di media cetak. Hal itu bernama matinya sebuah media cetak. Saya dan Pak Guru dari Makasar S Gegge Mappangewa membahasnya dalam pertemuan di anjungan Jawa Tengah TMII kemarin (Rabu 27 Agustus 2014).
Matinya sebuah media cetak menjadi sangat penting untuk penulis. Apalagi penulis yang tumbuh kembang dengan karya yang kami kirimkan untuk media. Saya bukan cuma tumbuh berkembang tapi melekat erat dengan media ceteak. Karena hidup dari menulis yang saya lakukan, banyak terkait dan berhubungan dengan karya saya yang ada di media cetak.

Seseorang bisa hidup dan bisa menemui ajal. Media cetak? Media cetak tentu saja bisa mengalami hal yang sama. Seidealis apapun media cetak tersebut, ketika berhubungan dengan pasar, maka media itu harus mengambil keputusan.

Yang pertama dia tetap bertahan dengan prinsipnya dan hidup dari para pelanggan yang cinta pada media juga tergantung lalu membeli.

Dua, media itu bisa hidup dari suply iklan. Itu artinya iklan akan memberi penghasilan untuk media dan dengan adanya iklan yang deras, laku tidak lakunya media tidak lagi memusingkan pemilik modal karena akan selalu ada uang yang mengalir. Tapi itu juga artinya media tersebut akan mengikuti arus pengiklan. Isi akan mereka sesuaikan dengan iklan yang masuk. Dan iklan yang masuk itu pastinya akan dilingkari dengan apa yang dinamakan kebutuhan industri.

Tiga media cetak itu mempunyai sistem management yang buruk, sehingga seleksi alam mengharuskan ia mati.

Untuk saya, kematian sebuah media cetak itu seringkali membuat kening lebih banyak berkerut. Yang paling membuat miris adalah option ketika media cetak mati karena tidak ada lagi pembeli. Sebab saya paham betul banyak dari penulis yang malas bersentuhan dengan media cetak, pelit untuk membeli dengan banyak alasan, tapi mereka berjuang keras untuk menembus media cetak tersebut. Padahal membeli sebuah media cetak itu banyak keuntungan untuk penulis. Informasi di media cetak itu, karena sifatnya massal (mass communication), maka tentunya bukan informasi yang diolah asal jadi. Ada sentuhan seperti tegangan listrik tertentu yang bisa didapat ketika membeli sebuah media, yang tidak bisa tergantikan dengan membacanya dari postingan seorang teman di sebuah blog.

Seorang yang memegang media cetak juga artinya dia punya waktu khusus untuk membaca dan memahami. Berbeda dengan ketika membaca media online yang informasinya cepat dan seringnya tidak digarap dengan maksimal. Bahkan nara sumber sering juga hanya copy paste dari berita-berita yang ada.

Menjadi Penulis yang Bijak

Saya membenarkan ucapan Pak Guru Gegge pemenang novel Republika, peraih IBF Award 2013 dan pemenang pertama lomba Tulis Nusantara bahwa dulu, kami para penulis dihubungkan oleh media cetak . Itu artinya ketika kami menulis untuk media cetak, kami jadi terikat pada media tersebut. Kami mengamati teman-teman yang namanya hadir di media tersebut. Tentunya mengamati dengan cara bersentuhan dengan media tersebut, membeli eceran atau dengan cara berlangganan.

Kami paham gaya penulis yang satu dengan penulis yang lain. Kami paham seberapa sering penulis itu karyanya dimuat di satu media. Itulah mengapa sesama penulis yang biasa menulis di media di masa lalu, saling mengenal dengan baik, bahkan hingga saat ini.

Saya juga membenarkan bahwa meski sekarang menulis adalah profesi, kami dulu ingin menulis karena ingin nama kami ada di media. Dan nama hadir di media cetak itu artinya membawa banyak konsekwensi termasuk harus rajin-rajin membeli media dan bersentuhan dengan media.
Karena itu media cerpen Anita Cemerlang bisa berumur panjang dan lama karena kesetiaan pelanggannya, yaitu kebanyakan kami para penulisnya yang menjadi pelanggan setia. Bukan hanya pelanggan mengirimkan karya.

Penulis sekarang hubungannya tidak sekental dulu. Persaingan yang ada bahkan justru menjatuhkan. Yang satu ingin dianggap hebat dari yang lain, lalu berujung justru melecehkan karya yang lain hanya untuk diupload di social media.

Padahal jika penulis yang satu dan penulis yang lain terhubung dalam satu ikatan yang kental dan tulus, maka akan mudah untuk mendapatkan informasi baru tentang dunia media atau dunia penerbitan. Misalnya, media mana yang harus dijauhi karena tidak menghargai penulis dengan tidak membayar honor yang jelas-jelas sudah mereka cantumkan bahwa setiap kontributor akan mendapatkan honor.

Atau penerbit mana yang surat perjanjiannya membuat penulis mati kutu karena ujungnya menddapat royalti yang tidak masuk akal karena saking sedikitnya.
Terhubung untuk sesuatu yang lebih baik lagi untuk saya menjadi penting.

Sungguh modal utama penulis bukan sekedar ide apalagi seperangkat peralatan menulis canggih. Yang diperlukan adalah niat untuk terus belajar dan mau menyisikan sebagian kecil dananya untuk membeli media cetak . Dengan begitu, kebangkrutan media bisa diminimalisir.

Pada pertemuan itu, saya juga bicara dengan Mbak Ruwi, pemenang pertama lomba Tulis Nusantara. Kali ini bicara tentang dunia penerbitan dan kisaran royalti yang membuat miris para penulis. Di belakang tempat kami bertemu itu, kebetulan ada sebuah acara yang suaranya berisik di isi para remaja. Mbak Ruwi bilang sering sekali ada acara seperti itu selama ia menginap.
Saya bilang pada Mbak Ruwi yang novelnya sudah banyak untuk mulai belajar PD. Belajar PD bisa dengan cara memulai duduk berkenalan dengan mereka. Lalu tunjukkan novel yang ia buat. Itu artinya, ia harus siap selalu membawa buku karyanya kemanapun ia pergi. Dan tentu saja kartu nama.

Buku yang penulis hasilkan berbeda sifatnya dengan karya di media cetak. Media cetak berisi banyak karya, banyak tulisan. Orang fokus pada keberagaman isinya untuk menggali banyak informasi. Sebuah buku lebih personal lagi, apalagi jika ditulis secara sendiri dalam artian buku solo. Orang dihadapkan pada satu informasi tapi disajikan lebih mendalam.

Dalam hal ini, pandangan saya untuk buku solo seperti ketika pedagang kue membuat kue. Kue yang menjadi andalan karena dibuat dengan sepenuh hati, sepenuh tenaga, apalagi kue itu bergizi, tentu saja wajar jika si pembuat kue ingin kue itu juga dinikmati oleh orang lain. Karena itu tidak salah, kalau ia memberi tahu pada yang lain, bahwa ia punya kue yang enak dan bergizi. Orang yang belum mengenal akan menganggap aneh pastinya pada awalnya.

Tapi ketika orang sudah merasai kue itu,dan memang benar-benar lezat, maka orang itu bukan saja menjadi suka, tapi bisa menjadi ketagihan dan menjadi pelanggan. Pelanggan itu bisa jadi akan bicara pada pelanggan yang lain. Semakin banyak jaringan pelanggan, semakin banyak kue-kue yang bergizi dihasilkan. Dan akhirnya bisa merubah pasar. Pasar yang menjual kue tanpa gizi akan mencoba membuat kue bergizi pula. Sebab kuenya yang tidak bergizi tidak laku. Begitu juga dengan buku.

Saya belajar banyak dari adik saya yang marketing. Ketika mengajak membeli batik dan adik saya langsung promo ke penjual batik mengatakan, kalau batik itu untuk saya pakai di acara launching buku. Konyol dan aneh di mata saya yang pada awalnya beranggapan menulis saja tidak perlu orang tahu. Tapi lama kelamaan saya paham. Ada ribuan penulis dan cuma segelintir orang yang paham dan bersentuhan langsung dengan penulis.

Ribuan penulisnya bertugas hanya menulis saja, padahal orang lain perlu tahu pemikirannya yang bagus. Bahkan orang lain butuh juga bersentuhan dengannya, agar dapat ikut merasakan atmosfir positif darinya.
Tentunya ini bukan berarti setiap orang harus kenal dirinya dan ingin dipuja seperti layaknya artis. Ini cara lain agar mempengaruhi pasar dengan sesuatu yang bergizi. Dengan begini penulis yang bukunya tidak bergizi, lama kelamaan akan malu ketika orang di sekelilingnya hanya mau membaca buku yang bergizi. Lambat laun ia pasti akan mengubah tulisannya menjadi tulisan bergizi juga.

Mari Membeli, Sah Kok Membagi

Saya suka membagi buku. Membagi buku dengan tujuan untuk mempengaruhi orang lain. Saya membeli buku karya saya, saya beri tanda tangan, lalu saya berikan pada anak tetangga yang cukup pintar. Dia suka, terharu dan bertanya di toko mana ia bisa mendapatkan buku saya yang lain? Orangtuanya juga suka. Bahkan hebatnya, ia bisa mempengaruhi teman yang lain untuk membaca buku.
Memberi yang seperti ini sah untuk saya. Saya ikhlas mengeluarkan uang untuk membeli buku karangan saya di penerbit, untuk kemudian saya berikan pada orang yang layak menerimanya.

Saya juga suka memberi buku untuk teman yang berkunjung ke rumah meski ia tidak memintanya. Alasannya untuk saya karena saya senang dengan kehadiran mereka, dan balasan terima kasih saya adalah dengan menghadiahkan buku untuknya.
Rugi? Buat saya tidak.

Saya memberi juga ke orang lain. Mereka yang belum paham buku akan suka dan takjub. Lalu mulai membacanya. Seorang tetangga pernah meminta buku saya dan saya berikan. Dia tidak suka baca tapi anaknya suka baca. Dan buku saya itu menjadikan rujukan untuknya sering bertanya banyak hal pada saya.

Saya terdorong mengirim karya ke media karena sobekan kertas bungkus cabe milik Ibu. Ada sebuah puisi dan alamat pengiriman puisi tersebut pada kertas itu. Jadi andai saja, ada orangtua yang tidak suka buku lalu buku anaknya disobek olehnya, untuk jadi bungkus cabe atau bungkus apa saja, saya berharap lebih dari itu. Saya berharap akan ada orang lain yang membaca sobekan itu untuk kemudian jadi rujukan ia suatu saat kelak. Dan saya yakin itu bukan mimpi.

Memberi dengan mimpi suatu saat ke depan, itu akan membuat perjalanan memberi menjadi ringan. Untuk itu saya membuka kelas penulisan gratis di FB bernama Penulis Tangguh. Tujuannya memberi teladan dengan memberi yang terbaik.
Kalaupun kelas itu sekarang saya vakumkan, dan saya akhirnya membuat kelas berbayar, tentunya bukan karena saya akhirnya berhenti memberi. Ada niat lain yang wajib saya sembunyikan dan hanya saya bagi pada Pemilik Hidup. Ada tujuan lain yang tidak perlu digembar-gemborkan hanya untuk membuat orang lain memberi komentar sinis karena mereka tidak paham.

Untuk para penulis yang ingin menulis, mari belajar untuk membeli karya teman penulis lain. Jangan pernah meminta. Tetap jaga fokus menulis kita. Menjaganya seperti berada di sebuah jalan. Lurus atau bengkok memang terserah kita. Kalau saya, memaksakan diri untuk selalu lurus dan fokus. Artinya seheboh apapun penghasilan orang lain dengan tulisannya, saya punya gaya sendiri dan prinsip moral sendiri. Jadi saya tidak akan pernah mau mengganti prinsip moral saya dengan rupiah yang tidak bisa saya bawa sampai mati.

Menjadi Positif Dimulai dari Rumah

Bertiga

Saya model ibu dan istri yang sering sekali meluruskan kalimat suami dan anak-anak, ketika itu arahnya menuduh bukan bertanya. Menuduh dan bertanya jelas berbeda.
Dalam suatu kasus ketika suami yang mencari lem tidak ketemu juga, suami berkata,”Siapa yang mengambil les di atas lemari?” Kalimat itu untuk saya bukan kalimat bertanya yang baik, itu lebih mirip kalimat tuduhan.

Maka saya akan bilang kalimat yang seharusnya adalah ,”Ada gak ya yang lihat lem yang ditaruh di atas lemari?”. Dengan model pertanyaan seperti itu, maka setiap mulut akan menjawab dengan enak karena merasa tidak dituduh. Sedang pertanyaan pertama akan berlanjut pada jawaban seperti,” Bukan aku,” dengan wajah masam.

Anak-anak memang diarahkan untuk menjadi positif dari rumah. Itu artinya saya harus bekerja keras mengganti kalimat negatif dengan positif. Mengajarkan pada anak-anak bahwa seberapa negatif pun teman kalian, kalian harus berada di garda terdepan untuk menjadi positif.

Menjadi positif itu jelas susah. Di zaman sosial media dimana setiap orang berlomba mengeluarkan argumennya sesuai dengan standar hidupnya, maka hal-hal yang mereka lihat diluar jangkauan standar pemikiran dan pengalamannya akan dijadikan ajang, untuk diberi komentar sinis bagi orang yang terbiasa sinis. Untuk yang mau belajar tentu mereka akan menahan diri dan menjadikan itu sebagai ajang belajar.

Di social media kebaikan sebesar apapun yang kita lakukan akan dipahami sebagai ada udang di balik batu. Tanpa pernah memahami apa yang pernah kita lakukan dalam dunia nyata. Dan tentu saja, saya tidak mau anak-anak menjadi pribadi yang negatif. Di Al Quran panduannya jelas. Bahwa sebagian dari prasangka adalah berdosa!

Menjadi positif di rumah tantangannya adalah ketika anak akhirnya berbaur ke luar. Karena itu saya bilang pada keponakan yang tinggal di pesantren, kalau tantangan untuk ia hidup adalah ketika keluar dari pesantren. Bisa tidak dia tetap berpegang pada prinsip di pesantren dan jadi arah yang baik untuk komunitasnya.

Kembali ke rumah, Attar punya teman baik. Teman baik yang sebenarnya karakternya bertolak belakang karena orangtuanya berasal dari Sumatera. Tapi entah kenapa orangtuanya selalu ingin anaknya dekat dengan Attar. Di SD mereka selalu sekelas dan selalu berlomba mendapatkan tempat yang terbaik paling tidak dalam jajaran 10 atau 5 besar.
Yang menjadi masalah untuk saya bukan prestasi itu, tapi lebih penting dari itu.

Teman baik Attar ini memiliki orangtua yang sikapnya bertolak belakang dengan saya. Ia juga sering curhat tentang anaknya. Dan meski jalannya pelan, tapi sedikit banyak masukan saya diterima olehnya. Ketika akan masuk SMP, saya pilihkan Attar SMP yang menurut saya baik untuk akhlak Attar. Teman baiknya memilih sekolah lain. Tapi ketika proses pendaftaran dimulai, ternyata orangtua anak itu pindah arah. Mereka bilang ikut pilihan saya, karena yakin yang terbaik.

Seorang anak akan mengikuti teladan orangtuanya. Jujur saya takut itu. Karena itu sering-sering saya katakan pada Attar untuk mempengaruhi teman baiknya itu, jangan ia yang terpengaruh temannya.
Apa yang Ibu ajarkan maka tiru dan sebarkan pada teman yang lain. Itu artinya, dia tidak boleh bicara yang kasar karena ibu tidak kasar. Attar harus berpikir positif dan harus menjadi contoh untuk teman yang lain, karena Attar anak Ibu bukan anak orang lain. Suatu saat Ibu yang akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah.

Prosesnya panjang, saya sadari itu. Bukan setahun dua tahun tapi lebih. Tapi, saya sudah berjanji dan bertekad bahwa sepanjang apapun proses itu bahkan bila itu memakan puluhan tahun, demi generasi yang lebih baik dan melihat dunia dengan kaca mata positif, maka itu tidak masalah untuk saya.

Menjadi positif untuk saya panduannya jelas. Rasul tercinta Muhammad saw selalu berprasangka positif bahkan kepada orang yang menzaliminya sekalipun. Maka tentu saja saya wajib mengikuti panutan saya.

Jadi sekarang di rumah ketika ada kalimat negatif yang keluar, maka saya mulai mendengar suara teriakan saling bersahutan…”Negatif…., itu negatif!”
Anak-anak mulai paham dan itu artinya apa yang saya contohkan tidak sia-sia.

Jangan Mau Jadi Tong Sampah

IMG-20160617-WA0059

Kita mungkin pernah menemui teman yang selalu mengeluh. Teman yang setiap bertemu atau interaksi dengan kita, mengeluarkan segala keluhannya. Keluhan bukan berbagi cerita tentang masalahnya tentu saja.
Karena berbagi masalah (curhat) biasanya hanya terjadi beberapa kali. Dan ketika ia mendapat solusi, ia mau dan berusaha keras menjalankan solusi itu.
Mengeluh itu mirip dengan sampah yang dikeluarkan. Dan kita, yang dianggap selalu mau mendengarkan keluhannya ternyata dianggap seperti tong sampah untuk menampung segala sampah keluhannya.
Keluhan berupa energi negatif itu jelas harus dibantu. Tapi jika energi negatif itu datang terus menerus dan kita menjadi muak karenanya, mungkin itu karena energi negatif berupa sampah keluhan itu, sudah begitu menganggu kita.

Lalu apa yang harus Anda lakukan?

1. Ia Individu Bermasalah
Seorang yang terus mengeluh memang ada masalah dengan dirinya. Masalah yang paling jelas adalah ia tidak mau bangkit dari segala masalah itu.
Ketika kita merasa bukan orang yang ahli, dan justru muak dengan keluhannya, maka yang harus kita lakukan adalah meminta dia untuk mencari bantuan dengan orang yang lebih ahli.

2. Intropeksi Diri
Sebelum melakukan tindakan yang lain, yang harus kita lakukan tentu saja intropeksi diri. Kenapa seorang itu selalu mengeluh kepada kita? Apakah karena Anda dianggap orang yang cukup sabar untuk dibagi semua masalahnya?
Atau kita dianggap cukup ahli dan cocok untuknya?
Kalau itu yang terjadi maka kita harus mengatakan terus terang padanya, tentang apa yang kita rasakan. Sehingga ia sadar bahwa kita adalah manusia biasa dan bukan orang yang ahli untuk itu.

3. Bukan Bermanfaat tapi Dimanfaatkan
Menjadi manusia yang bermanfaat tentu saja impian banyak orang. Tapi jika seorang terus-mengeluh dengan kita hingga berbulan-bulan sampai bilangan tahun, itu artinya kita bukan bermanfaat untuknya tapi dimanfaatkan olehnya.

4. Cek Nilai Positif atau Negatifnya
Terbiasa mendengar keluahan terkadang membuat energi positif yang Anda miliki jadi terpengaruh dengan energi negatif dari orang yang terus mengeluh pada Anda. Untuk melihatnya Anda bisa memulai dengan membuat daftar kebiasaan Anda. Apakah kebiasaan Anda ada yang berubah karena terpengaruh energi negatif dari yang mengeluh? Semisal, Anda jadi lebih sering merenung untuk memikirkan solusi dari setiap keluhan yang disampaikan. Padahal Anda tahu solusi itu tidak akan pernah dipakai oleh si pengeluh.
Jika Anda merasa sudah terlalu banyak hal positif dari Anda hilang karena pengaruh keluhan itu, maka itu suatu tanda bahwa Anda harus berhenti menjadi tong sampah.

5. Beri Peringatan
Seorang yang terus mengeluh, apalagi orang itu adalah individu dewasa yang sudah matang usia dan pengalaman, maka pasti memiliki pemahaman yang juga dewasa. Kecuali ia terserang gangguan kejiwaan.
Jika ia terus menerus menghubungi, maka kita bisa dengan mudah untuk tidak menjawab telepon atau pesannya.
Atau bila ia mendatangi, tidak perlu diterima kedatangannya.

6. Tegas
Banyak pesan yang tidak sampai kepada penerimanya, karena pesan itu tidak dibarengi dengan sikap pemberi pesannya. Beri pesan yang tegas pada teman kita dan kukuhkan dengan sikap tegas. Misal, kita menghindar darinya atau menutup semua akses dirinya.

7. Terbebas Darinya
Sekarang rasakan bagaimana ketika diri kita terbebas dari teman yang suka mengeluh? Apakah hidup jauh lebih bahagia atau justru lebih sedih?
Jika lebih bahagia berarti benar keluhan teman adalah sampah untuk kita. Sedang jika justru menjadi sedih, jangan-jangan kita merasa memang cukup layak selama ini menjadi sebuah tong sampah.

Belum Tua

10484030_10152368490438591_6258940314478080337_n

Di negeri dongeng, siapakah yang selalu bersemangat melakukan kejahatan meski mereka sudah tua usianya?
Nenek sihir jawabannya. Dalam cerita apapun di sebuah negeri dongeng, selalu ada tokoh nenek sihir yang tidak pernah kenal menyerah dengan segala inovasinya untuk melakukan banyak kejahatan. Mulai dari memberi apel beracun pada kisah putri salju, hingga membuat rumah coklat pada kisah Hansel and Gretel.
Nenek sihir buat saya bukan sekedar sosok yang menakutkan. Saya suka semangatnya tapi bukan kejahatannya. Saya suka setiap pangeran berusaha mengalahkannya dan itu dilakukan bukan dengan cara mudah, tapi dengan banyak rangkaian kegagalan.

Nenek sihir sosok inspiratif untuk saya. Ia mengajarkan untuk terus bersemangat melakukan banyak hal tanpa peduli pada usianya.
Karena itu saya selalu suka dengan para ibu yang sudah tidak muda lagi, yang terus bersemangat dalam hidupnya.
Pernah seorang Ibu cukup tua duduk di samping saya. Kami duduk untuk menunggu jadwal interview untuk menjadi tenaga freelance di sebuah penerbitan. Usianya sudah tidak muda lagi. Baru masuk masa pensiun. Dan ia merasa bahwa ilmunya masih bisa berguna, pada masa dimana orang lain seusianya memilih untuk tinggal di rumah, menikmati masa pensiun.
Di tempat lain, saya bertemu dengan seorang ibu yang melanjutkan kuliah di tingkat sarjana pada usia 60 tahun. Tujuannya bukan ambisi pada sebuah jabatan. Tapi karena ingin anak-anaknya kelak tidak berhenti untuk terus menuntut ilmu.

Usia, bukan menjadi halangan untuk melangkah maju, merintis mimpi atau melakukan hal yang baru. Karena mimpi tidak boleh terhadang oleh usia. Sepanjang masih terus diberi nafas itu artinya kita masih bisa mewujudkan mimpi menjadi nyata.
Tapi jangan salah, sosok nenek sihir dengan semangatnya itu justru tidak dimiliki oleh para ibu-ibu muda.
Banyak ibu muda di bawah 40 tahun dengan dua anak yang saya ajak bicara soal mimpi hanya menggeleng sambil tersenyum malu. Mereka bilang tidak punya mimpi lagi, karena sudah tua. Mereka justru aneh dengan mimpi-mimpi saya yang masih banyak dan ingin saya raih.
Merasa tua di usia muda dan pada akhirnya menjadi tua sesuai mindset kita. Merasa tua pada akhirnya malas untuk berpikir lagi, karena berpikir itu jatahnya anak muda. Merasa tua itu artinya malas memeras keringat lagi, karena itu juga artinya jatah anak muda.
Merasa sudah tua itu pada akhirnya akan menggiring pada sikap lain. Menekan anak-anak untuk tumbuh dengan cepat, menjejali dengan aneka ragam ilmu yang tidak menjadi minat dan bakat anak-anak, demi sebuah prestasi. Ujung dari prestasi dari anak-anak mereka adalah masa tua mereka jadi bisa dilewatkan dengan santai tanpa perlu bekerja lagi.
Nenek sihir dengan rambut putih, dagu panjang juga tubuh bungkuk mungkin berumur sekitar seratus tahun lebih. Tapi para manusia lanjut usia yang banyak di lingkungan kita, berusia separuh dari nenek sihir dan merasa sudah tidak perlu melakukan apa-apa lagi.

Belajar dari Orang Hebat

Pelajaran tentang semangat yang lain saya dapatkan dari eyang putri saya. Beliau janda sejak usia 25 tahun yang suaminya ditembak di depan matanya, dan meninggal di usia hampir satu abad. Beliau tidak berhenti bekerja dan masih mendapatkan penghasilan di usianya yang ke 90. Eyang putri benar-benar berhenti ketika tulang kakinya patah dan pikun mulai menyapanya.
Kita memang tidak akan hidup selamanya. Kita juga tidak paham sampai titik mana kita berhenti untuk tinggal di dunia.

Justru hal itu yang membuat saya seperti menabung sesuatu. Andaikan dua puluh tahun atau tiga puluh tahun lagi saya masih ada di dunia, maka benih mimpi yang saya rintis sejak saat ini, pasti pada dua puluh tahun atau tiga puluh tahun lagi akan membuat saya menjadi manula yang tetap produktif. Dan tentu saja itu akan membuat saya tidak tergantung pada anak-anak kelak.
Bahkan andaikata umur saya berakhir besok, saya tetap punya sesuatu yang berharga yaitu waktu yang tidak terbuang sia-sia.

Mooryati Soedibyo memulai usahanya di usia 44 tahun. Dan mengadakan ajang pemilihan putri Indonesia di usianya yang ke 62 tahun. Di usianya sekarang 86 tahun beliau adalah pengusaha sukses yang juga menjabat di MPR.
Saya suka nenek sihir dan semangat banyak orang tua yang tidak pernah merasa tua.
Untuk hidup yang bermanfaat, sungguh saya merasa belum tua.

Lapar Mata Saat Berbuka

SP_A0367

Lapar di saat bulan Ramadhan adalah hal biasa. Menahan lapar dan haus dirasakan setiap muslim pada bulan ini.
Yang banyak menjadi masalah ternyata bukan menahan lapar perut, tapi menahan lapar mata. Banyak penjual makanan bertaburan menjelang berbuka dan membuat mata yang lapar akhirnya tergerak untuk membeli. Meskipun belum tentu semua yang dibeli itu akhirnya bisa dimakan semuanya sesampainya di rumah.

Lapar mata tentu hanya akan membuat budget bulanan bertambah. Menghilangkan lapar mata bisa dilakukan dengan mudah.

1. Caranya tentu menetapkan budget berbelanja separuh dari belanja di bulan lainnya. Jangan sampai budget belanja di bulan Ramadhan dua kali budget belanja bulan lainnya. Syukur-syukur yang kita tambah adalah budget sedekah.

2. Lakukan hal kreatif dengan cara mengolah makanan yang berbeda. Dan libatkan seisi rumah untuk membuat makanan yang akan mereka makan saat berbuka nanti. Cara seperti ini mengikat kita sebagai keluarga, dan membuat anak memiliki ingatan manis tentang kebersamaan.

3. Buat sajian yang menarik dengan wadah yang menarik sehingga anak-anak lebih memilih makanan rumah ketimbang makanan di luar. Coba cek wadah makanan kita. Keluarkan dari tempat penyimpanan untuk bisa dipakai pada saat bulan puasa.

4. Jika ingin tetap jajan di luar, maka lakukanlah sesekali saja jangan setiap kali. Misalnya seminggu sekali. Toh kadang-kadang dalam hidup kita butuh selingan.

5. Ajak anak-anak untuk sesekali berkeliling menjelang berbuka puasa dan lakukan buka puasa di masjid. Mereka akan paham bahwa buka puasa sekedarnya saja sudah cukup.

Dengan cara seperti itu lapar mata akan bisa dialihkan untuk sedekah dan uang kita juga bisa disisihkan. Kalau sudah begini maka makna puasa menahan lapar dan haus, bukan memindahkan jam makan bisa kita dapatkan.

Perpustakaan Berjalan

aku di republika

Di rumah banyak sekali buku dan majalah. Karena saya biasa mengajak anak-anak ke toko buku sebulan sekali . Ketika koleksi itu semakin banyak, rasanya hati jadi miris karena hanya anak-anak yang mendapatkan manfaatnya.
Saya pernah beberapa kali menawarkan ke pengurus masjid untuk membuka perpustakaan, dan saya penyumbang bukunya. Tapi hanya mendapat respon kalimat nanti akan dibicarakan sesama pengurus.
Menawari tetangga untuk bebas meminjam buku di rumah juga tidak mendapat respon yang baik. Mereka lebih suka menonton sinetron ketimbang membaca buku.
Akhirnya saya memakai alternative lain, yaitu dengan menelusuri beranda jejaring sosial seperti Facebook. Dari situ saya bisa tahu, siapa saja yang membutuhkan buku untuk dijadikan koleksi taman bacaan mereka. Saya tinggal menghubungi teman tersebut dan menawarkan majalah atau buku yang ada di rumah.
Tapi cara itu ternyata masih tidak memuaskan hati saya. Saya merasa masih ada yang kurang jika hanya anak-anak di rumah yang suka buku dan paham banyak hal dari buku, tapi teman dan lingkungannya tidak.
Saya pikir tidak bisa menunggu lagi. Lingkungan yang seirama, suka buku tentunya akan lebih baik untuk tumbuh kembang anak-anak. Melihat minat si bungsu dengan buku yang lebih besar ketimbang kakaknya, akhirnya saya mengajak ia bekerja sama.
“Dik, sayang loh kalau teman kamu tidak tahu buku bagus ini,” ujar saya suatu hari ketika ia membuka lemari buku.
“Terus aku harus apa, Bu?”
“Kamu bawa ke sekolah, terus kamu buka pas istirahat.”
Maka saya mulai membawakan Bilqis setiap ke sekolah dan TPA , buku dengan gambar yang banyak. Tujuannya untuk memancing minat baca teman-temannya. Teman-teman sekolahnya suka. Malah ada yang meminjam majalah juga dari Bilqis.
Meski kadang-kadang ia jenuh juga ketika beberapa kali membawa buku, temannya tidak ada yang mau membaca buku bersmaanya.
Agak lama vakum, akhirnya Ramadhan ini saya mengajak Bilqis melakuannya bersama-sama. Agar ia bersemangat lagi.
Jadi setiap salat tarawih, saya masukkan beberapa buku ke dalam tas. Lalu di masjid saya memilih tempat dekat anak-anak seusia Bilqis. Begitu mereka mulai ribut, saya mengeluarkan buku cerita yang saya bawa, sehingga mereka langsung antusias untuk membacanya. Dan berkali-kali saya lakukan, peminat bukunya semakin banyak.
Ini hanya langkah kecil versi saya. Tapi menjadi manusia yang bermanfaat memang dimulai dari sesuatu yang kecil.

Selembar Surat dari Hati

DSCF2639

Titis menganggukkan kepalanya keras-keras di hadapan Ibu. Tadi ia berbohong lagi pada Ibu. Ini bohong yang kesekian kali yang ia lakukan pada Ibu.
“Itu baju temanku, aku pinjam,” ujar Titis kali ini tangannya mengambil kue lumpur buatan Ibu yang ada di atas piring. Titis menggigitnya separuh saja lalu meletakkan kembali.
Ibu selalu begitu. Ibu marah dan marah lagi.
“Jajan kamu yang kemarin?”
Titis cemberut.
Ia tahu sebentar lagi Ibu akan menggeleng. Ibu memang selalu saja menggeleng setiap kali Titis meminta tambahan uang jajan. Padahal Titis selalu bilang bahwa uang jajan itu akan dipakainya untuk membeli barang seperti kepunyaan teman.
“Tapi baju itu sudah seminggu ada di lemari kamu.”
Baju itu berwarna biru. Kaos bergambar bunga mawar yang dilukis. Titis suka. Begitu sukanya Titis sampai ia sering memimpikan baju itu.
“Kamu benar meminjamnya?”
Titis mengangguk lagi. Kali ini, ia membawa piring berisi kue lumpur bersamanya lalu masuk ke dalam kamar.
Ibu selalu begitu.Ibu banyak bertanya. Ibu seperti menuduh. Karena itu ia suka berbohong pada Ibu.
**
Mereka selalu berbeda dengan yang lain. Mereka, Titis dan Ibu. Ibu mungkin tidak pernah tahu rasanya jadi anak seusia Titis.
Ibu selalu bilang mereka harus irit karena Ayah kerja di luar kota dan baru pulang sebulan sekali. Ibu juga bilang agar Titis belajar menjahit atau membuat kue, agar kata Ibu kalau sedikit besar Titis bisa mencari uang sendiri.
Titis cemberut.
Sekarang Titis duduk di samping Risma. Mereka memang sering duduk berdua setelah pulang sekolah. Risma menunggu jemputan datang sedang Titis memang sengaja berlama-lama karena malas untuk pulang.
“Kamu pernah bohong?” tanya Titis kali ini pada Risma.
Risma memandang Titis.
“Bohong sama Mama kamu?”
Risma diam. Kakinya malah bergoyang-goyang tapi ia tetap tidak menjawab pertanyaan Titis.
“Aku suka bohong,” kata Titis akhirnya lalu berdiri dari duduknya. Ada semut yang menggigit dan masuk ke dalam sepatunya terpaksa ia melepaskan sepatunya.
Risma menggeleng. Mobil jemputannya sudah datang. Tangan Titis bahkan ditariknya dan diajak untuk pulang bersama.
**
“Aku tidak mungkin bohong,” ujar Risma ketika mereka sampai di rumah.
Rumah Risma besar tapi kosong. Rumah itu bersih dan rapi. Seorang Bibik membukakan pintu untuk Titis dan Risma tadi.
“Mama kamu kerja?” tanya Titis pelan.
Risma tersenyum. Mengajak Titis duduk di teras. Lalu Risma berdiri dari duduknya dan meminta Titis menunggu.
Tidak lama kemudian Risma datang dengan sebuah bingkai besar.
“Apa itu?” Titis ingin tahu.
Risma menyodorkan pada Titis. Sebuah surat yang ditulis dengan pulpen warna biru. Di bawahnya ada foto Risma dan mamanya.
“Mama buat ini untuk aku ingat terus. Mama bilang ini surat dari hati Mama. Kalau aku bohong Mama sedih sekali.”
Titis membaca surat itu. Surat itu bagus sekali. Ibu mungkin tidak pernah bisa membuat surat seperti itu.
“Kalau aku kangen Mama, aku lihat surat ini. Aku harus jadi anak hebat seperti yang Mama bilang dulu.”
Kali ini kening Titis berkerut. “Mama kamu memangnya kemana?”
Risma mengambil air minum di depannya lalu meminumnya. “Kamu belum tahu?”
Titis menggeleng. Titis baru berteman akrab dengan Risma sebulan yang lalu. Itu juga karena sebulan yang lalu tempat duduk Titis dipindah ke depan dekat Risma.
“Mama aku hilang waktu mau kerja ke luar kota. Pesawatnya jatuh belum juga ketemu.”
Titis langsung menunduk.
Mama Risma hilang dan belum ditemukan. Kali ini mata Titis memandangi tulisan di dalam surat yang dibingkai itu.
Anak hebat itu tidak suka berbohong pada orangtuanya. Begitu yang tertulis di situ yang membuat Titis rasanya ingin cepat pulang ke rumah.
**
Kalau Ibu tidak bisa membuat surat seperti mamannya Risma, maka Titis yang akan membuatnya.
Sekarang, di dalam kamar, Titis mencoba menulis surat untuk Ibu dengan membayangkan surat yang tadi dibacanya di rumah Risma.
Titis akan bilang kalau selama ini ia berbohong. Baju yang ada di dalam lemarinya dan ditemukan oleh Ibu itu, baju miliknya yang ia beli sembunyi-sembunyi. Harganya mahal karena itu ia memakai uang jajannya.
Titis tidak berani mengatakan yang sebenarnya pada Ibu. Ibu pasti akan marah dan mengatakan kalau Titis sudah boros menghabiskan uangnya.
Surat itu Titis tulis pada selembar kertas warna merah jambu. Titis tulis pelan-pelan agar menjadi bagus. Mungkin nanti Titis bingkai agar Ibu bisa dengan mudah melihatnya.
“Tis…”
Di luar terdengar suara Ibu memanggilnya.
Belum sempat Titis keluar dari dalam kamarnya, pintu kamarnya sudah dibuka. Ada wajah Ibu tersembul dari balik pintu.
“Ibu sudah beli, Nak..,” ujar Ibu pada Titis.
Titis mengerutkan keningnya tidak mengerti.
“Baju yang kamu simpan di lemari yang punya teman kamu itu, besok dikembalikan ya. Ibu sudah dapat di toko tadi. Warnanya sama dengan baju itu.”
Tangan Ibu lalu terangkat. Satu baju yang memang sama persis dengan baju yang Titis simpan di lemari sekarang ada di hadapan Titis.
“Harganya memang mahal tapi Ibu beli untuk kamu. Sudah lama Ibu tidak kasih hadiah untuk kamu.”
Titis diam. Kelopak matanya menjadi panas.
Selembar surat itu belum selesai ditulisnya. Sekarang yang dilakukannya adalah mendekat pada ibu dan memeluknya.
**

 

10 Komik Satu Cinta

IMG_2582

Bagian Pertama

“Kembalikan buku-buku ini kepada pemiliknya,” ujar Bunda pada Kania di suatu sore sambil menyerahkan setumpuk buku komik. “Kembalikan dan jangan sampai Ayahmu tahu…”
Langit sore itu mendung. Tapi itu pasti bukan suatu sebab yang membuat mata Bunda kelihatan sembab.
“Ayahmu cemburu untuk suatu sebab yang tidak jelas. Kembalikan buku itu pada pemiliknya.”
Kania memandangi Bunda.
Itu buku-buku komik yang biasa Bunda simpan dalam rak bukunya. Buku-buku itu sudah lama sekali tersimpan di sana. Kania dulu suka membacanya ketika di Sekolah Dasar.
“Kembalikan buku-buku itu ya, Nak…”
Ada sepuluh buku komik. Buku komik doraemon yang dulu menemani Kania setiap kali kesepian di rumah.
“Bunda tahu di mana tempatnya. Kamu pasti bisa menemukannya. Tolong Bunda ya, Nak…”
Mata Bunda begitu sembabnya. Juga merah. Apa sih sebenarnya yang terjadi pada Bunda? Apa Ayah begitu marahnya pada Bunda.
“Bunda kasih tahu alamatnya, ya?” ujar Kania mencoba menenangkan Bundanya.
**
Sebuah rumah di tepi sungai. Dekat jalan raya. Kania hanya butuh naik bus dua kali dari rumah. Tempatnya tak jauh dari sekolah Kania.
“Pagarnya dari bambu berwarna-warni di mana Bunda dulu sering kali mengagumi keindahan warna-warninya,” begitu Bunda cerita dengan mata berbinar.
“Bunda benar ingin mengembalikannya?”
Bunda menganggukkan kepalanya.
Dan Kania tidak ingin mengecewakan Bunda. Bunda terlalu baik selama ini. Bunda tidak pernah marah. Bunda terlalu sabar padanya. Begitu sabarnya menghadapi Ayah yang lumayan kerasnya.
Sekarang Kania berdiri.
Tepat di luar pagar di sebuah rumah di tepi sungai yang pagarnya masih bambu dan dicat warna-warni.
Halamannya begitu luas. Dua pohon jeruk yang tidak terlalu tinggi sedang berbuah. Sebagian jeruk itu sudah hampir menguning semuanya. Sementara tidak jauh dari pohon jeruk, ada tempat duduk yang atapnya ditutupi pohon markisa yang juga sedang berbuah.
Kania jadi membayangkan duduk di tempat itu dan menikmati markisa yang sudah menguning itu.
Beberapa buah rak buku terlihat dari luar. Bermacam-macam buku. Kalau saja Bunda memberi tahu tempat itu sejak dulu, mungkin Kania akan senang menghabiskan waktu di perpustakaan ini ketimbang jalan-jalan ke mall.
Jam buka jam 10 pagi hingga jam 5 sore.
Pintu dari pagar itu terbuka.
Tapi tempat itu sepi.
“Permisi..,” ujar Kania masuk perlahan.
**
“Cari siapa, Nak?” tanya seseorang di luar. Seorang Ibu berbaju rapih. Memandang pada Kania. “Mau pinjam buku?”
Sepuluh buku doraemon itu masih berada di dalam tas Kania. Bunda bilang jangan berikan kecuali pada seorang lelaki dengan dua lesung di pipinya dan matanya tajam memandang dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya.
Kania mengangguk. “Mau lihat-lihat dulu…”
“Oh boleh. Sekarang lagi sepi. Nanti kalau sudah menjelang sore banyak yang datang ke sini. Suka baca buku juga?”
Kania mengangguk. Mengamati buku dalam beberapa rak yang ada. Buku-bukunya sama seperti buku yang ada di rumah.
“Kalau mau baca boleh duduk di mana saja, Nak.”
Tidak ada komik. Apalagi komik doraemon. Semuanya buku-buku yang sedikit gambarnya. Kadang-kadang Kania agak pusing juga kalau baca buku dengan sedikit gambar meskipun Bunda selalu bilang kalau Kania harus mencoba menyukainya.
Rak dengan buku-buku yang sama.
Tapi lelaki yang berlesung pipi dan…
“Sudah ketemu bukunya, Nak?”
Kania menggeleng. “Om Reihannya ada, Bu?”
Kening Ibu yang ramah itu berkerut.
“Tanya soal Om Reihan saja. Kami dulu memanggilnya Sun. Matahari, Nak. Kalau kamu benar-benar sudah mengenalnya, kamu akan merasakan kehangatan matahari dari senyumnya.”
Ibu itu terus memandangi.
“Kata Bunda dulu ada yang bernama Om Reihan, yang…”
“Ayah….!” Ibu itu menghilang.
Memanggil seseorang.
**
Tapi yang datang seorang yang lain. Bapak dengan rambut memutih dan mata tajam memandang Kania. Tapi tidak ada senyum.
“Kamu cari Om Reihan?”
Suaranya juga tidak ramah. Kania bahkan jadi agak takut. Lebih takut ketimbang ketika Kania dimarahi Ayah.
Kania mengangguk.
“Untuk apa?”
Bunda pesan jangan cerita apa-apa kecuali Kania benar-benar bertemu dengan Om Reihan itu.
Kania menggeleng.
“Tidak apa-apa,” ujarnya. “Besok saya balik lagi ke sini,” ujarnya lalu bergegas pergi.
Tidak ada Om Reihan. Tidak ada laki-laki berlesung pipi yang selalu tersenyum itu. Mungkin Bunda salah.
**

“Kamu tidak menemukannya?”
Kania menggelengkan kepalanya.
Bunda memandanginya dengan sedih. Seperti berharap banyak padanya.
“Apa Bunda tidak salah rumah?”
Bunda menggeleng. “Rumah dengan cat bambu warna-warni di pinggir sungai. Banyak buku di sana. Dan Om Reihan…”
“Tapi bapak itu bukannya Om Reihan. Om Reihannya tidak ada…”
“Tapi kemarin…” Bunda memandangi Kania. “Kalau Bunda mencarinya, tolong jangan katakan pada Ayah. Ayahmu bisa cemburu.”
Kania memandangi Bunda. “Buku doraemon itu sudah lama, Bunda. Kenapa tidak disimpan saja?”
“Bunda meminjamnya dan Bunda wajib mengembalikannya.”
“Tapi sudah tujuh belas tahun yang lalu, kan?”
“Tapi tetap buku itu bukan milik Bunda.”
“Memangnya Om itu siapa?” tanya Kania.
Bunda menggeleng. “Katakan padanya untuk memberikan buku itu pada gadis yang lain…”
Bunda kok jadi aneh begitu, sih?
**

Bagian Dua

“Kania…”
Kania mungkin pulang terlalu sore. Atau Ayah yang pulang lebih awal ketimbang hari lainnya? Biasanya Ayah pulang setelah jam di kamar Kania menunjukkan pukul delapan malam. Biasanya Ayah datang setelah Bunda masuk kamar dan tidur.
“Kania…”
Apa Ayah akan memarahinya karena pulang kelewat sore? Atau…
“Ayah belikan rak buku di kamar kamu. Dan Ayah isi dengan buku-buku baru. Buku-buku untuk remaja seumuran kamu. Kamu pasti suka.”
Ayah menarik tangan Kania ke dalam kamar.
Benar. Rak buku baru. Tidak terlalu tinggi. Tapi rak itu berwarna ungu seperti warna kesukaan Kania. Pintunya dari kaca. Seperti baru dilap jadi begitu bersihnya. Dan di dalamnya sudah berisi banyak buku.
Tidak ada satu deretpun yang kosong.
“Ayah…”
Ayah menepuk bahu Kania. “Ayah ingin anak Ayah baca buku yang baik. Bukan buku-buku komik seperti yang biasa kamu baca. Kebetulan buku-buku ini buku yang akan dijual diskon. Ayah dapat diskon juga tentunya. Pengarang kesukaan kamu banyak bukunya di sini.”
Kania melihat buku yang ada di tangan Ayah.
Dara.
Ayah selalu cerita soal buku-buku yang ditulis oleh Dara. Buku apa saja. Kata Ayah, penulisnya pasti pintar. Dan kalau Kania rajin membaca buku karangannya maka Kania akan ketularan pintar.
“Kamu baca dan….”
“Kenapa tidak boleh komik,” protes Kania.
“Ssst..,” Ayah mengibaskan tangannya di depan wajah Kania. “Komik itu untuk anak kecil. Kamu sudah besar. Otak kamu harus diasah untuk memahami kehidupan lebih dalam lagi. Bukan dengan membaca komik. Apalagi komik doraemon.”
Kening Kania berkerut. Apa Ayah tahu?
“Komik itu yang kemarin dulu suka kamu baca, kan? Lihat Bundamu itu. Karena terlalu suka baca buku jelek jadi gampang sakit. Pikirannya tidak luas.”
Kania diam saja.
Ayah tidak bisa dibantah. Ayah memang selalu begitu bila bicara tentang Bundad.
Setahu Kania Bunda sakit bukan karena banyak baca buku yang aneh. Darah tinggi Bunda yang membuat Bunda pernah stroke dan membuatnya sekarang di kursi roda itu turunan dari Eyang Kakung.
“Penulis Dara ini Ayah kenal. Nanti kapan-kapan Ayah pertemukan dengannya.”
Kania mengangguk saja.
Buku-buku itu begitu banyaknya. Apa ia sanggup membacanya?
**
Ayah punya satu pe er.
Malam ini Kania harus membaca satu novel yang ditulis Dara. Besok Ayah akan tanya isinya. Kata Ayah sampai halaman berapapun Kania baca Ayah akan tahu. Karena Ayah hapal setiap halamannya.
Kania mengambil salah satu buku itu.
Belum lagi membukanya, pintu kamarnya terbuka.
“Bunda…,” Kania menghampiri. “Ayah membelikan aku rak berisi penuh buku,” ujar Kania.
“Ayahmu begitu mencintainya…” Bunda bicara pelan.
“Maksud Bunda…”
Bunda menarik napas panjang. “Kamu jangan lupa buku-buku yang Bunda pesan, ya?” Bunda terbatuk.
Sakitnya Bunda mungkin bertambah parah. Bunda tidak mau ke dokter. Darah tinggi dan asmanya kumat bergantian.
Kadang-kadang Kania berpikir…
Ah, tidak. Kania tidak boleh berpikir macam-macam. Bunda pasti akan sehat
seperti sebelumnya.
**
“Om tahu rumahnya?” tanya Kania pada Om Dedi.
Pulang sekolah Kania menyempatkan mampir ke rumah Om Dedi. Om Dedi itu adiknya Bunda.
“Rumah siapa?”
“Rumahnya…,” bola mata Kania berputar. “Bunda punya pacar siapa waktu muda dulu?”
Kali ini ganti bola mata Om Dedi yang berputar. “Bundamu dulu banyak pengagumnya. Om sendiri lupa siapa-siapa saja yang dekat sama Bunda.”
“Yang suka baca buku…”
“Semua cowok yang dekat sama Bunda kamu suka baca buku. Bunda kamu tidak suka sama cowok yang tidak suka buku. Contohnya Ayahmu, kan? Ayahmu suka baca buku.”
“Selain Ayah…”
“Selain Ayah itu…”
“Yang suka baca buku komik…”
“Yang suka baca buku komik…,” kening Om Dedi berkerut. “Kenapa kamu tanya begitu?”
Kania menggelengkan kepalanya.
“Memangnya kenapa?”
“Kalau Bunda bisa sembuh sakitnya karena…”
“Reihan!” Om Dedi nyaris saja berteriak. “Om Reihan namanya. Buku komiknya banyak. Bukan anak sekolahan. Tapi dia pintar menggambar dan bikin komik. Bundamu menyukainya diam-diam.”
“Tapi Om Reihan itu…”
“Pagi itu Om melihat Om Reihan pulang dengan kecewa. Kakek mengusirnya. Sebab Bundamu akan menikah dengan Ayahmu. Setelah itu dia tidak pernah kelihatan lagi.”
“Sepuluh buku komik yang Bunda simpan…”
“Bundamu masih menyimpannya?” tanya Om Dedi seperti terkejut.
“Memangnya…”
“Kakekmu membakar hampir semua buku komik yang ada. Jadi Bundamu masih menyimpannya?” Om Dedi menggelengkan kepalanya. “Om juga tidak mengerti kenapa Bundamu begitu dekat sama dia.”
“Om tahu rumahnya?”
“Terakhir di dekat sungai. Setelah itu katanya dia pindah. Ayahmu yang tahu.”
“Tapi…”
“Ayahmu yang tahu jelas.”
Kepala Kania jadi pusing karenanya. Kalau Ayah yang tahu, bagaimana mesti ia katakan soal sepuluh buku komik doraemon itu?

**
Bagian Tiga

“Sakitkah, Bunda?” tanya Kania waktu meminumkan teh hangat pada Bundanya.
Sore yang dingin ini Bunda menggigil. Asmanya kumat. Bunda tidak pernah mau meminum obat dari dokter. Bunda hanya ingin minum teh hangat saja.
“Kalau Bunda sembuh…”
“Buku komik itu sudah kamu berikan pada Om yang Bunda katakan?”
Kania menggeleng.
Om Dedi bilang tidak mau ikut campur. Ayah Kania galak. Karena itu Om Dedi meminta Kania untuk tidak berurusan lagi dengan Om Reihan. Lagipula, Om Dedi malah berpesan agar Kania bilang pada Bundanya kalau buku itu sudah dikembalikan. Om Dedi berjanji akan menyimpannya.
“Bunda…”
Bunda terbatuk. “Kania, buku itu harus dikembalikan kepada pemiliknya.”
“Kenapa harus dikembalikan? Bukankah itu sudah lama sekali? Tidak ada yang tahu di mana Om Reihan kecuali Ayah.”
Bunda menunduk.
“Apa Kania harus bertanya pada Ayah?”
Bunda masih menunduk.
Mungkin Kania memang harus bertanya pada Ayah.
**
“Sudah selesai buku novel yang Ayah pinta untuk kamu baca?”
Baru dua halaman. Itupun Kania paksakan. Tidak ada gambarnya. Bikin Kania mengantuk.
“Sudah selesai apa belum?”
Kania menggeleng. Ia harus jujur pada Ayah.
“Bagaimana kamu ini? Padahal kalau kamu bisa menyelesaikan dengan cepat,” Ayah geleng-geleng kepala. “Kamu akan Ayah pertemukan dengannya minggu depan.”
“Dia…”
“Ayah mengundangnya. Kamu pasti akan suka bertemu dengannya.”
Kania mengangguk saja.
Ayah kerja di sebuah penerbitan. Pastinya bisa dengan mudah bertemu dengan pengarang siapa saja.
“Matanya bulat seperti matamu…,” Ayah menepuk-nepuk bahu Kania. “Kamu pasti akan terkagum-kagum padanya.”
Kania mengangguk.
“Panggil namanya Tante Dara…”
Kania mengangguk lagi.
**
Badan Bunda panas.
Ayah pergi entah ke mana. Katanya ada suatu urusan.
“Ke dokter saja, Non,” ujar Bibik seperti ketakutan. “Kalau parah, gimana? Tetangga Bibik ada yang meninggal karena gak bisa napas.”
Badan Bunda panas sekali.
“Bunda mau ke dokter…”
“Komik doraemon itu, Nak..,” mata Bunda memandang pada Kania.
“Tapi…”
“Bunda akan merasa lega setelah itu…”
Badan Bunda panas.
Panas sekali.
Apa yang harus Kania lakukan?
**
Om Dedi datang di tengah malam akhirnya bersama istrinya yang dokter.
“Kalau Bundamu sakit begini harus telpon Om dong, Kan…”
Om Dedi mungkin tidak tahu kebingungan Kania.
“Kania…,” Om Dedi memanggilnya. Bicara di ruang tamu. “Bundamu bukan hanya sakit badan. Tapi juga sakit hatinya. Kamu mengerti?”
Kania tidak mengerti.
Bagaimana mungkin Kania bisa mengerti? Bunda tidak banyak cerita. Bunda lebih banyak diam. Bahkan dalam sakit sekalipun.
“Asma Bundamu itu harus dijaga,” Om Dedi kali ini menepuk pipi Kania. “Sedikit pikiran saja bisa membuat Bundamu menjadi sakit badannya.”
Kania menunduk.
Lalu ia harus bagaimana?
Ia hanya anak tunggal. Tanpa teman bicara. Kalau saja ia punya seorang kakak atau adik yang bisa diajak berbagi.
Sahabatpun ia tidak punya. Sejak Bunda sakit, ia jadi tidak enak hati merepotkan teman terbaiknya dengan masalahnya.
“Kania…”
Mata Kania basah memandang Om Dedi.
“Ayahmu yang tahu perihal Om itu. Om tidak berhak bertanya. Om hanya orang luar.”
Kania mengerti.
Ayah itu susah untuk diajak bicara. Ayah tidak akrab dengan Om Dedi.
“Om akan bantu, Kania. Kalau Bundamu sakit, kamu harus langsung hubungi Om. Tidak seperti sekarang ini. Untung asmanya tidak membutuhkan oksigen karena belum begitu parah.”
“Iya, Om..”
Kamu bicara dengan Ayahmu, ya?”
Kania mengangguk. Ia memang wajib bicara pada Ayah.

**
“Ke rumah sakit,” ujar Ayah pada Kania begitu datang dan tahu Om Dedi dan istrinya ada di rumah. “Biar Bundamu dirawat oleh dokter yang ahli. Istri Om Dedi sudah mengurusnya. Dan Ayah akan minta Bibik untuk menjaga Bundamu selama di rumah sakit.”
Bibik yang menjaga Bunda.
Diam-diam Kania memandang pada Om Dedi. Dan Om Dedi hanya mengedikkan bahunya sambil menggelengkan kepalanya.
“Besok kita bertemu dengan Dara itu. Kamu mau, kan?”
Ayah tidak bisa dibantah. Dan Kania hanya bisa mengangguk saja.
**
Bagian Empat

“Bundamu bisa kamu besuk nanti setelah kamu pulang dari bertemu dengan penulis itu.”
Begitu yang Ayah katakan pagi-pagi sekali ketika menyuruh Kania untuk membeli nasi uduk untuk sarapan.
Pagi ini ada janji dengan Tante Dara yang datang ke kantor Ayah. Ayah akan beri waktu pada Kania untuk bicara dengan Tante itu dari hati ke hati. Ayah akan menunggu di ruangan Ayah.
Beberapa novel yang Ayah berikan pada Kania belum Kania sentuh lagi. Kania tidak berminat. Kania justru memikirkan Bunda. Pasti Bunda merasa sedih karena hanya ditunggui oleh Bibik.
Nanti, sepulangnya dari kantor Ayah, Kania akan langsung ke rumah sakit. Kania akan menunggu Bunda sampai besok pagi. Mungkin Kania akan berangkat sekolah dari rumah sakit saja.
“Pakai baju yang membuat kamu kelihatan pintar. Bukan baju yang hanya mengesankan bahwa kamu menarik saja. Pintar, Kania. Banyak laki-laki akan bertahan pada perempuan karena kepintarannya. Bukan karena menariknya.”
Kania mengangguk saja.
Seperti saran Ayah, Kania mengenakan baju atasan berwarna ungu dengan motif bunga. Ditambahi jaket jeans yang warnanya coklat. Serasi dengan celana panjang coklat.
Kalau Bunda ada di rumah, Bunda pasti lain pilihannya.
Bunda akan memilih yang menarik dan sesuai dengan jiwa Kania. Bunda itu pakaiannya selalu serasi. Meskipun sakit, Bunda tidak pernah mau memakai daster. Bunda juga selalu menyisir rambutnya dengan rapih.
Seperti itukah maksudnya Ayah? Bahwa Bunda hanya menarik tapi tidak pintar?
“Ayo..,” Ayah menarik tangan Kania. “Penulis itu tepat waktu bila janji.”
Kania mengikuti.
**
“Pasti kamu sepintar Ayahmu…,” Tante itu mencubit pipi Kania. Seperti gemas.
Tante itu manis. Pakaiannya biasa saja. Warnanya ungu. Mungkin itu alasan Ayah dulu memaksakan Kania untuk menyukai warna ungu? Seingat Kania dulu setiap kali ia ingin memilih warna lain, Ayah selalu bilang kalau warna ungu itu menarik dan cocok untuk Kania. Samai akhirnya Kania menyukai warna ungu.
“Ayahmu bilang kamu suka dengan buku-buku karangan Tante…”
Kania diam.
Ia harus jujur. Bunda selalu mengajarkan hal itu. Karena satu kebohongan pasti akan diikuti oleh kebohongan yang lain.
“Dari semua koleksi kamu, buku apa yang paling kamu suka? Kita diskusikan soal buku itu. Tante butuh masukan agar bisa menulis lebih bagus lagi nanti.”
Kania diam.
Ia hanya menyelesaikan dua halaman saja. Itupun harus berkali-kali. Mungkin karena pengaruh Bunda begitu besar untuknya. Bunda selalu bilang kalau ia tidak suka buku maka ia bisa mencintainya secara perlahan saja melalui komik-komik lebih dulu.
Kalau Ayah sejak dulu memang selalu melarang komik.
“Hei…, kenapa diam?”
Kania memaksakan menarik garis senyumnya. “Aku tidak suka buku. Aku lebih suka komik.”
Hening.
Mungkin Tante itu kaget. Atau malah marah.
“Bunda suka komik. Aku juga…”
“Komik Jepang atau…”
“Doraemon…,” ujar Kania. “Tidak apa-apa, kan?”
Tante Dara mengangguk. Menepuk pipi Kania. “Suami Tante suka komik juga. Bisa menggambar juga. Kalau kamu mau belajar menggambar dengannya, Tante bisa ajak kamu ke rumah dan perkenalkan dengannya.”
Menggambar komik?
“Banyak juga buku komiknya di lemari buku.”
“Kapan aku bisa bertemu Om?” tanya Kania kali ini bersemangat.
**
Ayah diam saja sejak tadi. Bahkan ketika menurunkan Kania di luar halaman rumah sakit.
“Kamu mengecewakan Ayah,” ujar Ayah menggelengkan kepalanya.
Kania diam saja.
Tante itu janji akan menelponnya.
Bunda mungkin akan senang mendengarnya.
**
“Mari bicara soal Om Reihan…,” Om Dedi langsung menarik tangan Kania. Mengajak bicara di taman rumah sakit ketika Kania baru saja sampai. “Ini masalah serius…”
Minggu kemarin Tara juga ngomong soal masalah serius. Masalah dia naksir Angga.
Serius yang ini…
“Bundamu ini sakit bukan cuma di badan, Kania. Lebih dari 80 persen sakitnya manusia itu karena pikiran. Dan itu yang menjadi penyakit Bundamu. Heran…, dulu Bundamu itu orang yang tidak punya pikiran buruk di kepalanya.”
“Memang Bunda kenapa?”
Om Dedi menarik napas panjang. “Sekarang tidak mau makan. Apa kamu sudah tanya sama Ayah kamu soal Om Reihan itu?”
Kania menggeleng.
”Sepuluh buku doraemon. Aku juga heran kenapa hanya sepuluh buku itu
bikin Bundamu jadi sakit dan tak bersemangat seperti ini.”
Sepuluh buku doraemon itu masih Kania simpan dalam tas sekolahnya. Kania titipkan di kantin sekolah pada Ibu kantin karena takut nanti ada guru yang merazia tasnya lalu mengambil buku komik itu.
“Bundamu tidak bahagia bersama Ayah kamu…”
“Om..,” Kania memandangi Omnya. “Tapi Bunda bisa sembuh, kan?”
Om Dedi mengusap wajahnya.
“Apa harus bertemu Om Reihan dulu baru Bunda bisa sembuh?”
Om Dedi diam.
“Kalau aku bisa bertemu dengan Om Reihan, aku akan minta Om Reihan menggantikan Ayah biar Bunda bahagia.”
Om Dedi tak menyahut tapi langsung meraih kepala Kania dan mendekapnya erat.
**
Malamnya, telpon genggam Kania berbunyi.
“Suami Tante punya waktu untuk bertemu,” ujar Tante Dara. “Kamu punya waktu besok?”
“Habis pulang sekolah ya, Tante?”
“Ya. Habis pulang sekolah.”
Kania tidak perlu minta ijin Bunda. Apalagi Ayah. Kalau ia sudah bertemu baru ia akan cerita.
**

Bagian Lima

“Kania…”
Mata itu bersinar ramah. Senyumnya mengembang waktu Kania datang. Ada lesung pipi yang jelas tercetak nyata di pipi itu.
“Sudah kelas berapa?”
Kania hampir tidak percaya.
Rumah Tante Dara tidak jauh dari sekolahnya. Tidak begitu jauh dari rumah di pinggir sungai dengan pagar bambu berwarna-warni.
“Ayo duduk…”
Halamannya besar. Ada tempat duduk di luar yang atapnya terbuat dari pohon anggur. Bahkan anggur itu sedang berbuah. Hanya saja belum matang. Kania jadi harus menelan ludah beberapa kali ketika melihat anggur-anggur itu.
“Kamu suka komik?” Om itu tertawa. “Pulang dari bertemu kamu beberapa hari yang lalu, Tante Dara cemberut. Om tanya kenapa? Katanya ada anak gadis yang katanya suka bukunya tapi ternyata hanya pura-pura demi menyenangkan hati Ayahnya. Anak gadis itu ternyata lebih suka komik ketimbang novel.”
Om itu tertawa lagi. Tawanya membuat hati Kania yang sedih jadi ikut bergembira karenanya. Lesung di pipi itu tercetak lagi. Jangan-jangan…
“Hei.., kenapa kamu pandangi Om seperti itu?”
Kania menunduk. Om Reihan. Om Sun. Matahari yang tawanya akan menghangatkan. Tapi…
“Kamu mau belajar menggambar?”
Kania mengangguk. Pertanyaan itu ditepiskan dulu untuk dikeluarkan nanti setelah hatinya pasti.
“Komik apa?”
“Doraemon..,” suara Kania pelan tapi jelas.
Hening.
”Doraemon…”
“Bunda suka sekali komik doraemon. Masih menyimpannya. Hanya Bunda
ingin aku mengembalikan sepuluh buku doraemon itu ke pemiliknya.”
Hening lagi.
“Jadi kamu ingin belajar menggambar kapan?”
“Om Reihan…,” Kania memanggil.
“Ya, kenapa?”
Deg.
Jantung Kania serasa berhenti. Jadi Om di hadapannya adalah Om yang dicarinya.
Jadi….
“Bunda sakit. Om mau melihatnya?”
Tak ada jawaban.
**
Om itu Om Reihan namanya. Kania akhirnya bisa menemukannya. Hanya saja Om itu menggeleng ketika Kania memberikan sepuluh buku doraemon untuknya sambil melihat ke dalam rumah.
Jangan-jangan Om itu takut Tante Dara cemburu. Jangan-jangan Om itu memang sudah benar melupakan sepuluh buku doraemon itu.
Kania bergegas ke rumah sakit.
Om Dedi yang menyambutnya. Langsung merangkulnya. “Bundamu sakitnya bertambah parah. Sudahkah kamu menemukannya?”
Kania mengangguk. “Sudah. Kania tahu rumahnya.”
Om Dedi menghentikan langkahnya. “Sudah?”
Kania mengangguk yakin.
“Kenapa kamu tidak ajak dia ke sini? Kenapa tidak kamu tunjukkan pada Bunda kamu bahwa kamu sudah menemukan orang yang dicari? Ini bisa jadi kejutan untuk Bunda kamu dan Om yakin Bunda kamu pasti bisa sembuh karenanya.”
Kania menunduk.
Om itu tidak mengaku bernama Reihan meskipun pertama Kania panggil Om itu mengangguk.
“Kania…”
“Kalau aku bicara dengan Ayah…”
Om Dedi merangkul bahunya. “Kamu sudah besar. Om yakin, segala keputusan yang kamu ambil berkaitan dengan Bunda kamu, adalah keputusan yang matang.”
**
Bunda terbaring lemah.
Tabung oksigen ada di samping Bunda. Napasnya sudah membutuhkan napas bantuan.
“Bunda.., “ Kania menyentuh tangan Bunda.
Bunda tersenyum kepadanya.
“Kalau Om itu sudah Kania temukan, Bunda mau sembuh, kan?”
Bunda masih saja tersenyum padanya.
“Kalau sepuluh buku doraemon itu sudah Kania kembalikan. Bunda mau sembuh, kan?”
Bunda menggenggam tangan Kania erat sekali.
Kania yakin, itu jawaban dari Bunda.
**
“Ayah.” Pulang dari rumah sakit Kania langsung bicara pada Ayah.
Ayah sedang duduk di ruang tamu. Membaca buku.
“Ayah..,” Kania menghampiri.
Ayah kelihatan tak terpengaruh.
“Kenapa Ayah tidak perduli pada Bunda?”
Mungkin Ayah terkejut dengan pertanyaan Kania. Matanya tajam memandang pada Kania. Bahkan kaca mata yang dipakainya pun sampai dilepasnya.
“Bunda sakit selama ini…”
“Kania,” Ayah menarik napas panjang. “Bundamu itu sakit karena dibuat-buat sendiri. Harusnya jadi perempuan itu yang tegar.”
Dulu seingat Kania Bunda tegar. Meskipun Ayah sering memarahinya tapi Bunda tetap tersenyum.
Apa saja bisa jadi sumber kemarahan Ayah. Bahkan ketika Bunda salah meletakkan barang.
Hingga akhirnya Bunda terkena stroke tiba-tiba. Bunda yang selama ini sehat ternyata mengidap darah tinggi. Om Dedi sampai geleng-geleng kepala.
“Apa Ayah membenci Bunda?”
Ayah diam.
“Apa Ayah tidak ingin membahagiakan Bunda?”
Mungkin Kania bicaranya keterlaluan sampai akhirnya Ayah berdiri dari duduknya.
**
Malamnya telpon genggam Kania berbunyi.
“Bundamu sakit apa?”
Meski tidak menyebutkan nama tapi Kania tahu siapa yang menelpon. Om yang siang tadi ditemuinya. Meski sudah malam, mendengar suaranya seperti merasakan hangatnya sinar matahari.
“Darah tinggi dan asma. Entah sakit apa lagi,” suara Kania terdengar putus asa.
“Katakan padanya, buku itu berhak menjadi milik Bundamu. Om tidak akan memintanya kembali.”
“Tapi Bunda minta buku itu dikembalikan pada pemiliknya. Lalu pemiliknya bisa memberikan pada gadis lain.”
Hening.
Cukup lama.
Sampai Kania merasa telpon di sebrang sana sudah ditutup. Kania sempat menekan-nekan tombol telponnya sendiri.
“Om tidak berhak dicintai begitu lama. Gadis sebaik Bundamu sudah mendapat yang terbaik. Dan Om sudah merelakanya.”
“Tapi Bunda membutuhkan Om,” ujar Kania.
Telpon itu sudah ditutup. Tapi Kania lega karena sudah mengatakan apa yang selama ini dikatakannya.
**
Bagian Enam

Pagi itu Ayah menunggu Kania di teras. Ayah belum berpakaian rapih seperti biasanya. Kania pun baru ke luar dari dalam kamarnya.
“Kamu tahu kenapa, Kania?”
Kania diam saja.
Ia tidak akan tahu banyak soal Ayah dan Bunda. Ayah dan Bunda tidak seperti Ayah dan Bunda temannya. Teman-temannya sering menceritakan kalau Ayah dan Bundanya suka mengajak bercanda. Bercerita soal masa lalu mereka.
Sejak kecil dulu, Kania tidak merasakan kehangatan itu. Ayah punya dunia sendiri. Bunda juga.
Yang Kania tahu mereka tetap bersama adalah karena Ayah dan Bunda masih berada dalam kamar yang sama.
“Kamu tahu kenapa, Nak?”
Kania menggeleng.
Ulangannya jelek belakangan ini. Wali kelas sampai bertanya ia ada masalah apa. Bahkan guru BP sempat memanggilnya sekali. Kalau ia bicara sesungguhnya, tentu mereka tidak akan mengerti.
“Kania…”
“Bunda dan Ayah tidak saling mencintai, kan?” ujar Kania akhirnya.
Hening.
Ayah menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan berat sekali. “Tahu apa kamu soal cinta?”
Kania menuduk. “Ayah membuat Bunda tidak bahagia.”
“Kamu merasa seperti itu?”
“Apa Ayah tidak merasa?”
Hening lagi.
“Apa di mata Ayah Bunda tidak pintar? Apa karena Ayah suka dengan Tante Dara? Apa karena…”
“Kania!” Ayah meninggikan volume suaranya. “Kamu tidak tahu apa-apa!”
“Kania sudah besar, Ayah.”
“Bundamu yang memulai. Kamu tidak tahu apa-apa selain membela Bunda kamu. Kalau kamu ingin Bunda kamu dengan lelaki lain, silakan,” Ayah berdiri dari duduknya. Meninggalkan Kania.
Ayah marah. Tapi Ayah harus tahu.
Kania capek.
**
“Kalau kamu sampai kehilangan Bunda kamu…,” Om Dedi merangkul bahu Kania. “Kamu bisa tinggal bersama Om.”
Pagi itu mendung. Ayah langsung berangkat kerja tanpa sarapan. Kania sendiri langsung ke rumah sakit. Telpon dari Om Dedi berbunyi terus. Selama ini Om Dedi dan Bibik yang bergantian menunggu Bunda.
“Kalau Bunda kamu…” Om Dedi menggelengkan kepalanya.
“Jadi Bunda…”
“Tantemu menemukan penyakit lain, Kania. Ternyata sesak napas itu bukan hanya sekedar asma. Tapi kanker paru-paru.”
Ya Tuhan.
Kenapa Bunda selama ini tidak pernah mengeluh kesakitan? Kenapa Bunda…
“Om mencoba untuk berpikir panjang soal Bunda kamu. Bundamu diam sejak dulu, Kania. Tidak pernah mengeluh. Bahkan ketika Kakekmu meminta Bunda kamu menikah dengan anak kenalannya. Ayahmu. Dan meninggalkan Om Reihan yang menurut Kakekmu tidak punya masa depan…”
“Jadi Om Reihan jawabannya?”
Om Dedi mengedikkan bahunya. “Kalau saja Bundamu mau berbagi penderitaannya.”
“Jadi Om Reihan sumber kebahagiaan Bunda?”
“Om tidak tahu, Kania. Tapi Bundamu selama ini begitu menderita kelihatannya.”
“Bunda tidak pernah bahagia bersama Ayah..”
“Kamu melihatnya begitu?”
“Bunda tidak bahagia..,” Kania merasakan air matanya jatuh membasahi pipinya.
Deras.
**
“Ke mana, Kania?”
Kania tidak tahu cara lain lagi. Ia harus pergi. Ia harus menemui Om Reihan. Ia harus bicara pada Tante Dara. Meskipun Om Reihan akan menolak, ia akan memaksa Om Reihan datang pada Bunda.
“Kania…”
Kania berlari kencang. Om Dedi nanti juga akan tahu jawabannya.
Kania naik bus.
Ke mana lagi kalau bukan ke rumah Om Reihan?
**
“Dulu kami bertemu di perpustakaan pinggir sungai yang pagar bambunya di cat warna-warni…”
Tante Dara tidak ada di rumah. Sedang ada seminar.
“Bundamu gadis yang pintar. Imaginasinya luas.”
Kania mendengarkan.
“Tapi Om bukan untuk Bunda kamu. Orang tuanya sudah mempunyai jodoh lain untuk Bunda kamu dan Om harus menyingkir.”
“Lalu buku doraemon itu?”
Om Reihan mengusap wajahnya. “Kamu suka membacanya?”
“Bunda suka membacanya. Sampai terakhir kali Bunda masuk ke rumah sakit. Tapi Bunda minta aku mengembalikan pada Om.”
Hening.
“Bunda bilang, Om harus memberikannya pada gadis lain. Mungkin istri Om sekarang ini…”
Hening lagi.
“Om…”
“Dulu, Om bilang pada Bunda kamu untuk menyimpannya sebagai tanda cinta kami. Hanya itu. Om bilang, kalau Bunda masih mencintai Om berarti buku itu masih akan tetap di simpannya.”
“Om tidak tahu kalau Bunda masih menyimpannya?”
Om Reihan menggeleng. “Om sudah memiliki istri. Dan Bundamu sudah memiliki suami. Itu hanya kenangan masa lalu. Seharusnya Bundamu tidak perlu memikirkannya lagi.”
Kania menunduk.
Om itu menyesal. Menyesal karena ternyata Bunda masih mencintainya?
“Om…”
“Ya…”
“Kalau Bunda bisa sembuh…”
“Kita ke rumah sakit sekarang,” Om itu menggenggam tangan Kania.
**
Ayah ada di sana.
Di rumah sakit.
“Bunda koma,” ujar Om Dedi merangkul Kania erat sekali.
“Om..,” Kania memandangi pada Om Reihan. “Katakan pada Bunda kalau Om datang..,” pintanya dengan sangat.
Om Reihan mengangguk.
**
Epilog

“Kamu tahu, Kania, Ayah sebenarnya begitu mencintai Bunda kamu,” ujar Ayah pada Kania setelah pemakaman Bunda.
Kanker paru-paru Bunda tidak bisa tersembuhkan.
“Tapi Bundamu begitu mencintai laki-laki itu.”
Om Reihan datang ke kamar Bunda. Bicara pada Bunda.
Terakhir kali Kania lihat Bunda tersenyum sebelum perginya. Kelihatan bahagia sekali.
“Ayah hanya ingin Bundamu cemburu. Ayah hanya ingin Bundamu mencintai Ayah. Maka Ayah mencoba tidak memperdulikan Bunda kamu. Bahkan Ayah mencoba menghadirkan Tante Dara untuk meyakinkan Bunda kamu bahwa Ayah juga bisa melakukan hal yang sama.”
Kania mendengar suara Ayah bergetar.
“Tapi ternyata Ayah salah. Ayah menyesal, Kania…”
Ayah menangis. Tertahan.
Kania juga menangis.
Sepuluh buku doraemon itu sudah Kania kembalikan pada Om Reihan. Minta Om Reihan memberikannya kepada Tante Dara sebagai tanda cinta.
“Om bangga dicintai Bundamu, Nak. Dan Om tidak mungkin akan melupakan hal itu.”
Kalau besar nanti, Kania janji. Ia tidak akan mencintai seseorang seperti Bunda mencintai Om Reihan.