Horeee, Aku Punya Banyak Buku Baru

Buku. Itu menjadi masalah utama di masyarakat kita.
Sebuah buku tebal menarik untuk saya tentu saja. Karena saja sejak dulu memang gemar membaca. Bahkan saya tidak terlalu suka dengan buku yang dipenuhi banyak gambar. Buyar rasanya segala imajinasi yang sudah saya susun baik-baik di kepala ketika melihat ada gambar di ddalamnya.

Tapi orang seperti saya kan tidak akan ditempatkan di masyarakat yang memiliki kesamaan dengan saya. Kita semua diuji dari orang terdekat kita. Dan karena di rumah baik-baik saja, maka tantangan terberat untuk saya adalah membenahi lingkungan. Lingkungan yang tidak suka baca. Lingkungan yang saya lihat malah dengan santainya membuang buku cerita.
Pernah loh, zaman ketika SD saya suka sekali dengan satu buku. Saya mengidam-idamkan buku itu. Buku tentang seorang raja yang ditipu oleh tukang jahitnya.
Dan buku itu saya baca di rumah teman saya. Lalu teman saya bosan dan buku itu ada di tempat sampah.
Saya ingat, kakak saya membawa buku itu pulang. Iya, karena di rumah bacaan yang dibelikan kepada kami oleh Bapak, seperti barang berharga yang harus dijaga.

Ini ujian. Ujian setiap orang berbeda-beda. Dan ujian saya yang kukuh hanya ingin bekerja sebagai penulis adalah selalu terhubung dengan lingkungan yang tidak kenal buku. Lingkungan saya tidak suka membaca. Lingkungan saya harus dipengaruhi untuk cinta membaca. Dan menyodori mereka buku-buku tebal tidak mungkin. Tontonan televisi, dangdutan atau hiburan dalam bentuk lainnya dalam telepon genggam jauh lebih asyik daripada membaca buku tebal.

Lalu ketika mendapati lingkungan seperti itu, apa harus berdiam diri saja?
Saya penulis. Itu yang selalu ada di benak saya.
Dulu ketika tetangga kanan kiri belum paham profesi itu, menganggap bahwa waktu saya banyak habis di rumah untuk menonton sinetron dan lainnya seperti mereka. Maka tidak sedikit yang menyarankan agar saya membuka toko kelontong di sedikit halaman rumah saya daripada menganggur. Jujur, ketika mendengar kalimat itu rasanya pingin tangan bergerak untuk meninju wajah mereka.
But, it’s ok.
Bukankah di dunia ini banyak orang yang tak paham dan ternyata lebih sok tahu mengatur hidup orang lain.

Maka saya pikir kerja nyata jauh lebih bagus daripada memberi penjelasan.
Saya penulis, saya bahagia menjadi penulis. Orang lain tidak paham dengan profesi saya, itu masalah mereka bukan masalah saya.
Jadi ketika ada sesuatu tugas dilemparkan ke saya dengan alasan saya nganggur di rumah, saya akan menolak. Karena meski di rumah saya punya jam kerja yang jelas setiap harinya.

Waktu bergulir dan syukurlah sekarang hampir semua paham kalau saya penulis. Itu karena efek sosial media. Satu dua tetangga follow beberapa akun sosial media saya, jadi mereka paham kegiatan saya.
Saya penulis dan tugas saya memintarkan lingkungan. Banyak caranya. Salah satunya membuka pintu rumah untuk anak-anak tetangga belajar. Meminjamkan buku-buku yang menjadi koleksi pribadi. Menambah jumlah buku-buku yang ada di lemari buku untuk dipinjamkan.

Yang lainnya?
Alhamdulillah, anak-anak tetangga suka membaca. Bacanya cepat. Pinjam tiga buku bisa selesai dalam sehari dan minta tukar buku yang lain.
Saya bingung juga pada awalnya.
Pernah saya pakai StoryWeaver. Buku yang ada di sana saya foto lalu saya setting ulang sebelum diprint dan dijadikan buku untuk anak-anak tetangga. Maklum anak-anak yang datang ke rumah sekarang anak-anak TK dan SD kelas satu, dua. Jadi pict book tentu menjadi sesuatu yang mereka butuhkan.
Lalu kemarin saya mulai sadar ada situs lain. Bacanya sudah lama, tapi baru sadar kalau kebutuhan pict book anak-anak tetangga bisa saya dapatkan dari sana. Di Seru Setiap Saat. Di sini saya mudah mendownload dan saya print untuk saya jadikan buku yang bisa dipinjam para tetangga saya.

Ini cara saya bermanfaat sebagai penulis dan membuat orang lain paham bahwa saya di rumah bekerja bukan pengangguran.

Sekolah Masa Depan Bernama Pesantren

Pesantren? Kenapa pesantren? Saya tahu pertanyaan itu berkelebat di kepala beberapa orang yang belum paham tentang pendidikan di pesantren. Sama seperti orangtua saya dulu. Tidak kenal apa itu pesantren, sehingga ketika saya request ingin masuk pesantren pada zaman saya sekolah dulu, Bapak melarang. Alasan Bapak, saya mudah sakit.
Lalu ketika anak menjelang SMP saya berniat memasukkan ke pesantren, Bapak selalu bilang pada saya, bahwa saya loh, bisa mendidik anak sendiri. Kenapa mesti diserahkan ke pesantren? Bapak takut saya yang penyakitan akan sengsara dengan iklim pesantren, yang menurut Bapak tidak cocok untuk saya yang mudah sakit. Dan takut anak saya juga tidak kuat kondisi fisiknya sama seperti saya.

Banyak pertanyaan berkelebat di kepala saya tentang pesantren. Saya pikir dulu, sama saja pendidikan pesantren dengan sekolah berbasis kurikulum islam terpadu. Sama saja.
Tapi ternyata saya salah. Iya, saya masukkan kedua anak saya ke SMPIT dengan program paling ketat. Alias ruang kelas perempuan dan lelaki terpisah. Komunikasi di sosial media dikawal para guru.

Perubahan Orientasi Hidup

Bersyukur hidup saya berjalan selangkah demi selangkah. Tidak langsung berlari, tapi saya belajar menjalani setiap proses langkah saya.
Iya saya terlahir dari Bapak yang paham agama. Iya Bapak bukan cuma jadi imam di masjid, tapi Bapak juga paham Al Quran dan mendidik anaknya dengan cukup keras. Shalat adalah keharusan yang tidak bisa ditunda-tunda. Ketika melihat saya terburu-buru shalat hanya karena ingin cepat kembali main bersama teman-teman, Bapak tidak segan-segan dengan tegas meminta saya mengulang shalat saya.

Iya, saya dulu ikut kegiatan rohani islam di sekolah. Segelintir anak yang ada di mushola dan tetap berjuang melaksakan shalat zhuhur dan ashar ketika anak lain sibuk ke kantin atau bergurau di kelas. Saya menjadi bagian dari mereka.
Dari satu pengajian ke pengajian lain. Bukan sekedar duduk mendengarkan,tapi memang berproses mengaji. Mulai dari tajwid sampai cara melagukan Al Quran.
Lalu keseluruhan proses itu membuat saya merasa. It’s enough. Saya sudah cukup bisa mendidik saya sendiri.

Maka dua anak saya masukkan ke sekolah dasar negeri. Dasar utamanya prinsip. Bahwa mereka mnerasakan masa bermain yang puas, sepuas-puasnya. Jam belajar yang pendek di sana, membuat saya berjuang agar jam panjang di rumah diisi dengan kegiatan kreatif.
Seimbang antara menghafal Al Quran dan meyakini banyak teori Barat. Meski porsi seimbang itu tentunya ada pada mindset saya sendiri. Seimbang karena saya merasa cukup dan menurut saya bekal itu yang bisa membuat anak saya bahagia dunia dan akhirat.
Di sekolah negeri sesuai dengan apa yang saya pikirkan. Anak-anak bersentuhan dengan anak-anak pemulung dan empati mereka bisa terasah. Termasuk, saya meminta mereka membawa teman-teman mereka yang anak pemulung untuk belajar di rumah gratis.
Jujur ketika anak masuk usia kelas lima sampai kelas enam SD, ini adalah masa tersulit. Mereka sulit diatur dan terpengaruh teman-temannya. Sekali dua kali ketahuan oleh saya ketika mereka melalaikan shalat, karena untuk teman-temannya hal itu adalah hal yang wajar.

Berangkat dari situ, saya memasukkan anak ke sekolah islam terpadu.
Usia mereka sudah cukup untuk diberi disiplin lebih tinggi lagi, selain disiplin saya. Mereka akan bersentuhan dengan guru-guru yang visi misinya dalam mendidik anak sama seperti saya. Paling tidak sejalan lah dengan apa yang menjadi visi misi saya.
Memasukkan anak ke sekolah itu, artinya jalan untuk saya menambah wawasan harus diluaskan. Mereka belajar, saya pun belajar. Mereka mendapat kucuran ilmu, saya pun harus paham kucuran ilmu itu agar ada diskusi panjang lebar dengan mereka.
Alhamdulillah proses anak-anak di sekolah ini membuka wawasan saya tentang sekolah lain bernama pesantren.

Alhamdulillah, Pesantren

“Alah, sama aja. Anak sekolah di mana saja sama.”
“Kok, dia masukin anak ke pesantren?”
Dua komentar itu saya dapat dari dua orang yang berbeda dengan dua latar pendidikan yang berbeda. Komentar pertama dari seorang ibu di lingkungan anak sekolah pertama. Sekolah negeri. Pendapat seperti itu biasa untuk saya. Karena di sekolah negeri, mungkin karena saya menyekolahkan anak di sekolah negeri kampung, maka banyak pemahaman yang menurut mereka wajar, tapi sungguh itu tidak wajar dari segi agama.
Memberi hadiah guru itu wajar. Padahal hadiah itu diberikan bukan pada saat penerimaan rapor kenaikan kelas. Di penerimaan rapor tengah semester hadiah untuk guru terlihat jor jor an. Saling berebut perhatian pada guru. Seorang tetangga malah harus mengisi amplopnya dengan beberapa lembar ratusan ribu. Katanya kalau tidak diberi sejumlah itu, nanti anaknya tidak diperhatikan oleh guru.

Komentar kedua malah saya dapat dari seseorang yang berpendidikan tinggi. Mungkin dia heran, kenapa saya menyekolahkan ke pesantren yang cuma belajar agama?
Marah? Enggak lah. Wogn saya dulu pernah punya pola pikir yang sama, dan berpikiran bahwa apa yang saya jalani sehari-hari sudah cukup. Baca Al Quran, sedekah, berbuat baik, sudah cukup. Tidak penting yang lain.

Alhamdulillah, Allah berikan hidayah pada saya sehingga saya bisa melebarkan wawasan.
Pesantren juga menjadi pilihan anak-anak. Hidayah itu harus dikejar. Maka ketika sesuatu tentang pesantren terselilp di benak, saya langsung survey satu pesantren ke pesantren lain. Saya harus tahu seperti apa yang namanya pesantren. Lalu saya ceritakan pada pasangan dan anak-anak. Saya ceritakan yang indah-indah untuk mereka. Dan proses lainnya.
Alhamdulillah Sulung punya cita-cita mendapat beasiswa sekolah agama, justru sebelum saya punya mimpi memasukkan anak ke pesantren.

Pesantren? Tempat apa sih itu?
Kalau Bapak masih hidup, ingin sekali saya membawa Bapak untuk melihat ke dalam isi pesantren.
Pesantren sekarang bukan lagi pesantren seperti di masa lalu. Pesantren sekarang lebih dikenal sebagai Islamic Boarding School.
Di sini anak belajar agama, belajar kehidupan, belajar memahami teman, belajar displlin, belajar antri, belajar prihatin juga.

Saya dan Sulung diskusi soal pesantren pilihan. Di pesantren pertama pilihannya, dia tidak lulus. Maka akhirnya keputusan ada di pesantren pilihan saya. Ketika akan tes saya hanya bilang. “Ibu tidak punya pilihan lain. Kalau kamu tidak berjuang untuk lulus di pesantren kedua ini, maaf tidak ada pilihan ketiga.”
Sulung saya tipikal anak yang memaang harus di push untuk itu. Tidak diberi target dia akan terlena. Jika diberi target ia akan mengejarnya sekuat tenaga.
Alhamdulillah dia lulus di pesantren itu. Tesnya dari pagi sampai sore, meliputi tes akademik, tes hafalan Al Quran, tes tanya jawab Bahasa Arab dan tes menerjemahkan hadist.

Pesantren tempat Sulung, berada di kawasan pinggiran. Luas lahan 8 hektar lebih. Pesantren itu berdampingan dengan pesantren lain.
Pesantren lain itu yang selalu dibilang oleh seorang tetangga saya, pesantren bagus, karena anaknya di sana. Tapi akhirnya saya paham standar bagus atau tidak bagus dari kacamata yang berbeda.
Bagus menurutnya karena di pesantren itu satu kamar dihuni oleh delapan anak. Ruang kelas dan ruang tidur berpendingin udara. Di pesantren Sulung, satu kelas dihuni oleh 20 anak dan hanya kipas angin.
Pelajaran sama.
Pemiliknya juga masih kerabat. Kolam renang dipakai bersama oleh dua pesantren itu. Bahkan lapangan futsal dan lapangan basket di pesantren Sulung kerap dipakai oleh pesantren di sebelahnya, karena fasilitas lapangan di tempat Sulung lebih lengkap.
Jadi?
Ini tentang standar yang dilihat dari sudut pandang berbeda. Alhamdulillah, saya tipikal orang yang selalu menyelidiki dulu sebelum mengambil kesimpulan.

Pesantren?
Sudah satu bulan lebih Sulung di pesantren. Apa yang saya dapati ketika dia pulang kemarin?
Wawasannya bertambah. Si Bapak kaget waktu meminta izin pulang ke wali kelas Sulung. Melihat Sulung dan wali kelasnya berkomunikasi dalam Bahasa Arab.
Hafalan hadistnya tambah. Hadist dengan runutan sanadnya.
Hafalan Al Quran bertambah.
Dan saya jadi bisa merasakan bulan madu dalam tanda kutip seperti yang dikatakan ustadz pemilik pesantren di Cirebon yang juga tempat saya mengaji.
Katanya, ketika anak pesantren, bertemu dengan mereka seperti masa bulan madu. Indah rasanya.

Pesantren?
Jika masih under estimated terhadap pesantren. Mungkin itu artinya hidayah baru datang setengah hati ke dalam lubuk hati kita, sehingga kita sendiri ragu untuk menitipkan agama di bahu anak-anak kita.

Saya Menulis untuk Bahagia

Saya menulis untuk bahagia bukan untuk tertekan. Sebab tidak saya bayangkan jika saya tertekan dalam menulis. Maka pastilah penyakit maagh atau asma yang banyak dipicu oleh perasaan, pasti akan sering kambuh. Alhamdulillah, karena saya menulis untuk bahagia, maka penyakit bawaan itu bisa menyingkir. Kalaupun hadir, bukan karena dipicu oleh perasaan. Tapi karena saya salah makan atau tubuh terlalu lama berada di tempat dingin.

Saya menulis untuk bahagia.
Iya menulis itu pekerjaan dan mendatangkan materi untuk saya. Tapi tetap saya harus menjalaninya dengan bahagia, tidak dengan tertekan.
Pernah saya menulis skenario. Jam sepuluh malam ditelepon. Harus menyetor 75 halaman script di pagi harinya. Itu artinya saya korbankan semua yang bisa saya lakukan di malam hari.
Tidur saya biasa on time tidak mau saya geser keculai ada kondisi tertentu. Seperti kondisi sebulan penuh saya menjaga almarhum Bapak di rumah sakit.

Pada awalnya saya terima tawaran tersebut. Pada awalnya tergiur juga saya dengan iming-iming materi menulis dan dibayar per episode.
Dua kali menjalaninya saya putuskan untuk tidak mau melanjutkan. Padahal pada saat itu, seorang dari sebuah PH menawarkan saya untuk menulis stripping. Padahal saya dikejar untuk datang ke rumah produksi dan ditunggu oleh mereka.
Tapi tidak. Saya tidak bahagia di situ. Saya merasa khusyuk ibadah dalam keadaan badan melayang-laayng. Dan yang lebih penting, saya tidak fokus mengurus rumah tangga. Itu bukan tipe saya. Maka saya lepaskan karena saya tidak mau menulis jadi beban untuk saya.

Saya menulis untuk bahagia.
Maka saya bahagia menulis untuk penerbit dan menghasilkan buku. Ketika yang lain berproses dan pindah menjadi blogger, saya tetap fokus di buku. Karena passion saya di sini. Yang lebih penting saya bahagia karena pesan yang ingin saya sampaikan, lebih masuk jika saya menuliskan dalam sebuah buku.
Media satu persatu gugur, itu sebabnya saya tidak fokus lagi di media dan fokus menulis buku.

Menulis dan bahagia itu bukan berarti menulis sekedarnya saja.
Buat saya menulis dan bahagia itu ketika saya mampu menghasilkan tulisan yang bisa membuat senang pembaca saya. Dan pesan yang saya sampaikan masuk. Pesan yang sifatnya unviersal mengajak orang pada kebaikan dan empati, tentunya saya harap bisa menjadi pahala ilmu mengalir untuk saya. Meskipun pesan itu tidak dibalut dengan ayat-ayat suci.
Menulis untuk bahagia bukan berarti membebaskan semua keliaran imajinasi. Hei, yang memberi amanah ide untuk saya Allah. Jelas saya harus menjaga menulis sesuai dengan koridor garis yang diharuskan oleh aturan agama saya. Percayalah ide-ide liar itu selalu saja datang. Selalu ada keinginan untuk memasukkan hal-hal negatif dalam naskah dengan nama plotting atau alur cerita. Seolah-olah jika menghilangkan adegan itu maka rusaklah semua naskah.
Percaya saja, jika kita menghindari suatu hal negatif, pasti akan diberi seribu jalan positif. Karena itu jangan pernah merusak amanah ide dariNYA dengan sesuatu yang tidak bermanfaat.

Sungguh saya menulis untuk bahagia.
Saya dapat imbalan materi tentu saja. Dari tulisan yang dibeli putus atau dengan sistem royalti. Tapi semuanya saya lakukan tidak dengan tertekan. Tidak ikut-ikutan dalam menulis. Jika ada teman yang menulis tentang A lalu laris manis, saya tidak mau mengekor. Saya yakin keorisinilan ide saya akan mendapatkan rezeki tersendiri.
Saya memang menerima pesanan buku dari penerbit untuk saya tulis. Tapi saya bebas mengeksekusinya dan tentu tetap mendengar apa yang ingin penerbit ingin saya tuliskan.

Saya bahagia dalam menulis karena saya berproses.
Setiap hari saya menulis. Jika tidak diorder naskah oleh penerbit, saya tetap mengetuk pintu satu persatu penerbit untuk menawarkan naskah saya. Ditolak itu biasa. Karena setiap penerbit memiliki kebutuhan yang berbeda. Dan bisa jadi naskah saya belum cocok atau mungkin buruk. Tapi dari situ saya terus berproses.

Saya harus bahagia dalam menulis.
Sama seperti seorang chef yang bahagia dalam membuat makanan, dan itu akan terlihat dari hasil olahan makanannya. Penulis juga seperti itu.
Kalau kamu tidak bahagia dalam menulis, jangan-jangan ada yang salah dalam prosesmu menulis?

Djoeroe Masak, Cinta di Ujung Lidah

Sebuah novel graphis. Begitu yang saya baca di status penulisnya ketika novel ini sedang dalam proses ditulis. Ada pertemuan dengan editor dan ilustrator. Jujur saya penasaran dan ingin tahu seperti apa buku yang akan dihasilkan nanti.
Apalagi naskah itu adalah naskah kuliner yang ditulis oleh penulis yang memang berkutat dengan masakan. Jelas saya menunggunya, karena ilmu masak saya luar biasa minimnya.

Pada akhirnya ketika buku itu dirilis, saya langsung memesannya plus tanda tangan penulisnya. Harus itu. Karena saya senang mengumpulkan buku yang ada tanda tangan penulisnya.

Ada empat buah buku dalam serial Djoroe Masak yang ditulis oleh Dyah Prameswarie dan diterbitkan oleh Tinta Media imprint dari Penerbit Tiga Serangkai.
Jumlah masing-masing halaman dari empat buku ini juga kurang lebih sekitar 150 halaman.
Setiap buku memiliki kisahnya sendiri. Dan kisah itu saling terhubung antara buku yang satu dengan buku yang lain. Meskipun kisah itu tidak terlalu terikat.
Kisah-kisah kehidupan yang ringan dan diolah dengan balutan resep sebuah masakan. Saya selalu suka ketika membaca bagaimana para tokohnya membuat adonan. Dari adonan lemper sampai adonan pasta.

Dalam buku pertama, Jenang Bukan Dodol dikisahkan tentang pertemuan Sedayu yang membantu ibuknya berjualan jenang di pasar Ngasem Yogjakarta. Di sana Sedayu berkenalan dengan Adian, seorang yang restoran pertamanya gagal dan ia ingin belajar masakan tradisional.
Nuansa pasar dan aroma masakan langsung tercium di beberapa halaman pertama buku ini, dan itu yang membuat saya suka. Rasanya saya seperti berada di tengah-tengah mereka.
Proses perkenalan yang dibalut indah dengan proses pelajaran memasak juga mendatangkan ilmu untuk saya. Oh, harusnya masak lemper seperti ini. Oh, santan harusnya seperti ini. Dan oh oh lain yang membuat saya berniat membuat sajian berdasarkan resep-resep yang ada di buku ini.

Dalam buku yang kedua Kelab Makan Siang Rahasia diceritakan tentang Sedayu dan Adian yang akhirnya menikah dan tinggal di Bandung, lalu Adian membuka restoran A+.
Sedayu yang belum kunjung hamil yang akhirnya memutuskan bekerja dan bertemu dengan bos Dahlia, yang punya kelab makan rahasia dan akhirnya mengundang Adian.
Ada cemburu Sedayu karena gosip tentang kelab makan rahasia.
Hanya sedikit kecewa dengan kelab makan rahasia yang tidak seperti dalam bayangan. Tapi tetap di buku ini saya senang, karena dimanja dengan beberapa resep masakan yang bisa diuij coba sendiri.

Buku Ketiga Nona Doyan Makan dalam buku ini dikisahkan tentang Sedayu yang membuka rumah makan bersama teman-temannya salah satunya dengan Freya. Freya ini -yang Sedayu ( biasa dipanggil Dayu)- kenal di kelab makan siang rahasia.
Di buku ini bercerita tentang gedung yang disewa dengan harga murah oleh Freya dan langsung dibayar cash. Hanya kisah lelaki gila yang berteriak ketika pembukaan gedung dan mengatakan bahwa jangan masuk ke gedung itu karena berbahaya, jadi agak dipaksakan untuk mengeksekusi akhir cerita. Apalagi ternyata lelaki itu adalah pemilik resmi gedung yang disewa yang keluarganya terbakar dan surat kepemilikan juga terbakar.
Resep-resep masakan dan gambarnya yang bagus tetap tersaji di sini.

Buku Keempat Sembah dan Berkah. Di buku ini dikisahkan tentang pasangan Sedayu dan Adian yang sudah memiliki seorang anak beusia empat bulan. Adian mulai melebarkan bisnisnya ke Bali. Ada investor yang siap menanam modal. Dan investor itu yang seorang perempuan yang cukup agresif dan membuat Dayu tidak nyaman.
Dalam buku ini emosi Sedayu dan Adian terasa sekali. Meleleh ketika membaca bagian di puncak keletihan Sedayu mengurus anak sendirian dan menenangkan Tatjana dengan suara parau karena menangis, terlihat oleh Adian.
Tetap ada resep masakan juga di buku ini.

Dari keempat buku seri Djoeroe Masak ini, saya suka dengan buku pertama dan keempat. Di buku pertama saya benar-benar merasakan aroma pasar dan masakan. Di buku keempat saya bisa merasakan emosi penulis yang teraduk-aduk ketika menuliskan kisah ini.

Saya suka buku ini.
Masuk ke dalam lemari untuk jadi koleksi.

Jangan Bermimpi Semua Orang Suka Tulisan Kita

Pernah bermimpi?
Kalau saya sering. Mimpi buat saya bukan sekedar bunga tidur. Mimpi untuk saya adalah pelengkap dan kadang jadi sarana memghilangkan resah. Setiap tidur saya pasti bermimpi. Kadang-kadang mimpi yang konyol yang membuat saya terbangun dengan kesal. Di dalam mimpi pernah saya memegang uang. Bangun dan membuka telapak tangan yang kosong, saya jadi kaget. Butuh semenit dua menit untuk kembali ke alam nyata dan menyadari kalau saya sedang bermimpi.

Mimpi selalu mengasyikkan untuk saya. Mimpi terbang? Oooh sering sekali saya mimpi terbang. Teman saya bilang kalau mimpi terbang itu karena merasa ada sesuatu yang belum bisa diraih. Kalau saya sendiri tidak tahu. Sebab mimpi-mimpi saya tidak tinggi-tinggi sekali. Saya juga tidak punya impian keliling dunia. Cukup saya dikasih kabut, gunung, hutan dan hamparan sawah saja. Itu sudah cukup membuat saya bahagia.
Jadi mimpi terbang tanpa sayap itu, saya nikmati saja. Trecengang sendiri ketika terbangun, seperti baru merasakan terbang yang sesungguhnya.

Saya mau ngomong apa sebenarnya?
Saya mau mengatakan bahwa banyak dari penulis seperti saya punya mimpi. Mimpi yang paling menyenangkan adalah mimpi semua orang suka tulisan kita. Iya suka tulisan kita. Sering tersadar ketika menerima kenyataan bahwa tidak semua orang suka tulisan kita. Tapi soal suka atau tidak suka itu bukan masalah besar untuk saya. Karena sudah memahami itu sejak dulu. Lagipula sejak dulu juga saya punya prinsip, lupakan orang yang membenci dan juga orang yang memuji. Hidup kita terus berjalan dengan atau tanpa itu semua.

Ketika sosial media belum mewabah, penulis hanya tahu duduk tenang menulis. Ketika sudah mewabah, lalu orang merasa dekat dengan penulis, yang biasanya hanya karyanya yang mereka lihat di media, maka mulailah orang dengan mudah untuk berbuat sesuka hati. Tidak suka dengan tulisan seorang penulis, lalu mereka menulis dan mentag penulis tersebut. Pernah saya mendapatkan hal itu dan krenyes-krenyes di hati.
Seorang merasa saya tidak riset ketika menulis, padahal saya sejak dulu terbiasa riset. Dan kacamata pengalaman saya dengan dia berbeda.
Itulah sebenarnya sebuah karya ada. Untuk menghadirkan pemahaman dan pengalaman yang berbeda. Sehingga seorang pembaca bisa lebih lebar wawasannya. Karena itu pada anak-anak ketika diajarkan pada seseorang saya selalu bilang, reguk dulu ilmunya. Nanti kamu akan punya pemahaman lain kalau kamu terus-menerus haus membaca.

Jangan pernah bermimpi semua orang suka tulisan kita. Buang jauh-jauh pikiran itu ketika menulis. Fokus menulis saja. Karena ada orang yang suka warna biru dan benci warna lain. Sama seperti itu juga dengan tulisan. Akan selalu ada tulisan yang sreg di hati satu orang tapi tidak sreg di hati orang yang lain.
Saya bukan pencinta drama korea atau sinetron, maka saya tidak menonton itu. Tapi buat pencinta keduanya, saya akan dianggap melecehkan bila saya menuliskan tentang keburukan tersebut.
Ada pro dan kontra terus menerus.

Lalu menulis jadinya untuk apa?
Kalau saya menulis untuk membagi wawasan saya, membagi ilmu saya. Dan tentu saja untuk bahagia. Jujur saya tidak bahagia kalau tidak menulis. Dan sungguh menjalanhi hidup yang tidak bahagia itu tidak enak sekali. Karena itu sampai sekarang saya masih terus menulis. Dan akan terus menulis.

Kunci Penting untuk Kesehatan dan Kecantikan Wanita

Sebagai seorang perempuan, apa yang sudah kita ketahui tentang diri kita sendiri? Apa yang sudah kita pahami mana yang baik untuk kesehatan dan kecantikan kita sendiri? Apakah kita paham luar dalam tentang diri kita? Atau kita hanya mengikuti arus deras yang mempropragandakan cantik hanya dengan persepsi, putih, tinggi, langsing, berambut lurus saja?

Ada banyak salon kecantikan yang menawarkan program awet muda. Tapi jika perempuan paham apa yang menyebabkan ia mudah menua, tentu tidak akan terpengaruh dengan program yang menguras isi kantong.
Di lingkungan kita ada banyak bertebaran radikal bebas. Dan radikal bebas itu yang menjadi salah satu sebab penuaan.
Radikal bebas ini adalah molekul yang mempunyai satu atau lebih elektron yang tidak berpasangan di orbit, sehingga relatif tidak stabil. Agar stabil molekul tersebut secara reaktif mencari pasangan elektronnya. Dan biasanya cara yang ditempuh adalah meminta sumbangan atau mencuri elektron dari sel tubuh lain. Proses ini yang akhirnya menyebabkan kerusakan sel termasuk penuaan kulit ( halaman 2-3).
Untuk mencegah penuaan tentunya dibutuhkan penangkal radikal bebas. Dan ternyata penangkalnya itu mudah sekali didapatkan di sekeliling kita. Vitamin A contohnya. Vitamin A ini dapat mencegah penuaan. Bukan hanya vitamin A. Vitamin C pun bisa membantu mengurangi keriputan. Vitamin E bisa dijadikan sebagai sumber collagen.
Semua itu bisa didapat dari makanan yang murah dan bisa didapat di sekeliling kita. Tomat, tauge, pepaya, jeruk, mangga dan beberapa buah lainnya.

Jika merasa sehat saja belum cukup karena merasa tubuh masih terlalu gemuk, maka ada rahasia lain. Rahasia itu bernama kacang, yang bisa membantu wanita untuk melangsingkan tubuh. Dan ternyata kacang yang dimakan sebagai pengganti asupan energi tidak akan membuat gemuk.
Beda jika kacang itu dimakan hanya sebagai camilan tambahan dan memakannya tanpa takaran lalu dilakukan terus-menerus. Itu yang akan membuat tubuh menjadi gemuk.

Masih ada banyak lagi rahasia dalam buku 9 Secrets of Woman yang ditulis oleh Dyah Umiyarni Purnamasari, seorang dosen ilmu gizi di Universitas Jendral Soedirman Purwakarta, diterbitkan oleh Penerbit Andi. dengan tebal 134 halaman.
Termasuk rahasia mengurangi sakit yang diderita sebagian besar wanita ketika menstruasi.
Buku yang ditulis oleh seorang yang memang bergelut di bidanngnya, untuk saya tentu saja lebih well informed dan jadi pertimbangan. Karena info yang didapat diolah dengan dan dimatangkan dengan penelitan. Sehingga pembaca bisa mendapatkan poin manfaat.

Ada 9 bab dalam buku ini, dan setiap bab diakhiri dengan informasi yang sifatnya Fakta tentang apa yang dibahas dalam bab tersebut. Dan juga ada saran yang bisa memandu pembaca jika ingin mengkonsumsi makanan sesuai takaran dan aturan agar manfaatnya optimal.
Ada resep masakan yang tidak terlalu rumit yang bisa dicoba di dapur,

Buku ini selesai saya baca dalam sekali duduk di atas kereta commuter. Saya merasa jadi lebih bahagia sebagai wanita karena paham kebutuhan tubuh saya sendiri.

Fredy Harsongko Bukan Sekedar Kenangan Manis

Saya mengenalnya dan mencoba memahaminya dengan hati. Iya dengan hati saja. Dan ternyata memahaminya dalam hati itu berubah menjadi salah satu bentuk kasih sayang yang lain. Saya mulai menyayanginya sebagai seorang ibu kepada anaknya. Anak yang dari kalimat yang selalu ia tuliskan bisa saya pahami karakternya yang halus.

Ia memperkenalkan diri sebagai Koko. Nama lengkapnya Fredy Hasongko.
Bulan Oktober 2013, dia mendaftar ingin menjadi murid di kelas menulis online. Bulan-bulan berikutnya, saya menyaksikan kesungguhannya berkarya. Bagaimana ia berjuang membentuk dirinya agar membayangkan dirinya sebagai seorang wanita, ketika menulis untuk majalah wanita.

Usianya tidak pernah saya tanya. Tapi yang saya tahu ia kuliah di sebuah perguruan tinggi dan ingin menjadi guru. Perguruan tinggi yang agak bermasalah tapi akhirnya bisa membuatnya lulus dan mengajar di sebuah SMK.
Wajahnya jauh lebih muda dari usianya. Dari kalimat-kalimat yang ia tulis di kolom inbox, saya paham karakternya yang halus.
Rasa ingin belajarnya cukup besar, rasa tidak enak hatinya juga sama besarnya. Karena itu setiap buku saya terbit, ia berjuang untuk mencari bahkan membelinya dari saya.
Ia bahkan meminta waktu saya untuk bersedia diwawancara dan dimasukkan ke dalam blog yang dikelolanya.

Namanya Koko. Saya sering menggodanya untuk bertanya siapa calonnya? Karena pernah di foto profil whatsappnya tampak ia berdiri dan tersenyum di samping seorang perempuan. Ketika saya tanya, apakah ia calon pasangannya? Ia tertawa dan menulis kalau itu adalah adik kandungnya yang akan mendahuluinya menikah.

Koko saja, dan ia biasa menyebut saya Mbak atau Kak.
Karyanya manis. Tulisannya lembut. Berkali-kali bertanya kapan saya akan datang ke Malang? Berkali-kali berharap ingin sekali bertemu saya.
Lalu tibalah masanya setelah bertahun-tahun saya tidak ke Malang, Koko melihat foto yang saya upload di akun instragram saya dan dia bertanya, apakah saya sedang di Malang?

Saya tidak pernah tahu ia sedang sakit. Saya juga tidak bisa menemuinya karena sempitnya waktu. Hingga suatu hari sepulangnya dari mudik, saya jatuh sakit.
Entah kenapa ada sesuatu yang tidak biasa. Sesak napas tidak seperti biasanya. Tubuh melemah. Mirip seperti yang saya rasakan ketika kerabat dekat pergi dan ketika Bapak juga pergi. Tapi saya pikir itu efek saya terlalu lama di kampung orang.
Hingga akhirnya pada satu siang setelah saya paksakan diri untuk jalan kaki di pagi hari, dan akhirnya tubuh membaik, saya mendengar kabar itu. Kepergian Koko karena penyakit paru yang dideritanya.

Orang baik akan terasa ketika ia berpulang. Dua hari saya tidak bisa tidur, terbangun kaget dan mengeluarkan air mata. Berkali-kali.
Saya merasa sesuatu yang saya letakkan di hati hilang tiba-tiba. Anak baik yang selalu rajin bertanya dan santun, yang selalu mau menampung ilmu dari saya, sudah pergi. Yang ia tinggalkan jejak kebaikanya dan jejak tulisannya.

Saya mencoba memahaminya dengan hati.
Hanya dari hati.
Anak baik memang lebih cepat pergi, agar tetap berada dalam lingkaran kebaikan saja.

Lomba Menulis Konferensi Penulis Cilik Indonesia

Konferensi Penulis Cilik, ajang lomba untuk anak-anak usia SD seluruh Indonesia sudah dibuka lagi. Yuk cek ketentuan lombanya ;

· Peserta merupakan siswa SD/MI atau sederajat dan masih berstatus sebagai pelajar pada tahun ajaran 2017/2018.

· Peserta belum pernah menjadi juara 1, 2, dan atau 3 tingkat nasional pad kategori lomba yang sama.

· Peserta hanya boleh mengikuti satu kategori lomba dan hanya boleh mengirimkan satu karya.

· Karya bertema “Indahnya Persahabatan dalam Keberagaman” ditulis dalam Bahasa Indonesia dan tidak mengandung undur SARA atau Pornografi.

· Karya merupakan hasil karya sendiri dan belum pernah dipublikasikan atau diikutsertakan pada lomba sejenis.

· Karya diketik pada kertas HVS ukuran A4, spasi 1,5, jenis huruf Times New Roman ukuran 12 dengan jarak margin 4-3-3-3 cm. Atau bisa juga ditulis tangan pada kertas folio bergaris.

Untuk yang belum mengirim karya dan masih bingung akan ikut kategori lomba apa, lebih baik Sahabat lihat dulu baik-baik persyaratan dan ketentuan setiap kategori lombanya lewat tautan-tautan di bawah ini:

Lomba Menulis Cerpen Bagi Penulis

Lomba Menulis Cerpen Bagi Pemula

Lomba Cipta Pantun

Lomba Mendongeng

Lomba Cipta Syair

Ayo segera tentukan kategori yang Sahabat sukai, karena setiap peserta hanya boleh memilih satu kategori dan hanya boleh mengirimkan satu karya saja. Jadi, pikirkan baik-baik yah! Kalau semuanya sudah siap, Sahabat bisa langsung kirim karya Sahabat dengan tujuan sebagai berikut:

Direktur Pembinaan Sekolah Dasar

u.p. Kasubdit Peserta Didik, Subdit Peserta Didik

Direktorat Pembinaan Sekolah Dasar

Gd. E Kemdikbud Lt. 17,

Jl. Jend. Sudirman, Senayan, Jakarta 10270

Telepon: (021) 5725638 atau (021) 572564

Naskah yang akan dikirimkan harus dibuat sebanyak 3 rangkap dan kesemuanya itu harus disahkan keasliannya oleh kepala sekolah atau pihak yang mewakilinya (diberi cap dan tanda tangan kepala sekolah). Kemudian karya dimasukan ke dalam amplop yang diberi keterangan kategori lomba yang diikuti di sudut kiri atas amplop (contoh: KPCI – Lomba Cipta Syair).

Naskah atau karya yang dikirim harus dilengkapi fotokopi identitas berupa kartu pelajar serta biodata singkat yang mencantumkan nama peserta, tempat tanggal lahir, kewarganegaraan, alamat lengkap, nomor telepon yang bisa dihubungi, alamat e-mail, nama sekolah, alamat sekolah, dan kelas. Supaya panitia nanti tidak bingung untuk mengidentifikasi karya kamu. Kita tunggu karya Sahabat selambat-lambatnya pada 31 Agustus 2017 (cap pos).

Ayo diserbu.
Setiap tahunnya KPCI akan mengundang 150 anak dari seluruh Indonesia untuk berkumpul selama empat hari mengikuti konferensi.

Dalam Sebuah Pernikahan, Perempuan Harus Bahagia

Ia menunduk. Ia bicara. Lalu menarik napas panjang ketika lawan bicaranya mengusap air mata yang ke luar dari kedua matanya.
Bicara mereka lirih, karena tak jauh dari mereka, mungkin saja ada beberapa telinga yang bisa menangkap keluh kesah yang sedang dibagi.

“Dalam pernikahan, perempuan harus bahagia,” ujarnya meyakinkan. “Dan untuk bahagia, perempuan harus tahu apa yang ia inginkan.”
Masih ada air mata.
Ia mencoba menarik benang merah dengan kehidupan rumah tangga yang dijalaninya. Rumah tangga pasangan lain yang baru melangkah, rumah tangga orangtuanya hingga masuk usia 53 tahun dan maut memisahkan, rumah tangga lain yang jauh di atas rumah tangganya.

Ia sendiri sudah menemukan bahagianya. Sederhana saja ia menemukannya. Bukan dengan limpahan harta, bukan dengan pujian yang melambungkannya. Ia hanya membuat lingkaran di kepalanya. Berisi dirinya sendiri. Fokus pada dirinya sendiri. Ketika ia sudah menemukan inginnnya, mimpinya, maunya, maka lingkaran itu ia lebarkan.

Kecewa yang Sewajarnya

Ia menarik napas panjang. Mencoba memahami. Dalam satu minggu ada beberapa wanita yang mengadu. Wanita-wanita tangguh tetap saja seorang wanita.
Ia mencoba memahami konsep ujian. Ketika ia diuji, ia selalu berpikir bahwa ini memang jalan yang harus ditempuhnya. Jalan karena pilihannya, bisa jadi untuk pelebur dosanya. Ketika itu ia pikirkan, ia menjadi lebih fokus untuk memperbaiki diri sendiri, dan tidak menyalahkan orang lain.

Seorang lelaki tangguh, akan dipertemukan dengan perempuan lemah. Begitu sebaliknya.
Seorang lelaki pintar, akan dipertemukan dengan perempuan yang tidak nyambung ketika diajak bicara tentang satu hal yang ia inginkan. Satu hal saja dan itu akan melebar. Setan akan menelusup ke dalam hati dan mengusiknya dengan pikiran bahwa pasangannya tidak bisa apa-apa.
Ketika seorang perempuan bekerja berlimpah harta, maka ia akan disandingkan dengan seorang lelaki yang diuji materinya. Sehingga setan akan membisikkan bahwa si lelaki tidak punya kemampuan sebagai lelaki.
Ketika seorang perempuan mulai berjalan di jalurNYA, maka ia akan mulai fokus pada perubahan besar yang diharapkan terjadi juga pada pasangan. Setan membisikkan itu, sehingga ia tidak menikmati lagi perubahan kecil yang dijalani pelan tapi pasti oleh pasangannya.

“Aku kecewa…”
Ia mengangguk. Membuka buku dan ingatan. Sebuah buku selalu dijadikan rujukan. Kitab-kitab perjalanan pada utusan Allah dan orang beriman lainnya.
Diuji dengan pasangan adalah biasa. Luth dan Nuh bahkan Asiyah istri Firaun pun seperti itu. Bukan setahun, dua tahun dan puluhan tahun. Tapi ratusan tahun.
Bukankah itu tanda bahwa Sang Khalik sebenarnya mencintai? Ujian diberikan, agar kita menangis dan berproses menjadi manusia yang lebih baik lagi.

Fokus Pada Orang Lain yang Tidak Berdaya

Dalam pernikahan seorang perempuan harus bahagia. Karena ketika perempuan bahagia, maka aura positifnya akan menular pada anak-anak. Tapi ciptakan dulu lingkaran itu, pahami betul apa yang diinginkan. Lalu setelah itu, ia akan menemukan jati dirinya. Apa yang membuatnya bahagia, apa yang tidak. Apa yang tidak perlu ditahannya apa yang tidak.

Ia melihat seorang di depannya mengangguk. Pernikahannya sudah dua puluh tahun, beberapa tahun lebih lama ketimbang pernikahannya.

“Tidak pernah ada hadiah untukku. Tidak pernah ada cincin emas.”
Ia menarik napas panjang.
Ketika perempuan sudah kecewa dengan pasangan, maka terlupalah kebaikan yang banyak dari pasangan. Itu yang selalu ia pegang dengan erat, ketika mendengar kalimat itu di sebuah kajian. Seorang sahabat Rasulullah yang mengucapkan hal itu.

“Bicara pada pasanganmu. Karena laki-laki bukan perempuan. Jadi bicaralah. Sampaikan keluhanmu, sampaikan inginmu.”
Perempuan di depannya diam.
Lalu ia mengurai apa yang pernah ia lakukan. Ketika jembatan komunikasi tidak dibangun. Ketika ia merasa tidak perlu bicara dan hanya memendamnya dalam diam, mengharap pasangannya mengerti. Ketika ia kecewa lalu menghabiskan waktu dengan tangisan dan energinya terkuras habis.

“Dia menyebutku boros. Selalu seperti itu.”
“Tulis apa saja pengeluaranmu untuk rumah tangga. Terkadang lelaki tidak paham perempuan bergelut dengan harga-harga. Dan mereka merasa masih saja pasangannya boros. Ajak dia belanja, atau serahkan uang padanya untuk belanja. Sehingga ia paham makna boros yang sesungguhnya.”

Matanya berbinar.
“Sungguhkah?”
Ia mengangguk.

Serahkan Tuntas Pada Pemilik Masalah

Perempuan dalam pernikahan harus bahagia. Dan untuk bahagia itu, perempuan harus menemukan dulu jati dirinya. Sehingga ketika masalah datang, ia paham harus menempatkannya di mana?

Ia menarik napas panjang.
Menemukan bahagianya, fokus membahagiakan orang lain, menjadi salah satu cara agar bahagia dan tidak lebur dalam duka. Bisa jadi ia hanya kurang bersyukur.

“Ini bayi-bayi yang kena HIV Positif. Mereka lebih malang, kan?”
Wajah permepuan di hadapannya terlihat takjub.
“Fokus pada orang lain, jangan terlalu fokus pada pasangan. Karena itu sama seperti terus-menerus melihat tanaman peliharaan. Semakin dipandangi terasa semakin tidak tumbuh berkembang. Tapi ketika ditinggal satu, dua minggu, akan terasa perubahannya.”

Perempuan di hadapannya mulai bisa tersenyum.
Lalu ia mengambil telepon genggam. “Serahkan semuanya pada Pemberi Masalah. Maka hidupmu akan jauh lebih tenang. Kalau dia yang salah, maka biar Allah yang mengurusnya. Jika dia tidak salah, kita juga sudah lega. Mungkin kita diberi petunjuk dengan banyak cara.” Ia mengirimkan doa yang selalu diucapkan setiap saat lewat telepon genggamnya.

Perempuan di hadapannya mengangguk.
Adzan sudah terdengar. Ia harus segera pulang.

Perempuan harus bahagia.
Dan sungguh, ia pernah juga pernah melewati fase tidak bahagia. Tapi intropeksi terus-menerus, membuat ia paham jalan bahagia datangnya dari mana.
Dan ia bersyukur bisa menapaki tangga bahagia.
Bukankah sejatinya hidup itu pilihan. Berkorban atau dikorbankan, bermanfaat atau dimanfaatkan adalah jalan pilihan.
Dan pernikahan yang dihuni oleh sepasang anak manusia sebagai sekolah yang terus-menerus dihujani pelajaran, harus diterima dengan pikiran terbuka. Bahu-membahu harus dilakukan. Jika seorang berada di depan harus ada yang mau berada di belakang. Karena sejajar dalam pernikahan hanya bisa tercipta ketika sudah melewati tahap gejolak. Siapa yang bersedia maju dan siapa yang bersedia mendorong kemajuan itu.

Perempuan harus bahagia dalam pernikahan.
Sudah malam.
Ia melangkah ke luar sambil terus berharap, ujian seberat apapun, ia akan selalu menerimanya sebagai proses tumbuh kembang sebagai makhluk ciptaanNYA.

Suatu Hari di Bromo yang Dilumuri Kenangan

Suatu hari, libur mereka menjadi panjang. Hanya bincang-bincang kecil pada awalnya. Tentang anak-anak yang tumbuh besar. Yang besar akan berpisah dan masuk pondok. Ia harus mendapatkan kenangan yang mengikat tentang orangtuanya.

Suatu hari, sebelum liburan mereka saling bicara.
Seorang kepala keluarga yang setiap bulan sakit, pasti ada sesuatu. Berganti-ganti dokter bukan solusi. Mata dan bibirnya setiap bicara selalu bicara tentang kenangan. Masa kecilnya, masa lalunya. Dan itu artinya satu, Si Istri harus memahami kerinduannya pada masa lalunya, yang tidak mungkin bisa diberikan Istri padanya.

“Pulanglah,” ujar Si Istri setiap saat, setiap waktu.
Tapi lelaki itu kelihatan gamang. Pekerjaan dari klien menumpuk. Ketika ada waktu libur, anak-anak butuh biaya yang tidak sedikit pula.
“Pulanglah,” ujar Si Istri.
Hanya ada beberapa orang kakak. Tidak ada lagi orangtua. Bukankah pulang pada saat itu akan terasa sekali berbeda?

Pulang, gagal dan akhirnya berujung pada sebuah keputusan.
“Kita pulang,” ujarnya sambil menunjukkan tiket kereta menuju Malang.
Si Istri mengangguk setuju. Kebahagiaan pasangan adalah kebahagiaannya. Lagipula ada tali kekerabatan yang harus dirajut. Soal dana tidak perlu terlalu dipusingkan. Ada beberapa pekerjaan yang sudah selesai di muka, dan pembayaran akan dicicil beberapa bulan ke depan. Jadi tidak perlu khawatir.

And Bromo…

Suatu hari mereka mengenang. Perjalanan panjang 21 tahun yang lalu. Hanya saling kenal tidak berkelanjutan. Seorang penulis dan ilustrator. Seorang anak muda berambut panjang yang tidak dianggap oleh sang wanita. Tapi jodoh adalah mutlak kuasaNYA.

“Ke Bromo?” tanya Si Suami.
Si Istri mengangguk. Bromo. Ingin anak-anak bisa lebih mencintai alam. Ingin anak-anak merasakan ada kesulitan yang bisa ditaklukkan bersama. Ingin mereka paham bahwa cinta orangtua itu, artinya membuat wawasan mereka bertambah.

Maka semua direncanakan. Bahagia Si Suami adalah membahagiakan keluarganya. Maka Si Istri harus ikut bahagia. Anak-anak juga belajar. Membahagiakan orang lain itu, akan sangat menyehatkan.
Mereka bersama dengan tiga keluarga lainnya dengan mobil Espass tua dan motor naik menuju Bromo.
Anak-anak belajar tentang hidup di ujung maut, ketika mobil Espass tahun 1996, di mana mereka berempat ada di belakang, hampir saja tidak bisa menanjak karena kebanyakan beban. Dzikir mereka mengalun. Takjub disertai syukur ketika menyaksikan pemandangan kabut. Kabut yang menyelimuti cemara,jingga kemerahan. Mobil seperti berada di atas awan.
“Ini namanya negeri di atas awan,” ujar Si Istri sambil melilitkan syal yang dipakainya, karena hawa dingin mulai masuk dari sela jendala mobil tua yang tidak memakai pendingin udara.

Sebuah Home Stay

Jalan masih terus berbelok di tikungan tajam, menanjak dan menurun. Kiri kanan jurang dan kabut tebal mulai datang.
“Kita kesasar?” terdengar sebuah suara.
Mereka melewati jalan alternatif dari Purwodadi. Resikonya jalan akan naik turun, tidak seperti melewati jalan umum dari Lumajang. Jarak memang akan lebih dekat.
“Kita kesasar?”
Beberapa kali mobil berhenti untuk bertanya. Sudah mulai gelap, jalan tidak terlihat. Hawa dingin pun semakin menggigit.
Lampu-lampu mulai terlihat menyala. Vila-vila yang disewakan. Rumah-rumah penduduk yang mulai tertutup pintunya.

Mereka kesasar di satu tempat. Lalu bertanya pada seseorang yang berjaga di pintu gerbang vila yang disewakan. Mereka masih harus naik lagi dan turun lagi.
Sampai di sebuah lapangan dekat SMA, mobil pun berhenti. Tidak ada signal sama sekali. Sampai pada satu titik akhirnya signal didapatkan, dan pemilik rumah yang mereka sewa datang menghampiri.

Sebuah home stay dengan lima kamar. Savana Indah Home Stay.
Ada termos berisi air panas, gelas-gelas bersih, kopi, teh juga gula. Dua buah wadah kue di atas meja untuk mereka.
Tempat yang bersih. Setiap kamar memiliki kamar mandi. Ingin air hangat bisa ditekan tombol agar mesin penghangat air menyala.
Ada ruang tamu berisi televisi. Ada ruang makan. Dan satu tempat untuk shalat dengan Al Quran, sajadah, mukena juga sarung bersih tersedia.

Harga sewa permalam 250 ribu rupiah untuk setiap kamar.
Ada sebuah musholla persis di samping home stay. Di lantai bawah pemilik tinggal. Penyewa di lantai atas. Pemiliknya seorang kepala sekolah yang juga membuka warung sembako di lantai bawah.

Dan Bromo

Dan Bromo adalah kenangan. Ketika pada jam tiga malam, Mobil jip mengantar mereka pergi. 450 ribu harga sewa untuk dua tempat yang akan dikunjungi.
Si Suami khusyuk shalat sebelum berangkat. Si Istri berdoa, agar tidak sampai melalaikan kewajiban shalat hanya demi mengejar terbitnya matahari. Dalam doanya terselip permohonan, agar Allah gagalkan saja rencana untuk mendaki, jika itu hanya melalaikan shalat.
Sebab 21 tahun yang lalu, di jalur pendakian tidak ditemukan tempat untuk shalat.

Jip-jip yang melaju. Jip-jip yang berhenti di loket pembelian tiket. Harga tiket masuk pada musim liburan dipatok 32. 500 perkepala.
Mereka mengenakan pakaian berangkap-rangkap. Entah kenapa Si Istri bahagia melihat wajah dua remajanya yang takjub dengan pengalaman baru mereka.

“Tidak bisa naik jipnya,” ujar pengemudi. “Antrian panjang.”
Jip- jip yang parkir di pinggir jalan. Musim liburan membuat pengunjung memenuhi Bromo.
“Di sana ada Bukit Cinta.”
Iya di sana Bukit Cinta namanya. Anak-anak harus tahu bagaimana mendaki. Bukan gunung yang tinggi. Tapi pada jam empat dini hari, mereka harus naik di jalan gelap mendaki dengan sebuah senter yang kadang hidup kadang mati, adalah sebuah sensasi tersendiri.
“Di sebelah sana ada mushala,” ujar Si Suami menunjukkan satu bedeng tepat di atas sebuah toilet.

Semua pengunjung naik. Dalam gelap sambil terus-menerus berdzikir.
“Itu fajar Kadzib namanya,” ujar Si Istri pada anak lelaki yang duduk di sebelahnya.
Lalu cahaya datang dan menghilang. Kembali gelap. Lambat laun dari arah lain ada cahaya putih. “Yang itu fajar Shadiq namanya. Langit akan menjadi terang tidak gelap lagi. Tanda waktu Subuh sudah datang.”
Lalu semua tersingkap. Lautan kabut menipis pelan tapi pasti. Menghadirkan sosok gunung tinggi. Indah sekali.

“Masya Allah indah sekali,” Bungsu tergugu dalam kagum.
“Indah, kan?” tanya si Istri pada anak sulungnya yang lebih suka memendam rasa kagum dalam hati.

Waktu pun bergeser. Sebuah mushala mungil, air mineral yang masih penuh bisa dijadikan air untuk wudhu di saat toilet panjang antriannya.
Mereka harus terus berjalan menuju lautan pasir Bromo. Supir jip sudah menunggu. Iring-iringan jip mulai naik menuju tempat lain.

Debu-Debu yang Berterbangan

Suatu hari mereka mengulang kenangan. Sepasang anak manusia. Melangkah bersama. Ketika anak-anak sudah melesat ke arah anak tangga yang tinggi bersama dengan yang lain.
Mereka tertinggal berdua.
Si Istri menikmati antrian panjang toilet di kawah Bromo, sedang Si Suami setia menunggu sambil memandangi penjual bakso di sekitar lautan pasir Bromo.

“Kamu di sana, aku foto.” Si Suami menenteng kamera.
Mereka berjalan berdua di tengah debu-debu pasir yang terus berterbangan. Dingin masih menggigit. Kuda-kuda tunggangan melesat meninggalkan debu. Motor-motor sewaan juga sama.
Warung-warung makan berdiri berjejer. Lautan pasir penuh dengan para pengunjung. Anak-anak muda bercengkrama.

“Di sini saja,” ujar Si Istri. Semalam ia tidak bisa tidur. Sebab kewajiban ibu tetaplah harus dijalani meskipun sedang liburan. Menyuruh anak-anak tidur lalu membangunkan. Resah sendiri takut alarm terlambat berbunyi dan mereka kesiangan sesuai janji.
“Di sini saja, menunggu di warung,” ujar si Istri.
Si Suami melangkah pergi. Anak-anak harus didampingi. Kenangan manis mendaki bersama anak-anak mungkin yang sedang dikejarnya.

Jalan itu terlalu mendaki. 250 anak tangga rasanya sudah tidak mungkin lagi bisa didaki. Memaksakan diri takut berujung akan menyusahkan orang lain.
Lagipula kawah di atas sana sudah pernah didakinya ketika masih muda.
Si Istri ikhlas dengan kepala yang mulai pening, dan butuh tempat istirahat. Telepon genggam selalu berbunyi meskipun kadang signal tidak didapatkan.
“Anak-anak sudah naik,” ujar Si Suami dari arah pendakian.

Dan …

Dan suatu hari, ketika libur panjang untuk saling membahagiakan telah selesai, mereka duduk berdua. Di antara hutan jati dan sawah-sawah yang terbentang. Pada pagi yang kabutnya masih belum hilang, dan membuat tubuh mereka menggigil.
“21 tahun yang lalu kita pernah ada di sana,” ujar Si Istri.
“21 tahun? Sudah lama sekali,” ujar Si Suami sambil menikmati gorengan bakwan yang biasa disebut Weci, yang dibeli di pasar seharga lima ratus rupiah.

Ada banyak bahagia.
Dan membahagiakan orang lain terlebih dahulu, akan dibayar oleh Allah Maha Pemberi Bahagia. Awan-awan seperti berlomba dimasukkan ke dalam hati keduanya.