Pada Batang Kayu yang Rapat

“Selalu ada kenangan. Maka kenanglah…” Trinil merasakan labirin di museum Ullen Sentalu membuat kepalanya menghadirkan dentuman yang membuat ia harus memijit keningnya berkali-kali. “Selalu ada ingatan tentangku, maka ingatlah…” Sebuah pintu tertutup beringin. Hawa dingin Kaliurang mulai dirasakan menggigit. Hanya ada gerimis kecil. Ia dan rombongan lain harus menunggu...

Serpih

“Jauhkan dia sejauh-jauhnya.” Kalimat itu masih saja terucap dari mulut Luli ketika mukenanya ia lipat. Dan ia berada di depan cermin. “Jauhkan…,” kali ini mulutnya bicara sendiri. Lipsgloss warna pink. Bedak padat setelah alas bedak ia kenakan. “Jauhkan..,” ia terbatuk sekarang. Lalu berjalan ke arah anak tangga. Naik hingga...

Semangkuk Kenangan

Dan sebentar lagi malam menjelang. Lalu malam yang datang nanti akan kembali dihamparkan selembar tikar yang di atasnya nanti akan tertata dua mangkuk yang sama warna, sama besar. Di sebelah mangkuk itu akan ada satu piring nasi, lalu piring lainnya berisi tahu juga tempe. Lies tidak pernah tahu kapan...

Seratus Surat untuk Bapak

Ini surat keseratus yang Yayi tulis untuk Bapak. Di atas lembaran kertas hvs. Diberi pewangi dari pengharum pakaian yang biasa dipakai Bunda untuk menyetrika. Bertumpuk-tumpuk surat itu. Masing-masing dilipat dengan begitu rapi. Ditulis dengan bahasa yang sangat baik. Lalu dimasukkan ke dalam amplop yang ditaruh di dalam rak buku...

Mengenang Nola

George selalu mengenang Nola dengan kenangan yang sangat menjengkelkan. George selalu mengenang Nola bahkan dalam setiap embusan napasnya, setiap cerita yang ke luar dari bibirnya. Bahkan setiap ukiran masa depannya masih saja berisi kenangan tentang Nola. “Kamu cemburu?” Aku mengangguk. Pasti. Mengukir pasir di bawah kakiku dengan gambar kuburan....

Kamulah Mendung dan Matahariku

“Jhon pulang…. “Pulang sama Parni?” “Iya. Parni yang bilang begitu. Anaknya sekarang sudah mau empat.” Srintil sejenak menghentikan apa yang dilakukannya. Daun telinganya sedikit ditegakkan. “Jhon bisa balik ke kampung ini kapan-kapan…” “Hush…..” Masih siang. Angin bertiup cukup kencang. Pakaian yang berada di tali jemuran sebenarnya belum kering semuanya....

Penagih Utang

“Sudah sesuaikah pekerjaanmu dengan hatimu, Kang?” Baron yang sedang mematut dirinya di cermin menarik napas panjang. Tubuhnya tinggi. Tegap. Dengan kulit hitam. Dan mata menukik ke dalam seperti mata elang. “Kang…,” Aisyah menarik napas panjang juga. “Sudah dipikirkan?” Jilbab panjangnya seperti sedang menertawainya ketika Aisyah menunduk. Baron mengangguk. Ini...

Tun dan Hujan

Tun tidak pernah membenci hujan. Tun bahkan sangat cinta dengan hujan. Hujan yang turun di halaman depan rumahnya yang sempit. Hujan yang turun dan tidak bisa mengalir di selokan tempat tinggalnya. Hujan yang dirutuki oleh tetangganya yang sudah capek terkena banjir dan hujan yang membuat anak-anak memilih merapat pada...