Kirim Naskah ke Penerbit Gramedia

Halo teman-teman pencinta buku, penulis, dan calon penulis. Apakah Anda ingin menerbitkan naskah di Penerbit Buku Kompas? Berikut kami sampaikan prosedur pengiriman naskah ke Penerbit Buku Kompas.

Penerbit Buku Kompas berdiri pada 15 Oktober 1999 dan merupakan bagian dari harian Kompas. Kami menerbitkan genre-genre buku fiksi dan nonfiksi untuk target pembaca dewasa dan dewasa muda.

Jika Anda merasa punya karya dengan tema menarik, kekinian, dan orisinal (bukan jiplakan/plagiat), jangan ragu-ragu mengirimkan naskahmu ke Penerbit Buku Kompas!

Ketentuan umum untuk pengumpulan naskah fiksi ataupun nonfiksi:

Ukuran font 12 pt dan spasi 1,5. Tebal naskah 100-200 halaman A4 (untuk fiksi ataupun nonfiksi)—tebal halaman bisa lebih dari jumlah yang telah disebutkan asalkan tak berlebihan.
Tema naskah akan dipertimbangkan selama bukan plagiat; tidak menimbulkan problem SARA; dan/atau menyinggung pornografi.
Apa saja yang perlu dikirimkan?
1 kopi printout naskah utuh/lengkap (bukan naskah yang setengah selesai, bukan hanya cuplikan naskah) yang sudah dijilid agar tidak tercecer.
Sinopsis naskah (maksimal 500 kata).
Uraian singkat mengenai: keunggulan naskah Anda, target pembaca, dan buku sejenis yang menjadi kompetitor/referensi. Singkat saja, maksimal 500 kata.
Data diri penulis (nama lengkap, alamat domisili, nomor telepon/HP, dan alamat e-mail yang aktif/bisa dihubungi) dan judul buku yang pernah diterbitkan (jika ada).
Cantumkan jenis naskah Anda (fiksi/nonfiksi, remaja/dewasa, dan sebagainya) di sudut kiri atas.
Setelah diterima redaksi, naskah akan ditimbang selama sekitar 2 bulan. Harap maklum, mengingat banyaknya naskah yang masuk. Naskah yang belum bisa kami terbitkan dapat diambil di kantor Penerbit Buku Kompas dalam hari dan jam kerja. Redaksi tidak akan memberikan review khusus/personal untuk naskah yang dikembalikan.

Kami tidak memungut bayaran kepada penulis yang ingin menerbitkan naskahnya.

Ayo kirimkan naskah Anda ke:

Redaksi Penerbit Buku Kompas
Jalan Palmerah Selatan 26-28
Jakarta 10270

Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi hotline kami di (021)53670882 atau e-mail ke buku@kompas.com.

Hadiah Produktif dari Suami

Istri mana yang tidak suka diberi hadiah?
Tentu setiap individu akan berbeda keinginannya akan hadiah.
Suami tahu, saya tidak suka hadiah perhiasan emas. Alih-alih memakai untuk menyenangkan pasangan, ujung-ujungnya pasti akan copot dan tercecer entah ke mana.
Maka untuk hadiah perhiasan, saya memilih membeli sendiri gelang manik-manik seribuan di abang-abang penjual mainan.

Hadiah yang produktif lebih saya sukai. Karena dengan begitu saya jadi berjuang memanfaatkan hadiah itu, agar jadi sesuatu yang bermanfaat.
Ingat ketika saya butuh sekali kamera. Kamera digital yang kecil pecah ketika saya jatuh dari motor. Pada saat itu suami juga butuh kamera, karena beliau akan bertugas ke Papua dan diminta untuk memotret.
Akhirnya kami sepakat. Patungan kamera. Separuh uang suami, separuh uang saya.
Lalu suami yang hunting ke teman-temannya yang fotographer. Jadilah kamera ini menjadi milik kami. Sekarang malah dipakai untuk anak abege kami, yang sedang belajar fotograpi.

Hadiah produktif membuat saya justru menghargainya.
Karena hadiah itu akan membuat saya menjadi manusia yang terus meningkatkan ilmu.
Meja kerja saya juga seperti. Meja kecil sebenarnya saya butuhkan. Tapi suami menawarkan meja besar. Dan saya setuju saja, karena tidak mungkin menolak. Ujungnya di atas meja itu saya bisa letakkan printer dan juga buku-buku yang tidak muat lagi di dalam lemari.
Meja itu bisa dipakai untuk anak-anak belajar. Tidak takut rusak juga ketika murid-murid datang. Karena meja itu cukup kuat.
Meja kerja ini juga membuat ruangan kerja saya seperti sebuah kantor yang sebenarnya. Dan kantor yang ditata sesuka hati saya, tentu membuat saya rindu untuk terus berada di dalamnya.

Hadiah produktif membuat saya semakin giat bekerja tentu saja.
Ujung-ujungnya hasil kerja itu bermanfaat untuk saya kok. Bermanfaat untuk pasangan dan anak-anak saya juga. Karena saya bisa membuat banyak kreasi.
Oven tangkring dari suami, bisa saya gunakan untuk membuat roti juga kue kering. Irit di pengeluaran tentu saja.
Mesin jahit tua yang membuat saya kesal pada awalnya, akhirnya toh bisa membuat saya berkreasi untuk membuat baju baru. Jadi sekarang kalau lihat baju ini ini, tidak tertarik lagi saya. Karena saya bisa membuatnya sendiri.

Hadiah produktif apa lagi, ya, yang saya inginkan?
Saya belum tahu juga.
Karena hadiah produktif yang ada di rumah, masih harus saya optimalkan.

Sepasang Sepatu Tua

Tiba-tiba ruangan kecil yang biasanya gelap, menjadi terang. Suara langkah terdengar. Suara kursi yang berderit ketika diseret. Barang-barang yang disingkirkan. Benda-benda yang berjatuhan berbunyi ting atau bruk.
Tiba-tiba sesuatu terasa menggoyangkan. Menarik. Lalu sesuatu itu terasa membuka tutup kotak kardus pelan tapi pasti.
Ada dua senyum terlihat jelas ketika tutup kotak terbuka, tangan dengan dua cincin mungil di jari itu masuk ke dalam kotak dan menarik aku dari dalam kardus. Lalu memasangkan di kakinya.

“Sepatunya kekecilan, Mama. Kekecilaan.”
Kau hanya tersenyum. Suara-suara kecil itu membuatmu tak jadi bangkit. Rok panjang bunga-bunga yang disatukan dengan atasan putih berenda, yang kau kenakan membuat dirimu seperti seorang putri.
“Mama?”
Kau mengangguk. Mengusap sepatu berwarna biru yang sudah memudar warnanya. Sepatu kets dengan tali berwarna putih. Warnanya sudah lusuh ketika kau temukan dalam tumpukan sepatu lama di dalam gudang. Kemarin beberapa sepatu lainnya kau putuskan untuk berpindah tangan bagi yang membutuhkan, atau sekedar kau sodorkan pada penjual barang bekas untuk menambah uang belanja bulananmu.

Kau mengambil cat poster. Kau cari warna senada dengan sepatu lusuh di tanganmu. Lalu kau tersenyum ketika menemukan satu warna yang lebih cerah. Sebuah kuas kecil, bekas kau pakai untuk mengoles adonan kue terpaksa kau pakai. Lalu dalam sekejap kau sudah membuat warna biru lusuh itu kembali terang menyala.
“Jangan sampai kena hujan, Mama?” tanya bocah kecil itu memandangimu dengan wajah serius.
Kau mengangguk. “Tidak boleh kena hujan,” ulangmu pelan tapi pasti. Lalu mendekatkan sepatu yang sudah kau saput dengan cat poster berwarna biru muda menyala mendekat pada kipas angin yang menyala.

Sambil menunggu kau ambil satu buku dongeng tebal. Dan bocah lelaki itu tahu yang akan kau bacakan untuknya. Kisah putri raja dan kau pasti berpesan selalu padanya agar kelak menjadi seorang pangeran yang baik hati dan tulus menyayangi pilihannya.
Bocah itu biasanya akan mengangguk, memainkan ujung rambut ikalmu sebelum akhirnya tertidur dengan tersenyum.
Masih sempat kau pandangi sepatu itu. Sudah lama kakimu tak memiliki sepatu yang pantas untuk pergi. Kau harus berhemat. Karena kau yakin semua kepala akan mengatakan hal yang sama. Seorang istri yang baiklah haruslah bisa berhemat.
Katanya kau tidak bisa berhemat. Katanya kau suka menghabiskan uang belaja di online shop untuk membeli apa saja. Katanya itu membuat kau menghitung berapa banyak barang dari online shop yang kau beli. Sebuah cetakan kue yang terpakai untuk mencetak pesanan kue kering di hari raya. Dua buah wallpaper untuk menghiasi kamar agar tidurmu bisa lebih indah. Sebuah blender tangan yang kau pikir akan membuat segala sesuatunya menjadi lebih mudah.
Hanya itu dan kau belum menginginkan yang lain. Kau setia memandangi pergerakan tanggal dengan mengelus dada dan melebarkan senyum.

“Mama mau memakainya?” tiba-tiba bocah itu terbangun. “Ke arisan? Undangan sunatan?”
Kau menjawil hidung bocah kecil itu. Lalu mengangguk yakin. “Nanti Mama pasang renda yang bisa dicopot dan dipasang untuk pengganti tali sepatu. Atau bros berwarna ungu.
Kedua bola mata bocah itu membesar. Bulatan matanya berputar-putar. Lalu bibirnya membentuk bulatan. Mungkin ia sedang membayangkan suatu masa bila ia jadi seorang pangeran dan melihat seorang putri memakai sepatu kets berenda.
Kau memeluk bocah itu erat. Kau menyayanginya sepenuh hati. Kau tidak ingin ia ikut terluka dengan luka yang baru bersarang di hatimu. Karena itu kau mengajaknya masuk ke gudang mencari masa lalu. Sebuah masa bertahun-tahun yang lalu ketika air mata Ibu mengalir deras di pipi dan kau memergokinya. Lalu Ibu hanya berkata kalau setiap pernikahan pasti akan mengalami titik seperti ini.

Sekarang kau berada di titik yang sama tapi berbeda tempat.
Kau tahu ada banyak bentuk pernikahan. Dan ada banyak akhir. Bertahan adalah sebuah kemenangan begitu ujar Ibu.
Kau tahu kau harus bertahan. Sebuah pernikahan bukan pesta yang begitu selesai kau bisa keluar. Kau harus menerima permen manis dan obat pahit di saat bersamaan.
Dan kenangan membawa pada sebuah gudang.

Sepatu itu memang tidak sepanjang jari kakimu. Tapi kau bisa menekuk jari-jemari yang memanjang tidak terlalu jauh dari ukuran nomor sepatu itu. Kau bisa mengakalinya. Kau bisa melakukan banyak hal termasuk membasahi dalam sepatu itu lalu kau mengeringkannya dengan meletakkan sepatu itu di pinggir kompor yang menyala. Setelah itu sepatu akan melebar terkena panas lalu jari jemarimu yang lebih besar itu bisa pas di sepatu itu.
Dulu kau ingat, seorang juga pernah melakukannya. Dengan hair dryer hitam yang sekarang kau miliki tapi tak bisa lagi kau benahi karena seorang yang bisa kau mintai tolong tidak berkenan dan malah menyodorkan brosur barang seperti itu, dengan catatan jika kau mau, kau akan diantar ke tempat itu. Tentunya dengan uang yang harus kau sisihkan setiap bulannya.
“Mama senang?”
Kau senang. Sepatu itu mengering sempurna. Artinya kau bisa memakainya.
**

Pagi ini kau cantik sekali dengan rok panjang berbunga pink yang senada dengan atasan berwarna dasar sama.
Kau cantik dengan rambut tergerai. Lalu kau berjalan mendorong pagar rumah dari kayu yang sebagian besar sudah rusak, sehingga kau harus mengangkatnya dengan tenagamu. Tapi bibirmu tersenyum.
Kau mungkin akan berjalan lurus ke arah matahari terbit. Biasanya kau menggandeng tangan bocah kecil yang biasa kau bawa. Tapi sepertinya bocah itu semalam tidak tidur bersamamu. Kau memarahinya semalam karena merengek minta mainan. Lalu kau minta ia meminta pada seorang lelaki yang biasa dipanggilnya Papa.

Kau akan bertemu seseorang pada pertemuan matahari dan batang-batang daun jati. Lalu kau akan tersipu. Menundukkan kepalamu. Setelah itu kau berjalan seperti ingin terbang. Kau terlihat begitu bahagia.
Kau tidak pernah berdusta. Kau selalu bicara apa adanya. Tapi kau tahu, setelah pertemuan itu kau akan dihadang dengan banyak pertanyaan dengan kepala menggeleng berkali-kali.
Kau akan berkata soal kerajinan tangan yang kau buat untuk dijual kembali dan uang hasilnya bisa dipakai untuk menutupi semua kebutuhan rumah tangga yang harus kau tanggung sendiri.
Kau tunjukkan bukti segala macam kerajinan yang kau buat. Kau tunjukkan keranjang dari kertas koran yang kau gulung kecil-kecil lalu kau jalin sempurna. Kau habiskan sepanjang waktu tidurmu untuk melakukannya, agar bocah kecil yang selalu tidur memelukmu bisa bahagia membeli mainan.
Kau tunjukan tisu tisu bergambar untuk kotak pensil.
Kau juga tunjukkan stik es krim yang kau kumpulkan dari sebuah tempat, lalu kau cuci bersih untuk kau rekatkan dengan lem dan jadikan kerajinan tangan yang bisa kau jual dengan harga berkali-kali lipat.
“Kau selingkuh.”

Dan kau hanya menangis diam-diam. Biasanya pada saat itu kau akan berlari ke kamarmu dan kau masukkan kakimu ke dalam sepatu itu. Sepatu yang dulu dipakai wanita yang kau panggil Ibu. Sepatu yang selalu Ibu pakai ketika Bapak mengeluarkan kata-kata yang membuat Ibu dipenuhi air mata.
“Pilihan ada di tanganmu. Bahagia atau bersedih. Masukkan saja kakimu ke dalam sepatu ini. Hanya bayangkan kebahagiaan. Maka kau akan bahagia.”
Dulu Ibu membayangkan menjadi putri raja, lalu mengambil kain dan membelitkan di pinggangnya. “Aku ratu tercantik di dunia,” ujar Ibu sambil tertawa.
Sekarang kau membayangkan menjadi Alice di Negeri Ajaib atau Dua Belas Putri yang Menari yang mencari dua belas pangeran yang bisa diajak menari. Atau mungkin Gadis Angsa yang akhirnya bertemu dengan seorang pangeran yang jatuh cinta padanya.
“Hidup ini sekedar mimpi. Kamu putar tombolnya. Sesuka hatimu.”
Maka sejak itu kau melakukannya. Kau memutar tombol bahagia ketika hatimu sedang duka. Kau memutar tombol senyum ketika sepasang mata di depanmu memberimu banyak sekali keluhan. Bahkan kau sering terlupa dan terus bernyanyi sehingga seorang pencemburu yang selalu ada di tempat yang sama dan hidup bersamamu berpikir kau jatuh cinta untuk keseribu kalinya dengan seribu orang yang berbeda.
**

Hari ini kau bermain dengan ranting kecil yang kau patahkan. Kau memandangi sepatu yang kau sayang-sayang.
“Kau hidup di masa kini untuk masa depan. Kau hidup untuk dunia nyata bukan dunia mimpi.”
Kau terkejut. Seorang kawan lama memeluk tubuhmu kuat-kuat.
“Kau terlalu banyak berkorban dan itu bukan masanya lagi.”
Sekarang kau memandangi buku harianmu. Ada catatan luka yang kau tulis. Ada juga catatan bahagia. Kau ingin membandingkan untuk mencari tahu. Apakah kau bahagia dengan pengorbanan itu atau tidak?
“Kau tidak cantik lagi,” tiba-tiba sebuah suara ada di belakangmu. Dan sebuah senyum di bibir merah ada di belakangnya.
Kau tahu, hitunganmu sudah selesai. Kau harus berani mengambil keputusan.
**

Jika saatnya tiba, begitu katamu pelan.
Rambutmu panjang ikal sebatas pinggang. Kau membuka pintu. Pada saat itu matahari seperti ingin memelukmu sempurna lewat sinarnya. Bajumu biru panjang dengan sepatu kets yang kau cat ulang.
“Sebuah pernikahan yang bahagia..,” ujarmu merentangkan tanganmu tepat ketika kau berada di sebuah batang pohon yang besar. “Aku mencintainya apa adanya.”
Lalu kau mencoba menghitung lagi. Apa yang salah selama ini. Kau atau seorang lelaki yang sudah kau pilih sebagai pasangan hidupmu.
Kau berkerut, kau berpikir, kau meneteskan air mata.
“Aku bahagia seperti ini…,” ujarmu sambil tersenyum.

Kau tentu layak mendapatkan yang baru. Tapi kau juga layak untuk bertahan.
Kau perempuan hebat. Hari ini kau berdiri di samping seorang lelaki dan menggandeng tangannya ke luar dari rumah yang bertuliskan kata dijual.
Kau kembali menjadi seorang pengantin dengan baju panjang berenda berwarna putih dan seorang lelaki berkemeja batik yang memeluk pinggangmu.
Kopor sudah kau siapkan. Ada beberapa. Sebuah truk berisi banyak barang baru saja pergi meninggalkan jejak debu-debu yang berterbangan.

Kau cantik pagi ini.
Daun-daun mangga menguning dan jatuh tepat mengenai rambut ikalmu.
“Mama…, sepatunya ditinggal di sini?”
Kau mengangguk pada seorang bocah yang memandangiku tanpa berkedip. Kau menjadi malu, karena pakaian pengantinmu membuat banyak mata tetangga memandang ke arahmu.
“Aku akan tetap jadi pangeran buat Mama,” ujar bocah kecil itu padamu.
Kau tersenyum. Hari ini kau menikahi pria yang sama dalam hati, mengulang janji yang sama tapi mencoba memulai sesuatu yang berbeda.

Sebuah kota yang akan merengkuhmu dengan kabut setiap pagi dan senjanya akan kau tinggali. Dan lelakimu setuju setelah mengucapkan selamat tinggal pada seorang perempuan yang pernah datang menggoda.
Semua hasil kesepakatan berdua. Kau yakin merevisi apa yang harus direvisi dalam sebuah pernikahan, akan membuat kau bahagia.
“Terima kasih untuk membuatku bahagia,” ujarmu melepaskan aku, lalu mengelusnya dan menaruhnya di dalam sebuah kotak. “Semoga pembeli rumah ini akan melakukan hal yang sama.”
Ketika kotak sepatu tertutup, lampu di gudang dimatikan dan pintu gudang dikunci, aku tahu sebagai sepasang sepatu tua aku sudah bahagia.

Menjadi Tetangga yang Bahagia

Mencari bahagia di mana?
Ada banyak dunia maya. Ada banyak penggunanya yang tidak berinteraksi dengan dunia nyata. Dan mereka benar-benar mencari bahagia di sana. Berinteraksi dengan teman-teman yang tidak pernah dijumpai. Ber ha ha hi hi. Dan tidak mau ambil pusing dengan yang ada di sekelilingnya.

Saya pernah sedih ketika bermanfaat di dunia maya, tapi tidak produktif di dunia nyata. Karena itu saya berjuang untuk menyamakan manfaat baik di dunia nyata juga dunia maya. Saling bersinergi antara dunia maya dan dunia nyata.
Adanya dunia nyata membuat para tetangga yang menyibukkan diri dengan gadget dan punya akun sosial media, jadi paham siapa saya. Dan mereka jadi semangat untuk mendorong anak-anak mereka belajar di rumah.

Seimbang dan Bahagia

Harus seimbang. Itu yang saya pikirkan masak-masak.
Saya tidak mau kelak ketika saya meninggal, yang mendoakan adalah orang-orang dari jauh. Teman-teman di dunia maya saja. Sedang tetangga kiri kanan tidak merasa apa-apa. Karena saya tidak memiliki kontribusi apa-apa untuk mereka.
Saya ingin seimbang.
Saling mendukung.
Hingga kelak Allah ridla dan merestui apa yang saya lakukan.

Para pembaca buku saya, bukan tetangga saya. Mereka banyak yang saya kenal dari dunia maya.
Tapi pada akhirnya, buku saya juga dibaca oleh tetangga saya. Karena apa? Karena mereka ingin tahu, seperti apakah buku seorang yang mengajarkan anak-anaknya menulis di rumah?

Bahagia itu sederhana.
Bahagia itu pilihan.
Dan saya bahagia karena menjalani hidup dengan seimbang. Anak-anak dan pasangan juga belajar banyak, dari apa yang mereka lihat dilakukan oleh ibu mereka.

Kisah Mesin Jahit Tua

Brown, si mesin jahit tua, teronggok di sudut halaman sebuah rumah. Tubuhnya sudah ditumbuhi karat. Penyangga kayu untuk menyangga tubuhnya pun, sudah banyak yang hancur. Jika ada hentakan keras, pasti tubuh besinya akan jatuh tergeletak di tanah.
Mereka akan pindah. Dua anak kecil berlarian memandangi barang-barang yang dimasukkan ke dalam truk. Sejak pagi Brown pandangi. Satu-persatu barang dimasukkan, tapi Brown tidak.

“Kirim saja ke tempat yang lain…”
Brown mendengar suara itu. Maka setelah itu munculah mobil kecil, yang mengangkut Brown. Sudah malam ketika Brown dibawa menuju suatu tempat, bersama barang rongsokan lain. Ada sepeda bekas yang berkarat, ada akuarium yang sudah rusak. Ada batu-batu kolam juga.

Di sebuah rumah, mereka diturunkan. Halaman kecil rumah itu menjadi penuh sesak. Brown teronggok sampai pagi buta, ketika melihat seorang Nyonya keluar rumah. Wajah Nyonya itu muram, dengan kepala menggeleng berkali-kali.
“Kenapa semua barang rongsokan ditaruh di sini semua?”
Brown melihat si Tuan diam.
Nyonya masih mencoba membersihkan halaman kecilnya, agar mudah dua anak ke luar rumah untuk sekolah. Beberapa kali Brown melihat tarikan napas si Nyonya. Dan gumaman dengan mata sedih, tentang barang-barang rongsokan yang berpindah tempat.

**

Si Tuan membawanya.
Brown merasakan besi tuanya dicopot dari tempatnya. Brown merasakan Tuan menaikannya ke atas motor. Nyonya sudah membersihkan teras. Beberapa barang, sudah berpindah ke gerobak tukang loak yang dipanggilnya.
“Kamu harus jadi bagus, biar Nyonya tidak mengomel…,” ujar Tuan.
Maka Brown dibawa ke sebuah tempat. Brown kaget. Ia bertemu dengan teman-teman sesama mesin jahit. Mereka sama tua seperti dirinya. Mereka bernasib malang, dibuang dan tidak diambil lagi.
“Tambah dinamo dan servis, ya…”
Brown mendengar suara Tuan bicara.
Lalu Brown ditinggalkan.

**

“Sudah betul? Bisa?” tanya Nyonya pada Tuan yang membawa Brown. Brown sudah ditambahi dinamo, dan beberapa kayu yang rusak sudah diganti oleh Tuan, sehingga Brown tidak akan jatuh lagi.
Brown melihat Nyonya itu belajar mencintainya. Meski kadang-kadang wajahnya terlihat kesal. Brown tahu, Nyonya itu pasti sedih. Karena barang rongsokan yang datang ke rumah. Padahal Nyonya itu mampu untuk membeli mesin jahit lain yang lebih bagus.

Brown melihat Nyonya itu mengerjapkan mata beberapa kali. Brown tahu, Nyonya itu pasti sedang mengingat apa yang dikatakan orangtuanya. Untuk menerima pemberian orang lain, meski itu buruk. Agar orang yang memberi itu tidak sakit hati.
Brown tahu, Nyonya itu bukan tidak suka dengan Brown, tapi tidak suka dengan cara orang yang memindahkan barang rongsokan ke rumah. Nyonya itu merasa direndahkan.

“Bu…., celanaku sobek. Ibu bisa jahit?”
“Ayahmu yang bisa.”
Percakapan itu Brown dengar. Nyonya itu masih belajar mencintai Brown dan belum ingin menggunakan Brown.

Sampai suatu hari, datanglah sebuah hadiah untuk Nyonya. Sebuah hadiah manis yang teronggok di lemari. Kemudian hadiah itu digunting oleh kerabat si Nyonya. “Jahit saja.”
Maka Nyonya itu mulai mendekati Brown. Megelus Brown. Mencoba memutar benang.
Terus-menerus sepanjang hari.

Sebuah baju berhasil Nyonya buat. Baju lain menanti.
“Ibuuuu, aku suka bajunya. Buatkan aku baju yang lain, ya.”
Si Nyonya mengangguk.
Brown tahu, mulai tumbuh cinta Nyonya padanya.
Brown berjanji tidak akan mengecewakan si Nyonya.

Anak Hebat, Anak yang Berani

Tiba-tiba ada kasus heboh di dunia perbukuan. Kasus heboh seperti yang lalu lalu. Kejadiannya sama. Seorang mengambil halaman buku yang paling heboh, atau dianggap heboh. Difoto. Cekrek, lalu dimasukkan ke sosial media dan diberi kalimat yang penuh bumbu-bumbu curigaisme.

Aku anak yang berani.
Buku yang heboh itu sudah ditarik dari peredaran sejak beberapa bulan yang lalu. Penulisnya mendapat hukuman sosial. Dan sampai sekarang saya berpikir, bahwa kejadian seperti itu bisa menimpa siapa saja. Menulisnya susah, menjatuhkannya mudah. Tapi itulah, ujian dari Allah berbagai macam bentuknya.

Setelah dua minggu heboh berita tentang buku itu, termasuk beberapa ibu bertanya langsung pada saya, maka saya jadi penasaran dengan buku itu.
Sudah tidak bisa didapatkan di toko buku. Tapi melihat gambaran utuh dari buku itu, di blog-blog teman, saya paham. Sebenarnya buku itu biasa saja. Iya, biasa. Untuk orangtua model seperti saya, yang suka diskusi tentang banyak hal pada anak.
Dan ketika berita bertambah lagi dengan kenyataan, bahwa buku yang ditarik itu idenya sama dengan buku yang sudah muncul sebelumnya, saya bergegas memesannya.

Ah, Ide yang Sama

Hebohnya buku yang ditarik dari peredaran justru membuat saya tambah ilmu. Ternyata ada buku lain yang lebih dulu muncul. Ternyata buku yang ditarik itu, idenya sama dengan buku yang laris manis hingga cetak ulang beberapa kali.

Saya jadi membayangkan kejadian.
Apakah buku itu diminta oleh editor penerbitnya? Karena si editor melihat buku model seperti itu laris manis di pasaran? Lalu ingin membuat karya yang mirip, dengan tampilan isi yang berbeda, tapi memunculkan persoalan yang kira-kira sama, dialami oleh anak-anak?
Jadi ketika di toko buku, orang punya alternatif memilih, dan bisa jadi memilih buku dari penerbit tersebut.

Bukan rahasia umum di negeri ini. Ketika ada satu buku yang laris menis, maka banyak yang berlomba membuat buku yang sama.
Atau…, atau apakah si penulis yang menawarkan diri menulis tentang buku itu? Melihat buku yang pertama, lalu memikirkan ide apa yang belum dibahas dalam buku itu, dan akhirnya dibuatlah ide itu, untuk dikirimkan pada penerbit. Dan penerbit menyetujui?

Well, ide yang sama.
Saya selalu berpesan pada murid-murid menulis untuk riset luar dalam. Sehinga ide itu benar-benar bisa dipertanggungjawabkan.
Ini kekhilafan dan harus dimaafkan. Membayangkan kalau saya jadi penulisnya, saya sendiri merasa mungkin tidak akan sanggup. Membayangkan tayangan tentang buku itu di televisi dan media online. Lalu para tetangga membacanya. Lalu mereka ambil sikap antipati seperti yang banyak dilakukan para ibu yang tidak suka membaca, tapi nomor satu menuduh di banyak group WA.
Membayangkan apakah si penulis jadi trauma untuk menulis lagi, sungguh membuat saya sendiri jadi sedih.

Pelecehan Oh Pelecehan

Pernah menjadi anak kecil?
Pernah.
Anak kecil yang hampir diculik. Tapi syukurlah saya banyak baca buku tentang penculikan, jadi bisa menghindar dari membuat taktik bersama teman saya. Lalu kabur dari penculik itu.
Pernah kena pelecehan. Ketika naik bus dan seseorang menempelkan kemaluannya pada saya. Dan saya merasa kotor dan malu. Bapak malah meminta saya untuk membawa pensil tajam atau peniti. Kalau ada orang seperti itu lagi, saya diminta menusuk langsung.
Pernah terkena lelaki exhibition di jembatan penyebrangan. Karena saya takut menyebrang jalan yang ramai. Lalu naik jembatan penyebrangan. Dan ternyata ada seorang Bapak di sana menurunkan celananya di hadapan saya. Saya panik dan lari ketakutan.
Pernah juga lari ketakutan karena setiap akan berangkat sekolah, ada seorang kakek yang siap untuk memeluk dan mencium. Hingga saya harus mencari jalan melewati tempat lain di pinggir sungai.

Ada banyak pelecehan, memang tidak fatal.
Ada banyak cerita pelecehan juga, dan saya tahu bisa fatal terjadi. Pemerkosaan, sodomi dan lain sebagainya. Karena itu saya bentengi anak-anak dengan pemahaman ilmu tentang banyak hal. Termasuk berhati-hati dengan orang lain, dan menghargai diri sendiri dengan tidak membolehkan orang menyentuhnya.

Buku karangan Watiek Ideo mengajarkan hal itu.
Anak yang melihat kemaluannya untuk membandingkan dengan adik perempuannya yang baru lahir.
Itu persis dengan Sulung saya dulu. Saya tinggal sebentar waktu itu, lalu saya lihat Sulung membuka-buka kemaluan adik bayinya. “Ibu, kok gak ada yang panjang seperti punyaku?” begitu yang ditanya Sulung.

Ada tentang anak yang harus memakai baju ketika ke luar rumah. Karena baju itu seperti helm ketika naik kendaraan. Meski panas tapi berfungsi untuk melindungi.
Ada cerita tentang anak yang terkena pelecehan seksual dan mengadu pada orangtuanya. Anak itu menyadari bahwa orangtualah tempat yang nyaman untuk berbagi.

Buku ini bagus.
Recommended sekali.
Diterbitkan penerbit Gramedia. Konon katanya karena peristiwa buku yang ditarik dengan judul yang sama, buku ini terkena imbasnya, tidak boleh di display. Jadi untuk yang mau membeli bisa bertanya pada pegawai tokonya.

Saya beli buku ini karena ingin meminjamkannya pada anak-anak tetangga yang belajar di rumah. Juga ibu-ibu tetangga. Agar mereka paham banyak dan bisa mengajarkan pada anak, bagaimana cara melindungi diri sendiri, dari orang-orang yang punya niat jahat.

Satu Gelas Kurma Saja

“Satu gelas kurma saja,” suara itu terdengar olehmu. “Satu gelas saja.”
Satu gelas kurma.
Kurma yang sebenarnya dulu tidak pernah ingin kau sentuh, karena kau tidak suka warna hitamnya. Kurma yang terasa di lidahmu terlalu manis.

“Dibelah kurmanya. Buang bijinya. Lima sampai tujuh butir kurma. Masukkan ke dalam gelas, Siram dengan air panas. Biarkan dingin. Buatlah di malam hari dan minum di pagi hari.”

Kau mengangguk.
Kurma, kurma dan kurma.
Kau tahu, tidak ada sesuatu yang tercipta sia-sia. Buah yang disunnahkah dan dijadikan contoh untuk berbuka puasa. Yang salah bukan buah itu. Yang salah lidahmu.

“Atau rebus saja sampai airnya mendidih.”

Kau mulai belajar mencoba.
Usia merangkak naik. Udara sepertinya tidak lagi ramah padamu. Angin cepat masuk ke dalam tubuh, menerjang semua tulang rusukmu.
Obat-obatan tidak kau sukai, karena sejak kecil sudah kenyang obat kimia masuk ke tubuh kurusmu.

“Kurma untuk kesehatan. Sambil berdoa.”
Maka ketika seorang lelaki yang sudah 16 tahun hidup bersamamu mulai mudah jatuh sakit juga, kau mulai mencoba.
Bukan permen lagi yang ada di toples-toples milikmu. Tapi buah-buah kurma.

Setelah Subuh, kau mulai berada di dapur.
Air kau masak. Lalu kau masukkan beberapa butir kurma yang sudah kau belah. Bijinya ikut di dalamnya. Kau tidak membuangnya. Kau berharap mengumpulkan bijinya, untuk kau oleh jadi kopi. Kopi yang bisa menemanimu ketika sedang berada di depan komputer. Meski niat itu belum juga terlaksana.

Segelas kurma di pagi hari disertai doa.
Manisnya terasa.
Segarnya menghangatkan tubuhmu.
Seorang lelaki yang hidup bersamamu, mulai terlihat semakin membaik karena minuman yang kau buat setiap pagi. Mungkin kekuatan doa-doamu juga jadi pewarna di dalamnya.

“Satu gelas kurma, saja,” ujar suara perempuan tua di seberang sana. “Jangan lupa olah raga.”‘
Kau tahu, memang harus melakukannya.

Satu gelas kurma.
Setelah segelas air putih.
Kau tahu, sekarang ia jadi minuman wajib untukmu.

Bola-Bola Biskuit Coklat

Kau mengerjapkan kelopak mata. Lagi dan lagi.
Satu plastik besar bertuliskan nama mini market tak jauh dari rumah, berhamburan isinya.
“Bukan yang ini.”
“Bukan pula yang itu.”

Kau mengerjap. Matamu hampir basah. Hujan di luar mungkin harus turun sempurna, agar kau bisa mewakili perasaan hatimu pada derasnya tetesan hujan.
“Kau selalu salah.”
Kepalamu menunduk.

Ada banyak roti.
Ada banyak biskuit.
Tapi tidak ada yang bisa membuat wajah itu tersenyum.

Kau memilih berlari ke belakang. Merasa putus asa. Lalu kau perhatikan satu persatu.
Kau harus menerobos hujan untuk mendapatkannya. Bahkan kau mengurai letih dan menggantinya dengan senyum.
Dua bungkus biskuit bulat yang kau dapatkan dengan harga diskon.
Satu kaleng susu masih tersimpan di lemari, pemberian seseorang yang baru kau kenal.
Ada coklat warna-warni yang warnanya sering mengingatkan kau pada suatu masa, di mana hidupmu penuh warna. Ketika seorang lelaki diam-diam selalu memujimu.

“Kau tahu apa yang ingin kumau?”
Kau tahu, apa yang ia inginkan. Tapi kau perlu yang lain.
Kau butuh lima menit saja untuk kembali ditarik ke masa lalu. Teman-teman yang baik, pesta kecil untuk gadis kecil. Makanan yang tersaji lalu pelukan-pelukan hangat.

Kau merasa berharga ketika mereka memberikan sesuatu yang berbeda.
Arisan yang membuat namamu muncul lebih dahulu. Ternyata kau tahu teman-teman membuat namamu lebih banyak, sehingga sebanyak apapun dikocok,kemungkinan besar namamu yang akan ke luar.
Kau merasa berharga ketika seorang teman menghadiahkan kue tart, hanya karena membaca coretan di buku pelajaran yang ia pinjam.
Kau merasa berharga ketika teman-teman baru di perusahaan baru, menahan langkah untuk pulang. Sebuah meja, sebuah tart, seorang boss dari negeri lain berkumpul. Memberikan doa-doa terbaik.

“Sudah, kah?”
Kau ingin kembali ke masa lalu sejenak saja.
Maka biskuit bundar itu kau buka bungkusnya. Kau ambil lima keping saja. Kau tekan dan hancurkan ,seperti ingin kau hancurkan segala sedih yang hadir di hati.
Biskuit itu berkeping.
Lalu kau beri sedikit air panas untuk membuatnya lembek dan hancur.
Kau ambil susu dalam kaleng yang sudah kau buka. Kau tuang sedikit saja. Kau campur dan aduk hingga rata.

Pada satu wadah kau tuangkan coklat mesis warna-warni.
Biskuit yang sudah kau hancurkan, kau bulatkan menggunakan dua buah sendok. Lalu bulatan kecil itu kau gulirkan ke dalam wadah berisi coklat warna-warni.
Kau ambil kertas mungkin dari dalam lemari. Lalu kau taruh di dalamnya bulatan itu.

“Kau buat apa?”
seseorang bertanya di belakangmu.
Kau menunjuk pada bulatan penuh warna itu.
Mata itu melihatnya, lalu tangannya bergerak. Memasukkan satu bulatan ke mulutnya.

“Enak,” ujarnya.
Kau merasa lega.
Kau seperti merasa seperti dipeluk sebuah ombak yang menenangkan.

Sayembara Penulisan Buku Balai Bahasa Jawa Tengah

Dewan Balai Bahasa membuka sayembara penulisan buku untuk anak.

Ketentuan Khusus

1. Tema dasar “sikap hidup dalam keluarga dan lingkungan sekitar”.
2. Naskah dalam Bahasa Indonesia berbentuk prosa.
3. Bahan bacaan ditujukan untuk anak sekolah dasar.
4.Naskah mengandung kearifan lokal Jawa Tengah.
5 Tidak mengandung unsur SARA.
6. Karya asli bukan terjemahan juga saduran.
7. Belum pernah diterbitkan.
8. Ketentuan naskah.
2500-1000 kata. Ditulis pada kertas HVS ukuran A5 dengan menggunakan font huruf Tahoma 12 spasi 1,5. Margin kanan 1,5 dan margin kiri 1 cm.
Halaman berkisar antara 20-50 halaman.
9. Naskah bahan bacaan dibagi menjadi beberapa episode dan setiap episode disertai ilustrasi.
10. Penilaian juri terhadap naskah meliputi ; tema, gaya penulisan dan penggunaan bahasa.

Ketentuan Umum
1. Sayembara terbuka untuk umum.
2. Peserta berdomisili di Jawa Tengah dan memiliki KTP Jawa Tengah
3. Peserta dapat mengirim maksimal 3 judul
4. Naskah lomba berupa dummy kirim ke :

PANITIA SAYEMBARA PENULISAN BAHAN BACAAN PENGAYAAN
PELAJARAN BAHASA INDONESIA SEKOLAH DASAR
JAWA tENGAH TAHUN 2017
Jalan Elang Raya no 1
Mangunharjo, Tembalang
SEMARANG 50272

5. Naskah dikirim dalam bentuk dummy print out tiga rangkap, selambatnya ditunggu hingga tanggal 3 April 2017
Penyeleksian penilaian naskah tanggal 10 – 22 April 2017.
Pengumuman pemenang tanggal 26 April 2017 lewat email juga telepon.

Ketika Senyum Tulus Menjadi Bayaranmu

Apa yang paling membuat bahagia?
Yang paling membuat bahagia belakangan ini untuk saya, adalah ketika melihat wajah-wajah polos tersenyum. Ketika senyum itu membuat saya melihat gambaran panjang tentang masa depan mereka. Sepuluh tahun ke depan, duapuluh ke depan dan tahun-tahun panjang lainnya.

Anak-anak yang bersemangat dengan ilmu baru, dan akhirnya menularkan semangat pada saya. Sehingga saya berjuang untuk melakukan banyak hal juga meminimalisir keluh.

Anak-anak menjadi prioritas utama pada saya belakangan ini.
Dulu pernah berjanji, kalau Allah hanya memberi saya dua anak sebagai rezeki, maka saya harus fokus memperbanyak anak-anak orang lain yang akan sama-sama saya kasihi juga akan saya beri limapahan ilmu.
Dan ternyata Allah memang hanya memberi saya dua anak yang sudah beranjak remaja. Maka saya harus memenuhi janji, untuk merengkuh anak-anak lain untuk saya beri limpahan ilmu juga kasih sayang.

Anak-anak membuat saya bahagia.
Mereka yang memiliki orangtua hanya fokus pada pelajaran justru membuat saya miris. Mereka yang punya orangtua hanya fokus pada rangking, justru membuat saya tertantang untuk memberikan banyak.
Ada banyak hal yang harus mereka ketahu dan membuat wawasan mereka luas. Jalannya tentu saja dengan menularkan apa yang saya miliki.

Mengajarkan kreativitas tidak mudah.
Meyakini bahwa kreativitas membuat bahagia juga tidak mudah. Apalagi untuk orang-orang yang yakin bahwa uang dan bekerja di kantorlah yang akan membuat bahagia.
Meyakini bahwa dengan banyak membaca membuat pintar, dan jika sudah pintar, maka akan mudalah meraih semuanya.

Langkah saya tertatih-tatih.
Mengetuk satu sekolah ke sekolah lain. Bukan untuk minta jadi guru. Tapi saya ingin diberi ruang untuk mengajari anak-anak di sana tanpa bayaran.
Mereka suka dan bahagia sudah jadi bayaran untuk saya.
Ketukan tidak dijawab.
Satu-persatu pengurus masjid saya datangi, hanya ingin menggerakkan perpustakaan yang ada di masjid. Satu masjid menjawab, diberi ruang, tapi tidak berkelanjutan karena pengurus yang antusias kebetulan sedang hamil.
Masjid lainnya menguap tak memberi jawaban.
Masuk ke TK menawarkan diri juga tidak ditanggapi.
Saya pikir ada yang salah. Mungkin mereka berpikir saya meminta bayaran.

Hingga akhirnya saya memutuskan untuk memulai dari rumah. Percaya pada potensi diri di rumah dan berjalan sendiri saja.
Satu persatu anak pemulung menerima sambutan.
Satu-persatu anak tetangga datang.
Satu-persatu anak dari lingkungan lain datang.
Alhamdulillah sampai juga di titik ini.

Ada saatnya uang tidak bisa bicara.
Ada yang pada saatnya lebih bernilai dari hanya lembaran rupiah. Yaitu ketika kerja keras kita dibayar dengan senyum dari orang yang butuh. Iya butuh.

Masih banyak pintu PAUD di perkampungan yang akan saya ketuk.
Mungkin akan mengetuk instansi atau lembaga yang berwenang juga.
Saya hanya ingin membuat perubahan kecil saja. Hanya kecil saja.
Sebab senyum mereka sudah membuat saya bahagia.