Tips Belajar yang Menyenangkan untuk Anak

Belajar dengan cara dipaksa?
Alias diminta duduk tenang di depan meja belajar. Duh, pada zaman dahulu, model belajar seperti itu bukan model belajarnya saya.
Meski setiap anak diberikan Bapak meja belajar, dan memiliki meja belajar seperti memiliki sebuah harta berharga, karena di situ saya memiliki privasi. Tapi meja belajar bukan tempat menyenangkan untuk saya belajar.
Saya bahkan ingat di sekolah, saya lebih suka meminjam buku di perpustakaan, atau memelototi gambar di bioskop depan sekolah, yang bisa terlihat dari ruang kelas. Ketika Pak Guru menjelaskan, saya juga lebih sibuk dengan majalah pinjaman dari teman, sampai teman mengadu pada Pak Guru dan Pak Guru mengancam akan mengambil majalah itu, jika saya tidak menutup majalah dan memperhatikan beliau mengajar.

Belajar untuk saya sejak dulu prosesnya adalah harus bahagia. Tidak text book, tidak banyak teori. Karena itu saya juga lebih suka mengajarkan anak di rumah dengan metode belajar ala saya, bukan seperti yang orang lain ajarkan. Dan ketika membuka rumah untuk anak-anak di lingkungan, saya juga lebih suka menggunakan metode ala saya.
Di Sanggar Mama Bilqis, saya ajarkan sesuatu yang berbeda.
Mereka datang hanya untuk curhat, boleh. Atau datang hanya untuk meminjam majalah dan diskusi tentang negara-negara di belahan dunia lain, juga silakan.
Atau belajar sambil melihat ikan di kolam kecil depan rumah, boleh boleh saja.

Saya tidak berharap banyak dengan proses yang saya ajarkan.
Suatu saat kelak, ketika anak-anak yang belajar di rumah sudah jadi orang dewasa, mereka akan meneruskan jejak saya dalam mengajar orang lain. Mengikuti pola saya dengan membebaskan kreativitas murid-muridnya.

Belajar Menulis untuk Anak-Anak

Ada anak-anak yang belajar menulis. Secara bertemu muka seperti di rumah, maupun yang belajar menulis secara online lewat media apa saja. Mulai dari WA sampai email.
Anak-anak yang ingin belajar menulis, tentu berbeda dengan orang dewasa yang belajar menulis. Orang dewasa punya banyak pengalaman dalam hidupnya. Sehingga ketika disampaikan teori menulis atau pelajaran baru, orang dewasa akan menghubungkannya dengan pengalaman mereka.
Apalagi jika mereka pernah belajar menulis dari satu guru ke guru yang lain. Maka mereka akan membandingkan pelajaran dari guru yang satu ke guru yang lain. Dan tidak enaknya ketika akhirnya mereka bicara dengan satu guru yang mengajar..,”Menurut yang ini…., katanya harus…”
Perbandingan-perbandingan seperti itu tentu jadi tidak mengenakkan untuk guru yang mengajar.

Ada banyak anak-anak yang ingin belajar menulis. Kadang mereka langsung menghubungi saya lewat WA. Kadang orangtua yang menghubungi saya, karena melihat potensi anaknya dalam menulis. Saya senang sekali. Jujur, interaksi dengan anak-anak membuat saya bebas berekspresi. Mereka bukan sekedar spontan. Mereka tidak mudah curiga dengan apa yang saya ajarkan.
Anak-anak lebih mudah menerima pelajaran. Biasanya sebeleum menerima murid anak, saya memilih untuk berkomunikasi dulu dengan anak yang bersangkutan.
Dari komunikasi dengan mereka, saya akan lebih mudah memahmi karakter mereka. Dan juga memahami keinginan mereka. Orangtua hanya terhubung urusan biaya, waktu dan lain sebagainya.

Anak-anak belajar menulis tentu bukan berarti mereka harus jadi penulis. Saya selalu katakan pada anak-anak, kalau mereka terbiasa menulis, maka untuk menguraikan jawaban ulangan akan menjadi sangat mudah. Apalagi jika ada pelajaran Bahasa Indonesia. Mereka akan semakin mudah memahaminya.

Ada syarat agar anak-anak bisa nyaman belajar menulis :

1. Penuhi otak mereka dengan bacaan dulu. Sebelumnya biasanya saya akan bertanya, apakah mereka suka membaca atau tidak? Jujur kalau ada anak yang tidak suka membaca dan mau belajar menulis, susah. Tapi bukan berarti tidak bisa. Nah untuk itu, saya biasakan mereka menyukai buku dulu. Buku-buku yang sederhana. Saya berikan rujukan untuk mereka. Kalau dekat rumah, maka mereka bisa meminjam dari taman bacaan yang saya miliki.
2. Ajari pelan tapi pasti. Jangan memberi target yang sulit. Target sesuaikan kemampuan si anak murid.
3. Biarkan mereka bahagia dengan prosesnya. Meski hanya menulis satu kalimat, tetap kita katakan mereka hebat, pintar dan lalin sebagainya. Jadi mereka terpacu untuk menulis lebih bagus dan lebih banyak lagi.
4. Berikan pancingan-pancingan dengan banyak hal. Sehingga mereka jadi terbuka wawasannya dan menyadari bahwa menulis itu begitu mudahnya.
5. Jika mereka datang hanya ingin curhat atau chat biasa juga tidak apa-apa. Mereka butuh seseorang untuk ngobrol. Maka jadilah pendengar yang baik saja. Sambil mengomentari tapi bukan memenuhinya dengan nasehat.

Ingin Langgeng Menulis? Berproseslah

Banyak yang ingin menulis, menghasilkan buku, jadi terkenal seperti penulis terkenal yang mereka sebutkan namanya. Tapi mereka lupa dalam menulis ada proses yang harus dilewati.
Banyak yang ingin ia dikenang sebagai penulis, karyanya dihargai dan mendapat penghargaan dan namanya jadi perbincangan. Tapi jangan lupa. Kerja penulis adalah kerja mengolah batin. Menekan banyak ambisi dan egois, karena fungsinya adalah untuk menjadikan kita manusia yang lebih baik lagi.

1. Proses menulis yang pertama adalah cinta membaca. Andai dia bukan pembaca sebuah buku, bisa jadi dia membaca dalam tanda kutip. Membaca hati orang lain, membaca lingkungan dan yang lainnya. Proses seperti itu menimbulkan kepekaan untuk batinnya dan bisa disuarakan dalam bentuk tulisan. Meskipun untuk menulis, tetap pada akhirnya harus mulai suka membaca. Karena dengan membaca jadi bisa memahami pengalaman dari ‘membaca’ mana yang bisa dirangkum jadi kalimat enak untuk dibaca dan bermanfaat bagi orang lain.

2. Proses selanjutnya adalah terus menulis. Sama seperti kita naik sepeda. Setiap hari naik sepeda, kita akan bisa enak mengayuh pedalnya. Bisa tahu bagaimana cara berbelok dan lainnya. Dengan terus menulis kita akan lebih luwes dalam merangkai kata jadi kalimat.

3. Proses selanjutnya kembali terus menulis. Jangan hanya puluhan kali. Lakukan sampai ratusan kali bahkan ribuan kali.

4. Berteman dengan sesama penulis, agar kita bisa paham bahwa kita tidak sendiri melakukan proses itu. Kalaupun lebih suka sendiri, tidak masalah. Karena setiap orang punya karakter yang berbeda. Saya lebih suka tidak berkumpul dengan sesama penulis. Alasannya untuk menjaga keorisinilan ide sana. Dan target yang saya pegang tidak terganggu dengan target orang lain.

5. Jangan kebelet ingin sukses. Karena sekali dua kali menulis, bisa jadi tulisanmu disukai orang lain. Tapi sekali dua kali itu belum bisa untuk menumbuhkan kecintaan akan menulis. Penulis yang langgeng menulis sampai tua adalah penulis yang mencintai proses. Jatuh bangun dinikmati sebagai bagian dari proses menjadi penulis. Ditolak, buku tidak laku, tetap dinikmati.

6. Terus menulis saja. Jangan mereka sudah menjadi orang hebat karena menulis. Sebab begitu kita merasa jadi orang hebat, justru di situlah sebenarnya kita bukanlah siapa-siapa.

Ibu Sungguh Menyebalkan

Ibu sungguh menyebalkan buat Attar. Ibu ingin tahu semuanya. Ibu cerewet. Ibu maunya rapi. Ibu tidak mau ada barang berantakan di rumah. Ibu tidak mau ada gelas yang tidak ditaruh di tempatnya.
“Hape…”
Attar cemberut.

Setiap malam Senin Ibu akan menyita telepon genggam milik Attar. Ibu akan menyimpannya sampai hari Jumat. Setelah itu baru diberikan pada Attar. Tapi tidak bisa sepuasnya. Ibu sebentar-sebentar akan masuk kamar lalu mengingatkan. Aapakah Attar sudah mandi. Atau Attar sudah makan? Atau Ibu akan melotot, lalu bilang akan menyita telepon genggam Attar lagi, jika melihat Attar tidak bergerak dari atas tempat tidurnya.
“Jangan buang-buang waktu…,” itu yang Ibu bilang.

Huh. Padahal di telepon genggam, Attar bisa ngobrol sepuasnya dengan teman-temannya. Bisa janjian untuk pergi berenang. Bisa juga melihat banyak film kartun yang dilarang terlalu lama menontonnnya di televisi oleh Ibu. Ibu bilang film yang banyak adegan berkelahinya akan membuat Attar jadi kasar.
Sekarang Attar memandangi mi goreng di mejanya. Mulutnya cemberut. Kenapa, sih, Ibu tidak seperti Ibu temannya yang lain? Kenapa, sih, Attar tidak bisa bebas main ha pe seperti yang lain?
“Ibu punya buku baru…”
Attar tambah cemberut. Buku baru itu artinya nanti Attar diminta membaca sama Ibu. Terus nanti masih ditanya isi buku itu.
Attar menggeleng cepat. “Aku mau main game,” kali ini tangannya cepat memasukkan mi ke dalam mulutnya.

**

Ibu memang menyebalkan. Ibu membuat Attar tidak bisa sama seperti teman yang lain. Ibu memberi Attar uang saku bulanan, dan Attar harus belajar mengaturnya. Ibu tidak mau memberi tambahan lain lagi. Padahal gara-gara uang saku tanpa tambahan itu, Attar pernah tidak bawa uang sama sekali ke sekolah. Gara-gara uang sakut Attar sudah habis semua untuk beli kaos klub bola yang Attar inginkan.
“Yah begitulah Ibu,” ujar Ayah sambil makan nasi goreng buatan Ibu. Ada irisan mentimun di nasi goreng itu. Biar Ayah tambah sehat, begitu yang selalu Ibu bilang.
“Buuu, nanti aku pulang sekolah dijemput siapa?” Bilqis bertanya sambil minum segelas susu coklat. Ada roti di dekat gelas itu.
Attar cemberut. Pagi ini Ibu melarang Attar beli nasi uduk. Ibu bilang Ibu sudah masak nasi goreng dan ada roti juga susu. Jadi Attar tidak boleh jajan.
“Jangan lupa, nanti langsung pulang, ya,” ujar Ibu.
Attar semakin cemberut.

**

Ibu sungguh menyebalkan. Kemarin, kemarin dulu, kemarinnya lagi juga begitu.
Sekarang Attar menatap ke luar jendela kamarnya. Matahari sudah bersinar terang. Attar bangun terlambat. Tirai jendela masih tertutup padahal matahari sudah tinggi.
Tidak ada kotak bekal makanan. Ayah juga bangun kesiangan. Ayah bilang nanti akan ditelepon catering dari sekolah, agar Attar dapat jatah makanan catering.
“Baju olah ragaku mana?” tanya Attar yang sekarang berdiri di depan lemari pakaian.
Baju olah raga di hari Sabtu kemarin sudah ia masukkan ke dalam mesin cuci. Biasanya di hari Minggu semua baju seragam akan selesai Ibu cuci dan setrika dan sudah berderet di dalam lemari.
“Ya ampuuun, Ayah lupa,” ujar Ayah menepuk keningnya.
Attar lihat Ayah lalu berlari ke atas. Mengaduk-aduk mesin cuci. Lalu membawanya. “Pakai lagi, ya. Sekalian kotor.”

Attar mengerutkan hidungnya. Bau keringat di baju itu belum hilang. Attar lihat Ayah menyemprotkan pewangi pakaian di baju olah raga itu. Hari ini terpaksa Attar memakainya.
Sampai di sekolah Attar lupa membawa PR Bahasa Inggris.
Tadi di sekolah Attar dihukum menulis di papan tulis. Attar juga hampir berkelahi dengan temannya yang mengatakan bajunya bau.
Sekarang Attar sudah sampai di rumah. Tadi ia mengayuh sepedanya dengan cepat. Hari ini Ibu akan pulang. Pekerjaan Ibu ke luar kota selama empat hari sudah selesai. Ibu akan bekerja dari rumah lagi, menemani Attar belajar, memasak untuk semua yang di rumah.
Dari depan pagar, Attar melihat sepatu biru milik Ibu.
“Buuu..,” kali ini Attar berteriak.
Attar sudah kangen Ibu. Meskipun Ibu terkadang menyebalkan.
**

Menghidupkan Literasi di Sekolah Alam Bekasi

Sekolah Alam. Mendengar nama itu saya selalu jatuh cinta. Yang terbayang-bayang adalah masa kecil saya, yang bisa bermain di bawah kincir air, empang yang luas, jalanan sunyi lewat taman bunga. Segala hal bernama kebebasan dan keriangan masa kecil. Itu yang tertanam di benak tentang sekolah alam.

Saya selalu antusias begitu mendengar tentang sekolah alam. Maka setiap tawaran untuk berbagi ilmu di sekolah alam, akan selalu saya sambut dengan riang gembira. Jauh tidak masalah. Yang penting saya bisa merasakan keceriaan masa kecil saya kembali.

Dua minggu sebelumnya ada telepon masuk. Karena nomornya tidak saya kenal, maka tidak saya jawab. Sampai akhirnya nomor ada WA masuk memberitahu siapa yang menelepon. Dari pihak penerbit menawarkan untuk launching buku di sekolah alam.
Langsung saya sambut ajakan tersebut.

Kami bersiap. Iya kami. Sebab pihak sekolah yang tahu kalau anak-anak saya juga penulis, ingin salah satu anak saya ikut tampil. Maka saya mengajak anak saya yang ada di rumah. Yang Sulung ada di pondok.
Saya juga mengajak suami ikut serta, karena saya ingin mengenalkan sekolah alam pada suami, yang memang sebelumnya hanya tahu cerita tentang sekolah alam dari saya.
Saya sudah persiapkan semuanya dari malam. Barang-barang yagn akan saya bawa sudah saya masukkan ke dalam mobil. Malam sebelum tidur saya minta si anak gadis untuk cepat dibangunkan, karena kami akan berangkat pagi.
Berangkat pagi?
Iya berangkat pagi. Karena masalahnya kami belum tahu rutenya. Dan saya memang selalu mengkondisikan untuk hadir di sebuah acara setengah jam sebelum waktu yang ditentukan. Tujuannya agar saya bisa merasa nyaman dan mengenal situasi.

Kami berangkat jam enam pagi. Lewat tol. Dan gak nyasar hanya tanya orang satu kali. Jam tujuh lebih sedikit sudah sampai. Horee, acara berlangsung jam 8. Saya bisa ajak anak gadis saya berkeliling. Sambil menunggu pembicara lainnya datang.
Seorang panitia menghampiri mengajak untuk masuk ke perpustakaan dan ngobrol banyak hal di perpustakaan yang nyaman juga dingin. Muti namanya. Guru Bahasa Inggris. Anak muda yang saya suka, karena jalan pikirannya sama seperti saya. Melihat sesuatu dengan sudut pandang berbeda.

Lalu saatnya tiba.
Saya, anak gadis dan mbak Sofie mewakili Kemdikbud naik ke atas panggung, berbagi tips untuk membudayakan membaca di kalangan anak. Sedikit sharing saya tentang anak-anak saya yang bisa menulis. Si anak gadis masih pemalu dan hanya menunduk saja.
Acara tidak berlangsung lama, karena jadwal acara padat merayap dan pembukaannya bergeser waktunya.
Hanya 30 menit, lalu saya istirahat dan harus naik panggung lagi untuk memandu anak-anak belajar menulis.

Ini saat yang saya tunggu. Biasanya waktu yang saya gunakan untuk itu minimal satu jam. Saya bisa eksplore kemampuan anak untuk mengolah cerita dan mereka paham banyak hal. Tapi sayang waktu untuk saya hanya 30 menit. Satu buku hanya sedikit saya bacakan, lalu saya ajarkan cara membuat tulisan dengan gambar, setelah itu saya mencari siapa yang bisa menulis dan menangkap gambar yang saya berikan jadi ide yang unik. Untuk para pemenang ada hadiahnya.

Seperti biasa, mereka takjub dengan gambar-gambar yang saya bawa. Mereka langsung merespon gambar yang saya berikan. Dan ujugnya mereka berlomba-lomba mengangkat tangan, minta agar kertas yang ada di tangan mereka, bisa saya baca.
Iya mereka memang semuanya menulis ide cerita dari gambar-gambar yang saya tunjukkan. Aduuuh, terharu saya dibuatnya.
“Bu guru, bagaimana menulis monyet?” tanya seorang anak spesial (berkebutuhan khusus).
“Bu guru, ini saya tulis…,” seorang anak lain, kelas satu SD menunjukkan gambar titik-titik pada saya.
“Bu guruuu, saya ini sudah nulis. Bagus gak, ya?” tanya anak lain, sambil maju meminjam mik di tangan saya.
Semuanya antusias. Saya semangat, tapi waktu membatasi.
“Sepuluh menit lagi, Bu,” ujar panitia.
Maka saya pun harus cepat-cepat menuntaskan pelajaran saya.

Oh ya karena ke sekolah alam dalam rangka promo dan launcing buku, maka sekalian saya promosikan buku saya yang ada di stand di sis panggung. Bahwa saya baru menerbitkan buku. Kalian bisa beli, ya, untuk belajar akhlak Rasulullah.
Well,
acara berjalan lancar.
Kami pulang. Sudah disambut dengan jalanan tol yang macet. Tapi saya bahagia. Hari ini sungguh luar biasa.
Si Bungsu dapat pelajaran berharga. Meski hari ini ia grogi setengah mati, tapi saya yakin pelajaran ini akan menjadi sesuatu yang tersimpan di benak dan hatinya.

Seri Akhlak for Kids, Semua Berawal dari Mimpi

Mimpi?
Lebih tepatnya harapan. Harapan-harapan yang sering diam-diam saya lontarkan ke langit untuk dijadikan doa.
Ingin punya buku anak? Saya bermimpi dan jungkir balik berlatih. Masih juga berjuang mengirim tulisan ke sana dan ke mari. Ditolak? Kalau dulu sakit hati rasanya bisa sampai sejam. Sekarang hanya sedetik saja. Sekarang bahkan hanya sepersekian detik saja, setelah memahami bahwa itu adalah bagian dari takdir saya.

Impian memiliki buku adalah impian saya. Sejak dulu.
Setelah menulis sekian lama, dan bermimpi sekian lama maka setelah saya menikah baru saya memiliki buku.
Dari tahun 1982 menulis. Ketika SD itu saya sudah terbayang memiliki buku. Tapi baru tahun 2002 saya bisa memiliki buku. Itu artinya 20 tahun saya bermimpi.

Kadang saya berharap setelah kemenangan lomba di sana sini, naskah-naskah itu menjadi sebuah buku. Tapi rupanya itu hanya impian saya saja.
20 tahun terus bermimpi, berjuang, berusaha, lalu segalanya cring. Kerja keras saya terbayar. Telur saya pecah. Dan biasanya kalau sudah pecah satu akan mudah memecahkan yang lain.
Cring cring cring, maka bermuncullah buku-buku saya. Buku-buku solo. Jumlahnya lebih banyak dari angka pernikahan saya yang belum sampai 20 tahun. Jumlahnya hampir menyamai usia saya. Bahkan jauh melampaui usia saya, jika antologi juga saya hitung sebagai buku.

Satu buku diikuti buku yang lain.
Satu pesanan penerbit diikuti pesanan penerbit yang lain. Rahasianya apa?
Saya tidak punya rahasia.
Semua harapan saya jadikan doa. Saya lemparkan di sepertiga malam. Saya bisikkan di waktu-waktu mustajab untuk berdoa, seperti di antara azan dan shalat. Ketika tahiyat terakhir sebelum salam.
Kadang ketika melihat postingan seorang teman, saya pejamkan mata dan berdoa. Saya ingin seperti itu.

Sepuluh buku Akhlak prosesnya cepat sekali.
Menerima job sebelum Ramadhan. Saya kerjakan sepanjang Ramadhan bersamaan dengan buku lain pesanan penerbit lain.
Saya model serius dalam mengerjakan sesuatu.
Tidak boleh terganggu.
Bantuan agar waktu bisa dilipat mudah. Awali hari dengan tahajud dan membaca Al Qur’an satu juz. Maka semuanya jadi mudah. Bahkan apa yang saya yakin tidak bisa kita kerjakan, ternyata sanggup saya kerjakan.
Misalnya?
Misalnya sambil mengajar kelas menulis di komputer di ruang kerja saya di bawah, saya bisa mencuci pakaian di lantai atas rumah saya.
Sambil mengaji bersama teman, saya bisa mengajari anak tetangga belajar membuat cerita.

Tidak ada mimpi yang tidak bisa diraih.
Untuk saya yang paling penting, fokus mendekat pada Allah. Biarkan nama kita terkenal di langit. Jangan fokus terkenal di bumi, dan menghabiskan waktu di sosial media, sedang menyentuh kalam Allah juga tidak sempat. Fokus lakukan apa yang dianggap baik oleh Allah.
Maka segalanya akan dimudahkan untuk kita.
Sama seperti buku ini.

Buku ini berisi cerita yang diangkat dari hadist Bukhari Muslim tentang akhlak Rasulullah. Saya racik sedemikian rupa, agar pesannya tidak membebani anak. Seperti biasa, saya selalu membungkus pesan dengan sederhana. Karena saya memang tidak bisa berpikir rumit.
Ada cerita, ada hadist dan ada rujukan kisah. Komplit semuanya ada di dalam buku ini.

Masih hangat.
Buku ini, yuk, dicari di toko buku.

Julaibib, Tersisih tapi Dicintai Rasulullah

Salah satu kisah sahabat Rasululllah yang juga sering saya ulang-ulang ke anak-anak adalah kisah tentang Julaibib. Memahami kisah Julaibib, akan membuat anak-anak mengerti. Bahwa untuk menjadi manusia yang bermanfaat, tidak perlu memiliki kedudukan terlebih dahulu, atau terpandang terlebih dahulu. Yang penting ada iman dan takwa di dada.

Julaibib adalah sahabat Rasulullah yang jarang disebutkan namanya. Julaibib ini adalah sebuah sebutan. Mungkin sebutan untuk menunjukkan ciri fisiknya dan kedudukannya yang rendah di kalangan manusia.
Julaibib hadir ke dunia ini, tanpa mengetahui siapa orangtuanya. Orang-orang di sekelilingnya juga tidak terlalu memperhatikan siapa orangtuanya Jualibib. Mereka tidak mau tahu tentang Julaibib.

Julaibib ini seorang lelaki yang benar-benar tersisih. Wajahnya tidak tampan bahkan cenderung buruk rupa. Dia pendek juga bungkuk. Hitam kulitnya dan fakir tak berharta. Kain yang dipakainya usang. Pakaiannya juga lusuh. Kakinya juga tidak menggunakan alas kaki sehingga pecah-pecah.
Julaibib tidak memiliki tempat tinggal untuk berteduh. Tidurnya juga di sembarang tempat dengan berbantalkan tangan. Kasurnya pasir dan kerikil. Jika ingin minum, Julaibib minum dari air kolam yang diciduk dengan telapak tangannya.
Seorang pemimpin Bani Aslam bahkan berkata,” Jnagan pernah biarkan Julaibib masuk di antara kalian. Demi Allah, jika dia berani begitu, aku akan melakukan hal yang mengerikan padanya!”

Allah menurunkan rahmat-NYA pada Julaibib. Julaibib menerima hidayah dan selalu berada di barisan terdepan ketika shalat maupun jihad. Meskipun tetap saja ia tidak diperhatikan oleh yang lain.
Suatu hari Rasulullah bertanya pada Julaibib dengan lembut. “Tidakkah engkau ingin menikah?”
Julaibib menjawab,”Siapakah orangnya, ya Rasulullah, yang mau menikahkan putrinya dengan diriku?”
Julaibib tidak marah dengan takdir Allah padanya. Julaibib ikhlas bila tidak ada seorang pun yang mau menikah dengannya.

Rasulullah mengulang pertanyaan itu sampai tiga kali pertemuan dengan Julaibib.
Di hari ketiga Rasulullah menggamit lengan Julaibib kemudian membawanya ke rumah salah satu pemimpin Anshar.
“Aku ingin menikahi putri kalian,” begitu kata Rasulullah.

Yang mendengar kalimat dari Rasulullah itu merasa senang hatinya. Karena dipikirnya, Rasulullah akan melamar putrinya.
“Tapi bukan untukku,” kata Rasulullah. “Kupinang putri kalian untuk Julaibib.”
Mendengar kalimat tersebut ayah si gadis terperanjat.
Orangtua si gadis merasa tidak bisa menerima Julaibib sebagai calon menantu mereka. Apalagi melihat fisik Julaibib, dan dia juga tidak memiliki kedudukan apalagi harta.
Tapi si anak gadis yang di dadanya sudah dipenuhi iman bertanya kepada orangtunya. Siapakah yang meminta meminang itu? Ketika dijawab yang meminta adalah Rasulullah, si anak gadis berkata. “Apakah kalian hendak menolak permintaan Rasulullah? Demi Allah, karena Rasulullah-lah yang meminta maka permintaan itu tidak akan membawa pada kehancuran dan kerugian.”
Si anak gadis lalu membacakan Al Qur’an surah Al Ahzab ayat 36 tentang kewajiban taat pada perintah Allah dan Rasul-NYA.

Julaibib lelaki yang menikah dengan wanita cantik yang menurut Anas ibn Malik seluruh wanita Madinah tidak ada yang melampaui sedekahnya. Tapi pernikahan itu tidak lama. Julaibib syahid. Mungkin Allah memang sudah menyediakan bidadari di surga untuk Julaibib.

Saat itu ketika Julaibib syahid, Rasulullah merasa kehilangan. Di akhir pertempuran, Rasulullah bertanya pada para sahabat. “Apakah kalian kehilangan seseorang?”
“Tidak, ya, Rasulullah,” serempak para sahabat menjawab.

“Apakah kalian kehilangan seseorang?” Rasulullah bertanya lagi kali ini dengan wajah memerah.
“Tidak, ya, Rasulullah,” serempak lagi para sahabat menjawab. Salah seorang menengok ke kanan dan ke kiri untuk memastikan.

Rasulullah menghela nafas dan berkata,”Tapi aku kehilangan Julaibib.”
Para sahabat baru tersadar.
“Carilah Julaibib,” perintah Rasulullah.

Julaibib dicari. Dia ditemukan terbunuh dengan luka-luka yang semua lukanya dari arah muka. Di seputaran tempat Julaibib terbunuh ada tujuh jasad musuh yang terbunuh.
Rasulullah mengurus jenazah Julaibib dengan tangannya. Dan menshalatkannya. Beliau bahkan turun ke liang lahat untuk memasukkan jasad Julaibib.
Kalimat Rasulullah ketika menurunkan jenazah Julaibib membuat semua yang mendengarnya terharu. Rasulullah berkata,” Ya Allah, dia adalah bagian dari diriku. Dan aku adalah bagian dari dirinya.”

Dari kisah Julaibib ini saya belajar dan berharap anak-anak juga belajar. Untuk tidak pernah mengecilkan orang lain. Apalagi hanya karena mengukur dari kepemilikan harta benda.

Sumber : ditulis ulang dengan bahasa sendiri dari buku Lapis-Lapis Keberkahan ustadz Salim A Fillah.

Sa’d ibn Malik Abi Waqqash Az Zuhri

Salah satu sahabat Rasulullah dari 10 sahabat yang dijamin masuk surga, yang kisahnya selalu saya ceritakan berulang kali pada anak-anak adalah kisah Sa’d bin Abi Waqqash (begitu beliau biasa disebut). Sa’d ini masih kerabat Rasulullah dari pihak ibu.

Sa’d ini mendapat keistimewaan dari Rasulullah dengan didoakan “Ya Allah tepatkanlah bidikannya dan kabulkan doa-doanya.”

Sa’d ini juga adalah sahabat yang ketika mendengar Rasulullah bergumam ,”semoga malam ini ada lelaki shalih yang bersedia menjaga kami.” Maka Sa’d langsung bersiaga dan berkata,” tenanglah, ya, Rasulullah. Sa’d bersiaga di sini.”
Sa’d meronda dan selalu menyiapkan air dalam bejana untuk wudlu Rasulullah. Sa’d juga selalu bergegas ketka Rasulullah membuka pintu tenda di pertengahan malam.
Sa’d ini mendapat julukan sebagai Singa yang menyembunyikan kukunya.. Julukan itu didapat dari Abdurrahman ibn ‘Auf ketika ditanya oleh khalifah Umar, siapa orang yang tepat untuk memimpin pasukan ke Persia. Umar sendiri memuji Sa’d dengan orang yang amanah.

Yang paling terkenal dari Sa’d adalah doanya yang selalu dikabulkan Allah.

Pernah seorang wanita bersengketa dalam masalah tanah dengan Sa’d ibn Abi Waqqash. Wanita itu memang curang dan berkhianat. Sa’d berdoa pada saat itu. “Ya Rabbi, jika dia benar maka ridhailah dia, berkahilan hartanya dan ampunilah aku. Tapi jika dia curang dan khianat, maka binasakanlah dia dan musnahkanlah milik-miliknya.”
Beberapa hari kemudian ternyata wanita itu terperosok ke dalam sebuah lubang di tanah dan seekor ular mematuknya.
Dalam keadaan sekarat, wanita itu berteriak,” Celakah aku, aku terkena bala’ karena doa Sa’d bin Abi Waqqash!”

Ada peristiwa lainnya lagi.

Suatu hari Umar mengunjungi Sa’d untuk memeriksa pekerjaannya sebagai seorang gubernur. Umar bertanya apakah ada dari rakatnya yang mengeluhkan Sa’d? Seorang lelaki lalu berdiri dan bicara dengan lantang. Katanya Sa’d menutup pintu rumahnya dari mendengar keluhan rakyatnya. Sa’d juga tidak adil dalam memutuskan perkara dan tidak adil dalam membagi. Sa’d tidak mau berjalan dengan tentara dan Sa’d mengimami shalat dengan bacaan yang panjang, sehingga rakyatnya kepayahan.

Sa’d yang mendengar langsung menjadi sedih. Lalu dia berdoa ,” Jika dia ini menasehatiku sebagai saudaranya dengan ketulusan dan maksud baik untuk meluruskanku, maka muliakanlah dia dalam kehidupan dan setelah kematiannya. Tapi jika dia berdusta, dengki, riya’ dan hanya ingin dikenal orang, maka sempitkanlah hidupnya, panjangkan umurnya dan masyurkan kehinaannya .”

Suatu hari yang merawikan kisah itu bertemu dengan lelaki tua peminta-minta di Kufah yang ke sana ke mari menggoda gadis-gadis muda. Lalu perawi kisah itu bertanya, siapakah lelaki tua itu? Si lelaki menjawab bahwa “Aku adalah orang yang terkena bala’ dari doa Sa’d ibn Abi Waqqash.”

Sa’d memang terkenal doanya mustajab. Karena memang beliau meminta pada Rasulullah agar doanya selalu dikabulkan oleh Allah. Dan Rasulullah meminta agar Sa’d jika ingin doanya dikabulkan, harus memperbaiki apa yang dimakannya. Alias tidak mengandung barang halal dan tidak jelas kehalalannya.
Tapi sebagai pemimpin kelebihan Sa’d ini bisa jadi kelemahannya. Sa’d menjadi mudah tersinggung ketika berhubungan dengan rakyatnya dan tidak mudah berlapang dada ketika ada yang pendapatnya berbeda darinya. Rakyatnya jadi takut untuk menyampaikan keluhan mereka, karena takut akan doa Sa’d yang akan langsung dikabulkan Allah.
Padahal pada saat itu Sa’d memerintah sebagai gubernuh Kufah yang rakyatnya terkenal paling relwel dan paling menjengkelkan di seluruh wilayah kaum Muslimin.

Umar lalu mengambil keputusan untuk memberhentikan Sa’d dan menggantikannya dengan orang lain. Tapi bukan berarti hubungan antara Sa’d dan Umar memburuk. Karena ketika khalifah Umar akan meninggal, ia menyampaikan wasiat agar jika nanti Sa’d yang terpilih, maka itu adalah hal yang baik. Karena Umar dulu memecatnya bukan karena kesalahan atau pun karena Sa’d memiliki sifat khianat.

Sumber : Disarikan dari buku “Dalam Dekapan Ukhuwah” dan “Lapis-Lapis Keberkahan” karya ustadz Salim A Fillah

Yuk Belajar Menulis Pictorial Book

.

Membuat pictbook? Susah atau mudah, ya?
Untuk saya yang awalnya sangat mencintai kata-kata, menulis buku bergambar itu susah. Apalagi dulu saya memang tidak membiasakan anak membaca buku dengan banyak gambar. Alasan saya biar mereka bisa bebas berimajinasi tanpa harus tersekat gambar.
Ops, tapi itu karena saya punya suami ilustrator juga. Buku-buku di rumah berupa buku design dengan gambar menarik banyak. Dan anak-anak terbiasa juga. Jadi ketika ada satu di buku yang untuk saya susah menjelaskan lewat kata-kata, saya bisa bertanya langsung pada suami dan meminta beliau menggambarkan untuk saya.

Menulis pictbook?
Menulis buku dipenuhi gambar itu, harus mau berbagi dengan ilustrator. Jadi kalimat hanya sedikit. Tugas penulis memberi gambaran ilustrasi pada ilustrator. Sehingga ilustrator mudah membuat karakter tokohnya sesuai panduan dari penulis.

Dalam naskah buku pictbook harus ada halaman, lalu teks dan terahir adalah panduan ilustrasi.
Buatlah dalam bentuk tabel.

Di bagian atas tabel tulis :
Hal, lalu teks di bagian tengah, selanjutnya bagian ilustrasi.

Lalu setelah itu mulai tulis dalam tabel :

Seperti :
Halaman satu. Cover buku. Pada panduan ilustrasi tulis seperti apa ilustrasi cover yang kita inginkan.,

Hal Teks Cover
________________________

Pada hal 2. Mulai untuk membuat teks. Dan bayangkan ilustrasi yang kita inginkan.
Misalnya pada halaman 2, saya menulis.
Horee, sekolah sudah selesai (teks)
Momo dan teman-teman binatang lain ke luar kelas, ada jerapah, kelinci (ilustrasi)

Bayangkan semuanya dalam bentuk tabel, ya.
Maaf agak susah membuat tabel di sini.
Gunakan words dan insert tabel.

Hal 3
Aku pulang dulu (teks).
Kelinci melambaikan tangan pada Momo, dan teman-teman Momo ke luar kelas berlari
menuju Ibu mereka yang menjemput di luar kelas (ilustrasi).

Untuk kalimat percakapan, dalam pict book tidak perlu menggunakan tanda kutip (“).

Begitu kira-kira sedikit contohnya yang saya ambil dari buku “Kring Kring”.
Untuk pict book seperti yang saya pelajari di Room to Read, ada naskah untuk level pemula, menengah dan lanjut.
Perbedaannya ada di mana?
Perbedaannya adalah pada minimnya kalimat.
Level pemula ditujukan untuk pembaca pemula. Bisa anak-anak usia PAUD. Atau bisa juga orang dewasa tapi yang belum pernah bersentuhan dengan buku sebelumnya. Tentu saja pada level ini fokus pada ilustrasi. Jadi kalimat sedikit. Porsi terbanyak ada pada ilustrator.
Untuk level menengah kalimat sudah bisa lebih banyak.
Dan level lanjut, rangkaian kalimat sudah lebih banyak lagi dan bisa memasukkan kalimat yang lebih sulit.

Karakter panduan untuk tokoh yang penulis tulis harus jelas, ya. Termasuk karakter berupa fisik. Misalnya bentuk tubuh, ekspresi wajah, warna kulit dan lain sebagainya.
Sedang karakter internal, berupa perasaan, sifat, hobi dan lainnya.
Dengan menuliskan karakter itu lebih detail, ilustrator akan mudah menggambar sesuai inginnya penulis akan tokoh yang ada dalam benak penulis.

Halaman untuk buku pemula terdiri dari 24 halaman.
Halaman pertama ditujukan untuk cover.
Halaman selanjutnya dibuat seusai rangkaian cerita yang ada.
Usahakan ada satu halaman yang dijadikan satu sebagai titik sentral.
Misalnya 8-9, satu adegan tapi dibuat memenuhi dua halaman.

Ada kunci penting lagi.
Pada halaman ganjil, usahakan cerita itu membuat anak penasaran. Sehingga mereka akan bersemangat untuk membuka halaman dibaliknya.

Kelas Menulis Online. Enaknya di Mana?

Kelas menulis? Biasanya banyak yang mendaftar kelas menulis pertemuan langsung. Tapi saya memilih lebih banyak membuka kelas menulis online. Alasannya kenapa? Alasannya adalah karena dengan kelas menulis online, jarak bisa dilipat dan waktu bisa disiati.

Kelas menulis online antara guru dan murid bertemu secara online. Biaya ditransfer lebih dahulu, barulah kelas dimulai. Itu peraturan dari saya. Lalu tentukan waktunya, kapan bisa mulai belajar. Daan buat saya yang penting keseriusan dalam belajar, karena saya akan serius juga dalam mengajar.

Kelas menulis online bisa setiap hari, bisa dua hari sekali dan bisa hanya week end saja. Saya tidak mengajarkan materi tapi langsung praktik.

Kelas-kelas menulis online kerap disepelekan oleh orang lain. Karena beranggapan bahwa yang disampaikan asal saja. Tentu saya tidak sepaham dengan hal itu.
Mereka yang mengeluarkan biaya jangan mau menerima ala kadarnya saja dari saya.
Beberapa kelas menulis online sudah menghasilkan murid-murid yang karyanya ada di mana-mana.
Penulis Tangguh
Merah Jambu
Kelas Biru

Sama seperti kelas-kelas di dunia nyata, maka yang akan berhasil adalah yang bersungguh-sungguh belajar. Tidak bersungguh-sungguh, maaf saya tidak berjanji akan bisa membimbingnya secara optimal.

Enaknya kelas menulis online ada di mana?
Dari sisi ekonomi, pengajar dan murid tidak menghabiskan waktu untuk transportasi. Cukup sediakan komputer atau gadget. Maka pelajaran bisa dilakukan.
Dari segi waktu. Murid bisa memilih waktu sesuai keinginan mereka. Boleh malam asal tidak terlalu malam, sebab masuk jam sembilan saya sudah harus tidur.
Di samping itu tentu saja, baik murid dan guru tidak fokus memperhatikan penampilan. Karena kita tidak terhubung dengan video call. Jadi hanya chatingan saja.
Daaan, ini biasanya terjadi pada murid-murid SD. Mereka kalau sudah capek atau ngantuk akan bilang ke gurunya, tanpa malu atau takut diprotes teman.