Ada Banyak Cara Menerbitkan Buku

Zaman sekarang ini segalanya menjadi lebih dimudahkan.
Mau membeli barang? Bisa mendapatkannya dengan mudah di online shop yang banyak bertebaran di dunia maya. Modalnya kuota internet dan kehati-hatian dalam memilih tentu saja. Karena selain orang baik, ada banyak juga orang yang tidak baik yang ingin memanfaatkan moment bernama kemudahan itu.

Menulis buku dan menerbitkannya juga semakin mudah.
Zaman dahulu saya jungkir balik ingin memiliki sebuah buku. Sekarang segalanya menjadi lebih mudah. Ada banyak penerbit yang butuh naskah dari penulis. Well, tanpa penulis penerbit tentu saja agak timpang jalannya.
Mengirim naskah ke penerbit prosesnya panjang. Kadang, ada naskah yang menurut kita sesuai timing dengan isu-isu yang muncul tidak bisa menunggu waktu lama.

Punya naskah dan ingin menerbitkannya tanpa harus susah payah menembus media cetak seperti saya dulu? Bisa tentu saja. Tapiii, tetap harus mau berproses. Paling tidak memiliki kebiasaan membaca. Paling tidak harus paham bagaimana cara agar tulisan kita enak dibaca oleh orang lain. Paling tidak ide-ide yang kita munculkan adalah ide-ide segar, yang akan membuat orang lain mendapatkan manfaat dari yang kita tulis itu.

Ada banyak penerbit indie.
Jadi, tulis naskah kita sampai selesai. Keluarkan uang untuk mencetaknya. Selesai. Kita punya buku. Buku itu bisa jadi kenangan dan simpan di lemari buku kita.
Kalau ingin dijual?
Pembaca di zaman sekarang sudah lebih pintar. Tentunya mereka tidak mau ke luar uang, untuk buku yang biasa-biasa saja. Apalagi buku yang tulisan di dalamnya berantakan. Berantakan cara penulisannya atau berantakan isi di dalamnya.

Lalu harus bagaimana?
Bersabar dalam proses.
Terus menerus menulis. Hingga pada satu titik, kita sudah yakin. Naskah kita bagus. Sebelumnya bisa kita lemparkan tester ke pembaca. Dengan mengupload bagian pembuka yang kita tulis di sosial media berupa status. Jika respon positif yang kita dapatkan, dan orang ingin membaca kelanjutannya. Itu artinya bolehlah kita berbangga, bahwa tulisan kita disuka.
Ini mirip dengan penjual kue. Orang biasanya mudah percaya ketika diberi tester. Satu dua sampai tiga kali tester, membuat mereka bisa mengambil kesimpulan. Aku suka dengan tulisan penulis ini. Okelah diterbitkan indie atau melalui penerbit mayor, tidak masalah denganku. Sepanjang bukunya itu bermanfaat dan isinya aku suka.

Jangan lupa, jika kita merasa butuh editor, keluarkan uang untuk membayar biaya editor naskah yang akan diterbitkan. Banyak editor profesional yang berseliweran di sosial media.
Jangan lupa juga, jika kita tidak bisa membuat cover yang bagus untuk buku kita, gunakan ilustrator profesional.
Atau cari aplikasi yang bisa membantu kita mengedit cover.

Jangan pernah bosan untuk terus menulis.Dan terus berproses.

Ancol, Setelah Sepuluh Tahun

Pantai, ombak, pasir adalah satu kesenangan untuk saya. Tidak bisa terganti dengan yang lain. Tapi, pantai, ombak dan pasir menjadi jauh ketika harus pindah ke Bekasi. Ada pantai di Bekasi dan Karawang, tapi kami belum familiar dan akses jalan ke sana juga belum terlalu bagus. Ketika masih di Jakarta hampir setiap bulan singgah ke pantai. Sejak masa SMA hingga kerja. Suami senang berkeliling ke Pasar Seni. Ada teman-temannya sesama seniman yang menyewa kios di sana.

Liburan mau ke mana?
Anak-anak bertanya.
Maklum liburan di benak anak-anak adalah libur bersama. Jadi mereka libur, ayah ibunya juga libur. Haduuuh. Harus disampaikan berulang bahwa ayah ibunya sebagai freelancer tetap harus bekerja. Ada kerjaan dari klien yang harus selesai. Jadi liburan itu hanya pada weekend saja.
Bersyukurlah mereka paham.

Tapi masalah ada lagi. Sulung membawa teman dari pondok asal Maluku yang belum pernah lihat Jakarta.
Sebagai tuan rumah selama dua minggu, tentunya ingin anak muda si tamu mendapat banyak kenangan indah. Maka akhirnya rencana jalan-jalan kami rancang.
“Ke mana?” anak-anak penasaran.
“Ke Ancol saja,” jawab saya. Murah meriah. Keluarga suami juga baru datang dari kampung, jadi pas situasinya.
Ke Ancol saja, bawa makanan dari rumah, gelar tikar di pinggir pantai.
“Diiih, kok cuma ke Ancol?” Bungsu mengeluh.
“Bersyukur saja,” seperti biasa saya katakan berulang-ulang.

Ke Ancol, pada hari Selasa tanggal 26 Desember 2017. Kami berpikir pada saat itu sepi pengunjung, karena bukan tanggal merah. Maklum freelancer seperti kami, patokannya hanya tanggal merah, dan tidak kenal cuti bersama. Tapi begitu datang. O la la. Kendaraan padat merayap. Kendaraan kami harus masuk dari pintu lain yang juga macet. Setelah masuk pun ternyata masih harus mencari tempat parkir karena penuhnya parkiran di sepanjang pantai.

Tidak ada yang perlu dikeluhkan untuk sebuah keputusan yang diambil. Harus tetap bersenang-senang.
Anak-anak merasakan pantai.
Saya dan Bungsu penasaran mencoba perahu. Dulu, saya pusing ketika naik perahu.
Saya mau mencoba lagi. Tidak mau fokus kepada kenangan masa lalu. Perasaan takut harus dilawan. Sulung tidak mau? Mungkin tidak mau basah-basahan. Temannya juga tidak mau mencoba, bisa jadi tidak enak hati. Sedang Suami? Uuh, dia punya pengalaman buruk di masa lalu. Ketika senang memancing di tengah laut, dan terhempas ombak setinggi beberapa meter, dan pengalaman traumatis itu tidak pernah mau diulanginya lagi.

Seperti apa sensasinya naik perahu?
Waah, ombak yang datang memerciki baju dan wajah, jadi sesuatu yang menyenangkan. Bungsu yang nyaman menikmati air. Saya yang seperti ditarik ke masa lalu dan melihat hamparan air di lautan. Seperti banyak ide mengucur deras di kepala.

Setelah sedikit bersenang-senang, ada yang tidak boleh kami lupa. It’s time for praying. Iya shalat. Larilah ke mushola yang ada di dekat pantai. Antri toiletnya. Alhmadulillah. Antri tempat wudhunya, Alhamdulillah. Antri tempat shalatnya juga Alhamdulillah.
Senang lihat musholla kecil penuh dengan para muslim dan muslimah yang shalat.

Pengunjung semakin banyak berdatangan.
Kami harus pulang.
Ada tugas lain menanti.
“Buu, ke toko buku, dong. Aku mau beli buku,” Sulung meminta.
Kami tinggalkan Ancol pulang menuju Bekasi dan meluncur ke toko buku seperti permintaan Sulung.

Ini cara kami mengikat kenangan.
Liburan bukan hanya berempat. Tapi dengan saudara dan teman yang lain tujuannya satu. Empati anak-anak untuk berbagi terasah lebih tajam lagi.

Jangan Menulis Jika Tidak Bahagia

Iya, menulis itu harusnya membuat bahagia. Jika menulis sudah menjadi pilihan dalam hidup. Untuk bahagia tentu ada banyak yang harus dilakukan.
Apa saja itu?

1. Tulis apa yang kita suka. Kalau kita tidak suka, jangan teruskan. Apalagi meneruskan hanya karena berpikiran akan mendapat banyak materi dari situ. Iya, materi dalam bentuk uang itu memang kita butuhkan. Tapi bukan berarti segalanya dan bisa membeli kebahagiaan.

2. Tuis yang ada dalam jangkaun ilmu kita. Itulah kenapa kita harus banyak-banyak riset. Jangan hanya bermodalkan satu tulisan saja yang kita cari di internet. Riset, riset dan riset. Karena itu jika profesi kita adalah perawat, alangkah lebih baiknya jika menulis tentang dunia yang digeluti setiap hari. Sehingga ketika dijadikan tulisan, banyak yang bisa merasakan manfaat tulisan itu.
Atau saya kenapa menulis buku anak? Karena saya banyak interaksi mengajar anak-anak. Sehingga sumber saya dari anak-anak tidak pernah habis.

3. Tulis dengan hati sehingga pesannya sampai ke pembaca. Menulis dengan hati artinya apa? Menulis dengan hati artinya, kita sungguh-sungguh melebur dalam tulisan kita. Jadi ketika kita menuliskan pengalaman yang sedih, kita bisa ikutan menangis ketika menulis hal itu.
Tulisan yang datangnya dari hati akan sampai ke hati.

4. Jangan kepingin dipuji. Mungkin jika awalnya menginginkan hal itu, adalah lumrah. Karena menulis bukan perkara mudah. Banyak orang yang tidak paham pekerjaan itu. Karena itu jika ada rasa ingin dipuji ketika di awal menulis, masihlah tidak mengapa. Tapi ketika sudah lebih dari dua tahun masih menginginkan hal itu, mungkin ada yang harus diperbaiki pada niat ketika kita menulis.

5. Jangan kepingin dianggap sempurna. Penulis yang mencari ide tulisannya, wajar jika ingin tulisannya dianggap sempurna. Tapi jika kesempurnaan di mata manusia yang ia cari, maka ia akan mudah untuk menjatuhkan penulis lain yang dianggap lebih tinggi darinya.

6. Jangan menjatuhkan orang lain dengan cara fitnah. Banyak kejadian di dunia menulis yang sumbernya adalah berita katanya. Entah itu di sosial media atau disampaikan oleh orang lain, tanpa cross check ke sumber utamanya. Pada akhirnya yang timbul adalah penulis yang satu dijatuhkan penulis lain.
Jangan lakukan itu, jika ingin bahagia dalam menulis.

Jangan mau menulis dan tidak bahagia.
Saya selalu memilih menulis dan bahagia. Dengan begitu saya menjadi sehat lahir batin.

Kehidupan Rumah Tangga Rasulullah

Rasulullah memiliki banyak istri. Itu yang sering dideskreditkan oleh orang yang tidak paham kehidupan Rasulullah dan pesan apa yang dibawa dari setiap pernikahan beliau.
Sebagai muslim tentu saya harus belajar banyak. Salah satunya adalah belajar dari pernikahan beliau. Kenapa Allah memberikan beliau banyak istri.
Selain memahami bahwa istri-istri itu adalah cerminan dari sifat atau karakteristik para wanita, sehingga dengan begitu umatnya bisa paham bagaimana memperlakukan seorang wanita.

Jumlah wanita yang dinikahi oleh Rasulullah ada 13. Sembilan diantaranya ditinggal mati oleh Rasulullah. Dua diantaranya meninggal pada saat Rasulullah masih hidup yaitu Khadijah dan Zainab binti Khusdan. Dan dua istri lainnya belum pernah digauli.

Istri pertama beliau bernama Khadijah. Rasulullah menikah ketika beliau berusia 25 tahun dan Khadijah usianya 40 tahun. Khadijah adalah wanita yang pertama dinikahi Rasulullah dan Rasulullah tidak pernah memadunya selama 30 tahun pernikahan mereka. Jadi masa-masa muda Rasulullah dihabiskan untuk satu istri yaitu Khadijah.
Ketika Khadijah meninggal dan Rasulullah menikah lagi, maka tujuan pernikahan itu bukan sekedar syahwat. Tapi karena ada tujuan lain, seperti melindungi janda-janda yang ditinggal syahid suaminya. Juga merekatkan hubungan persahabatan misalnya pernikahan dengan anak Aisyah putri Abu Bakr dan Hafshah putri dari Umar.

Dari Khadijah, Rasulullah memiliki anak laki-laki dan perempuan.
Anak yang laki-laki tidak ada yang hidup. Al Qasim dan Abdullah (dijuliki ath Thayyib atau yang baik, dan ath -Thahir yang suci) adalah anak laki-laki beliau yang meninggal. Sedangkan yang perempuan adalah Zainab, Ruqayyah. Ummu Kultsum dan Fathimah.

Istri lainnya adalah :

2. Saudah binti Zam’ah
3. Aisyah binti Abu Bakar Ash Shiddiq
4. Hafshah binti Umar bin al Khaththab. Janda dari Khumais bin Hudzidah as Sahmi
5. Zainab binti Khuzaimah. Zainab ini dijuluki Ummul Masakin (ibunya orang-orang miskin). Ia janda dari Abdullah bin Jahsy yang mati syahid pada perang Uhud.
6. Ummu Salamah Hindun binti Abu Umayyah. Janda dari Abu Salamah yang meniggal pada tahun ke 4 hijriyah.
7. Zainab binti Jahsy bin Rayyab. Anak paman Rasulullah yang pernah dinikahi oleh Zaid bin Haritsah, yang pernah menjadi anak angkat Rasulullah.
Pernikahan Zainab dan Rasulullah ini dulu jadi perbincangan kaumnya. Tapi Allah yang memerintahkan pernikahan ini untuk menjelaskan tentang hukum anak angkat dan permasalahannya lewat pernikahan ini.
8. Juwairiyah binti al Harits
9.Ummu Habibah Ramlan binti Abi Sufyan. Sebelumnya dinikahi oleh Ubaidillah bin Jahsy dan Ubaidillah ini murtad masuk agama nasrani.
10. Shafiyah binti Huyay bin Akhthab
11. Maimunah binti al Harits
12. Mar’atul Qibtiyah yang melahirkan anak laki-laki bernama Ibrahim, dan meninggal sewaktu masih kecil di Madinah.
13. Raihanah binti Zaid an Nadhriyah

Tips Belajar yang Menyenangkan untuk Anak

Belajar dengan cara dipaksa?
Alias diminta duduk tenang di depan meja belajar. Duh, pada zaman dahulu, model belajar seperti itu bukan model belajarnya saya.
Meski setiap anak diberikan Bapak meja belajar, dan memiliki meja belajar seperti memiliki sebuah harta berharga, karena di situ saya memiliki privasi. Tapi meja belajar bukan tempat menyenangkan untuk saya belajar.
Saya bahkan ingat di sekolah, saya lebih suka meminjam buku di perpustakaan, atau memelototi gambar di bioskop depan sekolah, yang bisa terlihat dari ruang kelas. Ketika Pak Guru menjelaskan, saya juga lebih sibuk dengan majalah pinjaman dari teman, sampai teman mengadu pada Pak Guru dan Pak Guru mengancam akan mengambil majalah itu, jika saya tidak menutup majalah dan memperhatikan beliau mengajar.

Belajar untuk saya sejak dulu prosesnya adalah harus bahagia. Tidak text book, tidak banyak teori. Karena itu saya juga lebih suka mengajarkan anak di rumah dengan metode belajar ala saya, bukan seperti yang orang lain ajarkan. Dan ketika membuka rumah untuk anak-anak di lingkungan, saya juga lebih suka menggunakan metode ala saya.
Di Sanggar Mama Bilqis, saya ajarkan sesuatu yang berbeda.
Mereka datang hanya untuk curhat, boleh. Atau datang hanya untuk meminjam majalah dan diskusi tentang negara-negara di belahan dunia lain, juga silakan.
Atau belajar sambil melihat ikan di kolam kecil depan rumah, boleh boleh saja.

Saya tidak berharap banyak dengan proses yang saya ajarkan.
Suatu saat kelak, ketika anak-anak yang belajar di rumah sudah jadi orang dewasa, mereka akan meneruskan jejak saya dalam mengajar orang lain. Mengikuti pola saya dengan membebaskan kreativitas murid-muridnya.

Belajar Menulis untuk Anak-Anak

Ada anak-anak yang belajar menulis. Secara bertemu muka seperti di rumah, maupun yang belajar menulis secara online lewat media apa saja. Mulai dari WA sampai email.
Anak-anak yang ingin belajar menulis, tentu berbeda dengan orang dewasa yang belajar menulis. Orang dewasa punya banyak pengalaman dalam hidupnya. Sehingga ketika disampaikan teori menulis atau pelajaran baru, orang dewasa akan menghubungkannya dengan pengalaman mereka.
Apalagi jika mereka pernah belajar menulis dari satu guru ke guru yang lain. Maka mereka akan membandingkan pelajaran dari guru yang satu ke guru yang lain. Dan tidak enaknya ketika akhirnya mereka bicara dengan satu guru yang mengajar..,”Menurut yang ini…., katanya harus…”
Perbandingan-perbandingan seperti itu tentu jadi tidak mengenakkan untuk guru yang mengajar.

Ada banyak anak-anak yang ingin belajar menulis. Kadang mereka langsung menghubungi saya lewat WA. Kadang orangtua yang menghubungi saya, karena melihat potensi anaknya dalam menulis. Saya senang sekali. Jujur, interaksi dengan anak-anak membuat saya bebas berekspresi. Mereka bukan sekedar spontan. Mereka tidak mudah curiga dengan apa yang saya ajarkan.
Anak-anak lebih mudah menerima pelajaran. Biasanya sebeleum menerima murid anak, saya memilih untuk berkomunikasi dulu dengan anak yang bersangkutan.
Dari komunikasi dengan mereka, saya akan lebih mudah memahmi karakter mereka. Dan juga memahami keinginan mereka. Orangtua hanya terhubung urusan biaya, waktu dan lain sebagainya.

Anak-anak belajar menulis tentu bukan berarti mereka harus jadi penulis. Saya selalu katakan pada anak-anak, kalau mereka terbiasa menulis, maka untuk menguraikan jawaban ulangan akan menjadi sangat mudah. Apalagi jika ada pelajaran Bahasa Indonesia. Mereka akan semakin mudah memahaminya.

Ada syarat agar anak-anak bisa nyaman belajar menulis :

1. Penuhi otak mereka dengan bacaan dulu. Sebelumnya biasanya saya akan bertanya, apakah mereka suka membaca atau tidak? Jujur kalau ada anak yang tidak suka membaca dan mau belajar menulis, susah. Tapi bukan berarti tidak bisa. Nah untuk itu, saya biasakan mereka menyukai buku dulu. Buku-buku yang sederhana. Saya berikan rujukan untuk mereka. Kalau dekat rumah, maka mereka bisa meminjam dari taman bacaan yang saya miliki.
2. Ajari pelan tapi pasti. Jangan memberi target yang sulit. Target sesuaikan kemampuan si anak murid.
3. Biarkan mereka bahagia dengan prosesnya. Meski hanya menulis satu kalimat, tetap kita katakan mereka hebat, pintar dan lalin sebagainya. Jadi mereka terpacu untuk menulis lebih bagus dan lebih banyak lagi.
4. Berikan pancingan-pancingan dengan banyak hal. Sehingga mereka jadi terbuka wawasannya dan menyadari bahwa menulis itu begitu mudahnya.
5. Jika mereka datang hanya ingin curhat atau chat biasa juga tidak apa-apa. Mereka butuh seseorang untuk ngobrol. Maka jadilah pendengar yang baik saja. Sambil mengomentari tapi bukan memenuhinya dengan nasehat.

Ingin Langgeng Menulis? Berproseslah

Banyak yang ingin menulis, menghasilkan buku, jadi terkenal seperti penulis terkenal yang mereka sebutkan namanya. Tapi mereka lupa dalam menulis ada proses yang harus dilewati.
Banyak yang ingin ia dikenang sebagai penulis, karyanya dihargai dan mendapat penghargaan dan namanya jadi perbincangan. Tapi jangan lupa. Kerja penulis adalah kerja mengolah batin. Menekan banyak ambisi dan egois, karena fungsinya adalah untuk menjadikan kita manusia yang lebih baik lagi.

1. Proses menulis yang pertama adalah cinta membaca. Andai dia bukan pembaca sebuah buku, bisa jadi dia membaca dalam tanda kutip. Membaca hati orang lain, membaca lingkungan dan yang lainnya. Proses seperti itu menimbulkan kepekaan untuk batinnya dan bisa disuarakan dalam bentuk tulisan. Meskipun untuk menulis, tetap pada akhirnya harus mulai suka membaca. Karena dengan membaca jadi bisa memahami pengalaman dari ‘membaca’ mana yang bisa dirangkum jadi kalimat enak untuk dibaca dan bermanfaat bagi orang lain.

2. Proses selanjutnya adalah terus menulis. Sama seperti kita naik sepeda. Setiap hari naik sepeda, kita akan bisa enak mengayuh pedalnya. Bisa tahu bagaimana cara berbelok dan lainnya. Dengan terus menulis kita akan lebih luwes dalam merangkai kata jadi kalimat.

3. Proses selanjutnya kembali terus menulis. Jangan hanya puluhan kali. Lakukan sampai ratusan kali bahkan ribuan kali.

4. Berteman dengan sesama penulis, agar kita bisa paham bahwa kita tidak sendiri melakukan proses itu. Kalaupun lebih suka sendiri, tidak masalah. Karena setiap orang punya karakter yang berbeda. Saya lebih suka tidak berkumpul dengan sesama penulis. Alasannya untuk menjaga keorisinilan ide sana. Dan target yang saya pegang tidak terganggu dengan target orang lain.

5. Jangan kebelet ingin sukses. Karena sekali dua kali menulis, bisa jadi tulisanmu disukai orang lain. Tapi sekali dua kali itu belum bisa untuk menumbuhkan kecintaan akan menulis. Penulis yang langgeng menulis sampai tua adalah penulis yang mencintai proses. Jatuh bangun dinikmati sebagai bagian dari proses menjadi penulis. Ditolak, buku tidak laku, tetap dinikmati.

6. Terus menulis saja. Jangan mereka sudah menjadi orang hebat karena menulis. Sebab begitu kita merasa jadi orang hebat, justru di situlah sebenarnya kita bukanlah siapa-siapa.

Ibu Sungguh Menyebalkan

Ibu sungguh menyebalkan buat Attar. Ibu ingin tahu semuanya. Ibu cerewet. Ibu maunya rapi. Ibu tidak mau ada barang berantakan di rumah. Ibu tidak mau ada gelas yang tidak ditaruh di tempatnya.
“Hape…”
Attar cemberut.

Setiap malam Senin Ibu akan menyita telepon genggam milik Attar. Ibu akan menyimpannya sampai hari Jumat. Setelah itu baru diberikan pada Attar. Tapi tidak bisa sepuasnya. Ibu sebentar-sebentar akan masuk kamar lalu mengingatkan. Aapakah Attar sudah mandi. Atau Attar sudah makan? Atau Ibu akan melotot, lalu bilang akan menyita telepon genggam Attar lagi, jika melihat Attar tidak bergerak dari atas tempat tidurnya.
“Jangan buang-buang waktu…,” itu yang Ibu bilang.

Huh. Padahal di telepon genggam, Attar bisa ngobrol sepuasnya dengan teman-temannya. Bisa janjian untuk pergi berenang. Bisa juga melihat banyak film kartun yang dilarang terlalu lama menontonnnya di televisi oleh Ibu. Ibu bilang film yang banyak adegan berkelahinya akan membuat Attar jadi kasar.
Sekarang Attar memandangi mi goreng di mejanya. Mulutnya cemberut. Kenapa, sih, Ibu tidak seperti Ibu temannya yang lain? Kenapa, sih, Attar tidak bisa bebas main ha pe seperti yang lain?
“Ibu punya buku baru…”
Attar tambah cemberut. Buku baru itu artinya nanti Attar diminta membaca sama Ibu. Terus nanti masih ditanya isi buku itu.
Attar menggeleng cepat. “Aku mau main game,” kali ini tangannya cepat memasukkan mi ke dalam mulutnya.

**

Ibu memang menyebalkan. Ibu membuat Attar tidak bisa sama seperti teman yang lain. Ibu memberi Attar uang saku bulanan, dan Attar harus belajar mengaturnya. Ibu tidak mau memberi tambahan lain lagi. Padahal gara-gara uang saku tanpa tambahan itu, Attar pernah tidak bawa uang sama sekali ke sekolah. Gara-gara uang sakut Attar sudah habis semua untuk beli kaos klub bola yang Attar inginkan.
“Yah begitulah Ibu,” ujar Ayah sambil makan nasi goreng buatan Ibu. Ada irisan mentimun di nasi goreng itu. Biar Ayah tambah sehat, begitu yang selalu Ibu bilang.
“Buuu, nanti aku pulang sekolah dijemput siapa?” Bilqis bertanya sambil minum segelas susu coklat. Ada roti di dekat gelas itu.
Attar cemberut. Pagi ini Ibu melarang Attar beli nasi uduk. Ibu bilang Ibu sudah masak nasi goreng dan ada roti juga susu. Jadi Attar tidak boleh jajan.
“Jangan lupa, nanti langsung pulang, ya,” ujar Ibu.
Attar semakin cemberut.

**

Ibu sungguh menyebalkan. Kemarin, kemarin dulu, kemarinnya lagi juga begitu.
Sekarang Attar menatap ke luar jendela kamarnya. Matahari sudah bersinar terang. Attar bangun terlambat. Tirai jendela masih tertutup padahal matahari sudah tinggi.
Tidak ada kotak bekal makanan. Ayah juga bangun kesiangan. Ayah bilang nanti akan ditelepon catering dari sekolah, agar Attar dapat jatah makanan catering.
“Baju olah ragaku mana?” tanya Attar yang sekarang berdiri di depan lemari pakaian.
Baju olah raga di hari Sabtu kemarin sudah ia masukkan ke dalam mesin cuci. Biasanya di hari Minggu semua baju seragam akan selesai Ibu cuci dan setrika dan sudah berderet di dalam lemari.
“Ya ampuuun, Ayah lupa,” ujar Ayah menepuk keningnya.
Attar lihat Ayah lalu berlari ke atas. Mengaduk-aduk mesin cuci. Lalu membawanya. “Pakai lagi, ya. Sekalian kotor.”

Attar mengerutkan hidungnya. Bau keringat di baju itu belum hilang. Attar lihat Ayah menyemprotkan pewangi pakaian di baju olah raga itu. Hari ini terpaksa Attar memakainya.
Sampai di sekolah Attar lupa membawa PR Bahasa Inggris.
Tadi di sekolah Attar dihukum menulis di papan tulis. Attar juga hampir berkelahi dengan temannya yang mengatakan bajunya bau.
Sekarang Attar sudah sampai di rumah. Tadi ia mengayuh sepedanya dengan cepat. Hari ini Ibu akan pulang. Pekerjaan Ibu ke luar kota selama empat hari sudah selesai. Ibu akan bekerja dari rumah lagi, menemani Attar belajar, memasak untuk semua yang di rumah.
Dari depan pagar, Attar melihat sepatu biru milik Ibu.
“Buuu..,” kali ini Attar berteriak.
Attar sudah kangen Ibu. Meskipun Ibu terkadang menyebalkan.
**

Menghidupkan Literasi di Sekolah Alam Bekasi

Sekolah Alam. Mendengar nama itu saya selalu jatuh cinta. Yang terbayang-bayang adalah masa kecil saya, yang bisa bermain di bawah kincir air, empang yang luas, jalanan sunyi lewat taman bunga. Segala hal bernama kebebasan dan keriangan masa kecil. Itu yang tertanam di benak tentang sekolah alam.

Saya selalu antusias begitu mendengar tentang sekolah alam. Maka setiap tawaran untuk berbagi ilmu di sekolah alam, akan selalu saya sambut dengan riang gembira. Jauh tidak masalah. Yang penting saya bisa merasakan keceriaan masa kecil saya kembali.

Dua minggu sebelumnya ada telepon masuk. Karena nomornya tidak saya kenal, maka tidak saya jawab. Sampai akhirnya nomor ada WA masuk memberitahu siapa yang menelepon. Dari pihak penerbit menawarkan untuk launching buku di sekolah alam.
Langsung saya sambut ajakan tersebut.

Kami bersiap. Iya kami. Sebab pihak sekolah yang tahu kalau anak-anak saya juga penulis, ingin salah satu anak saya ikut tampil. Maka saya mengajak anak saya yang ada di rumah. Yang Sulung ada di pondok.
Saya juga mengajak suami ikut serta, karena saya ingin mengenalkan sekolah alam pada suami, yang memang sebelumnya hanya tahu cerita tentang sekolah alam dari saya.
Saya sudah persiapkan semuanya dari malam. Barang-barang yagn akan saya bawa sudah saya masukkan ke dalam mobil. Malam sebelum tidur saya minta si anak gadis untuk cepat dibangunkan, karena kami akan berangkat pagi.
Berangkat pagi?
Iya berangkat pagi. Karena masalahnya kami belum tahu rutenya. Dan saya memang selalu mengkondisikan untuk hadir di sebuah acara setengah jam sebelum waktu yang ditentukan. Tujuannya agar saya bisa merasa nyaman dan mengenal situasi.

Kami berangkat jam enam pagi. Lewat tol. Dan gak nyasar hanya tanya orang satu kali. Jam tujuh lebih sedikit sudah sampai. Horee, acara berlangsung jam 8. Saya bisa ajak anak gadis saya berkeliling. Sambil menunggu pembicara lainnya datang.
Seorang panitia menghampiri mengajak untuk masuk ke perpustakaan dan ngobrol banyak hal di perpustakaan yang nyaman juga dingin. Muti namanya. Guru Bahasa Inggris. Anak muda yang saya suka, karena jalan pikirannya sama seperti saya. Melihat sesuatu dengan sudut pandang berbeda.

Lalu saatnya tiba.
Saya, anak gadis dan mbak Sofie mewakili Kemdikbud naik ke atas panggung, berbagi tips untuk membudayakan membaca di kalangan anak. Sedikit sharing saya tentang anak-anak saya yang bisa menulis. Si anak gadis masih pemalu dan hanya menunduk saja.
Acara tidak berlangsung lama, karena jadwal acara padat merayap dan pembukaannya bergeser waktunya.
Hanya 30 menit, lalu saya istirahat dan harus naik panggung lagi untuk memandu anak-anak belajar menulis.

Ini saat yang saya tunggu. Biasanya waktu yang saya gunakan untuk itu minimal satu jam. Saya bisa eksplore kemampuan anak untuk mengolah cerita dan mereka paham banyak hal. Tapi sayang waktu untuk saya hanya 30 menit. Satu buku hanya sedikit saya bacakan, lalu saya ajarkan cara membuat tulisan dengan gambar, setelah itu saya mencari siapa yang bisa menulis dan menangkap gambar yang saya berikan jadi ide yang unik. Untuk para pemenang ada hadiahnya.

Seperti biasa, mereka takjub dengan gambar-gambar yang saya bawa. Mereka langsung merespon gambar yang saya berikan. Dan ujugnya mereka berlomba-lomba mengangkat tangan, minta agar kertas yang ada di tangan mereka, bisa saya baca.
Iya mereka memang semuanya menulis ide cerita dari gambar-gambar yang saya tunjukkan. Aduuuh, terharu saya dibuatnya.
“Bu guru, bagaimana menulis monyet?” tanya seorang anak spesial (berkebutuhan khusus).
“Bu guru, ini saya tulis…,” seorang anak lain, kelas satu SD menunjukkan gambar titik-titik pada saya.
“Bu guruuu, saya ini sudah nulis. Bagus gak, ya?” tanya anak lain, sambil maju meminjam mik di tangan saya.
Semuanya antusias. Saya semangat, tapi waktu membatasi.
“Sepuluh menit lagi, Bu,” ujar panitia.
Maka saya pun harus cepat-cepat menuntaskan pelajaran saya.

Oh ya karena ke sekolah alam dalam rangka promo dan launcing buku, maka sekalian saya promosikan buku saya yang ada di stand di sis panggung. Bahwa saya baru menerbitkan buku. Kalian bisa beli, ya, untuk belajar akhlak Rasulullah.
Well,
acara berjalan lancar.
Kami pulang. Sudah disambut dengan jalanan tol yang macet. Tapi saya bahagia. Hari ini sungguh luar biasa.
Si Bungsu dapat pelajaran berharga. Meski hari ini ia grogi setengah mati, tapi saya yakin pelajaran ini akan menjadi sesuatu yang tersimpan di benak dan hatinya.

Seri Akhlak for Kids, Semua Berawal dari Mimpi

Mimpi?
Lebih tepatnya harapan. Harapan-harapan yang sering diam-diam saya lontarkan ke langit untuk dijadikan doa.
Ingin punya buku anak? Saya bermimpi dan jungkir balik berlatih. Masih juga berjuang mengirim tulisan ke sana dan ke mari. Ditolak? Kalau dulu sakit hati rasanya bisa sampai sejam. Sekarang hanya sedetik saja. Sekarang bahkan hanya sepersekian detik saja, setelah memahami bahwa itu adalah bagian dari takdir saya.

Impian memiliki buku adalah impian saya. Sejak dulu.
Setelah menulis sekian lama, dan bermimpi sekian lama maka setelah saya menikah baru saya memiliki buku.
Dari tahun 1982 menulis. Ketika SD itu saya sudah terbayang memiliki buku. Tapi baru tahun 2002 saya bisa memiliki buku. Itu artinya 20 tahun saya bermimpi.

Kadang saya berharap setelah kemenangan lomba di sana sini, naskah-naskah itu menjadi sebuah buku. Tapi rupanya itu hanya impian saya saja.
20 tahun terus bermimpi, berjuang, berusaha, lalu segalanya cring. Kerja keras saya terbayar. Telur saya pecah. Dan biasanya kalau sudah pecah satu akan mudah memecahkan yang lain.
Cring cring cring, maka bermuncullah buku-buku saya. Buku-buku solo. Jumlahnya lebih banyak dari angka pernikahan saya yang belum sampai 20 tahun. Jumlahnya hampir menyamai usia saya. Bahkan jauh melampaui usia saya, jika antologi juga saya hitung sebagai buku.

Satu buku diikuti buku yang lain.
Satu pesanan penerbit diikuti pesanan penerbit yang lain. Rahasianya apa?
Saya tidak punya rahasia.
Semua harapan saya jadikan doa. Saya lemparkan di sepertiga malam. Saya bisikkan di waktu-waktu mustajab untuk berdoa, seperti di antara azan dan shalat. Ketika tahiyat terakhir sebelum salam.
Kadang ketika melihat postingan seorang teman, saya pejamkan mata dan berdoa. Saya ingin seperti itu.

Sepuluh buku Akhlak prosesnya cepat sekali.
Menerima job sebelum Ramadhan. Saya kerjakan sepanjang Ramadhan bersamaan dengan buku lain pesanan penerbit lain.
Saya model serius dalam mengerjakan sesuatu.
Tidak boleh terganggu.
Bantuan agar waktu bisa dilipat mudah. Awali hari dengan tahajud dan membaca Al Qur’an satu juz. Maka semuanya jadi mudah. Bahkan apa yang saya yakin tidak bisa kita kerjakan, ternyata sanggup saya kerjakan.
Misalnya?
Misalnya sambil mengajar kelas menulis di komputer di ruang kerja saya di bawah, saya bisa mencuci pakaian di lantai atas rumah saya.
Sambil mengaji bersama teman, saya bisa mengajari anak tetangga belajar membuat cerita.

Tidak ada mimpi yang tidak bisa diraih.
Untuk saya yang paling penting, fokus mendekat pada Allah. Biarkan nama kita terkenal di langit. Jangan fokus terkenal di bumi, dan menghabiskan waktu di sosial media, sedang menyentuh kalam Allah juga tidak sempat. Fokus lakukan apa yang dianggap baik oleh Allah.
Maka segalanya akan dimudahkan untuk kita.
Sama seperti buku ini.

Buku ini berisi cerita yang diangkat dari hadist Bukhari Muslim tentang akhlak Rasulullah. Saya racik sedemikian rupa, agar pesannya tidak membebani anak. Seperti biasa, saya selalu membungkus pesan dengan sederhana. Karena saya memang tidak bisa berpikir rumit.
Ada cerita, ada hadist dan ada rujukan kisah. Komplit semuanya ada di dalam buku ini.

Masih hangat.
Buku ini, yuk, dicari di toko buku.