Ketika Penulis Diorder Penerbit

Diorder menulis?
Puluhan tahun menulis untuk media cetak, saya jaraaang sekali diorder nulis oleh media cetak, untuk menulis dengan tema tertentu. Biasanya dulu saya mengirim tulisan berupa artikel, puisi atau cerita pendek, dengan cara berlangganan majalah tersebut. Jadi dari satu tahun bisa mempelajari tema apa yang belum diangkat oleh majalah, sehingga ketika saya menulis, tulisan saya mudah diterima dan dimuat.
Cara seperti itu membuat saya tidak menggampangkan, dan terus mengasah feeling, juga berjuang untuk menulis yang berbeda.

Saya fokus untuk menulis di segala kondisi. Jungkir balik sebagai ibu baru, jungkir balik sebagai karyawan, jungkir balik sebagai istri, tetap menulis, tetap ikut lomba. Tidak pernah terpikir juga untuk diorder menulis oleh media cetak juga penerbit.

Ketika Masa itu Datang

Saya selalu percaya sebuah masa. Ada masa bersusah payah, pasti ada masa bersenang-senang. Ingat dengan mimpi di zaman Nabi Yusuf. Tentang tujuh tahun kekeringan dan tujuh tahun masa panen. Kita tidak akan pernah terpuruk selamanya, atau bersinar selamanya.
Dengan berpikir seperti itu, tidak akan sempat merasa hebat ketika diorder naskah oleh penerbit, tidak juga merasa putus asa ketika tidak diorder naskah.
Buat saya diorder naskah atau tidak, saya tetap mencari peluang untuk menulis. Dan justru itu yang membuat saya semakin bergairah dengan menulis. Menghadapi sesuatu yang tidak pasti, dan bergantung pada Allah, Sang Maha Pembuat Kepastian.

Masa diorder oleh penerbit dan buku best seller akhirnya pernah saya rasakan juga.
Masa diorder dan sudah dibayar cash, buku tidak terbit, pernah juga.
Masa pernah dibayar sebagai reviewer atau first reader untuk naskah yang mereka terima, pernah juga.
Masa pernah dibayar sebagai editor pernah juga.
Bahkan masa dikontrak sebagai pengisi kolom di sebuah media cetak, juga pernah.

Pengalaman seperti itu tidak datang begitu saja. Ada tulisan yang terus saya hasilkan. Ada lomba-lomba yang saya ikuti, dan saya menangkan. Sehingga ketika saya membuat proposal menawarkan naskah atau menawarkan kerja sama, pengalaman menulis di sana sini, membuat poin saya jadi lebih di mata mereka.

Penerbit itu diisi oleh para manusia. Artinya mereka punya hati punya misi juga. Mereka akan memilih penulis yang bisa cepat mengerjakan naskah. Bahkan lebih senang jika kreatif dan memberikan masukan terhadap naskah tersebut. Plus mau membantu menjualkan ketika naskah itu sudah berbentuk buku.
Penerbit juga mau dengan penulis yang total mengerjakan naskah itu. Biarpun naskah hanya lima puluh halaman, tapi mau membaca rujukan setebal seribu lima ratus halaman.
Dan para penjaga gawang di penerbitan ini, banyak berkeliaran di sosial media. Mereka akan menghubungi penulis yang mereka anggap layak dengan kriteria mereka.

Teruslah menulis.
Alhamdulillah tahun ini saya menulis 14 naskah pesanan penerbit. Duabelas sudah selesai, dua sedang disusun. Tapi bukan berarti saya santai-santai setelah itu.
Di sela-sela menulis, saya masih bisa mengajar kelas menulis, masih bisa menulis naskah sendiri, masih bisa ikut lomba, masih bisa ngajarin anak, masih nulis di blog juga.
Buku ini adalah buku yang diorder penerbit kepada saya. Beberapa foto di dalamnya, saya jepret sendiri dan susun sendiri.

Pingin diorder penerbit?
Tulis yang banyak, sebanyak-banyaknya.
Berdoa sebanyak-banyaknya.

Penulis, Perlukah Bisa Bicara di Depan Umum?

“Aku penulis.” Saya ingat dulu itu yang saya katakan dengan kaki gemetar.
Iya, saya penulis. Saya jadi penulis karena merasa nyaman tidak perlu tampil di atas panggung, untuk menyuarakan suara hati saya. Dulu zaman SD, saya memang terbiasa untuk tampil. Dari baca puisi sampai menyanyi, dan menari. Itu juga tanpa dorongan orangtua. Tapi kepercayaan itu datang dari guru, ustadz, juga teman.

Lama kelamaan setelah saya kenal menulis, saya lebih nyaman untuk tidak di panggung. Saya lebih suka menuangkan semuanya dalam bentuk tulisan. Semuanya. Karena semuanya itu sudah saya luapkan dalam bentuk tulisan, maka dampak baiknya adalah saya tidak butuh bersuara. Saya merasa nyaman dengan dunia sendiri. Merasa orang menuduh ini dan itu tidak apa=apa. Sudah saya tuangkan semuanya dalam bentuk tulisan.

Semakin lama lagi ternyata saya seperti punya dunia sendiri. Membangun angan-angan sendiri, komunitas dalam angan-angan. Orang lain tidak mengerti tidak masalah. Saya sudah bahagia.

Akhirnya….

Akhirnya si katak dalam tempurung, Bapak selalu mengingatkan agar saya jangan jadi katak dalam tempurung. Saya jangan merasa sudah oke. Uh, jadi ingat si anak SMA yang sedang booming di sosial media. Seusianya berteman dengan berbagai macam buku, pastilah akan menemui kondisi seperti saya. Susah menemukan lingkungan yang pas untuk diajak ngobrol. Untung zaman dulu tidak ada sosial media. Jadi semua pikiran dan keanehan hanya berkecamuk untuk diri sendiri saja.

Begitu saya memutuskan untuk berubah, maka perubahan itu terbentang di depan mata. Ketika itu saya putuskan, saya harus kuliah di tempat yang umum, bukan lagi di Universitas Terbuka. Tujuannya biar saya punya lingkungan dan teman sepergaulan. Dari sana mungkin saya bisa belajar untuk berjalan mundur.

Terlambat lima tahun saya ketika masuk kuliah. Teman-teman saya lima tahun lebih mudah. Ada memang yang lebih tua dari saya, tapi kebanyakan pegawai yang butuh gelar untuk kenaikan jabatannya.
Bersyukur karena biasa menulis, dan semua beban masalah tersalurkan, sehingga wajah saya tidak menua. Artinya ketika kumpul dengan yang lebih tua, saya malah sering dianggap lebih muda.

Itu titik awal perubahan. Persis seperti satu ayat dalam Al Quran. “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” Q. S. [13] : 11.
Saya yang bisa merubah nasib. Bukan orang lain. Ketika saya berjuang untuk itu, membuka semua pintu kemungkinan, maka akan terbukalah semuanya.

Saya kuliah dan terus menulis. Uang pangkal kuliah saya bayar dari menang lomba cerita bersambung majalah Gadis dan nominasi majalah Gadis. 4 juta dulu uangnya. Uang kuliah saya bayar dengan honor-honor menulis saya.
Tentu saya memperkenalkan diri sebagai seorang penulis kepada dosen dan teman-teman. Pada masa itu, kebetulan saya produktif. Produktif yang menjadi keharusan, karena saya harus bayar kuliah.
Karena produktivitas itu, saya diminta beberapa media untuk tampil dalam acara media tersebut. Acara di beberapa kota.

Tampil? Iya, tampil yang sebenarnya tampil. Jadi pembicara pula. Dan lawannya orang-orang yang sudah punya nama besar. Alhamdulillah, saya tambah grogi. Tapi bahagia.
Lalu pihak universitas juga minta saya jadi pembicara di kampus beberapa kali. Audience dosen dan teman kampus. Grogi juga. Karena si audience anak-anak FISIP yang waktu itu lagi senang demo menentang orde baru. Tapi saya tidak dibantai kok. Tahulah mereka, saya bukan teman yang suka ribut dan suka menjatuhkan orang. Jadinya mereka pun hati-hati bersikap kepada saya ketika saya di panggung.

Lanjut Terus

Saya pikir pengalaman bicara di depan umum itu, akan berhenti sampai di situ. Jadi ibu rumah tangga, tetap nulis. Kembali ke zona nyaman. Bukan jadi pembicara setelah itu. Karena saya ngantor dan malah sering dipercaya jadi pengajar karyawan baru.
Keahlian mengajar melebar, akhirnya jadi mengajar anak-anak tetangga.
Saya nyaman menulis dalam keheningan. Baru sadar kalau saya harus tampil ketika saya menerbitkan buku dan diminta launching.
Saya tidak suka berpenampilan yang aneh-aneh. Maka saya selalu tampil seadanya. Adik-adik saya yang suka protes, kadang mereka memilihkan baju yang pas untuk saya. Biar enak dilihat, begitu kata mereka.

Saya harus mau berkembang. Saya harus berani tampil.
Satu jam atau setengah jam sebelum tampil, biasanya saya sudah ada di tempat. Saya harus membayangkan diri saya ada di sana. Saya bisa memahami lokasinya, audiencenya.
Biasanya saya juga hanya akan bicara tentang menulis sesuai keahlian saya.
Tapi pernah ketika jadi pembicara di UNS yang dihadiri dosen dan seratus orang mahasiswa, saya berdoa sambil memasukkan kekuatan ke otak saya. “Hei, Nur, mereka itu gak tahu apa-apa tentang menulis. Meski mereka ada di fakultas sastra, tapi pengetahuan mereka masih minim. Kamu punya banyak ilmu yang bisa dibagi untuk mereka.” Itu kalimat yang terus saya dengungkan di kepala saya.
Biasanya setelah itu lancar.
Di tempat lain juga seperti itu. Mereka yang datang, ingin mencari ilmu. Kenapa saya harus takut berbagi ilmu?

Saya terus berproses. Menyadari bahwa penulis zaman sekarang tidak bisa lagi bersembunyi di balik tulisannya. Orang ingin tahu lebih banyak, siapa penulisnya. Apakah kebaikan yang ditulis penulis, benar tercermin dari sikapnya? Apakah ilmunya benar diresapi atau sekedar copy paste.

Saya masih terus belajar untuk itu. Memperbaiki diri, memperbaiki kualitas tulisan, dan memperbaiki kualitas ketika harus tampil. Tujuannya biar yang menerima ilmu saya merasa nyaman dan ilmunya bisa merasuk lebih dalam lagi.

Mengajarkan Perbedaan Pada Remaja

Buku harian bergambar Doraemon itu terbuka. Ada kalimat pendek yang membuat saya tersentak ketika membacanya. “Aku seneeeng banget. Hari ini bisa pergi belanja di Naga bareng temen. Tapi Ya Allah…, aku gak shalat.”

Saya menarik napas panjang ketika membaca buku harian itu. Napas sangat panjang. Mungkin hal seperti itu tidak akan dimengerti oleh orangtua lain, yang beranggapan bahwa anak bebas melakukan apa saja. Tapi tidak untuk saya.
Sama perihnya seperti ketika menyekolahkan Sulung di sekolah umum. Kebetulan jadwalnya masuk siang mulai dari jam dua belas lebih lima belas menit.
Teman-temannya pergi ke sekolah pada jam setengah dua belas. Mungkin dia juga ingin merasakan hal yang sama.
Maka saya biarkan ia pergi bersama teman-temannya. Pulang sekolah, ada sesuatu yang aneh di wajahnya. Seperti ingin bicara tapi takut.
“Tadi kamu enggak shalat di sekolah?”
Dia mengangguk. Azan dzuhur pada waktu itu jam setengah satu. Dia tidak berani untuk minta izin ke luar kelas. Teman lainnya tidak ada yang izin untuk shalat.
Perih yang saya rasakan pada saat itu, mungkin ada dirasakan lebay oleh orangtua lain, yang beranggapan bahwa hal itu biasa saja.

Saya Bukan Kamu

Ada perbedaan. Banyak perbedaan di sekeliling kita. Menjadi sadar bahwa kita adalah unik, dan keunikan itu harus terus digali, membuat saya tidak pernah takut berbeda.
Dulu ketika SD, cuma saya dan dua teman saya yang suka ke perpustakaan dan meminjam buku-buku perpustakaan. Hasilnya juara satu, dua dan tiga nilai tertinggi pada masanya kami yang meraih.
Perbedaan dalam agama, solusinya hanya satu. Harus terus menuntut ilmu dan berjuang menggali ilmu yang benar, dari para ahli agama. Bukan belajar dari orang yang hanya menafsirkan ayat sesuai versi mereka.
Tidak perlu berdebat di sosial media soal agama. Kalau rasa ingin berdebat meninggi, lebih baik berjuang membaca buku-buku dan menambah ilmu.

Perbedaan itu normal. Jika saya suka merah, tetangga suka kuning, itu perbedaan juga namanya. Jadi kalau tetangga mengecat rumahnya dengan warna kuning, saya tidak boleh ngamuk dan bilang tetangga tidak toleran. Semua ada batasannya. Semua tergantung cara kita menyikapinya.

Lanjut ke dua anak remaja yang memang saya perhatikan betul perkembangannya. Mereka yang membuat saya keukeuh menolak tawaran untuk ngantor lagi secara full. Baru setelah mereka remaja, dan saya sudah yakin kemandiriannya, saya siap lagi menerima tawaran untuk ke sana dan ke sini, belajar sehari dua hari meninggalkan mereka, seizin ayahnya anak-anak.

Semua perbedaan sah. Kalau dalam rumahtangga adanya konflik karena perbedaan. Mau langgeng, mari bergandengan tangan. Mau berantakan, silakan dengan ego masing-masing. Cari titik temu, dan mau berubah ke arah yang lebih baik. Berubah karena memang yakin perubahan itu mendatangkan kebaikan, bukan karena tekanan dari pasangan.

“Ibu, aku takut berbeda,” ujar Sulung suatu hari.
Anak yang diajarkan dengan perbedaan sejak dulu, ternyata masih takut juga bila berhadapan dengan perbedaan.
“Kalau aku berbeda dari teman-teman soal agama…”
Saya hanya menjentikkan jari telunjuk dan jempol saya. “Perbedaan itu kecil. Terus belajar saja. Ibu yang akan ngajarin kamu,” ujar saya.
Semakin diulang-ulang ketakutan itu, semakin belajar saya, untuk terus berdiskusi.

“Ibu…., temanku tuh gak ada yang nulis,” ujar Bungsu suatu hari. Ia tidak mau menulis, juga membaca. Teman-temannya tidak suka melakukan hal itu.
Maka saya hanya bilang, bahwa berbeda itu tidak enak. Tapi hasilnya baru akan terasa kelak, puluhan tahun ke depan. Ketika teman kamu masih berpijak di tempat yang sama, kamu sudah ada di mana-mana. Ketika teman kamu masih ada di atas lautan, kamu sudah masuk dan melihat banyak macam keindahanya.

Perbedaan itu fitrah.
Itu yang saya ulang-ulang pada anak-anak. Harus terus cari ilmunya agar hidup terus berjalan maju tidak mundur.
Sebagai ibu yang bekerja di rumah, dan suka sekali membaca buku, saya jelas merasa berbeda dengan para tetangga. Tapi mengucilkan diri dan membuat perbedaan itu semakin besar juga aneh rasanya. Maka cara yang saya tempuh adalah dengan meminjamkan buku-buku saya pada mereka, dan mengenalkan pekerjaan yang bisa dikerjakan di rumah. Jadi ketika saya tidak kumpul di sore hari, mereka paham saya sedang bekerja dari rumah.

Dan hasil perbedaan yang dua remaja dapatkan adalah, menjadi diri sendiri. Prestasi yang mereka dapatkan adalah buah dari pelajaran fokus meniti jalan yang berbeda.

Ning dan Kue Kering Tanpa Telur

Kelopak matanya terbuka lebar. Sebuah gambar yang Ning tunjukkan membuat senyumnya mengembang.
“Mau mencoba?”
Ning memandangi kue itu. Kue kering berwarna putih. Dengan tulisan resep di bawahnya. Dari sebuah akun instagram.
Sebuah kue tanpa telur tanpa terigu.
“Hanya 125 gram butter/margarine, 80 ml susu kental manis dan 200 gram maizena.”

“Hanya itu?”
Ning mengangguk.
Hanya itu saja bahannya. Mungkin hanya akan menghasilkan sedikit kue. Mungkin Ning harus membuat takaran dua kali lipat agar bisa menghasilkan lebih banyak lagi.

Maka pada pagi menjelang siang, setelah dua kali putaran sepeda, Ning memutuskan.
Kue kering sederhana harus mengisi toples-toples kosongnya hari ini.
Dua kali dari bahan yang disebutkan.
Dicetak dengan alat pencetak kue.

Ning mencampur mentega bukan butter, dengan susu kental manis. Setelah tercampur rata dan diaduk dengan garpu, Ning memasukkan tepung maizena.
Adonan masih terasa lembek, tapi Ning tidak paham ukurannya.

Oven sederhana itu sudah di atas kompor. Adonan sudah berada di loyang dan dibentuk. Loyang tidak perlu disemir mentega lagi.
Kue dimasukkan dan meleleh sempurna.
“Meleleh,” ujar Ning seperti putus asa.
Kelopak mata lelaki itu mengecil. Menunjuk tepung terigu yang ada. “Mungkin perlu ditambah terigu.”

Dan lelaki yang ada di samping Ning membantu sepenuh hati. Mencetak setiap adonan dengan alat pencetak yang tinggal ditekan.
Ning ditinggal sendirian ketika semua cetakan sudah berada di dalam loyang.

Kue-kue itu dimasukkan ke dalam oven.
Menunggu beberapa saat.
Mengering dan matang.

“Seperti rasa kue kering sagu keju,” ujar lelaki itu dengan kelopak terbuka dan senyum mengembang lebar.
Ning tersenyum.
Toples-toplesnya berisi kue kering lagi.
Dan ia pun tersenyum lega.

Ketika Proses Mengeja Juz Amma, Membuat Generasi yang Tidak Instant

Pernah mengaji?
Mengenal juz amma versi tahun 1970 an?

Saya produk mengaji tahun 1970 an, dan menghasilkan anak-anak dengan produk tahun 2000 an. Saya dulu mengaji di madrasah dan mengaji ke seorang guru ngaji. Dua kali mengaji sepulang skeolah.
Pulang sekolah, istirahat sebentar, makan ganti baju dengan seragam madrasah, lalu pergi ke masjid yang berfungsi sebagai madrasah.
Apa yang diajarkan di sana?
Banyak termasuk ilmu fiqih, hadist, tajwid, Bahasa Arab, sampai hafalan Al Qur’an.
Pulang lagi, malam sehabis maghrib saya kembali lagi mengaji ke guru ngaji untuk khusus belajar tajwid dan membaca Al Quran. Otomatis tidak ada waktu untuk belajar di sekolah, ya.
Tapi entah kenapa pada masa-masa itu, masa SD dan SMP, nilai saya selalu tinggi. Hingga saya bisa mengambil kesimpulan bahwa yang melancarkan otak saya adalah karena mengaji.
Soalnya ketika besok ada ulangan, kok bisa tiba-tiba terbersit di otak pelajaran yang harus saya pelajari dan menurut feeling saya akan ke luar. Dan besoknya itu terjadi.
Pernah, ada soal yang saya tidak pernah belajar sama sekali.
Guru di sekolah hanya mengajari tentang kaum Muhajirin. Lalu di tes ada soal tentang kaum Anshor. Maka logika saya hanya mengajak untuk menjawab dengan logika berdasarkan ilmu tentang kaum Muhajirin.

Mengaji Zaman Dulu

Apa, sih, yang dipelajari dalam pengajian zaman dahulu?
Kami mengaji untuk lancar membaca Al Qur’an dengan juz amma model seperti di atas. Waktu itu belum hadir buku Iqra yang langsung membaca a i u.
Untuk menghasilkan kata a i u, kami harus mengenali huruf satu persatu lebih dahulu. Dari alif sampai ya.
Setelah semua huruf kami kuasai, maka mulai mengeja.
Alif fathah a, a.
Alif kasrah i, i.
Alif dhomah u, u.
A i u.

Kami tentunya tidak bisa langsung membaca dalam satu pertemuan. Setiap pertemuan lanjut tidaknya ditentukan dengan kemampuan kami.
Setelah itu ada proses menyambung huruf. Huruf di depan, huruf di tengah dan huruf di akhir.
Setelah lancar semua, horeee kami naik tingkat.
Bisa membaca juz amma alias surah pendek di juz 30. Dimulai dari Al Fatihah. Tapi selancar apapun kita sudah bisa mengeja, tetap surah itu harus diejak juga.
Misalnya
Bismillahirrahmanirrohiim
Dieja dulu dengan ba sin mati kasrah bi. mim lam lam tasjid kassrah mil, lam fathah la, ha ra tasjid kasrah hir, ra fathah ra, mim fathah ma, nun ro tasjid kasrah nir, ra fathah ra, ha kasrah hi, mim kasrah mim.
Baru bisa baca langsung kalimat bismillah.
Dan sepanjang membaca surah Al Fatihan harus dieja seperti itu. Jadi sekali setor ke ustadzah tidak ada yang bisa langsung selesai dari ayat pertama sampai ayat terakhir.Paling mentok hanya dapat tiga ayat.

Tapi apa yang saya dapat dari hasil mengeja seperti itu?
Saya ternyata menjadi generasi yang setia pada proses, tidak patah semangat.
Dan mudah membuat target yang dipatuhi untuk mencapai target tersebut.

Anak-Anak Hebat di Sekolah Alam Bogor

Seminggu yang lalu ada pesan masuk di inbox FB saya. Pesan dari Ruri Irawati yang bertanya. Maukah saya mengisi sharing kepenulisan di Sekolah Alam Bogor, tempat anaknya menimba ilmu?
Ruri Irawati ini enam belas tahun yang lalu pernah jadi teman sekantor saya, lalu kami bertemu di FB dan dia jadi murid menulis saya.

Sharing kepenulisan saja sudah membuat saya melonjak girang. Audiencenya anak-anak, membuat saya bahagia. Dan sekolah alam, membuat rasa ingin tahu saya yang besar semakin membesar saja.
Ketika saya bilang oke, Ruri lalu menghubungkan saya dengan Pak Erfano. Pak Erfano ini yang membina klub menulis di Sekolah Alam Bogor.
Saya terhubung dengan Pak Erfano. Lalu beliau bicara tentang tekhisnya. Fee saya sebagai pembicara dan hal detil lainnya. Termasuk di mana acara itu berlangsung.
Oke. Setuju. Saya ditanya mau pakai apa? Jika ingin slide nanti akan dipersiapkan. Tapi sungguh berkali-kali mengajar, saya tidak suka menggunakan slide. Alasannya sederhana. Saya tidak ingin orang terkantuk-kantuk mendengarkan penjelasan saya. Dan saya tidak mau gambar-gambar di dalam slide jadi lebih menarik dari paparan saya.

Wayang-Wayangan Gambar

Persiapan yang saya lakukan sebenarnya sama dengan persiapan mengajar di Kelas Inspirasi. Hanya setelah saya browsing tentang sekolah alam tersebut, saya mulai bisa lebih mengukur audiencenya. Penyelenggara bilang audience mereka anak kelas empat, lima, enam juga anak SMP.
Pelajari fanpage dan web sekolah alam, saya mulai bisa mengukur audiencenya. Mereka yang sudah mulai terbiasa dengan klub menulis, pastilah punya sesuatu tentang ilmu menulis, yang sudah disampaikan oleh guru-gurunya.
Mereka yang setiap tahu ada program literacy, pastilah punya ilmu lebih ketimbang yang lainnya.
Dan mereka dididik dekat dengan alam dan bebas berekspresi, pastilah akan menjadi responden yang aktif.

Saya persiapkan semuanya.
Termasuk buku-buku yang sesuai. Saya punya buku dari Room to Read, dan tentunya bisa dipakai untuk kalangan mana saja.
Saya buatkan gambar saya print dan ambil dari internet, lalu tempelkan di tusuk sate yang saya punya di rumah.
Setiap gambar itu nanti bisa jadi panduan ide untuk mereka.

Pada Hari H

Persiapan untuk semuanya sudah beres. Sudah saya masukkan semua ke dalam tas. Jadi pagi tinggal beres.
Beres-beres cucian, setrikaan juga sudah. Maklum saya tidak bisa meninggalkan rumah dalam keadaan berantakan. Takut nanti pulang capai, saya jadi kesal dengan kondisi yang ada.

Pak Suami mengantar ke stasiun. Anak-anak sekolah. Bersyukur Pak Suami ada deadline majalah dan komik, jadi pastilah deadline itu diselesaikan di rumah. Artinya tidak ada klien yang meminta datang ke kantornya.
Aman. Saya bisa berbagi ilmu sekaligus bekerja dengan leluasa, tanpa memikirkan lauk untuk makan siang. Karena kalau Pak suami ada di rumah, urusan lauk masalah gampang.

Berangkat jam setengah enam dari rumah menuju stasiun Bekasi. Bersyukur dapat kursi di commuter. Meskipun penuhnya minta ampun.
Turun di Manggarai, lanjut commuter menuju Bogor. Alhamdulillah sepanjang perjalanan saya bisa leluasa duduk, karena commuter menuju Bogor kosong.
Sampai di Bogor jam setengah sembilan kurang. Masih bisa ke musholla untuk minta yang terbaik.

Setelah itu tanya via WA ke Ruri, setelah itu saya harus naik apa? Ruri bilang sebaiknya naik ojek saja, takutnya jam segitu Bogor macet.
Okelah, di pintu ke luar stasiun banyak abang ojek menawarkan jasa. Kenapa bukan ojek online? Itulah yang dinamakan rezeki. Entah kenapa saya malas naik yang online kalau tidak terpaksa. Mungkin juga karena saya paling malas terima telepon atau menelepon. Saya lebih suka via chating saja.

Ojek sudah dapat. Sekolah Alam Bogor konon katanya dari stasiun hanya butuh waktu 19 menit. Saya beri alamatnya jalan Pangeran Asogiri. Kata tukang ojeknya tahu sekolah itu.
Naik ojek seperti itu membuat saya bisa melihat bermacam pemandangan. Merasakan berkeliling kota Bogor. Sekolah Alam itu ternyata jauh juga dari stasiun. Dan saya suka jalan ke arah sana, seperti masuk ke area Puncak. Berkelok mendaki dan menurun.
Asyiklah untuk berpetualang.

“Bu, di sini, kan?” tanya si Tukang Ojek.
“Pangeran Asogiri, Pak. Ini Sogiri,” ujar saya.
Si tukang ojek berhenti di depan pesantren. Sambil bilang kalau yang dikenal di jalan itu adalah pesantren. Sambil bilang, ibu sih gak bilang kalau pangeran Sogiri. Kalau bilang kan dicari jalan yang lebih cepat.
Helloooo…
Ah biasalah begitu. Itu juga karena omongan negatif saya di awal, sih. Saya bilang, “Bang, saya jangan diajar muter-muter, lho. Nanti diajak muter jauh, tahunya dekat.”
Akhirnya kenalah omongan negatif itu ke saya.
Si Abang tukang ojek berbaik hati mencarikan, turun dan bertanya. Ongkosnya ditambah.
Akhirnya setelah lima kali bertanya, sampailah saya di Sekolah Alam Bogor.

Semangaaaat

Ketika diundang jadi pembicara atau pengisi acara, saya memang membiasakan datang lebih dahulu dari jamnya. Alasannya karena agar saya bisa merasakan atmosfirnya. Bisa melihat audicenya. Dan ini tentu saja sarana ampuh untuk menghilangkan grogi.
Tapi terbiasa bergaul dengan anak-anak, sedikit banyak yang menguasai hanyalah semangat. Apalagi guru-gurunya welcome dan baik hati.

Saya didampingi oleh Bu Monik, ibu guru favorit para murid, karena memang luwes pada anak-anak.
Sesuai kesepakatan di belakang panggung, Ibu Monik menjelaskan tentang siapa saya.
Lalu saya naik panggung.
Mau apa?
Berdiri di atas panggung, di hadapan anak-anak, yang pertama dilakukan adalah berbagi semangat. Semangat menulis. Maka saya ajarkan mereka tepuk menulis.
Anak-anak mulai sedikit tersengat.

Saya mau bicara apa, ya?
Saya mau meluaskan imajinasi anak-anak dengan menyingkirkan segala ketakutan. Menulis itu jangan takut. Apa yang ada diimajinasi tulislah.
Dan jangan sekedar menulis saja, tapi pikirkan ide yang unik. Ide dengan sudut pandang berbeda. Tujuannya agar cerita yang mereka buat menjadi menarik di mata pembacanya dan mereka juga suka membaca ulang kisah mereka karena seru.

Kalau teori saja akan membuat anak mengantuk. Percayalah.
Maka Ibu Guru harus berani turun panggung.
Turun panggung berulang kali. Memberikan gambar dan contoh ide yang unik, sampai anak-anak paham. Tandanya paham apa? Tandanya paham tentu saja mereka bisa menjawab lemparan gambar saya, jadi ide yang berbeda. Huah… saya terkejut-kejut. Mereka bukan cuma menuliskan ide, tapi berani maju ke depan untuk bertanya dan memaparkan ide mereka.

Saya berkeliling. Naik turun panggung itu adalah salah satu cara agar audience mereka diperhatikan. Dari depan sampai belakang beberapa kali. Mereka berlomba menunjukkan kertas tulisan mereka.

Oh ya, selama acara Ruri jadi juru foto saya. HP saya serahkan padanya, biar bisa mengambil semua angle. Meski pakai kamera HP saja, tapi apa yang tertangkap bisa buat dokumentasi berharga untuk saya. Thanks, Ruri.

Satu jam sesi tentang ide unik selesai. Sedikit latihan juga mereka kuasai. Saatnya berlomba membuat tulisan dengan ide yang unik. Saya menggambar di papan tulis, dan saya minta mereka menerjemahkan gambar itu.
Dan hu hu saya terharu. Ketika mereka berlari menuju kelas mereka untuk mengambil kertas, dan setelah itu mengumpulkan kertas berisi tulisannya.

Duh melihat mereka berjuang menulis, saya senang sekali.

Ada seratus kertas yang harus saya cek idenya. Kalau sudah biasa menilai, maka mudah untuk melihat sudut pandang penilaiannya.
Ada tujuh yang terpilih dan idenya unik.
Dan hebatnya dari tujuh orang itu, lima orang adalah anak laki-laki, sisanya perempuan.
Ada satu yang membuat saya terharu. Seorang anak berkebutuhan khusus, yang dari awal selalu berani mengungkapkan idenya, juga ikut menyerahkan hasil tulisannya. Meski idenya belum bagus, dan tulisannya kurang jelas, tapi saya berbisik ke Bu Monik. Saya ingin memberikan reward pada anak itu. Setelah tujuh anak turun panggung, anak itu naik ke atas panggung.

Saya juga mendapat kenang-kenangan, berupa merchandise hasil kerajinan tangan dari anyaman kertas murid sekolah alam, plus buku karya mereka juga piagam penghargaan.

Ruri mengajak saya kuliner di Bogor merasakan tauge goreng. Enak rasanya tauge goreng, Apalagi cuaca di Bogor mendukung, mendung gelap.
Setelah kenyang tauge goreng, kami pulang ke rumah Ruri. Saya main ke rumahnya numpang shalat juga.
Satu jam di sana akhirnya pamit pulang menuju stasiun kembali.

Pengalaman apa yang bisa didapatkan hari itu?
Dari sekolah alam saya belajar, bebaskan anak-anak, puaskan masa bermain mereka, tapi tetaplah ikat dengan akidah agama. Maka mereka akan jadi generasi hebat yang sesungguhnya.

Mendidik Anak Menjadi Pribadi Androgynous

Ada banyak cara mendidik anak. Yang sering saya lakukan adalah mengikuti apa yang orangtua saya lakukan, dengan membuang apa yang tidak sesuai untuk saya.
Ada banyak pelajaran masa lalu yang saya dapatkan.
Dan pengalaman itu yang saya bawa untuk mendidik anak-anak.
Meskipun ada juga yang tidak bisa totally 100 persen saya bawa. Yaitu didikan agar kakak mengalah pada adik. Adik saya empat orang, dengan karakter yang jauh berbeda dari saya. Proses mengalah dengan empat adik itu, membuat saya sulit untuk berkata tidak. Untuk berani menolak pun, itu saya pelajari bertahun-tahun. Dan merasa seperti terbebas dari belenggu, ketika saya bisa berkata tidak, pada orang yang sebelumnya tidak pernah saya tolak.

Anak laki-laki dan perempuan sama didikannya. Itu yang terjadi di rumah saya. Bapak bersikap tegas untuk 8 anaknya. Kalau di rumah yang ada anak perempuan, dan saat itu Bapak butuh semen, maka disuruhlah si anak perempuan untuk pergi ke toko bangunan.
Eh kok pasnya saya terus yang ada di rumah, karena saya paling betah di rumah. Maka jadilah saya sering beli semen, paku dan lain sebagainya. Pernah ada teman yang bertanya, kenapa saya mau aja disuruh ke toko bangunan?
Pernah juga waktu Bapak butuh bambu untuk bikin pagar, saya dan adik saya yang masih SD beli bambu di tukang bambu. Lalu mengantar si tukang yang membawa gerobak sampai rumah.

Anak harus patuh pada orangtua. Itu juga pelajaran dari Bapak.
Karena itu ketika pada malam hari Bapak butuh soto kambing atau yang lainnya, anak-anak akan diminta ke warung. Padahal untuk ke warung kami harus melewati rumah kosong yang luas dan lebar. Jadi bukan jalan tapi lari untuk sampai ke tukang soto.
Kalau apa yang dibeli salah, Bapak juga tidak membolehkan pasrah. Pernah saya kebagian membeli sesuatu dan si tukang salah. Saya bilang kasihan tukangnya, sembari gak enak hati untuk membalikkan barang itu. Tapi Bapak menyuruh mengembalikan barang itu, dan saya terpaksa ke toko.

Pelajaran-pelajaran itu ternyata mengena betul di hati saya. Padahal orangtua dulu tidak paham teori psikologi.

Pribadi Androgynous

Pribadi ini justru saya kenal setelah saya membaca buku parenting. Oh ternyata apa yang diajarkan Bapak dulu betul, ya.
Di rumah saya biasa melihat Bapak masuk ke dapur, sampai menyetrika pakaian. Dan di rumah juga biasa, kalau perempuan pegang gergaji atau palu. Yang anak laki-laki berada di depan ulekan juga biasa.

Pribadi androgynous sendiri pribadi yang memilik sifat seimbang.
Laki-laki akan tumbuh sebagaimana laki-laki, tapi ia memahami sisi feminim dengan kadar secukupnya.
Individu androgyny memiliki panduan karakteristik laki-laki dan perempuan. Dan panduan ini membuat mereka menjadi fleksible dengan situasi di mana mereka berada.
Lelaki bisa bersikap semestinya laki-laki, tapi ia bisa memiliki kelembutan yang tentunya akan bermanfaat ketika berumah tangga.
Perempuan memiliki sisi kelembutan, tapi ia juga bisa tegas dan cekatan ketika berada pada satu situasi tertentu.
Menurut para ahli sebenarnya perempuan memiliki sikap animus (maskulin) dalam dirinya. Dan laki-laki memiliki sikap anima (feminim) dalam dirinya.

Apa yang Bapak saya lakukan dulu ternyata sangat efektif untuk saya. Saya terbiasa memanjat pohon tinggi. Masuk ke dalam rumah tangga, biasa bersentuhan dengan paku, palu juga semen. Sedikit dengan listrik karena kadang-kadang salah sambung juga dan konslet.
Dan untuk hal-hal yang sifatnya kecil, didikan itu ternyata membuat saya sigap bersikap.
Kalau ada kucing mati, jangan nunggu suami untuk menguburnya. Ambil pacul, pacul tanah, kuburkan. Sesederhana itu.

Dan kebetulan juga saya berjodoh dengan suami yang mendapat didikan yang sama. Jadi ketika saya sedang capek, yang masuk dapur adalah suami. Yang mengepel lantai adalah suami. Tidak ada yang merasa, kenapa ini jadi tugas aku? Sebab semua ada porsinya juga.

Mendidik Anak

Mendidik anak menjadi pribadi seperti ini, bagaimana caranya?
Kalau saya, hanya meneruskan apa yang orangtua saya lakukan.
Tugas mencuci piring setelah digunakan, adalah tugas setiap anak. Laki-laki perempuan sama saja. Selesai makan, cuci piring mereka.
Tugas membeli sesuatu di warung sembako atau warung makan, adalah tugas bersama. Semua bisa melakukannya.
Tugas membantu orangtua adalah tugas bersama. Siapa yang sedang ada di rumah, dan pada saat itu orangtua butuh bantuan, maka ia yang harus mau ringan tangan membantu.
“Kenapa, sih, harus bantu? Kan Ayah bisa sendiri?” itu biasa anak-anak katakan.
Saya cuma bilang.
“Kalau orangtua tidak minta bantuan, itu artinya kalian yang rugi. Karena pahala kalian tidak tambah. Sayang, kan? Lagipula nanti kalian akan jadi orangtua, dan akan merasakan hal yang sama.”

Jadi kalau ada yang melihat suatu hari anak perempuan saya naik genteng, dan anak laki-laki saya menenteng telur dari warung, sungguh itu bukan karena saya mengajarkan agar mereka menjadi kelaki-lakian atau keperempuan-perempuanan.
Tapi ini dalam rangka agar mereka menjadi manusia yang paham sisi lain karakter manusia.

Lomba Menulis Novel Universitas Negeri Semarang

Universitas Negeri Semarang menyelenggarakan sayembara penulisan novel tingkat internasioal (Unnes International Novel Writing Contest 2017). Melalui sayembara ini para penulis diharapkan dapat mengeksplorasi nilai-nila budaya lokal untuk menumbuhkembangkan solidaritas kemanusiaan.

KETENTUAN UMUM:

Mengisi formulir pada tautan daring http: unnesnovelcontest.com
Peserta hanya diperbolehkan mengirimkan satu naskah novel.
Naskah belum pernah dipublikasikan dalam bentuk apa pun, baik sebagian maupun seluruhnya.
Naskah tidak sedang diikutkan dalam sayembara serupa.
Naskah dapat ditulis dalam bahasa Indonesia, Melayu atau Inggris.
Tema: eksplorasi nilai-nila lokal untuk kontruksi solidaritas kemanusiaan.
Naskah adalah karya asli, bukan saduran, bukan jiplakan (sebagian atau seluruhnya).
KETENTUAN KHUSUS:

Panjang karya 40.000—100.000 kata, halaman A4, spasi 1,5, huruf Times New Roman ukuran 12.
Peserta mengirimkan salinan tanda pengenal beserta naskah novel.
Peserta tidak perlu membubuhkan nama penulis di dalam novel.
Naskah dikirim melalui tautan unnesnovelcontest.com
Batas akhir pengiriman naskah: 11 September 2017
HADIAH :

1. Pemenang I Rp. 20.000.000

2. Pemenang II Rp. 15.000.000

3. Pemenang III Rp. 10.000.000

4. Untuk 10 karya pilihan juri @ Rp. 2.000.000

LAIN-LAIN:

Pemenang akan diumumkan dalam Anugerah Unnes International Novel Writing Contest 2017
Hak Cipta dan hak penerbitan naskah peserta sepenuhnya berada pada penulis.
Keputusan Dewan Juri tidak dapat diganggu-gugat dan tidak diadakan surat-menyurat.
Pajak ditanggung pemenang.
Sayembara ini tertutup bagi panitia dan keluarga inti Dewan Juri.
Maklumat/informasi dapat diakses di tautan unnesnovelcontest.com
Dewan Juri terdiri atas Dr. Seno Gumira Ajidarma, Prof. Agus Nuryatin, dan Prof. Suminto A Sayuti.

SUBMIT NASKAH

IN HERE

KONTAK :

Muhamad Burhanudin
unnesnovelcontest@gmail.com
+62 85743563778

Izzati
unnesnovelcontest@gmail.com
+62 85 727 462 643

Klik Di sini

Lima Tahun ke Depan yang Abstrak

Pernahkah kita takut dengan masa depan anak-anak kita? Masa depan mereka yang masih jauh. Saya sebagai orangtua sungguh takut, jika lingkungan menyeret anak-anak begitu jauh. Tidak sedikit cerita dari orangtua lain yang merasa kecolongan ketika lingkungan mendekap anak mereka terlalu erat. Anak-anak mereka menjadi anak yang jauh dari orangtuanya dan susah diberi tahu.
Ada beberapa cerita yang justru datang dari para ibu terpelajar. Ketika setan menggoda dengan rasa was-was akan masa depan. Lalu membuat ibu itu mengambil keputusan membunuh anak kandung mereka sendiri.

Ketika anak-anak kecil, saya tidak terlalu khawatir. Mereka saya sekolahkan di sekolah dasar dekat rumah, yang jam belajarnya pendek. Yang ketika pulang bau keringat. Iyalah, sekolah kampung, di pinggir kali dengan teman-teman banyak dari anak-anak kampung. Ketika jam pelajaran sekolah, guru tidak ada di kelas, mereka bebas berlarian ke sana ke mari sesuka hatinya.
Masa kecil mereka puas dengan bermain. Dan saya bahagia tentu saja sebagai orangtua, tidak mau tahu apakah menurut orangtua lain, pendidikan model itu salah atau tidak. Sebab, saya yang paling tahu tentang anak-anak saya, bukan orang lain.

Arahkan Mimpi Mereka

Saya pernah menjadi remaja. Saya pernah jadi orang bimbang. Saya pernah jadi orang yang tidak dipahami mimpi-mimpi yang sama punya. Iyalah, wajar jika mimpi saya tidak dipahami. Karena Bapak yang pegawai negeri, ibu yang ibu rumah tangga dan kami tinggal di perumahan pegawai, tentunya wajar jika putaran mimpi bapak dan ibu tentang kesuksesan hanyalah seputaran sukses sebagai pegawai.
Mimpi saya jadi penulis dan punya sekolah gratis, adalah mimpi yang aneh untuk mereka. Aneh untuk tetangga kanan kiri. Dan tidak dimengerti pada saat itu sangat tidak mengenakkan. Sampai-sampai saya punya sosok khayalan seorang kakek tua, yang selalu memahami saya.
Setiap orang lain tidak mengerti, saya ciptakan sosok itu. Sehingga saya merasa seperti ada teman yang terus membimbing saya.
Tidak mau sakit hati lagi ketika orang lain tidak peduli dengan mimpi saya.

Lalu tiba saatnya saya jadi orangtua.
Anak-anak tumbuh semakin besar dan jadi remaja. Mereka memang ditempatkan di sekolah yang lebih terarah. Saya berpikir mereka sudah puas dengan masa bermain dari kecil hingga kelas enam SD. Sudah saatnya sekarang mereka belajar memahami ada aturan lain dalam belajar.
Sekolah dengan julukan plus itu tentu tidak mudah. Saya yakin karena sekolah itu membuat anak-anak semakin bertambah pemahaman agamanya. Di sekolah umum tentu saja sulit.
Tapi materi pelajaran terlalu penuh. Meski mereka mampu, tapi saya tahu mereka lelah dengan banyaknya beban pelajaran. Kalau sudah lelah seperti itu, maka mereka otomatis hanya akan seperti robot. Masuk sekolah, belajar, pulang dalam keadaan capai, Sabtu Minggu membebaskan diri dengan main telepon genggam atau nonton tipi, Membaca buku menjadi sulit karena mereka tidak merasa asyik lagi dengan membaca.

Oh tidak, saya tidak menginginkan anak-anak saya tumbuh menjadi sewarna. Saya ingin mereka menjadi berwarna-warni. Saya ingin mereka tetap memiliki perbedaan, dan keunikan masing=masing.

Okelah mereka sudah remaja. Diajak main ke sana ke sini, ayo saja. Teman-teman mereka tidak punya pikiran macamn-macam. Tidak memikirkan masa depan. Jalani saja apa adanya.
Yang perempuan merasa jomblo, karena teman-teman seumurannya lagi sibuk dengan masa jatuh cinta. Sedang ia sedang saya arahkan untuk fokus saja pada pelajaran. Perasaan suka itu seperti apa.
Saya ajak duduk bersama, lalu bicara tentang banyak hal. Lelaki ganteng, lelaki berprestasi dan lain sebagainya.

Yang laki-laki sibuk dipanggil teman-temannya. Teman-teman yang sudah jauh lebih besar. Teman-temannya akan lulus SMA, dan semuanya bingung dengan cita-citanya. Ujung-ujungnya Sulung juga ikut bingung.

Ops, ada banyak masa depan. Mereka harus tahu, bahwa seorang yang dipersiapkan akan masa depan, akan memiiki cahaya lebih terang. Cahaya itu bukan hanya untuk mereka, tapi bisa untuk penerang jalan orang lain.
Kita tidak pernah tahu mau jadi apa. Tapi mempersiapkan bekal, seperti kita membuka areal baru dengan arit yang tajam. Kita mungkin tidak melewati jalan itu, tapi ketika wawasan kita sudah terbuka akan jalan itu, kita akan bisa mengambil keputusan. Lanjut atau berhenti.

Mereka tidak tahu jalan masa depan. Wajar, namanya saja remaja. Saya yang harus mengajak mereka untuk paham.
Pertama jelas, mereka harus tahu mereka memiliki potensi, yaitu sesuatu yang berbeda dengan teman yang lain. Dan potensi itu seperti lampu untuk mereka berjalan di jalan gelap.
Mereka juga harus tahu, bahwa dengan potensi itu mereka bisa melakukan apa?
Jika teman-temannya memilih A mereka tidak takut untuk memilih yang lain.

Saya ajak mereka terus-menerus bicara. Membayangkan masa depan. Boleh menjadikan saya sebagai bahan perbandingan, apa yang saya lakukan dulu.
Boleh santai-santai. Letih terus ingin main game bola, tidak masalah. Asal ada batas waktunya. Mau ujian dan memilih main futsal, tidak masalah. Saya dulu mau ujian malah melahap setumpuk buku novel. Dan nilai ujiannya malah bagus, karena saya tidak stress menjalani ujian.

“Ada waktu yang sayang kalau dibuang percuma. Ada masa depan yang tidak datang dengan sendirinya, tapi lewat perjuangan.”
Anak-anak mengangguk. Mereka mengisi angket dari saya sambil tertawa.
Membayangkan kekhawatiran di masa depan. Mengingat hal-hal lucu di masa lalu ketika mereka kecil.
Dan empat jam kami diskusi tidak terasa, bahkan berlanjut ke tempat tidur. Sampai akhirnya saya sangat mengantuk dan mereka pindah ke kamar masing-masing.

Setahun ke depan mereka mau apa? Lima tahun ke depan mereka akan meraih apa?
Yang jelas, saya bahagia masih bisa memberikan wawasan pada mereka.
Dan mereka bebas melepaskan kekhawatirannya pada saya.
Bersyukur, karena tidak semua orangtua punya kesempatan seperti itu.

Kalian Hebat, Teruslah Hebat

“Jadi anak-anak mau cuci piring setiap hari?”
Saya mengangguk.
Dua anak memang saya biasakan untuk mau mengerjakan pekerjaan rumah. Laki-laki dan perempuan sama saja. Masing-masing punya tugas yang harus diselesaikan. Dan tugas itu menjadi tanggung jawab mereka, selama mereka ada di rumah.

“Jadi mereka mau tidak diberi uang jajan?”
Saya mengangguk.
Saya dan pasangan juga bukan orang yang dilimpahi banyak materi. Jadi setiap uang jajan yang keluar, harus tahu untuk apa. Makan minum cemilan di rumah disiapkan. Makan siang sebagai bekal sudah disiapkan juga. Jadi uang jajan sebenarnya tidak juga penting, karena di sekolah mereka tidak ada kantin. Kecuali pada hari Rabu di mana ada market day dan teman-temannya berjualan.

Untuk kegiatan futsal atau main bersama teman, mereka harus pakai uang jajan mereka sendiri.
Itu artinya?
Ibu pelit.
Saya meringis waktu anak-anak membandingkan dengan ibu-ibu temannya, yang memberikan banyak uang jajan.

Banyak hal yang akhirnya mereka bandingkan, tapi bisa jadi masukan untuk saya.
Ibu teman-temannya membebani anak-anaknya dengan les ini itu.
Ibu tidak, begitu yang selalu saya katakan. Cukup kalian suka baca buku dan mau menghafal Qur’an, maka tidak ada les ini itu, kecuali mereka yang minta. Seperti Bungsu yang minta les Bahasa Arab dan saya setujui.
Artinya mereka bertanggung jawab pada ilmu yang ingin mereka cari.
Otak mereka tidak ada beban dari saya.
Sebab saya juga tidak ingin anak-anak terpenjara dalam sebuah ruang bernama kurikulum dan tumbuh menjadi anak yang seragam.
Mereka harus punya warna sendiri dan keunikan sendiri.

Setiap pengambilan rapor saya termasuk yang tenang-tenang saja. Tidak pernah minta urutan rangking juga dari guru, tapi guru yang menunjukkan.
Foksu melihat apakah hafalan Qur’an mereka meningkat? Bahasa Arabnya gimana? Bahasa Inggris juga Bahasa Indonesia?
“Matematikanya masih kurang, nih, Bu.”
Matematika, PKN menjadi PR karena anak-anak tidak suka. Saya juga tidak suka. Materi matematika untuk SMP sekarang adalah yang saya pelajari dulu di SMA, ALangkah kasihannya jika otak anak-anak saya dipenuhi dengan teori.
PKN materi pelajarannya terlalu padat. Tidak dibuat bahasa yang lebih sederhana. Saya sebagai orangtua yang suka membaca pun, malas membacanya.
“Enggak usah dipikirkan,” begitu kata saya pada mereka. “Bebaskan otak kalian. Ibu tidak seperti orang lain.”

Bebaskan.
Saya dahulu tidak dikejar nilai oleh orangtua, malah justru santai dan melenggang dengan prestasi. Pada saat akan ujian juga, saya malah baca novel. Dan otak saya tanpa beban ketika mengerjakan tugas.
“Tapi anak sekarang beda.”
Tidak ada bedanya. Tingkat kesantaian kita sebagai orangtua yang jauh berkurang. Sehingga menekan mereka sedemikan rupa. Berpikir hanya nilailah yang menjadi sumber utama keberhasilan mereka.

“Anaknya kalem…”
Iya dua anak remaja memang dikenal kalem. Mungkin jiwa mereka lebih tenang, karena tidak dibebani banyak hal.
Mau ujian, saya biarkan main futsal.
Kalau dulu mau ujian saya harus baca buku cerita, kenapa anak saya tidak boleh? Jika itu pelampiasan stressnya, maka biarkan saja. Masing-masing punya tingkat kenyamanan sendiri.

Mereka kalem, menurut orangtua. Di saat saya mendengar ada ibu yang mengeluh karena anaknya melawan, anak-anak tidak melakukannya.
Hanya sekarang saya ingin membuat mind map untuk mereka memahami step by step umur yang akan mereka lalui.
Soal cita-cita?
Masih abstrak cita-citanya.
Biarlah doa saya yang mengarahkan mereka menuju satu titik yang membuat mereka nyaman dan orangtua bahagia.
Mereka anak hebat di mata saya, meski belum tentu di mata orang lain.