Air Peri yang Hilang

Saptorini

Akhir-akhir ini Peri Tirita kebingungan. Peri Tirita adalah peri air. Setiap hari dia bertugas membagikan air ke seluruh penghuni Negeri Maero. Tetapi sudah beberapa hari ini persediaan air Peri Tirita tiba-tiba habis. Akibatnya bunga-bunga layu, sayur mayur berteriak karena kehausan, buah-buah menjadi keriput karena Peri Tirita tak memberinya minum. Siapa yang telah menghabiskan persediaan air mereka? Sudah lama hujan tak turun sehingga peri air harus berhemat. Tapi sepertinya ada yang jail mengganggu persediaan air Peri Tirita.
“Peri Tirita … aku kepanasan, haus!” teriak Bunga Melati, Mawar, Krisan, juga Bougenvile.
“Aku sudah tak tahan. Daunku mulai menguning!” Teriak Bayam.
“Uh, gatal … gatal! Peri Tirita, aku ingin mandi biar segar dan cantik!” Kupu-Kupu tampak kuyu dan berdebu karena tak mandi.

Peri Tirita kebingungan. Dia terbang ke sana ke mari, kebiasaannya jika sedang berpikir keras. Akhirnya dia mengadu kepada Ratu Peri. “Ratu Peri, kita kehabisan air. Persediaan air kita tiba-tiba lenyap.”
“Kau yakin tidak menumpahkannya atau jangan-jangan tempat airmu bocor?” Bunda Peri mengerutkan kening.
“Tidak … tidak …! Aku tidak menumpahkannya dan tempat air itu juga tidak bocor,” bantah Peri Tirita.
Ratu Peri mendongak, diketuk-ketuknya tongkat kecil ke telapak tangan kirinya. Tiba-tiba Ratu Peri menatap Peri Tirita, jari telunjuknya bergerak-gerak. “Coba kau datangi Negara Zams dan meminta Raja Bahirim. Mereka memiliki air yang tak pernah surut.”
“Aduh … duh … duh … duh, masak aku harus mengangkut air dari Negeri Zamz?” Peri Tirita bersungut-sungut. “Sayapku bisa patah kalau harus mengangkut air sejauh itu, Ratu,” protesnya. Dikembangkan lengan bersayapnya dengan pelan.
“Jangan khawatir, aku akan menyuruh kuda terbang untuk membantumu,” Ratu Peri tersenyum.

Maka bersama kuda terbang, Peri Tirita menuju Negeri Zams. Raja Bahirim yang pemurah mengizinkan Peri Tirita mengambil air sebanyak yang dia butuhkan. Kini Negeri Maero kembali segar karena bunga, sayur, dan pepohonan telah mendapatkan air cukup. Peri Tirita merasa lega. Kini saatnya dia berisitirahat di selembar daun sawi hijau, seperti kesukaannya. Besok, Peri Tirita harus bangun pagi kembali dan membagikan air kepada seluruh penghuni Negeri Maero.
Pagi hari, daun sawi menggoyang-goyangkan batangnya agar Peri Tirita segera bangun. Seketika peri mungil lincah itu meloncat. Tugas pagi hari sudah menanti. Tapi, saat menuju tempat air, Peri Tirita dibuat kalang kabut. Ke mana airnya? Peri Tirita ternganga lebar melihat tempat penyimpanan air hampir kosong. Semua peri dia tanya. Namun, tak ada yang tahu ke mana hilangnya persediaan air Peri Tirita. Semua tahu, belum ada peri satu pun yang memakainya pagi itu.

“Peri Tirita … peri Tirita! Aku melihat sesuatu.” Peri Smarta berteriak-teriak, dan segera menarik Peri Tirita menuju suatu tempat.
Dari balik rumpun bunga, mereka melihat seorang gadis kecil yang sedang bermain sendirian. Ada dua ember besar berisi air. Sebuah selang melingkar-lingkar dengan air yang deras menguscur tampak tergeletak di samping gadis kecil itu. Peri Tirita dan Peri Smarta mengikuti jejak selang. Duh … duh … duh … ternyata selang itu tersambung ke lubang di bawah penampungan air milik Peri Tirita. Itu adalah lubang pembuangan saat Peri Tirita membersihkan dan menguras tempat penampungan agar terjaga kebersihannya.
Gadis kecil itu sangat menikmati permainan airnya dengan selang yang mengucurkan air ke ember, ke tembok, kayu tua, kucing yang melewatinya, juga rombongan semut yang berbaris membawa makanan. Dia juga mengisi semua botol mainannya. Setelah puas, kini dia melumuri seluruh badannya dengan busa sabun. Gelembung busa melayang-layang di sekitarnya. Setelah puas bermain busa, dia mulai mengguyur badannya dengan air. Satu ember mulai kosong. Tapi gadis cilik itu mengguyur badannya lagi … lagi … lagi … hingga air di ember kedua pun hampir tandas.

Peri Tirita terbelalak. Seharusnya untuk mandi gadis sekecil itu, satu ember berukuran sedang sudah cukup. Tapi gadis itu menghabiskan hampir dua ember besar air.
Dan … Peri Tirita bersama Peri Smarta berteriak tertahan ketika gadis cilik itu menuangkan air terakhir ke seluruh tubuhnya.
Peri Tirita terduduk di atas tanah sambil menatap dua ember kosong yang kini terguling. Pantas persediaan air di Negeri Maero cepat sekali menyusut, apalagi ketika peri hujan belum juga diperintahkan untuk membagi airnya.
Berarti Peri Tirita harus segera ke Negeri Zams lagi. Peri Tirita berpikir sejenak. Dia memang sangat kesal karena harus pergi jauh, gara-gara gadis cilik itu. Tapi … sepertinya ada yang lebih penting yang harus dia lakukan. Harus ada yang mengingatkan gadis cilik itu agar tak membuang air dengan percuma. Tapi siapa yang bersedia? Peri Smarta langsung menggelengkan kepala ketika diminta. Peri Tirita terbang ke sana ke mari. Tiba-tiba senyum Peri Tirita mengembang menatap kalian, yang sedang membaca cerpen ini. “Aha, kalian pasti mau melakukan, bukan?”