Bambang

Didi menggeleng. Wajahnya mulai ditekuk. “Ndak mau, Om! Ini ada,” jawab Didi. Tidak lama tangisnya pecah. Orang-orang mulai melihat kepada kami. Ehm, sepertinya Didi mulai mengeluarkan jurus andalannya.

Waktu itu, saya menyempatkan diri pulang ke Gombong, kampung halaman Bapak saya. Selain menjenguk Ibu dan keluarga lain, juga ziarah ke makam Bapak. Gombong itu sebuah kota kecamatan di Kabupaten kebumen Jawa Tengah.
“Ambang, dalan-dalan,” sambut Didi, keponakan saya. Umurnya 4 tahun dan anak pertama Mbak Dewi, Kakak perempuan saya.
Untuk beberapa kata, ucapan Didi belum begitu jelas. Bahkan untuk mengucapkan Om Bambang, Didi menyebutnya Ambang.
“kemana?” saya balik bertanya.
“Itu, Om. Besok, ada acara lomba mewarnai di Manunggal,” jawab Mbak Dewi. Manunggal itu lapangan di Gombong. Di sana sering diadakan pesta rakyat.
Demi menyenangkan hati ponakan dan sebagai om yang baik, maka saya langsung setuju. Didi langsung melompat kegirangan.
Besoknya, Didi bangun dengan semangat. Pukul tujuh pagi, Didi sudah minta mandi. Setelah itu, Ibunya membuatkan sebotol susu. Nyotnyotnyot… dalam waktu kurang lima menit, susu dalam botol itu tandas.
Setelah menghabiskan segelas teh hangat dan sebungkus getuk warung, maka pergilah saya bersama Didi ke lapangan Manunggal.
“ATM-nya ndak lupa kan, Mbang?” canda Mbak Dewi
“Tenang, Mbak! Sudah siap,” jawab saya mantap. Saya memang sengaja sudah menukar uang receh sebelum berangkat ke Gombong.
Mbak Dewi malah ngakak. “Siap-siap saja ATM-mu jebol.”
15 menit kemudian, kami sudah sampai di lapangan manunggal. Benar saja, lapangan itu sudah penuh oleh anak-anak TK yang ikut lomba mewarnai. Ada panggung besar karena akan lanjut musik dangdut malam harinya. Tidak ketinggalan stan-stan pendukung, para pedagang makanan dan mainan.
Turun dari motor, Didi langsung berlari menghampiri penjual balon yang tidak jauh dari parkir motor. Ia langsung memilih balon bentuk mobil. 10 ribu pertama keluar dari dompet saya.
Baru melangkah masuk ke arena lomba, Didi menarik tangan saya menghampiri seorang Bapak yang mengelar dagangan mainannya. Tanpa pikir panjang, Didi memilih pistol-pistolan. 10 ribu kedua dan 5 ribu pertama keluar dari saya.
“Sudah, ya! Kita lihat lomba mewarnai dulu!” kata saya lalu mengendong Didi mendekati Arena lomba mewarnai.
Baru lima menit, Didi sudah mencolek saya.
“Om, Aistim,” kata Didi sambil menunjuk gerobak es krim.
Cuaca memang panas sekali. padahal waktu masih menunjukkan pukul delapan lebih. Sejak tadi baju saya sudah basah.
Saya pun mengajak Didi membeli es krim. Senang sekali saat melihat Didi asyik menjilati es krimnya. Tidak masalah jaket merah yang dipakainya, kena tetesan es krim. Itu urusan Ibunya untuk mencuci jaket Didi nanti. Yang penting dia belajar makan sendiri.
Belum habis es krimnya, Didi lalu menunjuk buku mewarnai yang digelar di samping penjual es krim.
“Berapa, Mas?” tanya saya.
“Sepuluh ribu dua, Mas.”
Wih, mahal benar. Di kawasan industri dekat saya tinggal, cuma 5 ribu 3 buku, gumam saya
“Nanti saja ya, Di!” bujuk saya.
Didi menggeleng. Wajahnya mulai ditekuk. “Ndak mau, Om! Ini ada,” jawab Didi. Tidak lama tangisnya pecah. Orang-orang mulai melihat kepada kami. Ehm, sepertinya Didi mulai mengeluarkan jurus andalannya.
Tidak apalah. Akhirnya 4 buku mewarnai seharga 20 ribu, jadi milik Didi. Kalau dipikir-pikir murah, sih. Daripada bikin sendiri? Coba kalau Didi beli di Jakarta? Lebih mahal ongkos keretanya hehehehe….
Kelar membeli buku mewarnai, saya berniat mengajak Didi kembali melihat lomba mewarnai. Tapi Didi menolak.
“Puyang ada, Ambang!” ajak Didi.
“Sebentar lagi, ya! Kan, belum putar-putar,” bujuk saya.
Didi menggeleng, lalu kembali keluar jurus andalannya. Mungkin karena cuaca sangat panas, jadi Didi tidak betah. Tapi bisa juga, karena keinginannya beli ini itu sudah tercapai. Saya pun mengendong Didi menuju tempat parkiran.
Citcitcit… Seorang bapak bersepeda melintas di depan kami. Di boncengannya ada keranjang bambu berisi sangkar-sangkar kecil burung pipit.
“Ambang… itu!” tunjuk Didi.
Eh, belum sempat saya menjawab, penjual burung itu menghampiri kami. Lalu dengan pedenya, dia mengulurkan satu sangkar burung pada Didi.
“Berapa, Mas?” tanya saya deg-degkan. Takut mahal lagi.
“Lima ngewu, Mas,” jawab bapak itu.
Saya menarik napas lega, sambil mengeluarkan selembar lima ribuan. Didi bersorak senang. Sepanjang perjalanan pulang, Didi bernyanyi dengan ucapan tidak jelas, hanya dia yang tahu.
Mbak Dewi ngakak saat melihat kedatangan kami. Didi lalu memamerkan oleh-oleh yang ia bawa pada Ibunya dan Eyangnya. Berkali-kali Mbak Dewi melirik penuh arti kepada saya.
“Nggak apa-apa, Mbak! Namanya menyenangkan ponakan,” jawab saya.
“Bilang apa ke Om Bambang, Di?” tanya Eyangnya.
“Asih, Ambang!”
Setelah minum susu, Didi asyik mewarnai. Kemudian ia minta Ibunya menumbuk beras agar halus untuk makanan burung pipit.
“Ma, ndak mo maam,” kata Didi sambil menunjuk burung pipit.
Burung Pipit itu memang hanya diam saja. Sesekali dia menutup kedua matanya.
“Mungkin dia sedih, karena berpisah dengan Ibunya,” jawab kakak saya.
Tidak disangka, Didi malah ngomong begini, “Lepad ada! Didi Katihan.”
“Kalau dilepas, Didi nggak punya burung pipit lagi,” pacing saya.
“Ndak apa. Nanti Ambang deli ladi,” jawab Didi.
Wow… gajian kan sebulan sekali. Tapi tidak apa, hari itu ada pelajaran berharga dan meyenangkan. Hari itu, keponakan saya sudah banyak belajar, termasuk mengerti tentang kasih sayang kepada binatang.