10720893_955888544428441_1504209488_n

Secangkir teh dengan dua blok gula. Sepertinya Ruwi takkan bisa menikmatinya lagi.
“Kapan sidang terakhirnya?”
Ruwi diam. Meletakkan teh pahit beraroma mint itu kembali ke tempatnya.
Belum lama ini dia menghabiskan hari-hari sepinya di butik, jarang pulang dan lebih memilih sendiri. Dia akan membuat desain pakaian hanya bertemankan lilin kecil dengan lampu yang dimatikan. Sejak hari itu dia lebih suka demikian.
“Satu pekan lagi,” jawab Ruwi pendek.
Satu pekan lagi.
Ruwi akan mengenangnya. Tentu, dia lebih suka mengenang dari pada mengingat suatu hal. Casual Dress berwarna abu-abu yang dikenakannya lebih menampakkan kondisi hatinya saat ini. Ya, sesederhana itu untuk ukuran desainer seperti dia.
“Baiklah. Aku tunggu hasilnya,” kata Bams yang segera merapikan sejenak letak dasinya. Dia berdiri. “Aku akan ke sini lagi.”
Ruwi memaksakan sedikit senyum. Dia pun ikut berdiri. “Aku antar ke depan.”
Bams menyetujuinya.
Ruwi pun membukakan pintu kaca butiknya pada Bams. Dia melihat Bams mengukir senyum kepadanya sebelum benar-benar masuk ke mobil Camry berwarna hitam dan melaju pergi.
Ruwi masih berdiri di depan butiknya dengan gamang. Ada sesuatu yang membuatnya tidak tenang. Dan dia lebih suka memedamnya seorang diri.
***
Satu minggu lagi persidangan itu dimulai kembali.
Ruwi tak tahu kenapa semua harus seperti ini. Dia tak mengerti apakah keputusannya ini tepat untuk berpisah dengan Jun. Jun lelaki yang baik baginya. Sederhana dan memiliki kharismanya sendiri. Dua tahun pernikahan mereka berjalan dengan baik-baik saja. Bahkan sangat baik tanpa hambatan sedikit pun, termasuk tak pernah adanya pertengkaran. Tapi celah itu memaksa Ruwi untuk memutuskan berpisah dengannya. Celah yang baru dia sadari berasal dari dirinya sendiri. Adanya pagar pemisah antara seorang desainer mapan dan pengajar honorer.
“Apa tak salah memutuskan menikah dengannya?”
Pertanyaan itu bersumber dari kedua orang tuanya. Dulu sebelum mereka berdua benar-benar memutuskan untuk menikah.
Jun lelaki yang baik untukku. Itu yang selalu Ruwi yakini dalam hati.
“Apa kamu rela melihat Mama sakit parah karena memikirkan masa depan kalian?! Bercerailah dan Mama akan mencarikan pengganti!”
Dan perkataan Mama dua bulan terakhir itu yang membuat hati Ruwi goyah. Entah mamanya mengada-ada tentang penyakit kanker yang diderita. Namun yang jelas, Ruwi mencintai kedua orang tuanya.
Sebuah pesan masuk ke handphone-nya.
From: Jun_Fallin
Secangkir teh dengan dua blok gula.
Mau?
Minggu, butik milik Ruwi libur.
Seulas senyum kini terbit di bibir tipis yang terpoles lipstik berwarna merah tersebut.
***
Secangkir teh dengan satu gula saja tak akan cukup.
Ruwi mengenangnya. Dua blok gula akan menambah sedikit rasa manis saat teh sedang panas dan ketika menghangat teh itu akan berubah rasa menjadi lebih manis, hingga berakhir dingin dan rasa teh itu jauh lebih manis dan pekat. Itu sebabnya Jun memasukkan dua blok gula, karena dia lebih menikmati teh saat masih panas. Jun suka aroma melati, sedangkan Ruwi memilih teh dengan aroma mint yang memberi efek tenang dalam dirinya.
“Sudah lama sekali …”
Jun menggeleng. “Jangan memikirkannya.”
Ruwi menyadari itu. Jun jauh lebih tenang darinya.
“Perpisahan,” kata Ruwi. Kata-kata yang baginya menyakitkan untuk dikenang.
“Bukankah secangkir teh dengan dua blok gula telah mewakilinya?” Jun berkata kembali setelah ada jeda ketika mereka memutuskan untuk meminum lagi teh masing-masing. “Satu blok gula tak akan pernah cukup. Saat kamu meminum teh dalam keadaan panas, kamu akan menyadari jika satu gula saja tak akan cukup membuat teh jadi lebih manis. Dan kita sama. Dalam keadaan seperti ini, kita tidak bisa mementingkan ego sendiri. Aku yakin, semua adalah yang terbaik untuk kita. Ini keputusan kita bersama.”
Benar. Satu blok gula tak akan pernah cukup.
Angin sore di Semarang cukup dingin. Jun meletakkan jaket kulit miliknya di pundak Ruwi yang sepertinya tengah kedinginan karena memakai baju tanpa lengan.
“Ada sesuatu yang ingin kuceritakan padamu,” kata Ruwi.
“Katakanlah.”

***

Sebuket mawar berwarna putih. Bams memberikan bunga itu untuk kesekian kalinya pada Ruwi.
“Jangan berlebihan,” kata Ruwi sambil meletakkan bunga mawar itu di meja.
Dia hanya merasa sedikit tidak nyaman saat Bams selalu datang dengan membawa beberapa kejutan. Dia hanya tak ingin karyawannya mengira yang bukan-bukan tentang hubungan mereka.
Ruwi mengakui jika Bams lelaki yang tampan dan mapan, serta selalu royal untuk siapa pun.
“Masih lama perceraian kalian?”
Ruwi risih disodorkan tentang pertanyaan itu. “Lain kali bawalah sekeranjang kue, agar bisa kubagikan juga untuk karyawanku.”
“Jangan mengalihkan pembicaraan.”
Ruwi menghela napas kasar. “Percayalah, aku akan berusaha sekuat mungkin.”
Bams menginginkan gaun pernikahan itu untuk kekasihnya. Nanti setelah Ruwi bercerai dengan Jun.

***

“Bawalah kado untuk orang tuamu,” kata Bams tempo hari.
Tentu, Ruwi telah menyiapkan kado spesial untuk orang tuanya. Selain Jun, dia memilih mengajak Bams untuk ikut ke rumahnya. Yang pastinya Ruwi memperhitungkan banyak hal sampai harus mengajaknya. Mama selalu suka dengan Bams. Itu salah satu alasannya.
“Sudah lama Tante ndak bertemu denganmu, Bams.” Kata Mama seolah ingin memojokkan Jun yang bergeming di samping Ruwi. Bams tak memberi bunga atau apa pun kali ini. “Pasti sudah sukses dengan tender-tendernya. Ayo masuk!”
Ruwi tahu apa yang diinginkan Mama sejak dulu adalah Bams. Ruwi menikah dengan Bams, dan bukan dengan Jun. Apa mungkin, Ruwi harus menambah satu blok gula lagi untuk menambah rasa manis itu? Rasa manis yang berlebih dan membuat perutnya mual.
“Tiga hari lagi, kan?” tanya Mama gamblang.
Ruwi menarik napas. Kado yang disimpannya terasa begitu rapuh mendengar hal itu.
“Bukan, tapi tiga minggu lagi, Tan.”
“Hah?” Mama terlihat bingung, karena yang menjawab adalah Bams. “Kenapa mendadak diulur?”
“Karena ….” Jun ikut berkata, meski kata-katanya seolah tertelan kembali.
“Saya akan menikah,” potong Bams.
Mama berdecak. “Tentu saja, kalian akan menikah setelah perceraian itu benar-benar sah secara hukum. Bukankah itu seimbang. Lagian Tante ingin segera menimang cucu.”
Mama melirik ke arah Jun. “Dua tahun ndak menghasilkan!”
Bams ingin tertawa, namun dia tahan. “Bukan Tante, tapi saya akan menikah dengan wanita pilihan saya. Dan kata Ruwi gaun pernikahannya akan selesai setelah persidangan. Tapi …”
“Ruwi hamil,” kata Jun yang seketika menggigit bibir. Pertemuannya dengan Ruwi beberapa hari lalu berakhir dengan kabar bahagia tersebut.
“Benarkah?”
“Ya, tiga bulan jalan.” Mata Ruwi berkaca-kaca mengatakannya. “Mungkin, kata rujuk adalah yang terbaik.”
Mama bungkam seketika.
Kado itu meluncur dengan begitu baik memecah keheningan di antara mereka. Sampai kapan pun Bams tetap menjadi teman yang baik bagi Ruwi. Mungkin setelah ini keadaan akan berubah.
Dua blok gula saja sudah cukup. []