Kumpulan Cerita Anak

Ayahku Hebat

Emak Untuk Airin
Oleh : Nurhayati Pujiastuti

Airin memandang ke luar. Sudah mendung. Sebentar lagi pasti turun hujan. Kalau sudah turun hujan, apalagi hujan itu turun dengan derasnya, maka Airin hanya akan terkurung di dalam ruangan saja. Bersama teman-teman yang lain. Bersama mainan-mainan yang tidak pernah berganti dengan mainan baru.
“Kamu masih nunggu, ya?”
Airin menoleh pada Andini. Rambut Andini yang biasanya dibiarkan saja tidak tersisir rapih. Sekarang sudah disisir rapih dan berkucir dua dengan diberi pita.
“Tapi kalau hujan turun berarti…”
Kalau hujan turun berarti tidak akan ada tamu yang datang ke tempat Airin Tidak juga ke tempat Andini dan anak-anak lain tentunya.
“Padahal aku mau dikasih hadiah. Tante Ina janji mau datang ke sini dan kasih aku hadiah kalau tidak hujan.”
“Bunda Indah juga,” kali ini yang bicara Sisi. Sisi anaknya gendut dan pipinya juga gendut. Sisi yang suka tertawa sekarang kelihatan sedih wajahnya. “Kalau Bunda ke sini terus nanti aku bisa diajak tinggal bersama Bunda.”
Airin memandang ke luar.
Langit di luar gelap sekali. Papan nama di depan tempat tinggal mereka yang sudah kotor penuh debu pasti sebentar lagi akan menjadi bersih karena debu itu akan dihilangkan oleh air hujan.
Airin memandangi papan nama itu. Panti asuhan. Begitu tulisan di papan itu. Dari Airin mulai bisa membaca Airin suka membaca papan nama itu. Setelah Airin kelas satu SD, Airin mulai bertanya pada Ibu pengasuh apa arti nama itu. Setelah kelas tiga SD sekarang, Airin tidak bertanya lagi.
Airin sudah tahu kalau dia dan teman-temannya yang tinggal di tempat ini adalah anak-anak yang tidak punya orang tua lagi. Atau punya orang tua tapi orang tua tidak bisa mengurus lagi.
“Ya…, hujannya sudah turun,” suara Andini kedengaran sedih. “Tante Ina nanti tidak jadi datang.”
“Bunda juga,” wajah Sisi kelihatan sedih.
Airin memandangi hujan gerimis yang mulai turun.
Airin punya impian sama seperti teman-temannya. Airin ingin punya Bunda. Makanya, setiap sore, ketika jadwal tamu berkunjung tiba, Airin dan teman-teman yang lain senang sekali. Kata Ibu pengasuh Panti asuhan, anak-anak boleh berdoa agar mereka bisa dibawa dan diangkat anak oleh tamu yang datang. Kata Ibu pengasuh juga, mereka nanti bisa punya kamar sendiri dan mainan sendiri yang banyak.
“Ya.., hujannya turun deras sekali…”
Hujan itu memang turun deras sekali. Teman-teman Airin memilih untuk naik ke atas tempat tidur.
**’
Tapi Airin tetap duduk di depan jendela. Memandangi hujan yang turun. Hujan yang airnya membersihkan papan bertuliskan panti asuhan tempat Airin dan teman-temannya tinggal.
Sebentar lagi akan ada yang datang.
Sebentar lagi….
“Ada yang cari kamu, Airin…,” kepala Ibu panti tersembul dari balik pintu. “Tamu buat kamu,” bibir Ibu panti tersenyum.
Airin menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
Airin tahu siapa yang datang saat hujan deras seperti ini. Airin tahu itu. Orang yang datang saat hujan sekarang ini adalah orang yang sayang padanya.
**
“Sudah makan apa belum?”
Airin menganggukkan kepalanya. Emak Neneng baru saja menurunkan dagangannya di depan Airin. Ada tahu dan tempe goreng juga pecel kesukaan Airin.
“Ayo makan sama-sama…”
Airin menganggukkan kepalanya.
Emak Neneng setiap hari selalu datang untuk Airin. Meskipun cuaca sedang panas sekali atau sedang turun hujan. Kata Emak Neneng, wajah Airin mengingatkan Emak pada anaknya yang sudah meninggal karena sakit.
“Ayo makan….”
Airin malu-malu menerima suapan sendok dari Emak Neneng yang berisi lontong dicampur sayur dan sambal pecel. Enak sekali rasanya.
“Kenapa Emak datang ke sini saat hujan deras begini?” tanya Airin ingin tahu.
Emak Neneng memandangi Airin. “Soalnya Emak sayang sekali sama kamu. Tapi Emak tidak bisa kasih apa-apa…”
Airin menganggukkan kepalanya.
Hujan masih belum berhenti juga. Kalau sampai malam nanti, berarti teman-teman Airin akan kecewa karena tamu yang janji datang tidak jadi datang.
Tapi Airin tidak pernah kecewa.. Sebab Airin sudah punya Emak Neneng yang sayang sekali dengannya.