Being Me

PT II

“Pasukan kuning berceceran di jalan Baru. Pak Satpol PP tolong digaruk aja lalu dibuang di kali, tempatnya memang di situ. Bau Pak! Najis abis!”
Perang komentar di facebook berawal dari status ini. Sudah lebih dari tigapuluh komentar super pedas dan saling menjatuhkan berdesakkan di kotak-kotak kecil sejak status itu di-upload 30 menit yang lalu. Saking banyaknya komentar mereka mulai kehabisan ide dan menggantinya dengan sumpah serapah yang mulai tak terkontrol.
Perang komentar itu terjadi karena salah seorang dari geng borju meng-upload foto anak-anak dari geng modis saat mereka nongkrong di jalan Baru lalu menulis status kontroversial itu. Di dalam foto itu duapuluh anak geng modis yang memakai baju bernuansa kuning terang berpose norak plus dengan gaya dandan bintang film Korea di jalan Baru yang selalu ramai di Minggu pagi. Kedua puluh anak itu tidak peduli kalau warna kuning terang pada baju mereka sangat kontras dengan warna kulit mereka yang gelap. Apalagi mereka bergerombol di antara lalu lalang orang-orang yang kebanyakan hanya menggunakan pakaian olahraga sederhana. Terlalu mencolok. Mungkin ini yang disebut tabrak lari dalam dunia fashion. Sangat ndeso kata Thukul Arwana.
“Ini semua tentang mereka. Tak ada satupun tentangku,” bisik Lolita sembari melemparkan hpnya ke atas kasur. Dia masih memakai seragam putih abu bahkan tas ranselnya masih meringkuk di punggung. Lolita takkan menjadi sebuah kisah sebab dia bukan bagian dari mereka. Kisah yang paling laku di SMAnya hanyalah tentang kedua geng itu. Jika kamu bukan bagian dari mereka maka bersiaplah untuk berubah menjadi hantu alias masuk dalam golongan kasat mata, tak terlihat, tersingkir, dan terlupakan.
Lolita harus punya modal materi untuk masuk geng borju. Modalnya bahkan lebih besar daripada uang bayar gedung sekolahnya. Paling tidak dia harus punya blackberry atau ipad atau sepeda fixi untuk nongkrong tiap minggu pagi di jalan Baru. Mengingat orangtuanya hanya guru SD Lolita tak pernah berimajinasi masuk geng itu. Dia bersyukur masih dibelikan hp yang meski ketinggalan jaman tapi masih bisa untuk facebook-an.
Lalu bagaimana dengan geng modis? Memang tak butuh ipad untuk masuk geng itu. Lolita hanya butuh nyali besar untuk memakai gaya pakaian masa kini yang bahkan tak sesuai dengan kepribadiannya. Tak peduli mereka terlihat bodoh dengan pernak-pernik norak tapi bagi mereka terlihat gaya dan identik adalah suatu keharusan. Lolita takkan pernah mematikan kepribadiannya untuk sesuatu yang konyol. Lebih baik keberadaannya tak diakui daripada menjadi oportunis.
Dulu Lolita tidak keberatan menjadi golongan tak terlihat sebab dia punya sahabat senasib sepenanggungan, namanya Endita. Dulu mereka karib tak terpisahkan apalagi nama mereka berima sama. Namun sudah dua semester ini mereka tak berbicara semenjak Endita menjadi bagian dari geng Borju. Endita telah naik level sebab dia berpacaran dengan Alex, cowok paling keren di sekolah ini.
Bagaimana tidak? Alek tajir, dia langganan juara olimpiade matematika, kapten tim futsal, pengurus OSIS, dan yang terpenting dari itu dia luar biasa cakep. Alex jelas sempurna dan menjadi pasangannya berarti membuat Endita turut sempurna. Ini modal bagus untuk menjadi bagian dari kedua geng itu.
Lolita masih ingat terakhir kali Endita masih bersamanya. Dia bilang dia muak menjadi invisible dan dia akan berusaha keluar dari golongan terlupakan ini bagaimanapun caranya. Setelah itu mereka tak bersama lagi sebab Endita terlalu sibuk mewujudkan mimpinya. Jujur Lolita iri dengan Endita sebab dia bisa leluasa nongkrong dengan geng Borju meski dia tak punya sepeda fixi. Siapa butuh sepeda langsing warna-warni, blackberry, atau ipad jika kamu pacarnya Alex?
“Loli makan!” seru ibunya dari luar kamarnya.
Lolita terbangun dari lamunan. Dengan lesu dia meletakkan tas dan membuka kaos kakinya. Setiap hari selalu sama. Pulang sekolah, makan, belajar, makan lagi, nonton tv, tidur, lalu terbangun hanya untuk menyadari bahwa keberadaannya tak diakui di sekolah. Apa yang lebih menyedihkan dari itu semua? Tapi sebentar lagi dia akan lulus lalu kuliah. Orang-orang bilang kuliah lebih menyenangkan dari bangku SMA.
Semoga saja begitu. Lolita menghela napas, dia bangkit dan berjalan gontai menuju pintu kamar. Dia baru menyadari jeritan perutnya saat ini ternyata lebih lantang dari jeritan hatinya.

###

Pelajaran Biologi kosong. Beberapa teman cowoknya kecewa karena mereka tak jadi berceloteh tentang alat reproduksi manusia. Ah tiba-tiba saja mereka jadi kekanak-kanakan kalau menghadapi tema satu ini. Cewek lebih siap dari para cowok buktinya mereka lebih tenang, tidak belingsatan macam anak cowok. Mungkin karena masa puber mereka lebih menyakitkan dari cowok. Penuh dengan darah dan kejang perut yang sedikit menjengkelkan.
Lolita memainkan ujung pensilnya. Kelas sepi, hanya beberapa gelintir orang berada di situ, asyik dengan diri mereka sendiri. Sebenarnya Lolita butuh teh panas untuk sedikit meringankan tubuhnya yang meriang tapi dia juga tahu kantin pasti telah dikuasai anak-anak kedua geng itu. Kantin timur yang lebih mewah adalah daerah kekuasaan geng borju sementara kantin barat yang lebih sederhana adalah jajahan geng modis. Sebenarnya perbedaan utamanya adalah soal boleh tidaknya ngebon. Hutang adalah tabu di kantin timur sementara di kantin barat hutang bukan sesuatu yang memalukan.
Lolita memaksakan dirinya untuk pergi ke kantin barat sebab di sana dia takkan bertemu dengan Endita. Tubuhnya mulai berkeringat dingin. Dia berpikir akan membawa teh itu ke belakang perpustakaan. Di sana ada pohon mangga rindang tempat biasa Lolita ngadem dengan Endita dulu. Lolita kembali tertusuk jika mengingatnya.
Lolita menundukkan kepala dan bergegas menuju tempat Yu Par yang sedang menata sayur soto di mangkok-mangkok. Seperti dugaannya kantin begitu ramai penuh celoteh bahasa planet luar galaksi dan gemuruh tawa yang nyaring. Cepat-cepat Lolita memesan,” Teh panas,” katanya pendek. “Bentar ya, airnya belum mateng,” sahut Yu Par sambil menunjuk ke arah kompor. Lolita manggut-manggut. Kakinya bergerak tak tenang, obrolan seru dan komentar garang soal status di facebook membuat Lolita tak nyaman. Ingin rasanya membatalkan pesanannya.
“Kita harus balas!” seru Neli, cewek centil yang keranjingan Kim Hyun Joong, bintang film Korea. Saking tergila-gilanya dia selalu memaksa pacarnya yang berkulit gelap berpakaian persis bintang pujaannya..
“Minggu besok kita bikin gebrakan,” reaksi yang lain.
“Kita bikin anak-anak borju itu tutup mulut.”
Lolita makin tak nyaman saat mereka mulai menggebrak meja saking geramnya. Untunglah segelas teh panas segera disodorkan di depannya. Lolita membayarnya dan memberi isyarat untuk membawa gelas teh itu keluar.
Dia bergegas menuju belakang perpustakaan. Namun saat dia akan membelok Lolita menghentikan langkahnya. Dia melihat dua orang sedang bertengkar hebat. Sebenarnya dia bisa saja segera pergi dari tempat itu jika kedua orang itu bukan Endita dan Alex.
“Lalu kenapa jika aku gabung dengan mereka?”
“Mereka banyak cowoknya,” seru Alex.
“Picik kamu! Aku nggak serendah yang kamu pikir.”
“Bukan begitu maksudku.”
“Sudahlah. Aku bosan dengan sikap posesifmu. Kamu tidak berhak mengatur hidupku. Aku muak dengan semua ini.”
“Aku tidak mengatur hidupmu. Aku peduli padamu.”
Endita tersenyum sinis,”Lebih tepatnya peduli dengan dirimu sendiri. Selama ini aku hanya melakukan apa yang kamu suruh, bergabung dengan teman-teman yang kamu tunjuk. Aku bahkan tak punya waktu untuk diriku sendiri. Aku butuh udara.”
“Udara tidak bisa kamu dapatkan pada sekumpulan cowok-cowok yang suka mendaki gunung.”
“Cukup! Asal kamu tahu saja aku tidak bisa bernapas selama bersamamu. Kita sudahi saja sebelum aku mati kehabisan napas,” jerit Endita meradang. Alex terpana. Dia terpukul sebab baru sekarang seorang cewek memutuskannya. Namun cepat-cepat dia membangun kejantanannya yang porak-poranda. Dia tersenyum sinis.
“Hmm…jadi cuma begini. Kamu akan menyesal karena kamu takkan lagi sama seperti dulu, tidak sepopuler dulu. Selama ini aku yang membuat mereka hormat padamu.”
Endita semakin berang. “Makan tuh popularitas. Aku nggak butuh pembohong dan penjilat macam mereka. Kita putus!” jerit Endita. Alex menatap Endita penuh dendam lalu meninggalkan tempat itu. Endita menangis perlahan namun lama-kelamaan dadanya terguncang keras. Tak pernah dia merasa sebebas ini meski rasanya perih.
Lolita yang sedari tadi mendengarkan pertengkaran itu menelan ludah. Teh yang dibawanya telah dingin, dia menenggaknya habis. Rasa tegang bikin dia haus. Dia bingung harus bagaimana. Dia telah menyaksikan putusnya Alex dan Endita dan dia tak tahu harus gembira atau sedih. Endita memang telah melukai dirinya tapi melihat Endita terluka seperti itu ternyata membuat luka-lukanya tak terasa sakit lagi.
Lolita merapatkan punggungnya di tembok. Mungkin sebaiknya dia segera pergi dari sini dan melupakan bahwa dia pernah melihat pertengkaran itu. Baru saja Lolita hendak beranjak seseorang menubruk dari samping. Gelas teh yang dipegangnya terlempar dan jatuh. Lolita terkejut bukan karena gelas itu tapi karena orang yang menubruknya itu ternyata Endita. Wajah bekas sohibnya itu basah karena airmata.
“Loli, ngapain kamu disini?”
“Aku…cuma…” jawab Loli gugup.
“Sejak kapan kamu berdiri di sini? Kamu mendengar semuanya ya?”
“Kalaupun aku mendengarnya apa pedulimu? Toh urusanmu bukan urusanku.” Lolita buru-buru memunguti pecahan gelas di lantai dan membuangnya di bak sampah. Endita memegang bahunya.
“Loli maafkan aku.”
“Tak apa biar aku yang ganti gelasnya.”
“Maksudku maafkan aku yang telah mengacaukan persahabatan kita dengan obsesi butaku.”
Lolita terdiam.
“Lol, kamu tak pernah memberiku kesempatan untuk minta maaf. Kamu selalu menghindariku.”
“Seingatku aku tak pernah menghindarimu. Kenyataannya teman-temanmu sudah menyita waktumu. Kamu tidak cukup berusaha untuk minta maaf padahal kamu tahu dimana rumahku.”
“Please Lol, jangan sinis.”
“Aku tidak sinis, aku cuma marah. Bayangkan Dit dua semester! Hampir setahun aku harus melihatmu menjadi orang asing, sekedar boneka, tanpa kehendak dan buta. Sekarang kamu baru menyadarinya itupun karena kamu putus dengan Alex dan otomatis kamu telah terlepas dari mereka. Kamu baru mengingatku saat kamu sendiri. Kamu anggap aku ini apa? Rongsokan yang kamu pungut kembali?”
“Ya ampun Lol. Sebegitu parahkah aku menyakitimu?”
“Sudahlah. Kita lupakan semua ini.” Lolita hendak beranjak namun Endita mencegahnya.
“Lol aku hanya ingin kamu tahu kalau aku datang padamu bukan karena aku putus dengan Alex. Sudah lama aku ingin bebas. Apa yang aku bayangkan dulu semua salah. Kupikir aku bisa mendapat pengakuan diri jika bergabung dengan mereka tapi kenyataannya aku malah kehilangan diri. Popularitas itu hanyalah ilusi. Mereka bahkan tidak jujur dengan diri mereka sendiri. Aku iri padamu karena kamu tetap memilih untuk menjadi dirimu sendiri. Aku ingin kembali seperti dulu. Dan yang terpenting kamu bukan rongsokan. Jangan pernah bilang seperti itu. Maafkan aku Lol. Sungguh.”
Lolita menghela napas panjang. Dia menatap mata Endita yang bersinar tulus. Mungkin Endita memang telah menyakiti dirinya tapi dia sudah minta maaf dan itu butuh nyali yang besar.
“Meskipun kamu tidak memaafkanku ketahuilah aku tidak takut sendiri. Aku masih ingat kata-katamu Lol. Jadilah seperti rajawali, meski dia soliter tapi dia lebih bijaksana daripada seribu burung gereja. Dia berani terbang tinggi karena dia tahu cara terbang dengan menjadi sahabat angin. Rajawali bisa memperpanjang umurnya dua kali umurnya saat dia sekarat dengan berdiam diri dan menunggu dengan sabar matahari menyembuhkannya. Aku masih ingat semuanya Lol.”
“Tapi kamu lupa Dit. Meski seekor rajawali dengan sabar berdiam diri saat dia sekarat tapi dia tetap butuh seorang sahabat untuk memberinya makan.” Imbuh Lolita dengan menyelipkan senyum yang tipis. Endita tersenyum lebar.
“Kamu memaafkanku?”
“Yah kenapa tidak? Lagipula aku sudah bosan kesana-sini sendiri.”
“Terimakasih Lol.”
Mereka terdiam. Sedikit canggung.
“Kamu ada acara minggu pagi?” Tanya Endita berusaha mencairkan suasana. Lolita menggeleng.
“Ayo kita ke jalan Baru.”
“Ngapain?”
“Jalan-jalan, makan, dan menertawakan perseteruan besar kedua geng yang tak punya otak itu. Isyunya akan ada adu pamer lagi. Kita lihat seberapa bodohnya mereka.” Lolita mengangguk.
“Kenapa tidak? Toh menertawakan kebodohan orang lain lebih mudah daripada menyadari kebodohan sendiri.” Mereka berdua tertawa. Senang rasanya ada sahabat di sisi untuk tertawa bersama.