Puber Kedua

PT !

Aku tidak pernah percaya ada puber kedua. Bagiku itu hanya mitos. Khayalan. Sesuatu yang dipaksa ada.
Di usia kami yang sudah melewati angka 40, Irman sama sekali tidak terlihat berubah. Dia tetap gagah dan hangat di mataku. Sosok suami sekaligus ayah yang baik dan istimewa.
Karenanya, aku sedikit heran ketika Vania mengeluhkan hubungannya yang hambar dengan Frans.
“Frans itu tidak pernah menunda-nunda berangkat ke kantor. Selalu tepat waktu. Tapi, tidak untuk pulang ke rumah.”
“Bagus, dong. Bos teladan itu namanya,” aku mencoba memancing senyum Vania. Tapi, wajah sahabatku itu tetap kusut.
“Aku pernah bertahan untuk tidak tertidur di sofa menunggunya pulang. Tapi, aku enggak bisa. Dan ketika dia sampai, dia hanya menggoyang-goyangkan bahuku, menyuruhku pindah ke kamar.”
“Memang maumu apa?”
“Caranya itu, loh! Dia bisa, kan, menciumku untuk membangunkanku? Atau sekalian saja mengangkat tubuhku dan memindahkanku ke kasur.”
Aku tergelak sambil melirik tubuh Vania. “Dan membuatnya tidak masuk kerja besoknya karena sakit pinggang? Aku pikir, Frans punya alasan yang kuat untuk tidak melakukannya,” kataku sedikit kejam.
Vania balas melirik tubuhku. Sepertinya dia sedikit iri. Tapi, dia tidak membalasku dan hanya terlihat termenung.
“Aku pernah memergokinya senyum-senyum sendiri membaca BBM dari salah seorang teman wanitanya. Teman kuliahnya dulu, kalau tidak salah. Dan andai kamu tahu rasanya, berbicara dengannya sekarang aneh. Kaku. Dia berubah menjadi alien yang terdampar di rumah. Mungkin dia mengalami puber kedua.”
Baru saja aku hendak membuka mulut untuk menyahuti ucapan Vania, kilatan air bening yang memantul dari matanya menahanku.
“Yudith, bagaimana kalau dia tidak—mencintaiku lagi?” bisik Vania nyaris tidak terdengar.
“Omong kosong! Jangan berpikir yang buruk-buruk. Frans mencintaimu sejak dulu, sekarang, dan sampai kalian mati. Dengar aku, Vania,” aku menggenggam tangan sahabatku sejak SMP itu, “kamu adalah istri dan ibu yang baik. Mungkin Frans sedang banyak pikiran atau ada masalah di kantor. Mengapa tidak kamu buat saja suasana baru supaya kalian tidak bosan?”
Mata Vania mengerjap. Dia kembali mengeluarkan senyum manisnya yang menawan dan sangat kukenal. Entah bagaimana, musim demi musim yang berganti, mampu mengubahnya menjadi senyum hambar yang seolah tanpa rasa.
“Apa saranmu, Yudith?” tanyanya dengan semangat baru.
Aku memicingkan mata menatap Vania. “Pertama, potong rambutmu! Rambut panjang model itu hanya cocok untuk anak sekolahan! Terus, pergi ke mall. Ganti sabun, shampoo, parfum, bedak, pelembab kulit, sampai pakaian dalam. Beli baju-baju rumah yang cantik!”
Vania mengerutkan keningnya. “Memangnya aku sekuno itu?”
Aku tertawa. “Enggak juga. Hanya perlu sedikit perawatan dan pelestarian.”

*

Rumah Bolu Yudith sedang ramai-ramainya siang ini. Aku duduk di kasir. Tersenyum. Menikmati betul berinteraksi dengan pelanggan-pelangganku. Aroma bolu tape dan bolu pisang tidak henti-hentinya menguar dari dalam dapur. Dua jenis bolu itu adalah favorit semua orang. Tumpukan kardus-kardus berisi bolu yang baru matang tidak pernah lama menghiasi rak kaca besar di sampingku. Diambil pelanggan yang baru datang, ataupun yang sudah memesan dari pagi.
Seorang pria kurus tinggi masuk. Aku baru sekali ini melihatnya. Ia berjalan menghampiri rak kaca. Matanya memperhatikan kardus-kardus berisi bolu sambil mengerutkan kening. Aku memberi isyarat pada Sandra untuk menggantikanku di kasir.
“Bisa saya bantu?” sapaku pada pria itu. Ia mengangkat kepalanya, memandangku sambil tersenyum ragu.
“Hmm, maaf, Mbak, biasanya wanita lebih suka bolu yang bertabur keju atau choco chips?” Ia tertawa kecil sedikit malu. “Semuanya terlihat enak, saya jadi bingung.”
Aku tersenyum. “Tergantung, Mas. Saya sendiri lebih suka keju. Tapi wanita kecil lebih suka choco chips, biasanya.”
Ia memandangku dengan alis terangkat dan tatapan bertanya.
“Anak-anak, maksud saya.” Aku menjelaskan.
Pria itu tertawa. “Kalau begitu saya ambil bolu tape dan bolu pisang yang bertabur keju. Masing-masing satu. Karena ini bukan untuk wanita kecil.”
Aku mengangguk sambil tersenyum. Mengambil dua kardus bolu tape dan bolu pisang yang masih terbuka, menutupnya, lalu mengemasnya dengan pita yang cantik. Tiba-tiba saja aku berpikir, kapan terakhir kali Irman memberiku hadiah? Rasanya aku sudah tidak bisa mengingatnya.
Aku bisa merasakan tatapan pria itu terarah padaku. Sungguh beruntung wanita yang akan mendapat bingkisan dari pria manis ini.
“Mbak yang punya toko?”
“Ya. Saya Yudith.” Kataku sambil menuliskan nota. “Semuanya 80 ribu rupiah. Silakan bayar di kasir.” Ketika kuserahkan kertas itu padanya, baru kusadari mata pria itu berwarna cokelat dan hangat.
“Terima kasih, Mbak Yudith. Saya dapat referensi toko ini dari rekan-rekan kerja saya. Mereka bilang bolu di toko ini enak sekali.”
“Terima kasih juga, Mas. Semoga istrinya suka.”
Ia terlihat menahan tawa. “Saya belum menikah, Mbak Yudith. Tapi, saya pasti akan ke sini lagi untuk mencoba bolu yang lain.”
Aku terpana. Oleh kesadaran bahwa aku gelisah melihat senyumnya, dan berharap bisa bertemu lagi dengannya.
*
Aku terkejut menyadari betapa berhasilnya saran asalku merubah Vania menjadi wanita baru yang terlihat berbeda. Dua bulan yang lalu, ia terlihat seperti wanita usia 50 tahun yang putus asa, depresi, dan banyak pikiran. Usia psikologisnya jauh melampaui usia biologisnya yang baru saja melewati angka 41.
Tapi, lihat dia sekarang. Dengan potongan rambut pendek yang manis, membuatnya terlihat segar seperti melati yang baru disiram di pagi hari. Aku sampai tidak bisa menahan diri untuk mengendus ketika berada di dekatnya. Wanginya enak sekali, seperti campuran kopi dan parfum lembut.
“Kamu harum seperti kopi panas yang siap direguk,” pujiku, setengah bertanya, setengah penasaran.
Vania tertawa. “Oh, itu. Aku habis creambath dan mereka menggunakan aroma kopi.” Ia tersenyum lembut. “Thanks for your advice. It works. Really!”
Aku menatapnya takjub. “Ceritakan padaku!”
“Yah, seperti yang kamu lihat, aku ke salon. Aku ganti semua sabun, parfum, dan apapun yang memiliki aroma. Hasilnya, Frans menatapku tidak berkedip. Dan besoknya—pertama kalinya dalam sejarah, dia terlambat 15 menit untuk berangkat ke kantor. Mengajakku ngobrol di kamar, melanjutkan pujiannya yang tidak berhenti sejak malam,” jelas Vania dengan mata yang berbinar-binar bahagia.
“Lalu?”
“Lalu, semuanya terasa seperti ketika kami pertama kali bertemu. Hahaha, lebay, ya?”
Aku menatap Vania iri. Andai ia tahu, hatiku pun saat ini sedang bergejolak. Sayangnya bukan karena Irman. Aku seperti termakan oleh ucapanku sendiri.
Apanya yang mitos, kalau aku merasakan dunia tempat aku berpijak bersama Irman beku? Menjadikan kami sepasang orang asing yang tinggal di bawah satu atap. Membuat Irman menjadi gila kerja dan aku semakin betah berada di Rumah Bolu Yudith. Hanya sekadar menantikan pemilik sepasang mata cokelat hangat yang menanyakan kabarku di hari yang dingin karena hujan deras di luar sana.
*
“Aku mau jujur padamu,” suaraku bergetar saat menatap mata Irman. “Tapi, tolong jangan marah.”
Irman menatapku lembut penuh pengertian. “Bicara saja, Yudith. Aku enggak akan marah,” janjinya.
Aku menelan ludah, mengumpulkan semua keberanianku untuk memulai.
“Aku—tidak tahu apa yang terjadi pada diriku. Kamu tidak merasakan sesuatu yang berbeda di antara—kita?”
Irman terdiam beberapa saat. “Kita jarang ngobrol, ya, sekarang?” aku pria itu.
Aku memalingkan wajahku ke arah jendela. “Aku pikir—aku jatuh cinta pada orang lain,” bisikku lirih. Dari cermin di samping jendela, bisa kulihat rahang Irman mengeras. Tapi, ia berusaha sekuat tenaga menahan emosinya.
“Sejak kapan?”
“Aku tidak tahu.” Kupaksakan mataku menatapnya. “Tolong aku, Irman ….”
Irman merengkuhku dalam pelukannya. “Salahku. Belakangan ini aku terlalu sibuk di kantor.”
Aku diam. Menikmati detak jantung Irman di telingaku. Sejujurnya, aku merasa masalahnya ada pada diriku. Aku jenuh dengan kehidupanku yang terasa lurus dan monoton. Sementara, Irman memang sejak dulu bukan tipe pria yang banyak bicara dan menganggap penting perayaan dan hadiah.
Lalu, ketika ada seorang pria muda yang begitu manis menanyakan kabarku, menatapku dengan mata yang hangat, dan tersenyum lembut padaku, salahkah bila kemudian aku merasa tersanjung?
“Mungkin kita jenuh dengan keriuhan Jakarta. Ayo kita ke Ciwidey akhir pekan ini. Berdua saja. Anak-anak kita titip di rumah Ratih. Mereka pasti senang berkumpul dengan Nenek dan sepupunya.”
Aku mengangguk pasrah. Mungkin aku memang perlu suasana baru.
Lalu, tiba-tiba Irman melepaskan pelukannya dan mengangkat daguku. “Siapa pria itu?”
Aku bersemu malu. “Aku tidak tahu. Aku tidak mengenalnya. Dia pembeli di toko.”
Irman menatapku lekat. ”Kamu masih mencintaiku, kan?”
Aku mengangguk, lalu memeluknya erat. Tentu saja aku mencintainya. Dengan semua usaha kami memperjuangkan cinta kami. Berdiri tegak di atas perbedaan kultur, status sosial, hingga menyatukan perbedaan keyakinan. Rasanya konyol bila aku menyerah karena hal sepele, setelah 15 tahun kami bersama.
“Sepertinya kamu mengalami puber kedua,” kata Irman menggodaku. Aku mencubit pinggangnya.
“Lalu, apa kamu tidak pernah menyukai wanita lain selama kita bersama?”
“Hmm, tidak! Aku setia padamu.” Irman terdiam sebentar. “Mungkin kamu perlu mencoba hal-hal baru. Mengapa tidak kamu tanyakan saja pada Vania?”
Aku tercekat. “Vania?”
“Hu um. Kemarin aku bertemu dengannya di toko buku. Dia terlihat—berbeda. Sangat cantik dan segar. Aku pikir, ia akan dengan senang hati berbagi tipsnya denganmu.”
Astaga. Aku menelan ludah. Getir. Entah apa aku harus merasa marah, kecewa, cemas, atau tersanjung? Mengetahui saranku tidak hanya membuat Vania sukses mendapatkan perhatian Frans, tapi juga suamiku.