Roti Cinta

PT I Linda

Seorang pemuda berahang kuat yang bajunya jarang kelihatan rapi baru saja ke luar dari kantinnya Mbak Juli. Ia harus cepat menuju kantin lainnya untuk mengantar roti. Langkah yang tergesa-gesa membuatnya tidak sengaja menyenggol pundak Kara, lalu jatuh. Keranjang roti yang dibawa pemuda itu akhirnya menghujani Kara. Seketika Kara langsung menutup hidung karena mencium bau roti yang entah apa nama merk rotinya.
Pemuda itu berniat membantu Kara berdiri. Tapi Kara malah menolak dan menepis tangannya.
“Jangan pegang aku!” kata Kara. Ketus. Ia lantas menyingkirkan keranjang roti dari dekatnya.
Wajah pemuda itu tampak kecewa dengan sikap Kara. Ia segera mengambil keranjang roti miliknya dan berjalan meninggalkan Kara yang warna hidungnya mulai merah.
Kara mengejarnya. “Hey! Apa kamu tidak merasa bersalah?” Tapi pemuda itu terus berjalan tanpa menimpali pertanyaan Kara.
Sekarang Kara sudah ada di depannya.
“Dengar! Aku begini gara-gara kamu,” kata Kara sambil menunjuk hidungnya.
Pemuda itu tersenyum kecut.
“Kamu!” telunjuk Kara mengarah tepat di depan wajah pemuda itu.
“Kuberitahu, namaku Romi. Sekarang turunkan tanganmu!” nada suara Romi terdengar lebih ketus dari Kara tadi. Lalu pergi meninggalkan Kara.
Kara ingin mengejarnya lagi. Tapi sudah terdengar bunyi bel tanda masuk. Hari ini selama mengikuti pelajaran Kara terus-terusan bersin. Seolah-olah bau roti menempel terus di hidungnya.
“Habis lihat roti, ya, Ra?” tanya Laura, teman sebangku Kara.
Kara mengangguk. Lalu mengambil beberapa helai tisu dari dalam tasnya. Mempunyai alergi terhadap bau roti ternyata sangat menganggu.
“Pantesan kamu bersin terus.” Kelihatannya Laura mulai tidak nyaman dengan suara bersin Kara.

***

Pagi ini hanya ada roti dan selai kacang di meja makan. Seminggu terakhir ini Mami kelihatan lemas dan pucat. Mami bilang perutnya mual kalau diisi makanan. Sebenarnya Kara sedang ingin sarapan nasi goreng dengan telur mata sapi dan kerupuk udang. Tapi tidak mungkin minta tolong Mami membuatkannya. Sedangkan ia sendiri tidak bisa memasak.
Akhirnya Kara memutuskan untuk sarapan di sekolah saja. Setidaknya ia bisa memilih makanan yang dijual berderet di tenda-tenda depan sekolahnya.
Pilihan Kara adalah bubur ayam Pak Bambang.
“Tumben makan di sini, Ra.” Ririn yang kebetulan juga sedang sarapan bubur langsung pindah duduk di dekat Kara sambil membawa mangkuk buburnya.
“Lagi pengen aja. Soalnya Mami lagi males bikin sarapan.”
“Dulu Ibuku juga begitu waktu hamil Fahri. Kalau pagi males bikin sarapan. Soalnya suka mual terus muntah. Disebutnya morning sickness, Ra.”
Kara hampir tersedak mendengar perkataan Ririn. Sendok di tangannya nyaris terjatuh. Ia tiba-tiba ingat beberapa hari yang lalu pernah melihat Mami menutup mulutnya sambil menahan mual. Apa itu artinya Mami hamil? Tapi Kara tidak yakin.
“Mami memang kadang-kadang suka malas masak, Rin. Kalau Papi datang dari luar kota baru Mami mau masak. Hari-hari biasa beli masakan yang sudah mateng.”
Obrolan ini membuat nafsu makan Kara mendadak hilang. Ia jadi kepikiran Mami. Tapi tidak begitu lama Kara melihat pemuda berahang kuat itu lagi. Ia sedang memesan bubur. Tangan kanannya membawa keranjang roti.
“Ayo, Rin!” Kara menarik tangan Ririn sambil menahan hidungnya yang mendadak gatal.
Hatchi…hatchi…Kara gagal menahan bersin saat lewat di dekat Romi.

***

Roti dengan aneka rasa tertata rapi pada salah satu meja di kantin Mbak Juli. Kara langsung menutup hidung melihat tumpukan roti sebanyak itu. Mbak Juli bilang untuk snack rapat guru nanti siang.
Roti cinta, tulisan pada kemasannya membuat Kara penasaran. Lalu tertawa geli karena ada gambar kartunnya sedang memeluk bantal berbentuk hati. Kara beli satu. Untuk Mami yang sedang tidak doyan makan. Tapi minta Mbak Juli memasukannya ke dalam kantong keresek hitam dan diikat rapat. Agar baunya tidak tercium.
Begitu sampai di rumah, ia melihat wajah Mami lebih pucat dari pagi tadi. Mami bilang hari ini belum makan apa-apa.
“Kenapa Mami tidak makan?” tanya Kara.
“Mulut Mami rasanya asem, Ra…”
Kara jadi ingat ucapan Ririn di tenda Pak Bambang tadi pagi.
“Apa mungkin Mami hamil?”
Mami menepuk pipi Kara. “Menurutmu bagaimana?”
Menurut Kara sudah bukan waktunya lagi ia mempunyai adik bayi. Bukan hanya malu pada teman-teman. Tapi juga khawatir karena usia Mami sudah lewat dari empat puluh tahun.
Sambil menutup hidung Kara mengambil roti dari dalam tasnya dan cepat-cepat diberikan kepada Mami.
“Kara punya roti, Mi.”
Mama tertawa melihat keresek hitam yang ternyata isinya roti.
“Kalau Mami hamil rumah kita jadi ramai, ya, Ra,” sepotong roti masuk ke mulut Mami.
Kara tidak berkata apa-apa. Hanya bergantian memandangi wajah dan perut Mami. Sesekali ia menutup hidungnya samil menahan bersin.

***

Pagi ini Kara dikejutkan dengan model rambut Romi yang disisir rapi dan tampak mengilat karena diberi minyak rambut. Kemeja putih pendek dan celana hitam panjang membuatnya tampak lebih bersih. Seperti biasa ia membawa keranjang roti dan berjalan ke kantin Mbak Juli.
Tiba-tiba, brukkkk! Kali ini giliran Kara yang menabrak Romi. Roti yang dibawa Romi jatuh berserakan di lantai.
“Kamu nggak apa-apa?” tanya Kara sambil cepat-cepat membantu Romi membereskan rotinya.
Roti cinta. Kara membaca tulisan pada kemasan roti itu. Banyak tukang roti yang datang ke kantin Mbak Juli membuat Kara baru mengetahui kalau ternyata roti cinta itu dari Romi.
“Terima kasih,” kata Romi sambil tersenyum. Ternyata Romi kalau senyum manis juga. Wajah juteknya berganti menjadi ramah.
Hatchi…, sulit sekali untuk tidak bersin kalau sudah mencium bau roti. Padahal Kara sudah berusaha menahannya. Romi kemudian memberikan sebuah sapu tangan kepada Kara. “Maaf…” Romi berujar sambil melangkah tergesa-gesa.
Setelah dikejutkan dengan penampilan dan sikap ramahnya Romi pagi ini, sekarang Kara dikejutkan dengan telepon dari Papi.
“Mami masuk rumah sakit, Ra.”
Kara segera pergi ke ruang guru. Ia tidak akan konsentrasi mengikuti pelajaran setelah mendengar kabar soal Mami. Setelah mendapat izin Kara langsung melesat pulang.

***

Asam lambung Mami kambuh lagi. Kali ini lebih parah dari sebelumnya. Terpaksa dirawat karena Mami tidak bisa menelan makanan karena mual yang berlebihan. Meski sudah boleh pulang tetapi kondisi Mami masih lemah. Belum mau makan nasi. Makan bubur juga mulai bosan. Karena sejak di rumah sakit Mami setiap hari diberi makan bubur putih yang rasanya tawar. Mami minta Kara membelikan roti cinta.
Sayangnya di kantin Mbak Juli roti itu sudah tidak ada. Romi sudah tidak lagi mengirim roti sejak Kara izin sekolah karena menunggui Mami di rumah sakit.
“Mbak Juli tahu rumahnya?”
“Tepatnya tidak tahu. Tapi Romi pernah bilang katanya di belakang gedung sekolah ini.”

***

Roti isi cokelat tapi namanya bukan roti cinta, sudah berpindah dari tangan Kara ke tangan Mami.
“Mami makan, ya.”
“Memangnya roti cintanya nggak ada, Ra?”
Sambil meluruskan kaki, Kara bercerita soal roti cinta yang sudah tidak dijual lagi di kantin sekolahnya. Kara tadi mendatangi pemukiman di belakang sekolahnya untuk mencari rumah romi. Tapi tidak ketemu. Kara malah istirahat di sebuah warung kecil yang kebetulan menjual beberapa jenis roti.
Mami mendadak mual setelah Kara mengakhiri ceritanya. Mami berlari ke kamar mandi. Sedangkan Kara mengambil kertas di saku bajunya. Pemilik warung tadi memberikan nomer telepon Romi. Dulu Romi pernah menitipkan roti cinta di warungnya.

***

Akhirnya Kara menemukan rumah Romi. Jalan ke rumah Romi melewati gang-gang kecil yang di kiri kanannya banyak jemuran yang terbuat dari kawat. Ada anak-anak kecil yang sedang berlarian mengejar tukang odong-odong. Sangat berbeda dengan ketika ia kecil dulu. Mami dan Papi menyediakan banyak mainan untuknya. Mami melarangnya bermain di luar. Berlatih sepeda seperti yang sedang dilakukan seorang anak di ujung gang ini juga tidak pernah dilakukan Kara. Makanya sampai sebesar ini Kara belum bisa naik sepeda.
Rumah itu kecil. Tidak ada pembatas antara tempat untuk tidur dengan tempat untuk menerima tamu. Kemudian seorang Ibu yang menerima kedatangan Kara dengan ramah menyuguhi Kara dengan segelas air putih.
“Sebentar lagi juga pulang, Neng…” dari logat bicaranya keluarga ini seperti berasal dari tanah sunda.
“Memangnya Romi kerja di mana, Bu?” tanya Kara.
Ibu itu terbatuk. Suara batuknya menyayat hati Kara.
“Di toko buku, Neng. Romi ingin melanjutkan kuliahnya yang sempat putus karena kekurangan biaya. Selain itu Romi tidak pernah punya waktu luang kalau terus bekerja di pabrik roti cinta. Makanya pindah.”
Tiba-tiba pembicaraan itu terhenti ketika seseorang muncul dari balik pintu.
“Eh, kamu, Ra,” sapanya ramah.
Kara tidak bicara apa-apa. Ia terkejut melihat Romi yang baru pulang kerja. Wajahnya tampak lelah, keringat membuat baju yang dipakainya basah.
“Kara?” Romi melambaikan tangannya di depan wajah Kara.
Sejak masuk ke pemukiman ini, Kara banyak melihat kehidupan yang berbeda sekali dengan hidup yang dirasakannya selama ini. Hidup yang jauh dari fasilitas. Kalau Mami tahu Kara ada di tempat seperti ini, Mami pasti marah. Teman-teman Kara juga pasti akan menertawakannya kalau tahu ia berkeliaran di sini, pemukiman kecil yang warganya banyak. Beruntung tidak ada yang melihat Kara ke sini.

***

Siang ini matahari malu memperlihatkan sinarnya. Udara sedikit lebih dingin dari sore biasanya. Sebentar lagi sepertinya musin hujan akan datang. Papi barusaja datang dari luar kota. Ada pekerjaan yang harus dikerjakan beberapa hari ke depan di Jakarta. Baru sepuluh menit sejak Papi datang sudah lebih dari lima kali ada panggilan masuk di hpnya. Selalu ada senyum setelah Papi menutup telepon.
“Soal proyek itu, ya, Pi? Tanya Mami.
“Iya, Mi. Mereka sudah menerima bayaran atas tanah yang kami beli.”
Kara tidak tahu apa yang sedang Mami dan Papi bicarakan.

***

Kara hanya melihat dua buah alat berat barusaja meratakan bangunan-bangunan yang beberapa hari lalu ia datangi. Tidak ada lagi jemuran kawat dan anak-anak yang berlari mengejar tukang odong-odong. Semua sepi dan yang tersisa hanya debu dan udara yang panas.
Setelah lima belas menit Kara berdiri di sana, ada pesan masuk di hpnya.
Aku sudah di Bandung, Ra. Tempat tinggal kami digusur. Katanya mau dibangun pusat perbelanjaan. Mungkin aku akan melanjutkan kuliahku di Bandung saja.
Kehilangan tempat tinggal itu pasti tidak enak rasanya. Kehilangan seorang teman seperti Romi rasanya juga tidak enak. Kara menunduk. Wajah Papi dan rekan-rekan bisnisnya berkelabat di kepala Kara.

***