Lost in Dubai Mall

Irra

Farrel menatap takjub gedung di depannya. Burj Khalifa, nama gedung itu. Gedung tertinggi di dunia, 828 meter tingginya. Itu yang Farrel baca di brosur yang tadi diambilnya di depan Dubai Mall. Ya, Farrel sekarang sedang berada di Dubai, kota metropolitan yang ada di negara Uni Emirat Arab.
Ayah Farrel ditugaskan kantornya untuk training selama seminggu. Kebetulan sekali ayah ada rejeki membawa sekalian Ibu, Farrel, dan Fania liburan. Wuaaa … Tentu saja Farrel senang sekali. Liburan pertamanya ke luar negeri.
“Ayo kita naik ke Burj Khalifa. Sudah waktunya, nih,” ajak Ayah mengemasi kamera dslr-nya. Mereka sudah puas berfoto-foto dengan latar belakang Burj Khalifa. Farrel sudah tak sabar untuk memamerkan foto-foto itu di facebook.

Ayah memandu mereka menuju lantai dasar Dubai Mall, pintu masuk ke tower Burj Khalifa. Untung saja Ayah sudah memesan tiketnya jauh-jauh hari, karena ketika masuk tadi Farrel melihat antrian di loket tiket sangat panjang. Waktu sedang memesan tiket di internet, Farrel mendengar Ayah berseru betapa mahalnya tiket naik ke Burj Khalifa. Untuk dewasa 125 dirham, sementara anak-anak 95 dirham. Kalau mau cepat gak usah antri, bisa beli tiket fast track, harganya 300 dirham per orang.
“Emang berapa rupiah itu, Ayah?” tanya Farrel penasaran.
“Farrel kalikan saja ke 3300 rupiah, karena 1 dirham nilainya sama dengan 3300 rupiah,” jelas Ayah. Farrel pun sibuk memijit kalkulator. Begitu tahu hasilnya, Farrel berteriak kaget. Ayo, kalian hitung sendiri ya biar tahu kenapa Farrel kaget seperti itu, hehehe….
“Nggak apa-apa mahal, yang penting kalian punya pengalaman naik gedung tertinggi di dunia. Alhamdulillah Ayah ada rejekinya,” hibur Ayah sambil tertawa begitu melihat Farrel yang terkejut.
Dan, betul kata Ayah. Sekarang Farrel sudah berada di puncak tertinggi dunia. Memandang jauh ke kota Dubai yang menakjubkan. Langit jingga karena senja datang. Lampu-lampu mulai menyala dari gedung-gedung pencakar langit. Berkelap-kelip sungguh indah. Serasa bukan di negeri gurun pasir yang gersang. Pemandangan paling keren yang pernah Farrel lihat.
“Wow … wow, beautiful,” seru Fania berisik. Farrel tertawa melihat adiknya yang sok ngomong bahasa Inggris. Di sampingnya Ibu tak henti bergumam melapalkan pujian pada Tuhan.
Setelah puas memandangi Dubai dari puncak Burj Khalifa, Ayah mengajak mereka keliling Dubai Mall yang sangat luas. Mal itu terbagi beberapa bagian. Ada yang namanya souk, artinya pasar tradisional. Di souk ini, Farrel melihat pameran rumah tradisional Dubai, lengkap dengan barang-barang tradisional dan orang-orang asli Dubai dengan pakaian tradisionalnya. Ada yang sedang menenun, ada yang melukis tatto henna, ada juga yang sedang beraksi dengan burung falcon.
Ibu dan Fania paling heboh berfoto dan minta dilukis henna di tangan. Farrel sangat puas berfoto dengan falcon bertengger gagah di lengannya. Farrel terlihat tegang sekali karena takut falcon itu mencakar atau mengggigitnya. Padahal mulut si falcon sudah ditutup masker biar tidak berteriak atau menggigit.
Di tengah Dubai Mall, ada akuarium raksasa berisi hiu dan ikan-ikan laut lainnya. Farrel paling senang ketika hiu berukuran besar menubruk kaca akuarium di depannya. Tegang! Membayangkan kaca itu pecah, airnya membludak dan hiu itu melompat menerkamnya. Hiiii seram! Ayah lalu mengajak mereka masuk ke dalam akuarium itu.
“Tunggu di sini ya, Ayah mau beli tiketnya dulu,” kata Ayah beranjak ke loket tiket. Ibu sibuk memotret ikan-ikan yang berenang.
“Kak, lihat! Lucu sekali, ke sana yuk!” Fania menunjuk ke arah toko permen di seberang akuarium. Toko yang warna-warni. Sangat menarik perhatian.
“Fania jangan pergi ke sana,” kata Farrel cemas ketika melihat Fania mendekati toko permen itu. Fania tak mendengar larangan kakaknya. Farrel pun segera menyusul Fania dengan kesal.

Setelah berada di dalam toko, mereka berdua lupa diri, asyik melihat-lihat permen dan pop corn aneka bentuk dan rasa. Fania mencoba aneka pop corn dengan riang.
“Ini gratis, Kak. Tuh baca “try”, orang-orang juga pada nyobain tuh,” bisik Fania ketika dilarang Farrel mengambil pop corn.
Setelah puas melihat-lihat. Farrel mengajak Fania kembali ke depan akuarium. Farrel terkejut ketika melihat kerumunan orang bertambah banyak di depan akuarium. Rupanya ada atraksi memberi makan hiu yang menarik banyak pengunjung buat menonton. Farrel makin panik ketika lupa di mana tadi dia berdiri menunggu Ayah yang sedang membeli tiket. Farrel tidak melihat ayah dan ibunya.
“Ayah sama Ibu mana, Kak?” Tanya Fania cemas. Pertanyaan Fania membuat Farrel makin ketakutan.
“Ini semua gara-gara kamu, Dek. Kan, udah dibilang jangan pergi ke mana-mana,” gerutu Farrel sambil menatap tajam adiknya. Fania ketakutan dan mulai menangis.
“Udah dong jangan nangis, Kakak jadi gak bisa berpikir nih.” Tangisan Fania semakin membuat Farrel panic. “Harus tenang … tenang, Tarik napas,” gumam Farrel dalam hati. Mengingat-ingat pesan ayah dan ibunya kalau hilang di dalam mal, apa yang harus dilakukan.
“Ayo, kita cari satpam,” ajak Farrel menyeret adiknya. Setelah lama berkeliling, Farrel melihat lelaki tinggi besar berseragam security.
“Sori Sir, susmi, we lost … we lost,” kata Farrel gemetar sambil memegang tangan lelaki arab itu.
“Excuse me,” bisik Fania membenarkan yang diabaikan Farrel.
“Take it easy, kids. What can I help you?” Tanya petugas keamanan ramah.
“Hello Sir, I’m Fania, this is my brother Farrel. We lost our parents,” kata Fania penuh percaya diri mengulurkan tangannya yang disambut hangat si petugas. Farrel melongo melihat keberanian adiknya yang berusia 8.5 tahun.

Lalu petugas baik hati itu membawa Farrel dan Fania ke meja informasi. Dan ternyata di sana sudah ada ayah dan ibu mereka. Ayah dan Ibu tampak tegang sekali, dan berubah lega ketika melihat Farrel dan Fania datang. Ibu memeluk Farrel dan Fania erat. Menangis haru. Ayah menyalami para petugas di sana mengucapkan terima kasih.
“Gimana masih mau masuk ke akuarium?” senyum ayah sambil melambai-lambaikan tiket di tangannya.
“Ibu lapar, Yah. Kita makan dulu, yuk?” ajak Ibu sambil meringis mengusap perutnya. Semua tertawa melihatnya. Rupanya suasana tegang membuat mereka kelelahan dan kelaparan. Ayah lalu mengajak mereka ke restoran Noddle Factory. Farrel berseru girang ketika menemukan menu nasi goreng Indonesia, makanan favoritnya.
“Hebat ya, Yah, nasi goreng Indonesia ada dalam menu, terkenal berarti,” Puji Farrel bangga yang disambut acungan jempol Ayah. Ibu dan Fania memesan Phad Thai, mie goreng dari Thailand. Sambil makan Farrel dan Fania gantian bercerita kejadian hilang tadi. Ibu meminta maaf karena keasyikan motret jadi lalai memperhatikan Farrel dan Fania.
“Lain kali kalau Ayah atau Ibu bilang tunggu, kalian harus menunggu, kalau mau pergi ke tempat lain ijin dulu, jadi Ayah dan Ibu tahu harus mencari kalian di mana,” tegur Ayah lembut. Farrel melotot pada Fania yang tertunduk menyadari kesalahannya. “Tapi tadi kalian hebat, tahu harus mencari bantuan ke mana kalau hilang seperti tadi,” puji Ayah menatap bangga Farrel dan Fania.

Selesai makan, Ibu mengajak untuk pulang. Sepertinya Ibu sangat lelah karena terlalu tegang dan ketakutan kehilangan kedua buah hatinya. Ayah setuju lalu membujuk Farrel dan Fania kalau besok mereka bisa datang lagi ke Dubai Mall.
“Besok saja kita masuk ke akuariumnya ya. Sebenarnya kayak sea world Jakarta sih, cuma ini di dalam mal aja.” Farrel dan Fania mengangguk setuju. Mereka kasihan melihat Ibu yang kelelahan.
“Di Dubai Mall ini ada kebun binatangnya juga, loh. Besok kita ke sana juga ya, melihat penguin,” lanjut Ayah yang disambut teriakan senang Fania.
“Kalian bisa ke Kinokuya juga, toko buku yang koleksinya sangat banyak, bisa beli buku-buku yang kalian sukai,” kata Ibu sambil tersenyum. “Tapi buku-bukunya dalam bahasa Inggris sih,” lanjut Ibu melirik Farrel yang meringis malu.
Sebelum pulang, Ayah mengajak mereka ke halaman Dubai Mall, melihat dancing fountain, air mancur yang menari. Jadi, selama beberapa menit, air mancur itu bergerak-gerak mengikuti irama lagu, seperti menari. Ketika musiknya pelan, air mancur menari lembut. Ketika musik riang dan menghentak, air mancur pun menari cepat, bahkan sesekali ada api yang memancar dari tiap air mancur. Sungguh luar biasa.
“Wow … Amazing, I’d love it,” teriak Fania penuh kekaguman. Farrel mencibir ke arah adiknya yang pamer kebolehannya berbahasa Inggris. Fania balas meleletkan lidah. Sebenarnya Farrel kagum dan bangga dengan adiknya yang lancar berbahasa Inggris dibanding dirinya. Farrel pun berjanji pulang liburan, dia akan kursus Bahasa Inggris lagi seperti Fania dan tidak banyak bolos. Hari ini Farrel sadar betapa pentingnya bisa berbahasa internasional. Tak terbayangkan gimana kalau tadi Fania tak bisa bahasa Inggris. Mungkin mereka masih hilang di Dubai Mall, hiii….
“Esusmi, Sir, esusmi …,” ledek Fania dan Farrel pun mengejar adikknya gemas.